Episode 71 - Boring, Boring, Everything is Boring



"Hah!? Apa maksudnya ini, brengsek!" ancam Nicholas pada si pelaku, "Kau benar-benar ingin mati ya?" sahutnya dengan geram.

"Woa, woa, woa, kenapa kau semarah itu?" balas Koblenz dengan senyum-senyum menghina, ia terlihat menggampangkan Nicholas yang mukanya sudah merah. "Memangnya-"

Nicholas langsung mengarahkan tangannya tepat di depan wajah Koblenz.

"DARK FORCE !!"

Wajah Koblenz langsung di terpa sebuah tekanan udara hitam yang dihempas tepat di deapan wajahnya. Kini ia merasakan hal yang sama, ia terbentur dan berdarah karena menabrak tembok, juga beberapa kali menabrak meja-meja yang dilewatinya. 

Situasi kelaspun jadi ricuh dan meja-meja dibuat berantakan karenanya. Meski begitu, Glaskov hanya berdiri tenang, terlihat tersenyum secara sembunyi dengan kedua tangannya saling berpegangan di belakang pinggangnya.

Pandangan Koblenz seketika menjadi kabur, pusing sekali rasanya. Kepala belakangnya yang membentur tembok terasa sangat nyut-nyutan buatnya. Ia mengusap-usap kepalanya dan ketika ia melihat tangannya, terdapat lumuran darah merah yang menempel pada telapaknya.

"Brengsek!" Koblenz geram giginya dikertakan hingga terdengar suara gesekan giginya. "Apa yang kau lakukan bodoh!" teriaknya sambil secara tak sadar air matanya keluar."

"Seharusnya itu yang menjadi kalimatku," Nicholas mendekatinya lalu mencekiknya. "Dasar sampah!"

"Ohogg! Ohogg! Aku mengagumi sejak lama, hiks... hiks... Nicholas!" kata Koblenz dengan tangis terisak-isak. "Tapi, tapi... kau..."

"Huh? Apa peduliku." Nicholas yang mencekik Koblenz kini menarik lehernya lalu membentur-benturkan kepala Koblenz ke tembok, hingga lebih parah benturannya.

"Pak Glaskov! Pak Glaskov." sahut salah seorang murid Stellar Umbra. "Kok diam saja sih, tolong tuh, si Koblenz bisa-bisa dibunuhnya." 

Tapi Glaskov hanya berdiri, dengan sikap yang sama. Ia masih tersenyum dan tidak berbuat apa-apa.

Dan Velizar masih duduk di tempatnya, terdiam tenang di ujung kelas dekat jendela, tanpa adrenalin, tanpa rasa tegang meski ia menyaksikan kelasnya menjadi sekacau sekarang.

Sedangkan Sinus dibuat tidak sadarkan diri, ia menghayal di awang-awang tentang segala hal yang terjadi, tak seorangpun datang mengkhawatirkannya. Ia seketika dilupakan ketika semua mata berpusat pada perkelahian Nicholas dan Koblenz. 

"Aku memang selayaknya dihukum, aku pantas mendapatkannya," pikir Sinus dalam awang-awangnya. Antara sadar dan tidak sadar. Pandangannya kabur tapi separuhnya lagi memori-memori lamanya terus bermunculan. "Aku betul-betul layak untuk diperlakukan seperti ini, aku memang rendah. Dan caraku untuk merasa lebih tinggi adalah menindas yang lebih rendah dariku. Anak itu, Hael, meski umurnya beberapa tahun diatasku tapi dia betul-betul lemah, tak membalas, pasrah, sejahat apapun aku memperlakukan dirinya. Aku butuh orang seperti itu untuk membohongi diriku, tapi hari ini, aku mendapat ganjarannya. Dia hilang dan membalas semua yang kulakukan tanpa harus melakukannya sendiri. Nasib buruk... karma. Ternyata hal seperti itu, benar adanya. Yang saat ini, malah berbalik membalasku."

***

Di kelas Fragor, beberapa saat sebelum kekacauan di kelas Stellar terjadi.

