Episode 8 - Dewi Penyelamat Impian



Karena aku penasaran, aku mencoba mengintip dari balik jubah guru besar, dan ternyata mahluk hitam tersebut adalah jin yang ada di mimpiku membantai seluruh warga desa X. Di saat itulah aku merasa ketakutan, kakiku gemetaran, tapi mengingat pembataian di mimpiku, entah kenapa aku tidak bisa melawan rasa takutku terhadapnya. 

Di belakang mahluk yang entah aku deskripsikan apa itu aku melihat pasukannya. Mereka memegang tiap tubuh manusia yang hidup. Ada yang masih memegang utuh badan manusia yang hidup kemudian mengarahkan kepalanya ke sebuah mangkok besar lalu… 

“Slash!” Begitulah bunyi dari pedang yang memenggal kepala manusia. Darah segar keluar dengan derasnya, bak air terjun Tawangmangu di Magetan, Jawa Timur. Darah segar itu mengisi sebuah mangkok besar kemudian diambil oleh masing-masing pasukannya untuk diminum. Sesaat aku melihat pemandangan itu, sungguh menjijikan ingin aku muntah saat itu juga, sedangkan guru besar masih berbincang-bincang dengan Gleipnr.?“Apakah kamu sudah puas membantai mereka Gleipnr!?” ucap guruku dengan marahnya.

“Hahahahaha… Puas…? Jangan bercanda kau Abah! Aku belum puas,” ucap Gleipnr kepada guru besar. “Oh iya, aku baru ingat, aku menemukan ada salah satu desa di pedalaman di sekitar wilayah itu… Hemb… Aku ingin bermain di sana beberapa hari lagi,” sambung Gleipnr sambil meminum darah manusia dari secangkir gelas emas.

“Mungkinkah itu desa X yang ada di dalam mimpi…?” gumamku.

“Apa katamu!?” ucap guruku dengan menaikkan intonasi suaranya. “Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya lagi!” Guruku mengambil posisi menyerang.

“Hahahaha, kau yg cuma bertiga ingin menyerangku…?Terlalu sombong…,” ucap Gleipnr.?Seketika itu sebuah panah api melesat menuju guru! Bisa aku lihat salah satu pimpinan pasukan Gleipnr berbentuk ular berbadan manusia membawa sebuah panah. Sebelum anak panah mencapai guru, anak panah tersebut dihalau oleh penjaga guru. “Crangggg…” Begitulah suara perpaduan antara panah dengan tombak milik penjaga guru. Sebelum menyerang, guru memerintahkan penjaganya untuk mengulur waktu sebentar.

”Berikan aku sedikit waktu,” ucap guru kepada penjaganya.

“Baik, Syech!” jawab mereka.

Guru melafalkan amalan sekitar sepuluh menit. Setelah guru melafalkan amalan yang panjang itu, guru mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi sambil mengepal. Di dalam kepalan tangan guru ada sebuah cahaya berwarna ungu gelap. Lalu guru membuka kepalan tangannya seketika itu cahaya yang menyilaukan keluar dari telapak guru. Kemudian pemandangan yang tidak mengenakan tersebut lenyap.

“Kita di mana guru…?” tanyaku penasaran karena kali ini pemandangannya sudah berbeda.

“Kita sekarang di dalam dimensi yang aku buat. Belum saatnya kita melawan mereka, karena kita butuh persiapan yang lebih matang,” ucap guru kepadaku dan kepada kedua penjaga.

“Baik, Syech!” balas penjaga guru.

Kemudian mereka pergi dan menghilang. Setelah para penjaga abah guru menghilang. Abah guru mengalihkan pandangannya dan menatap ke arahku.

“Sepertinya kita harus mempercepat latihanmu, Nak. Lihatlah mereka sudah mulai bergerak,” kata abah guru kepadaku dengan serius.

“Baik guru, aku akan lebih giat lagi,” balasku.

“Baiklah, mari aku antar kamu pulang.”?Setelah perbincangan dengan guru besar, aku dikembalikan ke rumah. Ayam jago pun berkokok pagi menyongsong dengan matahari senja yang indah. Jam menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit. Aku bergegas melaksanakan shalat subuh, kemudian lari keliling desa. Sampai jam menunjukkan pukul enam tiga puluh menit lalu aku pulang ke rumah, mandi, sarapan, dan bergegas ke rumah Wijaya untuk melanjutkan hari pertama MOS. 

Karena aku bisa menutup mata batinku sesuai kehendak, maka aku akan membukanya jika aku membutuhkannya. Tiga puluh menit berjalan sampailah aku di sekolah, dan sialnya aku dan Wijaya telat lima belas menit. 

“Baru pertama masuk sekolah saja sudah telat,” ucapku lirih. 

