Episode 277 - Ke mana?



“Bagaimanakah keadaan di dalam ruang singasana…?”

“Mengapakah dikau memberi izin masuk...?”

“Apakah gerangan yang mereka bahas di dalam...?”

Suara bisik-bisik terdengar di salah satu sudut Istana Utama Kerajaan Garang. Beberapa sosok terlihat berkerumun. Setiap satu dari mereka mengenakan pakaian nan teramat mewah. Seorang lelaki setengah baya menjadi pusat perhatian.

“Mana kutahu!” sergah lelaki setengah baya itu. Raut wajahnya terlihat kesal. 

“Sssttt...”

“Yang Terhormat Perdana Menteri, bawa bertenang...”

“Cih!” Lelaki setengah baya yang diketahui sebagai Perdana Menteri semakin kesal. “Lupakah dia betapa besar upaya dan pengorbanan kita demi menyingkirkan permaisuri dan putranya!? Lupakah dia bahwa adalah kita yang mengusung menjadikan Putra Mahkota!? Kini, dia berbuat sesuka hati! Memberi izin kepada Itubungna membawa tabib bertemu raja yang sudah bau tanah itu!” 

“Perdana Menteri... tahan suara sedikit... bertenanglah...” bisik seorang pejabat mengingatkan. 

“Apa yang salah dari kata-kataku. Sisinga Mangaraja II bukan saja uzur tubuhnya, nyalinya pun sudah tua. Sudah berapa lama Kerajaan Garang tak turun perang!?” 

“Perdana Menteri...”

“Terlepas dari itu, patut diakui bahwa kematian Jenderal Keempat membawa berkah. Ia yang getol menentang upaya penaklukan Pulau Dua Pongah, dan menargetkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Tindakan gila!”

“Benar, kita harus menyatukan Kepulauan Jembalang terlebih dahulu sebelum dapat bergerak ke Negeri Dua Samudera...” 

“Aku sudah memiliki calon Pengganti Jenderal Keempat... Ia akan tiba esok pagi.” 

“Siapakah dia, wahai Perdana Menteri...?”

“Kalian tunggu saja... Hahaha...”

 ....

Keempat kaki Si Kancil berdiri menggigil. Rambut-rambut di sekujur tubuhnya merinding. Tatapan mata kosong, mulutnya hendak melolong meminta tolong. Keadaan ini terjadi karena seorang lelaki dewasa muda sedang mengelus-elus tengkuknya. Setelah kepergian Bintang Tenggara ke Balai Ramuan dan saat ini diperkirakan sedang meramu, tali kekang Si Kancil berpindah ke tangan Putra Mahkota Kerajaan Garang...

“Jadi, ini adalah petanda bahwa ia adalah binatang siluman jantan...?” Si Putra Mahkota mencermati bokong Si Kancil. Kantung biji yang bergelayutan itu menarik perhatiannya sangat. 

“Mirip dengan manusia, ya...?” lanjut si Putra Mahkota. “Walau, buah zakarku jauh lebih besar dan mantap dibandingkan buah zakar binatang siluman ini...”

Kapten Sisinga malas menanggapi. 

“Itubungna... bagaimana dengan kau punya buah zakar...? Apakah berbentuk kotak seperti rahangmu...” Di saat yang sama, si Putra Mahkota menjulurkan lengan. Jemarinya hendak menjangkau... 

“Hap!” sergah si Putra Mahkota. 

Tubuh Si Kancil sontak menjadi kaku. Ia tak tahu harus berbuat apa. Sejak sehari yang lalu, malapetaka demi malapetaka menimpa dirinya yang malang. Semua ini berawal ketika ia dikibuli oleh seorang anak remaja, yang berlanjut pada pengurungan di dalam kerangkeng, dan berujung pada keadaan petang hari ini. Batinnya lelah, keempat kakinya goyah. Tak lagi sanggup menahan tekanan jiwa, ia lalu jatuh tergeletak. Si Kancil pingsan hilang kesadaran, tepat sesaat sebelum buah zakarnya dijenggut!

“Eih...?” si Putra Mahkota menyeringai kecewa. 

“Yang Mulia Putra Mahkota, berhentilah bermain-main...” Kapten Sisinga mengingatkan. Ia sedikit khawatir dengan keadaan Si Kancil. 

