Episode 53 - Langit Merah di Mega Mendung (2)


Bledaarrrr!!! Ledakan yang jauh lebih dahsyat daripada ledakan-ledakan sebelumnya mengguncangkan tempat itu, langit laksana robek, angin panas berseoran, bunga-bunga api memercik membakar daun-daun dan rumput-rumput disekitar kedua pukulan sakti itu beradu, tanah berlubang sangat dalam di bawah kedua pukulan sakti itu beradu!

Jaya Laksana jatuh terduduk sambil terbatuk-batuk darah, nafasnya sesak, dadanya nyeri, jantungnya berdegup kecang, lengan bajunya terbakar! Buru-buru ia memadamkan api yang membakar lengan bajunya dan mengalirkan tenaga dalam ke jantungnya, sementara tubuh Prabu Kertapati terhempas jauh kebelakang lalu jatuh berguling-guling, ia muntah darah, tulang dadanya remuk, seluruh tubuhnya dipenuhi jelaga dan mengepulkan asap hitam, ia mencoba untuk bangkit tapi tak sanggup, ia pun jatuh terlentang kembali dengan nafas satu-dua. Bersamaan dengan hal tersebut, langit diatas mereka yang tadinya semerah darah, langsung sirna, berubah menjadi langit yang sangat cerah tanpa segumpal awanpun, cahaya sang mentari pun bersinar amat terik.

Sungguh aneh, setelah Jaya memecahkan kelemahannya dan menyerang kedua kakinya yang merupakan titik kelemahannya, ilmu kebal Braja Wisesa Prabu Kertapati langsung lenyap, bahkan ajian Braja Musti yang membuatnya memiliki tenaga luar dan dalam sangat dahsyat sirna seketika hingga tenaga dalamnya kini berada setingkat di bawah Jaya Laksana, bersamaan dengan hal itu pula langit merah diatas kepala mereka langsung berbah menjadi sangat cerah. Inilah akibat dari hari naas Prabu Kertapati yang jatuh tepat pada hari ini, setelah tiga malam yang lalu wahyu Keprabon terbang meninggalkannya dan Mega Mendung, kini ia menjadi manusia biasa dan terluka luar serta dalam sangat parah sampai hampir membuatnya mati.

Ledakan kedua pukulan sakti itu membuat Galuh terbangun dari pingsannya, perlahan ia menggeliat dan membuka matanya, samar-samar ia melihat Jaya sedang duduk bersemedi untuk menghimpun tenaga dalamnya kembali serta mengatur nafasnya setelah terluka dalam parah akibat bentrokan pukulan sakti dengan Prabu Kertapati, sementara Prabu Kertapati, terlentang tak sanggup bangun dengan sekujur tubuh dipenuhi luka dalam dan luar yang amat parah. Galuh lalu bangun dan berusaha memulihkan kesadarannya, saat itulah ia melihat Jaya bangun dari duduknya dan melangkah menghampiri Prabu Kertapati. 

Ia langsung bangkit untuk berlari menahan Jaya, tapi si Dewa Pengemis langsung mencengkram lengannya sehingga ia tidak bisa berlari. “Guru lepaskan aku! Aku akan mencegah Jaya membunuh ayahnya sendiri!” ronta Galuh.

Si Dewa Pengemis menggelengkan kepalanya, “Muridku, kali ini biarkanlah takdir yang berbicara, biarkanlah kehendak Gusti Allah yang berbicara!”

Tapi Galuh terus meronta tidak mendengarnya ucapan gurunya, “Tidak bisa Guru! Itu tidak boleh terjadi!” ia lalu menoleh ke arah Jaya, “Jaya jangan bunuh ayahmu! Jangan bunuh orang tua kandungmu sendiri!” teriaknya sekeras-kerasnya.

Jaya tidak mempedulikan teriakan Galuh, ia terus berjalan menghampiri Prabu Kertapati, ia lalu menatap mata Prabu Kertapati yang sudah kepayahan itu dengan penuh dendam. “Kenapa kau tidak membunuhku? Ayo selesaikan ini sekarang juga!”

