Episode 55 - Pelangi di Langit Mega Mendung



Jaya jatuh berlutut air matanya jatuh bercucuran membasahi wajahnya yang belumuran darah, “Jaya...” bisik Galuh dengan lemah sambil mendekap punggungnya. Galuh lalu melepaskan dekapannya, ia mengambil sarung atau warangka keris Kyai Segara Geni dari pinggang jenasah Prabu Kertapati dan menyerahkannya pada Jaya “Jaya... Sejujurnya aku juga tidak tahu harus berkata apa, tapi tolong ingatlah pesan mendiang ayahmu, saat ini negeri ini masih mempunyai satu permasalahan besar, ribuan pasukan Banten telah berada diwilayah negeri ini!”

Jaya mengangkat kepalanya dan menatap Galuh beberapa saat, gadis itu tersenyum iba pada Jaya, gadis itu sama-sama menitikan air matanya karena merasa sepenanggungan dengan Jaya meskipun orang yang baru saja meninggal adalah sasaran dendamnya selama ini yang membantai seluruh anggota keluarganya. Jaya merasa ada Satu kekuatan merasuki dirinya ketika melihat senyuman Galuh itu, ia pun menerima warangka keris dan menyarungkan keris Kyai Segara Geni.

Saat itu ribuan pasukan Mega Mendung yang dipimpin oleh Patih Balangnipa tiba di sana, mereka mengelilingi Jaya, Galuh, dan si Dewa Pengemis. Patih Balangnipa, Ki Sentanu, dan Ki Citrawirya turun dari kudanya dan menghampiri Jaya, mereka melirik sebentar pada jenasah Prabu Kertapati dan Dewi Nawangkasih, lalu Ki Balangnipa memberikan isyarat pada seluruh prajurit Mega Mendung, kontan teriakan sorak sorai kemenangan pun bergemuruh dari mulut semua laskar Mega Mendung, takbir pun bergema. Ternyata hampir seluruh elemen pemerintahan Mega Mendung mendukung Ki Balangnipa untuk menjungkalkan pemerintahan Prabu Kertapati serta mendirikan pemerintahan yang baru.

Di lain pihak, entah apa yang dirasakan oleh Jaya ketika seluruh Laskar Mega Mendung meneriakan takbir kemenangan ketika mendapati tewasnya Prabu Kertapati dan Dewi Nawangkasih orang tua kandungnya, meskipun Prabu Kertapati tewas ditangannya sendiri, Galuh menepuk pundak Jaya, kemudian gadis ini melepas jubah Prabu Kertapati untuk menutupi jenasah Prabu Kertapati dan Dewi Nawangkasih.


***

Malamnya di Keraton Rajamandala, Jaya yang masih terluka parah ikut berkumpul bersama Patih Ki Balangnipa, Senopati Sentanu, Mantri Citrawirya dan tokoh-tokoh Mega Mendung di Balai Penghadapan, sedangkan Galuh dan si Dewa Pengemis ikut pula hadir dalam percakapan itu tapi mereka bertekad tidak akan ikut campur urusan “dalam negeri” Mega Mendung ini.

Semua yang hadir disana selain Galuh dan Dewa Pengemis terlibat dalam satu perbincangan yang sangat serius. Selain mereka semua, di luar Balai Penghadapan nampak beberapa mantan pejabat yang setia pada Prabu Kertapati duduk bersimpuh dalam keadaan tangan terikat kebelakang.

“Sedulur semuanya, hukuman apakah yang pantas bagi mereka yang menjilat mendiang Prabu Kertapati dan Pangeran Dharmadipa untuk kepentingan mereka sendiri dan menyesengarakan rakyat Mega Mendung?” Tanya Ki Sentanu.

“Hukum mati mereka!” usul seseorang, “Cincang tubuh mereka, lalu buang bangkainya ke tengah hutan!” usul yang lainnya, “Gantung mereka! Biarkan mereka mati perlahan sebagaimana yang mereka lakukan pada pihak-pihak yang bersebrangan dengan Prabu Kertapati dan Pangeran Dharmadipa dulu!” usul yang lainnya.

