Episode 23 - Walet dan Halimun


Taruhlah senjata-senjataku sebagai bantal kepalaku, karena hidup pendek yang aku jalani hanya diisi oleh pertarungan, aku juga ingin diingatkan akan hal itu bahkan dalam rengkuh kematian sekalipun. Baca mantra-mantra sakti warisan orang tuaku, beri pagar-pagar gaib selaksa jumlahnya agar kelak tak ada yang berani mengganggu serta mengotori tempatku bersemayam ….

—Sebagian isi dari surat wasiat Panglima Perkutut


“Heh, jadi rupanya kalian juga pendekar kelana. Hebat juga.” Hikram mengakui sambil manggut-manggut, kakinya menahan seorang anak buah Bandit Emas yang merintih akibat jari-jarinya diinjak dengan tak sadar oleh Hikram dengan kakinya yang lain. Ketiga pendekar itu telah berhasil menghabisi lawan, sisa-sisa dari bawahan Bandit Emas yang tahu bahwa telah kalah tenaga mencoba kabur, tapi si pemuda yang bisa terbang kesana-kemari dengan enaknya selalu menghadang di tengah jalan, yang paling cerdas langsung menyerah seketika itu juga tanpa harus dipukuli terlebih dahulu.

“Habisnya orang sini keras kepala,” si pemuda menggerutu. “Sudah dibilangin juga, di sini bahaya, jangan stay—”

“Tinggal. Kata-kata yang mau kau ucapkan adalah tinggal, Nak. Bukan stay. Kau sudah tidak di Brytisia sekarang jadi marilah berbangga dengan bahasa kita sendiri.” Si pak tua menyela dengan sabar.

“Lah, terserah aku dong, mulutku sendiri ini. Sekarang, biar orang-orang ini diberesin sama tentara Sanfeilong. Aku mau cabut, cari minum.”

“Buru-buru sekali,” Hikram berkata sembari mengernyit pada lelaki yang diinjaknya. Dia tak paham mengapa si anak buah Bandit Emas yang satu ini merintih terus-terusan sementara dia menahan tidak cukup keras. Dia masih belum sadar kalau kakinya yang satunya menginjak jari-jari si lelaki di sisi yang lain.

“Ya mana mau sih aku minum tuak yang tak enak itu. Gengsi, tahu.”

“Kau berusaha menjualnya padaku, Bocah tengik! Sepuluh sen, benar-benar pemerasan.”

“Wah, iya juga. Pertamanya kukira kau cukup mabuk untuk menyerahkan sepuluh sen padaku, tapi ternyata ... yak, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Di rumah paman petani yang sederhana, terdapatlah sebuah sarang, milik seekor burung layang-layang, bla bla bla bla, kalian sudah tahu lanjutannya. Wush, Walet Timur terbang dan tak kembali!” dan dengan Balada Layang-Layang yang tidak komplit itu, dia melayang menuju atap sebuah rumah, dan sejenak kemudian lenyap setelah melompat ke atap yang lain.

“Ilmu peringan tubuhnya luar biasa! Guru, ajari aku yang seperti itu!”

“Aku akan mengajarimu tepat setelah kamu belajar agar tidak muncul mendadak seperti itu, Nak,” Hikram menggeram setelah terperanjat kaget akibat kedatangan Sidya yang tak dilihatnya.

“Anak muda sudah kehilangan sopan santunnya. Ah, mau dibawa kemana masa depan negeri kita ini? Mungkin serangan penjahat seperti ini berbahaya, tapi masa depan negeri kita sepertinya akan hancur akibat para pemuda lupa menghormati kami-kami yang sudah makan asam garam kehidupan ini.” Si tua mengomel segera si pemuda yang bergelar Walet Timur itu pergi.

“Aku setuju,” Hikram menggumam, matanya masih mendelik pada Sidya yang tidak tahu salahnya apa.

“Dan dia benar-benar tak bertanggung jawab. Setelah memukul orang lalu pergi, tak mau membawa mereka orang-orang jahat ini ke pihak yang berwajib,” si tua masih mengomel, sementara Hikram terperanjat. Benar juga, dia harus meringkus kemudian menyerahkan mereka pada pengadilan, padahal dia sangat enggan melakukan hal itu. Dia ingin bebas suka ria kemana saja hatinya ingin, dan tanggung jawab seperti inilah yang sebenarnya ingin dihindarinya dengan cara menjalani kembara.

Apalagi, kali ini ada Sidya yang bisa saja dikenali oleh siapa saja yang punya setitik darah bangsawan di nadi mereka. Putri Kaisar bukanlah seseorang yang tidak terkenal.

