Episode 260 - Pandangan



Perjalanan Tanah Pasundan berlangsung cepat. Setelah meninggalkan penginapan dengan menaiki kereta kuda, Saudagar Senjata Malin Kumbang dan Bintang Tenggara melangkah masuk ke dalam gerbang dimensi. Sebagai catatan, hanya ada dua tokoh tersebut di dalam kereta kuda, sementara ajudan yang kurus kerempeng berdiri di luar sisi belakang dan kusir di hadapan mengendalikan kekang. Saudagar Senjata Malin Kumbang meninggalkan istri beserta dayang-dayang istrinya di penginapan, yang nantinya akan kembali ke tempat asal mereka di wilayah barat Pulau Barisan Barat.

Siang itu mentari bersinar cerah. Kini mereka menuju ibukota Kemaharajaan Pasundan. Sungguh perjalanan menggunakan kereta kuda demikian nikmat, batin Bintang Tenggara. Selain terlindung dari panasnya mentari, tak ada yang akan menyadari bahwa sang Yuvaraja sedang dalam perjalanan. Hal ini tentu membebaskan diri dari pantauan pihak-pihak yang bermusuhan dengan Kemaharajaan Cahaya Gemilang, serta dari musuh dalam selimut di dalam kemaharajaan sendiri.

Kedua ahli duduk berseberangan, saling hadap-hadapan. 

“Apakah kereta kuda ini cukup selesa bagi Yang Mulia Yuvaraja,” sapa Saudagar Senjata Malin Kumbang. Raut wajahnya menunjukkan seberkas kekhawatiran. Tentu dirinya hendak menyajikan pengalaman perjalanan terbaik kepada sahabatnya itu. Sahabat... Betapa Malin Kumbang menantikan hari dimana Balaputera Gara memuncaki takhta Kemahajaan Cahaya. Betapa hubungan perdagangan akan semakin langgeng adanya. 

“Kereta kuda ini sudah jauh dari memadai. Akan tetapi...”

“Apakah gerangan itu, wahai Yang Mulia Yuvaraja...?’” sela Saudagar Senjata Malin Kumbang. “Segera utarakan, di mana atas nama saudagar, diri ini akan sesegera mungkin memenuhi!”

“Mohon Tuan Saudagar Senjata tiada menyapa diriku sebagai Yang Mulia Yuvaraja, Putra Mahkota, atau pun Balaputera Gara…”

“Oh…? Maafkanlah diriku yang lalai ini. Tentu Yang Mulia Yuvaraja tiada hendak mengumbar jati diri selama perjalanan.” Saudagar Senjata Malin Kumbang terlihat sedikit lega.

Bintang Tenggara mengangguk cepat, namun menatap tajam. Saudagar Senjata Malin Kumbang masih menyapa dengan panggilan Yang Mulia Yuvaraja. 

“Maaf... maaf,” Saudagar Senjata Malin Kumbang tersipu. “Jika demikian, apakah gerangan panggilan nan pantas...?” 

“Cukup panggil diriku dengan nama Bintang.” 

“Bintang…?”

“Bintang Tenggara.”

“Hah!” Saudagar Senjata Malin Kumbang terkejut bukan kepalang, sampai seolah akan terjengkang. 

“Kemungkinan besar Lintang Tenggara alias Balaputera Lintara, adalah kakak kandungku,” papar Bintang Tenggara cepat. “Akan tetapi, hubungan kami tak pernah akur. Seperti yang telah kusampaikan, ia memiliki niat busuk saat hendak menculik diriku.” 

“Oh...?” Saudagar Senjata Malin Kumbang menyipitkan mata. 

“Mohon Tuan Saudagar Senjata Malin Kumbang tiada khawatir... Diriku berbeda dengan Lintang Tenggara.” 

“Bila demikian, Bintang Tenggara, panggil juga diriku sebagai Malin Kumbang sahaja...”

“Kurasa kurang tepat. Usia kita terpaut jauh...”

“Apalah arti usia di dalam dunia keahlian...?” ucap Saudagar Senjata Malin Kumbang bijak. “Lintang Tenggara empat sampai lima kali lipat lebih tua dari diriku. Akan tetapi, perangainya ibarat anak kecil yang lepas kendali.”

Bintang Tenggara mengganguk persetujuan. 

“Lagipula, kita adalah sahabat, bukan...?”

“Benar.”

...

Malam telah tiba. Suasana demikian sejuk dan tenteram. Kedua sahabat sebentar lagi tiba ibukota Kemaharajaan Pasundan. Di sana, mereka akan bermalam, sebelum memanfaatkan gerbang dimensi menuju Kota Ahli pada pagi harinya.

“Adik Bintang,” tetiba Malin Kumbang berujar. “Apakah pandangan dikau tentang Negeri Dua Samudera...?”

