Episode 261 - Perapal Segel nan Tersegel (2)


“Dukungan bala tentara dari mana sehingga engkau berani sesumbar menantang dalam pertarungan satu lawan satu?” cibir lelaki bertubuh jangkung. Kata-kata ejekannya ini diikuti gelak tawa dari balik pepohonan yang turut disembunyikan oleh bayangan malam. 

Di dalam pandangan lelaki bertubuh jangkung yang berada pada Kasta Perak Tingkat 6, ditantang oleh ahli yang masih berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9 sungguh tak bermanfaat. Tentu ia tiada menyadari bahwasanya dengan berbekal Akar Bahar Laksamana dalam meniti Jalan Keahlian Laksamana, Bintang Tenggara saat ini berada pada Kasta Perunggu Tingkat 11. Secara umum, Kasta Perunggu Tingkat 11 memiliki kemampuan tempur yang setara dengan Kasta Perak Tingkat 4 atau Tingkat 5. 

Jurang pemisah di antara kedua ahli tersebut, sesungguhnya tiada jauh terpaut. 

Sepantasnya, Bintang Tenggara tak gentar. Dengan mengatakan ‘adab keahlian’ maka ahli mana pun akan memahami bahwa seorang ahli melontar tantangan satu lawan satu. Dengan demikian, anak remaja ini berharap untuk hanya menghadapi satu lawan sahaja daripada harus berhadapan dengan ahli-ahli lain. Sebagai taruhan, bilamana menang maka seluruh lawan akan menarik diri, sedangkan seandainya kalah maka dirinya akan terpaksa membayar upeti senilai seratus keping emas. 

“Bilamana engkau menang, maka kami akan membayar upeti!” tegas Bintang Tenggara. “Apabila kalah, enyahlah dari hadapan kami!”

“Adik Bintang, kumohon untuk mempertimbangkan sekali lagi...” Saudagar Senjata Malin Kumbang melangkah tergopoh. Padahal, diketahui umum bahwa tokoh ini berada pada Kasta Perak Tingkat 9. Meski tak gemar memupuk keahlian, tokoh yang satu ini memiliki banyak keping-keping emas untuk membeli dan menenggak ramuan sakti. Oleh sebab itu pula, dirinya tiada menguasai jurus persilatan dan rendah pengalaman bertarung. Atau lebih tepatnya, Saudagar Senjata Malin Kumbang bertarung dengan cara yang berbeda.

“Kakak Malin Kumbang, izinkan diriku membalas budi atas keramahtamahan dan kesediaan menemani dalam perjalanan...”

“Tiada perlu... tiada perlu...” Saudagar Senjata Malin Kumbang telah memutuskan untuk membayar upeti. Ia tak hendak sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan terhadap investasi jangka panjang dalam bentuk Putra Mahkota itu. Selain itu, mengingat hubungan baik sesama anggota Kekuatan Ketiga dengan Balaputera Wrendaha, sang Datu Besar Kadatuan Kedua yang juga merangkap Maha Patih Kemaharajaan Cahaya Gemilang, semakin Malin Kumbang terlihat khawatir. 

“Aku menerima tantanganmu!” sergah lelaki tinggi dan mengenakan caping kepada Bintang Tenggara.

“Aku bersedia membayar!” sergah Saudagar Senjata Malin Kumbang, masih berupaya menghentikan pertarungan. 

“Heh! Saudagar Senjata... Apa pun yang terjadi, kami akan memperoleh seratus keping emas sebagai upeti. Pertarungan ini hanyalah untuk mengisi waktu luang sahaja... Hahaha...” 

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Ketiga: Patah Tumbuh Hilang Berganti!

Bintang Tenggara segera melipat gandakan kekuatan dan kecepatan tubuh. Di saat yang sama. Ia pun melenting tinggi-tinggi. Di udara, secara naluriah, anak remaja tersebut lalu menebar Segel Penempatan, sebagai persiapan dalam melancarkan serangan... 

