Episode 20 - Melarikan Diri


“Ah, kau juga, Jendral? Kukira engkau temanku, temanku yang terakrab.”

—Kalimat terakhir kaisar Ling Da, tepat saat pisau kawannya menusuk punggung dalam kejadian “Makar Istana Poerselain”.


“Masih tak mengerti mengapa kau baru mengambil murid sekarang, dan bukan tahunan lalu. Sangat disayangkan kalau jurusmu hilang sebab kau terlalu pilih-pilih,” Ambal berucap, mungkin sudah yang keseratus kalinya seharian ini.

Hikram menggaruk kepalanya yang tak gatal, sementara matanya mendelik pada sahabat lamanya itu sebelum menyerah karena tak ditanggapi, lalu meneguk minumannya. “Ulanglah perkataanmu yang membosankan, dan barangkali orang-orang esok hari akan mendengar tentang dua orang kepala wakil Kahyangan mati akibat saling cekik. Aku sudah muak dengan kelakuanmu yang mengganggu latihan-latihanku dengan si bangsawan cilik, tahu? Jangan menambahkan kayu dalam bara api.”

Ambal menghela napas, menggeleng, kemudian melayangkan pandang pada sosok kecil yang kali ini sedang meringkuk dibalik tumpukan selimut yang dipinjamkannya, karena selimut dari Hikram menurutnya terlalu tipis hingga tak layak dipakai oleh putri kaisar. Kepala bocah yang kini plontos total tanpa rambut itu berkilat-kilat terkena cahaya api unggun yang dinyalakannya setelah malam berkenan turun ke dunia. Sepertinya dia tidur sangat nyenyak, karena dengkurnya cukup keras hingga bisa terdengar.

“Dan sekalinya kau memilih, kau tidak main-main. Putri tunggal Sang Kaisar sendiri, astaga. Kau akan mengajarinya jalan hidup Naraca? Aku tak bisa bayangkan akan jadi apa negeri kita jika dipimpin bocah yang suatu saat nanti akan doyan mabuk-mabukan, tak mendengarkan apa kata penasehat—”

Hikram menyeringai lebar. “Aku punya prinsip, Bal. Mungkin kau pernah dengar. Ingat peribahasa guru kencing berdiri, murid kencing berlari?”

“Oleh karena itulah aku jadi makin takut akan pengaruhmu terhadapnya.”

“Nah, bagaimana kalau sang guru kencing berlari sambil salto puluhan kali hingga air kencingnya melompat kemana-mana? Yak, pikiranku sama persis sepertimu. Si murid akan menganggap gurunya teramat tolol hingga tak mau meniru.”

“Jadi kau bertingkah lebih bodoh daripada biasanya itu ada sebabnya?”

Hikram merasa tak perlu menjawab, maka ia hanya menatap api yang mau padam, tak berniat untuk menambahkan kayu agar umur api unggun menjadi lebih lama. Sejenak hanya suara jangkrik dan derik api memakan kayu yang mencegah kesunyian datang menghantui, sebelum suara Ambal yang selalu Hikram anggap terlalu nyaring hingga terdengar berderit seperti pisau sedang diasah mengganggunya lagi. “Rah Ayu belum juga kembali ke Kuil Teratai. Merpati-merpati pun semua datang tanpa kabar akannya. Kawan-kawan mulai khawatir.”

Hikram mendengus, “barangkali sudah memutuskan untuk menggembala kambing di stepa Birma sana. Pilihan bagus, pensiun di saat-saat ini. Kuil sudah terlalu tercemar dengan politik yang membikin ngantuk.”

“Yang diperlukan untuk menghadapi tekanan dari istana,” jawab Ambal tajam. “Kau boleh saja keluyuran seenakmu sendiri, tapi mohon diingat bahwa kami-kami yang memiliki disiplinlah yang menjadi alasanmu bisa melakukan hal itu.”

