Episode 47 - Siluman Srigala Putih


Si manusia berambut dan beralis putih itu menyapukan pandangannya pada Jaya, Galuh, dan si Dewa Pengemis, lalu ia tertawa sambil mendongkakan kepalanya, “Hahaha... Atas perintah Eyang Topeng Setan, kalian harus mampus dan menjadi tumbal bagi kejayaan bumi Mega Mendung ini! Aku Si Srigala Putih yang akan mengantar nyawa kalian ke akhirat!”

“Tumbal? Hahaha sobat, kami ini hanya gerombolan pengemis, mana mau bumi Mega Mendung ini menerima kami menjadi tumbalnya demi kejayaan negeri ini? Seharusnya orang-orang dari kalangan Istanalah yang menjadi tumbalnya hahaha…” ejek si Dewa Pengemis.

“Orang tua, kaukah orang yang berjuluk si Dewa Pengemis dari Bukit Tunggul? Kebetulan aku ingin sekali menjajal kehebatanmu yang tersohor itu!” sahut si Srigala Putih.

Jaya menatap nanar pada orang itu, “Celaka kenapa orangnya si Topeng Setan harus muncul pada saat seperti ini? Aku benar-benar tak berdaya untuk meladeninya!” keluh Jaya dalam hatinya. 

Ia menyadari betul kalau kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk menghadapi murid si Topeng Setan tersebut, tapi amarah dan dendamnya pada Prabu Kertapati dan si Topeng Setan yang menyebabkan kesengsaraan hidupnya membuatnya sangat geram. “Akan kubunuh! Akan kubunuh kalian semua! Akan kubunuh semua pengikut Topeng Setan dan Kertapati!” geramnya.

Tapi satu bayangan biru mendahuluinya menyerang si manusia srigala itu, Galuh yang sedari tadi terdiam karena kebingungan dengan apa yang ia rasakan dalam hatinya langsung menerjang si Srigala Putih dengan melampiaskan dan menumpahkan segala amarahnya, “Galuh hati-hati siluman ini sangat berbahaya!” peringat gurunya, tapi Galuh tak mempedulikannya.

“Ho… jadi kau adalah kawannya si anak tumbal ini?! Kalau begitu biar kau kubikin mampus lebih dulu agar kami bertiga tak banyak rintangan untuk mengoyak tubuhnya nanti!” Srigala Putih tutup ucapannya dengan serangan tangan kanan yang sebat dan berkekuatan sepertiga tenaga dalamnya. 

Satu kali pukul dia berharap akan dapat membuat gadis itu menemui ajalnya, sekurang-kurangnya luka parah dan cacat seumur hidup! Tapi bukan main kejut manusia siluman ini ketika melihat bagaimana gadis itu bukan saja berhasil mengelakkannya tapi juga ganti membalas dengan satu serangan yang ganas! Srigala Putih melompat ke samping, Tangan kanannya kirimkan cakaran angin keras sedang kaki kanan serentak dengan itu menendang ke pinggang.

Angin serangannya saja hebatnya bukan olah-olah, angin sambaran cakarannya tajam terasa oleh Galuh! Dewi Pengemis Bukit Tunggul melompat satu setengah tombak ke udara. Tendangan maut lawan lewat, sebaliknya dengan tangan kirinya Galuh sengaja memapasi lengan lawan. Srigala Putih kertakkan rahang! Seluruh tenaga dalamnya dialirkan ke tangan kanan! Kedua telapak tangan Galuh pun membentuk cakar yang kokoh mengandung tenaga dalam yang tinggi! Gadis ini meladeni jurus cakar si Srigala Putih dengan jurus “Cakar Garuda Emas” yang ia warisi dari si Dewa Pengemis.

Dengan mengandalkan keempat indranya, si Dewa Pengemis menyaksikan pertarungan antara Galuh melawan si Srigala Putih dengan rasa khawatir, begitupun Jaya, ia merasa waswas karena ia dapat mengetahui bahwa si Srigala Putih masih menyimpan kesaktiannya yang terhebat, apalagi kedua srigala putih raksasa peliharaannya masih belum bergerak membantu tuannya.

