Episode 70 - Strange Place Called Dungeon


2 minggu berlalu, setiap pelajar tingkat 1 melakukan rutinitas pelajar setiap harinya. Alzen setiap melihat Leena langsung menghindarinya, dan Leena juga tak pernah menghampirinya Alzen. Mereka saling menghindari satu sama lain selama 2 minggu terakhir.Setiap melihat Leena, ia teringat dengan segera momen dimana Leena mentertawai pernyataan cintanya pada malam itu.

Dalam rentan waktu 2 minggu, Chandra dibuat semakin stress. Dimana 80 persen anak Liquidum sudah mampu menggunakan sihir penyembuhan elemen air, namun ia tak kunjung bisa-bisa juga. Ia semakin giat belajar, tapi juga hari demi hari hatinya dibuat gelisah.

"Haduh bagaimana nih... orang-orang di Sanad menungguku, kalau aku tidak bisa-bisa juga maka aku... aku... Argggghh!!" Chandra mengacak-acak rambutnya dan makin membuatnya bertambah stress di atas meja belajarnya. 

Ranni masih melanjutkan belajarnya di Ventus. Ia hampir mengabaikan orang-orang yang ada di dekatnya yang mau bersosialisasi dengannya.

"Uh... uhmm Ranni," Nirn mengajaknya bicara. "Apa kamu punya waktu sebentar?"

"Maaf aku sedang mencari tahu sesuatu." balas Ranni tanpa melihat lawan bicaranya dan terus fokus pada buku-buku sejarah yang mungkin mengandung informasi yang ia butuhkan.

"Ahh begitu ya." Nirn seketika murung dan mundur tapi tetap memandangi Ranni dari jauh.

Hal ini terjadi setiap harinya selama 2 minggu terakhir.

Sedang Lio? Dia bintangnya Ignis sekarang. Mengingat pesaing-pesaingnya sedang belajar di kelas-kelas lain, jelas ia tak memiliki lawan. Tapi Lio memiliki kemampuan yang cukup jomplang, dalam hal praktek pertarungan sungguhan menggunakan sihir api dia sangat bisa diandalkan, tapi apapun yang berhubungan dengan buku dan soal tertulis, tak satupun mengandalkan dirinya.

Dan sejak Alzen tak pernah datang lagi ke acara makan-makan itu, Kegiatan itu jadi jarang sekali dilakukan, mengingat tukang bayarinnya tidak hadir. Tak ada yang mentraktir.

***

2 Minggu ini juga adalah saat-saat terberat buat Trio Nicholas, Velizar dan Sinus. 

Nicholas datang dengan ibu Sinus, berusaha meyakinkan Vlaudenxius agar Sinus boleh kembali, 

"Pak Vlaudenxius yang terhormat," kata Nicholas "Aku mohon padamu agar Sinus boleh belajar kembali disini."

"Tidak," jawab Vlaudenxius dan jelas berakhir di tolak dengan segera. "Yang sudah diputuskan akan tetap seperti yang diputuskan."

Tapi ia melakukannya lagi di keesokan harinya, 

"Pak Gubernur apa tak bisa dipikirkan ulang?" bujuk ibu Sinus didampingi Nicholas. Velizar jelas tidak ikut, karena dia bukan orang yang tepat untuk hal ini.

Dan lagi,

"Kalian lagi?" tanya Vlaudenxius. "Mau membahas hal yang sama lagi?"

"Tentu saja pak," kata Nicholas. "Tolong di-"

"Tidak dan silahkan keluar." Vlaudenxius dengan segera mengusir mereka dengan menutup pintu ruangannya.

Dan lagi,

"Aku pastikan jika Sinus kembali," Nicholas berusaha membujuk lagi. "Dia akan..."

"Tidak." Vlaudenxius segera menolaknya.

Dan selama ini berlangsung, Nicholas melakukan kegiatan belajarnya seperti biasa, namun tentu ia tak bisa fokus. Dan setiap pulang ia menghampiri ibu Sinus yang menginap bersama Sinus, untuk pergi menemui Vlaudenxius dan ditolak dengan segera.

