Episode 269 - Kerasukan


Kilatan petir berderak di kedua belah kaki anak remaja itu. Hanya dalam beberapa kedip mata saja, kecepatannya mengejar mengalahkan segerombolan serdadu bayaran yang beringas. Membalap para serdadu bayaran, tatapan matanya hanya tertuju kepada binatang siluman ‘kambing’ di hadapan. 

“Hei! Siapakah engkau!?” 

“Jangan kau curi buruan kami!”

“Enyahlah!” 

Beberapa serdadu bayaran menyergah marah. Mereka pun memacu langkah karena tak hendak tertinggal. Di samping itu, karena menyaksikan kecepatan yang berada jauh di atas rata-rata, spontan mereka melancarkan serangan terhadap anak remaja yang lancang itu…

“Duar!” 

Bintang Tenggara berkelit lincah ke samping. Ia yang biasanya terlihat tenang, kali ini berubah beringas. Tentu saja perilakunya ini karena tak hendak melepas kesempatan tiada terduga dan sedang terbuka di depan mata. Unsur kesaktian putih adalah teramat langka, dan sangat bermanfaat bagi sang Super Guru. Ibarat seekor harimau kelaparan memburu mangsa, perhatian anak remaja itu sudah terpusat! 

“Tunggu! Kami berasal dari Kompi 456,” sergah pemuda kurus kerempeng. Dengan amat terpaksa, dirinya menyusul anak remaja yang terlihat kehilangan akal itu. (1)

“Kompi 456!? Bukankah Kapten kalian meregang nyawa di lereng Gunung Perahu!?”

“Benar! Jika diperkenankan, kami hendak bergabung dan membantu perburuan…,” lanjut pemuda kurus kerempeng. 

“Aku mengenal si kurus kerempeng itu! Ia memanglah pesuruh di Kompi 456!” 

Sejumlah serdadu bayaran saling bertukar pandang. “Baiklah… Bilamana berhasil membantu perburuan ini, maka akan kami sampaikan kepada Kapten peran kalian. Tentu Kapten akan bermurah hati memberi bagian.”

“Kami adalah Kompi 362!”

Demikian, langkah anak remaja itu tiada terhalang. Si kambing yang sedang bermain-main, terlihat lengah. Bintang Tenggara menerkam…

“Slip…”

Si kambing berkelit lincah. Sangat lincah! 

Langkah petir nan tiada beraturan lintasannya kembali merangsek. Akan tetapi, lagi-lagi si kambing mengelak. Kecepatan mengelaknya itu sampai membuat Bintang Tenggara hampir jatuh tersungkur. Sungguh kecepatan binatang siluman tersebut sulit dicerna nalar. Sebagaimana diketahui, Sang Kancil berada pada Kasta Perak Tingkat 9, sehingga adalah sangat wajar bilamana Bintang Tenggara tiada dapat menangkap.

Tak kehabisan akal, Bintang Tenggara meluruskan lengan, lalu membuka telapak tangan ke arah sasaran… 

Guntur Menggelegar!

Kilatan petir menyambar keluar. Akan tetapi, kambing putih itu hanya berdiam sahaja. Ketika kilatan petir menyentuh tubuhnya, maka serta-merta unsur kesaktian tersebut berubah menjadi berwarna putih, dan pupus dengan sendirinya. 

“Hanya jurus persilatan yang dapat membungkamnya… Tidakkah kau mengerti, wahai…?” gerutu Komodo Nagaradja.

“Benar… Unsur kesaktian apa pun akan dinetralkan oleh unsur kesaktian putih,” lanjut Ginseng Perkasa mengingatkan. 

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut!

Berbekal teleportasi jarak dekat, tetiba Bintang Tenggara mencul tepat di sebelah tubuh binatang siluman itu. Kedua lengannya bergerak cepat dalam gerakan mencengkeram…

“Brak!” 

