Episode 4 - Study Tour.


?Setelah para siswa masuk kedalam bus, wali kelas mengabsen kami agar tidak ada yang ketinggalan di perjalanan pulang nanti. Setelah selesai mengabsen kami semua akhirnya bus mulai jalan. Sesampainya di jalan raya, aku melihat pemandangan banyak sekali arwah korban kecelakaan yang lalu lalang di tabrak kendaraan manusia. Ada yang tangannya hilang, kakinya hilang, tubuhnya separuh kebawah tidak ada, bahkan yang matanya lepas dan masih banyak yang lainnya. 

Bayangkan kalau manusia normal melihat ini pasti langsung jatuh pingsan. Karena aku merasa sangat mengantuk akhirnya aku tidur di dalam bus, sesekali aku bangun melihat keadaan bus. Kris dan gengnya masih mengganggu Ninda dan Yeni. Ninda sepertinya tahu bahwa aku memperhatikan mereka, buktinya ia menoleh ke arahku seperti meminta tolong. Aku cuek saja karena itu bukan urusanku, dan ada dewi cantik yang sedang tidur di sebelahku. Akhirnya aku tidur lagi di bus sampai kota tujuan. 

Pagi jam 10.30 sampailah di kota Lamongan tepat di lahan parkir Wisata Bahari Lamongan. Aku turun dari bus diikuti Putra dan Ratih. Setelah aku keluar dari bus aku menggerakkan seluruh badanku karena kaku dan pegal-pegal hampir setengah hari duduk di dalam bus. Di waktu aku sedang merenggangkan badanku, aku dihampiri oleh Ninda dan Yeni.?“Ed kenapa tadi kamu gak nolongin aku?” tanya Ninda kepadaku diikuti Yeni di sampingnya.

“Nolongin apaan ya? Kamu kan gak kenapa–kenapa… Kenapa harus menolongmu?” tanyaku bingung dengan ucapan Ninda.

“Kan tahu sendiri bahwa aku tadi diganggu sama Kris dan teman-temannya,” jawabnya memelas.

“Lalu, apakah aku harus mengusir mereka, mereka kan punya hak untuk dekat dengan kamu,” jawabku dengan memandang ke dalam matanya.

“Ya… bukan gitu juga, Ed. Ah ya sudahlah,” ucapnya sambil berlari menjauh mengikuti teman yang lain.

“Kamu gak peka, Ed …?” kata Yeni dengan sedikit membentak.

“Bukannya aku gak peka. Kan katamu kemaren gak level,” ucapku dengan sedikit membentak.

“Bukan maksudku seperti itu, Ed?” ucapnya sambil menunduk.

“Lalu?” kataku dengan agak menaikkan intonasi suara, dan langsung aku tinggal di belakang.?Aku bermain bersama Putra, Ratih dan Rudi di semua wahana permainan. Mulai roller coaster, spead boat, labirin kaca. Kemudian aku mengajak mereka ke rumah hantu, apakah ada hantu beneran di dalam rumah hantu??“Eh, ada rumah hantu masuk, yuk,” ajakku kepada yang lain.

“Oke deh. Ayo coba,” jawab Ratih dengan semangat.

“Engga usah deh… Takut,” Ucap Putra kepada kami.

“Kamu dari dulu takut mulu, sudah ayo kita masuk,” kataku dengan menarik Putra masuk ke dalam.?Mau gak mau kita antri panjang karena ini adalah salah satu wahana favorit. Setelah menunggu agak lama akhirnya giliran kita masuk. Sejenak kita masuk aku merasakan hawa negatif di dalam ruangan. Terutama di arah replika rumah sakit tepatnya di kamar mayat.?Saat sedang fokus di kamar mayat, ada suara yang memanggil. Karena penasaran aku mencoba mencari di mana letak suara itu, “Mas mas tolongin saya dong mas,” ucap seseorang yang kukira itu pemain hantu di dalam wahana ini.

“Kenapa?” tanyaku balik padanya tanpa melihat orangnya.

“Mata saya hilang satu mas,” jawabnya santai.

“Haaa… hilang?” Karena kaget aku berusaha menengok ke wajah orang tersebut, dan, “Wanjir hilang beneran,” lalu aku coba lihat kakinya. “Sialan, kakinya gak napak ke tanah Seetttaaannnn....” reflek aku tendang itu setan sambil lari entah ke mana.?Entah aku berlari ke mana hingga akhirnya aku berhasil keluar dari rumah hantu. Aku ngos-ngosan karena berlari tanpa arah. Sialnya aku lupa kalau punya mbah Kosim, mana mbah Kosim gak datang lagi mungkin lagi molor kali. Karena rada jengkel sama mbah Kosim, aku panggil saja mbah Kosim.?“Mbah Kosim hadir,” ucapku dalam hati memanggil mbah Kosim.

