Episode 72 - Aurora Genesis Guild



Pagi hari cerah di akhir pekan, saat belajar di kelas tidak berlangsung. Di taman Area 3 yang sangat indah, penuh bunga, pepohonan, rumput hijau dan bangku taman tempat orang-orang di daerah Aquamarine District bersantai dan menikmati kebersamaan bersama keluarga dan teman-teman.

"Yakin di tempat ramai begini?" tanya Chandra yang saat ini mengenakan pakaian kasualnya. Bukan seragam Vheins yang biasa ia kenakan.

"Hum!" Fia mengangguk tersenyum sambil menarik tangan Chandra. "Disini memang ramai, kita agak masuk lagi dan ke area kolamnya. Airnya disana bersih banget! Cocok untuk latihan sihir penyembuhan."

Setelah Fia terus menarik tangan Chandra ia akhirnya tiba di tempat yang dimaksud. Tempat yang lebih sepi namun lebih indah lagi dengan kolam air yang sangat bening dan pepohohan disekitarnya membuat pagi hari disini sejuk sekali rasanya.

"Woah..." Chandra terkagum-kagum. "Aku tak tahu kalau ada tempat seperti ini."

"Ahh sama denganku, aku juga baru tahu ada tempat seperti ini. Bagus banget ya!" Fia tersenyum.

"Hee? Kamu baru pertama kali kesini juga?"

"Iya... Cefhi yang memberitahuku beberapa hari lalu. Tempat yang cocok untuk melatihmu."

"Cefhi? Ahh dia ada disini juga?" Chandra mencari-cari. "Ahh hai Cefhi! Kamu datang juga ternyata." sahut Chandra sembari melambaikan tangan.

Cefhi mendengar dan melihat Chandra dari jauh, ia menoleh tapi tak lama langsung membuang muka.

"Hee dia kenapa buang muka?" Chandra heran. "Takut melihatku ya?"

"Hihi... bodoh," Fia tertawa kecil. "Dia cuma pemalu saja. Sudah yuk..."

Fia menarik tangan Chandra sekali lagi dan membawanya menemui Cefhi yang sedang duduk dekat kolam itu.

***

Di pagi hari yang sama, Alzen duduk di kereta kuda untuk sekali lagi melakukan perjalanan ke Letshera.

"Akhirnya hari libur juga, bukannya aku tidak menikmati belajar ya. Tapi surat undangan ini sudah cukup mengangguku beberapa hari terakhir." kata Alzen dengan tersenyum dan hati yang berdebar-debar. "Kira-kira guild seperti apa ya? Aurora Genesis itu?"

"Hei dek! Kamu Alzen ya?" tanya ibu-ibu yang menumpang bersama Alzen.

"Hah?" Alzen kaget karena tak siap ditanyai orang asing tiba-tiba.

"Iyakan... kamu Alzen kan? Yang juara 2 turnamen itu."

"Haduh... ternyata ada yang mengenaliku lagi." pikir Alzen dengan senyum canggung. 

***

Kembali ke Chandra.

Chandra menarik sebuah pisau kecil yang lebih seperti silet. Dan menyayatkannya pada lengannya. "Aw!" teriak Chandra, hingga kulit di tangannya menerima luka sayat dan berdarah. "Oke aku sudah terluka nih."

"Kunci dari sihir penyembuhan adalah pemfokusan aura positif pada medium kita, yaitu Air." Fia mendemonstrasikan dengan melayangkan air di depannya.

"Pemfokusan aura positif?" balas Chandra. "Aku sudah melakukannya berkali-kali tapi..."

"Ssstt... perhatikan dulu." Fia menggerakkan air itu lalu perlahan membalut luka sayat yang ada di lengan Chandra. 

Meski seharusnya air yang menyentuh luka Chandra membuat perih, tapi tidak demikian, justru tangannya terasa sejuk dan secara nyata luka sayat di lengan Chandra beregenerasi dengan cepat hingga sembuh secara sempurna dalam waktu singkat.

"Woah... hebat!" Chandra terpukau.

"Hihi... mudahkan? Sekarang ayo kamu coba."

"Ahh oke-oke, berarti aku harus sayat diriku lagi ya..."

"Jangan-jangan, biar aku saja yang menyayat tanganku."

