Episode 5 - Sosok Jin di Pemakaman Desa.



“Kamu berani ya datang sendiri, kirain gak berani?” tanya Kris sambil menghampiriku yang baru datang.

“Kenapa gak berani, terus ada apa memanggilku?” jawabku memenuhi panggilan Kris yang dikirimnya dalam surat.

“Enggak, aku cuma mau kasih pelajaran,” seketika itu pukulan melayang ke rahangku.

“Bruuk..” aku jatuh tersungkur, dan ada rasa aneh di dalam mulutku, aku meludahkannya dan ternyata adalah darah.

“Kenapa kau memukulku, aku kan tidak berbuat salah kepadamu?” tanyaku sambil memegangi rahangku yang sakit karena pukulannya.

“Kamu telah mempermalukanku di depan orang-orang. Udah gak usah banyak omong, hajar saja dia!” perintah Kris kepada teman-temannya yang lain.

Seketika itu semua teman-temannya Kris tiga orang menghajarku yang sendirian, sedangkan kakak temannya hanya diam sambil merokok. Sebelum pukulan mereka mendarat di tubuhku, aku membaca amalan benteng diri pertama karena baru itu yg bisa aku pelajari. Jika aku menyerang mereka, pasti mereka mati karena aku belum bisa mengendalikan tenaga dalamku. Setelah beberapa menit perkelahian satu arah ini, beruntungnya ada warga yang lewat.?“Hey, ada apa itu!?” teriak warga yang sedang lewat sambil berlari melihat keadaan.

“Sialan, ada orang. Ayo kabur!” teriak kakak kelas Setyo yang tadi tengah meokok sambil melihat perkelahian kami. Karena teriakan warga tadi, mereka langsung kabur sedangkan aku pura-pura kesakitan.?“Kamu gak apa-apa Nak?” tanya warga kepadaku sambil mengecek kondisi tubuhku.

“Aku gak apa-apa, pak,” jawabku sambil berdiri membersihkan diri.

“Coba bapak lihat adakah yang sakit…” Bapak itu khawatir. 

“Tidak ada yang sakit kok, pak.” 

“Ya sudah Nak, padahal kamu dihajar seperti itu tapi gak ada yang lebam, sekarang pulang kerumahmu, Nak,” perintah bapak itu kepadaku.

“Iya pak.”

Aku kembali ke kelasku untuk mengambil tasku yang masih di bawah laci meja. Setelah mengambil tas, aku keparkiran sepeda mengambil sepeda dan bergegas pulang kerumah.

“Loh Ed, kenapa pakaianmu kotor?” tanya ibuku.

“Anu Bu… tadi Edi jatuh dari sepeda keparit… Heheheh…” Alasanku kepada ibuku agar beliau tidak khawatir.

“Lain kali hati-hati, Ed. Sini Ibu cuci, biar besok sekolah sudah kering bajunya. Seragammu kan cuma satu,” ucap ibuku melepas bajuku.

“Iya bu.”

Sore pun tiba, seperti aktivitas biasanya aku menunaikan sholat ashar dulu, lalu main ke rumah Putra. Sesampainya di rumah Putra aku mengajak dia untuk main ke rumah Ninda, dan dia pun setuju. Lantas kami pergi ke rumahnya Ninda. 

Beberapa saat kemudian, kami sampai di depan rumahnya Ninda dan ternyata di sana ada Kris, Setyo dan Joko. Ninda sedang bercanda dengan Kris, melihat dia tertawa dan tersenyum, entah mengapa hatiku merasa sakit. Aku pun mengajak Putra untuk pulang, sepertinya sampai di sini saja perjuangan cintaku. Toh aku sadar diri juga.

Magrib pun tiba, aku berangkat ngaji sendirian ke rumah guru ngajiku. Aku tidak menjemput Putra karena ia tidak enak badan. Ya aku tahu juga sih waktu di rumah Ninda ada Yeni yang sedang bercanda tertawa riang dengan Setyo. Aku tidak tahu bahwa Setyo menaruh hati kepada Yeni. 

Aku berangkat lewat jalan sebelah utara makam desa. Waktu aku melewati jalan samping pintu masuk makam aku melihat seorang wanita berdiri di samping pintu masuk. Jjika aku deskripsikan, wanita ini masih muda sekitar 26 tahun. Kulitnya putih cerah, rambut panjang, memakai baju kebaya warna kuning hitam sambil membawa sebuah payung berwarna hitam. Di saat itu aku belum sadar bahwa yang aku lihat itu jin, jadi aku cuek saja lanjut ke rumah guru ngajiku. 

