Episode 270 - Firasat Buruk (1)



Rembulan tak lagi bulat sempurna. Ia terlihat penyok mirip dengan panci yang terjatuh keras di lantai. Beras-beras kecil yang berserakan ibarat mewakili bintang-bintang yang bertaburan di langit malam. 

Bara api meletus-letus, tapi suaranya terlalu pelan untuk terdengar di tengah hiruk-pikuk perkemahan. Puluhan tenda telah terpasang berjajar rapi. Tak kurang dari dua ratus serdadu bayaran yang bergantian antara menjalankan tugas dan beristirahat. 

“Kalian beristirahatlah terlebih dahulu...” seorang serdadu bayaran mempersilakan. 

Bintang Tenggara baru saja kembali dari giliran berburu. Ia terlihat lelah dan sedikit tertekan. Betapa binatang siluman, yang kini telah dipastikan adalah seekor kancil, bukan kambing, belum kunjung dapat ditangkap. Padahal, segala daya upaya telah dikerahkan bersama-sama dengan para serdadu bayaran. 

“Bagaimana dengan rencana kita menuju Pulau Belantara Pusat...?” bisik si kurus kerempeng di kala ketiga ahli yang menyusup ke dalam Kompi 362, berada di tempat sepi. Kegelisahan tak dapat dihapus dari raut wajahnya. 

“Sudah lebih dari sehari semalam kita membuang-buang waktu berburu bintang siluman itu...” Si kusir menambahkan. “Apakah yang dikau sembunyikan dari kami...? Apa yang hendak dikau capai dengan menangkap binatang siluman aneh itu...?”

“Binatang siluman itu memiliki unsur kesaktian yang teramat unik... Unsur kesaktian putih,” papar Bintang Tenggara jujur. 

“Oh...? Benarkah...?” Pemuda kurus kerempeng dan si kusir belum terlihat puas akan jawaban yang disampaikan.

“Benar. Guruku memerlukan kemampuan binatang siluman itu untuk mengangkat racun yang mendera tubuhnya.”

“Semakin lama kita menghabiskan waktu di Kerajaan Garang, maka semakin dekat pula mereka yang memburu dikau...” Pemuda kurus kerempeng tentu mengacu kepada sang Yuvaraja dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang.

“Beri diriku waktu sehari semalam lagi. Bila sampai batas waktu tersebut belum dapat menangkap binatang siluman itu, maka kita akan segera meninggalkan wilayah Partai Iblis,” sahut Bintang Tenggara. Tiada keraguan dari setiap kata-kata yang meluncur keluar dari mulitnya.

Malam berlalu cepat. Berkat ransum dan istirahat yang memadai, pagi itu Bintang Tenggara terlihat penuh semangat. 

“Perbekalan kita telah menipis... Bila tak segera menangkap binatang siluman keparat itu, maka esok adalah hari terakhir kita berkemah di tempat ini!”

“Jangan hanya menggerutu... Apa rencana kita hari ini...?”

“Hampir semua taktik yang kuketahui dalam berburu telah kita terapkan... Mulai dari mengejar, memasang umpan dan perangkap, menyudutkan dan menjepit, sampai membawa kancil betina untuk membuatnya lengah pun tiada membuahkan hasil.” 

“Diriku memiliki sebuah rencana...,” tetiba terdengar suara menyela, yang datangnya dari seorang anak remaja. 

Semua pandangan mata beralih kepada Bintang Tenggara. Anak remaja ini diketahui dapat bergerak cepat. Akan tetapi, bahkan dengan ketangkasannya, binatang siluman kancil itu tetap dapat berkelit lebih gesit lagi.

“Apakah rencanamu, wahai anak muda...?” Sang Kapten tetiba menyela. Sesiapa pun yang memiliki gagasan, pasti akan ia dengarkan. Ia sesungguhnya menyadari bahwa waktu tak banyak lagi untuk melangsungkan perburuan.

“Diriku akan mengajaknya... berbincang-bincang...”

Seluruh ahli yang mendengar kata-kata Bintang Tenggara menganga terpana. Dagu mereka seolah terbuka sampai menyentuh dada. Benar, perihal mengajak binatang siluman itu berbincang-bintang tentu tiada terpikirkan oleh satu pun dari mereka, karena memang merasa tak ada gunanya. Sejak kapan seorang pemburu bertukar pikiran dengan buruannya...?

“Hahaha...” Gelak tawa Kapten Sisinga memecah keraguan. “Mengapa aku tak terpikir akan pendekatan ini? Kita semua tahu bahwa binatang siluman kancil itu senang berceloteh, bahkan di kala diburu oleh puluhan serdadu!” 

Hal yang sama telah dicermati oleh Bintang Tenggara. Mungkin karena ia masih polos, sehingga pemikirannya dapat bergerak lebih luwes dibandingkan dengan segenap serdadu bayaran yang lebih suka berperang. Tambahan lagi, dengan kemungkinan bahwa binatang siluman itu sedang menunggu sesuatu atau seseorang, sebagaimana disebutkan oleh Kapten Sisinga, maka pastinya binatang siluman tersebut merasa jenuh. Sehingga perburuan dianggapnya sebagai permainan kejar-kejaran saja. Sekedar mengisi waktu luang. 

Demikian, Bintang Tenggara melangkah seorang diri ke dalam hutan. Segenap serdadu bayaran menanti sabar. Bila memperoleh aba-aba, maka mereka akan merangsek maju. 

