Episode 6 - Khodam Kedua Nyai Yun


“Kenapa tadi dipanggil gengnnya Kris?” tanya Putra menyelidik.

“Biasa, nyari ribut aja mereka,” jawabku sambil duduk di kursi.

“Trus gimana, gak apa-apa kan kamu, bro?” Rudi khawatir.

“Gak apa-apa bro lihat apakah ada yang terluka…?” ucapku menunjukkan lengan dan wajah padanya.

“Hem… gak ada sih. Cuma bajumu aja agak kotor,” terang Rudi memperhatikan kerah bajuku.

“Hahaha, kan kita lagi bersih-bersih bro, jadi wajar kotor,” jawabku padanya.?Ya, aku memang sedang bersih-bersih. Yaitu membersihkan para manusia yang tidak tahu sopan santun dan tata krama serta membersihkan lingkungan sekolah untuk dilaksanakan Ujian Nasional. Setengah jam kemudian, setelah kita bersih-bersih, ada seorang laki-laki dewasa marah-marah di kantor majelis guru, kemudian aku dipanggil oleh salah satu guru untuk ke kantor.

”Sialan… apaan lagi ini?” umpatku dalam hati. Setelah sampai di kantor, aku melihat Kris dan gengnya yang bajunya kotor sekali dengan seorang pemuda tinggi kekar hitam. Bisa ditebak itu kakak kandung Kris. 

“Itu kak, yang ngehajar kita barusan,” teriak Kris sambil menunjuk ku yang baru saja masuk ke dalam kantor.

“Mana, oh ini yang mukul kamu, sini aku mau pukul balik!” 

Sebelum pukulan mendarat ke arahku, pak Bambang salah satu guru menghalanginya.

“Sabar pak, kita dengarkan dulu penjelasan nak Edi dulu,” ucap pak Bambang menengahi.

“Nak Edi, coba kamu jelaskan,” kata pak Bambang padaku.

Aduh sungguh sial hari ini, aku di sidang di dalam kantor. Jika sampai aku kena poin. Nilaiku bisa jeblok aku tidak akan bisa masuk SMP favorit di salah satu kabupaten Madiun.

“Begini pak, kan mereka ngajak main bola sama kita, okelah kita main bola. Sejak kalah pertandingan yang sebelumnya, mereka mau berbuat yang tidak sportif dengan berusaha menjegalku. Karena serangan mereka luput, akhirnya mereka terjatuh dan bisa ditebak baju mereka kotor semua. Lihat bajuku juga kotor,” kataku merekayasa kejadian yang sebenarnya.

“Bohong itu kak, dia mukulin kita,” teriak Kris tidak mau kalah.

“Kalau aku mukulin kamu, mana buktinya, mana bekas lukanya. Bukannya aku yang mukulin kalian tapi nanti malah kalian yang mengeroyok aku. Aku sendiri sedangkan kalian bertiga,” kataku dengan menaikkan intonasi suara sambil menunjuk Kris.

“Coba bapak lihat luka kalian,” kata pak Bambang mengecek luka di tubuh kami satu-persatu. Setelah pak Bambang mengecek luka mereka, ternyata tidak ada luka pada tubuh mereka.

“Mana, tidak ada luka gitu, wah jangan-jangan kalian bohong ya?” ucap pak Bambang kepada mereka bertiga.

“Mungkin mereka iri pak karena aku sering masuk juara di kelas,” kataku membuat alasan yang masuk akal.

“Kalian ini bikin malu kakak saja, sudah jangan seperti ini lagi. Maafkan saya nak Edi atas perlakuan saya barusan. Maafkan saya pak Bambang dan bapak ibu guru semua atas perilaku saya yang buat ribut. Akan saya didik ulang Kris supaya menjadi laki-laki yang bertanggung jawab.” Kakak kandung Kris berujar kepada kami semua.

“Iya gak apa-apa kak, santai saja…,” balasku singkat.

Karena urusan beres, aku balik ke dalam kelas dan kakaknya Kris pulang. Setelah gengnya Kris masuk ke kelas mereka, aku hampiri mereka sambil berbisik di telinga mereka.?“Kalau kalian cari gara-gara lagi sama aku, aku buat kalian lumpuh sampai tidak bisa bicara,” nadaku mengancam.?Kris dan gengnya cuma mengangguk dengan ekspresi takut atas perbuatanku tadi. Satu masalah selesai. Setelah kejadian itu gengnya Kris berubah menjadi lebih baik, pun tidak lagi menindas anak-anak lain. Karena besoknya ujian Nasional, malam ini aku harus belajar lebih giat. Selasa malam aku pergi ke makam desa yang ada kemunculan jin wanita bernama nyai Yun. Aku memanggil nama nyai Yun tiga kali, lalu sesosok wanita nan cantik itu hadir di depanku. Karena aku ditemani mbah Kosim, aku memulai percakapan dengan nyai Yun.