Dan selama proses itu, Sinus tinggal di penginapan yang disewa oleh Nicholas di Ruby District. Dan penginapannya terbilang cukup mahal lagi... Tapi Sinus tidak ada senang-senagnya sedikitpun, ia merasa membebani temannya, hingga ibunya, meski teman dan ibunya sungguh-sungguh ingin membantunya. Jujur Sinus merasa berhutang budi pada mereka.

Sampai di hari ke 14,

"Kalian lagi? Ingin meminta hal yang sama lagi?" tanya Vlaudenxius seperti sudah biasa, tapi kini yang datang hanya Ibu Sinus seorang. Di saat Nicholas masih berada di kelas.

"Maaf telah mengganggu anda bekerja setiap harinya. Tapi aku ini yang terakhir, mohon kebijaksaanya. Dia anakku satu-satunya, jika dia tidak bisa lanjut bersekolah disini. Maka dia akan meneruskan usaha ayahnya dan menyalahkan dirinya sendiri seumur hidupnya. Sinus memang pemalas dan bodoh, tapi dia tetap seorang penyihir. Jika bapak masih terus menolak, saya mengerti dan akan kembali pulang ke Trien, dan Sinus akan menjadi nelayan seperti ayahnya. Jauh dari dunia sihir, hidup sebagai orang biasa. Dan kalau pak Gubernur merasa Sinus layak untuk membuang potensinya, maka saya mengerti dan ... kami akan kembali, tak akan menganggu bapak lagi." Setelah mengucapkan semua itu, pipi ibu Sinus langsung basah.

Nicholas pulang seperti biasa di saat matahari hampir terbenam dan rutin mengajak ibu Sinus melakukan hal yang sama lagi, tapi Sinus berkata. "Dia sudah pergi duluan, mama bilang, ini yang terakhir." Katanya dengan kepala tertunduk, dan matanya tertutup rambut.

***

Di Dorm 207, kamar Alzen dan Chandra. Jam 7 malam.

Alzen membuka pintu dan masuk seperti biasa. "Loh? Kamu sudah disini? Liquidum cepat pulang ya?"

"Cepat? Biasa kok, justru Fragor yang lama kali."

"Ahh begitu ya... aku yang tidak sadar ya." kata Alzen sambil membuka jaket almamaternya lalu bebaring di kasur.

"Alzen." kata Chandra.

"Kau ada masalah ya?"

"Huh? Tidak, aku biasa saja." balas Alzen ringan dari atas ranjangnya. 

"Kau tak pernah datang kumpul-kumpul lagi." Chandra berusaha bertanya. "Kenapa?"

"Ahh soal itu sih..." Alzen terdiam sebentar. "A... aku tidak mau datang saja."

"Kau ada masalah dengan Leena?" Chandra to the point.

"..." Alzen terdiam lagi sebentar. "Ahahaha... masalah apa? Tidak ada-tidak ada. Tidak ada apa-apa kok"

"Begitu ya... kau tak mau cerita."

"Cerita apa? Tak ada yang bisa diceritakan juga." Alzen terus berpura-pura, tapi ingatan tentang hari itu berulang-ulang muncul selagi ia terus menyangkal.

***

Di kelas Stellar Lumen. Pagi harinya. Saat pelajaran belum dimulai.

"Leena." senggol Sintra di sampingnya. "Anak itu kembali besok katanya. Kau sudah dengar."

"Anak itu? Siapa?" balas Leena tanpa menoleh.

"Si tukang bully itu." balas Sintra. "Dia kembali lagi besok."

"Sinus? Ohh yasudah."

"Ahh kamu kok dingin sekali." kesal Sintra tak menerima respon yang ia harapkan.

"Memanngya kamu mau aku membalas apa?" balas Leena.

"Paling tidak terkejut gitu kek. Soalnya seluruh kelas membahasnya."

"Huh? Yang benar?" lalu Leena melihat sekitar kelasnya, dan semua berbisik tapi cukup jelas terlihat mereka membahas topik yang sama. Dan semuanya membahas hal itu dengan ekspresi cemberut.

