Episode 19 - Tumpuan


Salah satu hal yang menarik dalam perjalanan-perjalananku ke benua ini adalah betapa berbedanya prajurit-prajurit dari berbagai negeri. Telah kulihat ksatira Brytisia hampir dibuat kebal oleh baju baja yang sangat kuat melindungi badan, serangan lawan bisa dinetralkan tanpa harus ada pergerakan. Telah kulihat para petarung dari suku-suku Jaffar membantai lawan dengan buas, bahkan sampai hati untuk memakan organ dalam lawan karena mengingat dendam adalah kebiasaan mereka pagi, siang, dan malam, tak akan mereka berhenti sampai dendam dibayar lunas dua kali dengan sabetan senjata besi. Telah kulihat pemburu dari stepa mampu memanah tepat sasaran dengan jarak setengah mil sembari mengendarai kuda tanpa pelana yang berlari cepat, karena sejak belum bisa berjalan pun mereka telah mengenal kuda tunggangan semudah mengenali ibu mereka sendiri. Telah kulihat pula seorang pertapa yang menyebut diri sebagai asketis dari negeri Corr yang murah senyum melawan tiga puluh tiga perompak hanya dengan dua batang kayu, wajahnya menunjukkan kebengisan dan aku tak pernah melihat hal yang lebih mengerikan.

Namun, yang paling hebat dari mereka semua adalah pendekar, terutama yang disebut sebagai Pemegang Gelar dari Nagart. Cobalah geser kuda-kuda mereka, maka badan pembaca akhirnya akan bertemu tanah padahal si pendekar tak melakukan apa-apa.

—Diogenesus, Kembara Pencatat dari Romana


Esok paginya, Hikram benar-benar melaksanakan janjinya. Pagi-pagi dia sudah membangunkan Sidya, terlalu pagi malah. Bukan dengan cara yang sopan pula, melainkan dengan memukul panci keras-keras seperti para serdadu membangunkan para calon tamtama. Sidya yang tersentak dari lelapnya merengut begitu tahu siapa yang bikin ribut-ribut, tapi tanpa diiringi keluh-kesah satu patah kata pun, ia mulai mempersiapkan diri untuk memulai hari, sementara matanya terus mengawasi langit timur seolah menyalahkan jadwal edar sang mentari ketimbang keantikan cara guru dalam membangunkannya.

“Pertama-tama,” Hikram langsung memulai ceramah, sementara Ambal mengawasi sembari menyandarkan diri pada patung Kasturi sang perawan suci, “kita harus memulai latihan dari dasar. Hawa murnimu telah bangkit, secara naluriah kau juga telah mampu menyalurkannya, maka aku tak perlu mengajarimu cara-caranya.”

“Lalu dasarnya apa, Guru? Mengajariku cara menghimpun hawa murni?”

“Kalau kau meluangkan waktu sedikit saja untuk membaca kumpulan karya leluhur-leluhurmu yang sangat ahli dalam bidang ini—dan aku yakin kau tidak melakukan hal itu—kau pasti tahu bahwa hawa murni akan tertumpuk dengan sendirinya tanpa harus dihimpun.”

“Perlahan-lahan, Sidya. Terlalu lambat untuk iklim rimba persilatan yang diisi oleh orang-orang yang gampang panas, hingga bisa dipastikan lebih senang melayangkan pukulan terlebih dahulu ketimbang sapaan,” Ambal menimpali, sementara Hikram melempar pandang kesal padanya. “Baik, benar, terima kasih. Kau perlu diam sebentar, Ambal. Aku pengajar utamanya untuk hari ini.” Ia kemudian berdeham, berpaling pada Sidya yang masih memperhatikan. “Nah, walaupun Ambal menyela, tapi dia memang ada betulnya. Penumpukan hawa murni secara alami berjalan terlalu lambat bagi orang-orang yang sering menggunakan hawa murninya. Maka dari itu, teknik olah napas serta berdiam diri akan kuajarkan. Saat waktunya tepat.”