"Hee? Kau serius." Chandra melihat tangan putih mulus dan mungil milik Fia. "Tidak-tidak, itu ide buruk. Jangan, tolong jangan melukai dirimu sendiri."

"Tenang saja bisa sembuh total kok." Fia dengan sukarela bersedia melakukannya.

Namun Chandra langsung menghentikannya. "Ahh tolong-tolong, jangan lakukan hal itu. Kita cari cara lain saja."

***

Berjam-jam berlalu dan kini harus siang. Alzen baru saja tiba di Letshera setelah perjalanan berjam-jam lamanya.

"Ahh akhirnya tiba juga, ke kota ini." Setibanya Alzen turun dari sana, Ia melihat jalanan kota Letshera yang pernah ia lewati sebelumnya, memori-memori bersama Hael itu sekejap muncul kembali. "Ha-Hael... kamu dimana sekarang?"

Namun sampai detik ini, tak seorangpun tahu Hael menghilang kemana.

Alzen menggeleng-gelengkannya, agar ia kembali fokus pada tujuannya datang kemari, ia menemui penjaga toko dekat sini dan bertanya dimana lokasi Guild yang ia tuju berada.

***

Di ruang rawat Sinus. Sinus saat ini sudah bisa berdiri sekalipun kepalanya masih dibalut perban.

"Hei bodoh! Kau sudah mendingan?" tanya Nicholas yang saat ini mengenakan baju kasualnya. Namun tetap terlihat elegan.

Tak membalasnya, Sinus berjalan perlahan hingga langkah semakin cepat dan semakin hingga, ia memeluk Nicholas tiba-tiba.

"Terima kasih banyak, Nicholas!" Sinus memeluknya.

"Hei! Sana-sana, memalukan bodoh!" balas Nicholas dengan wajah memerah dan nada kasar.

"Terima kasih masih mau menjadi teman, dari orang yang tak berguna ini. Terima kasih... terima kasih banyak." Sinus bersujud di depan Nicholas.

Velizar memandangi mereka berdua seperti biasa, tatapan kosong.

"Aish! Dasar bodoh... ngapain pakai sujud-sujud begitu. Memangnya kau babu. Sudah sana cepat naik..."

Sinus masih dalam posisi yang sama.

"Ayo naik," Nicholas merangkul Sinus dan mengangkatnya naik. "Kau tak seharusnya berlagak seperti itu."

"Kau telah menolongku sangat banyak, aku bisa kembali dan kau juga melindungiku dan yang terpenting-"

"Sudah diam, diam, diam. Kau tak berhutang apa-apa padaku. Sekarang berdiri bertingkahlah seperti biasa. Kau Sinus, bukan si lemah Hael itu kan, makanya jangan bertingkah seperti dirinya, menjijikan."

***

"Bisa! Bisa! Akhirnya aku bisa! Akhirnya aku bisa sihir penyembuhan!" teriak Chandra kegirangan melihat luka sayatnya dengan lambat menutup sedikit demi sedikit. 

"Yay! Akhirnya kamu bisa juga!" Fia ikut bergembira sekalipun terlihat lemas.

"Selamat ya Chandra." Cefhi ikut merayakannya. "Tapi lenganmu kok..."

Cefhi melihat lengan Chandra sepenuhnya diisi luka sayat yang banyak sekali hingga tak ada lagi ruang untuk disayat lagi kecuali area urat nadinya. 

"Seram begitu sih. Sini aku sembuhkan."

"Ahh jangan, jangan, jangan!" Chandra dan Fia berbarengan menolaknya.

"Hee!? Kok gak mau."

"Luka itu harus sembuh oleh kemampuan Chandra sendiri." balas Fia menjelaskan. "Aku juga tak tega sih."

"Tak apa Cefhi, apapun yang terjadi aku harus bisa. Harus!" Chandra bertekad.

"Tapi Chan," Fia berpikir, "Tanganmu memang jadi seram deh, kau seperti pyscho yang ingin bunuh diri."

Chandra melihat lengannya lagi, "Hee?"

***

Di kelas Ventus yang kosong.

"Hari libur begini kamu masih ke kelas juga." tanya Nirn pada Ranni yang dikelilingi buku-buku tebal bertemakan sejarah.

