Episode 51 - Kala Mega kian Mendung di Mega Mendung (3)



Kuntala dan Lokajaya langsung merasakan efek dari serangan Ajian Hitut Semarnya Galuh, kepala mereka langsung terasa pusing, tubuhnya lemas dan nafasnya sesak. Belum mereka dapat menguasai diri untuk menghalau racun gas beracun tersebut, tiba-tiba… Crassshhh! Aaaaaa! 

Jerit Kuntala setinggi langit ketika bahunya terluka cukup dalam dan mengeluarkan banyak darah terkena cakaran Galuh yang mengandung racun belerang, dia segera melompat kebelakang untuk menotok lukanya dan alirkan tenaga dalamnya! Terkejutlah Lokaja, ia langsung melompat tinggi. Keris di tangannya dan kedua kakinya menyerang susul menyusul menderu ke arah Galuh Parwati!

Tubuh Galuh berkelebat laksana angin topan, kedua kakinya menendang susul menyusul. Desh! Desh! Lokajaya roboh sambil muntah darah oleh tendangan Galuh! Lokajaya dan Kuntala terkejut karena ternyata kesaktian Galuh benar-benar hebat bahkan diatas kemampuan mereka berdua! 

Namun mereka adalah prajurit sejati yang pantang menyerah, mereka berdua bangkit dan kembali menyerang Galuh dengan segala kemampuan terbaik mereka, Galuh melompat ketas, dua larik angin topan prahara yang amat dahsyat menderu menerjang mereka dalam Pukulan “Badai Laut Kidul” yang dilepaskan oleh Galuh!

Lokajaya yang ilmu kanuragannya setingkat diatas Kuntala buru-buru melompat keatas menghindari pukulan maut itu, tapi kawannya tidak sempat menghindar dan... Bummmm!!! Suara dentuman dahsyat menggelegar ketika tubuh Kuntala kena hantam gelombang pusaran angin topan sedahsyat topan prahara yang merupakan angin Pukulan “Badai Laut Kidul” yang dilepaskan oleh Galuh, tubuh Kuntala mencelat kebelakang dan menabrak pohon besar hingga pohon itu roboh! Perwira Mega Mendung itu tewas dengan seluruh tulang di tubuhnya hancur remuk!

Bukan main geramnya Lokajaya mendapati kematian kawannya, maka dengan dibakar api dendam ia pun bertindak nekad untuk mengadu jiwa dengan Galuh Parwati! “Setan Alas! Gadis bau sundal! Sekarang Aku hendak mengadu nyawa denganmu setan!” tantangnya, ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, udara disekitarnya bergetar menghamparkan hawa panas! Ia bersiap mengeluarkan ajian pukulan “Tangan Api”nya yang terkenal dahsyat itu.

Galuh pun tak tinggal diam, ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi dan memusatkan tenaga dalam dan hawa panas tubuhnya, tangannya memancarkan cahaya dan asap putih serta mengeluarkan bau kawah belerang yang amat sangat menusuk hidung, hawa disekitarnya menjadi sangat panas, ia pun melepaskan pukulan pamungkasnya, yang tak lain adalah pukulan “Kawah Tunggul”! Satu Bola Api sebesar buah Kelapa menderu menerjang Galuh!

Lokajaya berteriak menggeledek, tangan kanannya dipukulkan ke depan, satu bola api berwarna merah membara menerjang ke arah Galuh! Galuh pun mendorongkan tangan kanannya kedepan, satu sinar putih disertai gelombang pusaran angin panas dan asap putih berbau belerang yang amat sangat busuk menusuk hidung menerjang memapasi bola api pukulan Lokajaya! BLARRRRRR!!!!! 