“Sekarang belum waktu yang tepat?”

Hikram menyeringai. “Belum, Nak. Sekarang belum. Dalam olah tenaga dalam kau memang berkembang pesat, tapi untuk tenaga kasar apalagi kekuatan badan, kau tertinggal terlalu jauh. Saatnya melatih fisikmu. Pasang kuda-kuda rendah, sekarang. Taruh kedua tanganmu di punggung, kita belum membutuhkannya untuk saat ini.”

Sidya agak ragu, terutama karena kemarin Hikram berkata akan mengajarinya berbagai hal yang terdengar cukup menarik, sementara melatih kuda-kuda bukan hal yang menarik baginya. Sidya pelan-pelan mementangkan kaki seolah takut celananya akan robek kapan saja, ia memosisikan diri agak lama dan setelah Sidya selesai, tanpa tedeng aling-aling Hikram langsung melabrak sisi dalam kuda-kuda Sidya dengan tongkat mustikanya yang mendadak muncul di tangan. Tak ayal lagi bocah sepuluh tahun itu langsung tersungkur karena hilang keseimbangan.

“Guru memukul kakiku dengan tongkat mustika! Kalau pecah bagaimana?!” Sidya menggeram sembari meludahkan beberapa helai pasir yang masuk ke mulut.

“Jangan sembarangan mengayunkan tongkat, pemabuk tolol!” Ambal ikut menambahkan, dia cekatan bergerak untuk membantu Sidya kembali berdiri.

“Terlalu percaya diri pada garis darahmu sehingga menganggap tongkatku mudah pecah, begitu?” Hikram bertanya galak pada Sidya, sementara tangannya mengusir Ambal pergi dari latihan dua arahnya dengan si murid.

“Maksudku mata kakiku, Guru! Kalau mata kakiku pecah bagaimana?!”

“Tak akan! Pendekar yang baik adalah pendekar yang bisa mengatur tenaganya. Ambal mana bisa menyaingiku dalam hal itu? Sekarang berdiri yang benar, atau kupukul punggungmu. Kuda-kudamu kurang rendah, Bangsawan Cilik. Tumpuanmu juga kurang teguh. Tekuk pahamu sampai membentuk sudut yang pas.”

Sidya sampai mengertakkan gigi saking herannya mengapa ada orang yang mengajar dengan cara seperti ini, tapi dia tak membantah. Dia melakukan perintah-perintah Hikram hingga si pesilat tua cukup puas, sementara Ambal diam di tempat, siap membela Sidya jikalau instruksi Hikram selanjutnya dianggap cukup berbahaya.

“Jadi selanjutnya apa?”

“Cukup. Kau diam dulu di situ.” Hikram berdiri, menghilangkan tongkatnya dari tangan, lalu mengeluarkan mangkuk pengemisnya yang butut dari lipatan baju. Ia menaruh benda itu di kepala Sidya.

“Mangkuk ini untuk melatih keseimbanganmu. Kalau jatuh, kau harus membayar dengan lari memutari sisi terluar kumpulan altar-altar ini sepuluh kali. Kau perlu menahan kuda-kudamu sampai matahari merangkak cukup tinggi untuk bisa mendapat jatah istirahat.”

“Diam begini saja? Guru, apa gunanya—”

“Sssst, bocah. Sayang sekali masa-masamu tinggal di Istana Giok tak kau gunakan dengan baik, bahkan hanya untuk melatih hal dasar semacam ini. Terbukti, kau tak bisa menjaga kakimu agar tetap diam di tempat. Waktumu kau habiskan untuk apa sih?”

“Belajar tata pemerintahan, Ilmu baca-tulis, retorik, bahasa asing, tata letak dan pengelolaan daerah, hafalan dongeng—”

“Kau itu calon seniman atau kaisarina? Hapalan dongeng, demi Kahyangan. Buat apa?”

