Episode 10 - Pertarungan di Atas Panggung Sekolah



Seseorang naik ke atas panggung memakai seragam karate dengan sabuk berwarna merah melingkar di pinggangnya. Orang tersebut ternyata kakak sepupu dari Ivan yang bernama Bagus. Bagus naik ke panggung kemudian berbisik kepada Dika, salah satu teman Ivan yang ikut beladiri dari salah satu yang organisasi terbesar di karesidenan Madiun. Bagus berbisik di samping telinga Dika, kulihat Dika menggangguk tanda menyetujui sesuatu, kemudian Bagus maju mendekati sang MC.

Di samping MC Bagus juga memberi sesuatu entah itu apa “Bisik..! bisik..!”, “Hem..! Hem..!” 

Sang MC cuma mengangguk lalu pandangannya tertuju ke arahku. Setelah bagus selesai berbisik kepada MC, MC berjalan mendekatku, “Jadi begini Dek Edi yang akan ikut kompetisi duel dengan Dek Edi digantikan oleh dia,” kata MC sambil menunjuk ke arah Bagus yang sedang berdiri. 

“Namanya adalah Bagus, apakah Dek Edi setuju,” ucap sang MC kepadaku tentang perubahan rencana. 

“Aku sih tidak masalah siapa pun lawannya,” kataku tanpa melihat ke arah Bagus. Aku sebelumnya tidak tahu tentang tingkatan sabuk dalam beladiri taekwondo dan karate. Yah namanya juga orang desa, kerjaan paling main sama molor di rumah.?“Oke bagaimana kalau kita mulai sekarang?” ucap sang MC memberi aba-aba lewat mic yang ia pegang.

“Untuk urutannya yang maju pertama Boy, lalu Ivan, dan terakhir Bagus. Pertandingan diadakan 3 set. Setiap set batas waktu 10 menit, istirahat per set 5 menit. Bagaimana apakah kalian setuju,” ucap MC memberikan instruksi dan arahan pertandingan kepada kami.

“Setuju, setuju,” ucap kami para peserta.

“Baiklah, silakan yang tidak berkepentingan turun dari panggung,” kata sang MC kepada beberapa pengawas kegiatan MOS untuk turun dari atas panggung. Setelah pengawas kegiatan MOS turun dari panggung, Boy masuk ke dalam panggung.

“Untuk wasitnya adalah dia,” ucap MC sambil menunjuk seorang wanita dengan rambut di ikat ke belakang yang baru kutahu bernama Lusi.

“Lusi, ia ikut dalam beladiri pencak silat dan sudah lulus menjadi warga tingkat 1,” kata MC menjelaskan wanita yang ikut naik di belakangnya Boy.

Deskripsi singkat tentang Lusi: tinggi, kulit sawo matang, rambut agak panjang sepunggung, agak gemuk tapi tak gendut.

“Baiklah untuk para peserta, perkenalkan namaku Lusi kelas 3C. Saya di sini sebagai wasit. Para peserta silahkan menggunakan pelindung kepala, sarung tangan, dan body protector,” ucap Lusi memperkenalkan diri sambil memberi arahan.

Boy sedang memakai alat set pertarungan dibantu Lusi, sedangkan aku memandang alat set pertarungan yang tergeletak di atas meja di belakang. “Ini apaan, emang kita mau berenang,” ucapku lirih sambil menganggkat body protector. Kemudian aku mencoba memakai body protector. Setelah aku pakai ternyata tidak nyaman, karena baru pertama kali memakainya. Karena tidak nyaman maka aku lepas lagi body protectornya lalu kutaruh kembali di atas meja. Karena Lusi melihat aku melepas body protectornya, ia menghampiri lalu menegurku.

“Kamu kenapa tidak di pakai?” ucap Lusi menghampiriku setelah membantu Boy memakaikan alat set pertarungan.

“Aku tidak ingin memakai ini, susah gerak,” kataku kepada Lusi.

“Kalau kamu tidak memakainya, pertandingan akan dibatalkan,” balas Lusi menjelaskan.

“Silahkan kalau mau dibatalkan. Toh, bukan aku yang meminta duel,” jawabku sinis.

Kemudian seseorang naik ke panggung dan ternyata dia adalah Bagus. Ia menghampiri Lusi.?“Ada apa Gus?” tanya Lusi ke Bagus.

“Biarkan dia tidak memakai alatnya,” ucap Bagus ke Lusi.