Pada satu kesempatan cakar kedua orang yang bertempur itu pun beradu! Srigala Putih mengerenyit. Lengannya tergetar sakit. Kulitnya keriputan dengan serta merta, darah mengalir dari luka sobek di lengannya yang kena cakaran Galuh. Sebaliknya dari mulut Galuh terdengar suara pekikan tertahan, gadis ini melompat mundur, lengannya luka dalam dan luar, seluruh lengan kanan Galuh nampak membiru karena terluka dalam akibat kalah tingkatan tenaga dalam oleh si Srigala putih, telapak tangannya pun menyemburkan darah yang cukup banyak, robek oleh cakar si Srigala putih.

Si Srigala putih menatap Galuh dengan marah karena berhasil melukai tangan kanannya, “Boleh juga kau gadis bau! Sekarang sambutlah kedua temanku yang ingin ikut merencahmu!” 

Tanpa satu aba-aba, kedua hewan srigala putih peliharaannya itu langsung menerjang Galuh, Galuh pun langsung kelabakan menghindari terjangan-terjangan dua hewan buas bertubuh raksasa tersebut, apalagi ketika si Srigala Putih ikut menyerang Galuh, ketiganya secara kompak dan bersamaan menyerang tiga titik vital dari Galuh, mereka bergerak bagaikan tritunggal kembar tiga, yang mempunyai satu rasa dan satu pikiran hingga Galuh benar-benar kelabakan dibuatnya.

Galuh yang terdesak hebat itu memutuskan untuk melompat keluar dari dalam gubuk untuk mendapatkan ruang yang lebih lega, namun rupanya percuma, si Srigala putih bersama kedua hewan peliharaannya terus mengurung dan mempersempit ruang gerak Galuh, hingga pada satu kesempatan, kaki si Srigala Putih berhasil menendang perut Galuh, gadis itu pun hendak terpelanting sambil menahan sakit hingga punggungnya terbentur pada sebatang pohon besar!

Galuh jatuh terguling-guling sambil muntah darah, tetapi si Srigala putih tidak memberinya hati walau sedikitpun! Manusia siluman itu melesat ke arah Galuh dengan kecepatan fantastis, kemudian ia menendang perut Galuh yang masih tergeletak dibawah, dengan keluarkan jerit kesakitan, tubuh Galuh mencelat keatas! 

Manusia Siluman berjubah putih ini menangkap dan mencengkram pundak Galuh, ia merentangkan cakarnya mengoyak punggung Galuh, kemudian Dia membuka mulutnya! Krraauukkk! Dengan bengisnya, Manusia Siluman itu menggigit bahu Galuh dengan taring-taringnya yang tajam! “AAAAAA!!!!!” Galuh pun menjerit setinggi langit menahan sakit yang teramat sangat.

Si Dewa Pengemis sudah tidak tahan lagi, ia merasa inilah saatnya untuk turun tangan menyelamatkan muridnya yang paling ia kasihi. Orang tua ini melompat kirimkan satu pukulan jarak jauh yang membuat si Srigala Putih mau tidak mau melepaskan Galuh! Si Dewa Pengemis langsung merangkul Galuh dan menotok beberapa titik tubuhnya agar pendarahannya terhenti serta racun jahat yang menyebar dari lukanya tidak langsung menjalar ke Jantung. Jaya yang masih belum pulih dari luka dalamnya yang parah itu pun ikut membantu Galuh semampunya dia.

“Jadi kaupun mau ikut campur orang tua? Bagus! Terima ini!” hardik si Srigala Putih, ia dan dua hewan peliharaannya menerjang si Dewa Pengemis secara bersamaan.

Si Dewa Pengemis pun meladeninya, “Aku terpaksa harus turun tangan melihat kekejamanmu yang lebih buas daripada binatang!” tegasnya.

Ternyata manusia siluman bernama Srigala Putih ini benar-benar luar biasa, dalam tempo dua jurus saja, ia bersama kedua hewan peliharaannya berhasil membuat si Dewa Pengemis terdesak hebat! Didahului oleh satu lengkingan dahsyat, Si Srigala Putih pukulkan tangan kanannya ke depan. Gelombang angin keras melanda Dewa Pengemis. Si Kakek bersuit nyaring dan berkelebat dengan cepat tapi dari samping kiri kanan dua ekor srigala putih menerjangnya dengan kedua kakinya yang bercakar tajam dan beracun! Dewa Pengemis terkurung di antara tiga serangan dahsyat sekaligus!