“Diriku saat ini seharusnya berada di Pulau Belantara Pusat,” gerutu Bintang Tenggara, sengaja pula dilakukan dengan suara yang cukup keras. Anak remaja tersebut kemudian duduk di atas sebuah batu berukuran sedang. Sungguh sendu lagi pilu gelagatnya.

Sang Kancil, yang sedang merumput, tetiba mengangkat kepalanya. Ia terlihat terpancing. Banyak dongeng yang berasal dari Pulau Belantara Pusat. Dongeng-dongeng tersebut seolah hendak merangsek keluar secara paksa dari dalam benaknya. Akan tetapi, binatang siluman itu masih tak sepenuhnya percaya akan kata-kata yang memang sengaja ditujukan agar tertangkap oleh telinganya. 

“Padahal diriku sangat menantikan kunjungan pertama kali ke Pulau Belantara Pusat...”

Bibir binatang siluman itu pun terlihat bergetar. Sangat sulit baginya menahan diri untuk tak menyampaikan sebuah dongeng. 

“Di... di.. di... Pu... Pulau...,” suara binatang siluman itu terbata-bata... Sungguh perjuangan nan keras yang saat sedang ia pertahankan. Kini bahkan sekujur tubuhnya terlihat mulai bergetar.

“Pupus sudah harapan ke Pulau Belantara Pusat...” Bintang Tenggara bertutur sambil mencermati gelagat binatang siluman itu. Sepertinya, dugaan awal adalah tepat adanya. Sasaran mulai terpancing untuk membeberkan apa pun itu yang hendak ia sampaikan. “Oh... andai saja ada yang bisa berceritera tentang keindahan di pulau tersebut...” Kini raut wajahnya semakin sendu.

“Pulau Belantara Pusat tak hanya indah! Ia menyimpan banyak kisah!” Tetiba terdengar suara melengking.

Sontak Bintang Tenggara terkejut. Ia menatap dalam ke arah binatang siluman itu. Akan tetapi, raut wajahnya meragu. Sungguh anak didik Komodo Nagaradja ini layak menerima penghargaan sebagai tokoh sandiwara terbaik. Ia kemudian menggeleng-gelengkan kepala... 

“Hei bocah tanggung!” seru Si Kancil. “Apakah maksudmu dengan gelengan kepala itu!?”

“Mana mungkin binatang siluman yang berdiam di hutan kecil mengetahui tentang megahnya rimba raya di Pulau Belantara Pusat...?” Setengah mencibir, Bintang Tenggara membuang muka.

“Sudah tak terbilang kunjunganku ke sana! Hampir seluruh penjuru pulau sudah kupijakkan keempat kaki ini!”

Bintang Tenggara acuh tak acuh, lalu meneruskan lamuman...

“Hei!” Si Kancil terlihat tak sabar, malah kini sedikit tersinggung. Langkah kakinya berderap mendatangi Bintang Tenggara. “Akan kuceriterakan salah satu kisah terbaik yang berasal dari sana!”

Bintang Tenggara berpura-pura tak mendengar. Jarak di antara dirinya dan Si Kancil terpaut belasan langkah. 

Si Kancil meneruskan langkah demi menghampiri. “Pada suatu waktu di masa lalu, terdapat sebuah batu yang dapat menangis...”

Bintang Tenggara memutar tubuh. Ia kini membelakangi binatang siluman itu... Sungguh tiada sopan perilakunya.

Si Kancil mempercepat langkah. Satu hal yang paling ia benci, adalah pendengar yang mengacuhkan ceritera yang ingin ia sampaikan. Di dalam pandangannya, anak remaja itu sudah masuk ke dalam kategori ‘kurang ajar’!

Langkah di antara mereka hanya terpisah sekira lima atau enam langkah.

“Batu nan menangis itu...”

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut!


===


“Paman Balaputera...?” Lamalera lagi-lagi menegur. “Ada apakah gerangan...?”

“Diriku berfirasat buruk...”

“Firasat buruk...”

“Pakcik Jebat!” Balaputera Ragrawira berseru kepada seorang ahli yang mulai mendaki wilayah perbukitan. Jarak nan terbaut di antara mereka tak kurang dari tiga puluh langkah. 

“Yo!” tanggap Hang Jebat santai. “Percepat langkah kaki itu!”

“Sebaiknya kita segera keluar dari dunia ini...”

“Mengapa...? Bukankah engkau yang mengatakan kakak Tuah berada di dalam dunia ini...?”

“Benar... Akan tetapi, bisa saja diriku keliru...” Balaputera Ragrawira kini mempercepat langkah.

“Keliru...? Sepanjang pengetahuanku, engkau jarang keliru... Satu-satunya kekeliruanmu adalah menikahi bocah tengil Mayang Tenggara... Khikhikhi...” 

Tetiba, tak jauh di atas bukit, Hang Jebat si Raja Angkara Durhaka, menyaksikan sebuah lubang nan cukup besar. Sebuah goa.

Balaputera Ragrawira mengangkat lengan kanan dan mulai merapal. Sebuah formasi segel berpendar dan merangkai lugas. Di hadapannya, kemudia terbuka sebuah lorong dimensi ruang. Ia pun segera masuk ke dalam, untuk kemudian muncul tepat di hadapan mulut goa.

“Bangsat!” hardik Hang Jebat. “Engkau hendak mendahuluiku!?”

Balaputera Ragrawira sedang mengamati pintu masuk ke dalam goa, ketika ketiga ahli menyusul. Hang Jebat, Aronawa Kombe, serta Lamalera. Ketiganya terlihat tak sabar menanti sebuah peluang menyaksikan tokoh nan maha digdaya...

“Segera tinggalkan tempat ini!”