***

"Hei Nicholas!" Koblenz menepuk pundak Nicholas. "Memang benar Sinus kembali besok?"

"Jangan sok dekat lah kau! Bodoh!" Nicholas langsung mengancam.

"Aish..." Koblenz kaget dan langsung terjatuh ke lantai. "Apa yang salah denganmu, aku cuma ingin tahu saja."

"Enyahlah!" sahut Nicholas dengan kesal. Sedari tadi ia terus-menerus memikirkan kemungkinan berikutnya.

"Satu masalah selesai, masalah lain muncul." pikir Nicholas. "Siapa yang menyebarkan informasi ini dan malah jadi bahan pembicaraan. Sampah-sampah ini terlihat tidak begitu senang Sinus kembali. Kemungkinan paling buruk bisa saja terjadi besok."

Sementara itu Velizar duduk di paling pinggir belakang hanya terdiam menatap jendela sambil menghela nafas.

Tak lama kemudian, Glaskov masuk ke kelas dan pelajaran dimulai.

"Oke!" Glaskov menghentak meja gurunya. "Materi hari ini adalah..."

***

Di kelas Fragor pelajaran baru dimulai. Alzen juga baru tiba di mejanya, lalu ia melihat selembar surat bercap ukiran lilin merah sebagai segelnya.

"Surat? Dari siapa?" pikir Alzen yang dengan segera mengambil surat itu.

Belum sempat membukanya, Kazzel masuk ke kelas dan pelajaran segera dimulai.

"Baik anak-anak, sekitar satu atau dua bulan dari sekarang ujian akan diadakan." Kazzel menjelaskan di belakang meja gurunya.

"Ujian!?" sahut serentak para murid Fragor.

"Ahh kenapa kaget begitu?" Kazzel garuk-garuk kepala. "Tenang, Kami di Vheins tidak pernah tertarik menguji kalian dari teori saja. Teori seharusnya ada, untuk mempermudah praktek. Jadi biar aku bocorkan sedikit, Ujian nanti adalah menjelajahi dungeon. Kalian sudah tahu dungeon kan?"

"Hum!" angguk sebagian besar dari mereka.

"Tapi, apa dari kalian pernah menjelajahi dungeon secara langsung?"

Responnya kali ini sangat berbeda. Nyaris tak ada yang merasa pernah menjelajahi dungeon sebelumnya. Namun tak lama kemudian, seseorang mengangkat tangan.

"Luiz? Kau pernah menjelajahi dungeon sebelumnya?"

"Ya... keluargaku semuanya seorang Mercenary, prajurit bayaran untuk kepentingan perang. Tapi sesekali jadi partner penjelajah dungeon juga kerap kali kami lakukan."

"Humm begitu ya... apa nama dungeonnya?"

"Sudah lama sekali itu terjadi, Itu terjadi ketika aku masih usia 6 tahun, Aku tak terlalu ingat nama dungeon itu. Tapi bentuk ruangnya sangat aneh. Semakin dalam dijelajahi semakin banyakhal yang tak mungkin terjadi disana. Seperti lautan di bawah tanah? Semakin ke dalam ada hutan lebat dan cahaya matahari tetap ada disana? Dan lagi monster-monsternya juga sangat berbeda. Mereka tidak terbatas, mereka terus datang meski kami terus membunuhnya."

Kazzel mengangguk dan mengiyakan itu semua. "Kemudian..."

"Pada saat itu, aku yang belum mengerti apapun jelas tidak pernah mempertanyakan keganjilan itu semua. Tapi karena hanya beberapa kali aku dan keluargaku melakukannya. Jadi tak banyak juga yang kualami disana. Selain melihat secara langsung saja."

Kazzel mengangguk lagi, "Yap! Yap! Semua yang kau ceritakan benar adanya. Dungeon memang tempat seperti itu. Dan ketika kalian lulus nanti, pekerjaan kalian kemungkinan besar akan banyak melibatkan penjelajahan dungeon."

Fhonia melepas headphones dan mulai mendengarkan. Ia mulai dibuat tertarik pada topik ini.

