Episode 41 - Lin Fan



Di siang yang hangat, seorang pemuda sedang bersandar di bawah pohon rimbun. Dia mengunyah permen karet sembari memandang birunya langit di atas sana. Tidak ada yang menarik dari pemuda tersebut, kecuali tangannya yang dipenuhi oleh bekas luka yang sedari dulu tidak hilang.

Akan tetapi, dia merasa bangga dengan bekas luka itu, karena itu adalah bukti dari kerja kerasnya.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat, pemuda itu melirik ke arah suara dan melihat sesosok gadis cantik dengan rambut panjang berwarna hitam yang dia kuncir kuda. Baju bela diri berwarna hitam dan putih menempel erat dan terlihat sangat menawan di tubuh langsing milik gadis tersebut.

“Kak, apa yang kau lakukan disini? cepat pulang.” Gadis tersebut berkata dengan dingin.

“Haha, buat apa aku kembali kesana?” ucap pemuda itu dengan sinis.

“Kau adalah calon pemimpin sekte berikutnya, jadi wajar saja kau harus datang. Cepatlah, tidak lama lagi Ayah akan mengumumkannya.” Gadis itu berkata dengan geram.

“Aku jadi bingung, sebenarnya kau itu gadis jenius atau hanya si kepala otot, tidak mungkin orang lemah sepertiku ini akan menjadi pemimpin sekte.” Pemuda itu berkata sambil memasang senyum mengejek.

“Tapi, aku adalah perempuan, tidak mungkin-“

“Diam! Kemarin malam aku mendengarnya sendiri, bahwa Ayah akan memilihmu sebagai pemimpin sekte berikutnya, dia rela melanggar aturan sekte daripada menjadikan sampah sepertiku sebagai pemimpin sekte.” Teriak pemuda tersebut dengan emosi yang menggebu-gebu.

Gadis itu terdiam membisu, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan setelah mendengar hal ini.

“Sudahlah, kau pergi saja dari sini. Oh, benar, titipkan salamku, katakan bahwa aku tidak akan datang lagi, aku keluar dari sekte.” Ucap pemuda itu dengan suara yang dingin lalu kembali mengunyah permen karetnya dan memejamkan matanya.

Gadis itu tidak mengatakan apapun dan berjalan pergi meninggalkan pemuda tersebut. Di dalam hatinya terselip sedih, kecewa, dan marah.

Setahun kemudian.

Setelah pulang sekolah, pemuda itu tidak langsung pulang ke rumah, tapi pergi bermain dengan teman-temannya, hingga kadang dia tidak akan pulang ke rumah.

Meskipun begitu, dia tidak akan pernah lupa untuk menghubungi ibunya jika dia memang sedang tidak ingin pulang, karena hanya ibunya yang mengerti dengan kondisinya. Sedangkan ayah dan adiknya, dia sama sekali tidak pernah berbicara dengan mereka berdua lagi.

Setelah diumumkan bahwa Lin Er, adik dari pemuda tersebut, menjadi pemimpin selanjutnya. Lin Fan sama sekali tidak pernah menginjakan kakinya lagi ke tempat latihan bela diri yang tepat berada di samping rumahnya.

Hal yang membuat Lin Fan menjadi tidak betah adalah para murid bela diri lainnya yang terus membandingkan Lin Fan dan Lin Er, mereka mengandaikan bahwa Lin Fan tidak lebih dari kerikil di sungai, sedangkan Lin Er adalah permata indah di tengah lautan.

Bahkan ada juga beberapa murid yang bergosip bahwa sebenarnya Lin Fan hanyalah anak pungut, akan tetapi langsung di bantah langsung oleh ibunya. 

Itulah alasan kenapa dia tidak betah tinggal di rumah, padahal sebenarnya dia sangat mencintai bela diri, akan tetapi dia tidak pernah bisa menjadi kuat dan membuktikan kemampuannya untuk mendapatkan rasa hormat murid lainnya.

Faktanya, Lin Fan belajar bela diri lebih dulu daripada adiknya, akan tetapi Lin Er dengan cepat dapat melampaui kemampuannya dan menjadi yang terbaik di sekte.

Semua kerja keras orang biasa tidak ada nilainya di depan para jenius.

Lin Fan berjalan bersama teman-temannya menuju lapangan futsal. Hari ini dia akan bertanding melawan kelas lain. 

