Episode 21 - Menepuk Lalat ...


“Tulang betisnya patah. Kuperiksa ginjalnya, hawa murni pekat menyumbat. Lambung hampir bocor karena asam melonjak drastis. Jelas, aku harus menurunkan beban latihan untuk subjek selanjutnya.”

—Kaisar Ling Chi saat meneliti efek pengajaran hawa murni pada para nelayan


Hikram baru melepaskan Sidya dari panggulan pundaknya saat fajar menyingsing.

Begitu diletakkan seperti karung berisi makanan kambing, si bocah langsung menekuk lututnya yang lemas, perutnya serasa diaduk-aduk oleh sendok berukuran besar saking mualnya, sementara gurunya langsung roboh. Tak diragukan lagi, tenaganya telah terkuras akibat pelarian tak tentu arah yang berjalan semalaman. Mereka berhenti di tengah antah-berantah, dikelilingi oleh pepohonan, bukit kecil terlihat selayangan pandang ke arah barat. Guru selalu menghindari jalanan, terutama jika pemukiman jelas-jelas terlihat.

“Guru sudah gila!” Sidya langsung menuduh, tepat setelah perutnya agak baikan.

“Persis. Heran kenapa kamu baru sadar. Nah, sekarang, berhenti mengoceh atau teriak-teriak. Kupingku pekak, tahu?” Hikram duduk menekuk kaki dengan susah-payah, napasnya masih tersengal sementara tangan mengambil wadah minuman, kemudian langsung menenggak seperti benar-benar kehausan, sementara Sidya mengingatkan diri agar jangan menjadi seorang pemabuk akut seperti gurunya agar tidak menjadi sama gilanya.

“Sekarang berlatihlah, pasang kuda-kuda lebar—”

“Aku tak mau latihan dulu sebelum guru menjelaskan semuanya! Mengapa kita kabur dari Paman Ambal?”

“Anak kecil tak akan bisa mengerti, jadi biar kujelaskan secara sederhana. Singkatnya, aku dan dia berbeda pendapat, kami berpisah, cerita selesai sudah. Jangan banyak tanya, ya? Sekarang pasang kuda-kuda lebar atau aku akan memerintahkanmu untuk memijat punggungku yang lelah menopang berat badanmu, dasar kau murid tak tahu terima kasih.”

Sidya cemberut, tapi akhirnya menurut juga. Ia menekuk kaki, meluruskan paha. Hikram mengamati Sidya yang memasang lengannya seperti orang mau bertinju saja.

“Oh, sudah diajari memukul oleh Ambal rupanya? Hantaman Baja Pamungkas adalah ilmu yang lumayan, tapi bukannya si Bangsawan Cilik berguru pada Abdi Dewa Arak, bukannya pada Abdi Dewa Pandai Besi? Hmm, kira-kira apalagi yang sudah dia pelajari ya?” Hikram seolah-olah bertanya pada diri sendiri sambil mengetuk-ngetuk pelipis dengan jari, ekspresi wajahnya cukup galak untuk memastikan bahwa muridnya itu tahu bahwa dia sedang menyindir.

Sidya mengerutkan dahi sembari mengawasi gurunya, yang tak mau balas memandangnya. Kemudian, dia mengalah dan menaruh kedua lengannya di punggung. Mau tak mau Sidya merasa bahwa dia tak akan berhenti menahan sikap kuda-kuda melelahkan ini sampai matahari sampai di puncak kepala.

“Tetap begitu sampai matahari tiba di puncak kepala.”

“Bagaimana aku bisa tahu kalau matahari sudah sampai pada puncaknya?”

“Gampang sekali, kalau aku kesilauan saat melihat kepalamu yang tanpa rambut itu, berarti sudah waktunya untuk berhenti pasang kuda-kuda.”

Mulut Sidya komat-kamit entah menahan diri untuk berkata apa, sementara Hikram mendekat untuk membetulkan posisi Sidya. Hikram memaksa punggung Sidya lebih tegak dengan cara mendorong dahinya pelan-pelan agar dia tak terlalu menjorok ke depan, lalu menekankan kakinya sendiri pada paha Sidya saat dilihatnya kuda-kuda terlalu longgar.