Binatang siluman itu memutar tubuh dengan cepat, lalu melepaskan tendangan menggunakan dua kaki belakangnya. Sontak Bintang Tenggara menahan dengan memanfaatkan Sisik Raja Naga di kedua lengan. Meskipun getaran tendangan tersebut dapat diredam, namun tenaga dorongannya masih cukup kuat untuk menjungkalkan tubuh si anak remaja. Di saat yang sama pula, warta tubuh binatang siluman itu kembali seperti sedia kala. Menyadari keadaan tersebut, ia pun melompat ke balik semak-semak yang lebat, dan segera menghilang dari pandangan. 

Bintang Tenggara secepatnya bangkit…

“Tunggu, anak muda!” Seorang serdadu bayaran memanggil. 

“Tidakkah kau tahu cara berburu yang benar!?” Serdadu bayaran yang lain lagi berteriak.

Gerombolan serdadu bayaran bersama pemuda kurus kerempeng dan si kusir, terlihat mendekat. Bintang Tenggara menoleh ke belakang. Raut wajahnya sedikit cemas. Ia hendak segera mengejar binatang siluman itu. 

“Janganlah khawatir… tiada mungkin binatang siluman itu berlari terlalu jauh dari wilayah ini.” Salah seorang serdadu bayaran menenangkan.

“Kami telah lama bertugas di wilayah ini dan sekira sepekan yang lalu, mendapat laporan akan kemunculan binatang siluman nan aneh.” 

“Sejak saat itu, kami telah memburunya selama berhari-hari. Meskipun demikian, gerakannya terlalu lincah… ” 

“Selain itu, warna putih di sekujur tubuhnya tiada bertahan terlalu lama.” 

Bintang Tenggara bersama kedua rekannya diterima baik di dalam Kompi 362. Secara bergantian, seluruh informasi yang mereka miliki disampaikan tanpa ada rasa curiga sama sekali. Hubungan di antara para serdadu bayaran, yang terbiasa berjuang sehidup-semati, menciptakan semacam kedekatan. Ditambah kepiawaian anak remaja tersebut dalam mengejar, tercipta seberkas harapan dalam menangkap buruan. Di mata para serdadu bayaran, yang berjumlah hampir 30 ahli, anak remaja tersebut adalah satu-satunya yang telah berhasil mendekati binatang siluman tersebut.

Hari jelang petang, para serdadu bayaran membagikan ransum makanan. 

“Dirikan kemah di tempat ini!” Seorang lelaki dewasa bertubuh kekar mendatangi para serdadu bayaran. Nada suaranya terdengar keras. Dari aura tenaga dalam yang terpancar, kemungkinan besar ia berada pada Kasta Perak Tingkat 6 atau Tingkat 7. 

“Kapten!” Sejumlah serdadu bayaran dari Kompi 362 sontak bangkit dan memberi hormat. 

Bintang Tenggara, bersama kedua rekannya, ikut bangkit dan memberi hormat. 

“Siapa nama kau…?” tetiba ia berujar kepada Bintang Tenggara. Selayaknya, tokoh ini tentu telah mendapat keterangan dari anak buahnya tentang keberadaan anak remaja tersebut. 

“Bintang…,” terdengar jawaban cepat. 

“Kami berasal dari Kompi 456,” sela pemuda kurus kerempeng. 

Si kapten hanya menoleh sekilas. Pandangan matanya kembali mencermati anak remaja di hadapannya. Ia menyipitkan mata, “Namaku Sisinga! Kapten di Kompi 362!” 

Ketiga pendatang serempak menundukkan kepala memberi hormat. Kendati pun demikian, pemuda kurus kerempeng dan si kusir terlihat heran. Bagaimana mungkin seorang bangsawan Wangsa Syailendra menundukkan kepala semudah ini…? Bukan sembarang Wangsa Syailendra pula, anak remaja tersebut merupakan Putra Mahkota, sang Yuvaraja, dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang pula! Baru kali ini mereka bertemu dengan kaum bangsawan yang tak terlalu memperhatikan status dirinya sendiri. Terkesan acuh, malah. 

“Kayaknya ada yang ia tunggu di tempat ini! Tak pernah binatang siluman itu pergi jauh-jauh…” Si Kapten menyampaikan hasil pengamatannya. 


===


“Mengapakah dikau hanya berdiam diri…?” seorang anak remaja berujar menggunakan jalinan mata hati. Meskipun demikian, tiada terdengar jawaban dari lawan bicaranya. 