Bintang Tenggara melupakan satu hal teramat penting! Anak remaja tersebut melupakan kenyataan bahwa kemampuan dirinya merapal formasi segel, telah tersegel. Tanpa formasi Segel Penempatan, maka lintasan lompatannya hanya lurus ke hadapan karena tak memiliki pijakan untuk berganti arah. Siapa saja, tanpa perlu meniti jalan keahlian, tentu dapat membaca ke arah mana anak remaja tersebut akan mendarat. Bahkan Saudagar Senjata Malin Kumbang, dapat menebak arah lompatan dengan akurat. 

“Polos sekali...,”dengus lelaki bertubuh jangkung. Ia menanti dengan tenang. Tenang sekali, bahkan cenderung meremehkan.

Tempuling Raja Naga! 

Bintang Tenggara berniat mengeluarkan senjata pusaka pemberian sang Super Guru. Akan tetapi, tiada pula ia dapat merogoh ke dalam dimensi penyimpanan milik Komodo Nagaradja. Sesungguhnya, ia perlu merapal formasi segel sederhana untuk membuka ruang dimensi penyimpanan tersebut! 

“Super Guru!” seru Bintang Tenggara menebar mata hati ke arah mustika retak yang bersemayam di balik mustika miliknya sendiri. 

“Cih! Ingatkan aku untuk menghajar si tua bangka Balaputera Dewa bilamana telah memperoleh tubuhku kembali!” sergah Komodo Nagaradja. Menggunakan jalinan mata hati, ia lalu membukakan ruang dimensi penyimpanan dan mengeluarkan Tempuling Raja Naga untuk digunakan oleh anak didiknya itu. 

“Hm... Dikau menjadi mirip dengan Dewi Anjani dalam hal membawa dan meminjamkan senjata...” Ginseng Perkasa terkekeh.

“Keparat!” 

Menggenggam erat Tempuling Raja Naga di kedua belah tangan, Bintang Tenggara menikam deras.

Lelaki bertubuh jangkung menanti dengan sabar... “Hooo...? Senjata pusaka rupanya. Apakah ini alasan engkau demikian berani menantang ahli yang jauh lebih tangguh...?”

Pada detik-detik akhir sebelum senjata pusakanya mengenai lawan, sebuah tendangan berputar menyambut ketibaan Bintang Tenggara. Sigap ia menyilangkan Tempuling Raja Naga ke hadapan. Berhasil menahan tendangan, Bintang Tenggara memanfaatkan tenaga tendagan untuk melontarkan tubuh jauh ke belakang. 

Lelaki bertubuh jangkung menyilangkan lengan di depan. Betapa ia penasaran. Perkiraan waktu di kala ia melancarkan tendangan berputar adalah sangat tepat, sehingga anak remaja tersebut seharusnya tiada memperoleh kesempatan menangkis. Selain itu, kekuatan tendangan sepantasnya tak dapat ditangkis. Dari pertukaran serangan pertama, yang berlangsung singkat, dapat disimpulkan bahwa lawannya tersebut memiliki kecepatan dan kekuatan di atas rata-rata ahli yang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9...

Di lain sisi, Bintang Tenggara mendarat ringan. Dari pertukaran serangan tersebut, baru ia menyadari betapa sulitnya bertarung tanpa merapal formasi segel. Bagi ahli yang mumpuni, pertarungan dilakukan memanfaatkan kombinasi jurus persilatan dan kesaktian, ditambah dengan keterampilan khusus yang dimiliki. Jalan yang selama ini ia tempuh, mengajarkan untuk dapat bertarung dengan cara yang sedemikian. 