“Tapi..” 

Sebelum Lusi selesai berbicara, Bagus memotongnya. “Aku yang akan bertanggung jawab jika dia terluka, dengan semua siswa yang ada di sini sebagai saksi,” ucapnya Bagus dengan sombong.

“Bagaimana, apa kau setuju?” seru Bagus melihat ke arahku.

“Baiklah,” balasku menyetujui permintaanya. Bagus turun dari panggung sambil tersenyum.

“Baiklah para peserta silahkan maju ke tengah panggung,” ucap Lusi memberi aba-aba.

Aku dan Boy jalan ke tengah panggung. Aku bertatap muka sama Boy dengan ekspresi mengasihani, Boy tersenyum dengan wajahnya yang terlindungi pelindung kepala.

“Aturannya mudah, setiap set paling banyak yang menjatuhkan akan dapat poin, atau bagi yang mengaku kalah, pertandingan otomatis selesai. Tidak boleh menyerang batas perut ke bawah sampai paha,” kata Lusi menjelaskan peraturan permainan. “Apa kalian paham,” sambungnya lagi.

“Paham,” seru kita bersamaan.

Sesaat kemudian Luci mengumumkan peraturannya, aku melafalkan amalan benteng diri dari teknik beladiri bintang. 

“Oke, bersiap,” ucap Lusi dengan aba-aba. “Mulai!” Setelah aba-aba mulai dengan reflek Luci menarik tangannya di antara aku dan Boy.

Aku loncat ke belakang mengambil kuda-kuda. Kemudian Boy maju menyerang dengan kaki kanannya menendang memutar ke arah pinggangku dari sisi kanan bawah menuju atas. Reflek aku menahan kakinya dengan tangan kiriku. 

“Bruuk!” Suara benturan tendangannya dengan tanganku. 

Kemudian aku pegang kakinya dengan tangan kiriku, lalu aku sambut memegang betis kakinya, dengan reflek cepat aku memutar membelakangi posisi awal tadi, lalu aku lempar ke arah kiri.  

“Bruuk!” Boy terlempar keluar panggung dan jatuh menimpa anak-anak yang menonton. Melihat Boy keluar dari atas panggung dan jatuh di kumpulan siswa dan siswi MOS, seketika itu banyak guru dan anggota OSIS yang menonton dari sebelah panggung berdiri kaget. Berlaku juga dengan Ivan dan Bagus yang sejak tadi tersenyum, ekpresi mereka berubah dengan cepat.

“Satu kosong,” ucap Lusi memberitahukan poin karena salah satu peserta keluar dari ring.

“Apa kau masih sanggup bertarung, baru dua menit tapi kau sudah K.O,” ucapku kepada Boy yang dibantu berdiri oleh anak-anak MOS di bawah sana.

“Sialan, jangan sombong bocah,” balasnya cepat dengan berlari ke panggung. 

“Aku tadi belum serius karena kau masih bocah! Mulai sekarang aku akan serius!” ucapnya dengan ekspresi marah.

“Maju,” balasku dengan tangan kananku menatangnya.

“Set! Mulai!” ucap Lusi memberikan aba-aba ronde kedua.

Kemudian Boy maju berlari dengan gaya tendangan terbangnya, reflek aku menghindarinya ke samping.  

“Aku akan bermain main sebentar dengannya,” kataku lirih sambil tersenyum. 

“Bruk!” Pukulanku melayang ke arah dadanya. Setelah menerima pukulanku, Boy terdorong mundur beberapa langkah dan hampir jatuh, karena Boy tahu ia akan jatuh ia menstabilkan posisinya. Karena ia melihat ke belakang tubuhnya tendangan lurusku meluncur ke arah tubuhnya dan... 

“Bruuk!” Dia terjatuh untuk kedua kalinya di bawah sana. Di saat kalian bertaruh jangan sampai melepaskan pandangan mata dari target, karena satu detik saja melepas pandangan dari target maka game over.

“Dua kosong!” ucap Lusi memberikan poin lagi atas kemenanganku.

“Ayo maju lagi!” ucapku berteriak pada Boy yang masih terduduk di bawah sana.

“Sialan,” umpatnya dengan tangan menghajar lantai beton. Ia dengan cepat berdiri kembali lalu berlari naik ke atas panggung lagi.

“Siaaappp… mulai!” ucap Lusi memberikan aba-aba tentang ronde terakhir.