Hikram menjepit seekor nyamuk yang lewat dengan telunjuk dan jari tengahnya, kemudian menjentikkan binatang yang sudah mati itu ke dalam api. Meski kelihatannya ia tak begitu peduli dengan kabar dari Ambal, diam-diam dia ikut cemas. Rah Ayu yang memegang gelar sebagai Dewa Gembala Kolong Langit memang seorang pengembara sama sepertinya, sama nyentriknya pula, berbeda dengan Ambal yang bersih, begitu kaku, dan pastinya tak mau pakai baju butut kecuali untuk penyamaran. Ia akan merasa kehilangan jika teman yang bisa dianggap juga sebagai sekutunya dalam ruwet interaksi Kuil Teratai jadi hilang. Tapi, Hikram segera mengusir ketakutannya. Kalau ada orang aliran hitam yang menghadang Rah Ayu secara serampangan, mereka tak akan mendapat apapun kecuali gebukan tongkat dari si perempuan berbau apak mirip kambing itu.

“Paling ada keramaian di kampung halamannya, makanya dia tak mau bertandang dulu. Yang membawa kita ke masalah utama, Ambal, karena Si Bandit Emas memang datang dari arah Protektorat yang dekat sekali dengan stepa. Bagaimana caranya menghabisi dia? Prajurit-prajurit Nagart sepertinya terlalu kewalahan menghadapinya, sehingga ia bisa sampai ke dekat sini dengan begitu cepat. Maksudku, mereka sampai mampu menahan imbang Legiun Asing, menurut berita yang kudengar. Perlu diingat bahwa legiun kemampuannya tak bisa dianggap enteng, ada alasan tersendiri mengapa kaisar menginginkan orang-orang itu berada di dalam Nagart alih-alih menetap di rumah mereka.”

“Masih Hikram yang kuingat, yang selalu suka melupakan hal-hal penting. Untuk menghadapi seorang Pemegang Gelar, kau perlu membongkar fungsi Gelar mereka terlebih dahulu untuk mengetahui keunggulan sekaligus kelemahannya.”

“Oke, oke, walaupun nama Gelarnya jelas tidak segamblang yang kita inginkan, bukan? Kalau Gelarnya si Kepala Baja, lain lagi cerita. Kita akan langsung tahu bahwa kepalanya sekeras baja. Jadi, kita tinggal getok bagian lain selain kepala. Nama Bandit Emas tidak menunjukkan apapun bagiku.”

“Aku memang bukan ahli strategi seperti Singa Kensa, jadi kita tafsirkan terlebih dahulu. Kalimat pertama dari Gelarnya, yaitu Bandit. Ada yang aneh, menurutku. Itu istilah yang jarang dipakai oleh Nagart, lebih sering dipakai orang Brytisia. Jadi kemungkinan tingkahnya mirip dengan para penjahat di Brytisia sana sehingga ia mendapat Gelar Bandit.”

“Memangnya kau paham tingkah polah penjahat di negeri jauh sana? Seingatku kau belum pernah berkunjung sampai sejauh itu.”

“Memang benar bahwa aku sama sekali tak pernah menapakkan kakiku di Negeri Ksatria Baja, tapi aku tahu beberapa hal. Bedanya bandit Brytisia dengan penyamun Nagart adalah mereka membiarkan nama mereka terkenal. Tak jarang ada yang membiarkan korban hidup dengan beberapa luka permanen untuk menyebarkan nama agar semakin ditakuti. Aku pernah dengar beberapa, ceritanya beredar di rumah-rumah minum perbatasan. Sangat berbanding terbalik dengan penjahat di Nagart yang lebih senang membiarkan nama dan ciri khas mereka tersembunyi, terutama untuk menghindari kejaran pendekar kalangan putih. Memiliki para pendekar yang mau membasmi kejahatan hanya ada di Nagart, Hikram. Kemewahan seperti itu tak ada di Brytisia yang menurut para penjelajah orang-orangnya terlalu sering memikirkan diri sendiri.”

