Episode 48 - Simbol Bakat



Dalam catatan yang diberikan Kinasih padaku, disebutkan bahwa bakat seorang pendekar ditentukan oleh tiga unsur utama, yaitu fisik, mental, dan pikiran. Bakat fisik merujuk pada compatible atau tidaknya fisik seseorang dalam mempelajari jurus dan teknik tenaga dalam. Unsur fisik inilah yang disebut-sebut sebagai unsur utama dalam menentukan cocok atau tidaknya seseorang mempelajari jurus tertentu. 

Bahkan terdapat beberapa anomali dalam bakat fisik yang biasa disebut dengan istilah ‘konstitusi tubuh’. Pendekar dengan konstitusi tubuh tertentu dapat membuat keajaiban yang sama sekali tak masuk akal, seperti mencapai tahapan tinggi pada pengolahan tenaga dalamnya dengan waktu yang sangat singkat. Tapi biasanya ada persyaratan-persyaratan tertentu yang harus dipenuhi untuk mengeluarkan keajaiban tersebut, dan persyaratan tersebut sama sekali bukan sesuatu yang mudah dipenuhi. Meski demikian, tidak semua konstitusi tubuh memberikan efek positif pada pemiliknya, ada juga konstitusi tubuh yang justru menyebabkan efek negatif seperti membuat si pemilik konstitusi tubuh sama sekali tidak bisa berlatih pengolahan tenaga dalam, atau bahkan menyebabkan si pemilik konstitusi berusia pendek. 

Beberapa konstitusi tubuh yang pernah kudengar adalah ‘Tubuh Mentari Hitam’, ‘Tubuh Segel Es’, dan ‘Tubuh Seribu Racun’. Meskipun ada jenis konstitusi yang lainnya, namun pengetahuanku belum sampai kesana.  

Bagaimana dengan aku sendiri? Apakah aku memiliki konstitusi tubuh atau tidak? Kinasih sendiripun tidak bisa mengetahuinya. Karena memang untuk mendeteksi konstitusi tubuh sama sekali bukan pekerjaan mudah. Tidak sembarang orang dapat mendeteksi konstitusi tubuh, perlu pengetahuan yang mendalam dalam untuk melakukannya.

Sudah jarang muncul, susah pula di deteksi, karena itulah seorang pendekar dengan konstitusi tubuh sangatlah jarang ditemui, bahkan dalam seratus tahun, belum tentu ada satu orang pendekar dengan konstitusi tubuh yang muncul dalam dunia persilatan. 

Sedangkan unsur yang kedua adalah bakat mental, bakat mental memiliki peranan sangat penting dalam menentukan seberapa tingginya tingkatan kesaktian yang bisa dicapai oleh seorang pendekar. Bakat mental dapat terlihat dari seberapa gigih dan disiplin seorang pendekar dalam berlatih. Meskipun pendekar itu memiliki bakat fisik yang cukup tinggi sehingga mudah menyerap energi murni alam semesta, tapi jika dia berlatih malas-malasan dan sesuka hatinya, maka tentu pencapaiannya di masa depan tidak akan terlalu tinggi. Selain itu, bakat mental juga melingkupi ketahanan mentalnya dalam menjalani kesulitan maupun menghadapi rasa sakit dan pedih yang mungkin timbul saat berlatih. 

Meskipun hingga saat ini belum ada yang menilai bakat mentalku, tapi aku cukup yakin bakat mental yang kumiliki cukup tinggi. Mengingat ketahananku saat menghadapi rasa sakit luar biasa yang timbul ketika Sadewo pertama kali mengeksekusi Mantra Pemindah Arwah pada diriku, serta ketekunanku melatih tenaga dalam selama beberapa bulan ini setelah memperoleh pengetahuan dari Kinasih. 

Tapi aku sendiri tidak tahu pasti berada diposisi mana bakat mentalku ini jika dibandingkan dengan para pendekar dunia persilatan yang lain. 

Selain bakat fisik dan mental, bakat yang terakhir adalah bakat pikiran. Bakat ini mengacu pada kemampuan seorang pendekar menganalisa dan mengimplementasikan teknik pengolahan tenaga dalam dan jurus-jurus silat. Seorang dengan pikiran yang tajam tidak hanya mampu mempercepat proses latihan pengolahan tenaga, tapi juga memaksimalkan potensi jurus yang dipelajarinya, bahkan seseorang yang memiliki bakat pikiran yang tinggi mampu mengembangkan jurus yang dipelajarinya menjadi jauh lebih tinggi tingkatannya. Jurus iblis sesat yang kupelajari adalah salah satu hasil pengembangan tersebut. 