“Walau kalian adalah darah dagingku... kepribadian kalian sangatlah bertolak belakang...,” suara nan lemah menyapa. “Semua ini adalah kelalaianku...”

“Ayahanda, janganlah berpikiran yang bukan-bakan... Nanti keadaan tubuhmu memburuk...” Si Putra Mahkota terlihat khawatir. 

“Itubungna, apakah kau mengingat kata-kata terakhir gurumu, Jenderal Keempat...?” lanjut Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II. 

Kapten Sisinga berupaya mengingat. Baru ia sadari, bahwasanya sang guru pernah berujar sebelum mereka berpisah. Saat itu, Kapten Sisinga hendak berburu Si Kancil, sedangkan Jenderak Keempat hendak menjemput Putra Mahkota Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Adapun kata-kata terakhir dari sang guru adalah: ‘...bila upayaku nanti gagal, pergilah engkau ke Pulau Lima Dendam. Di sana, sambangi... Bupati Selatan.’ 

“Kata-kata terakhir...,” gumam Kapten Sisinga. 

“Diriku... masih mengingat pesan terakhir Jenderal Keempat...” Sisinga Mangaraja II terdiam sejenak... “Bahwa Kerajaan Garang hendaknya tiada menyerang Pulau Dua Pongah tanpa alasan jelas...”

Kata-kata sang penguasa kali ini, lebih ditujukan kepada si Putra Mahkota. Berkat perintah lelaki dewasa muda itu, Kerajaan Garang memang hendak melakukan agresi militer besar-besaran ke Pulau Dua Pongah. Bahkan, serangan-serangan tahap awal sudah mulai gencar sejak beberapa purnama belakangan. Menabuh genderang perang ditempuh karena si Putra Mahkota hendak mempersunting Lampir Marapi, putri semata wayang Gubernur Pulau Dua Pongah. Sebagaimana diketahui, lamarannya ditolak mentah-mentah.

“Tetapi... tetapi... diriku hendak... Kalian ‘kan tahu... bagaimana perasaan itu... perasaan di kala menghujamkan-hujamkan...” 

“Anandaku... janganlah terbuai pada nafsu birahi belaka...”

“Yang Mulia Putra Mahkota, dikau dapat mempersunting sesiapa saja di Kerajaan Garang...” Kapten Sisinga menyela. 

“Tapi aku mau gadis itu...”

“Jangan manja!” Tetiba Kapten Sisinga menyergah. Sejak kedatangannya di Istana Utama, baru kali ini ia berujar tegas kepada si Putra Mahkota. Pada kenyataannya, Kapten Sisinga tetaplah seorang abang. “Ini sama saja dengan ketika dulu kau hendak memelihara kucing... pada akhirnya kucing itu kesepian ketika engkau meninggalkannya karena menemukan mainan baru!” 

Si Putra Mahkota, yang biasa berlaku sesuka hatinya, tertunduk lesu. “Akan tetapi, dengan mengambil keperawanan dari seorang ahli yang memiliki kesaktian unsur putih, maka keahlianku dapat melompat Kasta.”

“Jangan malas!” Kembali Kapten Sisinga menyergah. “Tiada jalan pintas di dalam dunia keahlian. Ramuan dan benda pusaka sekalipun hanya bermanfaat sebagai penopang saja. Kerja keras tetap dibutuhkan!”

“Aaakhhh...” Putra Mahkota bersungut. 

“Selain itu, bukan hanya menyandang predikat sebagai Putra Mahkota, namun engkau juga merupakan ahli yang sangat berbakat. Berpuluh-puluh tahun aku berlatih, namun hanya terpaut pada Kasta Perak Tingkat 5. Sedangkan engkau yang bermalas-malasan, saat ini sudah berada pada Kasta Perak Tingkat 7!” Kapten Sisinga yang biasanya tak banyak bicara, kini berceloteh panjang. 

Si Putra Mahkota memalingkan wajah. Suasana hening. 

“Mengenai... Pulau Dua Pongah... bagaimana... pandanganmu, Itubungna...?” Sisinga Mangaraja II menetas keheningan, meminta pendapat.

“Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II, diriku adalah seorang serdadu. Seorang serdadu tiada berpendapat. Bilamana turun perintah, maka diriku akan sigap bergerak.”

