Episode 73 - The Origins



Di hari yang sama, pada sore harinya.

"Hampir!" sahut Fia “Hampir Chan! Hampir!"

"Ayo! Sedikit lagi Chan!" Fia terus menyemangati. "Ayo Chan sudah hampir bisa!"

Kata-kata itu terus diucapkan Fia pada setiap Chandra mencoba menyembuhkan luka sayat di tangannya sendiri. Dari pagi sampai siang, dan dari siang sampai sore,Chandra terus mengulang-ulanginya sampai bisa. 

Fia mengajarinya dengan sabar, sangat sabar. Meski tidak bisa-bisa dan terlihat sudah lelah mengajari Chandra hingga terlihat lesu sampai berkeringat. Antusiasme Chandra membuat lelahnya menjadi hal yang tak sepatutnya di pikirkan. 

Di siang menuju Sore, Cefhi yang juga ikut menemani mereka akhirnya ikut mengajari Chandra.

“A-ayo Chan! Se-semangat!” Cefhi mencoba menyemangati namun dia terlihat sangat gugup. “Biar aku bantu juga.”

“Ce-cefhi...” Chandra tertegun sebentar lalu memantapkan niatnya. “Oke!” ucapnya dengan semangat.

Setelahnya, mereka malah menjadi latihan bareng yang tentunya dua orang wanita cantik di depannya sudah ahli melakukannya. Saling bersinergi melakukan sihir mereka.

Hari itu, sehari penuh dihabiskan untuk berlatih sihir penyembuhan. Banyak luka sayat yang telah ia buat di lengannya. Meski sudah mencoba sekeras itu, Chandra hanya berhasil menyembuhkan satu kali saja dan daya penyembuhannya sangat kecil sekali. Bukannya patah semangat, justru Chandra dibuat semakin yakin bahwa ada harapan dia akan bisa.

***

Pada waktu yang sama, di kelas Ventus.

Membaca penulisnya adalah seorang yang ia kenal, Ranni setengah tidak percaya dan kembali membaca bab itu dari awal hingga benar-benar mengamatinya. 

Setelah beberapa kali ia membolak-balikan halaman dengan tegesa-gesa lalu membaca ulang juga membaca informasi-informasi yang lainnya, Ranni bergegas merapikan buku-buku yang ia baca ke tempat semula secara tergesa-gesa, dan membawa buku tebal yang ia baca berulang kali itu bersamanya. 

Kemudian ia bergegas pergi ke ruang instruktur untuk menemui Lasius. Sesampainya disana, Ranni menemui tempat itu kosong, tak ada orang disana.

“Kosong? Ahh iya, hari ini kan hari libur.”

Ranni celingak-celinguk mencari siapapun orang yang bisa ditanya.

“Pak? Rumah Pak Lasius dimana ya?” tanya Ranni pada seorang tukang bersih-bersih.

“Ada urusan apa dek?” 

“Ahh begini, ada tugas yang tak kumengerti.” Ranni mengarang-mengarang cerita. “Aku sudah mendiskusikan ini sama teman-teman di kelas tapi tak ada jawaban yang memuaskan. Jadi aku ingin bertanya pada instruktur Lasius langsung dan mendapatkan pengarahan darinya.” 

“Ohh soal PR ya...” balasnya. “Nih catat, rumahnya pak Lasius ada di Crystal Disctrict Blok...”

***

Di Letshera, Guild Hall Aurora Genesis.

Dari sejak Alzen belum datang dan sampai Alzen datang, mereka berjam-jam berdiskusi soal ini dan memikirkan cara yang tepat agar pak Vlau bisa diyakinkan dan setuju dengan masukan mereka.

Mereka berdebat di meja bundar yang bentuknya lebih menyerupai cincin, karena di tengah-tengah bolong dan hanya ada area kecil yang menjadi meja mereka di ujung kelilingnya.

Guild Hall mereka lebih menyerupai ruang tamu kantor dengan banyak pot dan sofa di beberapa tempat. Ruangan disini juga terang, seolah-olah lampu sudah ada di tempat ini, padahal sumber cahaya yang seperti lampu itu berasal dari pot tanaman yang mengeluarkan cahaya yang di letakkan di berbagai sudut ruangan.