Bahkan tidak sedikit pendekar yang menganggap bakat pikiran lebih penting daripada bakat fisik dan mental. Karena tanpa kepintaran yang cukup, orang yang memiliki bakat fisik tinggi hanya akan berkembang sesuai tingkatan teknik tenaga dalam yang dipelajarinya. Apalagi orang yang hanya mengandalkan bakat mentalnya saja, dia seperti kuli yang bekerja banting tulang hanya untuk menerima gaji kecil pada akhirnya. Tapi secara umum, ketiga bakat tersebut adalah komponen tak terpisahkan dalam membentuk seorang pendekar berkesaktian tinggi. 

Fungsi batu tiga kekuatan sendiri adalah untuk mengukur ketiga bakat tersebut, meskipun hasil pengukuran yang dilakukan tidak bisa benar-benar akurat dalam menilai ketiga bakat tersebut, terutama bakat mental yang sifatnya sangat abstrak. Namun setidaknya hasil pengukuran batu tiga kekuatan dapat menggambarkan rata-rata bakat yang dimiliki oleh si pendekar. Dan ketiga bakat itu paling mudah dinilai saat seseorang mengeksekusi sebuah jurus. Saat seorang pendekar mengeksekusi sebuat jurus, maka akan terlihat sejauh mana pemahaman pendekar tersebut terhadap jurus yang dia eksekusi, dan seberapa compatible tubuhnya saat menggunakan tenaga dalam. 

Karena itu para pendekar yang bersaing memperebutkan pusaka Sekte Pulau Arwah mengeksekusi jurus mereka di depan megalith berpendar hijau itu. Barang siapa yang bakatnya memenuhi batas kriteria tertentu, maka sebuah tangga akan meluncur turun dari langit-langit aula dan mempersilahkan orang yang berhasil memenuhi kriteria naik ke tingkat selanjutnya. Sedangkan jika orang tersebut gagal memenuhi kriteria, bukan tangga yang muncul, melainkan cemoohan dari peserta yang lain agar dia segera minggir dari megalith. 

Bentuk pengukuran batu tiga kekuatan adalah simbol-simbol yang aku sendiri tidak tahu apa artinya, dengan jumlah dua belas simbol. Batu tersebut tidak menilai ketiga unsur bakat secara terpisah, melainkan hanya mengambil rata-ratanya dan kemudian menampilkannya dalam bentuk jumlah simbol yang berpendar. Semakin tinggi rata-rata unsur bakat yang dimiliki seseorang, maka makin banyak pula simbol yang berpendar dari batu tiga kekuatan itu. 

Dari pengamatanku, batas minimal yang harus dipenuhi untuk melanjutkan ke tingkatan selanjutnya adalah empat simbol, hanya sepertiga dari batas maksimal dua belas simbol. Namun hingga saat ini sudah ada delapan orang yang maju untuk menguji bakat mereka, dan hanya tiga orang yang berhasil naik ke tingkat selanjutnya. Sedangkan lima orang lainnya tidak mampu memenuhi kriteria karena simbol yang berpendar saat mereka mengeksekusi jurus tidak sampai empat simbol.  

Seperti orang yang baru saja memperagakan jurusnya di depan megalith, dia gagal memenuhi kriteria dan harus meninggalkan megalith diiringi cemoohan dan cacian yang datang baik dari kelompok yang berseteru dengannya maupun kelompok yang tidak mengenal dirinya. 

“Dasar tak berguna!” 

“Pantas sudah tua bangka masih berada di tahap penyerapan energi.”

Dengan muka merah menahan amarah, orang di depan megalith segera membalikkan badannya dan balik membentak.

“Siapa yang berani mengatai aku tak berguna dan tua bangka?!”

“Aku yang mengatakannya, kenapa? Kau mau membuat perhitungan denganku?”

Tiba-tiba saja seorang pemuda bertubuh tinggi dan tegap serta berwajah ganteng maju dan menjawab dengan lantang pertanyaan orang yang baru saja melakukan ujian di depan megalith. 

“Eh... Tidak, tidak kenapa-kenapa,” ujar orang yang baru melakukan ujian tadi sambil menundukkan kepalanya. 