“Sialan!” maki Dewa Pengemis. Dengan serta merta jago tua ini meloncat keatas tinggi sekali lalu berjumpalitan mundur sambil angkat kedua tangannya dan dorongkan ke muka dalam jurus pukulan yang bernama “Badai Laut Kidul”! Dua pukulan dahsyat yang mengandung tenaga dalam hebat luar biasa saling bergulat tindih menindih! 

Jaya dan Galuh yang tengah terluka parah menyaksikan adu kekuatan tenaga dalam ini menahan nafas dengan tegang. Jarang sekali pertempuran yang begini hebat mereka saksikan! Si Dewa Pengemis kernyitkan keningnya. Di kening si Srigala Putih sebaliknya kelihatan butiran-butiran keringat. Bledaaarrrr!!! Bruaakkkk!!! Dentuman ledakan dahsyat bagaikan merobek langit akibat adu tenaga dalam dua manusia yang luar biasa ini menggetarkan seluruh tempat tersebut! Pohon kayu jati yang diinjak oleh Srigala Putih hancur roboh! 

Manusia Siluman ini melompat berjumpalitan lalu mendaratkan kakinya di bumi, ia langsung mengalirkan tenaga dalam serta hawa murninya ke jantungnya, agar jantungnya tidak meledak! Nampaknya ia harus mengakui bahwa si jago tua yang menjadi lawannya ini, tenaga dalamnya lebih unggul satu tingkat dari dirinya.

Sementara itu dilain pihak, baru si Kakek menarik nafas, dari arah kanan dan kirinya sudah menerjang dua ekor srigala putih bertubuh raksasa mengincar perut dan kepalanya, Dengan bersuit nyaring Dewa Pengemis melompat mundur sejauh dua tombak lalu jungkir balik sampai tiga kali berturut-turut dan jatuhkan diri di tanah dan seterusnya berguling cepat! Dengan demikian baru dia berhasil menghindari dua serangan maut yang datang berbarengan itu.

“Celaka! Meskipun Dewa Pengemis unggul dalam hal tenaga dalam tapi kesaktian dan kecepatan si manusia srigala bersama dua hewan peliharaannya sungguh berbahaya, gerakan mereka benar-benar selaras, bagaikan satu rasa dan satu pikiran!” keluh Jaya yang melihat jalannya pertarungan dahsyat tersebut sambil memegang tubuh Galuh yang lemas akibat terluka parah.

“Gila betul!” maki Dewa Pengemis dalam hati. “Kalau dihadapi terus manusia siluman bisa bikin berabe! Aku harus bisa melumpuhkan mereka bertiga sekaligus!” Maka dengan cepat si Kakek melompat mundur menjauhi kalangan pertempuran.

“Mau kabur ke mana kau pengemis uzur?!” ejek si Srigala Putih sambil mengejar si Dewa Pengemis, si Dewa Pengemis tidak menjawab, ia langsung memainkan kecapi bututnya sambil berdiri, sekonyong-konyong angin ribut bertiup dahsyat sampai menumbangkan pohon-pohon besar di hutan itu menyertai suara petikan kecapi yang menggema ke mana-mana memekikan telinga, bumi pun dilanda gempa dibuatnya.

“Ajian Kecapi Sukma!” geram si Srigala Putih sambil melipat gandakan tenaga dalamnya untuk menutup jalur pendengaraannya, namun percuma, suara kecapi yang menusuk itu membuat telinganya sakit hingga mengeluarkan darah, kedahsyatan kecapi sukma si Dewa Pengemis sangat hebat sekali, kedua hewan peliharaan si Srigala Putih pun terkapar menggeliat-liat kesakitan sambil merintih-rintih kesakitan.

“Edan! Tenaga dalam manusia siluman itu dan dua srigala peliharaannya sungguh hebat, mereka masih bisa menahan serangan suara kecapiku, baiklah, aku terpaksa harus menguras tenaga dalamku!” pikir si Dewa Pengemis, ia pun melipat gandakan tenaga dalamnya, dan semakin hebatlah akibat yang ditimbulkan dari petikan kecapinya.

Beberapa saat kemudian, kedua srigala itu mati terkapar dengan gendang telinga pecah, tinggal si Srigala Putih yang masih bertahan meskipun gendang telinganya suudah pecah, darah mengalir deras dari lubang telinga serta mulut dan hidungnya. 