Suara ledakan menggetarkan bumi di tempat itu, langit bagaikan robek oleh suara ledakan beradunya kedua pukulan sakti inti api tersebut! Galuh terpapah lima langkah kebelakang, dadanya terasa sakit, jantungnya berdegup amat kencang, dan nafasnya sesak, kembali darah mengalir dari sela-sela mulutnya, sementara Lokajaya jatuh berguling-guling dengan seluruh tubuh menghitam oleh jelaga, tubuhnya mengepulkan asap putih berbau belerang! Dia lalu bangkit sebentar sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya, beberapa detik kemudian ambruklah ia dengan tubuh yang tak berkutik lagi!

Melihat kedua abdinya tewas terbunuh oleh Galuh, marahlah Pangeran Dharmadipa! Rajah Cakra Bisma di keningnya merah menyala bercahaya, dan biji matanya yang seolah menyala-menyala oleh pancaran api kemarahan melotot hampir keluar karena luapan amarah itu! Di samping marah dia juga terkejut karena tidak menyangka bahwa gadis bertampang tolol yang wajah dan sekujur tubuhnya dipenuhi debu dan kotoran serta tubuhnya mengeluarkan bau menyengat tak sedap itu berkepandaian sedemikian tingginya! 

Dengan langkah-langkah besar Pangeran Dharmadipa maju ke hadapan Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul! “Budak anjing hina dina!” bentaknya, “Kau telah membunuh dua orang perwira tinggi Mega Mendung, itu artinya sama saja dengan kau hendak melakukan makar! Hukumannya adalah mati!”

“Tunggu Kakang Dharmadipa!” Jaya melangkah menengahi Dharmadipa dan Galuh yang sedang menghimpun kembali tenaga dalamnya setelah mengalami luka dalam yang cukup parah, “Kakang, gadis ini hanya mempertahankan dirinya, ia membunuh mereka karena terpaksa, harap dimaklumi Kakang!” pinta Jaya.

“Dasar Blegug! Dia membunuh mereka karena menghalangi aku untuk membunuhmu! Tak usah bersilat lidah lagi, aku Pangeran dari Mega Mendung, setiap ucapanku adalah sabda di seluruh bumi Mega Mendung!” hardik Dharmadipa. (Blegug/bleguk = Bego / Dungu)

Jaya menghela nafas, ia tahu sangat percuma untuk berdebat dengan Dharmadipa apalagi saat ia dalam keadaan murka demikian, tapi ia masih berusaha bersabar untuk menghindari bentrokan kekerasan dengan Dharmadipa sebab bagaimanapun selain Dharmadipa adalah saudara seperguruan dan anak angkat gurunya, Dharmadipa juga adalah suami adiknya Mega Sari atau adik iparnya sendiri.

“Kakang, sebenarnya antara kita tak ada permusuhan, tak ada silang sengketa. Bahkan urusan tempo hari di lembah akhirat sudah aku lupakan, sudah aku ikhlaskan, dan soal tahta di Mega Mendung, aku tidak tertarik barang sedikitpun untuk mendudukinya, aku hanya ingin menjadi seorang pengembara yang bisa hidup sebebas awan di langit, Kakang bisa menjadi seorang Raja seperti yang Kakang inginkan selama ini tanpa perlu takut aku akan menganggu Kakang! Kalau tak ada hujan masakan ada geledek bukan?”


“Tak perlu bersilat lidah lagi!” tukas Dharmadipa. Begitu menutup mulutnya, Dharmadipa menggembor dan menerjang ke muka. Mau tak mau Jaya pun terpaksa meladeninya untuk mempertahankan dirinya. Dalam sekejap saja kedua orang ini sudah terlibat dalam satu pertempuran dahsyat. 

Jaya masih berusaha bersabar tidak meladeni serangan-serangan Dharmadipa yang langsung menyasar ke bagian tubuh Jaya yang mematikan, pemuda murid Kyai Supit Pramana ini lebih banyak menghindar dan menangkis tanpa balas menyerang, “Hentikan! Ini sungguh tak ada gunanya!” bentak Jaya.