“Bagaimana keputusanmu nak Edi,?” tanya nyai Yun padaku.

“Baiklah, akan saya terima pusaka dan mustika pemberian Nyai,” ucapku membalas pertanyaannya.

“Baiklah nak Edi, saya bisa memberikannya. Tapi ada satu syaratnya buat nak Edi, apakah Nak Edi sanggup..?” tanya nyai Yun lagi.

“Apa syaratnya Nyai,” tanyaku balik.

“Yaitu..”

Setelah Nyai Yun berbisik di dekat telingaku, aku mengerutkan dahiku. 

“Apa kau yakin nyai dengan permintaanmu, permintaanmu itu sungguh…” Aku heran dengan permintaan Nyai Yun barusan. Karena permintaan tersebut adalah untuk menjadi penjagaku. Cukup membuatku kaget. Kenapa dia ingin menjadi penjagaku…??“Kenapa Nyai ingin menjadi penjagaku,” tanyaku sambil menaikkan kedua alis.

“Karena aku tertarik dengan auramu. Auramu mengingatkanku dengan pemilikku yang dahulu,” jawab nyai Yun.

“Baiklah jika Nyai ingin menjadi penjagaku , maka aku akan menerima Nyai. Tapi aku tidak ingin Nyai menjadi penjagaku. Aku ingin nyai menjadi temanku sama dengan mbah Kosim.”

“Baiklah kalau itu keinginan Nak Edi. Terimakasih sudah mau menerima saya,” kata nyai Yun sambil membungkukkan badan.

“Sama-sama, Nyai,” ucapku membalas dengan senyuman.

“Ayo masuk ke dalam,” ajak Nyai Yun.

Aku masuk ke dalam makam bersama mbah Kosim yang melindungiku dari serangan jin lain. Setelah berjalan sebentar sampailah di tempat cahaya berpijar.

“Bagaimana cara mengambilnya Nyai? Aku tidak bisa.” Karena aku belum belajar teknik penarikan atau manifestasi.

“Tidak usah nak Edi, akan saya berikan kepadamu langsung…”  

Sekejap kemudian cahaya turun di depan mataku, lalu tanganku menengadah ke atas seperti menerima sesuatu. Setelah cahaya tersebut redup, aku mendapatkan satu buah pusaka. Belati pendek, sekitar enam belas centimeter lengkap dengan sarungnya, serta satunya lagi mustika berwarna merah sebesar kelereng.

“Ini apa Nyai?” ucapku bertanya dengan pemberian nyai Yun ini.

“Yang pusaka ini namanya belati *** (di sini akan saya sebutkan Belati Ngadurekso), sedangkan yang mustika berwarna merah namanya *** (di sini akan saya sebutkan Mustika Impian),” ucap nyai Yun menjelaskan.

“Lalu apa kekuatan dari pusaka dan mustika ini nyai?” tanyaku penasaran.

“Kekuatan dari pusaka ini untuk melawan dan membentengi diri atau rumah dari serangan santet dan di dalam pusaka ini adalah aku. Kemudian mustika ini adalah untuk menyamarkan auramu menjadi aura mirip Jin jika tubuh fisikmu masuk ke alam jin. Ini adalah harta yang membuat para spiritualis sanggup bertarung hingga mati,” papar nyai Yun membuatku ngeri.

“Wah keren ini mustika! Saat aku masuk ke alam ghaib bersama guru, maka aku bisa melenggang bebas.’’ Aku membayangkan sesuatu yang indah.

Yang belati nanti kutaruh di rumah untuk melindungi keluarga, dan yang mustika akan kubuat cincin.

“Saya ambil ya, Nyai,”

“Silahkan, itu adalah hakmu.”