Sesampainya di lapangan, Lin Fan memperhatikan musuh-musuhnya hari ini, tetapi dia tidak menemukan seseorang yang dia cari. 

“Kau sedang mencari siapa?” tanya teman Lin Fan, Agam namanya.

“Anak aneh yang sering berbicara dengan Alice itu tidak datang?” tanya Lin Fan.

“Oh, Danny. Sudah beberapa hari ini dia tidak masuk. Lagipula, mana mungkin anak aneh dan lemah seperti dia bisa bermain futsal.” Agam berkata dengan senyum mengejek.

“Haha...” Lin Fan hanya bisa tertawa kering sebagai balasan untuk apa yang Agam katakan barusan.

Sebelumnya, pada suatu hari, Lin Fan sempat melihat Danny sedang berlari. Lin Fan merasa tertantang untuk berlari lebih cepat dan melewatinya, akan tetapi dia sama sekali tidak bisa menyusulnya.

Padahal bentuk fisik Lin Fan bisa dibilang lebih baik dari Danny, akan tetapi dengan tubuh biasanya, Danny mampu membuat Lin Fan terus memakan debunya.

Jadi, bisa dipastikan oleh Lin Fan bahwa Danny tidak lemah, dan itulah yang membuat Lin Fan terkejut, ‘kenapa orang sekuat itu tidak ikut bermain?’ Tapi sesaat kemudian langsung Lin Fan jawab dengan, ‘Ah, mungkin saja dia tidak tertarik bermain futsal.’

Setelah memasang sepatu dan sedikit pemanasan di luar lapangan, akhirnya Lin Fan masuk menggantikan Agam. Skornya saat ini adalah 2-7 dengan kelas Lin Fan yang tertinggal.

“Menangkan pertandingan ini.” Ucap Agam sembari menepuk tangan Lin Fan dan keluar dari lapangan.

“Serahkan padaku.” Jawab Lin Fan dengan percaya diri tanpa menoleh ke belakang.

Setelah Lin Fan masuk ke lapangan, secara drastis permainan jadi berpihak ke kelas Lin Fan. Gol demi gol tercipta dengan mudahnya oleh tim Lin Fan.

Lin Fan yang berposisi di belakang dengan lihainya mampu menahan semua serangan dan memberikan banyak umpan terobosan yang dapat di sambut dengan baik oleh temannya. Beberapa kali salah seorang pemain dari tim kelas Danny ingin bermain kasar agar Lin Fan cidera, akan tetapi Lin Fan dengan mudahnya menghindari bentrokan tidak perlu tersebut.

Meskipun begitu, setelah beberapa kali gagal, pemain tersebut terus mencoba bermain kasar kepada Lin Fan dan akhirnya membuat Lin Fan muak. Lin Fan dengan liciknya menerima benturan fisik dari pemain tersebut lalu jatuh ke tubuh pemain itu sembari memposisikan sikunya menghujam dada pemain itu.

Pemain itu berteriak kesakitan sembari memegangi tangannya, sedangkan itu Lin Fan juga terlihat kesakitan sambil memegang kakinya. 

Permainan terhenti dan semua pemain melihat kondisi masing-masing temannya.

“Woi, kalau tidak tahu caranya bermain, jangan main. Ini futsal, bukan tawuran!” Agam berteriak sembari mendorong pemain dari kelas Danny.

“Temanmu yang tidak bisa bermain, aku yakin dia sengaja melakukan itu ke teman kami!” teriak pemain dari kelas Danny.

Dan begitulah, adu mulut antara kedua belah piihak dimulai. Namun, hal tersebut tidak bertahan lama, karena emosi yang memuncak membuat mereka tidak lagi menggunakan kata-kata, tapi langsung dengan kepalan tangan.

Lin Fan yang sedari tadi memperhatikan mereka sembari memegang kakinya dan berpura-pura kesakitan langsung berdiri dan ikut ke dalam bentrokan itu. Namun, setelah setahun tidak lagi mempraktikan bela diri yang telah dia pelajari di sekte membuat pergerakannya sangat kaku dan mudah di tebak, bahkan untuk orang tanpa pengalam berlatih bela diri seperti teman-teman sekelas Danny.

Akhirnya pertarungan itu terhenti setelah dilerai oleh sekelompok orang yang juga ingin bermain futsal di sana. Tidak ada yang kalah ataupun menang dari pertarungan yang terjadi barusan, yang ada hanyalah siapa yang mendapatkan luka paling parah.