Jaya diam tak menjawab, ia hanya terus menatap wajah Prabu Kertapati dengan wajah kelam membesi, namun Prabu Kertapati malah tertawa buruk, “Hahaha… Jaya Laksana... Ketahuilah aku sangat menyesal telah membuangmu saat kau masih bayi, seharusnya aku membunuhmu saat itu juga! Seandainya aku membunuhmu saat itu juga tentu peristiwa ini tidak akan terjadi dan Mega Mendung mungkin telah berhasil menguasai seluruh tanah Pasundan! Aku sungguh menyesal telah membuangmu dan membiarkanmu hidup! Hahaha…”

Jaya mengerang menahan nafsunya, kedua tangannya mengepal, hampir saja ia menjotoskan tangannya untuk menghancurkan batok kepala ayahnya sendiri, jeritan-jeritan Galuh dan suara isak tangis Mega Sari menyadarkannya, hingga ia mengurungkan niatnya dan membuka kepalan tangannya. “Kenapa? Kau ragu? Bukankah kau ingin membunuhku? Hahaha… keraguan bisa mendatangkan malapetaka bahkan bisa membunuhmu! Jika kau mau membunuhku, bunuhlah aku dan semua ini akan berakhir!” tukas Prabu Kertapati.

Jaya menoleh pada Galuh yang terus berteriak sambil menangis, jari telunjuknya menunjuk pada gadis hitam manis itu, “Gadis itu adalah putri dari almarhum Adipati Tegal Raden Margoloyo dan Putri Sekar Ningrum dari Cadas Ngampar, kedua orang tuanya kau bunuh, seluruh anggota keluarganya kau tumpas, kau hancurkan negeri ibunya! Tapi... Tapi ia telah membuang semua dendam dan kebenciannya padamu!” ujar Jaya dengan setengah menggeram dan emosional.

Kemudian Jaya kembali menatap wajah Prabu Kertapati, “Jika ia bisa membuang semua dendam dan kebenciannya, maka... Aku juga akan membuang semua dendam dan kebencianku!” tegas Jaya. 

Prabu Kertapati menghela nafas berat, ia menatap keatas langit, langit pagi menjelang siang yang tadinya cerah terik, kini berubah mendung gelap, sekonyong-konyong sekawanan burung gagak hitam berterbangan dan berkaokan riuh sekali. Jaya yang tak sadar akan keanehan disekitarnya membuka mulutnya lagi.

“Aku tidak akan membunuhmu, saat ini rakyat Mega Mendung masih membutuhkanmu untuk memimpin mereka berperang mempertahankan diri dari Banten, pertahankanlah negeri Ibuku ini meskipun dengan keadaanmu yang seperti ini, jangan buat kematian ibuku dan seluruh rakyat Mega Mendung ini sia-sia!” Jaya lalu berbalik dan meninggalkan Prabu Kertapati.

Tiba-tiba langit berubah menjadi sangat gelap bagaikan malam hari, kuda-kuda yang berada di sana meringkik ketakutan, suara lolongan srigala terdengar bersahutan, burung-burung gagak hitam semakin banyak mendatangi tempat itu dan saling berkaokan riuh sekali, angin panas dan dingin bertiup saling bergantian, bau bangkai santar menusuk hidung, dan yang paling mengerikan adalah tiba-tiba tujuh buah bola api terbang berputar-putar diatas langit disekitar tempat itu.

Jaya Laksana terkejut bukan main mendapati fenomena alam yang aneh ini, begitupula Galuh, si Dewa Pengemis pun langsung bersiap-siap dengan wajah yang sangat tegang, “Topeng setan!” desisnya, Emak Inah dan Ki Silah terdiam ketakutan sambil melihat ketas dimana bola-bola api itu berputar-putar.

