Episode 271 - Firasat Buruk (2)



Seribu tahun lalu, di saat kejayaan Negeri Dua Samudera, hanya ada beberapa utas benda pusaka langka bernama Untaian Tenaga Suci. Ia merupakan seutas kalung mengkilap, yang mana memiliki manfaat untuk menyamarkan kasta dan tingkat keahlian. Dengan mengenakan pusaka itu, aura dari mustika tenaga dalam tiada dapat dirasakan bahkan oleh mata hati para ahli tingkat tinggi sekalipun. Pusaka itu sangat bermafaat bila hendak bersembunyi atau mengasingkan diri dari pantauan indera keenam.

Akan tetapi, yang lebih langka lagi adalah Liontin Mutiara Lembayung Jiwa yang berasal dari Kerang Mutiara Lembayung. Untuk mengaktifkan Liontin Mutiara Lembayung Jiwa, seorang ahli mengimbuhkan tenaga dalamnya atau tenaga dalam ahli lain ke dalam liontin mutiara. Tujuan dari tindakan ini adalah menjalin ikatan antara si ahli dengan liontin. Bilamana ahli tersebut berada dalam bahaya, maka liontin yang bersinar lembayung akan meredup. Bila ancaman jiwa yang mendera, maka liontin seketika berubah warna, dari biru lembayung menjadi kemerahan. 

Empat buah liontin berbeda ukuran bergelayutan di sisi bawah Untaian Tenaga Suci. Liontin paling kiri, dan paling besar, seukuran kuku jari manis, setelah itu sedikit lebih kecil adalah liontin yang paling kanan. Sedangkan, dua liontin di tengah berukuran paling kecil, seukuran kuku jari kelingking. Masing-masing liontin beberapa saat lalu masih memancarkan cayaha alami kebiruan, penuh dengan nuansa kehidupan. 

Seorang perempuan dewasa menyentuh pelan salah satu dari empat butir liontin. Biasanya keempat liontin itu disembunyikan di balik kemben, walau kali ini liontin-liontin tersebut menggantung bebas sedikit di atas belahan payudara nan berukuran cukup berisi, yang saat ini berada pada masa terbaiknya. Baik liontin maupun payudara, saat ini sedang bercengkerama dengan air telaga nan sejuk. 

Liontin yang paling kiri, yang terbesar ukurannya, telah berubah warna. Raut wajah perempuan dewasa itu pun berubah resah. 

“Puan… apakah gerangan yang terjadi…?” Seorang gadis belia membungkukkan tubuh dan menegur. Ia sedang berada tepat di balik tubuh perempuan dewasa itu, di mana kedua tangannya sedang sibuk mengusap pundak. Bersama-sama mereka sedang berendam di dalam telaga. 

Mayang Tenggara menoleh pelan. Yang pertama disapa oleh pandangan matanya adalah sepasang gumpalan nan besar. Megah sekaligus lembut, sepasang gumpalan itu seolah dapat mengguncangkan bumi. Bahkan Mayang Tenggara, seorang ahli nan perkasa sedari dahulu kala serta pendiri Pasukan Telik Sandi yang anggotanya tersebar di seluruh penjuru Negeri Dua Samudera, merasa kerdil di hadapan sepasang payudara nan menantang langit! 

“Tugasmu adalah mengusap punggungku… mengapa pula engkau membuka pakaian serta ikut berendam…?” gerutu Mayang Tenggara sebal. Perubahan warna terhadap Liontin Mutiara Lembayung Jiwa membuatnya resah, menyaksikan sepasang payudara milik gadis belia itu membuatnya kesal. 

“Kukira Puan mengajak mandi bersama-sama…,” ujar Embun Kahyangan, seorang pembunuh bayangan belia yang kini bertugas layaknya dayang-dayang. “Apakah Puan Mayang berkenan dipijat…?”

“Pijat apa!?” 

Embun Kahyangan menjulurkan kedua lengan, serta membuka telapak tangan ke arah payudara perempuan dewasa itu!” 

“Sudahlah!” tolak Mayang Tenggara. “Kita akan segera bertolak!”

“Kemanakah gerangan…?”

 “Sesuai harapanmu… menyambangi suamiku!”


===


“Segera tinggalkan tempat ini!” seru Balaputera Ragrawira. Sontak ia melompat mundur, bahkan menjauh dari wilayah bukit. Melayang tinggi di udara, ahli ini bersiaga.

Hang Jebat, di saat yang sama merasakan hawa membunuh yang demikian pekat. Walau saat ini ia hanya berada pada Kasta Perak Tingkat 9, kemampuan mata hatinya adalah lebih baik dari ahli Kasta Emas sekalipun. Ia pun melesat mundur. “Siapakah...? Apakah...!?”  

“Pakcik Jebat, diriku akan merapal lorong dimensi untuk keluar dari dunia ini...” Balaputera Ragrawira mulai merapal. “Akan memakan waktu, mohon kiranya menahan makhluk itu!”

“Cih!” Hang Jebat memajang keris maha besar yang mana bagian ujungnya terlihat seperti lidah ular... 

“Sungguh kami hendak berujar ‘tebas, babat, bacok, potong, cencang, kerat, tetak, tusuk, tikam, iris, toreh, sayat, beset, rajang, caruk, penggal, pancung, kayau’... Akan tetapi, kali ini kau akan benar-benar meregang, wahai Jebat!”

