Episode 18 - Potong

“Pedang paling tajam dari Kahyangan sekalipun tak akan mampu memotong rambutku! Aku tak takut dengan belati Srigunting milikmu!”

—Kalimat terakhir dari pendekar aliran hitam bergelar Si Rambut Perak, tepat sebelum Panglima Perkutut memotong rambut sekaligus kepalanya


Sidya menatap bubur didepannya dengan rasa tak suka.

Seusai mengumpulkan derma, Hikram dan Sidya duduk di salah satu warung pinggir jalan yang menjajakan berbagai macam makanan. Kursi panjangnya hanya diisi oleh pasangan guru-murid itu, sementara si penjual sibuk mengurus tungku yang kelihatannya sedang membandel, sebab apinya padam melulu. Sebenarnya mereka berdua selalu ditolak dengan macam-macam alasan oleh berbagai pemilik tempat makan, tapi entah mengapa yang satu ini bersikap berbeda pada keduanya. Mungkin juga karena hari ini kedainya sedang sangat sepi, sehingga ia terpaksa menerima pria dekil dan bocah berpakaian jelek sebagai pelanggan pertama. Hikram memutuskan bahwa mereka harus makan bubur, dia yang pegang uang sehingga Sidya tak bisa protes banyak. Hikram beranggapan perut muridnya yang malang, yang tak pernah diisi apapun kecuali air beberapa hari ini akan kaget jika langsung diisi makanan yang berat-berat.

Meski begitu, dalam hati Sidya curiga ia melakukan hal itu hanya untuk menghemat koin.

Keengganan Sidya sangat kentara tentunya, karena Hikram, yang sedang berupaya dan melicin tandaskan mangkuknya yang kedua bertanya sambil lalu, “Kenapa lagi?”

Sidya mendongak, tanpa sadar badannya agak menjauh ketika mengawasi cairan bubur nampak menempel di beberapa bagian kumis Hikram yang tak pernah dicukur.

“Ah, tak apa guru. Hanya saja, aku cukup yakin kalau daging yang kulihat sedang mengambang di makananku ini kelihatannya bukan daging sapi, domba, ataupun ayam. Aku belum pernah mencium aroma daging yang seperti ini.”

Hikram mengangkat bahunya dan menyendok lagi, “tahu apa anak kecil soal daging? Taruhan, juru masakmu akan berceloteh panjang-lebar pada teman-temannya kalau kau menunjukkan pengetahuanmu tentang masakan padanya. Itu bukan celoteh pujian, melainkan hanya menjadikanmu bahan olok-olok.”

Sidya menggembungkan pipi, kemudian perlahan menjauhkan mangkuknya dengan ujung jari telunjuk.

Hikram menghela napas, menyendok, kemudian mengarahkan sendoknya yang kini penuh pada mulut anak didiknya.

“Guru, apa maksudnya ini?!”

“Seharusnya anak kecil yang masih normal suka kalau makan disuapi.”

Sidya jadi tambah kesal.

“Anak kecil normal? Guru, umurku sepuluh tahun, bukan lima.” Kemudian Sidya memalingkan muka, memilih pura-pura menyibukkan diri dengan cara mengalihkan pandang pada si penjaga warung yang masih mengubek-ubek tungku. Kelihatannya ia sudah menemukan sumber masalahnya, karena si penjaga warung segera mengeluarkan tikus mati yang agak gosong dari dalam tungku dengan sebuah penjepit, kemudian menyodok-nyodok hewan mati itu dengan ujung kayu bakar seolah memastikan tikus itu sudah mati atau belum.

Ketika Sidya berpaling karena jijik, dilihatnya tangan Hikram masih tertahan di udara, menunggunya.

Sidya menggaruk dahinya yang tak gatal, kemudian dengan agak malu-malu mengambil tawaran suapan Hikram. Ia cepat-cepat mengunyah, kemudian menelan. Ia menyesali hal itu, karena tenggorokannya terasa panas benar, tak diragukan lagi terselomot cairan bubur yang memang masih mengepulkan asap.

“Nah, begitulah seharusnya bocah yang baik! Mau kusuapi lagi, atau—”

Sidya cepat-cepat menggeleng, menarik mangkoknya kembali ke hadapan, mengambil sendok, dan makan secepat yang ia bisa.

--

Saat malam telah turun dan bulan ganda kembali menggantung di angkasa, Hikram mengajak Sidya menuju ke pinggiran desa, tempat altar-altar bagi dewa-dewi bertebaran. Rumah-rumah mulai menipis, hingga akhirnya hilang sepenuhnya saat mereka sampai di tempat yang gurunya maksud. 