Suasana sesaat menjadi sangat panas dan gaduh sampai Ki Balangnipa meminta mereka semua untuk tenang, “Raden Jaya Laksana, menurut Raden, hukuman apakah yang pantas bagi mereka?” Tanya Ki Balangnipa.

Jaya merasa tidak nyaman mendapat pertanyaan itu karena ia merasa tidak berhak menjadi hakim untuk menjatuhkan hukuman pada mereka, maka setelah berpikir sejenak ia pun menjawab, “Maaf Paman Patih, menurut saya, saya tidak pantas untuk menjadi hakim disini karena yang paling tahu perbuatan mereka adalah Paman Patih dan yang lainnya yang selama ini menjalankan roda pemerintahan Mega Mendung, namun begitu kalau boleh saya mempunyai pendapat... Tolonglah paman patih dan yang lainnya ukur, apakah mereka mempunyai jasa yang besar pada Negara selama pemerintahan mendiang Ayahanda Prabu, meskipun seperti yang sedulur katakan tadi bahwa mereka telah menyengsarakan rakyat Mega Mendung dan para pejabat yang bersebrangan dengan kebijakan Ayahanda prabu? Kalau iya, tolong jangan hukum mati mereka, tapi berilah hukuman yang sangat berat namun tetap manusiawi sesuai kesalahan mereka.”

Semua yang ada di sana terdiam karena tidak menduga Jaya akan berpendapat seperti itu, sementara Galuh dan gurunya tersenyum kecil sambil mengangguk-ngangguk karena setuju dengan Jaya. Jaya berpendapat demikian karena kalau sampai dijatuhi hukuman mati dengan kejam, sanak keluarga mereka akan menaruh dendam pada rezim pemerintahan yang baru, hasilnya dendam akan selalu mewarnai pemerintahan Mega Mendung.

Ki Balangnipa berpikir sejenak, kemudian mengangguk setelah mendapatkan ide, "Baiklah, begini saja, kita tidak menghukum mereka apa-apa, tapi kita akan mengambil sebagian besar harta mereka untuk dipakai mensejaterakan rakyat kita, mereka juga tidak boleh keluar dari wilayah Mega Mendung, dan yang harus semuanya ingat, jangan ada satu orang pun rakyat Mega Mendung yang berbicara atau berhubungan dengan mereka! Dengan demikian kita asingkan mereka di negera mereka sendiri sehingga mereka merasa terasing di tanah airnya sendiri dan tidak bisa keluar dari negeri ini!”

Beragam pendapat mewarnai keputusan dari Mahapatih Mega Mendung yang telah sepuh tersebut, ada yang tidak puas, ada yang setuju. Jaya termasuk yang setuju dengan keputusan Ki Patih sebab kalau dipikirkan, hukuman sanksi sosial tersebut yang mengasingkan mereka di negeri sendiri adalah satu hukuman yang sangat berat dan mengerikan! 

Setelah itu mereka pun mengganti topik pembicaraan menjadi tentang pemimpin negeri ini, “Kalau sedulur-dulur semuanya sudah setuju, bagaimana kalau kita mengangkat Raden Jaya Laksana menjadi Prabu atau Sultan di Mega Mendung ini?” Tanya Ki Citrawirya.

Sebelum ada yang menjawab Jaya buru-buru memotong, “Paman Mantri, sebaiknya itu kita bicarakan nanti saja, bukankah menurut laporan Paman, pasukan Banten telah bergerak memasuki wilayah Mega Mendung dan terus bergerak menuju ke Kotaraja ini? Sebaiknya kita bicarakan perihal bagaimana kita mempertahankan Negara kita dari serbuan Banten!”

“Tapi membicarakan pengangkatan Raden juga penting, karena kita membutuhkan seorang pemimpin yang dapat menggerakan hati seluruh rakyat, saya yakin kalau Raden naik tahta rakyat akan memberikan dukungan penuh untuk menghadapi Banten!” jelas Ki Citrawirya.

“Tapi menurutku pendapat Raden Jaya Laksana benar Citrawirya, soal pemimpin untuk memimpin seluruh laskar Mega Mendung bisa kita tentukan saat ini juga, tapi soal pengangkatan Prabu sebaiknya nanti saja kalau kita sudah berhasil menghalau pasukan Banten!” ujar Ki Balangnipa.