“Akulah satu-satunya Putra Mahkota Mega Mendung yang sebenarnya! Akulah yang akan menjadi Raja!” geram Dharmadipa tanpa mempedulikan ucapan Jaya, matanya melotot menatap lurus tajam pada Jaya, tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya membentuk cakar yang amat kokoh, dari mulutnya terdengar suara erangan bagaikan suara harimau.

Jaya yang segera mengenali jurus itu langsung berhati-hati, “Jurus Harimau Gunung! Nampaknya ia benar-benar ingin mengakhiri hidupku!” pikir Jaya, kini ia terpaksa harus meladeni Dharmadipa dengan serius karena jurus Harimau Gunung adalah salah satu jurus terdahsyat yang diturunkan Kyai Pamenang pada Dharmadipa, Jaya sendiri pun tidak mewarisi jurus tersebut dari ayah angkat Dharmadipa tersebut.

Ia pun membuka jurus “Kilat Ditengah Badai” yang ditirunkan oleh Kyai Supit Pramana, Jaya sengaja tidak menggunakan ilmu kesaktian yang ia dapatkan dari padepokan Sirna Raga untuk menghormati Kyai Pamenang dalam konflik saudara seperguruan ini, ia hanya akan menggunakan ilmu yng ia dapatkan dari Kyai Supit Pramana.

Dharmadipa menerjang sambil mengaum bagaikan harimau yang menerkam mangsanya. Gerakan Dharmadipa hebat sekali, tubuhnya lenyap, hanya bayangan sinar emas jubah perangnya saja yang kelihatan menelikung mengurung tubuh Pendekar Dari Lembah Akhirat! Di lain pihak begitu diserang lawan, Jaya segera maklum bahwa tenaga dalam, ilmu silat ,dan kesaktian kakak seperguruannya ini lebih tinggi daripada 3 tahun yang lalu, saat terakhir mereka bentrok di Lembah Akhirat, karenanya dengan berhati-hati Jaya melayani lawannya ini.

Sambil terus menyerang Jaya, Dharmadipa terus memperhatikan gerakan-gerakan Jaya yang aneh dan serba asing dimatanya. “Gerakannya sangat enteng bagaikan semilir angin namun mengandung tenaga dalam yang luar biasa! Jelas ini bukan ilmu silat dari aliran Padepokan Sirna Raga! Bukan jurus-jurus yang diturunkan ayahku padanya!” tebak Dharmadipa.

“Jadi kaupun memiliki jurus yang kau dapat dari orang lain selain Kyai Guru? Bagus! Keluarkan semuanya agar kau tahu semua itu percuma untuk menghadapi aku!” ejek Dharmadipa ketika mendapati Jaya mulai balas menyerang. 

Dalam tempo yang singkat sepuluh jurus sudah berlalu! Dharmadipa membentak nyaring dan tukar permainan silatnya dengan jurus-jurus yang disebut “Harimau Melompati Jurang”. Jaya segera robah jurusnya untuk mengimbangi serangan-serangan Dharmadipa dan memperbanyak menyerang dengan jurus “Hujan Turun Ke Bumi”.

Dharmadipa terkejut ketika mendapati Jaya balas memperbanyak serangannya, apalagi lima jurus kemudian ia kena didesak dengan hebat oleh Jaya dengan serangan-serangannya yang aneh dan datang laksana curah hujan yang datang dari berbagai penjuru. Penasaran, Dharmadipa melompat mudur, ia segera mengeluarkan “Ajian Liman Sewu”, tenaganya kini bagaikan seekor gajah perkasa, seluruh tubuhnya atos dan kebal, setiap langkahnya menggetarkan tempat disekitarnya dan setiap gerakannya menimbulkan angin ribut! 