Cepat-cepat Hikram mengendap, ingin pergi juga dan menyesali diri mengapa tak bisa terbang untuk kabur secepat angin seperti Si Walet Timur. Celakanya, Sidya malah bertanya tepat saat Hikram menggamit lengan mengajaknya, padahal Hikram sudah menaruh jari telunjuk di mulut pertanda agar Sidya tetap diam, “Guru, kita mau kemana?”

Si tua berpaling pada Hikram yang membeku di tengah-tengah gerakannya, sembari memberi senyum begitu dia mengerti, “Hah, dan kukira orang yang cukup berumur sepertimu tahu lebih banyak tentang tanggung jawab! Bantu aku membereskan masalah ini, Orang Asing. Para penduduk butuh pengawal jikalau ada diantara para penjahat ini yang ingin melarikan diri,” Ia mengedar pandang, dan dipertemukan dengan para penduduk yang sudah menyiapkan tali, beberapa lagi membopong mereka yang terluka untuk dibawa ke rumah tabib yang belum mengungsi, yang sekiranya dapat memberikan kesembuhan.

Hikram berbalik sembari berkacak pinggang, dahinya berkerut seolah tersinggung, seolah rencana kaburnya tadi hanya main-main semata. “Tentu saja aku tak akan pergi. Rupanya asumsimu sudah jelek padaku. Aku akan membantu! Tapi, nanti dampingi kami berdua untuk menyelesaikan akar dari permasalahan ini.”

Si pak tua menerima tali dari salah satu warga desa, kemudian cekatan mengikat tali pada kedua lengan penyamun yang tadi jarinya kena injak oleh Hikram, matanya mengawasi jari si lelaki yang mencuat dalam posisi tak wajar dengan heran.

“Kau ingin membereskan akar masalah … mau mendatangi si Bandit Emas?”

“Siapa lagi kalau bukan dia dalangnya?”

“Mereka cukup sulit dikalahkan, Orang Asing. Kita hanya melawan belasan, bagaimana jika berjumpa dengan kelompok besarnya? Bahkan yang satu ini pun tak bisa kulumpuhkan dengan mudah. Hampir saja aku kalap mencabut nyawanya kalau bocah walet itu tak urun membantu.”

Memang benar. Hikram sendiri melihat sekilas pak tua ini cukup kewalahan mengayunkan tinjunya dalam upaya serang-tangkis saat menghadapi yang satu ini, yang lain daripada yang lain. Ketimbang golok berkualitas buruk, penjahat ini mempersenjatai diri dengan sebilah pedang yang berdesing setiap diayunkan. Beruntung, bocah walet itu terbang lalu turun untuk menggasak punggungnya, memecah konsentrasinya hingga si pak tua mampu memanggil mustikanya, yang ternyata berbentuk sebilah belati gelap yang berkilat layaknya kulit burung gagak, menggores tangannya, menjatuhkan senjata si penjahat sebelum memukulkan sisi tumpul belati pada sambungan lengan untuk melumpuhkannya.

Hikram mendekat untuk memeriksa si penyamun yang masih sadar, badannya memang dipenuhi lebam namun rupanya dia cukup tangguh hingga tidak mengiba-iba. Mata Hikram memejam untuk sesaat, Gelarnya terbuka untuk sementara dan tanpa tunggu lama sebuah kata muncul di kepalanya.

“Ah, akhirnya berjumpa dengan salah satu Pemegang Gelar Bandit Perak. Sudah waktunya.”

Penyamun itu hanya menjawab dengan ludah yang disemburnya pada celana Hikram, membuatnya jadi makin kotor.

“Menginterogasi yang satu ini akan cukup merepotkan, menurutku. Lebih baik serahkan mereka pada para prajurit,” ucap si pak tua yang mengawasi Hikram dengan menilai. Tentu dia menebak-nebak setinggi apakah ilmu Hikram hingga mampu membaca Gelar orang semudah itu.

“Untuk sementara ini, aku akan mencoba menanyainya,” Hikram menjawab dengan enggan. Dia tak mau berurusan lagi dengan para serdadu, mengingat dia sedang bersama si putri kaisar yang ngeyel untuk mengikutinya kemanapun dia pergi dan mendatangi mereka sama saja dengan mengumpamakan seekor ular mendatangi tongkat yang menjanjikan gebukan. Lebih sedikit interaksi yang dialaminya dengan pihak yang beroperasi di bawah wewenang kekaisaran, semakin baik.

“Lagipula,” Hikram bertutur sembari mengangkat salah satu jarinya, yang secepat kilat ditekankan ke dahi Si Bandit Perak, “aku punya cara lain.”