Tempat ini cukup terawat walau tak ada penjaganya. Bisa dimaklumi, karena hanya orang bodoh atau yang sudah kepepet saja yang mau mencuri dari altar. Kalaupun ada yang mengambil barang tanpa restu dari Kahyangan, ketidakmujuran akan mengejar. Apalagi pada Dewa yang dikenal gampang marah-marah seperti Kensa sang Panglima Langit yang tak perlu berpikir dua kali untuk menyambar mereka yang berani-beraninya merusuhi altarnya dengan sambaran petir.

Naraca yang berada di gugus tingkat menengah kedewaan mendapat tempat di lingkaran tengah. Penggambaran Naraca sebenarnya berbagai macam, termasuk perempuan jelita berselendang serta kera dengan mata merah, tapi desa ini menggunakan arcanya yang paling umum, yang berbentuk seorang pria berwajah ramah, bertubuh gemuk dengan perut yang menyembul keluar dari pakaian, serta tong arak yang selalu dibawa oleh Naraca dalam wujud apapun. 

Sidya sebenarnya merasa bulu kuduknya berdiri saat ia sejenak mencium bau wangi-wangian, mungkin dupa atau kemenyan atau semacamnya. Ia melirik guru yang sepertinya tak tahu, mungkin hidungnya mampet atau apa. Dengan enaknya Hikram mengambil salah satu persembahan yang terhampar di depan altar Naraca kemudian meneguk. Ia memuntahkan minuman itu sejenak kemudian, “puah! Dan mereka mengharapkan restu-Nya dengan minuman tak enak seperti ini? Rasanya seperti susu basi!”

“Ini memang susu basi,” Sidya menjawab yakin setelah mengendus-endus minuman itu, untuk kemudian bersin berkali-kali. Ia membersit hidung, mengedar pandang sekali lagi pada batu-batu yang masih diam dalam kesunyian. 

“Guru menunggu paman entah-siapa-namanya-itu?”

“Ambal. Tebakanmu untuk kali ini tepat.”

“Guru mau membicarakan apa sih? Kenapa tidak bisa diselesaikan saat kita sedang di kedai atau di pinggir jalan?”

Hikram menatapnya lama.

“Ah, anak kecil—”

“—mana bisa mengerti.” Sambung Sidya mendongkol.

Hikram menyedekapkan tangan sembari meringis, tapi ia tak mengatakan hal lain. Sidya yang memang pada dasarnya tak sabaran duduk di salah satu altar, menggoyangkan kaki terus-menerus seolah resah. Matanya jelalatan ke berbagai arah. Karena sepertinya kawan guru Hikram masih lama, Sidya lantas berkeliling sebentar, tentu saja masih sejarak dengan gurunya karena hal terakhir yang ia inginkan adalah ditinggalkan di tempat yang cukup jauh dari pemukiman dan memberikan kesan angker walaupun seharusnya dipenuhi Hawa Suci ini.

Sidya melewati berbagai patung sambil sesekali melempar pandang pada gurunya, siapa tahu guru punya ide iseng untuk meninggalkannya sendirian, tapi rupanya untuk sekali ini ia tidak berniat jahil lagi seperti kemarin-kemarin. Arca Singa Kensa, lelaki pembawa palu besar milik Katili, petani murung Sahaja … karena penerangan hanya berasal dari cahaya rembulan, ditambah Sidya tidak awas, kakinya menginjak sesuatu yang lembek. Disangkanya ular, hingga dia melonjak lalu kepalanya menghantam sisi bawah dari palu batu patung Katili.

“Sial, sial!” Sidya mengeluh sembari mengelus-elus kepalanya.

“Anak kecil yang manis, tapi mulutnya sekotor comberan,” sahut seseorang dengan suara bergetar.

Sidya berpaling, dipertemukan dengan sosok paman Ambal yang kali ini memberikan kesan yang jauh dari kata kumal ataupun tua. Ia nampak gagah, punggungnya tegap walau rambut dan jenggotnya telah lama memutih, salah satu alasan mengapa Sidya memanggilnya paman daripada kakek. Kali ini pakaian compang-campingnya digantikan oleh baju besi yang melindungi hampir keseluruhan tubuhnya, dengan pelat-pelat baja tebal yang berkilau ditimpa cahaya rembulan. Sekarang Sidya tahu dan benar-benar yakin bahwa peran lelaki ini sebagai seorang tukang sapu hanyalah samaran saja, berbeda sekali dengan gurunya yang memang hidup mengembara.