“Dikau tiada memiliki tubuh dan mustika,” lanjut anak remaja itu. “Selama ini dikau menumpang di tubuh manusia. Keadaan dikau saat ini jauh lebih baik dari sebelumnya.”

 “…” 

Derik nyanyian jangkrik samar terdengar, seolah hendak menemani dalam pembicaraan. 

“Keterikatan telah terjalin di antara kita…”

“…” 

Namun, tak juga ada jawaban dari siapa pun itu yang menjadi lawan bicaranya. Si anak remaja yang sedang menyendiri, melontar pandang jauh ke langit tinggi. Suasana malam terasa semakin sepi. Pikirannya ikut melayang jauh. Waktu berlalu bersamaan dengan dinginnya angin malam.

Perlahan, ia mengangkat lengan, dan memperhatikan sebentuk cincin yang tersemat di sela jemari. 

“Dari mana engkau peroleh cincin itu…?” Tetiba terdengar suara nan berat lagi dingin. Ini adalah kata-kata pertama yang terucap dari jiwa dan kesadaran nan terbelenggu.

“Cincin ini… adalah pemberian dari seseorang. Diriku tiada memahami maksud dan tujuan beliau memberikan cincin ini…” 

“Elang Wuruk Sanjaya…” 

“Wahai Iblis Belial, panggil diriku dengan nama Kum Kecho…” 

“Cincin Penakluk Iblis…” Si iblis mengabaikan kata-kata anak remaja itu. “Batu yang tersemat adalah mustika dari bangsa iblis. Merupakan hak milik seorang Maha Raja di masa lampau… Ia berkuasa atas bangsa iblis, kaum siluman, serta umat manusia.

Kum Kecho mencermati. Dalam benak ia mencoba menelusuri. Siapakah beliau yang demikian perkasa...? Mampu memerintah ketiga ras secara bersamaan, tentunya bukanlah tokoh sembarangan. Akan tetapi, mengapa tiada pernah dirinya mendengar kisah akan sosok yang sedemikian. Karena, bila benar adanya, maka tokoh tersebut tentu merupakan legenda yang sepantasnya dituliskan dalam kitab-kitab kuno, digoreskan dalam lukisan besar berbingkai emas, serta dinyanyikan turun-temurun di dalam tembang pengantar tidur. 

“Sudikah kiranya Iblis Belial menjabarkan sedikit tentang tokoh yang dimaksud…?”

“…”

“Keterikatan di antara kita akan berlangsung lama…” Mendapati teman bicaranya kembali diam, tak ia hendak menanti jawaban. Anak remaja itu pun pun kembali memandangi sebentuk cincin yang kini menjadi topik pembicaraan. 

“Nyawamu terancam…” Tetiba Iblis Belial berujar. 

“Srash!” 

Batu besar yang menjadi tempat Kum Kecho duduk seorang diri, tetiba terbelah dua. Belahan batu tersebut demikian halus, seolah diiris oleh pisau maha tajam. Untunglah anak remaja itu sempat menghindar dengan cepat pada saat yang tepat. Harus diakui, peringatan Belial si iblis adalah yang menyelamatkan jiwanya kali ini. 

“Hmph…”

Kum Kecho mendarat di kejauhan. Ia mendongak, dan menemukan bayangan tubuh melayang tinggi di angkasa. Bayangan tersebut dapat terlihat karena membelakangi bintang-bintang sehingga terbentuk pola nan tak biasa. Kemampuan pengamatan anak remaja ini tiada dapat dipandang remeh. 

Sosok nan melayang di angkasa sepertinya penasaran mengapa serangan cepat secara diam-diam masih dapat dihindari oleh anak remaja itu.

“Apakah engkau pembunuh bayangan utusan dari Persaudaraan Batara Wijaya…?” tebak Kum Kecho. 

“Swush!” 

Pertanyaan Kum Kecho dijawab dengan tebasan demi tebasan senjata lawan. Sigap dan lincah, Kum Kecho melompat ke kiri dan kanan. Pada permukaan tanah tempat ia sempat berpijak, kini berbekas guratan nan dalam. Meskipun demikian, tiada suara terdengar kentara dan tiada pula tanah nan menyibak di kala serangan mendarat. Unsur kesaktian apakah yang dimanfaatkan dalam menyerang…? Apakah angin…?

