Episode 274 - Guru Tari



“Hendak ke manakah engkau...?” 

Seorang lelaki tua melayang rendah. Wajahnya dipenuhi keriput, tubuhnya terlihat kurus dan mulai membungkuk. Akan tetapi, tangan kirinya yang dilipat ke belakang pinggang mengesankan kebijaksanaan serta aura yang ia pancarkan demikian berwibawa. Selayaknya, ia mengenakan jubah kebesaran layaknya bangsawan terkemuka. Pertanyaan yang dilontarkan sebelumnya, ditujukan kepada seorang lelaki dewasa bertubuh tegap yang sedang melangkah keluar dari gerbang sebuah benteng. 

“Guru...,” lelaki dewasa yang disapa itu segera menundukkan kepala. “Diriku akan turun berburu selama beberapa hari.”

“Berburu...?”

“Benar. Tak berapa lama lalu, beredar khabar bahwa salah seorang tabib istana yang melihat seekor binatang siluman. Adapun binatang siluman dimaksud, dapat bermanfaat bagi penyembuhan berbagai macam penyakit.” 

Lelaki tua itu masih melayang rendah. Kedua bola matanya menatap jauh ke hadapan, melintasi batas cakrawala. Sepertinya ada sesuatu yang senantiasa membuat hatinya perih. Menyembunyikan kepedihan, ia kemudian melayang pergi begitu saja. 

“Sedangkan Guru, hendak ke manakah hari ini...?” aju si lelaki dewasa sebelum lelaki tua itu menghilang dari pandangan. 

“Aku akan menjemput seorang anak remaja...”

“Menjemput...?”

“Itubungna...” Lelaki tua itu menyapa dengan menyebutkan nama asli lelaki dewasa itu. “Ndang adong amporik na so siallang eme. Tak ada ada seorang pun yang akan melewatkan kesempatan besar di hadapannya.”

“Kesempatan...? Kesempatan seperti apakah yang Guru maksud...?” Kapten Sisinga terlihat penasaran. 

“Itubungna, kau dengarkan baik-baik...” Lelaki tua itu menghela napas panjang, berupaya mengusir duka dan lara. “Derajatmu telah direndahkan sampai sedemikian rupa. Dengan jabatan jenderal sekalipun, aku hanya mampu memperjuangkan agar engkau dapat memiliki bala tentara sendiri, walau tak besar jumlahnya. Aku pun merasa sangat bersalah karena tak dapat memberi lebih dari itu...”

“Guru, anugerah yang telah guru berikan tiada terhingga.” Kapten Sisinga menundukkan kepala. Betapa roman wajahnya menunjukkan rasa terima kasih yang tak terbilang. Adalah tokoh di hadapan ini yang mengangkat dirinya, seorang anak raja yang ditendang, sebagai anak didik. Kemudian, adalah juga Jenderal Keempat ini, yang di tengah banyak tentangan dan tekanan, memperjuangkan posisi sebagai kapten.

“Oleh karena,” Jenderal Keempat melanjutkan, “bila nanti pecah perang di antara Kerajaan Garang dengan Kemaharajaan Cahaya Gemilang, maka angkatlah panji-panji negeri dan berdirilah di garis terdepan! Tunjukkanlah kemampuan engkau sebagai seseorang yang pantas menyandang gelar Putra Mahkota!”

Lelaki dewasa itu hanya menganggukkan dagunya yang persegi. Berat sekali rasanya bagi ia untuk mengiyakan sang guru. Akan tetapi, Kapten Sisinga sudah dapat mencerna maksud dari kata-kata sang guru, tentang menciptakan kesempatan serta kaitannya dengan menjemput seorang anak remaja dan perang. Sang guru akan menempuh langkah yang sangat tak biasa, di mana beliau akan menjemput paksa seseorang yang bernilai besar dari pihak lawan... 

“Aku akan menciptakan sebuah kesempatan bagi engkau. Akan tetapi, bila upayaku nanti gagal, pergilah engkau ke Pulau Lima Dendam. Di sana, sambangi...” 

“Kapten Sisinga... Kapten Sisinga!” sergah seorang pemuda. Ia merupakan si tangan kanan di Kompi 362. 

Kapten Sisinga tersadar dari ingatan kali terakhir ia bertegur sapa dengan sang guru. Seluruh anggota Kompi 362 kini berada di sebuah lapangan terpisah di dalam Benteng Opat Garang, yang mana merupakan kediaman mendiang Jenderal Keempat. Di tempat ini, Kapten Sisinga dan kompinya disediakan lapangan khusus hanya teruntuk bagi mereka. Tentu ini merupakan perlakuan istimewa dari Jenderal Keempat terhadap anak didiknya. 