Setelah dua jam pengajian pun selesai. Aku memutuskan untuk pulang duluan karena besok akan diadakan persiapan menjelang UAN. Ya, tiga hari lagi akan ada Ujian Nasional Sekolah, dan aku ingin masuk ke salah satu SMP favorit di kabupaten Madiun. Maka aku harus mendapatkan nilai yang bagus. Lima belas menit berlalu sampailah aku di jalan samping pintu masuk makam desa. Aku masih melihat wanita tersebut berdiri di posisi semula. Sebelum aku melewati pintu makam, wanita tersebut berjalan ke tengah jalan dan menghalangi jalanku untuk pulang. 

“Wah ngajak ribut ini wanita!” umpatku dalam hati. Seketika itu aku panggil mbah Kosim untuk datang.

“Mbah Kosim hadir,” ucapku memanggil mbah Kosim.

“Iya Dek, ada yang bisa saya bantu?” tanya mbah Kosim di sampingku.

“Sebentar Mbah, ada wanita yang menghalangi jalanku untuk pulang ke rumah,” ucapku pada mbah Kosim. Sesaat sebelum aku mengajukan pertanyaan ke padanya, dia memberiku sebuah pernyataan.

“Aku tidak akan mencelakakanmu, tahan macanmu sebentar?” ucapnya kepadaku sambil melipat payungnya. 

Setelah melipat payungnya aku baru melihat wajahnya yang sesungguhnya. Rambut panjang dengan wajah yang enak dipandang, mirip dengan pelayan di keraton di dalam film kolosal.

“Lalu, jika kamu tidak ingin mencelakakanku, apa maksudmu menghalangi jalanku untuk pulang?” tanyaku padanya.

“Apakah kamu mau pusaka dan sebuah mustika?” ucapnya membuatku kaget.

“Pusaka, mustika ..? untuk apa ..?” tanyaku balik kepadanya karena jujur aku tidak memiliki ketertarikan dengan sebuah pusaka dan mustika. 

“Pusaka dan mustika untuk membantumu di kemudian hari…” terangnya padaku.

“Apa kekuatan pusaka dan mustika tersebut?” tanyaku menyelidiki.

“Saya tidak bisa memberi tahu sebelum kamu menerimanya,” ucapnya agak memaksa.

“Kenapa harus aku?”

“Karena kamu adalah manusia pilihan-Nya.”

“Kamu islam atau kafir?” tanyaku memastikan, walaupun percuma sih karena jika ia jin kafir maka masuk akal jika ia ingin menghasutku.

“Aku islam.”

Karena dia dengan mudah mengucap Islam maka aku membaca lantunan ayat suci Al-quran dengan keras, wanita itu mengikuti apa yang aku lantunkan.

“Bagaimana, apakah kamu percaya?” ucapnya setelah aku selesai melantunkan beberapa surat.

“Saya tidak percaya kepada siapa pun, karena aku hanya percaya kepada Allah SWT,” kataku padanya.

Setelah aku mengucapkan bahwa aku tidak percaya padanya ia malah tersenyum.

“Baiklah, aku pikir-pikir dulu,” kataku berlalu meninggalkannya bersama mbah Kosim.

“Pikirlah dulu, walaupun macan penjagamu itu kuat, sekuat salah satu sesepuh penguasa gunung Lawu, tapi sekarang kekuatannya belum keluar secara maksimal, karena kamu belum dewasa,” kata jin wanita ini menjelaskan.

“Aku tidak menginginkan kekuatan untuk dipamerkan, dan satu lagi, mbah Kosim bukanlah penjagaku melainkan temanku. Aku yakin dengan kemampuan mbah Kosim,” ucapku pada jin wanita ini tanpa menoleh kepadanya.

Sambil mengangguk, “Sepertinya kali ini aku tidak salah memilih orang,” katanya sambil tersenyum.

“Ya sudah aku mau pulang dulu, akanku pikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan. Bolehkan aku mengetahui namamu?” ucapku dengan berbalik menghadap kepadanya.

“Nama saya adalah *** (Nyai Yun) saya adalah salah satu komandan pasukan kerajaan Mahasvarah yang sudah hidup selama 480 tahun (kalender Jin). Jika kamu mau pusaka dan mustikanya, silakan sebut namaku tiga kali, maka aku akan muncul,” ucap Nyai Yun padaku.