“Iya Dek Edi. Ada apa?” jawab mbah Kosim di sampingku.

“Kenapa tadi gak bantuin saya mbah waktu di ganggu setan mbah?” tanyaku pada mbah Kosim.

“Saya kira Dek Edi tadi lagi ngobrol sama setan itu,” ucap mbah Kosim tanpa ekspresi.

“Astaga,” sambil tepok jidat, ini macam lemot juga ya.

“Apa saya bunuh aja setannya tadi Dek,” sambung mbah Kosim dengan menaikkan auranya.

“Gak usah, mbah. Biarin saja,”?Karena rada-rada jengkel dengan mbah Kosim, akhirnya aku lanjut bermain wahana yang lainnya. Jam 15.30 kami disuruh untuk berkumpul ke tempat parkir Bus, karena jam 16.00 waktunya kami pulang ke Madiun. Setelah puas bermain, aku jalan menuju tempat parkir. Setelah berjalan agak lama akhirnya aku tersadar bahwa aku tersesat. “Sialan, aku tersesat…” ucapku lirih melihat ke sekeliling tidak menemukan teman-temanku. 

“Mbah Kosim, hadir,” ucapku memanggil mbah Kosim. Setelah mbah Kosim datang aku menyuruhnya untuk melacak aura Ibu Sari, karena mbah Kosim sudah hafal dengan aura Ibu Sari. Aku memintanya menuntun kepada beliau. Sekitar 15 menit akhirnya aku sampai di parkiran bus. Setelah duduk sebentar dipinggir pagar taman, kami masuk ke dalam bus. Kali ini tempat dudukku berubah. Di sampingku ada Ninda, di belakangku ada Putra sama Ratih, di depanku ada Rudi dan Yeni. Sedangkan gengnya Kris masih di tempat duduk semula. Terlihat raut wajah Kris gak suka denganku. “Ah bodo amat yang penting tidur.”

Sejenak kemudian aku tertidur karena kecapean. Entah rasanya ada yang membangunkan aku, aku berusaha membuka mataku sedikit, ternyata aku dibangunin oleh Ninda.?“Ed, bangun dong,” ucap Ninda dengan menggoyang-goyangkan tubuhku.

“Kenapa?” jawabku agak ketus karena baru tersadar dari tidurku.

“Temenin begadang dong, gak bisa tidur aku,” kata Ninda dengan memelas, kulihat jam tangan menunjukkan pukul 21.00.

“Lha kenapa gak bisa tidur? Sini tidur di pangkuanku,” rayuku padanya.

“Cih, kamu malah begitu,” ucapnya dengan memanyunkan bibirnya.

“Ada apa?” tanyaku serius padanya.

“Itu di samping pak supir seperti ada seseorang berdiri,” ucap Ninda dengan menunjuk kearah sopir.

“Hah, mana coba aku lihat…,” kataku dengan memicingkan mataku ke arah tempat sopir duduk.

Dan ternyata benar. Di samping sopir bus ada remaja laki-laki yang sepertinya korban kecelakaan. Badannya terbelah, tangan kiri gak ada, kepala pecah, darah di seluruh bajunya, bau anyir pasti.

“Hemb kok pak sopirnya seperti ngantuk ya, astaga,” langsung aku panggil mbah Kosim.

“Mbah Kosim hadir,”

“Iya ada apa Dek Edi,” tanya mbah Kosim.

“Tolong usir setan di samping pak sopir, mbah,” perintahku kepada mbah Kosim.

“Baik, Dek Edi,”

Dengan cepat mbah Kosim menerjang jin di depan dengan cakarnya, lalu jin tersebut pergi memudar karena diusir oleh mbah Kosim.

“Sudah dek Edi, sepertinya jin tersebut mau membuat sopir tidur agar bisa membuat semua penumpang bus jadi korban,” terang mbah Kosim yang sesuai dengan dugaanku.

“Astaga, alhamdullilah semua masih dalam perlindunganmu ya Allah,” ucapku bersyukur atas keselamatan yang masih diberikan kepada kami.