Jaya meladeni dengan tenang dan lebih mengandalkan kecepatan gerak tubuhnya, Dharmadipa pun menjadi murka karena setiap serangannya menemui tempat kosong, ia pun mencabut satu pohon raksasa dan melemparkannya pada Jaya, Jaya segera keluarkan pukulan “Badai Mendorong Bukit”! Pusaran gelombang badai topan prahara yang teramat dahsyat menggebu mendera pohon raksasa yang dilemparkan oleh Dharmadipa, Blarrr!!! Pohon raksasa itu hancur berantakan terkena pukulan Jaya.

Belum habis keterkejutan Dharmadipa yang mendapati pukulan Jaya dapat dengan mudah menghancurkan pohon raksasa yang telah dialiri tenaga dalamnya, sekonyong-konyong satu pusaran gelombang badai topan prahara yang teramat dahsyat menggebu menerjang ke tubuhnya, dengan tenaga dalam penuh Dharmadipa melontarkan pukulan dalam ajian Liman Sewunya, Duaarrrr!!! Suara dentuman keras terdengar, langit bagaikan robek, bumi yang mereka pijak bergetar hebat, ketika kedua pukulan sakti mengandung tenaga dalam dahsyat itu beradu di udara.

Dharmadipa jatuh terjengkang lalu berguling-guling kebelakang, ketika ia bangun mulutnya terasa asin akibat cairan merah kental yang mengalir keluar dari mulutnya, tanda ia terluka dalam cukup parah, sementara Jaya masih berdiri di tempatnya tak kurang satu apapun, tanda tenaga dalamnya jauh lebih unggul daripada Dharmadipa!

“Setan Alas!” maki Dharmadipa.

“Kakang sebaiknya kita sudahi bentrokan tidak berguna ini, Kakang adalah Putra Mahkota Mega Mendung yang sah, Kakang boleh berbuat semaunya di Mega Mendung ini, aku dan dan gadis itu sudah memutuskan untuk pergi mengembara ke negeri lain! Kakang tetap bisa menjadi Putra Mahkota dan jadi penerus Prabu Kertapati tanpa takut terusik olehku!” ujar Jaya yang coba menawarkan solusi untuk menghentikan bentrokan yang tidak dikehendakinya ini.

Tapi mana mau Dharmadipa yang angkuh dan berharga diri tinggi ini mengakui kekalahannya begitu saja, di masa lalu ia belum penah kalah oleh siapapun juga kecuali oleh gurunya sekaligus ayah angkatnya sendiri yakni Kyai Pamenang. Dulu ia selalu bisa mengalahkan Jaya dalam setiap latihan maupun saat bentrokan di Lembah Akhirat.

Kini Jaya Laksana atau yang dulu bernama Jaka Lelana itu dapat mengalahkannya dengan mudah, terlukalah hati Pangeran yang angkuh dan berangasan ini, ia pun menjadi nekat, “Kurang ajar! Jangan sombong kau!” makinya sambil meraih Keris Pusaka Naga Putihnya dari balik pinggangnya.

Jaya agak gentar juga melihat senjata mustika yang memancarkan cahaya putih serta menghamparkan hawa dingin tersebut, “Kakang benar-benar ingin membunuhku? Kenapa Kakang begitu keras kepala padahal aku tidak menginginkan kedudukan sebagai putra mahkota Mega Mendung?”

Dharmadipa ganda tertawa, “Hahaha rupanya kau jerih melihat Keris Pusaka Naga Putih warisan keluarga Parakan Muncang ini? Hahaha aku tetap bersikeras membunuhmu karena...” Dharmadipa pun menerjang dengan kecepatan yang hebat mengirimkan satu tusukan ke arah dada Jaya Laksana! “Akulah satu-satunya Putra Mahkota Mega Mendung yang sah!” pungkasnya.

Jaya terkejut karena ternyata Dharmadipa masih dapat bergerak dengan kecepatan yang hebat sedemikian rupa, dalam sekejap tubuh Jaya dikurung oleh sinar putih berhawa dingin yang bergulung-gulung yang keluar dari Keris Pusaka Naga Putih Dharmadipa. Jaya langsung mengira bahwa senjata mustika itu memberikan satu kekuatan besar bagi menggengamnya. 

