Episode 9 - Mei Lin



“Iya pak, dan terima kasih pak sudah membantu saya. Saya tidak tahu harus bagaimana untuk membalas bantuan bapak,” ucapku menunduk berterima kasih padanya.

“Sudah sudah, tidak apa. Anakku yang manja yang memberi tahu ayahnya karena temannya dalam masalah,” jawab beliau dengan tersenyum.

“Siapa pak?” tanyaku kepada beliau. Aku mencoba mengingat kembali apakah dia Mei Lin.

“Anakku, namanya Mei Lin,” ucap pak Jonathan. Sesaat kemudian Mei Lin muncul dari belakang ayahnya.??“Mei Lin!” ucapku kaget dengan kemunculan cewek ini di belakang ayahnya.

“Hai, Ed. Bagaimana papaku kelen ‘kan?” ucapnya sambil menggandeng lengan ayahnya.

“Iya, papamu keren sekali. Terima kasih, Mei. Jika bukan karena bantuanmu aku tidak tahu harus apa,” ucapku menunduk sambil berterima kasih kepadanya.

“Sudah, sudah. Tidak apaapa Ed, kamu adalah temanku, teman peltamaku di sekolah ini,” ucap Mei sambil tersenyum.

“Hehehe, kok malah kamu yang berterima kasih, harusnya aku,” ucapku membalas sambil garuk-garuk kepala padahal tidak gatal.

“Mulai sekalang kalau kamu ada masalah ngomong saja sama aku,” ucap Mei dengan sombongnya.

“Baiklah, jika kamu ada yang menggangu baik di sekolah atau pun di luar sekolah, jangan takut untuk menghubungiku. Akan aku hajar mereka yang berani mengganggu sang dewi penyelamatku,” ucapku sambil membusungkan dadaku.

“Hahahaha... Kamu ini lucu deh Ed,” ucap Mei sambil tertawa.

“Benel kan pa, Edi ini lucu,” sambung Mei sambil melihat ayahnya.

“Bener sayang. Ya sudah kalian kembali ke kelas ya, Om akan kembali bekerja,” ucap papa Mei.

“Baik om, terima kasih atas bantuannya,” kataku sebelum pak Jonathan pergi.??Setelah berpamitan, pak Jonathan menuju sebuah mobil mewah lalu masuk ke dalam mobil tersebut kemudian pergi meninggalkan sekolahan.??“Ayo kita ke kelas, Mei,” ajakku.

“Ayo,” jawab Mei.??Kemudian kita kembali ke kelas setelah sampai di kelas, banyak sekali anak yang berkerumun di depan kelasku. Ada Ninda, Yeni, Wijaya dan mereka yang belum kukenal.??“Ini nih sang aktor film laga datang,” ucap Wijaya mengejek melihat kedatanganku. “Hahahahahaha...,” di sambut gelak tawa mereka kepadaku.

“Sialan, siapa yang kau anggap aktor film laga? Emangnya Jackie Chan?” ucapku membalas ejekan mereka.

“Hahaha, kan keren loh, bener gak teman-teman,” ucap Wijaya

“Iya bener,” balas mereka.

“Kamu gak apa-apa Ed,” tanya Ninda terlihat cemas.

“Aku gak apa-apa. Oh ya kalian jangan bilang insiden tadi ke orangtuaku ya,” ucapku ke pada teman satu desaku itu.

“Beres!”??Lalu aku kenalkan sang dewi penyelamatku kepada teman desaku. “Oh ya kenalkan ini namanya Mei Lin sang dewi penyelamatku,” ucapku sambil memperkenalkan Mei ke teman-temanku.

“Kamu ini apaan sih Ed, bikin aku malu saja,” balas Mei dengan tertunduk dan wajah merah merona karena menahan rasa malu.

“Aku Ninda, teman SD dan teman satu desa dengan Edi. 

“Aku Yeni sama aku temannya Edi juga.”

“Wijaya. Aku juga teman satu desa Edi.” 