Mega Sari yang sejak tadi menangisi kematian ibu dan suaminya terhenyak menyaksikan fenomena ghaib yang serba aneh ini, “Eyang Topeng Setan!” desisnya, dan benar saja, sesosok tubuh tinggi besar berpakaian dan berjubah serba hitam, berambut gondrong riap-riapan tiba-tiba muncul ditengah mereka, wajahnya tertutup oleh sebuah topeng berwajah Iblis yang sangat menakutkan!

Jaya tergetar hebat melihat sosok si Topeng Setan ini, orang yang selama ini mengincarnya, menginginkan kematiannya akhirnya menampakan dirinya, sungguh aneh, Jaya seolah tidak bisa merasakan kehadirannya, ia hanya merasakan satu aura yang sangat menakutkan yang luar biasa hingga membuat dirinya tergetar hebat, bulu romanya berdiri merinding, tengkuknya terasa dingin! 

Bahkan ia merasa sangat ketakutan ketika mendapati tatapan si Topeng Setan, tiada cara lain, akhirnya pemuda ini beristighfar dan membaca Basmalah kemudian membaca dzikir didalam hatinya agar diberi kekuatan oleh Sang Maha Pencipta untuk menghadapi manusia iblis dihadapannya. Galuh, Mega Sari dan yang lainnya pun tak berani untuk menatap sosok Topeng Setan, bahkan si Dewa Pengemis pun tokoh silat golongan putih yang amat disegani di dunia persiltan, amat tergetar hatinya ketika mendapati kehadiran langsung si Topeng Setan.

Si Topeng Setan kemudian menoleh pada Prabu Kertapati, ajaib, Prabu Kertapati yang sudah kepayahan dan terluka amat parah itu, kontan sanggup untuk berdiri kembali! Si Topeng Setan tertawa ketika melihat Prabu Kertapati mampu berdiri kembali, kemudian Sang Prabu melangkah menghampiri Topeng Setan, “Kertapati apakah kau masih ingin hidup?” Tanya si Topeng Setan.

Prabu Kertapati mengangguk perlahan, “Iya aku masih ingin hidup!” kembali suara tawa si Topeng Setan menggema di sana menggetarkan seluruh tempat itu.

“Lalu apakah kau ingin hidup abadi dan menguasai seluruh tanah Pasundan bahkan sampai menguasai tanah Jawa?”

Prabu Kertapati termenung berpikir sejenak, kemudian ia menatap Topeng Setan “Benar! Lalu apa yang kau inginkan dariku?”

Mata si Topeng Setan yang merah menatap tajam pada Prabu Kertapati “Tubuhmu!” tandasnya. 

Prabu Kertapati terhenyak mendengar permintaan dari si Topeng Setan tersebut “Tubuhku? Apakah kau ingin menguasai negeriku?”

Tertawa lebarlah si Topeng Setan yang kini efeknya lebih hebat daripada tawa sebelumnya, tawanya menggema dan seolah ada seribu setan yang ikut tertawa dengannya mengguncangkan tempat itu, angin ribut pun berseoran menambah seramnya suasana siang yang kini berubah gelap seolah menjadi malam itu.

Jaya, Mega Sari, Galuh, si Dewa Pengemis, dan Ki Silah lipat gandakan tenaga dalamnya untuk menahan efek dari tawa dahsyat si Topeng Setan, jantung mereka berdegup amat kencang! Yang kasihan adalah Emak Inah yang tidak mempunyai kemampuan kanuragan apa-apa, ia menderita sekali, ia menutupi telinganya dengan kain sampingnya sambil telungkup di bawah.

“Hahaha... kau tetap menjadi penguasa negeri ini Kertapati! Pikirkanlah, selain kita harus membunuh anak kandungmu ini, kita juga masih harus menghadapi pasukan Banten, belum lagi orang kepercayaanmu Patih Balangnipa mengkhianatimu dan berniat mengangkat anak setan itu menjadi Prabu di Mega Mendung! Dengar baik-baik! Aku dengan menggunakan tubuhmu itu mampu untuk menghalau dan menghancur leburkan pasukan Banten serta kaum pemberontak, setelah kita bereskan semua urusan tersebut, aku akan segera mewariskan pemerintahan Mega Mendung pada putrimu Mega Sari, aku tak berambisi untuk menjadi seorang Raja, aku hanya membutuhkan tubuhmu!” jelas si Topeng Setan.