Setelah kami memarkir sepeda di tempat parkir, aku dan Wijaya bergegas masuk ke kelas kami masing-masing, dan sialnya lagi aku malah kena hukuman oleh kakak senior. Ada empat kakak senior dari OSIS dan Pramuka, dua cewek dari pramuka, dan dua cowok dari OSIS. Wijaya diperbolehkan masuk oleh kakak seniornya, sedangkan aku ditahan dulu di depan pintu kelas. 

“Beruntung banget Wijaya dibolehin langsung masuk kelas,” keluhku iri karena aku tahu kelas kita bersebelahan jadi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.

“Kamu bocah kampung sini sebentar,” kata kakak senior yang berperawakan gendut dengan rambut keriting.

“Iya kenapa kak?” tanyaku sopan padanya.

“Baru sehari masuk sudah telat…,” kata kakak senior kepadaku.

“Rumahku jauh kak, padahal aku sudah berangkat pagi. Jadi, maaf kalau telat,” jawabku meminta maaf dengan menundukkan kepala.

“Alah banyak alasan aja kamu, sini kamu dapat hukuman!” sambung kakak senior.

“Kok bisa dapat hukuman, temanku sebelah saja tidak dihukum dan malah diperbolehkan masuk…?” kataku padanya.

“Banyak omong aja kamu anak kampung,” sambungnya marah kepadaku. 

Tanganku mengepal menahan amarah. Kami dilihat oleh teman sekelasku. “Hukumannya apa kak ,?” tanyaku lagi padanya.

“Hukumannya, lepas bajumu dulu,” ucapnya yang membuatku tidak paham akan situasi MOS di sini.

“Haah..” Tadi pagi aku sudah emosi dengan Gleipnr, ini di tambah hukuman lagi, aku mencoba menahan emosiku kemudian melepas bajuku. 

“Sini bajumu,” kata kakak senior padaku. Aku berikan baju SDku kepadanya. “Push up dulu 25 kali,” perintahnya kepadaku. 

“Oke.”

Aku push up di depan kelas, sambil telanjang dada dan dilihat semua teman kelasku. Baru push up lima kali, aku melihat baju SDku dibuatnya lap untuk membersihkan sepatunya. Aku ingat ayah dan ibuku membelikan baju itu dengan keringat mereka, tetapi di sini tidak dihargai, langsung saja amarahku meledak, aku berdiri memandang laki-laki OSIS berbadan gendut ini. Mungkin dia kelas tiga atau kelas dua. Rasa emosiku meledak tinggi. Datanglah mbah Kosim dan Nyai Yun di belakangku tanpa kuundang.

“Kyaaa….” Teriak salah satu siswa di kelasku, tapi aku tidak menghiraukannya karena kemarahanku yang sudah mencapai batas.

“Kenapa kau melihatku, nantang!?” sambil dia berdiri dari kursi guru dekat jendela kelas di depanku.

Tinggi badanku dan dia jauh berbeda, tinggiku waktu itu sekitar 125 cm. Badanku kecil, sedangkan dia gendut, agak tinggi mungkin 155 cm-an.

“Kembalikan bajuku,” ucapku sambil menahan amarah.

“Baju ini,” ucapnya sambil memperlihatkan bajuku di hadapannya. “Nih, ambil.” Sambungnya dengan melemparkan bajuku ke tempat sampah.

“Bangsat.”

Seketika itu pukulanku menghajar wajahnya. “Brukk... Crannngggg,” suara pukulanku yang mengenai wajahnya dan tubuhnya terlempar ke belakang menghantam jendela, dan jendela itu retak. Jendela yang ada di kelas ini mulai dari bawah lantai hingga ketinggian kurang lebih dua meteran itu retak karena dihantam oleh si gendut. “Kyaaaaa….” teriak semua siswi di kelasku.

“Stop… Stop.. Berhenti!” teriak salah satu teman laki-laki dari OSIS. Dia berlari langsung menahan badanku, walaupun badan orang ini besar sayangnya masih susah menahan gerakanku.

“Hey! jangan bengong aja kalian bantuin,“ ucap si cowok OSIS ke arah teman sekelasku. Mereka tidak berani menghalangiku karena di depan mata mereka, orang yang tubuhnya lebih tinggi dan besar saja bisa terbang satu meter menghantam jendela belakangnya, apalagi anak baru yang badannya rata-rata kecil.

“Cepat panggil anak sebelah buruan,” ucap cowok OSIS ke para cewek senior pramuka.

“Iya, iya…“ Sambil terbata-bata mereka langsung berlari ke arah kelasnya Wijaya dan Ninda.

Sesaat kemudian banyak anak kelas sebelah keluar kelas menonton adegan film laga di kelasku. 