“Ikut aku...” Tetiba Kapten Sisinga berujar. Akan tetapi, ia memanggil bukan kepada tangan kanannya, bukan pula kepada anggota kompi yang lain. Ia berujar langsung kepada seorang anak remaja.

Bintang Tenggara segera bangkit. Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya ketika melangkah menuju Kapten Sisinga. Pemuda kurus kerempeng dan si kusir segera mengikuti. 

“Hanya kau seorang...” Kapten Sisinga lalu melangkah menuju salah satu bagunan di dalam benteng. 

Bintang Tenggara memberi isyarat kepada dua rekannya untuk tak mengikuti. Keduanya jelas terlihat tak puas, karena pada titik ini mereka sudah mengetahui jati diri Kapten Sisinga. Ia merupakan anak didik dari mendiang Jenderal Keempat di Kerajaan Garang, petinggi yang mengincar sang Yuvaraja. 

Sebuah barak berukuran sedang. Kapten Sisinga dan Bintang Tenggara melangkah masuk ke dalam. 

“Ungkapkan jati dirimu...,” ujar Kapten Sisinga tanpa berbasa-basi. Interogasi dimulai. 

“Namaku Bintang... Bintang Tenggara. Murid Utama di Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa,” jawab anak remaja itu cepat. 

“Selain itu...?”

“Di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, diriku dikenal sebagai Balaputera Gara, sang Yuvaraja.” Bintang Tenggara tak hendak mengelabui. Selain itu, entah mengapa, anak remaja tersebut merasa bahwa dirinya dapat mempercayai Kapten Sisinga. 

Kapten Sisinga, di lain pihak, menyipitkan mata. Sungguh kebetulan yang sangat tak biasa. “Apakah engkau mengenal mendiang Jenderal Keempat dari Kerajaan Garang?”

“Tidak secara pribadi. Akan tetapi, beliau pernah mengincar diriku di wilayah Kemaharajaan Tanah Pasundan.”

“Apa yang terjadi di kala itu?” 

“Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti, Sangara Santang, datang. Dia menghentikan upaya mendiang Jenderal Keempat menculik diriku.”

“Lantas...?”

“Lantas diriku memasuki gerbang dimensi dengan tujuan Kota Ahli, kemudian Kota Baya-Sura. Gerbang dimensi di Kota Baya-Sura yang seharusnya mengantarkan ke Kota Seribu Sungai dimanipulasi. Oleh sebab itu, kini diriku berada di Pulau Satu Garang.” 

Kapten Sisinga berupaya mencerna dan mencari celah. Apakah anak remaja di hadapannya itu mengarang ceritera? Dari gerik-gerik dan gelagatnya, Bintang Tenggara terlihat sangat jujur. Entah mengapa pula, Kapten Sisinga tiada meragukan kata-kata yang keluar dari mulutnya. 

Kemungkinan besar, tanpa disadari, sebagai sesama pewaris sah takhta diraja, kedua ahli merasa tak asing. 

“Bilamana dikau, Kapten Sisinga, menyerahkan diriku ke Kerajaan Garang, maka dipastikan akan tersulut perang di antara Kerajaan Garang dengan Kemaharajaan Cahaya Gemilang.” Bintang Tenggara berujar santai. Ia hendak menguji. Teleportasi jarak dekat dan langkah petir telah siap sedia. 

Kapten Sisinga hanya memandangi. Di hadapannya berdiri ‘kesempatan’ yang sejatinya hendak diciptakan oleh mendiang gurunya, sang Jenderal Keempat. Terlebih, menyerahkan anak remaja tersebut ke Kerajaan Garang kemungkinan besar mengangkat derajat dirinya. Sementara bila nanti perang berkecamuk, maka ia akan memperoleh kesempatan besar untuk membuktikan diri di medan tempur.

Kendatipun demikian, yang tak diketahui oleh seorang pun, sesungguhnya ambisi menjadi Putra Mahkota adalah kehendak guru dan ibundanya. Secara pribadi, Kapten Sisinga lega karena tak harus menghabiskan waktu berfoya-foya dan berpolitik di dalam istana. Ia lebih senang bersama pasukannya, berperang di medan tempur. Dan bila pun hendak memicu perang besar, maka ia tak mau menggunakan tipu muslihat dengan jalan menculik Putra Mahkota dari kerajaan lawan. 

Bukanlah yang sedemikian kepribadian Kapten Sisinga. Yang lurus-lurus sajalah. 