Entah apa yang sedang Hikram salurkan melalui jarinya, karena Sidya tak bisa melihat sesuatupun muncul dari sana. Tapi, awalnya lambat, kemudian lama-kelamaan si Bandit Perak mengibas-ngibaskan kepala, seolah sedang berusaha mengusir rasa pusing. Matanya yang semula tajam menyelidik berubah menjadi tak terfokus, kelopaknya setengah terkatup seperti sedang mengantuk.

Hikram menamparnya pelan, membuat mata yang semula mau terpejam itu terbuka kembali, agak juling.

“Di mana ketuamu sekarang berada, Bandit Perak?”

“Haku … haku tak—haku takkan bicara …” dia berkata, lidahnya tergigit setiap katupan mulutnya mengeluarkan suara.

“Aku akan menyuntikkan rasa mabuk yang lebih parah lagi kalau kau tak mau,” Hikram mengancam, dan Sidya serta si pak tua yang belum dikenali namanya langsung mengerti apa yang telah Hikram lakukan pada si penyamun.

Dia telah mencekoki si Bandit Perak dengan rasa mabuk.

“Kau Dewa Arak Kolong Langit!” si pak tua tambun berseru.

Hikram mengangguk, pandangannya masih tertuju pada sanderanya. “Masih tak mau bicara? Kau mau dengar apa yang akan terjadi seandainya aku menyuntikkan kemabukan secara berlebih padamu, Penjahat? Nyawamu bisa melayang akibat mampatnya aliran darahmu.”

Si Bandit Perak kembali menggeleng-gelengkan kepala lagi, matanya memejam sangat rapat seperti menahan pedih. Sementara itu, Hikram segera menekankan jarinya lagi. Si penyamun mengertakkan gigi dengan marah, kemudian menggumam, “Bhaik! Cukup. Bicara. Bicara. Baiklah.”

“Mohon kerjasamamu,” Hikram berkata setelah menarik jarinya.

“Thimur. Thimur laut. Bukit Sin Gong.”

“Tempat Panglima Perkutut dimakamkan … kalian ingin membongkar tempat itu untuk mencuri isinya?” Si tua menebak, sementara Bandit Perak yang agak linglung itu mengangguk-anggukan kepala secara berlebihan hingga dagunya hampir menghantam dada.

“Kalian suka sekali mengundang masalah. Tokoh besar seperti Panglima Perkutut tak akan dimakamkan tanpa penjagaan.” si pak tua menggeleng, sementara Hikram menanyainya lagi.

“Lalu apa yang terjadi?”

“Legiun kepung kami di tengah-tengah penggalian. Legiun … banyak. Banyak yang mati, tapi tiap hari datang terus menambah. Kami tetap di bukit, mendirikan pertahanan. Legiun serang kami berulang-ulang tapi mereka jatuh lebih banyak.” Dia menyeringai seolah dia bukan tawanan dan ini hanya sekedar obrolan santai bersama seorang kawan. “Keuntungan kumpul sama ratusan Pemegang Gelar adalah seribu maupun dua ribu musuh tak ada gunanya karena kelompokmu jauh lebih kuat.”

“Jadi kelompokmu itu semacam … gerombolan kecil yang dipisahkan dari pasukan utama untuk mencari sup … sip … apa ya namanya?” Sidya bertanya-tanya sendiri, mengingat-ingat pelajaran dari kitab Seni Perang yang pernah dia telisik isinya. Tidak banyak yang dipelajarinya, tapi setidaknya Sidya ingat beberapa hal termasuk kenyataan bahwa sebuah pasukan tak mungkin tetap bergerak bersama dalam kelompok besar. Ada mata-mata, ada juga golongan pemburu serta pengumpul kayu bakar dan masih banyak lagi.

“Kata-kata yang kamu cari adalah suplai,” pak tua menambahkan dengan hati-hati sembari menggaruk kepala, sementara Sidya tersenyum padanya untuk berterima kasih. Nampaknya, si pak tua amat heran dengan pasangan guru-murid ini. Satunya nampak sama sekali tak meyakinkan tapi ternyata menyimpan Gelar yang cukup ternama di rimba persilatan, sementara satunya lagi nampak seperti anak kecil biasa, namun otaknya mampu menjangkau kitab Seni Perang yang hanya kalangan tertentu yang mampu menguak serta menghapal isinya. Meski hapalannya masih bercacat, tapi kemampuan membaca saja sudah menandakan bahwa dia bisa jadi bukan dari kalangan rakyat jelata yang kebanyakan masih belum bisa membaca.

“Ya, anak botak. Uang, makanan. Apa saja yang bisa dibawa. Kadang ternak.”