Setelah ngobrol sebentar dengan Nyai, aku pulang ker umah. Kenapa guru ngajiku tidak bisa melihat mbah Kosim, karena setiap aku berangkat ngaji aku meninggalkan mbah Kosim di rumah. Karena itulah guru ngajiku tidak bisa melihat mbah Kosim. Sesampainya di rumah aku meletakkan Belati Ngadurekso di atas lemari pakaian keluarga.?Hari ujian nasional pun tiba, sejak pagi aku gugup belajar tentang apa yang akan keluar di soal ujian nanti. Tiga puluh menit belajar tak terasa hingga jam menunjukkan pukul delapan, tepat saat bel masuk sekolah pun berbunyi. Para peserta ujian masuk ke kelas masing-masing diikuti oleh pengawas. Setelah semua peserta masuk ke kelas, guru pengawas masuk dua orang. Kami para siswa sudah duduk di bangku masing-masing yang sudah tertera nama dan foto kami, kemudian diikuti doa bersama sebelum Ujian. Setelah doa selesai pengawas ujian membagikan soal ujian Bahasa Inggris. Setelah dibagikan lembar soal Bahasa Inggris, aku pun mengerjakan soalnya. Dari dua puluh lima jumlah soal yang bisa aku jawab hanyalah lima soal. Hingga tersirat ide nakal di kepalaku aku panggil mbah Kosim.

“Mbah Kosim, hadir,” ucapku dalam hati memanggil khodamku mbah Kosim.

“Iya Dek Edi ada apa?” tanya mbah Kosim.

“Mbah bisa tolong lihatkan jawaban nomor lima belas sampai dua puluh lima, Mbah?” Aku menyuruh mbah Kosim mengintip jawaban siapa tahu aku bisa mendapatkan nilai di atas rata-rata.

“Maaf dek Edi nomor itu apa?” Sontak aku kaget sekali, pasti mbah Kosim ini bercanda.

“Astaga nomor gak tahu mbah,? kataku sambil menepuk jidatku. “Nomor itu ini mbah,” ucapku sambil aku menunjukan nomor satu sampai dua puluh lima. 

“Saya tidak paham Dek Edi maafkan saya…” 

Sepertinya mbah Kosim beneran tidak paham. Wah bisa mati aku gak lulus ujian. Seketika itu aku ingat akan Nyai Yun.

“Mbah Kosim sekarang pulang jaga rumah,” perintahku pada mbah Kosim.

“Baik, Dek Edi. Maafkan saya tidak bisa membantu,” Mbah Kosim menghilang dari pandanganku. Kemudian aku memanggil Nyai Yun.

“Nyai Yun, hadir,”

“Iya, Nak Edi. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Nyai Yun dengan lembut.

“Maaf merepotkan Nyai Yun… Nyai Yun tahu angka dan nomor dalam dunia manusia?” tanyaku pada Nyai Yun. Jika Nyai Yun tidak tahu bisa mati ini.

“Saya tahu Nak Edi, tapi tidak semuanya, memang ada apa Nak Edi..?”

“Bisa bantu saya Nyai? Lihatkan jawaban anak cewek rambut panjang bangku nomor dua dari kanan,” sambil aku menunjuk Ninda, “Yaitu nomor lima belas sampai dua puluh lima,” perintahku pada nyai Yun.

“Baik, Nak Edi. Akan saya lihat.”

Nyai Yun berjalan bak seorang putri dengan anggunnya ke arah Ninda. Setelah nyai Yun sampai di samping Ninda, Ninda memegang tengkuknya sambil lihat kanan kiri, “Ini anak pasti merinding,” gumamku lirih

Setelah melihat jawaban Ninda Nyai Yun kembali menghampiriku.

“Jawabannya A,C,D,B,C,D,A,C,B… Itu jawabannya nak Edi,” ucap nyai Yun dengan fasih.

“Terima kasih Nyai, sekarang gantian nyai… Tolong lihatkan jawaban nomor lima sampai empat belas di anak cewek itu,” perintahku sambil aku menunjuk Indah.

“Bai, Nak Edi.” 

Sama seperti Ninda, Indah pun memegang tengkuknya sambil lihat kanan kiri.

“Jawabannya C,D,A,C,C,B,D… Itu jawabannya, Nak Edi.”

“Oke Nyai Yun. Terima kasih atas bantuannya, Nyai Yun silahkan kembali.”

“Baik nak Edi saya undur diri dulu.”

Setelah nyai Yun menghilang, aku bersantai di mejaku. Beberapa kali aku menguap karena mengantuk. Tiba waktunya ujian selesai, hanya aku sendiri yang memiliki wajah bahagia.

“Eh kamu tadi cepet amat jawabnya, padahal ‘kan tiap tes nilai Bahasa Inggrismu gak baik-baik amat ..?” ucap Ninda heran.