“Cih! Si tua bangka itu hendak menghambat kemajuan muridku!” gerutu Komodo Nagaradja. Ia yang paling menyadari bahwa pemanfaatan jurus persilatan dan kesaktian serta merapal formasi segel yang diterapkan anak didiknya di dalam setiap pertarungan merupakan keunggulan yang tak dimiliki oleh banyak ahli seusia. Oleh karena itu pula, pertumbuhan selama ini berjalan dengan sangat mulus. Walau tak terlalu piawai dalam mendidik, setidaknya Komodo Nagaradja dapat menilai bahwa muridnya berada di jalur yang tepat dalam memupuk keahlian. Tentu ini semua sebelum Balaputera Dewa menyegel kemampuan merapal formasi segel. 

“Sepertinya... harus bertarung dengan cara lain...” ujar Ginseng Perkasa. 

“Omong kosong! Ini adalah kesempatan!” sergah Komodo Nagaradja, 

“Kesempatan...?” Bintang Tenggara terdengar bingung. 

“Ini adalah kesempatan untuk menempa kemampuan satu persatu secara terpisah!” Tetiba sang Super Guru bersemangat memberi tunjuk ajar. “Dalam pertarungan ini, engkau hanya diperkenankan memanfaatkan jurus persilatan!” 

“Bagaimana dengan jurus Silek Linsang Halimun...?” Bintang Tenggara penuh harap.

“Jurus itu berada di antara persilatan dan kesaktian... dilarang! Dilarang Keras!”

 “Jadi hanya jurus Pencak Laksamana Laut dan Tinju Super Sakti...?”

“Hanya jurus persilatan, kataku! Bukan jurus-jurus persilatan. Artinya, hanya satu jurus persilatan saja!” 

“Akan tetapi, bila hanya jurus Pencak Laksamana Laut, maka akan sangat banyak mengumbar tenaga dalam...” Bintang Tenggara berupaya menawar. 

“Itu karena kau selama ini salah! Bukanlah demikian cara memanfaatkan Pencak Laksamana Laut!” 

“Hm...?”

“Cara yang benar sebagaimana diterapkan oleh Hang Tuah, adalah merapal jurus secara terpisah sesuai dengan kebutuhan. Gerakan pertama untuk kekuatan, gerakan kedua untuk kecepatan. Gerakan ketiga digunakan hanya bilamana diperlukan ledakan kekuatan dan kecepatan dalam waktu yang bersamaan.”

“Memanglah demikian...,” jawab Bintang Tenggara. 

“Yang selama ini kau lakukan adalah membuka jurus secara terus-menerus! Bayangkan jurus tersebut sebagai tusuk gigi. Selesai menyantap makanan, maka tusuk gigi dikerahkan. Bilamana tidak, tentu tusuk gigi tersebut tidak kau sangkutkan di sela-sela gigi.”

“Apakah demikian...?” Meski diceramahi menggunakan perumpamaan yang tak biasa, sang Super Murid dapat memahami kata-kata si Super Guru. Yang disampaikan sesungguhnya adalah proses membuka dan menutup jurus. Mungkin perumpamaan yang lebih tepat adalah pedang dan sarungnya. Hanya kerahkan pedang tepat di saat hendak menebas atau menusuk, bilamana tidak maka sebaiknya pedang disarungkan. 

“Tentu saja. Seperti saat ini, buat apa engkau merapal gerakan ketiga padahal hanya berdiri diam dan saling pandang dengan lawan!? Membuang tenaga dalam saat sedang diam...”

Bintang Tenggara spontan berhenti merapal jurus. Memang dalam keadaan diam, bilamana merapal gerakan ketiga dari Pencak Laksamana Laut, maka membuang tenaga dalam ibarat membakar daun kering pada siang bolong di musim kemarau. 

“Cih! Hang Jebat saja mengetahui sifat jurus yang seperti ini...” cibir Komodo Nagaradja.

Bintang Tenggara terdiam. Mengapa baru memberi tahu sekarang? Mengapa tidak sedari dulu? Lagipula, wajar saja bilamana Hang Jebat mengetahui cara memanfaatkan jurus Pencak Laksamana Laut secara baik dan benar, wong ia diajarkan langsung oleh Laksamana Hang Tuah... Akan tetapi, tak satu pun keluhan ini disuarakan, karena bilamana disampaikan paling-paling hanya ditanggapi oleh celoteh berkepanjangan dari sang Super Guru. 