“Terima kasih banyak,” kata Hikram, dan dengan cepat jarinya lagi-lagi menyentuh jidat. Si Bandit Perak yang sudah berada di bawah pengaruh kerasnya alkohol langsung jatuh tertidur.

“Dia akan bangun dengan kepala pusing dan badan sangat lemas, seperti seseorang yang baru bangun dari pesta minum besar,” si pak tua berucap, nadanya menyatakan kurang setuju akan kelakuan Hikram, tapi Hikram mendengus mencemooh.

“Itu bukan urusanku lagi. kau boleh bawa mereka menuju perkemahan prajurit Sanfeilong, kutebak mereka telah bergerak menuju bukit Sin Gong untuk membantu para Legiun Asing. Atau kau mau mengurung mereka di salah satu rumah sambil menunggu, sesukamulah. Aku akan berangkat sekarang juga.”

“Bersama anak kecil ini, Dewa Arak?”

“Tentu saja!” Sidya menjawab sebelum Hikram membuka mulut, suaranya dibesar-besarkan agar mirip dengan anak laki-laki, walau keluarnya suara cempreng malah membuatnya terdengar seperti anak laki-laki yang mau menangis, “aku pergi kemanapun guru pergi dan tak ada yang bisa melarang!”

Hikram menyisiri rambutnya sembari meringis, “kau lihat sendiri, ‘kan.”

“Jadi begitu. Baiklah, aku tak bisa menahanmu untuk tidak membawanya turut serta, karena dia muridmu dan oleh karena itu juga jadi tanggung jawabmu. Jagalah dia baik-baik. Beberapa orang,” Pak Tua itu berkata, “tak bisa menjaga apa yang berharga bagi mereka dengan baik.”

Hikram segera menjura padanya. “Aku tak akan kehilangan untuk kedua kalinya. Namaku Hikram, Pak Tua.”

“Jisan. Si Perangkak Halimun. Dan walet muda tadi bernama Pisun, murid dari seorang teman. Maafkan kalau ia kurang sopan. Perlu kutekankan bahwa gurunya jauh lebih sopan daripada bocah itu, aku yakin pelajaran yang diterimanya belum meresap benar.”

“Jauh-jauh dari selatan hanya untuk memukuli penjahat,” Sidya menggumam keceplosan. Dia tahu mereka rakyat selatan karena nama mereka berciri daerah sana dan kulit mereka berdua memang agak kekuningan. Sebenarnya kurang sopan menyebut mereka orang selatan, karena mereka telah bersatu dan bercampur dengan orang-orang dari daerah utama Kekaisaran Nagart lama sekali hingga bahasa serta dialek mereka hampir sama, namun Sidya tak berpikir sejauh itu.

“Maaf, Nak? Apa yang kau katakan?”

“Dia suka meracau tak jelas, jadi tak usah diperhatikan,” Hikram segera menengahi, membuat Sidya memberengut. “Jadi bagaimana, Jisan? Kau akan bantu Legiun untuk menghabisi para bandit ini sampai ke akarnya, bukan? Ikutlah dengan kami. Kau mau menegakkan keadilan? Sekaranglah saatnya.” Hikram menggeleng, “walau aku tak mencari keadilan, melainkan pembalasan, aku masih bisa menerima bahwa masih ada banyak orang yang ingin menegakkan keadilan di dunia ini.” Wajah Hikram jadi sedikit masam, “aku kenal banyak orang seperti itu.”

Si pak tua menepuk perutnya yang gendut lalu mengangkat tangan. “Mungkin aku akan menyusul. Yang utama bagiku sekarang adalah membantu para penduduk menyingkir sejauh mungkin dan menyerahkan para bandit ini ke kotaraja Sanfeilong. Aku tak bisa janji, Hikram. Tapi, jika kau bertemu dengan si walet, ajaklah dia. Pemuda yang berdarah panas sepertinya tentu tak ingin melewatkan kesempatan seperti ini.”

Hikram mengangguk, menghormati keputusannya. Walaupun orang tua ini merupakan seorang yang memiliki Gelar Tempur menilik dari mustikanya yang berbentuk belati, dia rupanya tak begitu suka berkelahi kalau tidak terdesak.

Maka, setelah membantu si pak tua mengangkat para bandit menuju ke pedati yang akan membawa menuju pengadilan kotaraja Sanfeilong dan setelah menghabiskan ucapan terima kasih para penduduk yang berbentuk bahan makanan serta minuman keras, Hikram berangkat menuju Bukit Sin Gong bersama Sidya, menuju tempat Legiun Asing mengepung Si Bandit Emas.

--