“Sejujurnya sungguh aku tidak menyangka kalau pasukan Banten tidak mengindahkan suratku dan terus bergerak masuk ke Kutaraja ini, aku perkirakan besok lusa pagi mereka sudah sampai ke Kutaraja ini, jadi sebaiknya kita bicarakan taktik untuk menghadapi mereka yang unggul dalam hal persenjataan!” lanjutnya.

Jaya terdiam, sebenarnya ia sangat tidak ingin terlibat dalam hal pemerintahan Mega Mendung apalagi dalam hal peperangan yang pasti akan menelan banyak sekali korban nyawa, maka ia memutuskan untuk tidak banyak ikut berbicara, apalagi persoalan jenasah ayah dan ibunya belum beres.

Dengan sayu ia menatap ke kursi singgasana mendiang ayahnya, beribu penyesalan berkecamuk menyesakan dadanya, dalam hatinya ia bertanya-tanya mengapa semua ini harus terjadi? Bahkan ia sendiri yang mengakhiri hidup ayahnya, dan ayahnya jugalah yang mengakhiri hidup istrinya dan dan anak menantunya sendiri.

Ia melamun seandainya semua ini tidak terjadi, tentu alangkah bahagianya mereka hidup sebagai satu keluarga. Jaya pun bersedia tidak meneruskan Ayahandanya kalau Dharmadipa ingin menjadi Raja. Jaya menghela nafas berat, sungguh ia tidak ingin duduk di singgasana Mega Mendung!

Disaat perbincangan para tokoh Mega Mendung itu semakin hangat, Jaya memberanikan diri memotong mereka. “Semuanya, maaf kalau saya memotong sedulur semuanya, tapi... Ada hal lain yang ingin saya bicarakan…” 

Semuanya mempersilahkan Jaya untuk berbicara. “Seperti yang kita ketahui dalam agama maupun adat istiadat kita, kita harus cepat mengurus jenasah mendiang Ayahanda Prabu dan Ibunda Dewi, bagaimana menurut sedulur semuanya?”

Semua yang ada di sana terdiam, Jaya jadi merasa tidak enak, Ki Balangnipa yang menangkap gelagat ini langsung membuka mulutnya. “Maafkan kami Raden, tentu saja permasalahan jenasah mendiang Gusti Prabu dan Gusti Dewi menjadi pemikiran utama kami, namun sejujurnya kami sangat bingung akan hal itu Raden…”

“Bingung kenapa Paman Patih?” Tanya Jaya penasaran, ia merasa agak tersinggung.

Ki Balangnipa tidak angsung menjawab, ia menatap semua hadirin yang ada di sana, semua hadirin memberi isyarat agar Ki Patih yang berbicara. “Seandainya Prabu Kertapati adalah penganut Hindu atau Budha atau kepercayaan leluhur, kami paham untuk mengurus jenasahnya, tapi... Sejujurnya mendiang Gusti Prabu Kertapati adalah penyembah Berhala dari aliran Ngiwa*, sedang Gusti Dewi meskipun pernah belajar Islam tapi kami tidak tahu kepercayaan pastinya apa karena beliau selalu menuruti dan mengikuti suaminya, jadi kami sangat kebingungan harus bagaimana mengurus jenasahnya.” (*Ngiwa = Kiri atau Hitam, Kepercayaan/Golongan Sesat)

Galuh yang sedari tadi berdiam diri merasa gemas dan tersinggung dengan jawaban Ki Patih dan ketidak acuhan para pejabat Mega Mendung akan perihal pengurusan jenasah orang tua Jaya tersebut. Ketika ia hendak membuka mulutnya si Dewa Pengemis buru-buru memegang tangan muridnya itu, “Muridku, sebaiknya kau tidak usah ikut bicara dan ikut campur dalam urusan ini, tahanlah kebiasaanmu yang selalu blak-blakan, tempat dan kondisi mereka semua berbeda dengan kita yang terbiasa hidup di alam bebas. Lihatlah, Jaya sendiri nampak kebingungan karena ia sendiri bukan dari kalangan menak kerajaan!” ucap si Dewa Pengemis melalui ilmu mengirim suara pada Galuh.