Kali ini Boy lebih berhati-hati sebelum melancarkan serangan ke arahku. Sambil mengamati dan memutar aku maju berlari, akan aku lancarkan tendangan terbang yang tadi Boy sempat gunakan di pertandingan sebelumnya, berhubung di belakang Boy ada anak-anak yang menonton. Sontak Boy kaget karena aku berlari ke arahnya, belum sempat dia menghindar, tendanganku menghantam tubuhnya dengan keras sampai dia terlempar jauh ke luar panggung mendarat di anak-anak yang menonton .  

“Bruuak!” 

“Kyaaaaaa!” teriak anak-anak perempuan yang di dekat Boy jatuh. Setelah jatuh dari atas panggung dia tidak segera bangkit, kemudian Lusi turun dari atas panggung menghampirinya, dicek lah tubuhnya Boy ternyata masih bernafas.

“Pertandingan selesai, pemenangnya Edi!” ucap Lusi dari bawah panggung.

“Yosh!” ucapku dengan ekspresi senang.

“Bawakan tandu ke sini, dan antar dia ke UKS,” ucap Lusi ke salah satu panitia.

“Baik,” balas seorang panitia.

“Dengan ini pertandingan pertama selesai, break selama lima menit, akan dilanjutkan ke set berikutnya,” balas Lusi yang mengakhiri pertandingan pertama.

Aku turun dari atas panggung menghampiri anak-anak untuk sekedar minum.

“Keren kau, bro! Bisa ngalahin dia,” ucap Wijaya kepadaku.

“Karena lawanku tidak serius aku bisa menang. Tapi belum tentu dengan pertandingan berikutnya,” balasku duduk di samping Wijaya sambil mencari air minum.

“Nih ail minum Ed. Minumlah,” ucap Mei sambil memberikanku sebotol air mineral.

“Makasih, Mei,” balasku sambil menerima air mineral tadi.

“Apa kamu tidak apa-apa, Ed?” aju Mei khawatir melihat keadaanku.

“Tenang, jika pertandingan ini tidak bisa aku menangkan, bagaimana aku akan melindungimu di masa depan,” jawabku sambil tersenyum ke arahnya.

“Bluussshhh...” tiba-tiba wajah Mei merah merona tertunduk malu.

“Ahhh, panasnya ya,” sindir Ninda.

“Tiap ada kesempatan, serangan maju terus,” tambah sindiran dari Yeni di samping Mei.

“Apaan sih kalian ini?” balas Mei sambil mendorong tubuh Yeni dan Ninda.

“Hahahahahaha...” aku tertawa senang melihat mereka bercanda.

Lima menit berlalu, istirahat telah usai. 

“Baiklah para peserta silahkan naik ke atas panggung, pertandingan selanjutnya akan dimulai,” ucap sang MC. 

Aku berdiri dari tempat dudukku. 

“Semangat,” seru Mei kepadaku memberi semangat. 

Aku membalasnya dengan mengangguk. Aku maju naik ke atas panggung. Dari sisi lawan ada Ivan yang maju naik ke atas panggung juga. Setelah kami berada di tengah panggung, wasit pun datang.?“Oke pertandingan ronde kedua. Peraturannya sama, setiap set paling banyak yang menjatuhkan akan dapat poin, atau bagi yang mengaku kalah, pertandingan otomatis selesai,” ucap Lusi menjelaskan kembali.

“Apa kalian paham?” sambungnya lagi.

“Paham!” ucap kami bersamaan. 

Lalu Ivan memakai alat set pertarungan dibantu oleh Lusi mulai dari hand gloves, body protector dan pelindung kepala. Aku tidak memakainya lagi karena itu mengganggu gerakanku. Setelah Ivan selesai memakai alat set pertarungannya, ia maju ke tengah panggung dan berdiri di depanku.

“Baiklah, pertandingan akan kita mulai, semua bersiap,” ucap Lusi dengan aba-aba.

Ivan memposisikan menyerang, dengan kuda-kuda tubuhnya ke samping dan kedua tangannya membentuk sebuah gerakan. 

“Siaaaappp… Mulai!” ucap Lusi memulai pertandingan.