"..." Ranni masih fokus pada buku-buku di sekitarnya dan tak menanggpi Nirn.

"Ahh maaf deh kalau menganggu." Nirn langsung dibuat lesu dan pergi menjauhinya. 

"Akhirnya ketemu juga," kata Ranni dengan nada yang antusias sembari terus melanjutkan membaca. "Buku-buku disini lengkap, aku yakin pasti ada yang membahas tentang hal ini dan akhirnya, aku menemukannya." 

"Sejak aku kecil," katanya dengan dagu bersandar di tangan berpikir dalam ingatannya. "Yang selama ini aku yakini sebagai penyebab malapetaka kemusnahan klan Lodier adalah duel antara dua penyihir api. Tapi ternyata tidak, aku pernah mengalaminya sendiri, hanya saja tidak bisa kuingat dengan jelas."

"Setelah aku terkena sihir Nicholas, gambarannya menjadi sedikit lebih jelas, disana ada penyihir angin. Aku mengingatnya." Ranni memegangi kepalanya, pusing dengan beban pikirannya. "Ketiga Klan Descendant of the Flame, klan yang dianugrahi kemampuan bawaan berupa elemen api sejak kami lahir fan ditakdirkan untuk mengusai api. Bisa membangkitkan elemen lain? Apa orang itu memang asli dari salah satu klan kami? Atau... dia orang luar. Aku ke kelas ini untuk mencari tahu sesuatu tentang sihir angin dan sejarah ini. Apa klan Swordia memang bisa membangkitkan elemen yang lain, atau ahh... informasinya masih belum lengkap."

"Tapi akhirnya di buku ini tertulis, nama orang itu. Mimpi burukku, yang sempat terlibat di tengah-tengah kehancuran klan Lodier. Orang besar nan kekar yang ada di sana dan menghancurkan segalanya waktu itu adalah..." 

***

"Nah ini dia..." kata Alzen di depan gerbang besar di depannya. "Woah... jadi seperti ini guildnya? Besar sekali ya?"

"Hmm? Rambut biru? Seragam Vheins? Dia yang dibilang Neil itu ya?" pikir salah seorang disana, ketika melihat Alzen berdiri di depan gerbang. 

Orang itu berjalan pelan-pelan hingga berlari menghampiri Alzen.

"Sodara Alzen ya?" kata seseorang berpakaian jubah penyihir berwarna hitam dengan bentuk wajah yang agak kotak. Ia berambut hitam disisir ke belakang dan matanya berwarna hijau, ia datangn dan segera menyambut Alzen begitu melihatnya. 

"I...iya...kok tahu..."

"Ahh... kami sudah menunggumu. Ya jelaslah aku tahu," kata orang itu."Silahkan masuk."

"Te-terima kasih." Alzen canggung seperti biasa. Setelah melewati gerbang ia dipandu pria berambut emas itu.

"Aku Alzen, ka-kamu?"

"Xiver! Namaku Xiver! Xiver Snake..."

"Snake? Ular dong?"

"Ya begitulah... hahaha!" kata Xiver sambil berjalan mendampingi Alzen ke Guild Hall mereka. "Memang ular sih, tapi tidak ular dalam arti sesungguhnya, tapi lihat nih!" 

Xiver menggerakkan air dari botol kaca yang ada di ikat pinggangnya, lalu memutar-mutar air itu hingga berkumpul kembali jadi satu dan air jernih itu dalam waktu singkat berubah menjadi hijau dan kental seolah sudah berubah jadi air beracun.

"Woah..." Alzen terkagum-kagum. "Aku baru pertama lihat yang seperti itu!? Coba tunjukkan lagi."

"Hehe begitukah? Kau menyukainya?" balas Xiver sambil memasukkan cairan beracun itu kembali ke dalam botol kaca. "Aku punya dua elemen, satu elemen mainstream yaitu air dan satu elemen non-mainstream yaitu elemen racun. Elemen ini sangat berbahaya loh."

"Hmmph!" Alzen mengangguk. "Aku tahu itu, tapi hanya sebatas melihatnya dari buku. Yang seperti itu tadi baru pertama kali aku lihat langsung." Alzen terlihat bersemangat. "Woah... Guild ini berarti orangnya hebat-hebat ya."

"Iya dong... kita kan sama-sama dari Vheins."