"Oke anak-anak, pagi ini kita akan belajar pemfokusan Aura dan cara mendistribusikannya pada setiap bagian tubuh kita." kata Kazzel menjelaskan di belakang meja guru untuk memulai pelajaran pada pagi hari ini. "Ya aku tahu ini bukan teknik yang mudah, tapi kalian akan sangat membutuhkannya nanti. Goal kita adalah mempersiapkan kalian untuk bisa menjejalah dungeon nanti, karena kita sudah punya goal yang jelas, maka langkah-langkah kesana satu persatunya akan aku ajarkan pada kalian secara bertahap."

Selagi Kazzel terus bicara. Ia juga mencontohkannya di depan, meski begitu Alzen terlihat sibuk dengan sesuatu.

"Surat ini kan," Alzen memandangi surat yang ia terima kemarin dan membawanya sampai di kelas. "Apa surat ini benar?" katanya dalam hati. "Apa aku benar-benar diundang oleh Guild Aurora Genesis. Tapi segelnya, tanda tangannya. Semua valid. Dan itu berarti..."

BUZZZZSSSTTT !!

Terdengar suara benturan dari kelas lain dan diikuti dengan suara keributan. 

"Pak Kazzel, Pak Kazzel." sahut salah seorang petugas disana. "Maaf menginterupsi pelajaran hari ini, tapi saat ini kelas Stellar sedang terjadi keributan, mohon segera kesana sekarang juga."

"Hah? Apa yang terjadi,"

"Maaf, tak ada waktu untuk menjelaskan secara detail, mohon bapak pergi melihatnya langsung." kata si petugas dengan ketakutan.

***

"Hah... hah..." Nicholas bernafas dengan tersengal-sengal.

Di hadapan Koblenz yang sudah babak belur tidak sadarkan diri hingga wajahnya.

"Kau sudah puas?" tanya Glaskov dengan nada santai dari belakang Nicholas.

"Enyahlah!" Nicholas reflek berbalik dan menyerangnya dengan hempasan sihir kegelapan.

Namun Glaskov hanya mengibas tangannya ke samping dan seketika serangan berdaya serang tinggi itu lenyap tak ada apa-apanya.

"Ahh... aku tak terlalu mengenalmu. Tapi rasanya semua orang disini mengenalmu." Glaskov menarik kepala Nicholas lalu memencet pipinya kuat-kuat dan bicara tatap muka dengan jarak yang pendek sekali. "Memang kamu ini pemenang turnamen, tapi kau masih amatir." Glaskov terdiam sebentar, seperti mengamat-amati sesuatu pada mata Nicholas. "Ahh jadi begitu ya, kau takut dengan kakakmu, kau takut pada Nathan Obsidus. Kau takut bahwa kau tidak bisa melampauinya, kau takut kau hanya cadangan di keluargamu, dan saat ini aku mengingatkanmu pada kak Nathan ya."

"Huh! Jadi begitu kemampuanmu. Kau membaca pikiranku, bahkan lebih dari itu, kau bisa membaca lebih dari yang kupikirkan saat ini."

"Ohh kau ingin menyerangku dari kanan ya..." kata Glaskov tenang.

Nicholas segera memberi bara api hitam pada tangannya lalu berniat menghantam wajahnya langsung. Glaskov yang sudah melihat itu semua langsung bertahan menggunakan tangan kirinya dan menahan serangannya. Hingga kedua tangan mereka berbenturan satu sama lain.

Namun...

BUUUZZZSSSTT !!

Pipi kanan Glaskov ditinju keras-keras hingga ia tersungkur jatuh di lantai kelas.

"Huh! Maksudku, kananmu bodoh!" Nicholas berdiri dan kini fokusnya berpindah pada instruktur barunya itu. "Kemampuanmu bukanlah sesuatu yang baru. Aku ini Obsidus," kata Nicholas dengan bangga memegang dadanya. "Sejak kecil aku sudah dilatih untuk melawan kemampuan sepertimu."