Bintang Tenggara hanya membalas tatapan. Anak remaja tersebut belum lama ini berkelana di Negeri Dua Samudera, sehingga rasanya belum memiliki pemahaman yang cukup memadai dalam melakukan penilaian. Selain itu, ia tak sepenuhnya memahami pertanyaan yang diajukan.


“Menurutku,” lanjut Saudagar Senjata Malin Kumbang,” Negeri Dua Samudera sedang menuju titik akhir, yang juga merupakan titik awal keberadaannya.”

“Titik akhir...? Titik awal...?”

“Dikau pastilah mengetahui bahwa dua ribu tahun lampau, Negeri Dua Samudera porak-poranda. Seribu tahun kemudian, barulah tatanan baru terbentuk, dunia keahlian tumbuh, dan kemakmuran menghiasi kehidupan umat manusia.”

“Lalu...?” Bintang Tenggara mulai penasaran. 

“Di saat kemakmuran mencapai puncaknya, harkat dan martabat manusia malah terperosok ke jurang terdalam. Nyawa tiada lagi bermakna, kehormatan kehilangan arti... Semua berlomba-lomba menapaki jalan keahlian. Segenap ahli berupaya memenuhi hasrat untuk tumbuh sebagai yang terkuat. Kedamaian hanya tampil dipermukaan saja. Di balik kemajuan dan kejayaan, adalah kebobrokan yang tersembunyi di kelamnya bayangan.”

Bintang Tenggara menyimak. 

“Ketika dampak perbuatan manusia merusak alam dalam skala yang teramat besar dan memprihatikan, maka di saat itu kaum siluman jengah. Mereka tak lagi dapat menerima kesewenang-wenangan manusia. Bibit-bibit perselisihan tumbuh, disemai oleh ketidakpuasan. Saat itulah sebuah perang maha besar antara umat manusia dengan kaum siluman bersemi.”

“Perang Jagat...,” gumam Bintang Tenggara.

“Akan tetapi, Perang Jagat tiada menuntaskan. Perjuangan Sang Maha Patih bersama para pendukungnya menyebabkan perang berjalan dan berakhir seimbang. Oleh karena itu, proses titik akhir menuju titik awal menjadi tertunda.” Saudagar Senjata Malin Kumbang mengamati lawan bicaranya dengan seksama. Ia berusaha menakar.

“Apakah yang dimaksud adalah dengan menggantikan tampuk kepemimpinan Negeri Dua Samudera, sebagaimana yang hendak dicapai oleh Partai Iblis...?” Bintang Tenggara sungguh terlihat bingung. 

“Hmph...” dengus Malin Kumbang. “Partai Iblis hanyalah segerombolan ahli terpinggirkan, dipimpin oleh Raja Angkara tua yang telah melampaui zaman kejayaannya. Tujuan mengganti tampuk kepemimpinan Negeri Dua Samudera tiada akan menghasilkan apa-apa. Upaya tersebut hanya mengubah muka dari mereka yang memiliki pandangan dan tingkah polah yang lebih kurang sama. Siapa pun pemimpinnya, selama masih menjalani jalan keahlian sebagaimana saat ini, maka tiada akan menghasilkan perubahan. Sia-sia belaka.” 

Bintang Tenggara semakin terpana. 

“Yang diriku maksud dengan titik akhir adalah... kehancuran menyeluruh terhadap peradaban. Ia merupakan bagian dari siklus seribu tahun. Manusia yang tersisa, nantinya akan membangun peradaban baru sebagai titik awal. Pelangi hanya akan menyibak setelah hujan badai datang berlabuh.”

Bintang Tenggara terdiam. Cukup lama waktu yang ia habisnya untuk mencerna. Malin Kumbang sengaja memberikan waktu dalam berpikir. Lelaki dewasa bertubuh tambun itu memandang melewati lubang jendela pada dinding kereta kuda. Siang telah berganti malam. Angin berhembus semakin dingin di Tanah Pasundan. Berkas sinar rembulan memantulkan cahaya redup di kepala nan gundul.

“Diriku memahami pandangan Kakak Malin Kumbang,” ujar Bintang Tenggara. “Meskipun demikian, diriku kurang sepaham....”

“Kurang sepaham....? Sudi kiranya mengutarakan ketidaksepahaman dimaksud...”

“Ciiit...”

Tetiba kereta kuda berhenti mendadak. Hampir pula Malin Kumbang dibuat terjerembab di dalam kereta kuda itu. . 

“Ada apakah gerangan!?” Malin Kumbang melongok dari jendela kereta kuda. 

“Bandit gunung!” jawab kusir di hadapan. 

“Serahkan harta benda kalian! Atau nyawa menjadi taruhan!” sergah suara yang datang dari depan. Segera setelah itu, kereta kuda tersebut dikepung oleh sejumlah ahli. Tak kurang dari tiga puluh jumlah mereka. 

“Apakah mereka...?” aju Malin Kumbang kepada si kurus kerempeng di belakang. 

