Episode 84 - Hitung Mundur



Bagas berada di Lab. Komputer. Entah alasan apa yang membuatnya pergi ke ruang yang hampir tak pernah dia sentuh. Mungkin karena dia memang ingin.

Dia duduk di meja paling pinggir. Dekat dengan jendela yang memberikannya angin semilir yang melewati wajah. Benar-benar nikmat.

Sewaktu hari-hari pertama masuk ke sekolah, dia masih ingat kalau ruangan itu tak sesegar sekarang. Terasa seperti tak memiliki kehidupan. Itu dikarenakan gedung kecil berumur 20 tahun yang saat itu tak pernah digunakan lagi. 

Namun seorang guru tiba-tiba saja meminta permohonan kepada kepala sekolah untuk menggunakan kembali gedung. Karena alasan kalau gedung yang masih terbuat dari papan itu bisa memberikan relaksasi yang bisa merangsang kinerja otak para murid.

Apalagi posisinya dekat dengan hutan yang masih terjaga. Memberikan poin plus pada sebuah proses belajar yang tak terlalu bisa membuat tegang.

Walaupun ada kemungkinan kalau gedung bisa saja terbakar, tetapi sang guru yang menanggung jawabi Lab. berusaha yang terbaik yang dia bisa untuk tidak menciptakan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.

“Bagas!”

Suara pintu terdengar berdecit, ada seseorang yang masuk. Dan itu adalah seseorang yang baru saja dibicarakan.

“Kau harusnya panggil aku abang ipar.”

Urat di sekitar kepala Elang membengkak karena perkataan Bagas barusan.

“Kau tahu, secara biologis kami bukan saudara kandung. Dan perbedaan umur kami cuma dua tahun. Dan aku baru aja mulai panggil Eruin dengan sebutan kakak sewaktu kami kembali ke Indonesia.”

“Jadi sewaktu di Inggris kau...”

“Ya, memangnya kau pikir orang inggris punya sebutan kakak di dalam vocabulary mereka, atau aku harus panggil dia Sis setiap saat.”

Elang ada benarnya. Tetapi Bagas hanya bermain-main, walaupun Elang tahu tentang hal itu, tetap saja terasa kesal kalau Bagas terus bertindak sebagai seseorang yang harus dia hormati.

“Lagipun perbedaan umur kalian juga cukup jauh. Harusnya kau juga panggil dia kak dong!”

“Erina.”

“Ha?”

“Dia memintaku untuk memanggilnya dengan nama itu. Jadi ya...”

“Kalau ga salah, itu sebutan yang kau berikan sewaktu kalian masih kecil kan.”

Kembali pada hari itu, hari dimana Bagas dan Eruin baru pertama kali bertemu. Eruin menyebutkan Eruin Leina sebagai nama lengkapnya. Namun Bagas kecil cukup sulit untuk menyebutkan ‘Eruin’ pada saat itu. Karena itu dia menyingkat dua nama dan menjadikannya sebagai nama spesial untuk Eruin.

“Kau tahu, yang paling mengejutkanku adalah, bagaimana mungkin bocah umur 7 tahun bisa memikirkan nama sesepesial itu.”

“Ibuku pernah bilang, kalau kau kesulitan dalam melakukan sesuatu, maka pikirkanlah cara agar kau bisa mempermudahnya.”

Seperti yang diharapkan dari seorang wanita hebat. Bagas benar-benar diasah untuk menjadi pribadi yang tangguh sejak kecil.

“Itu buat apa?”

Setelah mengobrol cukup panjang, Bagas berbalik untuk melihat Elang, dan dia melihat kalau Elang membawa dua buah semprotan beserta dua topeng anti radiasi.

“Apa kau tahu, kemungkinan 99% kalau seekor tikus akan mengigiti sebuah kabel?”

“Ooh.”

Maksudnya adalah, semprotan yang berukuran cukup besar itu berisi racun guna mengusir tikus yang mengincar gedung.

“Aku gak pernah tahu kau melakukan hal seperti ini?”

“Soalnya kan kau gak pernah mau mengikuti kelas, gimana mau tahu kalau ada rutinitas begini.”

Bagas sedikit kesal Elang mengatakan hal itu. Namun dia tak bisa membantah kenyataan, dan satu semprotan lagi untuk apa?

“Nih.”

“Ha?”

“Kau bakal bantu aku semprotin ini tempat.”

“Ha?!”

“Karena itulah aku suruh kalian untuk datang kesini.”