Tak seberapa lama Hikram menguap dan mengelus lehernya yang pegal. Selain karena rasa bosan mengingat dia tak pernah mengajar seseorang sebelumnya, badannya juga terasa remuk-redam seperti baru saja dipukuli orang sekampung. Apalagi, botol minumnya kali ini telah ditenggaknya sampai ke dasar. Beberapa saat kemudian, dia pergi dari hadapan Sidya, mulut menggerutu.

Teringat akan kelakuan Ambal yang menurutnya berlebihan serta kurangnya asupan tidur yang didapatkan, Dia mondar-mandir menyalurkan kemarahan dengan cara menyepak batu atau ranting terdekat. Sesekali dia mengerling Sidya, yang masih dalam posisi susah-payah mempertahankan kuda-kuda, dahi dan bagian kepalanya mulai dihiasi keringat. Setelah ditimbang-timbang, tentu tak ada salahnya kalau dia mengalihkan perhatian dari Sidya sebentar saja.

Hikram segera bersila dan memejamkan mata, berdiam diri dengan punggung lurus sembari mengatur napas. Lebih baik dia menghimpun hawa murninya yang memang tengah terkuras daripada buang-buang waktu.

Sidya memandang gurunya setelah beberapa jenak. Tak luput dari perhatiannya bahwa lama-kelamaan kepala gurunya mengangguk pelan, kemudian menyentak dan menegakkan diri lagi. Mengangguk lagi, tersentak lagi masih dengan mata terpejam. Sidya menahan tawa melihat gerakan yang terus berulang-ulang itu; guru pasti sudah tak bisa mengendalikan rasa kantuknya. Dia coba-coba menggerakkan kaki sedikit demi sedikit, Hikram tak bereaksi. Maka dia segera melepas kuda-kuda dan mendekati gurunya.

Tanpa sopan santun Sidya melambai-lambaikan tangan di depan muka Hikram. Masih tak ada reaksi juga. Malahan, gurunya mulai mendengkur pelan, dagunya hampir menempel dengan dada. Sidya menahan diri lagi untuk tidak terkikik, kemudian mengedar pandang.

Dia tak mau kalau disuruh menekuk lutut sampai pegal. Dia mau dilatih beladiri, dan setahunya beladiri diisi dengan adu tinju serta tendangan yang mampu membelah angin sekalipun, bukan dengan diam di tempat dan melebarkan kaki. Sidya mengamati sekitar, memanfaatkan waktu istirahat juga siapa tahu ada hal yang menarik. Matanya seperti menyala begitu melihat sebuah pohon mangga, ciri-ciri daunnya sudah tak diragukan, apalagi diyakinkan dengan beberapa buah yang mengintip di sela-sela beberapa cabang. Dia punya ide bagus, dan pastinya tak ada hubungannya dengan latihan menguatkan kuda-kuda yang sangat membosankan.

Sidya berlari mendekati pohon itu, beberapa buah yang cukup masak siap untuk dimakan oleh siapa saja yang mampu mencapainya. Terpikir olehnya untuk mengambilkan beberapa untuk guru, semacam suap kecil agar dia maklum bahwa Sidya melepas kuda-kuda bukan karena bermain, tapi untuk mengambilkannya mangga.

Tapi, bagaimana caranya? Terpikir untuk memanjat, tapi gagasan bodoh itu segera disingkirkannya. Dulu waktu masih di istana, dia nangkring di dahan paling rendah saja sudah lusinan orang yang memohonnya untuk segera turun. Walhasil, Sidya tak bisa memanjat pohon sampai sekarang. 

Sidya masih punya cara lain. Bukankah dia memang ingin belajar menggunakan kedua tangannya untuk berkelahi? Maka, Ia menyiapkan tinjunya, lalu tanpa basa-basi memukul batang pohon.

Aduh! Sidya menarik lalu mengibas-ngibaskan tangannya, buku-buku jarinya yang merah dielusnya karena sakit luar biasa. Dikiranya dengan pukulan dia sudah bisa membuat pohon ini bergetar, tapi sekali lagi dia diingatkan bahwa kungkungannya di istana telah membuatnya lupa akan banyak hal-hal mendasar, seperti jangan memukul pohon dengan tinjumu karena itu merupakan hal yang sia-sia, misalnya.

