Episode 7 - Perpisahan


Setelah ngaji usai, aku pulang menuju rumah. Sesampainya di rumah aku duduk sambil mengelus-elus Mbah Kosim. Melihat Mbah Kosim tertidur aku ikutan mengantuk hingga tertidur di lantai ruang tamu, hingga akhirnya aku bertemu dengan Abah Guru di dalam mimpi.

“Bagaimana sekolahmu, Nak,” tanya Abah Guru padaku.

“Sekolah saya baik Guru. Alhamdullilah ujian nasionalnya sudah selesai guru, saya optimis bahwa nilai saya bagus dan bisa masuk ke sekolah favorit saya,” ucapku tersenyum senang. “Oh iya Guru, ada yang mau saya tunjukan pada Guru,” sambungku untuk menunjukkan khodam keduaku Nyai Yun.

Aku memanggil Nyai Yun untuk muncul menemui guruku, “Nyai Yun hadir,” setelah panggilanku Nyai Yun berdiri di sampingku.

“Iya ada apa, Nak Edi,” tanya Nyai Yun padaku.

“Ini Guru yang mau saya tunjukan tadi, teman kedua saya setelah Mbah Kosim, namanya adalah Nyai Yun,” ucapku memperkenalkan Abah Guru kepada Nyai Yun.

“Oh ini…,” respon Abah Guru sepertinya aneh. “Hemb, orangnya ini baik,” kata abah guru mengangguk sambil membelai jenggotnya. Tiba-tiba setelah melihat Abah Guru, Nyai Yun langsung membungkuk memberikan hormat.

“Hormat saya kepada sesepuh guru, maafkan saya atas kelancangan tidak langsung hormat kepada Anda sesepuh,” ucap Nyai Yun yang membuatku kaget. Apakah mereka berdua saling mengenal.

“Tidak apa-apa Nyai Yun, berdirilah,” jawab Abah Guru kepada Nyai Yun.

Karena aku sudah gatal dengan hubungan mereka berdua, maka aku bertanya ada apa sebenarnya, “Loh, Nyai Yun sama abah guru sudah kenal ..?” ucapku heran.

“Kami sudah kenal lama Nak Edi. Beliau adalah guru dari guru saya sewaktu masih hidup,” ucap Nyai Yun membuatku bingung.

“Lah, berapa usia Abah Guru ini…?” batinku dalam hati.

“Iya nak, kami sudah kenal beberapa kali sempat bertemu, mungkin sekitar 200 tahun yang lalu kita bertemu. Semenjak itu aku tidak melihat Nyai Yun lagi. Aku kira Nyai Yun telah terbunuh…,” kata abah guru menjelaskan.

“Tidak sesepuh guru, saya hanya istirahat sebentar.”

“Oh, jadi kamu ingin menjadi penjaga dari Nak Edi, ya Nyai Yun.?” tanya abah guru.

“Iya sesepuh guru, saya ingin menjadi penjaganya, dia mengingatkanku akan pemilikku yang sebelumnya,” jawab Nyai Yun serius.

“Pemilikmu sebelumnya, bukankah dia adipati dari salah satu kerajaan di pulau Jawa. Jika dia maka aku yakin akan takdir kalian. Baiklah kalau begitu kita lakukan kontrak batin agar kalian lebih terhubung,” ucap abah guru seperti mengingat kejadian masa lampau.

“Baik sesepuh guru,” jawab Nyai Yun

“Baik Abah,” sambungku.

Aku di suruh tiduran di lantai oleh Abah Guru. Lalu tangan Abah Guru di atas dadaku, mendadak aku merasakan seperti di ombang-ambing oleh lautan. Rasanya sungguh aneh sekali. Setelah aku bangun, yang kulihat pertama kali adalah ruangan kamarku sendiri. Yang berarti aku ada di dunia manusia. “Loh, kok bisa di sini, bukannya tadi aku bersama Abah Guru …?” ucapku heran dengan kejadian ini. Lantas aku memanggil Nyai Yun untuk menjelaskan.

“Nyai Yun, hadir..hadir..hadir…!” ucapku memanggil Nyai Yun.

“Iya Nak Edi ada apa?” tanya Nyai Yun kepadaku.

“Apa yang terjadi Nyai? Kenapa aku bisa di dunia manusia? Apakah kontraknya gagal…?” tanyaku pada Nyai Yun karena penasaran.