“Tapi kasihan Jaya guru! Ia seolah tidak diberi kesempatan untuk mengurus jenasah orang tuanya sendiri!” rutuk Galuh dengan ilmu mengirimkan suara pada gurunya.

“Sabarlah muridku, biarkan Jaya yang menyelesaikannya sendiri, kamu jangan mempersulit dirinya!” nasihat gurunya, Galuh pun hanya mendengus kesal dan memaki-maki dalam hatinya, ia sungguh tidak merasa nyaman berada dalam tempat orang-orang menak keraton ini, sama dengan gurunya, dan Jaya sendiri yang tidak nyaman dengan segala anggah-ungguh serta politik dalam Keraton.

Jaya merasa sangat sedih hatinya, iamenundukan kepalanya dan memejamkan matanya, “Gusti... apa yang harus saya lakukan?” tanyanya dalam hati.

Setelah beberapa saat kemudian ia pun mengambil satu keputusan, “Bagaimana kalau jenasahnya kita mandikan untuk dibersihkan segala kotorannya, kemudian kita kebumikan, perkara doanya, kita doakan mereka menurut kepercayaan kita masing-masing saja.” ide Jaya, semuanya mengangguk setuju meskipun Jaya merasa mereka semua tidak akan ikhlas mendoakan kedua orang tuanya.

Saat itu datanglah seorang prajurit melaporkan kalau ada seorang utusan Banten membawa surat dari Sultan Banten, utusan itupun dipersilahkan masuk. Jaya meminta Ki Balangnipa yang membacakan surat itu, setelah surat itu dibaca, utusan dari Banten dipersilahkan beristirahat di kamar khusus.

“Jadi bagaimana? Sultan Banten mengajak kita untuk berunding di perbatasan besok lusa untuk menentukan sikapnya, saat inipun mereka sudah bergerak mundur ke perbatasan sebelah barat kita…” Tanya Ki Balangnipa pada Jaya dan semua yang hadir di sana.

“Maaf Paman Patih, saya tidak punya pengalaman apa-apa dalam hal siasat, politik, maupun peperangan, maka dari itu saya serahkan semuanya pada kebijakan Paman” jawab Jaya.

Ki Balangnipa termenung sejenak untuk berpikir, kemudian, “Kalau mereka mengajak berunding di perbatasan, pasti Sultan Banten tidak akan jauh dari induk pasukannya, sementara bagi kita, meskipun diwilayah sendiri, induk pasukan kita akan jauh berada dibelakang kita, di Kutaraja ini! Sungguh taktik yang cerdik dari Sultan Banten!” ucapnya yang diamini oleh seluruh hadirin.

“Baiklah, aku tidak mau tertipu lagi oleh mereka, kita bawa seluruh kekuatan kita untuk mendampingi Raden Jaya dan aku berunding dengan Sultan Banten di perbatasan, aku tidak mau kita kecolongan lagi!” pungkas Ki Balangnipa. 

***

Esok lusanya di perbatasan sebelah barat Mega Mendung, Jaya yang saat itu mengenakan pakaian Panglima Perang Mega Mendung dan seluruh kekuatan Mega Mendung menatap nanar pada barisan pasukan Banten disebrang sana yang bersenjata lengkap, hatinya tergetar hebat ketika membayangkan jikalau kedua kekuatan itu beradu untuk saling bunuh di padang perbatasan ini. 

“Benar dugaanku, untung kita mengerahkan semua kekuatan kita!” omel Ki Balangnipa yang menatap barisan kekuatan Banten. 

“Benar Kakang Patih, lihatlah barisan meriam dan bedil mereka yang sengaja disimpan di barisan terdepan, mereka ingin menggertak kita dan menjatuhkan moral prajurit kita! Mereka ingin kita segan dan berpikir ribuan kali untuk memerangi mereka!” sahut Ki Senopati Sentanu.

Jaya terus memperhatikan seluruh barisan kekuatan Banten, terutama pada pasukan Meriam yang membawa meriam berukuran sangat besar dan pasukan bedilnya. Menurut perhitungannya, Pasukan Banten akan dapat memenangkan peperangan kalau seandainya peperangan meletus saat itu juga, maka dengan terpaksa ia memutuskan untuk melakukan apa saja untuk menghindari peperangan, sebisa mungkin ia ingin menghindari pertumpahan darah! 