Akan tetapi, mengacu kepada penjelasan siluman sempurna itu, bukankah berarti tindakan mencabut pedang harus dilakukan dengan sangat cepat...? Tidakkah malah membebani mata hati karena konsentrasi dan proses mengalirkan tenaga dalam dari mustika untuk proses membuka dan menutup jurus secara berulang-ulang...?

“Hei penantang... Mengapa engkau hanya bengong di sana...?” Lelaki bertubuh jangkung memecahkan lamunan Bintang Tenggara. 

“Bagaimana dengan jurus Delapan Penjuru Mata Angin!?” aju Bintang Tenggara cepat. “Secara prinsip ia bukanlah jurus persilatan maupun kesaktian...”

“Haram!” sergah Komodo Nagaradja. “Tidakkah kau tahu di luar sana ada jutaan ahli yang setiap kali bertarung harus memperhitungkan secara cermat ketersediaan tenaga dalam!? Enak betul hidup dengan kemampuan menyerap tenaga alam dan seketika mengubah menjadi tenaga dalam!” 

“Komodo Nagaradja... dikau terlalu berlebihan,” Ginseng Perkasa mencoba menengahi. “Setiap ahli selalu memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing...”

“Haram!” hardik Komodo Nagaradja lagi. “Haram kataku!” 

Bintang Tenggara mendatangi lawan. Gerakannya hanyalah langkah kaki biasa, tiada seindah ketika melenting-lenting tinggi di udara. 

“Kau sudah memperoleh kesempatan menyerang. Kini adalah giliranku...” Usai merampungkan kalimatnya, lelaki bertubuh jangkung merangsek maju. Ia berlari sambil merentangkan lengan lebar seolah hendak menggiring sekawanan bebek. Telapak tangannya kemudian menyala api.  

Bintang Tenggara menanti dalam diam. Raut wajahnya setenang air sumur nan dalam. Seketika telapak tangan kanan nan menyala api sedikit lagi menampar... 

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang! Bintang Tenggara memanfaatkan kecepatan yang berlipat ganda untuk melompat ke samping. 

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Pertama: Tuah Sakti Hamba Negeri! Meski bergerak menjauh dari lawan, si anak remaja telah melipatgandakan kekuatan di saat menikamkan Tempuling Raja Naga. 

“Srek!” 

Tempuling Raja Naga menyerempet bahu kanan lelaki bertubuh jangkung yang berupaya menghindar. Akan tetapi, telapak kirinya mengincar deras dada Bintang Tenggara... 

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua... 

“Duar!” 

Terlambat! Usai menutup Gerakan Pertama sebelumnya, Bintang Tenggara terlambat membuka Gerakan Kedua. Walhasil, anak remaja itu terlambat menghindari telapak tangan kiri nan menyala api. Dadanya terkena hantaman keras!

Terlontar lalu terjatuh, Bintang Tenggara segera bangkit. Untunglah di saat-saat akhir ia masih sempat melompat mundur sehingga hantaman telapak tangan tiada mendarat telak. Hanya dampak ledakan yang melontarkan tubuh ke belakang. 

“Oh... reflekmu cukup baik, wahai anak muda...” Lelaki bertubuh jangkung berada di atas angin. “Akan tetapi, sungguh engkau membuatku bosan.” 

Tak mudah bagi Bintang Tenggara membuka-tutup jurus secara berulang-ulang. Permasalahan yang dihadapi terletak pada kecepatan membuka dan menutup. Beban terhadap mata hati pun cukup terasa. Akan tetapi, di saat yang sama, ia sepenuhnya menyadari bahwa dengan cara ini, pembakaran tenaga dalam berlangsung jauh lebih sangkul. 