Dan Ambal mengamati Sidya dengan rasa tidak senang, persis seperti seorang prajurit sedang mengamati sebilah pedang yang tak terasah.

“Guru sedang mencari anda,” kata Sidya buru-buru untuk mengalihkan topik pembicaraan.

“Aku tahu,” jawabnya sembari bergerak sedikit, pelat baja ditubuhnya saling gesek mengeluarkan bunyi derit, matanya mencari-cari. “Di mana dia sekarang?”

“Minum, dan sedang dipeluk oleh pramuria kelas atas,” Hikram menjawab tak sopan dari kejauhan. Tanpa takut akan balasan yang akan diberikan padanya oleh para Dewa ia melompat dari satu altar ke altar lain dengan ilmu peringan tubuh, kemudian turun dengan sangat tidak sopan pada kepala patung Katili untuk kemudian memijak tanah lagi.

“Hal sialan apa yang kau lakukan?” desis Ambal berang. Ia melempar pandang pada patung itu, kemudian menggosok-gosok badannya seperti seorang penunggang kuda yang sedang menenangkan tunggangannya. “kau mau mengundang kemarahannya?”

Hikram mengangkat bahu, “aku merusuh, seperti yang seharusnya dilakukan oleh seorang Abdi Naraca yang baik. Tak ada pesta kalau tak ada keramaian, bukan? Nah, berbincang tentang hal lain bisa, ‘kan? Dapat informasi barukah dirimu?”

“Tidak, tapi seharusnya hasil mencuri dengarku selama hari-hari ini sudah cukup. Aku senang ada Wakil Kepala lain yang hadir juga, barangkali memudahkan untuk menghabisi ancaman berbahaya dari Si Bandit Emas. Walaupun,” Ambal mendekat dengan bunyi derit sekali lagi, “aku mengharapkan Abdi Kensa atau lainnya ketimbang yang aneh-aneh macam dirimu, Hikram.”

“Hidup memang penuh kekecewaan. Besipun kadang karatan walau dirawat. Kita berangkat?”

“Boleh, sebelum semua arak di dunia ini dihabiskan olehmu. Langsung ke tenggara—”

“Tunggu sebentar!” Sidya menghardik, membuat kedua lelaki dewasa itu menghentikan sejenak obrol-saling-ejek mereka untuk menatapnya. Sidya agak mengkerut apalagi melihat wajah Ambal yang masih sekaku logam, tapi sudah kepalang-tanggung juga sehingga ia memberanikan diri. “Aku mau penjelasan sekarang! Kalian jangan seenaknya mengajakku tanpa aku tahu rencana kalian berdua!”

Untuk sekali ini seringai terulas di wajah Sang Abdi Katili. 

“Ini muridmu? Kelakuannya persis seperti gurunya.”

“Aku baru mengambilnya sebagai murid beberapa hari saja, tapi dia sudah bisa mencontoh hal-hal jelek dariku. Pencapaian yang luar biasa, bukan?”

“Tapi, berbeda dengan kelakuanmu, aku masih memakluminya. Dia besi muda. Perlu ditempa dan dipanaskan dengan suhu ekstra agar tahu tata krama.”

Si Abdi Katili mengerling Hikram yang masih diam. Tanpa minta ijin si Abdi Katili mengangkat dagu Sidya yang menolak memalingkan muka dari tatapannya yang menghakimi.

Ambal mengamati wajah Sidya, lalu kemudian kaget lalu bergegas mundur, tangannya yang memegang dagu Sidya ditarik seperti baru saja memegang bara yang panas. “Demi Kahyangan dan seluruh isinya, dia putri tunggal Sang Kaisar?!”

“Bagaimana,” Hikram mendesah sambil menyisir rambut, “kau bisa tahu secepat itu, Ambal?”

“Ada semacam kandungan besi dalam setiap tubuh manusia. Bukankah salah satu elemen pembangun manusia adalah logam? Tak salah lagi, logam kuat yang tak terpatahkan seperti ini hanya ada dalam kandungan keturunan Wangsa Nagart,” Ambal berpaling pada Hikram, wajahnya penuh dengan pertanyaan, “dan kudengar memang si putri telah melarikan diri, surat pencarian sudah tersebar kemana-mana. Jadi, Hikram, bisa kau jelaskan mengapa kau menculik putri sang kaisar? Aku tak menyangka tingkahmu jadi makin gila saja. Apakah mau tunggu para Ksatria Flamboyan mengulitimu dulu baru kapok?”