Tapi, bukan Sidya namanya kalau gampang menyerah. Dia menggoyang-goyang pohon itu, tapi tenaganya tak cukup, pohon itu bahkan tak bergoyang sama sekali, dan buah mangga yang jauh diluar jangkauannya bergerak ke kiri dan kanan dimainkan angin yang berhembus seolah-olah menggodanya. Dia mengertakkan gigi karena frustasi. Bagaimana, ya?

Sidya mengepalkan tangannya yang berkeringat sekali lagi begitu teringat bahwa dia telah belajar tentang hawa murni. Benar juga, seperti yang dilakukannya pada lengan si penyamun, sampai sendi dan tulang yang seharusnya cukup teguh pun jadi tergeser hanya dengan satu hantaman. Sidya cukup yakin dia bisa mengulang hal itu lagi sekarang. Dia berkonsentrasi, mengingat-ingat apa-apa saja yang dirasakannya tepat sebelum menghajar penyamun itu. Hatinya girang saat merasakan hawa hangat menguasai tangannya, menebal, terus menebal, Sidya bisa merasakan hawa murni memadat, pikirannya memusatkan semua itu pada ujung buku-buku jari … kemudian tanpa tunggu lama, dia memukulkan tangannya sekuat tenaga pada batang pohon.

--

Hikram tersentak dari tidur-tidur ayamnya, kemudian mengusapi air liurnya yang mau turun dari sudut bibir. Sembari bangkit dan menyesali sifat teledor, matanya mencari-cari Sidya, dan menemukannya meluruskan kaki dengan punggung bersandar, enak-enakan mengipasi diri dengan mustika milik Apit yang dipegangnya dengan tangan kiri, sambil berteduh di bawah naungan pohon.

“Hei, bocah botak! Kau itu paham makna dari kata “latihan” tidak?! Kalau aku belum menyuruhmu berhenti, jangan berhenti!”

Sidya menunjukkan tangan kanannya yang gemetaran. Darah segar menetes-netes, kulitnya yang dulu halus kini mengalami sobek-sobek yang cukup parah.

“Hal sialan apa yang kau lakukan pada tanganmu?!”

Hikram bergegas mendatanginya, memeriksa buku-buku jarinya. Benar saja, kulitnya terbuka dan meneteskan darah yang tak henti-henti, Hikram mengernyit saat melihat kerusakan yang cukup dalam, kurang sedikit lagi akan kelihatan tulang. Dia memang ingin merombak halusnya tangan Sidya, tapi bukan begini juga caranya. Setelah mengamati sekitar dengan seksama, rupanya pohon yang ditempati Sidya bukan hanya digunakan sebagai tempat bersandar, melainkan juga dimanfaatkan sebagai semacam sasaran latihan. Hikram bisa tahu, karena tepat di atas kepala anak itu, badan pohon kini agak melesak susunan kulitnya, sementara ada bekas berbentuk tinju berukuran kecil dengan noda merah di situ. Pasti si bocah juga dengan sembarangan memukul sembari mengalirkan hawa murni, hingga pohon sebegini kuat bisa dibuatnya blangsak.

Hikram menahan napasnya, berkonsentrasi sejenak untuk menghidupkan indranya yang lain selain kelima indra yang biasa gunakannya. Ia bisa merasakan samar-samar ada sesuatu yang sejuk masih mengalir bebas dari diri Sidya. Astaga, kalau dicari persamaannya, ini bukan hembusan biasa.

Ini badai yang sangat besar. Orang dewasa normal dengan luka seperti ini, apalagi jika tak terbiasa akan pingsan, minimal gemetaran, tapi si bocah masih mampu menjaga kesadaran. Dia bahkan tidak menangis, semua karena hawa murninya masih membanjir!

“Badanmu pasti terasa panas,” Hikram berkomentar sembari mengalirkan hawa murninya sendiri pada tangan Sidya untuk meredam rasa sakit serta mempercepat penutupan luka, walau dia akui bahwa Apit memang lebih piawai dalam hal seperti ini mengingat Gelarnya sebagai Penyembuh Hijau. Hikram merobek sedikit ujung kain pakaiannya, yang segera ia bersihkan dari noda.