Dalam pada itu, detik demi detik kekuatan tubuh Jaya semakin mengendur sedang setiap serangannya senantiasa terbendung oleh lingkaran sinar putih! Breet! Jaya merasa dadanya laksana dipalu! Dia melompat mundur. Parasnya berubah. Pakaian biru di bagian dadanya robek besar. Belum sempat dia berbuat sesuatu apa, tiba-tiba Dharmadipa sudah menyerangnya lagi.

Wuuussss! Sabetan itu menderu lagi dengan hebatnya. Dua tiga kali Jaya lepaskan pukulan yang mengandung tenaga dalam hebat tapi senjata sakti di tangan lawan benar-benar mematikan dan membuyarkan pukulan-pukulan tangguhnya itu. Jaya mulai memaki-maki dalam hati. Jaya lalu mengerahkan tenaga dalamnya dialirkan kedalam cincin di jari manisnya, cincin itu memancarkan cahaya biru menggidikan yang teramat terang. “Cincin Kalimasada, segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Allah, kau hanyalah alat bantu dan diriku hanyalah lantaran!” bathin Jaya.


Ia pun segera mengeluarkan “Ajian Tujuh Langkah Malaikat” untuk menghindari serangan-serangan Dharmadipa yang datangnya bagaikan curah hujan itu, tubuhnya bergerak kian kemari dalam kecepatan fantastis bagaikan meteor, saking cepatnya hingga tubuhnya hanya menyisakan bayangan-bayangan saja! Nampaklah tujuh bayangannya dalam setiap tujuh langkahnya!

Kini giliran Dharmadipa yang mengeluh dalam hati karena setiap serangannya tidak ada yang berhasil mengenai sasarannya, bahkan ia dibuat bingung dengan ketujuh bayangan Jaya, malah ia mulai terdesak ketika setiap kali Jaya mengirimkan serangan padanya, beberapa pukulan dan tendangan Jaya bersarang telak di tubuh Dharmadipa tanpa sanggup ia tangkis atau hindari. Seandainya ia dapat berpikir jernih dan tidak diliputi hawa amarah yang meluap-luap, ia pasti menyadari kalau kesaktian Jaya jauh berada diatasnya!

Jaya tidak ingin membunuh saudara seperguruannya, namun serangan-serangan Dharmadipa yang beringas memaksanya untuk bertindak lebih jauh. Maka pada satu saat terdengar suara gelegar halilintar, Dharmadipa melihat tangan kanan Jaya memercikan cahaya lembayung, ternyata Jaya mengeluarkan Pukulan “Sang Surya Tenggelam”, satu sinar lembayung besar yang memancarkan hawa yang teramat panas menderu menyambar Dharmadipa!

Dharmadipa segera lipat gandakan tenaga dalamnya, dari Keris Pusaka Naga Putih keluar sinar putih memapasi pukulan sinar lembayung Jaya, dari tangan kirinya ia menembakan pukulan “Sirna Raga”, sinar putih berwhawa dingin dan lidah api yang disertai pusaran gelombang angin panas menderu memapasi sinar lembayung pukulan Sang Surya Tenggelam yang dilepaskan Jaya... 

Duaarrrrr!!! Kembali satu ledakan dahsyat terjadi, Dharmadipa jatuh berguling-guling sambil muntah darah, Keris pusakanya mental dari gengaman tangannya, dadanya remuk, beberapa bagian tubuhnya hangus terbakar dan menghitam oleh Jelaga. Dharmadipa tidak sanggup untuk berdiri lagi, ia terus terbatuk-batuk mengeluarkan darah, ia mengalami luka luar dalam yang sangat parah! 