Mereka berujar sambil bersalaman dengan Mei.

“Aku Mei Lin, aku teman sekelas Edi dan lumahku di pelumahan cantik kota Caluban,” ucap Mei memperkenalkan diri.

“Wah rumahmu jauh sekali, hampir dua puluh kilo meter dari sini. Emang kamu naik apa ke sekolah Mei,” tanya Wijaya kepada Mei karena penasaran.

“Aku belangkat ke sekolah di antel sopil plibadiku. Pak Hasan,” jawab Mei

“Orang kaya,” ucap kami bersamaan saling pandang.

“Hehehe, engga kok biasa saja,” balas Mei sambil tertawa.??Setelah itu kita kembali ke kelas dilanjut acara perkenalan dengan teman sekelas. Jam menunjukkan pukul setengah satu saatnya pulang ke rumah. Aku dan Wijaya ke parkiran untuk mengambil sepeda, lalu kita keluar gerbang sekolah. Tanpa aku sadari di belakang ada sebuah mobil sedan buatan jepang yang mengikuti kami. 

“Siapa ini, apakah mereka mau cari gara-gara lagi?” ucapku dalam hati apakah mungkin ini temannya Feri yang tidak terima. Sejenak aku berhenti di pinggir jalan, kemudian mobil sedan tersebut juga ikutan berhenti, lalu keluarlah laki-laki dengan tubuh kekar dan berotot, bak seorang TNI.??“Sialan, masalah apa lagi in?,” ucapku heran dengan munculnya orang tua ini.

“Apa kamu yang namanya Edi,” tanya orang tua ini kepadaku

“Iya benar, ada apa ya pak,” jawabku yang masih diatas sepedaku.

“Saya di suruh oleh nona Mei untuk mengantarkan anda pulang sampai rumah,” ucap beliau kepadaku

“Apa!?” jawabku kaget dan heran, “Kenapa Mei menyuruh orang mengantarkanku pulang,”ucapku lirih karena keheranan.

Sejenak kita bertiga ngobrol sebentar dengan sopir tersebut sebelum kita berangkat menuju kerumahku. 30 menit kemudian aku dan Wijaya sampai di desa, lalu kita berpisah menuju rumah masing-masing. Sedangkan aku bersama sopirnya Mei, melanjutkan perjalanan menuju rumahku. Karena jalannya sangat buruk butuh waktu yang agak lama hingga sampai di rumahku. Sampai di rumah aku meletakkan sepedaku di bawah pohon mangga, sopirnya Mei mematikan mesin mobilnya kemudian keluar dari dalam mobil.??“Mari masuk, pak. Ini adalah rumah saya. Maaf jika tidak seindah rumah bapak ataupun rumah Mei Lin,” kataku kepadanya mempersilahkan masuk.??Melihat kedatanganku dengan seorang tamu, ibuku menyapa tamu yang kubawa. Setelah menyapa tamu tersebut, ibuku menuju dapur untuk membuatkan minuman dan kudapan untuk pak sopir. ??“Silakan diminum kopinya pak,” ucap ibuku kepada sopirnya Mei.

“Terima kasih bu, jadi ngrepotin,” balas pak sopir lalu meminum kopinya.

“Enggak pak, mari saya tinggal ke belakang sebentar....” Lalu emak pergi ke belakang melanjutkan pekerjaannya.

“Maaf pak, memang begini keadaan rumah saya,” ucapku ke pak sopir menjelaskan bahwa rumahku tidak seindah dengan rumahnya Mei, walaupun aku belum tahu seperti apa rumahnya.

“Tidak apa-apa Nak, dulu rumah saya juga sama. Sejak aku bertemu pak Jonathan, alhamdullilah sudah bisa berubah sedikit demi sedikit,” ucapnya sambil meminum kopi hitam dan membayangkan masa lalunya.

“Oh iya pak, kita belum kenalan. Walaupun bapak sudah tahu nama saya, saya Edi pak,” kataku pada beliau sambil mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan.

