Episode 40 - Ingatan



Aku terombang-ambing di lautan kegelapan. 

Dingin.

Sunyi. 

Sepi. 

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku di sini, karena di sini, waktu seakan terhenti. Tiba-tiba aku melihat setitik cahaya. Aku bergerak mendekati cahaya tersebut dan mencoba menerka cahaya apa itu, tapi aku tidak mendapatkan jawabannya. Aku semakin mendekat lalu melihatnya dengan saksama, dan ternyata cahaya itu adalah setitik api berwarna merah.

Tanpa sadar aku menyentuh api tersebut dan tiba-tiba saja semua kegelapan di sekitarku tersapu bersih oleh api yang menyala-nyala. Rasa dingin yang sebelumnya aku rasakan hilang tergantikan oleh hangat. Kesunyian yang sebelumnya terjadi hancur oleh teriakan api dan kini aku sudah tidak merasakan kesepian itu lagi, seperti aku sudah mengenal api itu sejak lama.

Lalu seperti ada pecahan ingatan yang mulai datang, satu persatu mulai mengisi kekosongan dan melengkapi memoriku. 

Ingatan yang selalu ingin aku dapatkan, tapi juga aku takutkan.

Satu-persatu ingatan itu mengisi kekosongan di dalam kepalaku. Bersamaan dengan berubahnya warna api yang membakar lingkungan di sekitarku. Api biru, api putih, dan kemudian akhirnya menjadi api hitam. Dan saat itu pula aku merasa semua ingatanku telah pulih.

Aku merasa takut, aku merasa marah, aku merasa sedih, aku merasa takut, tapi di balik semua itu, aku merasa kegembiraan yang tiada tara.

**

Aku membuka mataku dan melihat langit-langit yang tidak ku kenal. Tubuhku terasa nyaman karena saat ini aku terbaring di atas kasur yang sangat empuk. Aroma aneh yang tidak ku kenal datang dan menusuk hidungku. Aku melihat ke sekeliling ruangan dan menemukan sosok yang aku kenal, dia adalah Alice.

Alice kini sedang menggunakan pakaian sekolah sembari membaca sebuah buku. Jepit rambut berwarna merah muda menghiasi rambut hitam lurusnya. Ada kantung mata di bawah mata indahnya, akan tetapi tetap tidak mengurangi kecantikannya. Benar, dibandingkan dengan kebanyakan gadis manusia lainnya, Alice adalah yang paling cantik.

Tapi, yah, aku tidak terlalu tertarik, karena meskipun dia memiliki paras yang rupawan, akan tetapi bentuk tubuhnya sangat biasa. Bahkan, di bagian ‘itu’ dia sangat kurang dibandingkan dengan gadis lainnya.

“A-air.” Aku mencoba untuk berbicara dengan biasa, akan tetapi suara yang keluar terdengar sangat serak dan lemah.

Untuk sejenak Alice terdiam terpaku, tanpa dia sadari buku yang sedang dia pegang telah jatuh ke lantai, beberapa saat kemudian Alice akhirnya kembali tersadar langsung berkata dengan panik, “A-air? Baik, tunggu sebentar, akan segera aku ambilkan.”

Alice berjalan menuju meja di samping tempat tidurku dan mengambil gelas yang memang sudah terisi air putih. Dia mengambilnya lalu dengan gesit berjalan ke kasurku. Langkahnya sangat terburu-buru, lalu tiba-tiba saja Alice tersandung dan air yang sedang dia bawa jatuh ke padaku.

“Ah, maaf Danny, aku tidak sengaja.” Alice berkata sambil mengambil sapu tangan di tasnya dan mengelap tempat dimana air itu terjatuh, yaitu di dadaku. 

“Ti-tidak apa-apa.” Aku merasa sangat lemah, bahkan aku tidak kuasa untuk berbicara banyak.

Alice masih berusaha mengelap dadaku untuk membersihkan air yang telah tumpah, tapi tentu saja itu tidak cukup, dadaku masih terasa dingin. Menyadari hal tersebut, Alice segera berdiri dan mengambil sesuatu dari dalam sebuah tas. 

Itu adalah sebuah kemeja bersih berwarna biru muda yang aku kenal, aku pernah melihatnya di dalam lemari baju Danny.