Dengan seluruh sisa tenaga dalamnya, si Dewa Pengemis mencentringkan kecapinya dan Wusss!!! Satu Sinar Pelangi menggidikan yang teramat dingin bagaikan es menyambar tubuh si Srigala Putih, Blaaarrrr!!! Tubuh si Srigala Putih jatuh terguling-guling dengan tubuh kaku membiru, itulah kehebatan pukulan “Pelangi Kematian” yang merupakan pukulan pamungkas si Dewa Pengemis!

Si Dewa Pengemis menarik nafas lega, dia lalu menyenderkan tubuhnya pada sebatang pohon, tubuhnya bermandikan keringat dan nafasnya memburu hebat, “Kini tenaga dalamku benar-benar habis terkuras, mudah-mudahan tidak ada kawan si manusia siluman ini yang menyusul menyerang kami!” ucapnya dalam hati, lalu dengan langkah agak sempoyongan ia kembali ke dalam gubuk untuk memanggil Jaya dan Galuh, mereka pun langsung meninggalkan tempat itu waktu itu juga untuk mencari tempat yang lebih aman.

***

Malam itu seluruh keraton Rajamandala dilalap si jago merah, semua penghuninya yang selamat melarikan diri, mereka tidak ada yang berani menolong orang-orang yang masih terjebak didalam keraton karena begitu hebatnya kobaran api yang membakar keraton, banyak yang tidak bisa menyelamatkan diri dan terkurung atau terjebak dalam kobaran api hingga akhirnya tewas terbakar api! Begitu dahsyatnya kobaran api tersebut hingga dalam waktu singkat pastilah keraton Rajamandala yang megah itu akan berubah menjadi puing arang!

Prabu Kertapati dengan panik berlari menuju ke gudang pusaka keraton, tapi ia tak sanggup menembus kobaran api yang telah melahap gudang pusaka tersebut, ia pun terus berlari menghindari jilatan lidah api yang telah membakar keraton hingga sampailah ia ke Balai Keprabon Keraton dimana kursi singgasana emasnya berada, yang juga ruangan tersebut telah dilalap api.

Alangkah terkejutnya ia melihat putra sulungnya yaitu Jaya Laksana tengah duduk diatas singgasananya dengan mengenakan pakaian Prabu kebesaran Mega Mendung, Jaya lalu menoleh dan menatap Prabu Kertapati sambil tertawa terbahak-bahak, jari telunjuknya menunjuk lurus-lurus kewajah Prabu Kertapati sambil tertawa terpingkal-pingkal, “Kamu... Dasar anak durhaka! Kubunuh kamu! Kubunuh kamu!” jerit Prabu Kertapati sambil hendak menerjang mencekik Jaya, tapi jilatan lidah api menghalangi dirinya dengan Jaya, ia hanya bisa bisa berteriak-teriak, mencak-mencak sambil tangannya hendak mencengkram leher Jaya untuk mencekiknya, sementara Jaya terus tertawa terpingkal-pingkal seolah penuh dengan rasa kemenangan.

Dewi Nawangkasih membuka matanya ketika ia terbangunkan oleh igauan suaminya disebelahnya yang berteriak-teriak, “Kubunuh kamu! Kubunuh kamu!” ia pun membangunkan suaminya “Kakang bangun! Kakang!”, Prabu Kertapati pun bangun dengan tubuh bermandikan keringat dingin, ia lalu melihat keadaan sekelilingnya lalu mengusap wajahnya yang dibasahi keringat dingin.

“Kakang bermimpi buruk?” Tanya Dewi Nawangkasih sambil menyeka keringat di kening suaminya.

Prabu Kertapati tidak langsung menjawab, ia berusaha menenangkan dirinya sambil mengatur nafasnya baru kemudian menjawab, “Benar Nyai, saya bermimpi buruk sekali, saya bermimpi seluruh keraton ini terbakar oleh api, banyak sekali korban jiwa, mayat yang hangus terbakar bergelimpangan dimana-mana, suara jerit tangis dan rintih kesakitan menggema ke seantero Mega Mendung, bahkan gudang penyimpanan pusaka keraton pun habis terbakar! 