“Saya Hariadi, Nnak Edi,” balas pak Hariadi.

“Kenapa bapak mengantar saya sampai rumah?” tanyaku padanya karena penasaran.

“Jadi gini nak Edi, tadi saya ditelpon oleh nona Mei untuk mengantar nak Edi sampai rumahnya dengan selamat,” jawab pak Hariadi mengeluarkan sebungkus rokok.

“Kenapa Mei ingin anda mengantarku pak, kan aku bisa pulang sendiri?” ucapku keheranan.

“Wah kalau itu saya kurang tahu, Nak Edi,” balasnya sambil menyalakan rokoknya.

“Saya boleh nanya pak tentang Mei,” ekpresiku serius.

“Iya mau nanya apa nak Edi?” balas pak Hariadi memandangku.

“Kenapa Mei ingin sekolah di sana pak, kenapa gak sekolah di kota saja? Kalau melihat keluarga Mei kan, mudah saja sekolah di SMP favorit di kota sana pak,” tanyaku menyelidiki latar belakang keluarga Mei.

“Jadi gini nak Edi, sebelum masuk SMP sana, nona Mei pernah masuk ke SMP favorit di kota, akan tetapi baru beberapa hari masuk, dia dijauhi oleh teman-temannya. Ya nak Edi tahu sendiri nona Mei dari mana,” seru pak Hariadi sambil memandang jauh.

“Nona akhir-akhir ini kelihatan senang, semenjak proses pendaftarannya di SMP sana,” sambung pak Hariadi lalu melihat ke arahku.

“Lha kok bisa pak?” ucapku bertanya-tanya.

“Nanti nak Edi juga tahu sendiri,” balasnya cepat lalu menghabiskan segelas kopinya.

“Ya sudah nak, saya mau pulang dulu, tugas saya sampai disini,” ucapnya sambil menuju keluar rumah.

Setelah pak Hariadi pulang, aku langsung menunaikan sholat dzuhur, lalu tidur sebentar. Sore pun aku dibangunkan oleh ibu untuk shalat ashar dan mandi persiapan mengaji. Selesai mengaji bertepatan dengan magrib, kami di pengajian shalat magrib berjamaah. Sebelum berangkat mengaji tidak lupa aku berpesan kepada nyai Yun dan mbah Kosim untuk jaga rumah. Setelah pengajian usai, aku bergegas pulang ke rumah. Sampai di rumah aku berusaha untuk tidur sebentar sebelum masuk ke latihanku dengan abah guru. Targetku seminggu ini harus bisa menguasai bab keempat untuk astral projection, agar aku tidak menyusahkan guru besar. Sejenak aku tertidur, lalu abah guru datang menjemputku, dan di mulailah latihannya.

“Kukuruyukkkk,” begitulah suara ayam jago membangunkan tidurku, sejenak aku melihat jam menunjukan pukul setengah lima, saatnya shalat subuh lalu melanjutkan rutinitasku yaitu lari pagi. Dalam durasi satu setengah jam setelah selesai lari pagi aku pulang, mandi, sarapan, lalu berangkat sekolah bersama dengan Wijaya. Tiga puluh menit berangkat dari rumah bersama Wijaya, sampailah di sekolah hari mos ketiga dan mos terakhir, aku memarkirkan sepedaku lalu menuju ke kelasku. Sampai di kelas teman-teman sudah ramai, aku mencari satu orang di kerumunan, ya dia adalah Mei, aku cari ternyata dia duduk sendiri di bangku depan pojok depan meja guru, lalu aku menghampirinya.

“Pagi, Mei,” sapaku memberinya salam.

“Pagi, Edi,” balasnya sambil tersenyum.

“Bagaimana keadaanmu, baik kan?” ucapku bercanda.

“Baik Ed, selama ada kamu, hehehe...” balasnya dengan ketawa kecil.