Alice masih berdiri sambil memegang kemeja tersebut dan terlihat bingung dengan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Dia seakan ingin mengatakan sesuatu, akan tetapi kata-kata itu akan langsung dia telan sesaat sebelum keluar dari lidahnya. 

“Tidak apa-apa.” Ucapku lemah sembari memejamkan mataku.

“Ba-baiklah, maaf.” Alice berkata dengan suara yang lemah. Aku tidak tahu bagaimana ekspresinya saat ini, tapi aku yakin ekpresinya bisa membuat banyak manusia biasa jatuh hati.

Aku merasakan aroma harum dari samping tempat tidurku, kemudian secara perlahan jari-jari lembut mulai membuka satu demi satu kancing kemeja basah yang sedang aku kenakan. Aku merasa dadaku mulai terpapar sedikit demi sedikit, bersamaan dengan lepasnya kancing kemeja yang aku kenakan.

Setelah selesai, Alice mulai menaikan tubuhku agar lebih mudah untuk melepaskan kemeja basah yang sedang aku pakai. Dia dengan perlahan dan lembut melepaskannya dan aku mulai merasakan udara dingin menusuk kulitku.

Aku tidak tahu bagaimana posisi kita tepatnya, tapi dalam posisi ini aku bisa merasakan hangatnya napas lembut milik Alice. Namun, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan...

“Ahhh..”Alice berteriak kencang dan melepaskan tangannya dari tubuhku. Aku sedikit terkejut sekaligus penasaran dengan apa yang sedang terjadi, jadi aku membuka mataku dan ternyata ada satu sosok wanita cantik sedang berdiri di depan pintu dengan wajah jahil, dia adalah ibu Danny.

“Ah, tante, selamat siang, biar saya luruskan dulu, ini tidak seperti yang tante lihat, saya bisa menjelaskannya, benar, saya tidak berbohong.” Alice berkata dengan terburu-buru. Dari samping aku bisa melihat ekpresi paniknya dan pipinya yang memerah.

Ibu Danny menutup senyum jahilnya dengan tangan kanannya dan berjalan mendekati Alice. Dia memandang Alice dengan lembut lalu memegang pundaknya dan berkata, “Tante titipkan anak tante ke kamu ya.”

Sekejap kemudian seluruh wajah Alice terlihat memerah dan dia juga menundukan wajahnya dalam-dalam.

“Haha, maaf, tante hanya bercanda.” Ucap Ibu Danny sambil tertawa kecil.

Kemudian Ibu Danny memeriksa keadaanku dan berkata bahwa Alice sudah menceritakan semua yang terjadi. Dia sangat marah karena aku harus melakukan kekerasan untuk menyelesaikan masalah, tapi dia juga bangga padaku karena tidak meninggalkan teman yang sedang dalam kesusahan.

Sama seperti yang akan seorang pria sejati lakukan.

Aku diam sambil mendengarkan Ibu Danny dan Alice bercerita dan sesekali bertanya padaku, yang akan aku jawab seadanya karena aku merasa sangat lemah untuk menjelaskan semuanya.

Dari cerita mereka aku bisa mengetahui bahwa ternyata aku sudah tidak sadarkan diri selama satu minggu. Di satu minggu ini, Ibu Danny dan Alice lah yang secara bergantian menunggu aku untuk bangun kembali.

Aku juga terkejut bahwa ternyata nenek Rito tertabrak sebuah mobil dan meninggal pada hari yang sama seperti saat aku dan yang lainnya sedang bertarung. Dan semenjak itu Rito telah pergi dari rumahnya dan meninggalkan sepucuk surat untukku.

Di hari yang sama juga, terjadi fenomena aneh di kota ini, semua orang yang menderita penyakit, secara tiba-tiba sembuh.

Penyakit berat seperti kanker, tumor, stroke, diabetes, HIV/AIDS, ISPA, malaria, leukimia. Penyakit ringan seperti batuk, pilek, demam, panu, kadas, kurap. Tanpa terkecuali tersembuhkan.

Hal ini membuat banyak ilmuan, ahli, dan dokter datang berbondong-bondong untuk mencari tahu penyebabnya. Namun, sampai detik ini masih belum ada yang bisa menyingkap misteri tersebut.