Pada saat itu terdengar suara kereta kuda yang dipacu dengan cepat menuju ke tempat itu. Jaya menoleh, ia melihat satu kereta hitam yang ditarik dengan dua ekor kuda yang juga berwarna hitam tiba di sana, dari dalamnya turunlah Dewi Nawangkasih dan Putri Mega Sari, mereka langsung berlari menghampiri Dharmadipa yang terluka parah, Mega Sari langsung menotok beberapa bagian tubuh Dharmadipa dan mengalirkan tenaga dalamnya sambil menangis, Dewi Nawangkasih hanya bisa menangis sambil jatuh berlutut karena tidak tahu harus berkata apa.

“Kakang… oh…” Rintih Mega Sari yang menangis mendapati keadaan suaminya yang terluka sangat parah seraya terus mengalirkan tenaga dalamnya.

Dharmadipa meringis menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, rajah cakra bisma di keningnya menghilang seketika itu juga, ia lalu menggeliat dan menatap wajah istrinya yang sedang mengalirkan tenaga dalam pada dirinya dengan sayu. “Mega… Ma… Maafkan aku…”

Mega Sari menggeleng dengan wajah tersenyum lembut, pancaran matanya memancarkan ketulusan cinta yang teramat sangat kepada suaminya. “Sudahlah Kakang… Kakang jangan banyak bergerak dulu…”

Gelora rasa penyesalan didalam dada Dharmadipa kontan menyeruak saat itu juga, hatinya terasa sangat sakit saat mendapati tatapan mata Mega Sari yang begitu tulus kepada dirinya, teringatlah ia pada sikapnya selama beberapa hari yang selalu mengasari istrinya tersebut. Teringatlah ia pada rasa cintanya yang begitu besar kepada istrinya ini. “Is… Istriku… Aku… Menyesal sudah berbuat kasar padamu… Maafkan aku…” Mega Sari hanya mengangguk dengan seulas senyum manis di wajahnya, sorot matanya menatap meneduhkan hati Dharmadipa, kini ia pun baru menyadari bahwa sesungguhnya ia memang sangat mencintai suaminya ini, pria yang selalu ada untuknya dan selalu melindunginya dari segala macam hal yang tidak ia perkenankan. Dengan lembut ia memeluk suaminya yang terluka teramat parah tersebut.

Beberapa saat suasana menjadi hening, Galuh yang sudah agak baikan dari luka dalamnya menghampiri Jaya dan memberikan isyarat pada calon suaminya itu untuk menyapa ibu sera adiknya tersebut. Jaya lalu menatap Dewi Nawangkasih yang sedang menangis dan Mega Sari serta Dharmadipa bergantian, ia pun menghela nafas berat, “Ibu... Mega Sari... Maafkan aku, aku terpaksa melakukannya, untuk melindungi diri…” ucap Jaya pelan.

Mega Sari menangguk pelan sambil tetap memeluk Dharmadipa, “Aku paham Kakang... Aku tahu semuanya…”

Jaya lalu menatap ibunya yang sedang menangis sambil menatapnya, ia lalu berjongkok dihadapan ibunya, “Ibu... Maafkan saya, saya tidak pernah mempunyai maksud untuk merusak kebahagiaan kalian semua…”

Dewi Nawangkasih mengangkat kepalanya dan menatap Jaya, kemudian ia memeluk putra sulungnya tersebut dengan sangat erat! “Kamu tidak perlu meminta maaf anakku, aku dan ayahmulah yang bersalah, kamilah yang berdosa besar padamu karena membuangmu dan membuat hidupmu menderita! Kami yang bersalah...” ratap Dewi Nawangkasih, Jaya pun balas memeluknya, mereka saling berpelukan untuk beberapa saat.

Setelah saling berpelukan, Jaya pun teringat akan sesuatu, ia melirik pada Galuh, “Ibu, mohon maaf kalau waktunya tidak tepat untuk mengatakan ini... Perkenalkan, ini gadis yang saya pilih untuk menjadi pendamping hidup saya, ia adalah putra dari almarhum Raden Margoloyo Adipati Tegal dan Putri Sekar Ningrum dari Cadas Ngampar, namanya Galuh Parwati.”