Hikram mengelus jenggotnya hati-hati, selagi pikirannya mencoba mengimbangi logika-logika Ambal yang menurutnya bergerak berat. Sial, dia memang butuh minum banyak untuk saat ini. Dia segera menenggak isi botolnya sebelum meneruskan perbincangan.

“Baiklah, poin pentingnya aku paham sekarang. Semakin didengar namanya, semakin dia ditakuti, benar? Berarti Gelarnya juga membuat gentar hati lawan-lawannya. Menyebalkan. Berarti saat menghadapinya nanti keberanian kita akan goyah diluar kendali. Aku butuh minum banyak untuk lawan seperti ini.”

“Seperti yang kau ucapkan saat melawan siapapun. Sekarang kalimat kedua, yaitu Emas. Logam mulia yang lebih mudah dibentuk ketimbang besi dan semacamnya. Digunakan sebagai alat tukar yang tinggi harganya, jauh di atas perak dan perunggu. Aku mungkin salah, tapi sepertinya dia memang lebih tertarik pada hasil jarahan berbahankan emas. Atau bisa juga dia bisa merasakan kehadiran emas dalam jumlah besar sehingga tahu dimana dia bisa merampok dengan hasil jarahan yang banyak. Atau jangan-jangan ….”

“Jangan-jangan apa, Ambal?”

Ambal nampak termangu. “Kau tahu bahwa nilai tukar emas adalah yang paling tinggi diantara perak dan perunggu? Jika ada satu Bandit Emas … maka ….”

“Astaga, aku pernah berjumpa dengan penyamun dengan Gelar Bandit Perunggu sebelumnya. Berarti ada enam puluh Bandit Perak dan tiga ratus Bandit Perunggu, sesuai dengan nilai tukar mereka dalam mata uang. Pantas mereka mampu menumbangkan prajurit perbatasan! Mereka semua punya Gelar! Bukan cuma Bandit Emas saja, melainkan juga anak buahnya!”

Ambal mendadak bangkit dengan wajah teramat gusar. Hikram sebelumnya hanya pernah sekali melihat Ambal seperti ini, yaitu saat dulu orang-orang Jaffar menggedor gerbang benteng di Front Barat yang telah dikuasai oleh Nagart. Saat-saat gawat, karena sementara itu para Satria Flamboyan yang sangat diandalkan oleh para prajurit malah berada di sisi lain yang jauh untuk menghabisi lawan yang sebenarnya menyerang hanya sebagai taktik tipu-tipu. Faktanya, karena nekat menahan gerbang seorang dirilah Hikram mendapatkan Gelarnya sebagai Pagar Betis Satu Orang, sementara Ambal mengutuk dan menghinanya sebagai orang gila tepat sebelum Hikram berangkat.

“He, buru-buru sekali. Mau kemana?”

Ambal mengangkat hidung, tak bisa memahami mengapa Hikram begitu santai sementara kenyataan bahwa semua calon musuh mereka seluruhnya merupakan Pemegang Gelar baru diketahuinya.

“Mencari Singa Kensa tentu saja, beserta memanggil garnisun Sanfeilong yang lamban. Bahaya ini terlalu besar untuk dihadapi dua orang yang memiliki empat Gelar Tempur seperti kita sekalipun. Hanya orang gila yang mau menghadapi mereka berdua saja!”

“Persis, Ambal. Omonganmu sekarang sama persis dengan kejadian yang telah lalu.”

Wajah Ambal berkerut karena tak paham.

“Dua orang, satu orang pengembara gila dan seorang putri kaisar akan menghadapi para penjahat ini. Apakah Wakil Dewa Katili terlalu pengecut sehingga malah berlindung di balik ketiak Singa Kensa?”

Wajah Ambal memerah, sementara Hikram ikut-ikutan berdiri sembari membersihkan bokongnya dari debu.

“Kau tak boleh membahayakan Putri Kaisar, Dewa Arak goblok! Kita harus mencari bantuan! Kemenangan tak akan didapatkan hanya bermodal kenekatan!”