Sang penguasa terdiam sejenak. Ia mengumpulkan napas. “Persoalan Pulau Dua Pongah... jangan sampai menjadi ambisi pribadi,” nasehat sang penguasa. “Keputusan penaklukan sudah kuserahkan kepada Dewan Jenderal.”

Si Putra Mahkota tersenyum lebar. Adalah Jenderal Keempat yang getol menolak penaklukan atas Pulau Dua Pongah. Empat jenderal lain, untuk sementara ini menahan diri karena menghargai pengabdian dan pencapaian Jenderal Keempat. Tokoh tersebut masa baktinya dapat ditelusuri sampai ke era Sisinga Mangaraja I. Akan tetapi, dengan kematian Jenderal Keempat, maka jenderal-jenderal lain akan lebih leluasa mengambil keputusan.


...

Malam telah tiba di kala Bintang Tenggara kembali mendatangi ruang singasana. Ia diantarkan oleh beberapa pengawal istana yang berbaris di hadapan dan belakang. Dibandingkan dengan pengawalan, iring-iringan ini terlihat lebih mirip sebagai pengamanan. Di dalam ruang singasana, terlihat Kapten Sisinga dan Putra Mahkota berbincang-bincang. Tergeletak tak sadarkan diri, adalah Si Kancil nan malang. 

“Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II, Yang Mulia Putra Mahkota, serta Yang Terhormat Kapten Sisinga...” Tabib Bintang menundukkan kepala. 

Kapten Sisinga hanya mengangguk. Meski demikian, di dalam hati ia sungguh takjub. Bagaimana bisa sang Yuvaraja dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang, sebuah negeri besar yang menjunjung tinggi nilai keahlian, menundukkan kepada dengan mudahnya kepada kerajaan lain. Terlebih, Kapten Sisinga sudah sering mendengar bahwa hanya yang terbaik dari segi keahlian yang dapat mewarisi takhta. Anak remaja itu pastilah bukan sembarang ahli. Mungkinkah ia sengaja merendah supaya tak diketahui jati dirinya, ataukah memang ia memiliki kepribadian yang rendah diri....?

“Bagaimana Tabib Bintang nan tampan, apakah malam ini dikau bersedia bermalam di istanaku...?” Si Putra Mahkota menyibak senyum hangat.

Bintang Tenggara mengabaikan. Ia melangkah ke samping, guna membuka jalan kepada dua pengawal istana yang menenteng sebuah tempayan berukuran sedang. 

“Di dalam gentong ini adalah Ramuan Haluan Daya. Ramuan ini bermanfaat dalam menguraikan gumpalan tenaga dalam di dalam pembuluh darah.” 

“Benarkah...?” Si Putra Mahkota meragu. 

“Meski aku yang membawamu, namun kami tak bisa memberikan ramuan kepada Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II begitu saja,” ujar Kapten Sisinga. 

Bintang Tenggara mengangguk. Ia sepenuhnya memahami bahwa tubuh sang penguasa Kerajaan Garang sangatlah lemah. Salah sedikit saja, ramuan yang kurang sesuai dapat berakibat buruk, bahkan berujung fatal. 

“Coba kau tenggak terlebih dahulu, wahai Itubungna,” sela si Putra Mahkota. Sebuah gagasan yang cemerlang. 

Kapten Sisinga mengambil sebuah centong, menciduk isi tempayan, dan segera menenggak seperempat centong cairan yang baru saja usai diramu. Tak beberapa lama, keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuhnya...?

“Hei... Hei... Apakah kau baik-baik saja...?” Si Putra Mahkota mendekati abangnya itu. Raut wajahnya sedikit khawatir. “Muntahkan! Cepat muntahkan!”

Sebaliknya, Kapten Sisinga merasakan bahwa aliran darahnya mengalir deras. Bahkan tanpa memanfaatkan mata hati untuk mengalirkan tenaga dalam di mustika, ia menyadari bahwa tenaga dalamnya bergerak luwes melalui sirkulasi darah. Segera ia duduk bersila dan memusatkan mata hati, karena kini ia merasakan sensasi yang lain lagi!

“Kau!” hardik si Putra Mahkota sambil menudingkan jemari ke arah Tabib Bintang. “Ketampananmu mengelabui!” ujarnya berang. Tokoh yang biasanya petantang-petenteng itu, saat ini terlihat benar-benar panik! 