Prabu Kertapati nampak masih bimbang, “Kalau kau menolak, negri ini akan hancur lebur dijajah oleh orang-orang Banten, dan putrimu Mega Sari akan menjadi buronan seluruh negeri ini karena banyak rakyat yang memendam dendam pada putrimu, hidupnya akan sangat menderita!”

Prabu Kertapati tersentak mendengar penjelasan si Topeng Setan, ia mengangguk-ngangguk lalu melangkah menghampiri si Topeng Setan, Jaya langsung melompat untuk menghalanginya. “Tidak jangan tertipu! Itu bujuk rayu iblis!” cegah Jaya.

Tapi dengan satu gerakan cepat Prabu Kertapati mencabut Keris Pusaka Kyai Segara Geninya dan menyabetkannya pada Jaya, untung Jaya sempat menghindar, sabetan itu hanya merobek ikat kepalanya, kini nampaklah bekas luka di kening di atas alis sebelah kanan Jaya yang dibuat oleh Prabu Kertapati 20 tahun yang lalu.

Jaya meraba luka di keningnya, ia lalu menatap Prabu Kertapati, “Kalau kau mau kau bisa mengambil nyawaku, tapi jangan biarkan Iblis itu menguasai tubuhmu dan menguasai seluruh negeri ini! Akan semakin banyak manusia yang menderita kalau kau biarkan iblis ini menguasai tubuhmu! Akan lebih banyak lagi anak yang dibuang orang tuanya seperti aku, akan lebih banyak lagi anak yang kehilangan orang tuanya seperti Galuh, darah akan terus membanjir di Bumi Pasundan warisan eyang Prabu Siliwangi ini! Itulah sebabnya tolong hentikan kegilaan ini!” bujuk Jaya pada Prabu Kertapati.

Prabu Kertapati merenung sesaat, tiba-tiba tubuh Dewi Nawangkasih yang tadi telah tewas terbunuh oleh suaminya sendiri bangun dan melangkah menghampiri Prabu Kertapati. “Kanda Prabu...” ucapnya dengan lembut.

Jaya dan Prabu Kertapati terkejut bukan main melihat Dewi Nawangkasih hidup kembali, sang Dewi kemudian memeluk Prabu Kertapati. “Kanda Prabu, dengan izin Topeng Setan aku bisa hidup kembali dan hidup didalam keabadian, mari kita bersama menuju ke kehidupan abadi untuk terus bersama selamanya!”

Jaya langsung tersadar kalau jasad ibunya itu telah dirasuki oleh Jin jahat sehingga seolah-olah hidup kembali. “Jangan tertipu! Ia adalah iblis!”

Tapi Prabu Kertapati seolah tidak mendengar Jaya, ia malah balas memeluk Dewi Nawangkasih, “Istriku, maafkan perbuatanku padamu, aku...” Dewi Nawangkasih langsung memotong sambil tersenyum manis. “Sudahlah Kanda Prabu, aku justru berterima kasih padamu karena berkat engkau, aku bisa hidup dalam keabadian ini, sekarang susulah aku dalam kehidupan yang abadi ini!”

Jaya berpikir keras agar jangan sampai ayahnya jatuh dalam buaian tipuan si Topeng Setan, ia pun menggigit bibirnya, kini ia benar-benar rela mengikhlaskan dendamnya, benar-benar menghilangkan dendam dan kebenciannya dari dalam hatinya demi keselamatan ayahnya dan seluruh Negeri Mega Mendung ini, air matanya menetes. “Ayahanda Prabu!” panggilnya.

Prabu Kertapati terkejut mendengar panggilan “Ayahanda Prabu” dari Jaya Laksana, ia pun melepaskan pelukan istrinya dan menoleh menatap Jaya Laksana, “Ayahanda Prabu, hamba mohon jangan lakukan ini!” ucap Jaya dengan lembut dan suara pelan.