Bintang Tenggara menyibak kembangan. Andai saja ia dapat merapal jurus kesaktian unsur petir Asana Vajra, maka mengimbangi lawan kali ini tentu menjadi jauh lebih mudah. 

“Jangan berpikir yang tidak-tidak!” sergah Komodo Nagaradja seolah dapat membaca pikiran. “Jurus kesaktian unsur petir pastinya tiada diperkenankan!”

Sang Putra Mahkota dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang itu berpura-pura tak mendengar. Tentu ia tak perlu diingatkan lagi dan tak mungkin ia menentang arahan sang Super Guru. Pikiran mengerahkan jurus Asana Vajra hanya melintas sesaat. Sungguh siluman sempurna itu kali ini terlalu bersemangat. 

Lelaki bertubuh jangkung kembali merangsek. Kini ia menyerang dengan lebih serius. Sekujur tubuhnya menyala api, mengingatkan kepada Canting Emas di kala gadis itu mengerahkan jurus kesaktian unsur api Ksatria Agni, Bentuk Kedua: Dhumaketu. 

Dalam bergerak setengah lingkaran sebagaimana halnya kembangan, Bintang Tenggara lagi lagi-lagi mempraktekkan penggunaan jurus Pencak Laksamana Laut sesuai panduan sang guru. Oleh sebab itu, di dalam pertarungan ini, ia terlihat seolah lebih banyak menghindar daripada menyerang. Waktu antar gerakan bertahan dan menyerang pun terpaut cukup panjang. Dari pandangan umum, seolah anak remaja itu tak dapat leluasa melancarkan serangan. 

 “Heh! Hanya berkelitkah kemampuan yang engkau miliki!?”

Pertarungan kali ini berlangsung membosankan. Satu pihak bertarung serius, sedangkan pihak satu lagi sesungguhnya sedang berlatih. Bintang Tenggara masih berupaya membiasakan diri membuka dan menutup jurus secara berkali-kali. Rentang waktu antar satu bukaan dan tutupan jurus pun semakin memendek. Latihan perlahan mengalami kemajuan.

“Bagus... bagus...,” puji Komodo Nagaradja. “Sekarang perhatikan tenaga dalam yang masih tersisa...” Nada suaranya tetiba berubah layaknya sedang mencibir. 

Betapa terkejutnya Bintang Tenggara menyadari bahwa tenaga dalam yang tersisa hanya di ambang 15 persen. Dengan kata lain, dirinya hanya dapat melancarkan dua kali gerakan kedua atau sekali gerakan ketiga dari jurus Pencak Laksamana Laut. Akibat memusatkan perhatian pada membuka dan menutup jurus, anak remaja tersebut lalai memeriksa ketersedian tenaga dalam! 

Di saat yang sama, dua telapak tangan nan menyala api semakin mendekat! 

Bintang Tenggara sontak melompat mundur ke belakang. Tindakan ini ia lakukan tanpa mengerahkan jurus apa pun. Hanya gerakan biasa. Menyaksikan sasaran lagi-lagi berupaya melarikan diri, lelaki bertubuh jangkung melompat cepat! 

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Ketiga: Patah Tumbuh Hilang Berganti!

Tepat di saat ujung jemari kakinya mendarat di tanah, Bintang Tenggara segera merapal jurus yang melipatgandakan kekuatan serta kecepatan. Akan tetapi, kali ini sedikit berbeda. Dalam keadaan tenaga dalam sangat terbatas, Akar Bahar Laksamana yang selama ini tenang-tenang saja, berdetak! Ia mengalirkan sedikit tenaga dalam kepada mustika retak milik Bintang Tenggara. 

Di kala hal ini terjadi, dampak yang kasat mata adalah aura berwarna kehijauan pun membungkus tubuh anak remaja itu. Akan tetapi, yang tiada diketahui oleh ahli lain, adalah kekuatan dan kecepatan tubuhnya bukan lagi bertambah sebanyak dua kali lipat, melainkan tiga kali lipat! 

“Duak!”