Pada saat Ambal sibuk berkata-kata, Hikram sudah bergerak cepat. Tahu-tahu Sidya yang terkaget-kaget karena mendadak dibangunkan dari tidur sudah dibopongnya, sementara wadah minumnya masuk ke sela-sela baju.

“Kau membahayakan Nagart, Putri Sidya adalah satu-satunya pewaris tahta. Bayangkan kekacauan yang terjadi andaikata hal yang buruk menimpanya!” Ambal menggeram, tangannya telah memegang mustika gumpal besinya, yang setengah jalan berubah bentuk menjadi sebuah palu besar yang mengerikan.

Perlahan, sangat perlahan, Hikram membuka mulut, sementara Ambal bersiaga untuk menghindar, karena tahu Gelar Hikram sebagai seorang Penyembur Api. Berada di hadapan sebuah api unggun dapat membuat semburan Hikram dua kali lipat lebih berbahaya andai dia menghembuskan napas apinya.

Namun, apa yang keluar dari mulut Hikram bukanlah bara yang akan membakar semua, melainkan hanya kata-kata, walaupun sama menyelomotnya seperti amuk si jago merah bagi Ambal.

“Di pojok rumah paman petani yang sederhana—” sembari mengucapkan kalimatnya, Hikram melangkah mundur.

Air muka Ambal menjadi lebih tegang. Ia lebih dari sekedar tahu awal dari apa itu. “Keparat nekat! Berhenti!”

“—Terdapatlah sebuah sarang—”

“Berhenti melangkah atau demi junjunganku Dewa Katili, akan kulempar palu ini hingga kepalamu pecah!”

“—Milik seekor burung layang-layang—”

Ambal benar-benar melemparkan palunya, yang berputar-putar tanpa kendali mengincar wajah kawan lamanya. Tapi, Hikram sudah lebih dari sekedar siap. Tangannya yang bebas-Sidya yang meronta sudah memegang mustikanya sendiri. Dengan satu gemerisik daun bambu, ditangkisnya minggir besi Ambal di tengah jalan, yang kini terpelanting jauh seringan ranting dan hilang dalam kegelapan.

“—Tanpa sopan santun atau tata krama, si burung datang, lalu pergi! Tualang, uji diri!” Hikram berucap setengah tertawa, walau dalam hati terluka, tak menyangka bahwa Ambal benar-benar melaksanakan ancamannya. Sembari bergerak mundur, Hikram memasang Selusup Kabut Bawah-nya, yang walaupun ia yakini akan dengan mudah disingkirkan oleh Ambal mengingat dia adalah Pemegang Gelar sekaligus wakil dari Dewa Pandai Besi. Meski begitu, Hikram tetap melakukan hal itu, semata untuk membeli waktu.

Setelah selesai melakukan kuncian terakhir yang melibatkan entak hembus napas, dia segera berbalik dan berlari secepat yang dia bisa, menggunakan sisa hawa murninya untuk memompakan kecepatan serta tenaga, sementara Ambal menyumpah-nyumpah berang, bingung apakah harus mengejar atau mencari mustikanya yang hilang. Akhirnya, dia memutuskan untuk mencari palunya yang meluncur liar entah kemana, karena sadar tak akan bisa menghadapi Hikram tanpa mustika itu.

“Guru, mengapa kita harus lari?!” Sidya bertanya tanpa tahu situasi. Dalam posisinya yang janggal karena perutnya tertohok berulang-ulang oleh pundak Hikram yang memanggulnya, masih sempat-sempatnya ia melontarkan pertanyaan, tangannya menggenggam kipas Apit kuat-kuat di tangannya yang berkeringat.

“Karena, Nak,” Hikram menjawab sekenanya sembari menghindari tunggul roboh yang cukup besar dengan ilmu peringan tubuh, “kita akan meneruskan latihanmu tanpa diganggu-ganggu!”

--