Setelah aba-aba mulai, tendangan memutar atas melesat ke arah kepalaku dengan cepat. Belum sempat aku bereaksi, tendangan cepat Ivan menghantam rahangku. Walaupun tidak terasa sakit tendangan cepatnya cukup mengagetkanku. Sepertinya gaya bertarungnya fokus pada kecepatan. Sebelum aku memperkuat posisiku, kali ini tendangan kaki kirinya mengenai pinggangku, aku cukup kaget dengan serangannya. 

Sepertinya benar, ucapku dalam hati. Setelah kakinya turun di lantai panggung, sekali lagi kaki kanannya melesat ke arah pinggangku, lalu aku tahan dengan tangan kiriku. Lalu aku ingin menggunakan caraku tadi melawan Boy, yaitu melemparnya keluar arena. Tapi sebelum tanganku sempat bergerak Ivan langsung menarik kakinya kembali.

“Sialan,”umpatku kesal. 

10 menit berlalu, set pertama selesai. Di set pertama ini tidak ada yang mendapatkan poin, tapi Ivan masih kuanggap menang karena berhasil menyerangku. Aku turun dari panggung untuk sekedar minum.?“Nih Ed, ail minumnya,” ucap Mei sambil membawakan aku air mineral.

“Makasih Mei,” balasku dengan senyuman. Aku menenggak air mineral yang diberikan oleh Mei.

“Kamu gak apa-apa Ed? Dipukuli sepelti tadi?” ucap Mei khawatir dengan keadaanku.

“Lebih baik menyelah saja lah Ed, gak apa-apa kan, aku takut kamu kenapa-kenapa,” sambungnya.

“Mei sayang, aku belum kalah. Jadi aku tidak akan menyerah,” ucapku spontan sambil melihat Ivan di sebrang arena.

“Sayang, jiahhahahahaha...” gelak Wijaya dengan tertawa keras.

“Heh, ada apa?” sahutku dengan ekspresi bingung.

“Kamu gak sadar apa yang kamu ucapkan tadi Ed?” ucap Ninda padaku.

“Yang aku ucapkan tadi?” balasku sambil berpikir memang apa yang barusan kuucapkan.

“Aku tadi cuma bilang makasih, tidak menyerah, itu saja,” balasku lagi sambil berpikir.

“Kamu tadi bilang ke Mei ‘sayang’... bego,” balas Wijaya.

“Tuh liat Mei menunduk malu itu,” ucap Wijaya sambil menunjuk Mei yang wajahnya tertunduk malu di belakang Ninda.

“Ihh, apaan sih kamu Wij?” balas Mei dengan memukul bahu Ninda.

“Cie, cie. Ada yang kasmaran ini...” sindir Yeni.

“Siapa yang kasmaran?” balasku bertanya kepada Yeni.

“Yang disindir gak peka kali ya... Hihihi...” ucap Yeni dengan ketawa kecil.

“Ah, bodo amat...”?Setelah waktu istirahat selama lima menit selesai, lanjut ke set kedua. 

“Para peserta dipersilahkan naik ke atas panggung,” ucap MC memberikan intruksi. 

Aku dan Ivan jalan menuju tengah panggung. 

”Kali ini para peserta silahkan berdiri di ujung masing-masing,” ucap sang wasit. Lalu aku dan Ivan berjalan mundur ke ujung panggung. Rupanya pertandingan tidak dimulai dari tengah akan tetapi dari ujung panggung. 

“Semua bersiiaap...” ucap wasit sambil memberi aba-aba sambil melihat ke arah kami. “Mulai!”?Aku dan Ivan serempak maju. Ivan maju dengan gaya kuda-kudanya yang khas. Aku maju dengan berjalan biasa, karena aku tidak atau apa itu seni dalam beladiri. Beberapa langkah aku berjalan pelan kemudian aku berlari cepat ke arahnya. Dengan sigap Ivan menghindar ke arah kanan, sebelum tubuhku berhenti untuk mengubah posisiku menghadapinya, tendangan Ivan melesat ke arah punggungku. 

“Bruuuk!” Lalu aku terjatuh di atas panggung karena dorongan berlariku dan tendangan Ivan. 

“Satu kosong,” ucap wasit. 

“Yeeaahhhhh!” balas teman-teman Ivan. 

Dengan gayanya yang sok, Ivan memberikan jempol ke bawah ke arahku. 

Lalu aku berdiri. Kali ini akan aku gunakan tenaga dalam untuk melawannya. Karena dia cepat dan gesit, akan sangat susah untuk menangkapnya, batinku lirih.