Sidya melempar pandang meremehkan ala ningratnya yang paling bagus.

“Buat apa, hei?”

“Tak ada salahnya menghafal dongeng! Aku belajar apapun yang kumau!”

Hikram mengawasi wajah bocah keras kepala itu sembari mengusap-usap jenggotnya, tumpuan si putri yang mulai goyah akibat rasa pegal tak bisa luput dari perhatiannya. Sejenak kemudian dia mengangguk sendiri, kemudian bilang, “Kau tentu paham bahwa sebagian besar wilayah Nagart merupakan daerah yang bergunung-gunung?”

Itu pertanyaan mudah bagi Sidya. “Ya. Win Zah, Xinlu, Khopra, Hangen, Gargung. Semuanya merupakan daerah yang bisa disebut dataran tinggi. Bahkan Siauliong, yang merupakan nama tengah sekaligus daerah kekuasaanku yang saat ini sedang dikelola para kasim,” Hikram menghela napas saat mendengar semacam usaha untuk pamer ini, “semuanya merupakan daerah yang masuk dalam deskripsiku.”

“Pintar sekali. Nah, dengan daerah yang tanahnya kasar dan berbatu-batu seperti ini, kalau tumpuan kakimu tak kuat, maka yang terjadi,” Hikram menyelempang kaki Sidya lagi untuk yang kedua kalinya sampai dia jatuh bergedebuk, sementara Ambal lagi-lagi membantu sang putri berdiri, “adalah seperti ini, jadi pastikan kuda-kudamu rendah, matamu siaga. Kau tak tahu pasti kapan lawan akan memulai sikap serang.”

Sidya menyingkirkan mangkuk pengemis gurunya yang menimpa muka sembari menggerutu. Tapi, didera dengan tatapan Hikram yang cukup menakutkan, dia segera pasang kuda-kuda lagi serendah yang dia bisa. Karena Hikram masih menatap galak, dia juga segera memasang mangkuk di kepala.

“Anak baik! Nah, untuk mengusir kebosananmu, sekarang kita dengar cerita tentang seorang pendekar budiman, baik hati, tidak sombong, suka menabung, serta kuda-kudanya sangat kokoh.”

“Siapa namanya?”

“Hikram Sathar.”

Sidya mengeluh. Ia tak ingin mendengar “cerita” tentang gurunya, yang pastinya dibumbui hal-hal aneh serta minuman-minuman keras yang namanya lebih aneh lagi. Sementara Ambal mendengus.

“Mau menceritakan tentang adu seruduk dengan seekor kambing di Front Barat rupanya?”

“Bukan!”

“Kalau begitu aku saja yang menceritakan. Jadi, waktu itu mental prajurit-prajurit Nagart sedang jatuh, dikarenakan benteng gunduk tanah liat milik orang-orang Jaffar belum dapat ditembus,” Ambal memulai, sementara Hikram mau menutup mulut kawan lamanya yang mengoceh. Gagal, karena dengan mudah Ambal menyingkirkan tangannya. “Jadi salah satu dari delapan mantan Jawara Prathama yang hadir pada saat itu mendapat sebuah ide brilian untuk menaikkan kembali semangat para serdadu. Dia mengadakan kompetisi adu kemampuan dengan binatang. Gulat dengan banteng, adu cepat dengan serigala gurun … hal-hal semacam itu.”

“Berhenti ngomong!” Hikram membentak, tangannya masih berusaha menyumpal bibir Ambal dengan jari-jarinya sementara si wakil Dewa Katili menyulap mustika besinya menjadi semacam perisai untuk mendorong Hikram menjauh, dia masih menuturkan ceritanya dengan wajah datar, “Dan si mantan jawara memberi contoh supaya semuanya makin seru. Dia mengadu kuatnya kepala dengan seekor kambing, yang dengan mudah dikalahkannya. Dia melakukan hal itu lagi, menang lagi. Kemudian pada kali ketiga ….”