“Baiklah Nyai Yun, saya pamit undur diri dulu, ayo Mbah Kosim kita pulang.”

“Baik Dek Edi” 

Aku dan mbah Kosim pulang ke rumah, sampai di rumah Mbah Kosim tidur di atas kursi panjang sedangkan aku duduk di bawah sambil belajar. 

“Ini macan hobinya tidur mulu,” ucapku melihat Mbah Kosim yang sudah tidur. Satu jam telah berlalu, setelah belajar aku memutuskan untuk tidur. Sekejap aku tertidur, guru besar datang dalam mimpiku.

“Bangun,Nak. Sudah saatnya kamu belajar amalan penyerangan. Tapi ingat jangan disalahgunakan untuk kejahatan, karena saya tidak akan datang kepadamu lagi,” ancam abah guru kepadaku.

“Baik Guru, saya belajar amalan penyerangan apa guru?” tanyaku pada Abah Guru.

“Bukalah bab pertama dari kitab Al Ajnas untuk belajar menguasai amalan penyerangan. Nama ajiannya adalah ajian beladiri bintang, karena ajian beladiri bintang memerlukan tenaga dalam yang tidak sedikit. Paling tidak ini bisa menyerang musuh yang masih dalam jarak pandang mata, karena itu aku menyuruhmu menguatkan pondasi dan memperluas daya tampung energi di dalam tubuhmu. Jangan sampai kamu kehabisan energi tenaga dalam, karena akan sangat membahayakan nyawa mu, dan jangan sampai lupa olah terus fisikmu setiap hari, agar staminamu bisa mencukupi kapasitas tenaga dalammu. Jangan lupa sholat dan membantu orang yang sedang kesusahan, itu pesanku,” ucap Abah Guru panjang lebar memberiku nasihat.

“Baiklah Guru, saya akan mengingat pesan Guru.”

Aku mulai belajar ajian beladiri bintang dengan hanya sukma saja yang masuk ke alam jin. Setelah berjam-jam aku latihan di alam jin, aku menanyakan sebuah pertanyaan yang ada dalam benakku.

“Guru, saya mau menanyakan sesuatu…” tanyaku setelah bermeditasi.

“Iya Nak, apa yang kamu tanyakan.”

“Bisakah saya mengontrol mata ketiga, supaya aku bisa membuka dan menutup semauku?” tanyaku pada abah guru serius.

“Bisa, nanti akan aku ajarkan kepadamu. Di dalam kitab Al Ajnas bab ketiga lembar terakhir. Di sana tertulis setiap manusia lahir dengan energi murni di dalam jiwa mereka, mereka bisa melihat kedua alam (alam jin dan manusia) jika mental mereka sudah siap. Cara membuka dan menutup mata ketiga sudah tertulis di sana,” terang abah guru menjelaskan.

“Lalu, ada yang aku tanyakan kepadamu lagi guru… Kenapa sukma saya bisa masuk ke alam jin selama ber jam-jam, tapi di dunia manusia cuma beberapa jam saja, bukankah kebalikannya guru?” tanyaku penasaran karena perbedaan waktu.

“Memang benar, perbedaan waktu di alam manusia dan alam jin sangat jauh sekali, satu jam di alam gaib sama dengan satu tahun di alam manusia.”

“Lalu kenapa bisa kebalikannya guru?” tanyaku lagi.

Sambil menunujukan kitab Al Ajnas yang aku bawa, “Karena itu, karena kitab Al Ajnas perbedaan di kedua alam bisa dihapuskan. Bahkan bisa dibalikkan. Walaupun kamu di disini selama satu tahun pun, di saat kamu bangun tidur kamu akan melihat esok hari dari hari ini. Yang ada di sini, di alam jin adalah sukmamu yang guru bawa, sedangkan ragamu masih di alam manusia. Jika kamu sudah mencapai Bab ke-7 dari kitab Al Ajnas akan aku bawa ragamu ke alam ghaib. Kamu akan tahu seperti apa alam ghaib itu…” jawab abah guru.

“Baiklah guru, saya ingin belajar mengontrol tenaga dalam serta membuka dan menutup mata ketigaku sesuai keinginanku.” Hanya itulah keinginanku sementara ini.