"Ahh begitu rupanya," kata Glaskov dengan tenang sembari berbaring di lantai. "Namun kemampuanku lebih dari itu, Aku bisa baca pikiranmu, tapi kau tidak bisa membaca pikiranku dan kamu jelas tak tahu hal yang terjadi berikutnya kan?"

"Apa maksudnya?" Nicholas curiga dalam hatinya. "Dia merencanakan sesuatu?"

Lalu satu persatu dari instruktur dari kelas lain masuk, dan melihat Nicholas tengah menghabisi Koblenz dan juga menghajar Glaskov instrukturnya.

"Nicholas! Apa-apaan ini?!" kata Lunea, instruktur yang kelasnya, paling dekat dengan kelas ini.

Kemudian Eriya datang, disambung Kazzel dengan reaksi serupa, sedang sisanya masih mengajar seperti biasa di kelas yang sama.

"Brengsek! Jadi begitu rupanya," pikir Nicholas yang segera memahami maksud Glaskov sebelumnya. "Kau sudah merencanakan ini ya? Kau mau menfitnahku..."

Glaskov tak membalas, dalam posisi terbaring di lantai yang membuat seolah-olah dirinya korban, ia hanya tersenyum, senyum yang ditutup-tutupi hingga hanya Nicholas yang bisa melihatnya.

***

Di kelas Ignis,

"Pak Lasius, di kelas lain ada keributan," tanya salah seorang murid. "Kenapa kita tid-"

"Hahaha! Buat apa? Biar kalian bisa keluar kelas?" balas Lasius santai. "Masalah disana sudah ditangani yang lain, sekarang kita fokus dan tidak teralihkan oleh drama-drama kelas lain."

Di kelas Liquidum yang cenderung malah kurang begitu peduli atau tertarik sedikitpun. Dan tetap fokus belajar seperti biasa.

"Chandra, kau kesulitan?" tanya Fia yang berada di samping kanan Cefhi. Yang membuat perbincangan mereka berdua harus melewati teling Cefhi dari telinga kiri maupun kanan.

"Ahh tidak, tidak. Aku, aku... ahh aku baik-baik saja kok."

"Huh? Yang benar? Dari hari kehari kamu mengacak-acak rambutmu terus, rambutnya sudah gak karuan sekarang tuh,"

"Hah? Benarkah?" Chandra mengusap-usap kepalanya. Dan secara tergesa-gesa merapikan rambutnya dengan tangan.

"Kau punya kesulitan apa? Cerita saja."

"Huaaa... aku tidak mengerti sama sekali. Huhuhu..." Chandra membaringkan kepalanya diatas meja meratapi ketidakmampuannya. "Hampir semuanya sudah bisa sihir penyembuhan. Aku sampai sekarang tidak bisa-bisa juga. Aku harus bagaimana nih! Huhuhu..."

"Ahh jadi begitu."

"Kamu sudah ahlinya sihir penyembuhan kan, kalau ada waktu tolong ajarkan aku dong. Aku benar-benar ti-"

"Baiklah." Fia tersenyum menyetujui, senyumnya indah sekali.

"Woahh... terima kasih, terima kasih Fia."

"Pulang sekolah ya," Fia tersenyum "Kita ke Area 3 dan cari tempat untuk berlatih."

"Kau penyelamatku..." Chandra bersyukur sekali dan matanya seperti melihat seorang malaikat penolong.

Di tengah-tengah mereka, Cefhi berpura-pura tidak dengar dan reaksinya terlihat biasa saja, meski sebenarnya, kakinya gemetar dan wajahnya memerah, serta degup jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Reaksinya mati-matian ia sembunyikan.

***

Di ruang kepala sekolah Vlaudenxius. Setelah semua yang bersangkutan pada keributan tadi di ajak berdiskusi. Yang pertama Glaskov untuk waktu yang singkat, kemudian Koblenz yang setelahnya segera di rawat. Dan kini giliran Nicholas bicara empat mata dengan Vlau tentang hal yang sebenarnya terjadi.

"Aku mengerti, aku mengerti." Vlaudenxius mengangguk.