“Kontraknya tidak gagal Nak Edi, malahan berhasil. Itu adalah efek samping kontrak tanpa raga,Nak Edi…” papar Nyai Yun menjelaskan.

“Oh begitu, jadi sekarang Nyai sudah menjadi teman saya yang sempurna,” tanyaku balik.

“Hubungan batin kita sekarang lebih kuat, Nak Edi. Coba masukan saya ke badan Nak Edi, jika kontrak batin berhasil, maka Nak Edi akan bisa mengendalikan kesadaran Nak Edi sendiri,” ucap Nyai Yun menyakinkanku. Lalu aku mencoba menyuruh Nyai Yun masuk ke tubuhku.

“Nyai Yun, masuk ke tubuhku,” perintahku kepada Nyai Yun.

“Baik Nak Edi.” Karena mendapat perintah dariku, lalu Nyai Yun masuk ke dalam tubuhku. Setelah Nyai Yun masuk ke dalam tubuhku, aku mencoba mengangkat kursi kayu yang lumayan berat dengan satu tangan, dan ternyata bisa aku angkat dengan mudahnya.

“Wih, beneran ini! sungguh menakjubkan! kok aku bisa kuat gini ya.. Hahahaha... Apakah ini bukan mimpi,” ucapku senang sekaligus heran.

“Itu karena ada saya di dalam tubuh, Nak Edi,” kata Nyai Yun dari dalam tubuhku.

“Jadi begitu Nyai… Ya sudah, Nyai keluar dulu,” ucapku pada Nyai Yun.

“Baik Nak Edi.” Nyai Yun keluar dari tubuhku, ia kuberikan perintah untuk menjaga daerah sekitar rumahku dari gangguan jin lain dan manusia yang ingin berbuat jahat. 

Setelah demonstrasi dengan Nyai Yun, aku melanjutkan rutinitasku pagi yaitu, lari keliling desa sampai waktunya selesai. Setelah lari keliling desa, aku pun ke sekolahan untuk sekedar melihat pengumuman.

Satu bulan kemudian ijazahku telah keluar. Setelah cap tiga jari selesai, besoknya aku berangkat ke SMP. Sesampainya di SMP aku memarkirkan sepedaku di parkiran dekat mushola. Aku membuka tasku untuk melihat apakah ada yang tertinggal. “Ijazah asli ada, buku kosong ada, raport asli ada, hasil nilai ada, foto copy-an ada semua, bolpoin ada. Oke semuanya lengkap.”

Setelah mengecek bahwa semuanya lengkap aku berjalan menuju labolatorium biologi, tempat pendaftaran siswa-siswi baru. Tak kusangka aku bertemu dengannya lagi di sekolah ini.

“Hai Ed, gak nyangka ketemu kamu disini, kirain kamu lanjutin ke SMPN 02,” tanya Ninda padaku saat kami berpapasan di depan gerbang utama sekolah. Ia bersama dengan Yeni. Mungkin mereka berdua naik angkot menuju ke sekolah ini. Mana berani mereka naik sepeda lewat jalan raya.

“Hai juga. Aku lanjutin ke SMPN ini, gak ke SMPN 02 sana,” jawabku padanya.

“Oh berarti kita bakal bareng lagi dong…? Hehe…” ucapnya sambil tersenyum.

“Iya,” jawabku pendek sambil tersenyum juga. “Ya sudah aku mau lanjutin antri dulu,” ucapku mengakhiri pembicaraan dengan melambaikan tangan kepada mereka berdua. Setelah antri mendaftar selama lebih dari satu jam, aku bergegas keluar dari ruang pendaftaran. Tepat di tikungan tanpa sengaja aku menabrak seseorang di luar ruang pendaftaran.

“Brukk…” Aku terjatuh dengan berkas yang kubawa berserakan di lantai. Di hadapanku ada seorang wanita yang benar-benar cantik. Baru kali ini aku melihat wanita secantik ini. “Masyaallah…”

“Maaf, maaf… Aku tadi buru-buru tidak lihat ada orang di luar,” ucapku bergegas berdiri untuk segera menolong wanita ini. “Kamu gak apa-apa kan?” ucapku bertanya sambil mengulurkan tanganku kepadanya.?“Kupejamkan mata ini kurasakan belaianmu… Sungguh indahnya dirimu aku jatuh cinta.”