“Bagaimana guru tahu?” tanya Sidya sambil mengatur napasnya yang terengah-engah karena menahan rasa perih. Tubuhnya memang terasa panas sekali, hingga dia memanfaatkan kipas untuk mengusir kegerahan.

“Udara sebenarnya sedang dingin. Sudah dekat musim dingin, bukan?” Hikram menjawab enteng. “Hawa murni yang masih kau salurkan akan berusaha menyeimbangkan suhu tubuhmu dengan keadaan sekitar. Sangat berguna untuk mengusir udara yang tak mengenakkan.”

 “Dan ini akan terasa sangat sakit,” Hikram menambahkan setelah mengamati lukanya baik-baik, dia berkata begitu sembari mengeluarkan botol minumnya.

“B-bukannya alkohol dalam minuman kurang kuat untuk membersihkan luka—”

Hikram memberinya sedikit tawa. “Kau kira Dewa Arak Kolong Langit minum-minuman dengan tingkat alkohol rendah? kau meremehkanku, Nak.”

Benar juga, mengingat gurunya Wakil Dewa Arak, bisa jadi dia dianugerahi ginjal besi sekalian akibat kebiasaan minumnya yang sangat keras dan melampaui batas. Maka Sidya mengangguk, sementara Hikram menawarkan telunjuknya untuk digigit oleh Sidya.

Begitu Hikram menuangkan seluruh sisa minumannya pada luka, mata Sidya seolah menatap dunia yang dipenuhi dengan warna merah untuk sementara, rasa sakitnya luar biasa. Sidya menggigit telunjuk Hikram keras-keras sampai Hikram merasa bahwa setelah ini telunjuknya harus ikut dirawat juga. 

Setelah selesai, dibebatkannya kain itu di tangan Sidya yang masih kewalahan mengatur napas. Ia perlu menutup pendarahan yang sepertinya masih akan terus mengalir jika dibiarkan ini.

“Kau memang mengalirkan hawa murni semudah sungai mengalirkan airnya. Aku tahu bahwa hawa murnimu melimpah, tapi jangan membuang-buangnya secara bebas. Lihatlah apa yang terjadi jika kau mengalirkannya tanpa kendali. Pukulanmu memang akan lebih keras, dorongannya menjadi lebih cepat, ya semua itu benar. Tapi lihatlah, badanmu tak akan sanggup menanggung.”

 Setelah memastikan perbannya terpasang dengan baik, Hikram memegangi lengan atas Sidya, kemudian memijit perlahan. Dia tidak kaget saat merasakan bahwa lengan atas Sidya memang sedang bengkak, pastinya keseleo karena tertarik oleh gerakan yang terlampau mendadak. Ia tertawa sembari menepuk dahi, lupa kalau tadi sudah marah-marah.

“Bocah nekat. Sudah kubilang belum saatnya latihan memukul, bukan?”

“Nekat seperti gurunya,” balas Sidya, masih ingat omongan Ambal yang ditujukan pada Hikram kemarin hari.

Hikram makin gencar tertawa. “seperti gurunya, benar! Kalau begitu kau harus sama sepertiku, yang mau belajar dari kesalahan-kesalahanku. Tahukah kau apa kesalahanmu hari ini?”

Sidya menghela napasnya yang bergetar, kepalanya pening, pandangannya menggelap, dan sialnya dia mendapat firasat buruk bahwa Hikram akan menjatuhkan hukuman setelah ini, tak peduli dengan luka-luka yang telah dideritanya. “Aku tidak mematuhi perintah guru, berlatih menggunakan pukulan sebelum waktunya, dan ceroboh dalam mengalirkan hawa murni.”

Hikram berdiri menjulang, mendadak nampak sangat tinggi pada Sidya yang memang sedang duduk meringkuk.

“Kau benar-benar ingin belajar memukul, ya?”

Bergegas dihapusnya air mata yang mau jatuh akibat rasa sakit yang masih menghujam, diperparah oleh tekanan perban. Wajahnya pucat, tapi sekali lagi Hikram harus mengakui kekeraskepalaannya karena masih bisa-bisanya dia menganggukkan kepala, seolah ingin menyakinkan Hikram bahwa dia memang siap.