"Kau tidak marah? Kau tidak mencurigaiku? Kau tidak berniat menghukumku?" Nicholas heran dan setengah tidak percaya.

"Nah! Jelas aku bisa saja marah, tapi kini aku telah mendengar penjelasan dari berbagai sudut pandang."

"Apa dengan keributan ini, kau akan mencabut kembali hak Sinus untuk kembali? Aku harap tidak."

"Tidak, tidak, ini bukan salahnya. Dan sikapmu itu berangkat dari keinginanmu untuk melindungi temanmu." balas Vlaudenxius. "Itu bagus."

"Huh..." Nicholas tersenyum ketus. "Kau betul-betul bijak, aku sangat berterima kasih atas pengertianmu."

"Ahh aku mulai terbiasa dengan ini," pikir Vlaudenxius. "Dari tahun ke tahun putra-putri Nero itu memang selalu seperti ini. Mereka cenderung adalah orang-orang berbakat yang lebih dari orang-orang seumurannya. Keributan, konflik adalah hal yang selalu melekat pada mereka, baik dari angkatan Nathan, lalu Nouva dan terakhir putra bungsunya, Nicholas. Mereka semua sangat-sangat potensial, tapi harus diperlakukan sedikit lebih pengertian dari orang-orang kebanyakan." 

Di tengah-tengah diskusi mereka, seseorang membuka pintu.

"Permisi," Glaskov memasuki ruang kerja Vlaudenxius dengan santainya. "Maaf menganggu perbincangan kalian. Tapi akupun juga berpendapat, bahwa sodara Nicholas ini tak sepantasnya mendapatkan hukuman."

"Apa urusanmu kemari?"

"Ohh bukan apa-apa, hanya memberi masukan."

"Siapa sebenarnya kau ini? Asal-usulmu?" Nicholas bertanya dengan penuh curiga. Kau terlihat asing bagiku."

"Padahal sudah berminggu-minggu aku mengajar di kelasmu." Glaskov geleng-geleng kepala. "Masa masih tidak kenal juga. Aku instruktur baru kelasmu, Glaskov. Leonid Glaskov."

"Leonid? Glaskov? Kau bukan orang sini ya..."

"Benar, Pak Glaskov berasal dari luar Azuria," Vlaudenxius menjelaskan. "Negaranya berada sangat jauh dari sini, tapi dia ini juga lulusan Vheins puluhan tahun lalu, dan jelas dia juga seorang master."

"Puluhan tahun lalu," Glaskov merenungkannya. "Wah... aku merasa begitu tua sekarang."

"Sejak saat itu dia lebih sering berada di benua ini, berkat kemampuannya, kau pasti sudah tahu dia akan bekerja dimana."

"Badan Intelijen kah?" Nicholas menebak-nebak, alisnya terangkat satu. "Sebagai seorang yang menginterogasi?"

"Hahaha... typical sekali ya." Glaskov tertawa dengan jawaban Nicholas. "Seperti sebuah streotipe."

"Apa aku salah?"

"Ahh tidak-tidak, tentu kau tidak salah." balas Glaskov. "Aku memang cocok melakukan pekerjaan seperti itu, tapi bukan itu pekerjaanku sekarang."

"Lalu?"

"Masa kamu tidak tahu, ya sudah jelaskan..." Vlaudenxius menggebrak meja dan berusaha menahan tawa. "Dia itu seorang instruktur Vheins, Hahahaha!"

"Hahahaha!" Glaskov ikut tertawa.

"Hah?" Nicholas cemberut. "Yang seperti itu aku juga tahu. Maksudku profesimu sebelum ini. Hah..." Nicholas menghela nafas. "Percuma saja."

***

Tak lama setelah itu, pelajaran mulai dilanjutkan. Sepulang sekolah, hari sudah menjelang malam, di ruang tempat Sinus dirawat.

"Hah... tidak ada hal yang menarik. Setiap harinya selalu begini." Velizar menunggu Sinus siuman di ranjang rawatnya.  