Dewi Nawangkasih menatap Galuh, Galuh pun menjura hormat pada Dewi Nawangkasih, “Kamu cantik sekali… Pantaslah anakku memilihmu untuk menjadi pendamping hidupnya,,,” ucap Dewi Nawangkasih sambil tersenyum pada Galuh.

Saat itu terdengar lagi suara derap lari kuda yang dipacu dengan cepat, semua yang ada di sana kecuali Dharmadipa yang sedang terluka sangat parah, melihat ke arah datangnya suara derap lari kuda itu, melototlah mata Dewi Nawang Kasih saking kagetnya melihat siapa penunggang kuda itu, wajahnya pucat pasi ketakutan bagaikan melihat hantu, “Kanda Prabu!” desisnya.

Penunggang kuda itu memang Prabu Kertapati adanya, ia menghentikan kudanya dan menatap tajam pada Jaya Laksana, dengan angker ia melangkah turun dari atas kudanya. Dewi Nawang Kasih menatap tak berkesip pada suaminya, nalurinya sebagai seorang Ibu langsung berkata untuk melindungi Jaya. Dari balik pakaiannya, Dewi Nawang Kasih mengeluarkan sebilah Keris emas berukuran kecil, dia lalu menghadang Prabu Kertapati sambil menodongkan kerisnya. 

Prabu Kertapati tidak mempedulikannya, terus melangkah dengan angker menghampiri Jaya, “Jangan! Kanda ia adalah putra sulung kita! Kanda tidak boleh membunuhnya!” jerit Dewi Nawangkasih.

Prabu Kertapati menghentikan langkahnya, ia menatap tajam pada istrinya, “Anak ini akan membawa malapetaka pada Mega Mendung!” ucapnya dengan suara dalam.

“Tidak! Kakang sudah gila kalau percaya pada kata-kata pertapa sesat seperti si Topeng Setan! Kakang sudah tidak waras hendak membunuh anak kandungnya sendiri!” jerit Dewi Nawangkasih.

Tiba-tiba Prabu Kertapati mengangkat tangannya, satu larik angin berwarna merah menyambar tubuh sang Dewi! Deshhh!!! Tubuh Dewi Nawangkasih mental lalu jatuh terguling-guling akibat pukulan sakti suaminya sendiri. Dewi Nawang Kasih menggeliat kesakitan sambil muntah darah, kemudian ia berusaha bangkit dan menggapai Jaya, namun ia langsung terkulai lemas untuk akhirnya tidak berkutik lagi!

Bukan main kagetnya Jaya, Galuh, Mega Sari dan si Dewa Pengemis yang menyaksikan Prabu Kertapati tega membunuh istrinya sendiri. “Mengapa kau bunuh ibuku?!” bentak Jaya dengan sangat marah.

Prabu Kertapati tidak menjawab, ia melirik pada Dharmadipa yang sedang kepayahan akibat terluka parah, “Orang lemah sepertimu tidak pantas jadi Putra Mahkota Mega Mendung!” ucapnya, Prabu kertapati mendorongkan tangannya, tedengarlah suara gelegar halilintar, satu larik sinar merah dan hitam menyambar dada Dharmadipa!

Tubuh Dharmadipa terpental jauh untuk selanjutnya tidak berkutik lagi, berakhirlah hidup Dharmadipa oleh ayah mertuanya sendiri lewat pukulan “Petir Menyambar Samudera”! Mega Sari menjerit histeris melihat kematian suaminya, Jaya, Galuh dan si Dewa Pengemis terkejut melihat kekejaman sang Prabu. “Di Mega Mendung ini tidak ada tempat bagi orang-orang yang lemah!” tandasnya, berbarengan dengan langit yang berubah kembali menjadi merah, semerah darah seperti beberapa saat yang lalu.