Episode 22 - Dengan Bergaya!


“Kamu sudah dengar tentang ular naga yang sedang berkeliaran? Kita musti cepat pulang, berbahaya sekali andaikata kabar itu benar.”

“Seseorang tak boleh gampang percaya sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri, tahu? Jangan dengarkan kabar burung tak jelas seperti itu.”

—Percakapan dua orang pemburu sebelum dimangsa oleh seekor ular naga


Hikram masuk ke desa yang bernama Waringin ini disertai rasa heran.

Begitu melewati gapura yang diukir dengan nama desa serta informasi apa produksi utama dari desa, harusnya ia sudah bertemu orang. Siang-siang begini, mestinya ada satu-dua yang lalu-lalang, entah mengambil air dari sumur desa atau istirahat sebentar dari meladang. Tapi tidak ada orang sama sekali. Sangat sepi, bahkan anak-anak kecil yang bermain-main pun tak ada. Ini pedesaan, tapi suasananya lebih mirip dengan kuburan. 

Hikram melirik salah satu rumah, dilihatnya sepasang mata mengintip dari jendela sebelum jendela bergegas ditutup begitu sadar sedang diawasi balik.

Hikram menghela napas, menggeleng, kemudian menuju ke pusat desa, sementara Sidya terseok dibelakangnya, memegangi telapak tangan yang masih luka. Sesampainya di sana, semuanya masih sama, bahkan di balai desa juga tak ada seorang pun yang duduk-duduk untuk sekedar bertukar cerita. Wajah Hikram yang kebingungan jadi lebih cerah begitu melihat ada sebuah kedai minum yang masih buka, pintunya berderit sedikit dimainkan angin. Tak ingin berlama-lama, dia menarik Sidya untuk masuk ke dalam.

 Hikram melangkah dengan gaya yang sangat dibuat-buat, pembawaannya disopan-sopankan sementara Sidya masih setia mengekor di belakang. Pantas Hikram bergaya seperti itu, karena kedai ini sedang sepi-sepinya. Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa pembeli adalah raja? Karena dia satu-satunya raja saat ini, selain pak tua berperut tambun yang tidur mendengkur di pojokan, tentu dia harus dilayani dengan sangat baik.

Seorang pemuda bertampang sangat bosan berjaga di kasir. Mungkin anak atau pekerja dari pemilik kedai yang sebenarnya, menilik dari usianya yang masih sangat muda, serta pakaiannya yang nampak sangat modis, meniru model pakaian yang memang sedang trendi di kalangan kelas atas, dengan jahitan tambahan berupa kulit sapi tidak berguna yang ditempelkan di berbagai tempat. Bahu, dekat saku, bahkan selangkangan. Hikram makin tak paham selera berpakaian anak muda jaman sekarang.

“Selamat siang,” Hikram menyapa dengan ceria, sementara si lelaki muda menjawab dengan gumam tak jelas yang mirip dengan gerutuan.

“Minum apa, Orang Tua?”

“Isi saja dengan minumanmu yang paling enak, Orang Muda,” Hikram membalas sembari melempar botolnya. Si pemuda menyambar botol itu di tengah-tengah udara dengan mudah, padahal Hikram melempar dengan kecepatan yang tak biasa. Si pemuda mendelik, menggerutu lagi, kemudian pergi ke bagian belakang untuk mengisi kantong minum, sementara Hikram dan Sidya duduk di bangku terdekat untuk menunggu.

Sidya menutup hidung. Tempat ini begitu menyengat baunya, hingga dia tak tahan. Kotoran berupa tulang ayam banyak bertebaran, sepertinya sudah lama lantai kedai ini tak pernah bertemu dengan sapu.

SI pemuda ribut sebentar di belakang, kemudian kembali dan menyerahkan wadah minum Hikram. Si pengembara meringis, kemudian mencium isi botol kulit kambingnya setelah membuka tutup yang tersegel cukup rapat.

Hikram mendadak menjauhkan hidung, wajahnya berubah kusut. “Ini tuak.” Hikram mendekatkan hidung lagi untuk memastikan, kali ini wajahnya mengernyit jijik. “ Aku minta minuman terbaikmu, bukan tuak apalagi dengan kualitas rendah seperti ini. Minuman dari tanah-tanah jauh, Anak Muda. Atau minuman dari kampung halamanku Hanfeilong cukuplah.”

“Hanya itu yang tersisa,” si pemuda mengangkat bahu, meniru kebiasaan orang Brytisia saat mengungkapkan kata “mana saya tahu”. Hikram makin mengernyit melihat gestur asing itu. “Lalu kemana semua persediaanmu?”

“Sudah dibawa lari oleh pemilik kedai ini, orang tua. Beserta seluruh uangnya sekalian, beserta pedatinya.”