“Woy minggir… minggir…,” ucap cowok OSIS dari kelas sebelah. Aku lihat si gendut ini masih bangun aku maju menghampirinya. Karena teman si gendut masih menahanku, aku lempar dia ke belakang… 

“Bruuukkk,” tubuhnya pun menabrak cowok OSIS dari kelas sebelah.

“Gila! Tenaga anak itu kuat sekali!” ucapnya keheranan.?Kemudian aku menghampiri si gendut, dia memohon ampun kepadaku dengan ketakutan “Ampun..ampun salahku, aku minta maaf,” ucap si gendut.

“Minta maaf, jangan minta maaf kepadaku, minta maaflah kepada orangtuaku,” setelah ucapanku aku menghajar perutnya dengan tangan kananku yang diliputi kesedihan. 

“Cerangggg…” begitulah suara jendela pecah yang hancur karena kembali ditabrak oleh tubuhnya si gendut hingga jatuh di rerumputan belakang kelasku.

“Woy bantuin cepat!” Anak senior menghampiri si gendut sambil membawanya ke UKS. Mereka cuma melihat apa yang terjadi barusan, tidak ada kakak senior yang mencoba menahanku.

“Apa yang kalian lihat, pertunjukannya sudah selesai,” ucapku kepada orang-orang yang berdiri di depan pintu kelas. Aku mengambil bajuku yang ada di tempat sampah. Sesaat kemudian Wijaya menghampiriku. Melihat ekspresinya dia terkejut melihat aku berantem untuk perkama kalinya.

“Bro bro… kamu gak apa-apa kan..?” tanya Wijaya khawatir denganku.

“Tubuhku gak apa-apa bro, tapi hatiku sakit melihat ini diperlakukan layaknya sampah,” kataku sambil memperlihatkan baju kotorku kepada Wijaya.

“Tenang bro, sabar ya…,” kata Wijaya menyemangatiku.

“Oke, Bro.”

“Bos Edi tidak apa-apa?” tanya Mbah Kosim padaku.

“Saya tidak apa-apa mbah, terima kasih ya sudah mengkhawatirkan saya,” ucapku senang.

“Baik. Bos Edi tidak memerlukan bantuan kami?” ucap Nyai Yun.

“Untuk sekarang belum, Nyai. Sekarang kalian balik ya ke rumah ya…,” ucapku memerintahkan mereka untuk pulang ke rumah.

“Baik, Bos Edi…” Lalu mereka menghilang.?Mei Lin yang sejak tadi melihatku keheranan, datang menghampiriku.

“Kamu gak apa-apa kan, Ed…?” tanya Mei Lin padaku dengan memiringkan kepalanya ke samping.

“Gak apa-apa kok, Mei. Aku gak ada luka fisik, cuma…”

“Cuma apa, Ed…?”

“Cuma hatiku sakit melihat ini,” kataku sambil menunjukkan bajuku yang kotor bekas lap sepatu oleh bajingan brengsek tadi.

“Oh ini, udah kamu cuci aja lagi bajunya, Ed,” ucap Mei dengan polosnya.

“Iya Mei, mungkin besok aku tidak di kelas ini lagi Mei. Mungkin aku akan di keluarkan,” kataku lesu karena mungkin hanya sehari aku bisa masuk ke dalam sekolah impianku.

“Kok bisa, kenapa di kelualkan, Ed? belum tentu juga Ed…,” jawab Mei memberikan semangat.

“Kamu lihat kan kejadian tadi. Sepertinya aku akan dikeluarkan karena baru sekali masuk sudah membuat onar,” jawabku semakin lesu.

“No.. No.. No.! Kamu halus sekolah di sini, sebental aku telpon papa dulu,” sambung Mei mengeluarkan handphone dari sakunya.

“Tut.. tut.. gocha..! Halo Pa… Papa bisa bantu Mei sekalang?” ucap Mei sambil menelepon seseorang.

“Hem.! hem, pokoknya sekalang, Pa. Aku gak mau nanti-nanti, kalau Papa gak datang Mei akan marah sama Papa… Titik!” bentak Mei manja kepada seseorang.

“Baik papa, makasih. Papa memang baik deh,” ucapnya lagi. Setelah menelpon sebentar Mei memasukkan hpnya lagi ke sakunya.

“Beles,” sambil memberikan jempol ke arahku.

“Haaaa…?” ekpresiku aneh yang tidak tahu akan sesuatu.

“Apa Mei yang beles…?” tanyaku heran.

“Udah, kamu santai saja Ed, kamu tidak akan dikeluarkan dari sekolah ini. Percaya deh,” ucapnya dengan yakin.

“Apa otoritas kamu Mei dengan sekolah ini? Kalau yang bicara kepala sekolah, aku masih percaya, tapi…” batinku keheranan dengan ucapan Mei barusan.