Luas wilayah markas Guild Aurora Genesis terbilang relatif luas dan banyak tempat disediakan untuk kebutuhan yang berbeda-beda, ada tempat untuk latihan, cafetaria, gudang perlengkapan dan tempat paling pertama ketika memasuki Guild Hall mereka adalah ruang diskusi ini. 

"Bagaimanapun caranya kita harus yakinkan pak Vlau untuk mendengarkan visi kita." Neil menjelaskan dengan tegas ke banyak orang yang ada di sana dari belakang meja bundar. "Jika disetujui, maka CC akan bisa digunakan semua orang, bukan hanya penyihir saja, melainkan orang-orang biasa juga. Bukannya ini akan menjadi sebuah terobosan besar umat manusia? Bukankah seharusnya kemampuan CC itu bisa dimiliki semua orang terlepas dari dia seorang yang mengerti sihir atau tidak?"

"Jelas aku sependapat denganmu," balas Alex ketua guild Aurora Genesis. Pria berambut emas dengan kacamata yang usianya terlihat baru mau mencapai usia 30an, namun sudah memimpin Guild yang cukup ternama di Greenhill.

"Tapi bagaimana menjelaskannya pada pak Gubernur?” sambung Alex. “Keputusan hanya ada di tangan dia seorang. Dan dia punya pengalaman buruk di masa-masa lampau dimana penemuan-penemuan dari Vheins malah disalahgunakan menjadi senjata yang mematikan. Jelas dia punya ketakutan akan keputusannya yang salah di masa lalu."

"Tapi kali ini berbeda.” Neil bersikeras. “Apa berbahayanya memiliki kemampuan bicara dalam jarak yang sangat jauh dan dimiliki oleh semua orang? Bukannya ini akan merubah manusia? Seluruh umat manusia, bukan hanya yang bisa menggunakana saja."

"Kemungkinan-kemungkinan itu akan terus ada,” balas Alex dengan tenang. “Saat ini kita kebanyakan negara-negara masih menggunakan pengantar pesan untuk berdiplomasi, mata-mata dan menerima segala jenis informasi,"

"Justru itu! Jika Status Quo itu bisa dirubah maka akan..."

Sementara Alzen hanya diam-diam saja melihat mereka berdua saling bedebat. 

"Hei! Hei!" senggol Xiver ke Alzen yang duduk di sebelah kanan Alzen. "Kau ngerti tidak apa yang mereka debatkan?"

"Ahh... kurang lebihnya..."

"Neil memang selalu bicara besar, ia selalu mengatakan skala seluruh umat manusia atau hal-hal semacam itu. Dari dulu dia sudah seperti itu, ia selalu bertingkah seolah-olah sudah menggapainya dan sangat yakin dengan mimpinya itu. Hah... tapi seharusnya tak heran sih, mimpinya besar, tapi kemampuannya juga sangat besar. Meski terlihat tak mungkin, tapi Neil adalah orang yang aku percaya bisa melakukannya."

"Ahh aku tak begitu mengerti."

"Jelas saja kau tidak mengerti!” sambung Silvia tiba-tiba. “Neil ini hanya seorang genius dengan mimpi-mimpi idiot." 

"Aduh Alzen, tolong jangan dengarkan mbak-mbak galak ini.” Xiver berbisik, tapi suaranya jelas terdengar. “Dia dikelas terkenal dengan sebutan Flame Demon of Ignis."

"Maksud LO!!" Tatap Silvia dengan kepala besar dan ekpresi iblis di depan Xiver yang langsung dibuat ciut.

Selanjutnya diskusi terus dilakukan. Dan mereka terus berdebat, sementara Alzen, Silvia, Xiver serta beberapa anggota guild disana, sibuk melihat debat mereka tanpa banyak memberikan tanggapan. 

***

Sampai matahari terbenam, mereka terus berlatih bersama. Memang pada saat ini Chandra ada di level yang berbeda. Tapi tak satupun dari mereka memandang rendah Chandra dan justru ikut menikmati kerja keras karena semangatnya itu.