Setelah sekian lama berlatih ajian beladiri bintang, aku kembali ke ragaku. “Kukuruyukk..petok…petok…” suara ayam di pagi hari membangunkan tidurku. Sebelum berangkat sekolah, aku rutin olahraga keliling desa dulu untuk menguatkan pondasi dasar, karena aku sadar menolong sesama manusia lebih penting dari pada mengejar cinta yang belum tentu akan jadi milikku. Jam menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit, aku berangkat ke sekolah naik sepeda, sampainya di gerbang sekolah, ada Kris dan gengnya yang sedang menungguku.?“Eh, ni anak masuk sekolah, kirain gak masuk. Hahaha…,” ejek Kris dan gengnya di gerbang sekolah.

“Kenapa Ed, kelihatannya bete begitu?” tanya Ninda duduk di depanku.

“Gak apa-apa, cuma perasaanmu saja mungkin,” ucapku ala kadarnya.

“Apa kamu menghindar dariku?” tanya Ninda pas banget dengan aku rasain.

“Aku gak menghindar darimu, jangan sok tahu dan sok ikut campur urusan orang. Oke?” ucapku dengan sedikit membentaknya.

Matanya berkaca-kaca lalu lari ke belakang kelas dan disusul oleh Yeni. Sesaat kemudian Kris dan gengnya datang kearahku. 

“Kayanya ngajak ribut nih… Ini orang kalau gak dikasih pelajaran yang berarti, gak bakal jerah…” umpatku dalam hati.?“Hey, sini lo!” teriak Kris dari depan pintu kelas.

“Kenapa?” jawabku ketus. Suasana hatiku sedang buruk-buruknya.

“Ikut aku ke belakang kelas,” katanya.

Lalu aku ke belakang kelas melihat Ninda nangis sambil ditenangin Yeni.

“Kamu, kenapa membuat Ninda nangis?” tanya Kris sok jadi pahlawan.

“Aku gak buat dia nangis,” ucapku membela diri.

“Alah banyak omong kamu, “Hajar, Yo!” perintah dari Kris.?Mereka bertiga menghajarku seperti kemarin. Aku sendirian dikeroyok tiga orang, karena Ninda melihatku dikeroyok, dia mencoba memisahkan aku dengan gengnya Kris. Karena tenaga cewek yang lebih lemah dari cowok, Ninda pun jatuh dengan tangan kirinya ter injak oleh Setyo. Sontak aku marah karena perbuatan mereka main kasar ke seorang wanita. Aku mengamalkan teknik beladiri bintang level dua. Walaupun aku sudah menguasai teknik beladiri bintang sampai level empat, tapi level dua cukup untuk membuat mereka jatuh dengan kapasitas tenaga dalamku saat ini.

Aku membaca amalan nya, kemudian aku fokuskan tenaga dalamku ke arah telapak kaki kiriku, lalu aku hentakan kaki kiriku ke tanah, seketika itu gengnya Kris terlempar sejauh satu meter dari tubuhku. Karena mereka syok dengan apa yang terjadi, mereka mencoba memukulku lagi. Sebelum pukulan mendarat di tubuhku, aku fokuskan tenaga dalam di mataku, kemudian aku lepaskan ke arah tubuhnya Kris. Seketika itu dia jatuh pingsan (aku menyebutkan teknik mental). Kemudian Setyo dan Joko mencoba membawa Kris pulang ke rumah. 

Setelah mereka berlari agak jauh karena aku masih rada marah, maka aku kumpulkan lagi tenaga dalam di depan mataku, lalu aku tembakkan ke arah mereka. Sontak saja mereka jatuh akan tetapi bangun lagi, terus aku tembakkan ke arah tubuh mereka hingga mereka jatuh bangun lebih dari empat kali. 

Setelah mereka tidak terlihat, aku menghampiri tubuh Ninda yang tangannya terinjak oleh Setyo. Aku lihat tangannya lebam, ada bekas benda tajam yang menancap di lengan kirinya, aku mencoba mengamalkan teknik beladiri bintang level 4, yaitu teknik penyembuh.

Aku mengkonsentrasikan tenaga dalamku di telapak tangan kananku, lalu aku pegang lengan Ninda. Setelah beberapa menit kemudian tangannya sembuh seperti sedia kala. Aku menyuruh Yeni untuk diam tentang apa yang aku lakukan. Setelah tangannya sembuh, aku pun langsung pergi ke dalam kelas.