“Iya dong, tes yang dulu aku akting susah sekarang hari penentuan aku keluarkan semuanya, hahahaha,” ucapku menyombogkan diri sambil kedua tangan di pinggang.

“Ah, mimpi mulu. Kebanyakan nonton film kartun,” jawab Ninda ketus.

Semenjak hari pertama Ujian Nasional, jika ada jawaban yang tidak bisa, aku meminta tolong sama teman ghaibku. Sebisa mungkin aku tidak akan ngobrol dengan teman ghaibku jika tidak benar-benar darurat. 

Setelah Ujian Nasional usai sambil menunggu pengumuman, aku sempatkan ke sekolah SMP favorit di kabupaten Madiun sendirian dengan naik sepeda. Jarak rumahku ke SMP sekitar delapan kilometer dan bisa ditempuh kurang lebih tiga puluh menit dengan naik sepeda. Aku ke SMP lewat jalan raya Madiun-Surabaya, sambil naik sepeda aku melihat hamparan sawah yang sangat luas.

Sebelum memasuki batas desa tempat SMP berada, di gapura perbatasan aku merasakan adanya residual energi. Tapi aku tidak tertarik dengan sebuah kenangan. Konon katanya di gapura tepat sebelum masuk desa itu, di sana terdapat pembunuhan massal PKI, entah itu benar atau tidak, aku tak tahu.

Setelah sampai di SMPN satu, aku cari-cari informasi syarat masuk ke sana, lalu aku pun bertanya ke pada salah satu guru yang lewat.

“Maaf, permisi ibu saya mau nanya, kalau mau masuk sekolah ini syaratnya apa ya bu,” tanyaku sopan.

“Oh kamu calon siswa baru ya, emm... coba kamu ke kantor itu,” sambil menunujuk bangunan sampingku berdiri, “Itu kantor Tata Usaha dan Komite, silahkan Adek tanyakan ke sana.”?“Terima kasih, Bu.”

Kemudian aku pun berjalan ke arah gedung tersebut, ketemulah dengan seorang guru yang duduk di meja Komite sekolah.?“Maaf ibu, saya mau tanya, apa benar ini Kantor Komite dan Tata Usaha?” ucapku dengan sopan.

“Iya benar, ada yang bisa saya bantu?” ucap guru wanita berkacamata. 

“Saya ingin masuk sekolah ini bu, apa ya syaratnya?” 

“Oh adek calon siswa baru ya? Ini syaratnya dek,” sambil guru tersebut memberikan sebuah brosur.

“Terima kasih,Bu,” balasku menerima lembaran tersebut.

“Ya sama-sama.”

Sambil baca-baca brosur, sesekali aku melihat kakak kelas SMP, ‘’Beuh cantiknya, badannya ajib-ajib, roknya pendek-pendek, kakinya mulus, putih banget apalagi itunya, aduh bisa mampus aku kejepit di situ.” 

Begitulah yang tertulis dibenakku. “Astaga, gak baik, ingat dosa,” ucapku baru tersadar. 

Kemudian aku pulang ke rumah sambil mengayuh sepedaku. Sesampainya di rumah aku mempersiapkan semua syarat untuk masuk ke SMPN 01. Jam menunjukan pukul tiga sore, Putra datang ke rumahku.?“Ed, kamu dimana?” teriak Putra mencariku.

“Oh kau Put, kirain siapa ada apa…” jawabku setelah keluar dari rumah.

“Kamu mau masuk ke SMP mana ?” Putra duduk diteras depan.

“Aku mau masuk ke SMPN 01, kalau kamu ..?” ucapku juga ikut duduk di teras sambil menanyakan pertanyaan sama.

“Aku mau masuk ke SMPN 02,” balasanya tak membuatku heran, karena tetangganya juga masuk ke SMP sana.

“Oh, sama siapa temannya ke sana..?”

“Sama Rudi dan gengnya Kris. Kamu ke SMPN 01 sama siapa .?”

“Gak tau bro, mungkin sendiri…”

“Hah, sendiri!? Emang kamu betah di sana sendiri?”

“Ya mana tahu kalau belum di coba, bro.”

“Ya sudah, hati-hati di sana,”

“Oke, kamu juga…” 

Mayoritas, semua teman SDku sekolah di SMPN 02, karena jarak tempuh dengan rumah dekat. Sedangkan aku tidak mau ke sana karena aku ingin punya teman baru yang lebih banyak. Setelah berbincang-bincang dengan Putra, dia pamit pulang untuk melanjutkan pengajian, aku pun mandi lantas berangkat mengaji.