“Mengapa dikau meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang seorang diri...?”

“Para sahabatku menghadapi ancaman jiwa di Pulau Belantara Pusat. Berangkat tanpa pengawalan akan jauh lebih cepat.”

“Apakah dikau berkeberatan bilamana aku membawamu ke Istana Utama Kerajaan Garang...?” 

Sungguh Bintang Tenggara tiada menduga kata-kata tersebut meluncur dari mulut lawan bicaranya. Bukannya menangkap paksa, Kapten Sisinga malah bertanya. Kendatipun demikian, disadari bahwa melangkah masuk ke Istana Utama Kerajaan Garang kemungkinan besar dirinya akan ditangkap dan disekap tak tahu untuk berapa lama. 

“Sebagai apa...?” aju Bintang Tenggara. 

“Bukan sebagai tawanan, melainkan sebagai perwakilan dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang.” 

Bintang Tenggara sontak menggelengkan kepala. “Diriku bersedia mengunjungi Istana Utama Kerajaan Garang sebagai...” anak remaja itu menghentikan kata-katanya. 

Kapten Sisinga terlihat penasaran. “Sebagai apa...?”

“Sebagai tabib.” 

 

===


Derap suara langkah terdengar serasi dan merdu. Gerakan-gerakan tubuh yang terlihat lugas sekaligus indah. Sepuluh gadis belia berwajah cantik dan berpostur aduhai sedang menari seirama. Akan tetapi, sepertinya mereka telah berlatih tari dalam waktu yang sangat panjang. Gerakan beberapa dari mereka terlihat mulai serampangan akibat kelelahan. 

“Hei!” Seorang lelaki dewasa muda menghardik. “Gerakan kalian banyak yang tak seirama! Apa kalian hendak menerima hukuman!?”

Karena rasa takut, kesepuluh gadis belia bergerak lebih disiplin. Akan tetapi, karena kelelahan yang teramat sangat, tangan mereka terasa berat dan kaki seperti diikat. Gerakan-gerakan mereka kembali berantakan. 

“Bersungguh-sungguhlah! Bilamana terus seperti ini, maka hukuman bagi kalian adalah berlatih dalam keadaan bugil!” hardik guru tari nan galak itu. Aura terpelajar mencuat dari dirinya. 

Para gadis belia terkejut bukan kepalang. Oleh karena itu, gerakan setiap satu dari mereka semakin terlihat serampangan! Bahkan, gerakan mereka seolah-olah sengaja dibuat berantakan dan sangat menanti datangnya hukuman yang dijanjikan!

“Hei!” Si guru tari terlihat berang. “Sudah! Segera berkumpul!” 

Sepuluh gadis belia segera berkumpul. Beberapa dari mereka mulai terlihat akan menanggalkan pakaian. 

“Siapa yang menyuruh kalian membuka baju!? Bebal!” 

“Ehem...,” tetiba terdengar seorang pemuda yang dengan sengaja seolah melegakan tenggorongan. 

“Ada apakah, Anjana...?” Lintang Tenggara yang sedang berperan sebagai guru tari, tiada menoleh. 

“Kakak Lintang, aku hendak menyerahkan laporan.” 

“Letakkan saja di atas meja!” 

“Ada seorang tamu datang berkunjung...?” lanjut Anjana. 

“Siapakah gerangan...?” 

“Sebaiknya Kakak Lintang lihat sendiri...”

Lintang Tenggara melirik, lalu mendengus. “Kalian gadis-gadis tak berguna, segera ambil langkah pertama. Jangan terlalu cepat pindah ke langkah kedua. Perhatikan teman di samping. Rapal formasi Segel Penjara Perawan!” 

Sepuluh gadis perawan segera mengikuti aba-aba. Mengayunkan lengan dan jemari lentik serta mengambil langkah-langkah kaki kecil, mereka bergerak gemulai dan membentuk lingkaran. Senada seirama. Terus bergerak gemulai sambil merapal formasi segel. 

“Anjana, kau awasi mereka. Merapal formasi segel sederhana saja susahnya bukan main. Anak-anak zaman sekarang...” 

Usai memberikan perintah, Lintang Tenggara mengambil laporan yang tergeletak di atas meja. Ia pun segera pergi meninggalkan panggung berlatih. Sejenak ia menghentikan langkah, mendekatkan laporan ke wajah agar tak salah baca, lalu melangkah gusar.

“Kakak Lintang!” Si tamu menegur sejurus setelah Lintang Tenggara tiba di ruang penyambutan tamu. 

“Sangara Santang...” gerutu si Guru Tari.