Mendadak, Hikram mundur sekian langkah, kemudian mendemonstrasikan sejumlah gerakan. Pertama, ia menjura. Kemudian, dia membuka kuda-kuda, kedua sisi lengannya menempel di pinggang, tinjunya menempel dalam posisi terbalik sehingga kepalan jarinya kelihatan jika diawasi dari atas.

Ia memukulkan tinju kanannya ke udara, sangat lurus dengan bahu, kemudian menariknya dalam posisi semula sebelum memukulkan tinju kiri dengan gerakan yang sama sempurnanya. Sesaat kemudian ia membuka telapak kanan, membuat gerakan seperti mengusir nyamuk ke kiri, menarik telapaknya kembali ke posisi semula, kemudian melakukan hal yang sama dengan telapak kirinya. Ia mengakhiri rangkaian gerak dengan tepukan kedua tangannya, yang lurus dengan wajahnya.

Ia kemudian meluruskan diri setelah menjura.

“Sudah hapal?”

“Apa yang guru lakukan? Apa itu jurus beladiri?”

Hikram menggeleng mendengar nada muridnya yang meragu. “Kau tak percaya bahwa gerakan yang telah kutunjukkan ini adalah salah satu jurus andalanku? Baiklah, setelah tanganmu sehat, lari keliling sepuluh kali—”

“Tidak, Guru! Aku percaya kok!” Sidya mengangguk-anggukkan kepala kuat-kuat, sebagian untuk menunjukkan pengakuannya, sebagian lagi agar ancaman “lari keliling sepuluh kali” pergi jauh-jauh. Meski begitu, dia tetap tak tahan untuk tidak menambahkan dengan suara rendah, “aku hanya sedikit heran … mengapa guru terlihat seperti menepuk lalat dengan sedikit gaya saja dan bukan sedang menunjukkan jurus?”

Diluar dugaan, Hikram mengawasi Sidya dengan wajah girang yang sangat aneh, kemudian menjentikkan jari. “Jurus yang ampuh malah biasanya sederhana. Dan lihatlah, kamu menemukan nama yang bagus. Menurut kawan baikku, kemampuan menamai jurus adalah sebagian dari inti beladiri … atau hal-hal semacam itu. Entahlah, ocehan Rah Ayu memang terlalu susah untuk diingat. Menepuk Lalat Dengan Bergaya, haha, kita pakai nama itu sekarang! Kau hapalkan jurus itu kalau kau memang bersikeras belajar menggunakan kedua tanganmu.”

“Lalu kenapa tak ada tendangan dalam gerakannya?”

“Karena aku mau melatih kuda-kudamu sekalian. Aku menang, kau menang. Jangan membantah lagi.” Hikram kembali galak seperti biasanya, kemudian meraih wadah minum yang ada disabuknya dan menempelkan bibir pada ujungnya. Sejenak kemudian dia menggerutu begitu teringat bahwa persediaan minumnya telah kandas.

Sidya tertatih, memaksakan diri untuk bangkit dan mulai mencoba melatih Menepuk Lalat Dengan Bergaya-nya, seolah tak ada luka ditangannya dan benjolan di lengannya bukanlah apa-apa, sementara Hikram menjilat bibir, membayangkan sedang minum minuman dingin di sebuah kedai pinggir tebing yang berhawa sejuk.

“Ulanglah gerakanmu sampai hapal. Sekuatmu, aku tak mau dibikin repot kalau kau sampai pingsan.”

“Baik, guru,” Sidya berkata, sementara badannya mempraktekkan jurus yang Hikram ajari dengan sama persis, meskipun tubuh bagian kanannya lambat sekali pergerakannya.

Hikram tertawa dalam hati. Dia langsung menunjukkan jurus semata karena bocah keras kepala ini benar-benar tak bisa disetir dengan mudah, sekaligus untuk mengalihkan perhatiannya dari luka. Maka dari itu, Hikram cepat mengarang gerakan. Walau memang ada akarnya pada jurus tinjunya yang asli, yang dominan memanfaatkan telapak tangan daripada kepalan, rangkai gerak tadi belum ada apa-apanya. Maka dari itu, dia setuju saja saat Sidya memberi nama yang cukup ngawur. Ya, Hikram akan membiarkannya terus melatih jurus karangan itu setidaknya sampai kuda-kuda si bocah tak akan bisa digeser bahkan oleh pengawal istana sekalipun!

--