“Jangan menyalahkanku! Dia sendiri yang bilang mau mengekor kemana saja aku pergi! Ambal, aku dalam masalah besar kalau begini ceritanya. Tolong jangan beritahu siapa-siapa.”

Ambal menepuk-nepuk dahinya. “Gawat memang. Untuk sementara ini aku akan membantumu agar orang-orang tidak mudah mengenalinya. Putri Sidya, anda perlu sering-sering melumuri wajah dengan tanah untuk menutupi roman bangsawan anda. Dan hamba bisa membantu, kalau anda memberikan izin.”

Lelaki itu mengeluarkan segumpal besi dari balik pakaiannya, kemudian memutar benda itu ditangannya semudah seorang pembuat gerabah membentuk adonan lempung. Tak lama ia sudah memegang sebentuk gunting. Sidya menebak bahwa itu adalah mustika yang dimilikinya, meski kegunaannya kelihatannya lebih banyak daripada kipas milik Apit atau tongkat bambu Hikram.

Ia mendekati si putri cilik kemudian membungkuk rendah sekali, hampir-hampir seperti mau berlutut, sikap kasarnya hilang entah kemana.

“Bolehkah?”

“Paman menjamin aku tak akan bisa dikenali lagi?” Sidya bertanya cemas, pertanyaannya tentang apa sebenarnya rencana Hikram dan Ambal ini terlupakan untuk sementara. Lagipula, ia memang takut jikalau suatu saat gurunya dihadang oleh para Satria Flamboyan dari istana karena dituduh telah melarikan sang putri bengal. Sidya tak perlu bertanya, dia sudah tahu Ambal mau melakukan apa dengan gunting itu.

“Besi wujud gunting yang sedang kupegang ini bukan besi biasa, Putri, melainkan logam yang diberikan langsung oleh Dewa Katili padaku. Aku akan mohonkan perlindungan padanya, dan terus terang saja Yang Mulia boleh menyebut Katili dengan julukan apapun, kecuali Dewa yang suka ingkar janji.”

Sidya bertukar pandang dengan gurunya, yang memberikan gumam yang terdengar seperti “terserah maumu”. 

Itu sudah cukup bagi Sidya. Dipersaksikan oleh patung-patung para dewa serta altar-altarnya, si putri kecil segera mengurai rambut panjang yang tak pernah dipotong sekalipun selama masa hidupnya sehingga tumbuh menggerai sepunggung, dan tanpa tunggu lama lagi si Abdi Dewa Pandai Besi memulai pekerjaannya untuk menandaskan rambut Sidya dari kepala.

Seiring dengan jatuhnya helai demi helai rambutnya, Sidya semakin sadar bahwa ini hanyalah satu dari sekian banyak konsekuensi dari keputusannya untuk memilih Hikram sebagai seorang guru. Ini hanya salah satu dari pengorbanan kecil. Bagaimana jika suatu saat ia harus mengorbankan hal yang lebih besar, hal yang lebih berharga baginya? Sidya resah, pertanyaan-pertanyaan memprotes diri sendiri tentang mengapa ia harus mengikuti pengembara kumal ini lagi-lagi menyeruak dikepalanya.

Hikram sendiri berjongkok, kemudian dengan agak kasar menarik kedua tangan Sidya, untuk memeriksa buku-buku jarinya. Ia melakukan hal itu lama sekali, padahal kemarin hari ia hanya melakukan hal itu sebentar saja, sembari sekali lagi mengeluhkan tentang betapa sulitnya merombak tangan halus Sidya menjadi sekeras yang dia inginkan, persis seperti saat mereka berada di tepi sungai pada kesempatan pertama.

“Ini dirawat dengan berbagai rendaman sari tanaman langka, bukan? Buang-buang bahan bagus, buang-buang uang. Besok kau harus latihan keras, Bangsawan Cilik. Tak ada perawatan untuk menghaluskan kulit lagi. Sanggupkah kau? Besok kau harus mulai latihan menguatkan kuda-kuda, memukul batang kayu, melatih topangan lengan—”

Anehnya, rasa kalut Sidya memudar untuk sementara akibat gerutuan-gerutuan gurunya itu, sementara sahutan Abdi Katili yang berkata bahwa dia akan membantu pelatihan tak didengarnya sama sekali.

--