“Loh, malah ketawa, pagi-pagi sudah ketawa kamu Mei,” balasku dengan senyuman.

“Ih, kamu itu ya Ed, sini duduk,” ajaknya duduk di samping.

“Tumben sendirian Mei,” tanyaku kepada Mei.

“Memang tiap hali aku sendilian ed,” balasnya dengan raut wajah sedih. “Tapi semenjak kenal kamu, aku jadi tidak sendilian lagi, hehe,” seketika itu ekpresinya berubah bahagia.

“Kamu bisa aja Mei. Mmmm... kemaren aku nanya tentang kamu ke pak Hariadi, kenapa kamu gak sekolah di SMP favorit di kota?” tanyaku menyelidiki.

“Sebenalnya, sebelum aku masuk di sini, aku sudah mendaftal di salah satu SMP favolit di kota Ed, setelah 2 minggu aku mendaftal, aku tidak mendapatkan teman. Setiap aku mendekati meleka, meleka menjauh sepelti meleka mendiskliminasiku Ed,” ungkapnya yang terlihat jejak kesedihan di wajahnya.

“Oh gitu, itu semua sudah takdir Mei, sekarang kamu disini. Lihat! kamu punya teman kan! . Ada aku, Wijaya, Ninda, Yeni,” kataku memberikannya semangat.

“Iya Ed, makasih. Belkatmu aku jadi punya teman, hehe,”

“Iya sama-sama, sudah jangan sedih lagi oke! aku akan membantumu mulai sekarang,”

“Hehehe, makasih,” sungguh senyumnya membuatku mabuk kepayang.??Sekilas tentang Mei Lin: Seorang cewek keturunan Chinese, kulit putih yang khas, rambut hitam panjang sepinggang, mata sipit, cerewet, manja, jenius, anak orang kaya raya, dan dia cadel. Tidak bisa huruf R jadi kalau berbicara lucu-lucu gimana gitu. 

Bel pun berbunyi, bertepatan dengan bel kakak kelas datang anggota Osis. Sekarang yang masuk ke kelasku berbeda sejak insiden kemarin. Ada ketua Osis namanya Brian, seksi keamanan Boy, lalu seksi kebersihan dan sekretaris, Leni dan Maya. Sekilas tentang Brian : songong, sok ganteng, sok keren, tinggi, kulit sawo matang, rambut cepak. Lalu Boy ini : tinggi, badan gede, item, rambut model belah tengah. sok kuat. Leni : tinggi, gak cantik-cantik amat, rambut pendek sebahu, pakai kacamata. Maya : badannya Oke, berisi, putih , rambut pendek sebahu.

“Ayo kalian masuk semua,” perintah Leni kepada beberapa siswa yang masih di luar kelas.

“Karena ini hari terakhir, MOS sampai jam 17.00 ya, acara terakhir yaitu unjuk bakat di atas panggung di tengah lapangan,” ucap brian dengan gayanya yang sok ganteng.

“Apa aja yang ditunjukin kak di atas panggung, kasih contohnya dong,” ucapku bertanya kepada Brian.

“Emm.. Contohnya band, tari jaipong, dance, yang sekiranya menarik,” balasnya dengan tidak melihat ke arahku.

“Aku gak punya bakat kak, jadi boleh dong aku pulang cepat,” ucapku memprovokasi.

“Apa yang kamu bilang Ed, kamu kan punya bakat jadi bintang laga, kenapa gak akting di atas panggung,” ucap salah satu temanku.

“Aku sih mau saja, selama ada lawannya, paling tidak buat samsak tinju lah, hahahahaha,“ balasku mencoba memprovokasi Brian.

“Hey, kamu anak baru jangan arogan, mentang-mentang ada yang ngelindungi sok kuat kamu,” ucap Boy marah.

“Hoooo…. Bagaimana kalau kita nanti sore unjuk bakat duel kak, apakah kau berani,” tantangku kepada Boy.