Prabu Kertapati menundukan kepalanya kemudian menatap Jaya lagi, dari tatapannya nampak jelas kalau ia sedang berpikir keras, Prabu Kertapati adalah seorang yang sangat cerdas, ia pun mengambil satu keputusan kilat setelah menimang semuanya masak-masak dalam waktu sekejap, Jaya melihat ada binar sinar harapan sekilas dari tatapan mata ayahnya, tapi jawaban Sang Prabu sungguh diluar harapannya.

Prabu Kertapati menatap Topeng Setan, “Tubuhku... Aku berikan tubuhku untuk satu kehidupan yang abadi!” tegasnya.

Tergelaklah Topeng Setan penuh kemenangan, sekonyong-konyong topeng wajah iblis yang menempel di wajahnya terlepas, melayang terbang dan menempel di wajah Prabu Kertapati, bersamaan dengan itu jasad Dewi Nawnagkasih pun ambruk, yang paling aneh adalah tubuh yang tadi terpasang Topeng Setan sekonyong-konyong ambruk lalu mengering dan berubah menjadi tulang tengkorak!

Jaya dan yang lainnya sangat terkejut melihat semua itu, sedangkan Prabu Kertapati menjerit-jerit sambil menronta-ronta memegangi wajahnya yang kini terpasangi topeng wajah iblis tersebut, ajaibnya seluruh luka-luka di tubuhnya pulih kembali! Jaya hanya bisa melihat menatap tajam tubuh ayahnya menjerit-jerit, meronta kian kemari dengan tatapan sedih, ia sedih karena pada akhirnya ayahnya telah kalah oleh bujuk rayu iblis!


Tiba-tiba Prabu Kertapati berhenti menjerit dan meronta, tidak ada yang berubah dari tubuhnya selain semua lukanya telah pulih dan wajahnya yang terpasangi topeng berwajah iblis, namun Jaya bisa merasakan aura Sang Prabu sudah berubah menjadi aura si Topeng Setan yang bisa membuat siapapun dihdapannya merasa ketakutan! 

Prabu Kertapati yang sudah menyatu bersama Topeng Setan ini menoleh dan menatap Jaya, ia lalu melangkah menghampiri Jaya. Jaya dan yang lainnya merasakan bumi bergetar setiap Prabu Kertapati melangkah, pertanda Prabu Kertapati kini memiliki tenaga dalam yang amat luar biasa dan tak bisa diperkirakan oleh siapapun!

Prabu Kertapati tertawa terbahak-bahak dan mengacungkan keris Kyai Segara Geni keatas, “Hahaha... Kini seluruh negeri ini menjadi milikku! Akan kubalas seluruh keturunan Sri Jayadewata* yang telah menghancurkan tubuhku! Akan aku hiasi seluruh tanah Pasundan ini dengan api dan darah! Hahaha...” tawa Prabu Kertapati yang menggetarkan selantero tempat itu, suaranya pun berubah menjadi suara si Topeng Setan. (*Nama asli Sri Baduga Maharaja yang pada masa mudanya bernama Sang Manah Rasa)

Tapi tiba-tiba tawa itu terhenti, Prabu Kertapati kembali menjerit-jerit dan meronta-ronta sambil memegangi kepalanya, hingga tiba-tiba ia mengangkat tangan kanannya yang memegang keris pusakanya dan Blesss!!! Keris itu ditusukan ke dadanya sendiri! Lagi-lagi Jaya dan yang lainnya kaget dan heran melihat semua yang dilakukan oleh Prabu Kertapati, dan satu keanehan terjadi lagi, wajah topeng iblis itu lenyap lalu berubah menjadi wajah Prabu Kertapati, ia kemudian mencabut kerisnya dan melemparkan kerisnya pada Jaya, “Tangkap!” serunya, Jaya pun langsung menangkapnya.

“Bunuh aku!” perintah Prabu Kertapati pada Jaya Laksana dengan suara Prabu Kertapati.