Sekarang dia baru ingat, kalau dorongan untuk pergi ke Lab. Komputer secara tidak langsung adalah ulah dari Elang.

“Kalian? Tapi kan semprotannya cuman dua.”

“Oh, kalau Rian bertugas untuk - ”

Suara seseorang masuk ke ruangan membuat Elang berhenti bicara.

“Nah panjang umur.”

Itu adalah Rian, dengan membawa dua buah baju anti radiasi.

Rian masuk ke dalam, memberikan satu baju untuk Elang, dan menyodorkan satu lagi untuk Bagas. Bukannya menerima, Bagas malah menyodorkan semprotan yang dia pegang ke arah sahabatnya.

“Kau yang lakukan.”

“Aku bukan expert. Kau yang lakukan.”

“Gak ada salahnya mencoba satu hal yang baru.”

“Pekerjaan yang dilakukan expert lebih cepat dan efisien.”

“Suatu hari nanti kau pasti memerlukan pengalaman ini.”

“Kami mungkin bakal pindah dan hidup disebuah apartemen.”

“Kau adalah seseorang yang bisa membuat desa berkembang. Kau gak akan kemana-mana.”

“Kau adalah orang yang lebih pantas untuk melakukan hal itu.”

“Kau adalah salah satunya. Dan aku gak akan bisa melakukannya tanpamu.”

Awalnya mereka terlihat bertengkar. Namun semakin jauh pertengkaran berlanjut, sebuah rasa haru yang ditambah dengan iri membuat Elang harus mengambil tindakan.

“Hahahaha!”

Dua muridnya langsung memandang ke arahnya dengan wajah, “Apa yang lucu?”

“Kau orang yang sangat keras kepala.” Itu ditujukan ke arah Bagas. “Dan kau adalah seseorang yang biasanya akan berdiskusi kalau ada sebuah masalah. Dan melihat kalian bertengkar begini, entah kenapa aku merasa sedikit bahagia melihatnya.” Sisanya tentu saja sudah jelas ditujukan ke arah siapa.

Dua sahabat itu saling menunjukkan satu kepalan tangan ke arah Elang. Dia tahu maksudnya apa.

“Oke-oke. Rian.”

Elang menyodorkan semprotan dan baju anti radiasi pada Rian. Rian menatap Elang heran, tentu saja, karena itu bukanlah kesepakatannya. Kesepakatannya adalah membuatnya libur sehari dan membiarkan Bagas bekerja.

“Ayolah, ini gak susah kan. Lagipula ini juga akan mulai mengembalikan rasa persahabatan kalian.”

“Aku benci kalian berdua.”

Entah bagaimana, untuk beberapa saat Rian terlihat seperti seorang tokoh kartun yang sangat membenci kehidupannya, tokoh kartun cumi-cumi yang bekerja di sebuah restoran burger.

Rian mulai memakai baju anti radiasi. Di sisi lain Bagas masih terdiam memperhatikannya.

“Apa yang kau tunggu?”

Bagas melihat ke arah Elang. Tiba-tiba smartphone Elang berbunyi.

“Halo! Oh iya, sudah sampai? Oke-oke aku akan segera ke sana. Aku ada panggilan, jadi kuserahkan pada kalian berdua, oke!”

Elang langsung berlari keluar tanpa menunggu balasan dari kedua muridnya. Terlihat seperti lari dari tanggung jawab, tetapi terlihat juga sedang buru-buru untuk menyelesaikan tanggung jawab lain.

“Huehh!”

Bagas menghela nafas. Sangat repot rasanya.

Bagas langsung memakai baju miliknya tanpa mau berpikir panjang. Setelah selesai, mereka siap untuk beraksi.

“Jadi, gimana peraturannya?”

“Ga ada yang khusus, kau cuma harus semprotkan ke setiap cela-cela yang ada di ruangan.”

“Oke.”

Bagas mengarahkan ujung semprotan ke arah sela baju dan helm Rian. Seperti dia sedang menodong senjata dan siap menembaknya.

“Kupukul kau.”

---

Tugas mereka berakhir dengan tidak ada halangan. Terasa lucu juga ketika membayangkan kembali, kalau mereka benar-benar fokus dengan pekerjaannya. Tak ada pertengkaran atau konflik, yang ada hanyalah fokus dan konsentrasi.

Mereka keluar dari ruangan, di atas tangga duduk guru yang sebelumnya kabur meninggalkan mereka.