Kum Kecho kembali mendongak. Akan tetapi, tiada lagi ia temukan bayangan nan melayang. Selayaknya pembunuh bayangan, tokoh tersebut memiliki kemampuan menyembunyikan diri. 

“Kasta Emas Tingkat 2…” Iblis Belial berujar, mengacu pada pembunuh bayangan nan mengincar. “Mengandalkan seragan jarak jauh.” 

Kum Kecho tiada menyangsikan kebenaran dari kata-kata sang iblis. Bahkan ratusan tahun silam, di kala keahlian di Negeri Dua Samudera sedang berada pada masa puncaknya, hanya diketahui beberapa pembunuh bayangan yang berada pada Kasta Emas. Sebagian besar dari mereka, hanya menerima permintaan dengan upah yang teramat besar. 

Sampai sedemikiankah pihak-pihak di Persaudaraan Batara Wijaya hendak menyingkirkan dirinya…? Sebelum ini, adalah seorang ahli Kasta Emas Tingkat 1 yang terlalu memandang remeh sasaran, sehingga dapat dibungkam bersama-sama dengan para gadis pengikut. Akan tetapi, kali ini berbeda. Selain tiada dikelilingi oleh gadis-gadis tersebut, pembunuh bayangan tiada pernah meremehkan lawan, serta mereka bukan petarung yang akan berhadapan satu lawan satu. 

“Ngiiiiinnggggg….” 

Denging nyamuk terdengar nyaring di kala binatang-binatang siluman tersebut membentuk menyebar dan membentuk lingkaran. Dengan demikian, Kum Kecho seolah memiliki radar di kejauhan. 

“Swush!” 

Anak remaja itu kembali melompat menghindar di saat yang tepat. Berkat jalinan mata hati dengan para nyamuk, Kum Kecho dapat menebak secara akurat arah serangan lawan. Meski, harga yang harus ia bayar tak murah. Sejumlah nyamuk terpaksa meregang nyawa, karena menjadi semacam alat deteksi datangnya serangan. 

Tebasan-tebasan senjata lawan terus mengiris sampai dua tiga kali. Kematian nyamuk-nyamuk di wilayah tertentu, menjadi petanda akan datangnya serangan lawan. Dengan demikian, tak terbilang sudah binatang siluman nyamuk yang terpaksa meregang nyawa demi tuannya.

Andai saja dapat mengandalkan Kepik Cegah Tahan, maka keadaan akan lebih mudah bagi Kum Kecho. Akan tetapi, berdasarkan bekas serangan lawan yang memiliki sifat mengiris, Kum Kecho tak hendak mengambil risiko mencederai cangkang kubah binatang siluman tersebut. 

“Duar!” 

Seekor kutu meledakkan diri di kejauhan. Dalam sepersekian detik, dampak ledakan menciptakan cahaya temaram. Kum Kecho melakukan serangan balik. Diam-diam, ia telah mengirimkan ketiga kutu berdasarkan arah datangnya serangan lawan. Meskipun demikian, serangan tersebut luput. Kecepatan gerak lawan terlalu lincah, bahkan setelah tersentuh kutu ia masih dapat berkelit. 

Kum Kecho hanya mampu bertahan. Entah berapa lama lagi, karena jumlah nyamuk yang menyebar semakin berkurang. 

“Engkau dipastikan meregang nyawa malam ini…” Iblis Belial kembali berujar menggunakan jalinan mata hati. Nada suaranya terdengar acuh. “Malang sekali…” 

Kum Kecho terus menerus menghindar tebasan senjata jarak jauh lawan yang bersembunyi di balik gelapnya malam.

“Wahai Iblis Belial, bilamana diriku meregang nyawa, maka dikau akan terkurung selamanya di dalam cincin ini…” Kum Kecho hanya menduga-duga. Sungguh ia tiada memahami cara kerja cincin yang diberikan oleh seorang Balaputera. 