“Aku gak apa-apa, kamu kalau jalan lihat-lihat dong, sakit tau di tablak itu ..??” ucapnya menggerutu sambil menjabat tanganku. Aku tak bisa menyalahkannya juga sih karena aku juga salah.

“Iya maaf deh tadi beneran tidak sengaja,” ucapku tulus meminta maaf.

“Iya gak apa-apa kok, kamu mulid balu juga di sini…?” tanya dia dengan menatap wajahku. Beneran cantik ini cewek.

“Iya aku murid baru disini, kamu juga murid baru disini..?” kataku bertanya agak canggung.

“Iya. Hali ini aku mau mendaftal masuk sekolah ini.”

“Silahkan mendaftar itu ruang pendaftarannya, emm.. kalau boleh tahu namamu siapa? Namaku Edi…,” kataku memperkenalkan diri.

“Namaku Mei, nama malgaku Lin. Jadi nama lengkapku Mei Lin,” ucap wanita berkulit putih dengan rambut panjang sepinggang. Ditambah dengan memakai pita di rambutnya membuatnya nampak lebih cantik.

“Oke hati-hati, Mei. Sampai jumpa,” ucapku padanya sambil berjalan menuju parkiran sepeda.

“Sampai jumpa juga,” balas Mei melambaikan tangan dari kejauhan.?Setelah pertemuan singkat dengan wanita bernama Mei barusan, aku bergegas pulang ke rumah. Dua hari kemudian aku bersama teman satu desaku namanya Wijaya yang juga mendaftar di SMPN 01, berangkat bersama naik sepeda. Asal kalian tahu jarak rumahku dengan SMPN 01 kurang lebih delapan kilometer. Jika lewat area persawahan maka lebih cepat, tetapi jika waktu musim hujan tidak akan bisa lewat persawahan karena roda sepeda akan penuh dengan lumpur.

Tiga puluh menit kemudian sampailah kami di SMP 01. Aku memarkirkan sepedaku lalu ke papan pengumuman sekolah, banyak sekali orang yang ingin tahu lulus atau enggak di terima di SMP ini.?“Buset, ramai banget,” kata Wijaya melihat antrian yang banyaknya seperti di rumah sakit.

“Iya, rame banget, keliling lingkungan sekolah yuk,” ajakku untuk membunuh kebosanan.

“Ayo.”?Sambil menunggu antrian bubar, aku dan Wijaya keliling lingkungan SMP dari sudut hingga sudut aku jelajahi sampai capek. Lumayanlah sekolahnya agak besar. Dari kelas VII A-I, kelas VIII A-I, kelas IX A-I, lalu Lab Biologi, Lab Fisika, Lab Komputer, Ruang Seni, Perpustakaan, Ruang Koperasi, semuanya kami jelajahi. Setelah dirasa cukup aku dan Wijaya kembali ke papan pengumuman. Kira-kira aku di terima enggak ya, dari sekitar 700 pelamar yang diterima hanya 360 siswa saja. Jadi hampir 400 orang yang ditolak. 

Aku mencari namaku di setiap kelas, akhirnya aku dapat. Aku masuk di kelas D lalu Wijaya masuk di kelas E, Kemudian aku penasaran aku coba mencari nama Ninda, Yeni, dan Mei Lin. Setelah beberapa kali mencari akhirnya aku mendapatkan nama mereka, karena nama mereka hampir mirip dengan nama orang lain jadi agak susah mencarinya. 

Ninda dan Yeni masuk di kelas C sedangkan Mei masuk di kelas D! “Wih jackpot nih sekelas sama dewi kecantikan,” ucapku sambil tersenyum. 

Setelah melihat nama kita di papan pengumuman, dan ternyata di samping papan pengumuman ada lambang OSIS dan sebuah pemberitahuan. Yaitu akan diadakan masa orientasi siswa untuk para siswa dan siswi baru. Setelah melihat bahwa kami di terima disekolah ini, aku sangat senang, karena ini adalah sekolah yang aku impikan dari dulu. 

Puas melihat-lihat kami putuskan untuk pulang ke rumah. Jam tiga sore aku bangun dari tidurku lalu memanggil Mbah Kosim dan Nyai Yun.

“Mbah Kosim, Nyai Yun, hadir,” ucapku memanggil mereka berdua.

“Iya Nak Edi, ada apa?” jawab keduanya serempak.