---

Elang telah menyelesaikan tugas kecilnya. Kembali ke Lab. komputer dan mendapati dua anak muridnya sedang menyemprot seluruh bagian sempit dari bangunan. Dan tidak memungkinkan untuk masuk ke dalam.

Dia menunggu di tangga luar, mengeluarkan ponsel pintar dan handset untuk mendengarkan lagu. Tidak tahu berapa lagu yang sudah terlewat, tetapi dia merasa ada dua senjata berbahaya yang sedang di arahkan ke arahnya.

Dia mengangkat kedua tangan pertanda tidak akan melakukan perlawanan dan berharap pengampunan dari dua penodong.

“Uhh, aku barusan nerima paket yang kupesan dari Amerika. Paket itu berisi GPU terbaru yang pasti kalian senang melihatnya.”

Dia merasa benar-benar tertekan. Karena dua orang yang sedang menodongnya benar-benar memiliki tekanan untuk mengintimidasi seorang dewasa seperti dirinya.

“Huhh, bilang dari tadi kek. Kalau memang begitu aku juga bisa menyelesaikannya.”

Rian menatap Bagas yang masih saja merasa kalau dia tak harus melakukan pekerjaan yang baru saja mereka selesaikan.

“Hahaha, enak aja. Aku pesan itu pakai uangku sendiri tahu.”

Elang bangkit dan berbalik karena ancaman yang sebelumnya telah menghilang. 

“Terus, apa yang bakal kita lakukan selanjutnya?”

Rian bertanya sambil membuka baju anti radiasi. Bagas juga melakukan hal yang sama.

“Kalian bisa pulang, atau ikut aku ke laboratorium baru.”

“Baru?”

“Ya, ini perintah dari Kepala Sekolah. Dan untuk bangunan ini, dia memberi pesan pada kalian, dewan siswa untuk memikirkan bagaimana harus menggunakan bangunan yang membuat nostalgia untuk bermanfaaat dalam hal lain.”

Sejauh itu Rian tahu maksud dari pesan Kepala Sekolah. Untuk Bagas, ada satu hal yang mengganjal perasaannya.

“Tapi aku bukan bagian dari Dewan Siswa lagi loh.”

Dua orang yang sedang berdiskusi dengannya menatap heran.

“Ha? Kenapa? Aku gak gantiin namamu di meja kok.”

“Ya, apalagi penggantian Dewan Siswa itu dilakukan sewaktu perpisahan anak kelas tiga.”

Apa yang harus dia lakukan? Kalau dia mengatakan yang sejujurnya, mungkin dia akan dimarahi habis-habisan.

“Tunggu. Apa kau mengundurkan diri?”

Sahabatnya punya insting yang benar-benar tajam dalam membaca suasana seperti itu.

“Uh, itu, aku ingat kalau kami punya sesuatu yang masih harus kami selesaikan.” Bagas mulai berlari. “Aku janji bakal bantuin besok!”

Dia pergi, meninggalkan tanggung jawab untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

“Rian, bisa kau terus mementorisasi adik-adikmu.”

Tak ada lagi jawaban yang bisa Rian berikan selain mengiyakan. Karena ketika seorang pemimpin mengundurkan diri dari posisinya, kemungkinan yang terjadi hanya satu, pemimpin tersebut merasa tak pantas untuk tetap menjabat sebagai seorang pemimpin. Dan mereka berdua tahu, hal itu juga cukup berat untuk dihadapi Bagas.

---

Hampir sampai di gerbang depan, Bagas memelankan laju kakinya. Nafasnya cukup terengah-engah. Dia butuh mengembalikan laju nafasnya. Sampai berada tepat di gerbang depan. dia dipanggil oleh seseorang dari dalam bangunan pos jaga.

“Mas Bagas!”

Itu adalah suara seorang kakek tua ramah yang mengajaknya untuk minum kopi.

“Diem-diem bae. Ngopi dulu sini!”

Bagas tak memiliki pilihan lain selain tersenyum dan mengiyakan ajakan ramah itu.

“Lah, cuk.”

Bagas memasuki ruangan, dan melihat sahabatnya sedang mencoba menyeruput kopi dengan sangat tenang.

“Ahhh.”

“Hahaha, masa muda memang penuh dengan hal-hal yang tidak terduga ya, Mas Bagas.”

Seorang kakek yang terlihat sangat pengertian pada semua orang. Dapat menjadi penenang hati hanya dengan sikap ceria dan ajakan minum kopinya.