Saat itu Galuh menghampirinya. “Jaya berhati-hatilah, ambil keputusan yang paling bijak untuk semua!” saran Galuh.

Jaya mengangguk “Tentu Galuh, Insyaallah akan aku usahakan…” jawab Jaya yang berusaha untuk menenangkan dirinya, kemudian pemuda ini naik keatas kudanya yang berwarna putih.

Galuh lalu meninggalkan Jaya, ia melompat menghampiri gurunya yang duduk menyaksikan perstiwa tersebut dari tempat yang sepi, Galuh langsung jatuh berlutut dihadapan Gurunya “Oh guru bagaimana ini? Aku sungguh tak mengira Jaya akan mendapatkan tanggung jawab sebesar ini, keputusannya akan sangat menentukan hidup-matinya ribuan orang” keluhnya dengan lemas.

Dewa Pengemis memegang pundak Galuh sambil tersenyum miris, “Kita berdoa saja pada Gusti Allah, semoga Jaya dapat mengambil keputusan yang terbaik, semoga hatinya dilapangkan untuk menerima apapun ang akan terjadi nanti…” ucapnya.

Si Dewa Pengemis menghela nafas, dengan matanya yang buta ia menoleh seolah menyaksikan apa yang terjadi di padang rumput yang luas bagaikan Tegal Kurusetra ini, “Sultan Banten adalah seorang Raja yang ternama amat pandai bersiasat, ia pasti akan mengambil keputusan yang menguntungkan Banten, sedangkan Jaya... Ia tidak memiliki pemahaman apa-apa tentang siasat perang maupun politik pemerintahan, meskipun orang-orang Mega Mendung menganggapnya sebagai Sang Penyelamat namun ia tetaplah seorang pendekar yang tidak pernah hidup dilingkungan Keraton dan mendapatkan ilmu pengetahuan tentang perang serta politik.” pikirnya dengan raut wajah tegang.

Saat itu terjadilah satu pemandangan yang aneh bin ajaib, tiba-tiba di langit diatas kepala mereka merekahlah selarik sinar pelangi yang nampak sangat indah, hal tersebut tentu saja mengundang tanda tanya bagi siapapun karena kemunculan pelangi yang tiba-tiba tersebut, hari itu langit sangat cerah, sang mentari bersinar dengan begitu teriknya, tidak ada hujan atau barang gerimis sedikitpun, namun tiba-tiba pelangi bisa bersinar disana. Para prajurit dari kedua belah pihak pun sejenak melupakan ketegangan mereka karena tekah bersiaga untuk berperang sedari tadi pagi, perhatian mereka teralihkan oleh lengkungan larik sinar pelangi di langit diatas kepala mereka.

Si Dewa Pengemis menengadahkan kepalanya, dengan matanya yang buta ia seolah-olah menatap langit diatas lapangan luas tersebut. “Galuh, apakah ada pelangi yang bersinar diatas langit dari tempat kita berpijak ini?” tanyanya pada Galuh.

“Benar Guru, pelangi itu bersinar sangat indah sekaligus sangat aneh, karena tidak ada hujan sebelumnya, tiba-tiba pelangi itu bersinar di langit sana…” Angguk Galuh dengan nada yang menyiratkan keheranan.

Si Dewa Pengemis mengangguk-ngangguk seraya mengusap-usap jenggot putihnya, wajahnya keruh sekali, “Hmm… Pelangi sekalipun indah, namun pertanda sebuah kesemuan… Negeri ini akan memasuki jaman baru… Jaman yang penuh dengan kesemuan…”

Ekpresi wajah Galuh langsung berubah ketika mendengar ucapan gurunya tersebut, wajah gadis berkulit hitam manis ini jadi nampak pucat karena hatinya merasa sangat khawatir pada calon suaminya. “Jaman yang penuh dengan kesemuan? Maksud Guru Jaya tidak akan bisa membawa ketentraman dan kemakmuran untuk negeri ini?”