Namun hari sudah gelap dan mau tak mau mereka harus menyudahi latihan hari ini, 

“Haduh capek! Chan sudah yuk.”

“Hosh... Hosh... waduh, aku belum bisa-bisa juga.”

“Tak apa. Baru juga hari pertama kan. Minggu depan kita lanjut lagi.”

“Puahh baiklah...” Chandra menjatuhkan diri ke tanah berumput dan berbaring melihat langit telah berubah menjadi malam.

“Chandra tanganmu,” kata Cefhi. “Sini biar kusembuhkan.”

“Tidak, tidak jangan.” Chandra menolaknya. “Biar aku yang sembuhkan diriku sendiri.”

“Hee? Apa maksudmu?” Fia tak bisa menerima alasannya. “Tanganmu terlihat mengerikan tahu. Kalau orang lain lihat malah jadi serem sendiri.”

Chandra melihat lengan kirinya penuh dengan luka sayat, paling tidak sedikit ada 50 luka sayat yang sengaja ia goreskan ke lengannya.

“Tak apa Chan,” balas Cefhi dengan lembut. “sini biar kusembuhkan.”

 Cefhi mengontrol air bersih untuk menyelimuti lengan Chandra yang terluka,

“Adududuh, perih sekali ya.”

“Tahan sebentar lagi.” balas Cefhi. 

“Heal !!”

Air itu mengeluarkan cahaya dan dalam waktu cepat, luka-luka di lengan kiri chandra beregenerasi dan kurang dari 5 detik luka-luka tangannya sembuh seperti semula.

“Woah... kamu luar biasa.” Chandra terkagum-kagum.

“Hah!?” Cefhi tidak siap dipuji seperit itu. “Ti-tidak kok...” Cefhi langung membuang muka. “i-itu bukan apa-apa.”

“Oke! Sebelum kembali ke asrama, makan-makan dulu yuk.”

“Oke!” sahut Chandra antusias. “Cefhi...”

“I-iya...” jawabnya malu-malu.

“Terima kasih ya.” Chandra tersenyum padanya. 

Wajah Cefhi seketika berubah merah.

“Kau mau ikut makan juga kan?”

Tak menjawab, Cefhi langsung bergegas pergi dari sana meninggalkan mereka dengan tangan kanan ditempelkan di dada.

“Hee!? Tidak mau ya?”

***

Di salah satu restoran di jalanan Twillight District.

“E-enak!”

“Haduh Chan, habis latihan capek-capek makannya ayam geprek super pedas begini.”

“Makanan pedas memang selalu enak, mitos di kampung halamanku, makan banyak cabe itu bikin kuat.”

“Hahaha...” Fia mentertawainya, “kau percaya itu?”

“Haha, tidak juga sih, aku hanya suka rasanya saja.” balas Chandra sambil makan dengan lahap. “Loh kamu tidak dimakan.”

“ini buat kamu saja, aku pesan menu lain saja. Aku tak terlalu bisa makan pedas.”

“Yah sayang banget dong,” Chandra makan sambil bicara dengan mulut blepotan. “Kamu pesan apa saja, nanti aku yang bayarin.”

“Ahh tidak usah, tidak usah. Aku bayar sendiri saja. Kamu kan tidak mendadak tajir seperti Alzen. Haha...”

“Be-benar juga sih... ”

“Ngomong-ngomong kenapa sih Chan,” Fia penasaran. “Kamu tiba-tiba ingin menjadi Healer. Bukannya kamu seorang petarung.”

Chandra menjawab "Aku punya alasannya. Aku dianugrahi Elemen Api dan Air, yang mungkin saja aku harus bisa bertarung untuk melindungi dan menyembuhkan untuk menyelamatkan orang-orang. Aku kesini dengan misi, misi untuk menjadi Healer yang bisa mempertahankan dirinya di situasi perang yang berkelanjutan di tanah airku nanti."

“Perang? Tanah airmu sedang berperang...” Fia merasa tak enak. “Ahh maaf telah bertanya begitu.”