“Dasar sampah! Minggir!” seru pemuda tersebut sambil melangkah mendekati megalith. 

Orang yang ada di depan megalith segera berjalan meninggalkan megalith dan kembali berdiri diantara kerumunan para pendekar tanpa mengucapkan sepatah katapun. 

“Itukan Putra dari Perguruan Selaksa Kembang...”

“Dia jenius dari Perguruan Selaksa Kembang, pantas saja orang yang tadi tidak berani melawan, tingkat kesaktiannya sudah mencapai tahap penyerapan energi tingkat dua belas meskipun usianya masih dua puluh tahun...”

“Kira-kira berapa simbol yang akan dia dapatkan?”

Begitu pemuda tampan yang ternyata bernama Putra berjalan mendekati megalith, kerumunan para pendekar langsung saling berbisik.

Aku sendiri hanya mengerenyitkan kening karena baru pertama kalinya kudengar nama itu. Namun aku tidak berniat untuk mencari informasi lebih lanjut tentang dirinya, karena menurutku cepat atau lambat aku akan mengetahui lebih banyak tentang siapa dirinya seiring dengan semakin lamanya aku berada dalam dunia persilatan. 

Di depan megalith, Putra mulai memasang kuda-kuda dan bersiap memainkan jurus. Saat itu aku segera teringat pada pendekar dari Perguruan Selaksa Kembang yang kubunuh saat pertama kali sampai ke markas bawah tanah ini. Jurus yang dia gunakan mirip dengan Putra, gerakannya meliuk seperti orang yang tengah melakukan gerakan tarian, namun aku dapat merasakan kekuatan besar yang tersembunyi di balik kelembutan geraknya. 

Begitu dia memperagakan jurusnya, megalith di depannya mulai berpendar. Simbol-simbol yang menjadi ukuran juga ikut berpendar satu persatu.

Satu...

Dua...

Tiga...

Empat...

Lima.…

Enam.…

Enam! Setengah dari total dua belas simbol menyala di megalith tersebut, padahal tiga orang yang telah lebih dulu naik ke tingkat selanjutnya hanya berhasil membuat empat simbol berpendar. Para pendekar yang ada di sekitar megalith langsung kembali bising. Bahkan Unggul yang saat itu tengah berdiri di sampingku tampak sedikit tertegun. 

“Enam simbol!? Pantas saja dia bisa mencapai tahap penyerapan energi tingkat kedua belas di usia semuda itu.”

“Benar-benar jenius.”

Bibir Putra menyunggingkan senyum bangga setelah melihat hasil penilaian batu tiga kekuatan menunjukkan enam simbol yang menyala. Lalu tak lama kemudian satu demi satu bagian langit-langit aula turun membentuk anak tangga melingkar menuju ke lantai selanjutnya. Dengan kedua tangan diletakkan di belakang tubuhnya, dia menaiki anak tangga satu persatu menuju lantai selanjutnya. Setelah Putra menghilang di balik atap aula, anak tangga tersebut kembali meluncur naik dan menutup langit-langit aula seperti sedia kala. 

Setelah Putra naik ke lantai selanjutnya, tidak ada pendekar yang langsung menggantikannya ke depan megalith. Tampaknya tidak sedikit pendekar yang merasa minder setelah melihat hasil yang ditorehkan Putra di megalith. 

“Humph...”

Tak lama kemudian, seorang perempuan melompat dari belakang kerumunan dan mendarat tepat di depan megalith.

“Hmmm... Bukannya itu Lintang, Dewi Api Pelangi?”

“Maksudmu, Lintang putri kedua ketua Perguruan Sungai Api?”

“Kudengar bakatnya dalam dunia persilatan sangat tinggi, dia sudah mampu menguasai Rapalan Jalur Api hingga tahap ke delapan dari total sebelas tahap. Selain itu tingkat kesaktiannya juga sudah mencapai tahap penyerapan energi tingkat ke sembilan meskipun usianya masih delapan belas tahun.”

Meskipun kerumunan pendekar membicarakan dirinya, namun Lintang seakan tidak mendengar dan langsung memasang kuda-kuda di depan megalith. Tanpa sepatah katapun, dia mulai mengeksekusi jurusnya. Begitu dia mengeksekusi jurus, fluktuasi tenaga dalam yang dia keluarkan mengejutkan hampir semua orang yang ada disitu, termasuk teman-temannya. Karena dari fluktuasi energi murni yang keluar dari tubuhnya menunjukkan dia telah mencapai tahap penyerapan energi tingkat ke sepuluh!