Meski kalimat tiada disampaikan lengkap, pemuda kurus kerempeng mengerti maksud majikannya. Ia pun mengangguk cepat. “Benar!”

“Segera sambangi dan minta agar supaya membuka jalan!” 

Mendapat perintah, si kurus kerempeng pun turun dan mendatangi asal suara yang mencegat. 

“Ada apakah gerangan...?” Bintang Tenggara ikut melongok dari jendela. 

“Bandit gunung...” 

Saudagar Senjata malin Kumbang menggeretakkan gigi. Tentu dirinya menyadari bahwa sebutan bandit gunung hanyalah kedok belaka. Si kurus kerempeng telah memberikan kepastian. Yang mencegat, sesungguhnya merupakan serdadu bayaran dari Partai Iblis, atau untuk lebih tepatnya dari Pulau Satu Garang. Dirinya sendiri pernah mengupah para serdadu bayaran tersebut untuk memperkeruh hubungan antara Kemaharajaan Pasundan dengan Kerajaan Siluman Gunung perahu. Sayangnya, perang tak jadi pecah karena Putri Mahkota Citra Pitaloka bersama regunya berhasil ‘membujuk’ Raja Bangking IV. Terlebih lagi, gejolak politik di dalam Kerajaan Siluman Gunung Perahu pun telah stabil. Entah kekuatan apa yang sanggup melakukan tindakan yang sedemikian...?

Walhasil, saat itu, Saudagar Senjata Malin Kumbang kehilangan kesempatan memperdagangkan senjata. Akan tetapi, mengapa para serdadu bayaran tersebut masih berserakan di Tanah Pasundan...? Padahal, demi menutupi jejak, sepantasnya mereka telah kembali ke Pulau Satu Garang. 

“Yang Terhormat Saudagar Senjata...” Pemuda kurus kerempeng kembali dan hendak memberi laporan. 

“Bagaimana!?”

“Mereka adalah kelompok yang berbeda dari sebelumnya. Mereka baru saja tiba beberapa purnama lalu...” Sebagai mantan serdadu bayaran, tentu si kurus kerempeng ini cukup mengenal sesama serdadu bayaran dari Pulau Satu Garang. 

“Lalu...”

“Mereka meminta upeti.”

“Upeti!?” 

“Benar. Seratus keping emas...”

“Bedebah!” Malin Kumbang mengenal betul Putra Mahkota Kerajaan Garang di Pulau Satu Garang, bahkan cukup bersahabat. Sepantasnya, bila mendengar nama besarnya, para serdadu bayaran tersebut memberi hormat yang setinggi-tingginya, lalu membuka jalan, bahkan menawarkan pengamanan! 

“Apakah engkau telah memberitahu siapa diriku sesungguhnya!?”

“Sudah... Namun mereka bersikeras meminta disuguhkan upeti agar membuka jalan...”

“Kurang ajar!” 

Baru hendak Malin Kumbang turun dari kereta kuda dan menangani langsung permasalan di hadapan, Bintang Tenggara sudah terlebih dahulu turun. Anak remaja tersebut tak hendak membiarkan bandit gunung berbuat sesuka hati dengan menghambat perjalanan mereka.

“Menyingkirlah, wahai bandit gunung!” hardik Bintang Tenggara. 

“Cih! Bocah tanggung! Apakah enngkau datang hendak mengantar nyawa...?” Seorang lelaki bertubuh tinggi melangkah keluar dari balik pepohonan. Wajahnya tersembunyi di balik sebuah caping besar yang melingkar di atas kepaIa. Ahli ini berada pada Kasta Perak Tingkat 6. Sesungguhnya masih ada beberapa ahli lain dari kelompok bandit gunung tersebut yang memiliki tingkat dan peringkat keahlian yang serupa. Akan tetapi, sepertinya mereka hendak mengamati situasi terlebih dahulu, sebelum mengambil tindakan.

“Biarkan kami lewat!” sergah Bintang Tenggara.

“Dan apa yang akan engkau lakukan jikalau kami tak menyingkir, wahai cebol...?”

 “Ajak bertarung satu lawan satu,“ bisik Komodo Nagaradja. 

“Mari kita selesaikan persoalan ini melalui ke adab keahlian....”

“Haaa...?” Lelaki tinggi itu tiada mempercayai pendengarannya sendiri. Bagaimana mungkin dirinya yang berada pada Kasta Perak Tingkat 6, ditantang oleh ahli yang masih berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9...? Sungguh di luar nalar dunia keahlian.

Akan tetapi, di saat yang sama, lelaki tinggi itu terlihat ragu. Sejumlah pertanyaan berkutat di dalam benaknya. Bagaimana bila anak remaja tersebut hanya mengulur waktu, menunggu datangnya bala bantuan. Mungkinkah ia merupakan anak pejabat? Ataukah ia memiliki jurus simpanan,? 


Cuap-cuap:

Mohon maaf hanya menyuguhkan setengah episode. Pilek, sungguh menghambat keahlian.