Si Dewa Pengemis menggelengkan kepalanya perlahan. “Bukan begitu Galuh, akan tetapi Yang Maha Kuasa telah memberikan petunjuknya, namun apa yang akan terjadi adalah kehendakNYA yang tidak seorang mahluk hidup pun mengetahuinya… Walahuallam wibisawab…”

Pemandangan aneh tersebut pun tak luput dari perhatian Jaya Laksana, ia tercengang menatap sinar pelangi diatas tempat mereka berada tersebut sambil berusaha menebak-nebak apa yang akan terjadi, namun ia tersadar dari lamunannya ketika Ki Patih Balangnipa menepuk pundaknya perlahan dan mengingatkannya apa yang sedang mereka hadapi. Jaya pun kembali berfokus pada pihak Banten yang berada diseberangnya.

Dari sebrang sana, Panembahan Yusuf bersama Tubagus Kasatama, Tubagus Gempong, dan Pangeran Adipati Bogaseta mulai memacu kudanya ke tengah, maka Jaya Laksana, Ki Balangnipa, Ki Sentanu, dan Ki Citrawirya pun memacu kudanya ke tengah. “Assallam mualaikum warahmatulah wabarakatuh!” sapa Sultan Banten, “Waallaikumsalam Warahmatullah wabarakatuh” jawab Ki Balangnipa.

Saat itu Jaya merasa sangat tertetekan ketika menatap Panembahan Yusuf, sang Sultan yang masih muda itu mempunyai sorot yang luar biasa yang mampu membuat siapapun yang memandangnya menjadi segan. Sementara Sultan tersenyum melihat Jaya. “Jadi andakah yang bernama Jaya Laksana yang kini menggegerkan dunia persilatan dengan julukan Pendekar Dari Lembah Akhirat? Ah sungguh suatu kehormatan bagi saya untuk bertemu dengan anda.”

Ucapan Sultan yang memuji itu, Jaya rasakan sebagai satu sindiran halus bahwa ia dari kalangan pendekar bukan dari kalangan menak yang duduk di pemerintahan, ia pun menjawab dengan merendah “Benar paduka Sultan, ah paduka terlalu melebih-lebihkan, orang-orang terlalu melebih-lebihkan tentang saya.”

Ki Balangnipa menyumpah-nyumpah dalam hatinya karena belum apa-apa Sultan Banten sudah “Menyerang” Jaya yang merupakan calon penguasa negeri Mega Mendung, tapi sebelum ia membuka mulutnya Sultan mendahuluinya. “Pertama-tama saya ucapkan bela sungkawa dari hati yang terdalam kami rakyat Banten atas meninggalnya Prabu Kertapati dan Dewi Nawangkasih…” ucapnya sambil menatap Jaya.

“Terimakasih atas ucapan dan rasa belasungkawa Paduka serta seluruh rakyat Banten, kami merasa sangat tersanjung karenanya.” jawab Ki Balangnipa sambil tersenyum, Panembahan Yusuf pun tersenyum, ia dapat melihat dengan amat jelas bahwa raut wajah Jaya mengekspresikan kebingungan karena tidak tahu harus berkata dan berbuat apa.

“Yang kedua, kami telah mempertimbangkan masak-masak surat yang dikirim Ki Patih Balangnipa pada kami, kami setuju untuk mengikat tali persaudaraan dan persahabatan dengan Mega Mendung serta senantiasa menghindari peperangan sampai kapanpun, maka untuk menunjukan tujuan mulia kami, kami akan menikahkan adik saya Dewi Larasati dengan Pangeran Adipati Bogaseta adik dari mendiang Dewi Nawangkasih.

Yang ketiga, dengan segala kerendahan hati kami akan mengajak Raden Jaya Laksana untuk bertukar ilmu di Banten, sebagai sesama keurunan mendiang Sri Baduga Maharaja, kami akan merasa sangat senang dan terhormat apabila Raden Jaya Laksana bersedia untuk menimba ilmu Agama, Politik, Militer, dan Tata Negara di Banten sehingga kelak Raden akan siap untuk memimpin negeri Mega Mendung.” ulas Sultan Banten.