“Sejak kapan dia mencapai tingkat ke sepuluh?”

“Mungkinkah dia naik tingkat saat terpisah dengan kita di markas ini?”

Kudengar orang-orang yang berasal dari Perguruan Sungai Api saling berbisik dengan mata berbinar-binar. Tampaknya meskipun mereka terkejut dengan kenaikan tingkat kesaktian Lintang yang tiba-tiba, tapi mereka juga merasa senang.

Simbol-simbol pada Batu Tiga Kekuatan mulai berpendar setelah Lintang mengeksekusi jurusnya. Beberapa saat kemudian, enam simbol bersinar terang dan langit-langit aula yang berada tepat di atas megalith meluncur turun membentuk anak tangga melingkar. 

Lintang membalikkan badannya sebentar ke arah kerumunan para pendekar sebentar, seakan hendak berkata ‘aku menunggu kalian di atas’. Lalu dengan cepat dia melompat naik ke anak tangga dan menghilang dibalik atap. 

Akhirnya, setelah Putra dan Lintang menguji bakat masing-masing di depan megalith, para jenius dari kelompok persilatan maju ke depan megalith. Tiap kali salah satu dari mereka maju, kerumunan pendekar akan langsung bising oleh bisik-bisik diantara mereka karena mengenali siapa yang maju ke depan megalith. Rata-rata mereka mendapatkan hasil antara enam hingga delapan simbol dari pengukuran megalith dan langsung naik ke tingkat selanjutnya. Termasuk juga Danu dan Bowo, keduanya berhasil naik lantai selanjutnya setelah masing-masing mendapat tujuh dan enam bintang. 

Setelah rentetan para jenius naik ke lantai selanjutnya, untuk beberapa saat tidak ada pendekar yang maju ke depan megalith. Kuperhatikan para pendekar yang merasa bakatnya hanya biasa-biasa saja tampak enggan melakukan ujian didepan megalith. Sepertinya mereka sedikit merasa minder dengan kemampuan mereka setelah melihat hasil yang ditorehkan para jenius tersebut. 

Aku sendiri mengambil nafas panjang karena tiba-tiba saja merasa tegang mengantisipasi hasil yang akan kutorehkan di depan megalith. Ini bukan lagi soal apakah aku bisa naik ke lantai selanjutnya atau tidak, tapi soal masa depanku di dunia persilatan. Karena hasil yang muncul di batu tiga kekuatan menggambarkan perkembangan pengolahan tenaga dalamku di masa depan. 

“Nggul, menurutmu, rata-rata pendekar yang tadi mendapat hasil enam sampai delapan simbol itu akan mencapai setinggi apa tingkat kesaktiannya dimasa depan?” Aku bertanya pada Unggul yang masih berdiri di sampingku, dia masih belum maju ke batu tiga kekuatan untuk menguji bakatnya disana. 

“Jika takdir menghendaki, biasanya mereka dapat mencapai tahap pemusatan energi.”

“Hanya sampai tahap pemusatan energi...” gumamku pelan sekali. 

Dengan bakat setinggi itu, ternyata prediksi kesaktian mereka di masa depan hanya sampai tahap pemusatan energi, tingkat kesaktian Kinasih sekarang. Lalu berapa simbol yang perlu didapatkan untuk bisa seimbang dengan Kinasih. 

“Apa kau tahu, berapa simbol yang didapatkan oleh Kinasih saat melakukan ujian di depan batu tiga kekuatan?”

Unggul hanya menggelengkan kepalanya perlahan, “Aku tidak pernah melihat saat dia menguji bakatnya di depan batu tiga kekuatan, tak juga beredar kabar berapa simbol yang dia dapatkan. Tapi mungkin sepuluh simbol, atau bahkan dua belas simbol.”

Dugaanku juga seperti itu, bukan tidak mungkin bakat Kinasih mencapai dua belas simbol. Mengingat usianya masih belasan tahun tapi sudah mencapai tahap pemusatan energi. 

Setelah perbincangan singkatku dengan Unggul, aku kembali menatap megalith berwarna kehijauan itu. Sampai saat ini, masih belum ada pendekar yang berani maju ke depan megalith untuk menguji bakatnya. 

“Aku duluan Nggul, Rang,” ucapku sebelum bersalto tinggi menuju ke depan megalith.

“Semoga sukses Rik.”