“Kata-katamu tak pernah masuk di akal! Bersiap sajalah!” Gumpalan asap berbau kemenyan membungkus tubuhnya. Hang Jebat bersiaga dengan sepenuh hati.

“Paman Balaputera... Kakak Jebat...” Menyaksikan gelagat kedua ahli, Lamalera ikut bersiaga. Ia pun menghunus Tempuling Malam. Kendatipun demikian, tekanan hawa membunuh membuat tubuhnya terasa demikian berat. 

Tanah di wilayah perbukitan bergetar keras, ibarat gempa bumi datang melanda. Dari dalam liang goa di hadapan, kemudian terlihat kobaran api menyembur teramat cepat!

“Srash!” 

Api membakar sampai meninggalkan guratan yang dalam di permukaan tanah. Selain itu, pada lintasan api, terlihat sesosok tubuh yang berdiri gosong terbakar! 

“Cih! Keparat!” gerutu Hang Jebat. “‘Dia’ menyelamatkan gadis itu dan membuat aku terbakar!” 

Pada detik-detik akhir sebelum semburan api, Hang Jebat terlihat sempat menarik lengan Lamalera lalu melemparkan gadis belia tersebut ke arah Balaputera Ragrawira. Akan tetapi, tindakan ini justru membuat tubuhnya terlambat menghindar dan menjadi sasaran empuk bagi kobaran api. Hang Jebat kemudian sempat membungkus tubuhnya dengan gumpalan asap, dan di kala mengerahkan keris Tameng Sari, daya tahan tubuhnya menjadi setara ahli Kasta Emas. Tanpa kombinasi dari kedua hal ini, maka kemungkinan besar tubuhnya tak akan sekedar gosong, namun hangus menjadi abu!

Walau sedang merapal formasi segel untuk membuka lorong dimensi antar dunia, Balaputera Ragrawira sempat merasakan perubahan pada aura tubuh Hang Jebat. Hanya untuk beberapa saat, tubuh Hang Jebat seolah digerakkan oleh sosok lain. Atau lebih tepatnya, pemilik tubuh yang asli sempat mengambil alih kendali tubuh untuk menyelamatkan Lamalera. Selain itu, Balaputera Ragrawira cukup mengenal Hang Jebat untuk mengetahui bahwa antara menyelamatkan diri sendiri dan orang lain, maka Hang Jebat akan mengutamakan diri sendiri.

“Mungkinkah...?” Sosot mata Balaputera Ragrawira tak lepas dari arah Hang Jebat. Menghela napas panjang, ia melanjutkan rapalan. 

Gempa bumi kembali menguncangkan bukit. Hang Jebat melompat mundur, lalu berlari sekuat tenaga. Nyeri akibat luka bakar di permukaan kulit, seolah tiada terasa sama sekali. 

Tetiba, liang goa yang tadinya hendak diperiksa, runtuh dalam seketika! Kejadian ini kemudian melepaskan hawa membunuh yang menyibak semakin pekat. Tak lama, mengemuka sepasang mata nan besar berwarna merah menyala! 

“Hei Aronawa Kombe, mengapa engkau membatu di sana!?” seru Hang Jebat. 

Aronawa Kombe sesungguhnya bukan melamun, melainkan ia sedari tadi sedang merapal jurus. Akan tetapi, entah mengapa, jurus yang ia rapal tiada kunjung rampung...

“Mengapa aku dikelilingi oleh ahli yang tiada bermanfaat!” gerutu Hang Jebat. 

“Pakcik Jebat... Kumohon tiada berlari ke arah sini...” Balaputera Ragrawira menegur. Karena bukannya mengalihkan perhatian, Hang Jebat justru memancing makhluk yang belum diketahui wujudnya ke arah lelaki dewasa itu. 

“Cepat selesaikan lorong dimensi itu!” tanggap Hang Jebat sambil mengubah arah. Setelah terpisah jarak cukup jauh, ia pun menghunus Tameng Sari. Siap bertarung. 

Tanah kembali bergegar, kemudian merekah. Sumber rekahan berasal tak lain dari liang goa. Perlahan, reruntuhan goa menyibak. Sebuah kepala nan besar dan bersisik, dengan lubang hidung dan mulut lebar mengangkat perlahan. Taring-taringnya terlihat tajam mengancam! 

Sekujur bukit terus-menerus bergetar. 

“Apakah itu!?” pekik Lamalera. 

“Apakah kita membangunkan malapetaka...?” Aronawa Kombe, yang tiada dapat merapal jurus, melompat menjauhi wilayah bukit. 

“Kasta Emas Tingkat 9...,” gumam Balaputera Ragrawira. Bilamana lelaki dewasa ini mencabut segel terhadap mustika di ulu hatinya sendiri, maka seorang diri pula dapat ia bungkam makhluk yang sedang mengemuka. Akan tetapi, entah mengapa, sepertinya firasat buruk yang merasuk bukanlah berasal dari makhluk yang kini sedang menyeruak...

“Khikhikhi...” Hang Jebat terlihat girang. “Seluruh wilayah bukit ini merupakan tubuhnya... Sudah lama tiada kusaksikan seekor... Naga!”  



Cuap-cuap: 

Sesungguhnya sepanjang pekan ini ahli karang nan budiman sibuknya tiada tara. Dengan semangat tak hendak mengecewakan para ahli baca, maka dari itu episode-episode yang hadir terbilang pendek. Kesibukan sepertinya masih akan berlanjut sampai dengan akhir pekan depan. 

Tabik.