“Alasan saya memanggil Mbah sama Nyai adalah mulai hari ini Mbah Kosim dan Nyai Yun bisa manggil saya dengan sebutan Bos Edi… Paham Mbah Kosim, Nyai Yun?” ucapku menjelaskan kepada mereka berdua.

“Paham, Bos Edi,” jawab mereka bersamaan.?Setelah berbincang dengan mereka sebentar, aku bergegas mandi lalu berangkat ngaji. Setelah ngaji selesai, aku pulang dan aku ajak Mbah Kosim masuk kamar aku elus-elus bulunya yang halus. Melihat Mbah Kosim tertidur aku juga ikut tertidur. Setelah tertidur aku bertemu dengan Abah Guru di alam mimpi. Tapi anehnya kali ini beliau ditemani oleh seseorang.?“Nak Edi, bagaimana sekolahnya, diterima…?” tanya Abah Guru padaku.

“Alhamdullilah, Guru. Saya diterima,” jawabku dengan tersenyum senang.

Sambil tersenyum Abah Guru memperkenalkan temannya, “Alhamdullilah, kali ini saya membawa teman. Dia dari pulau seberang, Malaysia. Namanya Ustad Samin. Pak Sam, ini anak yang aku ceritakan sebelumnya, namanya Edi,” ucap abah guru menjelaskan. Aku menghampirinya sambil mencium tangannya.

“Oh ini toh anak bimbinganmu…” jawab Ustad Samin.

“Aku tidak menyangka, bocah kecil ini sanggup menampung kitab Al Ajnas di dalam tubuhnya,” kata Ustad Samin sambil mengecek seluruh tubuhku.

“Itulah kehendak-Nya Ustad,” jawab Abah Guru pendek. 

“Benar, coba ke sini, Nak. Saya cuma mengingatkan, jangan kamu buka bab terakhir dari kitab Al Ajnas, bisa fatal akibatnya,” kata ustad Samin sambil mengusap kepalaku.

“Baik ustad, saya akan mengingatnya.”

Setelah pamitan tersebut, Ustad Samin terbang dengan sajadah putih yang ia pergunakan seperti syal di leher.

“Kamu beruntung, Nak Edi,” ucap abah membuatku bingung.

“Maksud Guru beruntung…?” tanyaku balik dengan penuh rasa penasaran.

“Bukannya tadi kamu di usap di kepala sama Ustad Samin…?”

“Iya Guru, memangnya ada apa…?”

“Bersyukurlah, beliau telah menurunkan sedikit kharomahnya kepadamu,” jawab Abah Guru sambil tersenyum. “Ya sudah sekarang mulai latihannya, lanjutkan bab 3 agar bisa mengontrol mata ketigamu,” sambung abah guru.

“Baik, Guru.”

Mulailah aku dan Abah Guru berlatih kembali. Latihan sedikit demi sedikit dengan sabar Abah Guru memberikan masukan. Setelah latihan berjam-jam, akhirnya aku pun selesai belajar bab ketiga dari kitab Al Ajnas. Pelajaran besok akan masuk bab ke empat tentang Astral Projection.

Setelah aku selesai latihan, aku mau dipulangkan oleh sang guru besar, tapi sejenak ruang yang aku dan guru besar untuk latihan bergetar lalu hancur. Ruang yang bersih, indah, banyak rerumputan bunga dan burung, sekejap berubah menjadi gelap. Banyak potongan tubuh berserakan di lantai, di tengah lapangan yang luas terdapat tumpukan mayat yang seperti gunung. Lalu aku di suruh masuk ke dalam jubah Abah Guru. Abah Guru memanggil khadamnya sang Rijjalul Ghaib, lalu dua orang muncul dengan pakaian putih. Yang aku lihat mereka adalah asisten guru besar waktu aku kelas tiga SD dulu.

“Hahahahaha,” suara mahluk hitam datang dari atas tumpukan mayat.

“Apa yang membuatmu mengundangku wahai iblis penguasa kegelapan Gleipnr,” ucap guruku bertanya.

“Bagaimana? Indah kan?” ucap Gleipnr membentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

“Indah katamu, ini sungguh biadab! Kamu membantai mereka tanpa pandang bulu!” ucap guruku dengan nada marah. Baru kali ini aku tahu guru bisa marah. Karena aku penasaran, aku mencoba mengintip dari balik jubah guru besar. Dan ternyata… di sana ada perwujudan dari kegelapan. Aku bisa melihat taring dan tanduknya yang mencuat berwarna merah hitam berlumuran darah.