Tapi yang begitu mengagetkan saya adalah saya melihat Jaya Laksana yang membakar seluruh keraton ini, api itu keluar dari mulut, lubang hidung, serta kedua bola matanya, seluruh api yang keluar dari tubuhnya menjilat, membakar keraton ini! Setelah ia membakar seluruh keraton ini ia duduk diatas kursi singgasana dan tertawa penuh kemenangan sambil mengejek diriku yang tidak berdaya!”

Dewi Nawangkasih menghela nafas berat mendengar mimpi suaminya itu, dia tertunduk dengan wajah yang sangat muram, ada perasaan takut dan sedih saling bergulung menjadi satu didalam hatinya, apalagi ketika mengingat apa yang ia saksikan 3 malam yang silam, “Kakang... Mungkin mimpi Kakang ada hubungannya dengan kejadian yang hamba saksikan tiga malam yang silam…” desahnya.

Prabu Kertapati yang tanggap melihat gelagat istrinya itu berkata, “Ada yang hendak kamu katakan Nyai? Katakanlah”.

Dewi Nawangkasih terdiam sejenak, matanya menatap kosong ke arah pintu, “Kakang saat tiga malam yang silam, saya tidak bisa tidur karena terus memikirkan anak kita Jaya Laksana, hingga pada saat tengah malam saya putuskan untuk keluar ke taman istana mencari angin, tiba-tiba saya merasa seluruh keraton dilanda lindu yang sangat dahsyat, dan saya melihat ada cahaya terang yang bersinar dari ruang Keprabon bagaikan sebuah bintang kejora. Kemudian bintang tersebut terbang meninggalkan ruang keprabon menuju ke langit lepas!”

Bukan main terkejutnya Prabu Kertapati mendengar cerita istrinya tersebut, “Nyai kenapa tidak mengatakan padaku lebih awal?”

“Karena saya tidak mau menambah beban pikiranmu Kakang Prabu, saat itu kita mendengar kabar bahwa Banten akan segera menyerbu kita, saya takut apa yang saya lihat itu akan menambah beban pikiranmu... Kakang saya takut sekali, saya takut kalau bintang itu adalah Wahyu Keprabon yang terbang meninggalkan keraton kita, meninggalkan Mega Mendung ini!” jawab Dewi Nawangkasih sambil menangis.

“Orang-orang Banten itu harus kita lumatkan sampai ke tulang-tulangnya! Kita harus balas menyerbu mereka segera setelah memukul mundur mereka!” geram Prabu Kertapati.

“Kakang, menurut saya penyebab Wahyu Keprabon pergi meninggalkan kita adalah bukan karena orang-orang Banten itu, tapi karena perbuatan kita sendiri. Perbuatan kita yang mbalela dari Prabu Suriawisesa yang merupakan Kakak Kandung Kakang sendiri, dan Raja dari negeri Pajajaran yang merupakan negeri leluhur kita adalah salah, yang kedua adalah dosa kita pada anak kita sendiri, Kakang hampir saja membunuh Jaya dan membuangnya begitu saja, malah sekarang Kakang kembali mengejar Jaya untuk membunuhnya!” desah Dewi Nawangkasih.

Prabu Kertapati mendengus, tangannya mengepal keras-keras, “Apa yang Nyai katakan? Nyai semua yang kulakukan adalah untuk meraih hak kita, hak untuk menjadi Negara yang merdeka! Dan soal anak kita, aku terpaksa melakukannya karena telah terikat janji pada Topeng Setan, anak kita harus menjadi tumbal untuk kejayaan negeri kita!”

“Lalu dimanakah kejayaan itu? Maaf kalau saya harus mengatakan ini Kakang, Apakah Kakang sekarang sudah berhasil menaklukan seluruh negeri yang ada di tanah Pasundan ini? Kakang bahkan telah tega membunuh cucu laki-laki Kakang yang pertama, tapi dimanakah kejayaan itu? Apakah kejayaan dan kemakmuran sudah menghampiri kita?” Tanya Dewi Nawangkasih dengan suara bergetar sambil menangis.

Prabu Kertapati mendelik mendengar ucapan istrinya, “Anak durhaka itu harus aku bunuh! Dialah biang keladi dan sumber malapetaka bagi Mega Mendung! Dialah penyebab negeri kita belum mencapai kejayaan hingga saat ini!” tukasnya dengan suara keras, lalu tanpa mengatakan sepatah katapun ia berdiri dan melangkah meninggalkan istrinya yang masih menangis sesegukan.