Bintang Tenggara memperhatikan Kapten Sisinga yang sedang memusatkan mata hati ke dalam mustika di ulu hati. 

“Pengawal, tangkap dia!” 

“Arrrghhh...” Kapten Sisinga menhentakkan tenaga dalam, kemudian kembali memusatkan mata hati ke mustika tenaga dalam. Keringat masih mengalir deras, namun di saat yang sama terjadi perubahan pada mustika di ulu hati. 

Putra Mahkota melotot. Ia turut merasakan perubahan pada diri Kapten Sisinga. “Mungkinkah...?”

Sebagaimana telah digariskan, Ramuan Haluan Daya bermanfaat dalam menguraikan gumpalan tenaga dalam di dalam pembuluh darah. Oleh karena itu, bagi ahli yang mengalami hambatan mengalirkan tenaga dalam, maka ramuan ini juga dapat membantu proses lain. 

“Tak mungkin!” Si Putra Mahkota hampir melompat di tempat. 

Kapten Sisinga menghela napas panjang. Selama bertahun-tahun peringkat keahliannya tiada berkembang, sehingga hanya terpaut pada Kasta Perak Tingkat 5. Sesungguhnya bukan dikarenakan ia tak berbakat dalam memupuk keahlian, namun disebabkan aliran tenaga dalam di pembuluh darah yang tak mengalir lancar. Berkat Ramuan Haluan Daya, maka permasalahan tersebut teratasi, dan oleh karena itu, kini ia tanpa direncana berhasil menerobos ke Kasta Perak Tingkat 6!” 

Kapten Sisinga bangkit berdiri. Ia menatap dalam ke arah Bintang Tenggara. Sebuah keajaiban, batinnya. Yang tak ia ketahui, bahwa bilamana meminum Ramuan Haluan Daya yang dipersiapkan oleh peramu biasa, maka dampaknya tiada akan secanggih ini. Ramuan yang dihasilkan oleh seorang peramu memiliki taraf kemanjuran yang berbeda-beda. Angka 90% adalah taraf kemanjuran tertinggi. Hal ini berarti bahwa setiap bahan dasar di dalam ramuan tersebut berperan maksimal, dan percampuran di antara bahan-bahan dasar tersebut berlangsung hampir sempurna. Hanya peramu kelas atas yang dapat meramu sampai ke angka 90% taraf kemanjuran. Akan tetapi, berkat kemampuan Maha Maha Tabib Surgawi, maka Bintang Tenggara dapat meramu pada taraf kemanjuran setinggi 99%!

“Berikan padaku! Aku ingin mencoba!” pekik si Putra Mahkota. 

“Yang Terhormat Putra Mahkota, “sela Bintang Tenggara. “Bahan dasar ramuan tersebut sulit ditemukan. Bahkan di Balai Ramuan, sudah tiada bersisa. Satu gentong ramuan ini, diperuntukkan untuk diminum setengah gelas setiap hari selama enam purnama.”

“Hm...?” Si Putra Mahkota yang selalu dapat apa saja yang ia kehendaki merasa tersinggung. Ia menyadari bahwa anak remaja tersebut sengaja mencegah dirinya mengkonsumsi Ramuan Haluan Daya. Sedikit dongkol, ia terpaksa mengalah demi kesehatan sang ayahanda. 

Kapten Sisinga menyuapkan ramuan sebagaimana disyaratkan. Reaksi yang sama pun mengikuti. Sekujur tubuh Sisinga Mangaraja II bersimbah peluh. Tak ada tanda-tanda kesakitan, sang penguasa lalu memejamkan mata. Selang tak beberapa lama, lelaki tua renta itu pun tertidur pulas. 

“Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II tertidur pulas...?” gumam Kapten Sisinga penasaran. Yang ia ketahui, salah satu hal yang membuat kesehatan sang penguasa terus memburuk, adalah dikarenakan beliau kesulitan melelapkan mata.  


===


Ujian masuk murid-murid baru telah rampung. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Perguruan Gunung Agung hanya menerima 500 murid Kasta Perunggu. Berdasarkan hasil ujian masuk, murid-murid dalam angkatan baru tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tiga golongan: Purwa, Madya dan Utama. 