“Loh, lalu kau ini siapa?”

Pemuda itu mengangkat bahunya lagi. sembari meringis. “Anggap saja penjaga sementara. Kau mau bayar tuakku itu? sepuluh sen saja.”

“Kemahalan!”

“Tempat ini mau digerebek para anak buah Bandit Emas, Pak Tua. Masak kau tidak dengar? Kau harus cepat pergi sebelum mereka sampai, dan aku tak akan melepaskanmu sebelum membayarku. Aku sudah susah-susah mengisikan minuman ke wadah minum jelekmu itu.”

Hikram menjawab dengan cara menuang isi botolnya ke lantai kedai. Cairan itu jatuh bebas, merembes ke lantai tanah kedai yang memang sudah sering basah oleh minuman yang tumpah.

Mata si pemuda yang melebar mengikuti jatuhnya seluruh isi botol Hikram sampai kosong. Setelah itu Hikram menyandarkan punggung ke meja kedai dengan santai, wajahnya seperti orang yang memang sedang cari ribut.

Si pemuda tanpa sadar mengeratkan tinjunya, sementara giginya mengertak.

“Pak tua, jangan macam-macam—”

Tiba-tiba terdengar sesuatu menghantam dinding kedai, disusul suara lesatan-lesatan yang bersahutan.

“Apa itu?” Sidya berpaling ke arah sumber suara yang cukup dekat, wajahnya yang sedari tadi mendongak pada si pemuda dengan takut-takut kini tambah ngeri.

“Mana aku tahu—” si pemuda mau mengangkat bahu lagi, tapi sudah ada yang keburu menyelanya.

“Anak buah si Bandit Emas telah tiba.” Mendadak pak tua yang tidur di pojok sudah berada di dekat mereka, padahal tak ada yang mendengar langkah-langkahnya mendekat. Kemunculannya membuat kaget, terutama Hikram menilik dari umpatan yang keluar dari mulutnya.

“Bagus,” si pemuda berkata, “aku memang sedang butuh pelampiasan amarah.” Ia melempar pandang kesal pada Hikram sekalli lagi sebelum berlalu keluar, diikuti oleh si pak tua. Hikram dan Sidya pun akhirnya ikut untuk memastikan perkataannya.

Ternyata memang benar. Beberapa penduduk berlarian dari dalam rumah untuk menyelamatkan diri, beberapa orang yang tidak diragukan lagi merupakan anak buah si Bandit Emas mendobrak salah satu rumah yang paling besar, sembari mengeluarkan parang serta berteriak-teriak untuk mengancam pemilik rumah agar diam di tempat. Salah seorang tetap tinggal di luar, ia memegang busur, sekotak penuh anak panah menggantung di punggungnya. Ia membidik, lalu melepaskan anak panahnya. Seorang penduduk yang tergopoh-gopoh lari menjadi sasarannya. Si penduduk langsung tersungkur, punggungnya mengucurkan darah yang merembes pada pakaiannya sementara rintihnya keras terdengar.

“Hei!” si pemuda membentak, membuat si penjahat memasang anak panah lagi untuk diarahkan padanya. “Cari lawan yang seimbang, dong!” Kemudian tak disangka dia terbang, benar-benar terbang, melayang dengan kecepatan yang luar biasa untuk kemudian menukik pada lelaki yang memegang busur itu. Ia turun dengan anggun layaknya seekor elang sedang mengincar seekor anak ayam yang terpisah dari induknya, dan jejakannya tepat mengenai kepala.

“Anak muda memang selalu gegabah,” Hikram dan si pak tua menggumam bersamaan, kemudian menyusul melangkah untuk turun tangan karena mendadak, selusin pria dan wanita yang sepertinya rekan dari si pemegang busur menunjukkan diri dari balik lumbung yang berada dua petak dari balai desa. Lamat-lamat terlihat bagian belakang pedati, berisikan harta benda serta bahan makanan yang baru dinaikkan. Mustahil si pemuda bisa mengatasi lawan sebanyak itu, apalagi jika dugaan Hikram bahwa semua anak buah Si Bandit Emas merupakan Pemegang Gelar itu benar. Mereka memegang berbagai macam senjata, tak ada satupun yang bertangan kosong. Golok, parang, pedang, bahkan satu-dua memiliki busur silang, senjata langka yang seharusnya hanya boleh dipakai oleh angkatan militeris resmi dari Nagart. Penyebarannya sangat dilarang kecuali dipakai oleh orang-orang tertentu yang mendapat cap izin langsung dari lingkar tengah istana.

Sidya berusaha sembunyi di balik pintu kedai. Mustahil dia bisa membantu dengan luka di tangan, apalagi dia tak punya kemampuan beladiri selain kuda-kuda serta jurus pendek aneh yang diajarkan guru. Lebih baik begini, dari sela-sela pintu dia bisa mengamati semua dengan leluasa tanpa khawatir akan dicekal seperti kemarin-kemarin.