Banyak temanku yang sedikit demi sedikit mulai menghampiri, mungkin mereka takut denganku yang telah melakukan aksi laga barusan. Setelah sejenak mengobrol dengan teman kelasku, ada senior datang sambil membawa guru.

“Itu dia orangnya pak,” ucap laki-laki tersebut menunjuk ke arahku

“Kamu ikut saya ke ruang BK,” ucap guru tersebut.

“Saya pak, iya pak.”

Aku bangun dari kursi lalu mengikuti mereka menuju sebuah ruangan yang disebut sebagai ruang BK. Setelah melewati beberapa kelas, aku sampai di ruang BK, waktu itu aku gak tau apa itu ruang BK. Ternyata ruang BK itu ruang untuk pemanggilan dan konsultasi bagi siswa yang bermasalah. Setelah sampai di ruang BK aku di persilahkannya duduk. Kemudian aku di interogasi oleh kepala sekolah, OSIS dan Guru BK langsung. Ada tiga guru, enam OSIS, dan delapan anggota Pramuka yang tadi aku lihat di kelas.

“Kamu kenapa menghajar Feri tadi?” tanya Kepala Sekolah kepadaku langsung ke intinya.

“Feri siapa pak? Oh Feri yang gendut itu…? Iya saya yang mengahajarnya, kenapa pak? Saya masih belum terima di mana orangnya, akan saya hajar lagi…” ucapku sambil berdiri mencari keberadaan si bangsat itu. Setelah aku berdiri para laki-laki di ruanganku langsung menahan tubuhku.

“Cukup berhenti… Orangnya sedang di rumah sakit,” ucap Kepala Sekolah yang masih duduk di depanku. Lantas aku kembali duduk.

“Apa yang membuatmu menghajarnya tadi,” tanya guru BK kepadaku.

“Karena ini,” ucapku sambil aku menunjukan bajuku yang kotor. “Dia telah menginjak-nginjak harga diri orangtuaku,” sambungku menahan amarah.

“Aku memanggilmu ke sini untuk memberitahukanmu, apakah besok orangtuamu bisa ke sini?” tanya Kepala Sekolah kepadaku.

“Kenapa harus orang tua saya ke sekolah?” tanyaku balik karena heran.

“Karena orang tuamu harus mendiskusikan kejadian ini dengan pihak sekolah dan pihak orang tua Feri. Mungkin orangtuamu harus membayar pengobatan, Feri,” ucap kepala sekolah.

“Apa kau bilang bangsat!?” aku mengumpat kepada Kepala Sekolah dan aku geprakkan tanganku di depan meja kerja BK. 

“Braak!” Bunyi meja kerja BK yang retak karena aku gebrak. Sontak mereka semua kaget dan berjalan mundur. Aku tahu bahwa Kepala Sekolah takut tapi ia mencoba menyembunyikannya. Kaca dengan ketebalan satu mili bisa retak. Kemudian ada seorang guru datang ke ruang BK sambil berlari terengah-engah.

“Pak kepala sekolah. Itu! Itu! ada,” ucap guru tersebut.

“Ada apa memangnya, saya sedang sibuk di sini,” bentak kepala sekolah ke pada guru barusan.

“Itu pak ada bapak,” sebelum melanjutkan perkataannya, datanglah laki-laki berjas dan bersepatu orangnya tinggi, tampan, putih, dengan jam mewah di tangan kanannya.

“Ada saya pak, apakah saya mengganggu…?” ucap lekaki kaya itu.

“Oh, Bapak Jonathan… Tidak… Anda tidak menggangu kok, pak…” ucap Kepala Sekolah gugup.

“Oh, lalu sekarang ada apa…?” tanya Pak Jonathan.

“Ini, ada insiden kecil pak, perkelahian murid,” ucap kepala sekolah menjelaskan.

“Sudah, bebaskan dia, biarkan dia pulang dan jangan ungkit-ungkit masalah ini,” ucap Pak Jonathan.

“Tapi, Pak,” sebelum pak kepala sekolah melanjutkan perkataanya, langsung dipotong oleh pak Jonathan.

“Tapi apa…? Apa saya harus mengambil semua inventaris milik kalian…?” ucap Pak Jonathan mengancam.

“Baik, Pak. Saya mengerti…,” ucap kepala sekolah tertunduk.

“Oh iya, dan satu hal lagi… Anakku sekolah di sini, tolong dijaga dan jangan kalian mengganggu teman anakku juga jika kalian tidak mau kembali ke bawah...” ancam Pak Jonathan. Setelah itu pak Jonathan memanggilku keluar… 

“Nak kemari sebentar,” ajak Pak Jonathan dan aku menghampirinya.