Dari kelas Danny, hampir semua wajah mereka di warnai oleh lebam dan ada juga yang mengeluarkan darah dari hidungnya. Sedangkan itu, dari kelas Lin Fan, tidak banyak yang mendapat luka parah, hanya Agam yang sebelumnya maju sendirian untuk memimpin teman-temannya untuk menyerang teman-teman sekelas Danny, tapi akhirnya dia dikeroyok dan mendapat banyak luka paling banyak.

“Besok, kita harus balas dendam ke mereka.” Ucap Agam sembari memegang mata kirinya yang telah lebam terkena pukulan.

“Lakukan saja sendiri, aku tidak akan ikut.” Ucap salah seorang.

“Hei, kau itu benar-benar temanku atau bukan?” Agam berkata dengan ketus.

“Aku juga tidak ikut, aku tidak mau masalah ini tambah panjang.” Ucap salah seorang yang lainnya.

“Aku juga.”

“Silakan kau balas dendam saja sendiri.”

“Dasar tidak setia kawan!” teriak Agam lalu menoleh ke arah Lin Fan dan berkata, “Kau pasti akan membantuku, kan, kawan.”

“Tidak, aku tidak mau.” Ucap Lin Fan sembari memegang rahangnya yang terkena pukulan dari pertarungan sebelumnya.

“Ahhhh, kalian semua jahat, lihat saja, aku tidak akan menyapa kalian lagi, kita bukan teman!” teriak Agam sambil berlari pergi.

Melihat aksi kekanak-kanakan Agam membuat Lin Fan dan lainnya tertawa dengan puas. Meskipun Agam berkata seperti itu, setelah berganti hari, dia tidak akan mengingat masalah hari ini dan kembali berkumpul bersama-sama lagi.

“Hei, hari ini kita mau main ke mana lagi?” tanya Agam sembari berjalan bersama Lin Fan dan yang lainnya.

“Aku hari ini mau langsung pulang saja.” Ucap salah seorang.

“Hei, kau tidak seru, ayo kita main dulu.” Balas Agam dengan nada tidak senang.

“Aku juga, tugasku belum selesai.” Ucap yang lainnya.

“Sama, aku sama sekali belum mengerjakan tugas matematika.” Timpal salah seorang lagi.

“Hei kalian berdua, tolong jangan membicarakan tentang tugas matematika di depanku, atau kuhajar nanti kalian.” Agam berkata dengan kesal.

“Haha, kau harusnya lebih giat belajar lagi, atau kalau tidak kami semua akan meninggalkanmu.” Balas seseorang.

“Saialan! Hei Lin, hari ini kau tidak ada kegiatan bukan? Ayo temani aku bermain.” Agam berkata sembari melihat Lin Fan yang sedang berjalan sambil mengunyah permen karet.

“Tidak, aku sedang malas. Oh, iya, bagaimana dengan rencana balas dendammu? Kapan kau akan menyerang mereka?” Lin Fan berkata dengan acuh.

“Ah, benar, aku hampir lupa dengan itu, kau mengingatkanku berarti kau akan membantuku, kan?” Ucap Agam dengan semangat.

“Tentu saja tidak, dasar bodoh, aku hanya ingin melihat bagaimana kau akan dihajar nanti.” Lin Fan berkata dengan sembari menarik sedikit ujung bibirnya.

“Hahaha...” mereka tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang Lin Fan katakan.

“Kalian ... kalian .... kalian jahat!” Agam berteriak sambil berlari pergi.

Tingkah kekanak-kanakan dan bodoh dari Agam selalu bisa membuat Lin Fan dan yang lainnya tertawa dengan puas.

Akhirnya, mereka tidak akan pergi bermain dan pulang ke rumah masing-masing, kecuali untuk Lin Fan. Dia berjalan santai di tepi sungai dan berhenti di salah satu pohon besar yang sangat rimbun. Lin Fan mencari posisi terbaik lalu bersandar dan menutup matanya.

Tiba-tiba, sebuah tendangan menghujam dada Lin Fan dan menghancurkan hari tenangnya.

“Ini pembalasan untuk kemarin!” Ucap seorang pemuda dengan wajah yang babak belur, di sampingnya berdiri beberapa temannya sambil membawa sebongkah kayu.

Mereka adalah anak-anak dari kelas Danny.