“Ya sudah, mbah Kosim pulang dulu ya,”

“Iya Dek Edi.”?Sudah biasa jin menyamar menjadi korban kecelakaan dan menggangu konsentrasi manusia. Bagi para ateis mereka tidak percaya akan kehadiran makhluk selain manusia di dunia ini. Jika manusia meninggal di tempat angker, mereka akan berpikir bahwa itu hanyalah halusinasi. Percaya atau tidak percaya akan kehadiran mereka, itu kembali ke diri kita masing-masing. 

Setelah lama perjalanan dari Lamongan ke Madiun, akhirnya sampailah di sekolahku. Sebelum aku keluar dari bus, aku ditarik oleh Kris dan gengnya.?“Kamu kenapa ganggu gebetan orang,” ucap Kris dengan menarik kerah bajuku dari samping.

“Siapa yang ganggu gebetanmu?” tanyaku balik padanya.

“Ninda,” bentaknya.

“Terus kenapa?” ucapku berusaha melepaskan diri.

“Jauhin Ninda, kalau tidak kamu akan tahu akibatnya!” ancam Kris kepadaku lalu melepaskan cengkraman kerah bajuku.

“Oke.”?Bukannya aku takut dengan mereka, tapi aku menghargai seorang teman. Aku gak mau mencari musuh, lebih baik perbanyak teman. Setelah Kris dan teman-temannya lewat, aku menghampiri ayahku yang sudah menungguku lama di sana. Aku naik motor lalu pulang menuju rumah.

“Nak, ayo bangun Nak,” ucap guruku membangunkanku. 

“Iya guru, ada apa?” tanyaku pada abah guru.

“Sudah saatnya kamu mengamalkan kitab Al Ajnas bab permulaan,” jawab abah guru sambil membelai jenggotnya.

“Iya guru, tapi caranya bagaimana…?” tanyaku kepada abah guru.

“Coba kamu panggil kitab Al Ajnas nya?”

Aku membuat kedua tanganku menengadah ke atas seperti berdoa, kemudian aku melafalkan amalan pemanggilannya, “Ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, hanya kepadamu hamba berserah diri, tunjukannya Al Ajnas (Amalan pemanggilan kitab Al Ajnas tidak akan saya sertakan cukup awalannya saja, karena amalan pemanggilannya cukup panjang, dan dilarang diketahui publik.). hadir, hadir, hadir.”

Setelah amalan pemanggilan selesai, datanglah sebuah buku berwarna emas kecoklatan. Sampul dari buku ini dari sebuah kulit binatang, entah kulit apa itu. Warnanya berbeda dengan yang aku panggil waktu di dunia nyata.

“Coba kamu buka halaman awal,” perintah abah guru. Aku kemudian membuka halaman awalnya.

“Kamu mulai belajar dari sini dulu, kuatkan dulu pondasimu, perluas dulu daya tampung energi di dalam tubuhmu, setelah aku rasa cukup, aku akan mengatakannya,” ucap abah guru memberikan arahan.

“Baik abah.”

Mulailah latihanku memperluas daya tampung energi dalam tubuhku, memperkuat pondasi dalam tubuhku, mungkin aku berlatih lama sekali hampir 12 jam di alam jin. Aku belajar meditasi untuk memperluas daya tampung energi.

“Sudah cukup, Nak. Sekarang aku akan memulangkanmu. Besok kita akan lanjutkan latihannya,” ucap abah guru dengan mengibaskan jubahnya.

“Iya guru.”?Seketika itu juga aku terbangun dari tidurku. Aku lihat masih jam lima pagi, lanjut aku menunaikan sholat subuh. Setelah sholat subuh, aku ingin mencoba berolahraga lari pagi mengelilingi desaku, sebelum masuk sekolah aku olahraga lari keliling kampung, tidak seperti biasanya yang setelah sholat subuh masih lanjut tidur. 

Entah kenapa hari itu ingin rasanya berlari, akhirnya aku berkeliling kampung mulai jam 05.15 sampai jam 6.30. Aku masih berlari memutari desa, tidak terasa jam menunjukkan pukul 6.30 saat aku pulang ke rumah, tapi anehnya aku tidak merasakan kelelahan dalam berlari terus nonstop tanpa henti. Sudah berapa puluh kali aku keliling desa, mungkin kalau sekali keliling desa jarak tempuh sekitar dua kilometer. Karena desaku sangat besar, dan rumah masih jarang. “Apa ini mungkin efek latihan semalam,” ucapku dalam hati memikirkan latihan tadi malam. Aku sekali lagi mencoba memangggil kitab Al Ajnas.