Tapi, aku tahu pasti apa penyebabnya. Hal tersebut dikarenakan energi yang telah terserap tanpa aku sadari selama enam tahun terakhir, kemudian meledak karena serangan yang mengenai titik vitalku dan tanpa sadar kemampuan penyembuhanku tidak hanya menyembuhkan diriku sendiri, tapi juga menyembuhkan semua orang di kota ini.

Ibu Danny dan Alice kemudian tanpa sadar kembali melanjutkan obrolan mereka tanpa mempedulikan aku yang sedang terbaring.

Aku merasa sangat lemah, jadi aku memutuskan untuk menutup mataku kembali dan masuk ke dunia itu. Di pusat dunia yang terbakar oleh api hitam ini, aku melihat sesosok hitam sedang terbaring dan di kelilingi oleh api hitam yang berkobar-kobar.

Tentu saja aku mengenalnya dan itu bukanlah sosok aslinya, dia adalah Danny, seseorang yang seharusnya memiliki tubuh yang sedang aku miliki sekarang.

Aku berjalan mendekatinya, akan tetapi rasa berat dan sesak semakin menjadi bersamaan dengan setiap langkah yang aku ambil. Api hitam itu menghalangi jalanku dan memaksa aku untuk tidak mendekatinya.

“Sialan! aku adalah tuanmu dan kau adalah milikku, jadi tunduklah padaku.” Aku berteriak keras.

Api hitam yang terbakar berkobar dan terlihat menggila. Aku terus mencoba berjalan menyusuri jalan yang dipenuhi api hitam. Kepalaku berdengung keras dan rasanya ingin meledak. Dadaku terasa sesak dan berat. 

Api hitam itu sesekali menyerang layaknya cambuk dan membuat aku terhempas. Namun, aku terus mencoba untuk berjalan dan mendekati sosok Danny yang saat ini hanyalah sebuah bayangan hitam dan di kelilingi oleh api hitam yang meledak-ledak. 

Hingga akhirnya aku tidak mampu lagi.

Semua api ini memang adalah milikku, tapi aku yang saat ini tidak mampu untuk mengendalikannya, karena semua energi yang tanpa sadar aku serap di dunia ini lebih besar dari kemampuanku, dan akhirnya Danny harus mengorbankan dirinya sebagai segel untuk api tersebut untuk menyelamatkanku.

Aku menatap sosok hitam itu lalu mengepalkan tanganku erat-erat. Aku bertekad, bahwa aku akan segera menaklukan api hitam ini dan menjadikannya milikku kembali, lalu, aku akan pergi dan kembali ke tempatku seharusnya.

Karena di sana, masih ada hal yang harus aku selesaikan.

**

Di luar istana Raja Iblis, tiga sosok berdiri dengan gagahnya menatap jutaan iblis yang sedang berkumpul menyaksikan pengangkatan Biloth, Egor, dan Dalpos sebagai pemimpin pasukan iblis.

Semua mata tertuju pada mereka bertiga dengan tatapan takut sekaligus kagum. Karena hanya yang terkuatlah yang mampu untuk bisa berada dalam posisi mereka saat ini. 

Focalor berjalan menuju ke arah mereka sembari membawa tiga medali. 

Medali tersebut adalah bukti bahwa mereka adalah pemimpin pasukan iblis. 

Focalor berdiri menatap mereka bertiga dan berkata, “Katakan sumpah kalian.”

“Demi sang Raja Iblis yang bijaksana, aku akan mengabdikan setiaku padanya. Demi sang Raja Iblis yang hebat, aku akan mengabdikan hidupku padanya. Demi sang Raja Iblis yang agung, aku akan mematuhi segala perintahnya. Dan terkutuklah aku jikalau aku berkhianat padanya.” Teriak Biloth, Egor, dan Dalpos secara bersamaan.

Kemudian datang Sorcas, Vaberian, dan Idos yang masing-masing langsung mengambil tiga medali yang Focalor bawa kemudian mengalungkannya pada mereka bertiga.

“Kami berharap banyak pada kalian.” Gumam Focalor pelan sembari menatap tiga pemimpin pasukan yang baru.

Mereka bertiga tidak akan bisa menikmati sanjungan dan sorakan dari para iblis lainnya dalam waktu yang lama, karena Focalor dan yang lainnya telah menyiapkan misi kecil untuk mereka bertiga, yaitu mencari kepingan pedang gram yang telah jatuh ke bumi.