Golongan Purwa di Perguruan Gunung Agung menampung murid-murid dengan kemampuan biasa-biasa saja. Pada setiap angkatan, jumlah mereka adalah 300 murid. Karena hanya menempati golongan Purwa, fasilitas yang mereka terima sangatlah terbatas. Awalnya, Bintang Tenggara masuk ke dalam golongan ini. 

Kemudian murid golongan Madya, berjumlah 150 murid. Mereka merupakan murid yang berbakat kelas menengah. Dalam hal keahlian, biasanya Murid Madya setidaknya telah memiliki kesaktian unsur tertentu. Terakhir adalah murid Utama, yang mana berjumlah hanya 50 murid. Mereka adalah murid-murid paling berbakat dari setiap angkatan di Perguruan Gunung Agung. 

Tak terasa setahun telah berlalu dan kini memasuki tahun ajaran baru. Murid-murid di perguruan, baik itu yang lama maupun baru, terlihat penuh semangat. Kehadiran murid-murid baru, membuat suasana di perguruan menjadi penuh warna. 

Di pagi nan cerah, seorang lelaki dewasa muda berkulit tubuh terang, berhidung mancung, melangkah santai. Gerak-geriknya demikian terencana dan terukur, sehingga hampir tak menimbulkan suara sama sekali. Bahkan, keberadaan dirinya acapkali tiada dapat dirasakan bila seorang ahli tak secara khusus menebar mata hati. Ia membelah keramaian di Kota Sanggar, salah satu dari empat kota di dalam Perguruan Gunung Agung. Tak lama kemudian, sampailah ia di tempat tujuan. Papan nama yang menggantung di sisi atas sebuah gapura memampangkan tulisan: ‘Kejuruan Keterampilan Khusus, Bidang Segel’.

“Selamat pagi, Yang Terhormat Guru Muda Khandra!” Belasan murid tahun keempat, yang sedang melangkah pulang ke asrama masing-masing, menegur. 

“Oh... Selamat pagi,” sahut Guru Muda Khandra, yang kita ketahui tak lain sebagai Balaputera Khandra. Ia adalah kakak dari Balaputera Prameswara, putra pertama dari Balaputera Samara di Kadatuan Kesembilan, Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

“Guru Muda Khandra,” seorang murid perempuan menyapa manja. “Ke manakah dikau berlibur saat ujian masuk murid baru berlangsung...?”

“Benar? Ke mana? Mengapa tiada memberi khabar...?” 

“Diriku ingin bertanya langsung mengenai formasi segel, namun Guru Muda tiada kelihatan batang hidung mancungnya... seperti menghilang dari perguruan...” Gadis belia lain bersungut, tak malu menampilkan raut wajah cemberut ibarat ditinggal pergi tambatan hati. 

Guru Muda Khandra menyibak senyum, yang serta-merta melelehkan hati para gadis belia. “Diriku pulang sejenak ke kampung halaman. Ada urusan keluarga yang mendesak...” 

“Ooooh...” Para gadis belia serempak mangap, ibarat dalam paduan suara. 

Yang tidak para gadis belia sadari, bahwa Guru Muda Khandra sang pujaan hati nan tampan, baru saja berkata dusta! Jikalau benar ia pulang ke kampung halaman, maka pastilah bertemu muka dengan Bintang Tenggara. Bintang Tenggara memiliki urusan yang perlu diselesaikan dengan Balaputera Khandra, yang menjebak dengan menugaskan ke Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

Selain itu, bila benar pulang kampung namun tak bertemu muka dengan Bintang Tenggara, maka Guru Muda Khandra ini tak mungkin lepas dari pantauan Lintang Tenggara yang beberapa waktu terakhir juga berada di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Urusan dengan Lintang Tenggara lain lagi. Bila berpapasan, maka sampai ke ujung langit pun Lintang Tenggara tak akan melepas Balaputera Khandra yang telah diketahui sebagai anak didik Balaputera Ragrawira. 

Guru Muda Khandra berlalu, meninggalkan gadis-gadis belia yang masih tersipu. Ia melangkah santai. Gerak-geriknya demikian terencana dan terukur, sehingga hampir tak menimbulkan suara sama sekali. Bahkan, keberadaan dirinya acapkali tiada dapat dirasakan bila seorang ahli tak secara khusus menebar mata hati.

Adalah sebuah misteri bagi para ahli baca sekalian, ke manakah perginya Balaputera Khandra beberapa waktu belakangan ini...?