"Sama-sama dari Vheins? Benarkah!!?"

"Iya, aku seniormu. Tingkat 2." balas Xiver. "Ahh tempat belajar Tingkat 1 dan Tingkat 2 memang dipisahkan sih, jadi jarang ketemu atau bahkan melihat ya."

"Iya juga sih... aku hanya kenal kak Neil Winter, seorang dari angkatan tingkat 2." balas Alzen. "Tapi bukan kenal juga sih, hanya bertemu beberapa kali saja."

"Hahaha begitu ya?" balas Xiver yang sudah tiba di pintu besar untuk memasuki Guild Hall Aurora Genesis. "Si genius brengsek Neil juga ada disini,"

Krieeekk...

Pintu masuk dibukakan. Alzen tuk pertama kalinya tiba di Guild ini. Disana ia mendapati ada Neil yang berdiri sambil tangannya menempel ke meja, terlihat sedang mendiskusikan sesuatu.

"Ohh hai Alzen!" sapa Neil dengan gembira. "Akhirnya datang juga, aku pikir kamu tidak akan datang."

"Jadi dia orangnya?" kata wanita seumuran Neil, yang berdiri tak jauh dari tempat Neil berada. "Ohh dia Alzen?" katanya dengan wajah jutek. "Dia ini cukup terkenal di turnamen itu kan?"

"Haha iya, iya." balas Neil sambil beranjak dari meja diskusinya dan menghampiri Alzen. "Dia orangnya."

"Ohh hai anak tingkat 1. Aku Silvia Filberth pelajar tingkat 2." kata wanita cantikberambut merah gelap dengan rambut dikuncir mengenakan pita kupu-kupu di belakangnya. Sekilas, sosoknya mirip dengan Ranni.

"Fil-" Alzen langsung nyeletuk.

"Aa... aa... aa..." Silvia langsung mengacungkan jari dan menggoyang-goyangkannya. "Aku bukan keponakan si edan Lasius, atau anaknya, atau saudaranya. Atau apapun yang berhubungan dengan keluarganya. Tidak, tidak. Kami hanya dari satu klan yang sama. Itu saja."

"Hei Alzen," bisik Xiver. "Tolong abaikan saja kata-katanya, dia bawel dan sering dijuluki Flame Witch di kelas."

"O... oke... haha-haha-ha." Alzen nyengir dan garuk-garuk kepala dengan satu jari.

"Hei Xiver bodoh! Kau bilang apa sama tuh anak hah?"

"Dudududu..." Xiver bersiul sambil membuang muka. "Bukan apa-apa kok."

"Oke bos Alex!" sahut Neill sambil mengangkat tangannya. "Alzen sudah disini. Kita lanjut diskusinya! Alzen silahkan kemari juga."

"Heh!? Aa... o-oke baik."    

***

Kembali ke Ranni,

"Orang besar nan kekar yang ada di sana dan menghancurkan segalanya waktu itu adalah Heimdall Lodier. Pria besar yang haus akan kekuatan, yang sampai tega menghancurkan klannya sendiri."

"Pria besar ini, ia ada disana, di dalam ingatanku." pikir Ranni pada sebuah siluet di tengah kobaran api. "Punggungnya, ototnya dan badannya yang besar itu, ia berdiri tegak di tengah-tengah bara api yang melahap apapun yang ada di sana, di hari pembataian itu."

Kemudian Ranni lanjut membaca lagi. "Pada tragedi itu, aku melihatnya sendiri secara langsung saat aku masih muda. Kepala suku klan Filberth saat itu. Theophrastus Filberth ada di hari itu untuk menghentikan aksi Heimdall dengan kemampuan sihir api dan anginnya itu. Tak sempat aku melihatnya sampai akhir karena kengerian yang ada disana. Aku hanya berlari dan sesekali berbalik untuk melihat bahwa kepala suku kami dicekik oleh Heimdall dan dibuang hingga terbakar oleh api di sekitar sana. Aku selamat dan kembali untuk menceritakan itu semua lewat tulisan. Setiap detilnya coba kuingat dan kutulis agar menjadi sebuah pesan penting kelak di masa depan nanti. Ditulis oleh..."

"...!!?" Ranni terkejut ketika membaca nama penulisnya. "Lasius Filberth!?"

***