"Bicara apa kau ini? Setiap harinya sama?" sahut Sinus yang tak tahan untuk membalas Velizar. "Hari ini jelas sangat berbeda, anak itu sudah menghilang, dan aku babak belur begini. Kenapa kau masih bilang setiap harinya sama? Setiap harinya membosankan? Apa yang salah dengan kepalamu sih?"

"..." Velizar tidak menjawab dan terus memeluk pedangnya.

"Padahal ketika kecil dulu, kau ini cukup periang," kenang Sinus dalam kondisi babak belr paling tidak punya ekpresi lah. Tidak selempeng dirimu saat ini."

"..."

"Hei paling tidak balas kata-kataku dong..."

"Kau tidak mengerti, aku telah melihat banyak hal bersama ayah dan ibu dulu, aku mendambakan sesuatu yang baru dan terus menantikannya. Tapi ternyata tidak ada hal baru. Semuanya membosankan, semua yang ada, dulunya sudah pernah ada. Jadi semuanya membosankan. Bosan sekali."

"Ahh aku jadi kepikiran, kau punya Ayah dan Ibu? Bukannya kau tinggal dengan nenekmu yang sudah kering itu?"

"Huh... pertanyaan bodoh, bagaimana aku bisa ada di dunia yang membosankan ini, jika aku tidak punya ayah dan ibu."

"Ohh jadi kau punya? Aku tidak pernah lihat, aku bahkan baru tahu sekarang."

"Mereka berdua seorang penjelajah. Keduanya sangat mencintai pekerjaan mereka, yaitu menjelajahi dunia. Aku pernah diajaknya sekali, itu saat aku masih kecil. Saat aku belum kenal kalian."

"Saat kau belum mengenal aku dan Nicholas?"

"Ya... aku belum berusia 6 tahun, masih kecil sekali, tapi aku sudah sadar akan hal apapun yang terjadi. Aku sadar dunia ini terlalu luas untuk dijelajahi, setiap harinya baru, setiap harinya terus berubah, segalanya tak pernah sama. Hutan sihir, gunung es, makam raja, sarang naga, goa tanpa batas, monster super besar, rawa, lautan pasir, kehidupan bawah laut dan masih banyak lagi, semuanya itu telah aku lihat."

"..." Sinus diam mendengarkan.

"Kemudian orang tuaku pergi, menitipkanku pada nenekku yang selalu diam melakukan hal yang sama berulang-ulang di rumahnya yang tak pernah berubah. Aku bosan, sangat bosan, kemanapun aku pergi, semuanya sama, semuanya sudah pernah aku lihat sebelumnya. Tak ada lagi hal baru. Aku benar-benar bosan. Aku berharap mereka akan pulang dan mengajakku lagi, tapi mereka tidak pernah pulang, hanya mengirimkan surat berlembar-lembar sekali, setiap tahunnya. Untuk bercerita hal yang mereka alami, hanya dari tulisan merekalah aku bisa merasakan sesuatu yang baru. Tapi tujuan sebenarnya adalah untuk memberitahu kami, bahwa mereka masih hidup di suatu tempat yang entah ada dimana."

 "Wahh jadi begitu rupanya... aku baru mengerti sekarang." Sinus merenungkannya. "Tapi, apa kami juga membosankan? Maksudku, Aku dan Nicholas, apa kami juga membosankan."

"..." Velizar terdiam sebentar. "Kenapa kau menanyakan pertanyaan yang sulit sih. Jawabannya aku tidak tahu. Aku tidak bosan dengan kalian, tapi juga tidak melihat sesuatu yang baru."

"Kau benar-benar rumit ya, padahal kejadian ini adalah hal baru. Tapi..."

"Entahlah, aku juga tidak mengerti. Berteman dengan kalian tidak membuatku merasakan apa-apa. Biasa-biasa saja. Tapi ketika saat kamu di keluarkan, saat itu hatiku menjadi sesak. Hah... tapi ya cuma begitu saja. Tidak ada hal yang baru. Bosan, bosan, semuanya membosankan."

***