Jaya dan pihak Mega Mendung terkejut mendengar ujaran dari Sultan Banten tersebut, “Kelak? Mohon maaf, Bagaimanakan maksud dari Paduka Sultan? Karena kalau Raden Jaya pergi ke Banten, siapakah yang akan memimpin kami seluruh rakyat Mega Mendung?” Tanya Ki Balangnipa yang gusar hatinya karena ide sultan tersebut.

“Selama Raden Jaya Laksana menimba ilmu di Banten, Pangeran Adipati Bogaseta yang akan memegang tampuk pemerintahan Mega Mendung untuk sementara!” jawab Sultan Banten dengan tenang namun mantap dan sangat penuh dengan tekanan.

Jaya dan pihak Mega Mendung termenung, mereka merasa sangat tertonjok dengan usulan dari Sultan Banten karena memang benar Jaya Laksana tidak mempunyai pengetahuan apa-apa untuk menjadi seorang Raja yang memimpin roda pemerintahan Negara. “Bagaimana? Kami akan merasa sangat terhormat kalau pihak Mega Mendung menerima itikad baik kami.” lanjut Sultan Banten.

Jaya termenung, disapukannya pandangan matanya ke arah tentara Banten, Jaya teringat akan mimpinya beberapa malam lalu, saat itu ia berdiri diatas padang yang banjir darah, ribuan mayat-mayat menumpuk, dan akhirnya ia ditindih oleh bulan purnama raksasa berwarna merah darah di tempat itu, padang di mimpinya itu terlihat sama dengan tempat ia beridiri saat ini. 

Selain teringat pada mimpinya, ia juga memperhitungkan kekuatan masing-masing pihak kalau sampai terjadi perang. Pasukan Mega Mendung mungkin akan unggul dalam perang jarak dekat, terutama karena mereka mempunyai pasukan berkuda yang sangat tangguh, akan tetapi dalam perang jarak jauh Banten pasti akan unggul, mereka akan menempatkan pasukan bedil dan puluhan meriam raksasanya di posisi yang strategis untuk membantai pasukan Mega Mendung, dan kalau pasukan Banten sampai ke kutaraja Rajamandala, dengan mudah mereka akan menghancurkan benteng serta keraton dengan puluhan meriam raksasa itu!

Jaya menarik nafas panjang, ia membaca Basmalah tiga kali, dan akhirnya menjawab dengan berbagai pertimbangan terutama untuk menghindari peperangan. “Baiklah Paduka Sultan, kami merasa sangat terhormat atas masukan dari Paduka, maka dengan segala kerendahan hati kami, kami terima tawaran paduka Sultan.” 

Ki Balangnipa, Ki Sentanu, dan Ki Citrawirya terkejut mendengar keputusan dari Jaya tersebut, mereka merasa kecewa! Namun sebagai orang-orang yang banyak makan asam garam bidang kemiliteran, mereka dapat maklum dengan keputusan Jaya tersebut karena kalau meletus peperangan antara Mega Mendung dengan Banten, sangat kecil kemungkinannya untuk Mega Mendung dapat menang dan mempertahankan wilayahnya, apalagi kalau mereka melihat ratusan bedil dan puluhan meriam berukuran raksasa di pihak Banten. 

Mereka juga menyadari bahwa Jaya hanyalah seorang pendekar yang meskipun mempunyai kesaktian yang amat tinggi, namun tidak paham apa-apa tentang lika-liku politik dan dunia pemerintahan. Meskipun dengan begitu artinya Jaya Laksana akan menjadi abdi Sultan Banten yang mau tidak mau harus menyembah dan tunduk pada Sultan tersebut.

Sultan tersenyum dan menyalami tangan Jaya, “Terimakasih Raden mau menerima uluran tali persaudaraan dan persahabatan kami, kami merasa sangat terhormat karenanya... Banten dan Mega Mendung akan menjadi Negara saudara yang sama-sama menjalankan syariah islam!”

“Terimakasih paduka, namun saya kalau boleh saya meminta satu hal pada paduka” ucap Jaya.

“Apa itu? Katakanlah!” tanya Sultan.