Pertama, dia takut bahwa Hikram dan si pak tua yang mendengkurnya keras itu tak akan mampu luput dari incaran anak panah, tapi rupanya dia salah duga. Memang awalnya para penyamun mengincar lalu menembak secara bersamaan, tapi semuanya meleset, si pak tua bisa bergerak cepat meskipun badannya cukup tambun, sementara Hikram sepertinya terantuk sesuatu hingga mau jatuh, anak panah meleset hanya sejengkal dari tempat jantungnya berada. Beberapa orang mungkin menganggap keberuntunganlah yang berperan utama, walau sekarang Sidya sadar bahwa itu merupakan salah satu gerakan aneh yang terkandung dalam susunan jurus hindar gurunya, karena dia menghadapi Apit dengan gaya terpeleset yang persis sama.

Dan kedua penyamun itu tak bisa menembak lagi. Busur silang memang bisa melontarkan anak panah dengan kekuatan yang mengerikan hingga perisai perunggu saja bisa berlubang jika jarak cukup dekat, tapi untuk mengisi ulangnya butuh waktu yang cukup lama, terlihat mereka menarik semacam alat putar agar pelontarnya kembali ke posisi semula. Hikram dan si pak tua segera mendatangi si pemuda yang kini menendang-nendang si lelaki yang dihantamnya dengan telapak kaki. Si pak tua menepuk punggungnya, lalu menunjuk pada kumpulan para penyamun yang bersiap menyambut mereka. Pemuda itu mengangguk sebelum menghadiahkan satu tendangan lagi tepat pada rusuk.

Sidya kagum melihat mereka bertiga bergerak cepat untuk melumpuhkan lawan. Si pemuda melayang, lalu meluncur dari satu orang ke orang yang lain, mirip seekor burung walet yang bisa terbang cepat, tak sekalipun dia menghadapi seseorang terlalu lama, aksinya lebih merupakan sebuah pengalih perhatian daripada perlawanan semata. Sementara itu, si pak tua yang masih belum dikenali namanya seperti bisa muncul dari udara kosong, tepat di belakang seorang yang baru saja melempar busur silangnya yang sudah tak berguna dalam pertarungan jarak dekat untuk meraih golok yang menggantung di sabuk. Si pak tua sudah keburu memukul lehernya sebelum dia mengeluarkan senjata dari sarungnya.

Tapi, yang paling menarik perhatian Sidya adalah Hikram. Dia menerabas barisan lelaki dan perempuan yang tak rapat itu, kemudian memukul dengan tangan kanannya, yang menyasar seseorang yang sedang lengah karena menghindari sosok si pak tua yang muncul tiba-tiba. Tangan kiri Hikram menyusul, telak menghantam rahangnya. Dua orang secara bersamaan menyabetkan golok padanya, tapi Hikram menangkis dengan tangan kanan, tangan kirinya bereaksi tak sampai sedetak jantung kemudian dan serangan keduanya gagal, tangan Hikram menampar genggaman sehingga golok mereka berdua jatuh begitu saja ke atas tanah. Ketika ada satu orang yang mendekatinya, dengan enteng Hikram menepukkan kedua belah tangannya tepat pada kedua telinga lawan barunya ini, yang langsung merasakan pusing yang menghujam kepala, gendang telinganya serasa mau pecah akibat udara yang terperangkap tiba-tiba di dalam telinga, tubuhnya sempoyongan ke belakang, menabrak kawan-kawannya yang ingin ikut menghabisi Hikram sehingga membuat formasi mereka yang sebelumnya cukup teratur menjadi kacau-balau.

Mata Sidya tak bisa lebih lebar lagi sekarang. Itu … itu adalah jurus Menepuk Lalat Dengan Bergaya! Guru menggunakan jurus itu, bahkan sekarang mengulanginya pada musuh yang lain?!

Memang benar. Sidya tak salah lihat sekarang ini. Matanya menyaksikan sendiri tinju kanan lalu kiri Hikram memukul musuh yang lain, lalu lagi-lagi menangkis hujaman atau sabetan senjata, semuanya dengan tangan kosong dan memang mereka tumbang dengan mudah layaknya lalat yang sedang ditepuk! Sidya sampai-sampai berjinjit untuk menonton dengan lebih baik, sampai kepalanya menghantam pegangan pintu. Sembari meringis dan mengusap-usap kepala, Sidya bersyukur pada Kahyangan karena guru telah mewariskannya jurus yang ternyata sangat ampuh, anggapan bahwa ini hanya gerakan biasa kini telah luntur total, Hikram tidak hanya omong besar saat mengatakan bahwa ini adalah jurus andalannya.

--