“…”

Putra kandung Sang Maha Patih itu kembali melompat menghindar dari serangan lawan. Di saat yang sama, ia kembali mengeluarkan selembar Kartu Satwa. Seribu nyamuk yang segar dan bugar mengudara dan menyebar membangun lingkaran pengaman di kejauhan. Pedih rasanya melepas nyamuk-nyamuk hanya untuk meregang nyawa. Akan tetapi, menghadapi pembunuh bayangan yang demikian tangguh, Kum Kecho tiada memiliki upaya perlawanan yang lebih menjanjikan. Di saat yang sama, keturunan Wangsa Syailendra dari trah Sanjaya itu juga menyadari bahwasanya lawan belum tampil sepenuh hati. Kemungkinan besar, si pembunuh bayangan itu masih memiliki harga diri dalam menghadapi ahli Kasta Perak. Apa kata dunia bilamana seorang pembunuh bayangan Kasta Emas betindak serius terhadap ahli yang hanya berada Kasta Perak. 

Serangan yang datang dari kejauhan seketika berhenti… 

“Mari kita bangun kesepakatan…,” ujar Kum Kecho cepat. Nalurinya mengatakan bahwa bahaya nan semakin besar mengincar. Lawan hendak menyelesaikan urusannya segera. “Sebutkan syarat yang dikau kehendaki… Beri aku kekuatan!” 

“Tubuhmu… Tubuh Sanjaya!” 

“Tidak! Sebutkan syarat yang lain,” tolak Kum Kecho. 

“Pembunuh bayangan itu sebentar lagi menyerang dari jarak dekat…” Belial si iblis berbisik pelan. 

“Bila demikian, aku akan meregang nyawa dan dikau akan terkurung selamanya!”

“Tanpa syarat yang setimpal, aku, Belial, hanya ibarat budak bagi umat manusia…” 

Harga diri bangsa iblis demikian tinggi. Mereka adalah makhluk perkasa dan abadi. Bila pun harus terkungkung jiwa dan kesadarannya, maka ia rela. Suatu hari di masa depan, tak tertutup kemungkinan hadirnya seorang ahli yang dapat melepaskan dirinya dari dalam cincin terkutuk ini. 

“Sepuluh menit! Dikau diperkenankan mengambil alih tubuhku selama sepuluh menit dalam setiap satu purnama!”

“Sepakat!” 

Tetiba, formasi segel berpendar dari Cincin Penakluk Iblis. Kesepakan di antara kedua pihak mendapat pengesahan, dan cincin tersebut menjadi saksi sekaligus hakim. 

“Swush!” 

Pembunuh bayangan tetiba datang. Ia melayang sekira sepuluh langkah tepat di atas kepala Kum Kecho. Jarak yang memisahkan mereka tak lebih dari sepuluh langkah. Sebuah serangan yang tak mungkin terhindarkan sebentar lagi melesat!

Di saat yang sama, kedua bola mata Kum Kecho berubah menjadi berwarna hitam. Sisi belakang jubah yang ia kenakan tersibak, karena sepasang sayap nan mirip kelelawar besar merentang lebar. Aura yang mengemuka demikian kelam, bahkan Jubah Hitam Kelam tiada lagi mampu menyamarkan. Hawa membunuh menyibak kental. Suasana berubah mencekam!

Baru si pembunuh bayangan hendak melepas serangan terakhir, perubahan suasana dan kehadiran hawa membunuh membuatnya bergidik, sebuah reaksi yang biasanya justru berasal dari para pembunuh bayangan. Tanpa perlu berlama-lama mencermati keadaan, naluri para pembunuh bayangan yang sudah terlatih sedari belia menyampaikan akan hadirmya bahaya besar. Tanpa pikir panjang lagi, segera ia membatalkan serangan dan melesat pergi!

“Mau ke manakah engkau…?” suara yang keluar dari mulut Kum Kecho terdengar demikian berat. Jelas ini bukan suara seorang anak remaja. “Turun sekarang!” 




Catatan:

(1) Kompi: Kesatuan militer yang berada di bawah Batalyon dan terdiri dari beberapa Peleton. Kekuatan personilnya kurang lebih dari 180 hingga 250 orang. Biasanya dipimpin seorang Kapten.