Aku membaca amalan pemanggilannya. Setelah membaca amalannya kitab Al Ajnas keluar tetapi wujudnya sangat berbeda, seperti buku lama yang kumel tanpa tulisan di dalamnya, “Kenapa kitab Al Ajnas seperti ini,” ucapku heran. Lalu aku kembalikan kitab Al Ajnas ke dalam tubuhku. Jam tujuh pagi aku berangkat sekolah, sampai di sekolah aku dihampiri oleh Ninda dan Yeni. ?“Ini ada oleh-oleh untukmu. Kemarin aku mau kasih ke kamu tapi kamunya keburu pulang,” ucap Ninda memberikan sebuah bingkisan. Seperti dejavu begitu.

“Oke deh, makasih ya,” balasku berterima kasih. 

Saat Ninda memberi bingkisan, Kris melihatku dengan tatapan benci.?Karena jam pertama olahraga, kelasku dan kelas Kris olahraga bersama. Kami bertemu di lapangan, anak cewek olahraga bola voli, dan anak cowok olahraga kasti (sejenis baseball). Beberapa kali aku kena lempar bola kasti oleh teman-temannya Kris.

“Hemm… Sepertinya ini pembalasannya,” ucapku dalam hati. Karena temanku yang lain tidak dilempar bola kasti, hanya aku saja yg jadi sasaran lemparan mereka berempat. 

Set permainan beralih. Aku yang jadi penjaga yang tugasnya melepar bola dan gengnya Kris yang menjadi pemukulnya. Karena Kris beberapa kali sulit memukul bola, aku memberikan sedikit kemudahan padanya, tetapi tetap saja gagal hingga percobaan ketiga. Saat bola jatuh ket anah, langsung aku ambil aku lempar sekuat tenaga ke arah kepala Kris. Karena jaraknya sekitar delapan meter-an mungkin bisa mengenai kepalanya Kris. Tanpa diduga lemparan ku tepat kepalanya, hingga menyebabkan dia terjatuh dan wajahnya nyungsep ke tanah.

“Hahahahaha…” teriakan tertawa anak-anak di dekatnya. Aku juga tidak mengira bahwa lemparanku akan sekeras itu. Karena aku masih penasaran, aku mencoba lagi. Set pun berganti, kini giliran Kris yang memukul bola lagi. Karena dia gagal waktu memukul bola terakhir, akhirnya bolapun jatuh di hadapanku, lalu aku ambil bola itu. Kris sudah berlari agak jauh, sekarang dia berlari model zig-zag. Aku genggam bola ini sekuat tenaga, lalu aku arahkan ke kepalanya Kris. Aku lempar bola ini sekuat tenaga, ternyata bidikanku meleset, malah bolanya mengenai tengkuknya Kris, akhirnya dia jatuh pingsan. Anak-anak dan guru pembimbing olahraga langsung berlari menolongnya.

“Mungkin dia hanya kecapean saja” ucap guru pembimbing olahraga. “Cih, jadi gak bisa balas dendam lagi, dia melempar ke arahku dua belas kali, sedangkan aku baru melempar dua kali,” keluhku kesal. 

Kemudian Kris dibawa ke uks oleh guru pembimbing olahraga. Setelah jam olahraga selesai, kini ganti mata pelajaran IPA. Saat itu Kris sudah sadar dan balik ke kelasnya. Satu jam terlewati, pelajaran IPA selesai kini berganti jam istirahat. Belpun berbunyi menandakan jam istirahat, aku menuju kantin sekolah, menikmati makanan ringan bersama temanku. Setelah selesai dari kantin aku kembali ke kelas, di kelas aku lihat dibawah laci mejaku ada sebuah surat, karena penasaran aku buka.

“Pulang sekolah aku tunggu di belakang sekolah. Awas saja kamu tidak datang!” Begitulah tulisannya. Dalam benakku pasti Kris dan gengnya. 

Setelah membaca surat itu, aku menyobeknya lalu aku masukkan saku celanaku. Dua jam kemudian bel sekolah berbunyi. Aku ke belakang sekolahan untuk melihat siapa sih yg mengirim surat, walaupun aku sudah tahu orangnya. Setelah sampai di belakang sekolah, aku ditunggu oleh Kris dan gengnya beserta kakak salah satu temannya yang kelas tiga SMP.