“Makanya aku sangat berterima kasih pada kalian berdua,” Chandra menunduk untuk menyembunyikan matanya yang mulai mengeluarkan air mata. “Yang dengan sabar mau mengajari aku yang bodoh ini.”

Fia memandangi Chandra dengan tersenyum, sambil pipinya bersandar di tangan kanannya. “Minggu depan kita berlatih lagi ya, aku yakin Cefhi tak keberatan untuk membantu kita lagi.”

Mereka berdua hening sejenak, suasana santainya berubah menjadi kelam untuk beberapa saat.

Dengan kepala tertunduk, Chandra mengucapkan. “Terima kasih... Fia.”

***

“Ini dia rumahnya,” 

Ranni tiba di rumah Lasius yang sangat besar dan mewah. Lokasinya masih berada di dalam kawasan kota Vheins. Ia memencet bel dan tak lama kemudian, Lasius keluar rumahnya dengan penampilan sehari-hari.

“Siapa? Ohh Ranni, ada perlu apa kemari? Kau kan sudah di kelas yang lain.”

“Aku ingin menanyakan sesuatu pak.” kemudian Ranni menunjukkan buku tebal itu. “Salah satu tulisan di buku ini tertera nama bapak.”

Melihat sampul buku itu, Lasius langsung mengerti. “Baiklah, silahkan masuk.” 

***

Ranni duduk di ruang tamu rumah Lasius yang baru pertama kali ia datangi.

“Maaf mengganggu waktu bapak, aku akan selesaikan ini secepat mungkin.” kata Ranni. “Apa benar bapak yang menulis ini?” Ranni menunjukkan salah satu bab dalam buku kepada Lasius.

Lasius mengangguk.

“Apa bapak tahu sesuatu tentang kejadian itu?" 

“Puluhan tahun silam, aku mengalami sendiri kejadian itu. Aku masih muda, dan kau mungkin masih anak-anak.” 

“Hah!? Jadi itu benar?!” balas Ranni yang seketika menjadi terpikir tentang banyak hal.

“Aku tak tahu harus memulai dari mana, jadi tanyakan apa saja yang kamu ingin ketahui dan aku akan menjawab seperti apa yang kulihat pada waktu itu.”

“Tulisan bapak dimuat dalam sudut pandang orang pertama, dengan kata lain apa bapak mengalami kejadian itu secara langsung?”

Angguk Lasius, “Benar sekali, aku mengalaminya langsung, aku melihat semua kejadian itu secara langsung tanpa sengaja.”

“Siapa orang bernama Theophrastus Filberth? Kenapa klan Filberth bisa membangkitkan elemen lain selain elemen api?”

“Dia kepala suku klan Filberth di masanya, di masa aku yang masih berusia muda. Selain karena kemampuannya yang berbeda karena bisa membangkitkan elemen lain yang mustahil bagi klan ketiga klan kita.”

“Memang mustahil, seseorang dari salah satu klan Descendant of the Flame membangkitkan elemen lain, dari kecil klan kita diajarkan lahir dari api mati untuk kembali ke api.”

“Tapi faktanya berkata lain, Theophrastus Filberth membuktikan hal yang mustahil menjadi nyata.”

“Apa dia orang jahat? Dia terlibat pada kehancuran klan Lodier hari itu.”

“Tidak, tidak sama sekali. Dia orang yang bijak. Di hari itu dia ada disana untuk mencegah Heimdall Lodier yang buas dan berduel dengannya.” balas Lasius dengan kepala tertunduk dan siku bersandar di lutut.“ 

“Cocok! Jadi yang kuingat itu benar adanya.”

“Huh? Kau melihat kejadian itu juga?”

“Iya, tapi lama sekali aku telah melupakkannya, sewaktu sihir Dream Catcher Nicholas di sihirkan kepadaku. Seketika ingatan-ingatan terburukku yang telah lama hilang itu bangkit kembali. Dan penglihatanku adalah penglihatan tentang itu.

“Hari dimana...”

“Klan Lodier dimusnahkan!”

“Klan Lodier dimusnahkan!”

Kata mereka berdua bersamaan.

***