“Oke, tapi aku akan bawa 2 orang, salah satunya ikut perguruan seni beladiri dan satunya ikut beladiri taekwondo. Bagaimana apa kau setuju,” tantang balik kepadaku dengan sombongnya.

“Oke tunggu nanti sore,” kataku menerima tantangannya.

Ini anak pasti ingin balas dendam denganku atas kejadian kemaren. Aku lihat si Feri sudah masuk sekolah, tiap aku bertatap mata dengannya dia selalu kabur. Padahal aku ingin mengejarnya karena dia masih berhutang maaf kepada orang tuaku. Tak terasa jam menunjukan pukul empat sore, anggota OSIS mengumumkan lewat pengeras suara bahwa acara terakhir akan dilaksanan di tengah lapangan, yaitu unjuk bakat. Aku yang tengah duduk di depan kelas dihampiri oleh Mei dan beberapa teman sekampungku Ninda, Yeni dan Wijaya.

“Apa kamu yakin, Ed?” ucap Wijaya khawatir.

“Mereka yang mulai, aku tidak pernah takut akan sebuah tantangan,” ucapku menatap panggung.

“Kamu hati-hati Ed, aku gak mau kamu kenapa-kenapa,” seru Mei khawatir.

“Tenang, Insya Allah aku baik-baik saja,” balasku menatap wajahnya.

Ahhh... Terlalu silau, cahaya kecantikanmu sungguh menyilaukan dewiku! ucapku dalam hati.

Saat pandangan kubertemu dengan Mei, wajahnya tersipu malu kemudian memalingkan ke arah lain.

“Cie… Cie… Ada yang lagi panas ini,” ejek Ninda.

“Apaan kamu Nindaaaaaa…?” balas Mei sambil mencubit pinggang Ninda.

“Adduuhh.. duh.. duhhh! sakit Mei!” rengek Ninda.

“Lagian kamu sih,” balas Mei.

“Emang apaan yang panas, bentar lagi juga gelap,” jawabku kepada mereka.

“Ehem,” Yeni cuma berdehem.

45 menit berlalu, banyak kakak kelas dan junior yang unjuk bakat di atas panggung, ada band, tari tradisional, dance, dan lainnya. Kemudian MC membacakan jadwal terakhir.

“Baik untuk penutup event unjuk bakat kali ini, akan di adakan film action dengan duel junior 1 orang melawan senior 3 orang di atas panggung yang megah ini,” ucap MC.

“Siapa sih yang sombong ingin melawan kakak kelas, 3 orang pula, cari mati ini bocah baru,” ucap kakak senior yang tidak tahu insiden kemaren.

“Baiklah mari kita panggil. Sang penantang, murid baru dari kelas 7D... Edi!” ucap sang MC sambil terdengar tepuk tangan anak-anak berbarengan denganku naik ke panggung.

“Lalu di sisi penantang ada tiga orang yang akan menghadapi. Yang pertama Boy, kedua Dika, dan terakhir Ivan,” ucap MC sambil terdengar tepuk tangan yang meriah.

“Sebelum dimulai saya ingin mewawancarai sang penantang terlebih dahulu... Dek Edi, apa kamu yakin ingin menantang mereka bertiga?” ucap MC bertanya padaku.

“Yakin dong, Kak. Banci aja main keroyokan, masa gak berani,” ucapku memprovokasi.

“Hei sialan bocah baru jangan sombong!” teriak Ivan yang memakai seragam Taekwondo dengan sabuk merah yang melingkar di pinggangnya.

“Oh, pertandingan belum mulai sudah memanas. Apakah Dek Edi mempelajari seni beladiri tertentu,” lanjut sang MC bertanya.

“Ada kak, saya mempelajari seni beladiri walang kadung,” ucapku sambil menirukan gaya belalang sembah.

“Hahahahaha...” terdengar semua orang tertawa.

“Sialan! Sini lo gue hajar mampus lo!” ucap Ivan maju ke atas panggung.

Tanpa diduga kejadian aneh pun terjadi...