“Cepat bunuh aku! Gunakan keris itu dan cincin Kalimasada! Hancurkan tubuhku ini sebelum Topeng...” tapi ucapannya terhenti ketika wajahnya kembali berubah menjadi wajah topeng iblis, “Kurang Ajar! Kertapati kau hendak menipu aku!” seru Prabu Kertapati dengan suara Topeng Setan.

Jaya nampak kebingungan, tapi si Topeng Setan kini telah kembali sepenuhnya menguasai tubuh Prabu Kertapati, “Akan kubunuh kalian semua!” seru Prabu Kertapati dengan suara Topeng Setan.

Prabu Kertapati menjotoskan kedua tangannya satu sama lain, matanya menyala merah ia berkomat-kamit membaca satu mantera ajian, tiba-tiba keluarlah kepulan asap hitam. Kepulan asap semakin tebal. Seluruh tubuh Jaya Laksana sudah tergetar oleh aliran tenaga dalam kedua kaki merenggang. Hatinya tegang sekali menunggu detik demi detik.

Tiba-tiba terdengar ratusan jerit tangisan yang tak nampak wujud asalnya, jerit tangisan itu melengking-lengking merobek langit mengerikan. Kepulan asap sudah menebar di mana-mana. Anehnya, gumpalan-gumpalan asap kini kelihatan memecah cepat dalam ratusan gumpalan kecil yang kemudian mengembang tambah besar… tambah besar, dan semakin membesar.

Ketika Jaya memperhatikan gumpalan-gumpalan asap hitam ini terkejutlah dia. Setiap gumpalan telah berubah menjadi sosok-sosok tubuh makluk-makhluk yang mengerikan. Tubuhnya hanya sebatas dada ke atas dan lima kali tubuh manusia besarnya. Makhluk-makhluk aneh ini bermuka sangat mengerikan, rambutnya jabrik awut-awutan, sepasang tanduk mengacung keatas di kepalanya, mata merah besar, lidah menjulur lebar keluar sampai perutnya yang buncit, sedang taring dan gigi-giginya menjorok besar-besar keluar.

Prabu Kertapati kembali menjotoskan kedua tangannya satu sama lain, “Bunuh!” serunya, ratusan mahluk jadi-jadian itu menjerit melengking memekakan telinga merobek langit. Ratusan makhluk siluman menjerit dahsyat dan menyerbu berserabutan ke arah Jaya Laksana. 

Tak ayal lagi Pendekar Dari Lembah Akhirat segera sabetkan Keris Kyai Segara Geni. Ajaib sekali, tenaga dalamnya langsung meluap-luap ketika ia menggenggam keris pusaka wasiat keluarga Mega Mendung tersebut. Dari mulutnya keluar bentakan keras dan sekali keris diputar terus melanda ke arah makhluk-makhluk siluman yang datang menyerbu. 

Belasan makhluk yang tersambar Keris Kyai Segara Geni menjerit, darah muncrat dari tubuh masing-masing. Tapi anehnya makhluk-makhluk ini tidak musnah malah dari setiap tetes muncratan darah berubah menjadi makhluk siluman baru sehingga dalam sekejap saja jumlahnya telah bertambah ratusan bahkan mungkin sudah ribuan kini. 

“Jaya jangan serang mahluk itu dengan kerismu! Itu ajian Candrabirawa! Setiap tetes darahnya akan menjadi jelmaan mahluk lainnya!” teriak si Dewa Pengemis memberi peringatan, Jaya merutuk dalam hatinya karena bingung harus berbuat apa. Sewaktu makhluk-makhluk itu dengan ganasnya menyerang kembali, Jaya tak berani menghantam dengan Keris Kyai Segara Geni. 

Tubuhnya berkelebat dan lenyap. Untuk beberapa lamanya dengan gesit dia berhasil mengelakkah setiap serangan yang dilancarkan oleh ratusan makhluk siluman itu. Dari samping, dari atas dan dari bawah tiada kunjung hentinya datang serangan. Sampai berapa lamakah Jaya sanggup pertahankan diri?


Catatan:

Akan kembali Selasa pekan depan.