“Sebelum saya berangkat ke Banten, mohon izinkalah saya melangsungkan pernikahan terlebih dahulu, saya akan pergi ke bukit Tagok Apu untuk meminta guru saya Kyai Pamenang melamarkan saya”.

Sultan Banten mengangguk sambil tersenyum. “Baiklah, permintaanmu saya terima, saya akan utus Tumenggung Braja Paksi dan dua belas prajurit pilihan Banten untuk menyertaimu”

Lagi-lagi Jaya tertohok oleh jawaban Sang Sultan, namun meskipun Jaya merasa kemerdekaannya terampas saat itu juga, ia terpaksa menuruti kehendak Sultan. Maka hari itu juga, Jaya akan terus diiringi oleh Tumenggung Brajapaksi dan 12 prajurit pilihan Banten.

Perang Terbuka antara Mega Mendung dan Banten pun dapat dihindari, namun dari pihak Mega Mendung banyak yang tidak suka dengan keputusan yang diambil oleh Jaya, sebab meskipun Mega Mendung tetap menjadi Negara yang merdeka dan Negara-negara bawhannya yang dulu ditundukan oleh mendiang Prabu Kertapati tetap tunduk pada Mega Mendung, mereka merasa menjadi pihak yang kalah secara politik dan harga diri. Apalagi kini yang menjadi Raja mereka adalah Bogaseta dengan gelar Prabu Hamangku Bumi Arya Bogaseta, orang yang telah membelot pada pihak Banten, kekhawatiran pemerintahannya dirongrong oleh pihak Banten pun terus mengemuka.


***


Hallo para sahabat pembaca setia Wasiat Iblis yang budiman yang sudah mengikuti kisah wasiat Iblis sampai episode 55 ini, terima kasih banyak atas semua sambutan serta dukungan sahabat semua yang selalu memberi semangat kepada penulis untuk terus melanjutkan kisah Wasiat Iblis ini.

Pada kesempatan ini, penulis ingin menceritakan kisah di balik dapur Wasiat Iblis ini. Pada naskah aslinya sebenarnya Wasiat Iblis akan tamat pada episode 57, pada naskah aslinya Jaya Laksana akan memimpin seluruh rakyat Mega Mendung untuk berperang melawan serbuan pasukan Banten. Akan tetapi, karena kalah persiapan dan persenjataan, akhirnya pasukan Mega Mendung berhasil dipukul mundur oleh pasukan Banten, mereka terpaksa mundur dan berlindung di benteng keraton Rajamandala sebagai garis pertahanan terakhir Mega Mendung.

Jaya Laksana yang sudah tahu akhir hayat dirinya dan Negeri Mega Mendung sudah dekat, memutuskan untuk melamar Galuh, maka pernikahan dirinya dengan Galuh Parwati berlangsung di dalam keraton pada saat pengepungan Keraton Mega Mendung oleh ribuan Prajurit Banten.

Tepat ketika pernikahan Jaya dan Galuh selesai, benteng keraton berhasil ditembus oleh Pasukan Banten. Jaya Laksana pun memimpin pasukannya mati-matian untuk mempertahankan keraton warisan leluhurnya tersebut. Namun akhirnya Mega Mendung mengalami kekalahan, hampir semua pasukannya tewas, seluruh pejabat negaranya pun tewas terbunuh. Jaya Laksana sendiri tewas di ujung keris pusaka Sultan Banten pada saat mempertahankan Balai Keprabon. Galuh yang putus asa pun memutuskan untuk bunuh diri di hadapan Sultan Banten dan Pangeran Bogaseta.

Nah begitulah kisah aslinya dalam naskah asli Wasiat Iblis ini, bad ending. Namun melihat dukungan dan sambutan dari para pembaca yang sangat hangat, itu sangat memotivasi dan memompa semangat saya untuk terus melanjutkan kisah ini, selain itu saya juga enggak suka bad ending sih hehehe… Jadi saya putuskan, Wasiat Iblis masih akan terus berlanjut! Dengan segala kerendahan hati, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk para sahabat pembaca semuanya yang selalu setia mengikuti kisah Wasiat Iblis yang masih banyak kekurangannya ini.

Nantikan episode-episode berikutnya dengan cerita yang baru dalam Wasiat Iblis II!