“Lalalala, aku tidak dengar!” Hikram menyerah dalam usahanya mendiamkan Ambal, dan segera menyumpal telinga dan bernyanyi keras-keras agar tidak mendengar ucapan Ambal selanjutnya, langkah-langkah dibuat berisik karena dia mengentak-ngentakkan kaki.

“… Si Mantan Jawara Prathama menundukkan kepala, kemudian menyerbu. Tak disadarinya bahwa para prajurit telah menyingkirkan si kambing yang tengah marah, kemudian mengadu kepalanya dengan sebuah pendobrak dinding!”

“Lalu apa yang terjadi, Paman?!” Sidya bertanya penuh semangat, lupa dengan rasa kaku pegal yang merambati kakinya.

“Tentu saja dia kalah. Kepala yang bertumbukan dengan ujung pendobrak yang terbuat dari besi itu mengucurkan darah yang sangat banyak. Dia mengumpat-umpat sepanjang jalan menuju tenda ahli medis, mengeluhkan tentang para prajurit tak tahu terima kasih serta mengeluhkan kurang sopannya para pemuda sehingga mengerjai seorang Mantan Jawara Prathama sepertinya.”

“Kalau begitu guru memang payah?” Sidya bertanya, sudah bisa menebak bahwa si mantan jawara yang diceritakan adalah Hikram sendiri.

“Tidak juga. Pada akhirnya semangat para prajurit naik setelah kejadian menggelikan itu. Apalagi setelah itu datang kabar baik bahwa pada akhirnya penggalian pada kawasan dinding musuh telah membuahkan hasil. Kami berhasil menang, Nak. Dan Hikram memenangkan Gelar Pagar Betis Satu Orang-nya pada salah satu gerbang benteng.”

“Bagaimana ceritanya?” Sidya bertanya antusias.

Ambal menatapnya dengan aneh, dan sekilas emosi terlihat pada wajah yang datar bahkan saat menceritakan hal yang lumayan lucu itu. Rasa marahkah?

“Itu cerita untuk kali lain, Anakku. Sekarang kau bisa mengistirahatkan kakimu.”

Sidya berpaling dari Ambal, dan dilihatnya Hikram sudah tak ada.

“Dia pasti pergi untuk membeli minuman. Jangan khawatir, dia akan segera kembali.”

Sidya mengangguk dan segera meninggalkan posisi kuda-kudanya, walaupun dalam hati merasa kurang enak karena tidak patuh pada perintah gurunya.

“Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Anakku. Hikram belum pernah memiliki murid, maka dari itu dia meniru cara mengajar gurunya. Bukan cara yang paling baik, menurutku. Janda Merah bukan wanita yang penuh welas asih.”

Sidya mengangguk, meskipun masih ada yang mengganjal pikirannya. Wajahnya kembali ceria begitu terpantik sebuah ide dalam kepalanya.

“Paman mau cerita tentang pengalaman-pengalaman paman yang lain selama bersama dengan guru?”

Ambal mengedarkan pandang sebentar, memeriksa keadaan dengan seksama seolah bisa saja ada seorang penyamun yang mendadak muncul dari balik salah satu patung. Tak lama kemudian dia mengangguk.

“Baiklah. Toh, gurumu pasti berlama-lama untuk memilih jenis minuman. Mau mendengar tentang dia yang keliru menenggak alkohol murni hingga menyemburkannya pada sebuah api unggun? Hebat sekali, segerombol penyamun yang sedang mengincarnya sangat takut, mengira dia benar-benar bisa menyemburkan api. Hari-hari selanjutnya Hanfeilong ramai dengan cerita tentang seorang lelaki yang mampu mengeluarkan api dari mulutnya.”

Sidya tertawa. Dia bertepuk tangan saking senangnya, meminta Ambal untuk bercerita lagi, dan hari itu dihabiskannya dengan mendengar cerita tentang gurunya.

--