"Dungeon ya?" pikir Alzen. "Aku banyak sekali membaca buku sihir, tapi jarang yang membahas dungeon secara konkret, di banyak ditulis dungeon adalah tempat yang tidak masuk akal. Tapi seperti apa? Aku tidak tahu."

"Ujian pertengahan semester kalian nanti adalah Menjelajahi dungeon." Kazzel menuliskan kata Dungeon Exploration di papan tulis. "Dan penting untuk diketahui cara kerja Dungeon yang sudah kami ketahui itu seperti apa."

Kazzel mulai menggambarkan sebuah lubang pintu masuk goa lalu garis-garis lurus yang menggambarkan lantai. dan Kristal besar di posisi paling bawah.

"Paling umum ditemui, pintu masuk Dungeon yang kita sebut Entrance berbentuk seperti lubang goa, tak selalu memang namun kebanyakan begitu." Kazzel menjelaskan. "Lokasi Entrance mudah dikenali, karena banyak dungeon populer akan di tinggali banyak petualang yang menunggu disana, jadi akan ada banyak kemah-kemah, pengumuman pencarian anggota party dan tak sedikit yang memanfaatkannya untuk berjualan. Kalian akan sering temui ini nanti setelah lulus."

"Lalu turun ke bawah." kata Kazzel. "Kalian tiba di lantai 1, Umumnya di lantai 1 semua monster dan lingkungannya terbilang sangat aman. Karena mahhluk di dalam Dungeon terbilang berbeda, karena ada faktor yang disebut respawn."

"Respawn? Apa itu pak?" tanya Alzen langsung.

"Itu istilah kami untuk monster yang akan muncul lagi walaupun ia sudah dibunuh sebelumnya. Ini cukup menguntungkan sebenarnya. Karena sumber daya dari potongan tubuh monster yang kita bunuh, akan terus tersedia di dungeon, dan benda-benda itu bisa dijual atau digunakan sebagai bahan untuk membuat sesuatu. Singkatnya disebut Crafting."

"Turun lebih dalam lagi." kata Kazzel, "polanya akan terus berulang, tapi semakin dalam kita menjelajahinya, maka akan semakin berbahaya resiko yang ada. Ingat meski di dalam dungeon, kita tidak akan respawn seperti monster-monster di dalam sana. Sekali mati, kalian hilang sudah dari dunia ini."

"Hwaaa !!" teriak para murid-murid Fragor.

"Serem banget sih pak."

Kemudian Alzen mengangkat tangan lagi. "Pak! Kalau seperti itu, apa Dungeon akan membahayakan dunia luar? Maksud saya, tempat sekitar dungeon itu berada, apa akan dihuni monster dari dalam sana?"

"Hmm! Pertanyaan bagus Alzen, pertanyaan bagus." balas Kazzel. "Untungnya tidak, tidak pernah ada kasus monster dalam dungeon keluar dan menganggu wilayah di luar dungeon itu. Mereka umumnya terkunci dan hanya bisa mengakses di lantai mana mereka seharusnya berada, begitu cara kerjanya."

Kazzel lanjut menjelaskan. "Nah kalian lihat garis-garis pembatas antar lantai ini? Setiap perpindahan lantai akan selalu dan selalu dijagai yang namanya Boss Monster. Dan ini adalah yang paling memungkinan membunuh kalian."

"Jangan nakut-nakutin terus dong pak!"

"Daritadi ngomongnya bunuh, mati, bunuh, mati."

"Memang!" tegas Kazzel. "Dungeon adalah surga harta karun sekaligus neraka petualang yang lengah dan tidak siap."

 "Dan itu jadi ujian kami?! Bapak mau bunuh kami ya?"

"Ohh jelas kemananan kalian di prioritaskan. Tapi di dalam dungeon tidak ada jaminan 100% selamat. Maka dari itu... sekarang saatnya mempersiapkan diri kalian untuk itu semua, nah pelajaran hari ini..."

Namun Alzen seperti agak terganggu. "Sudah selesai?" pikirnya. "Kristal di paling bawah itu apa maksudnya? Tahu-tahu sudah selesai saja?" 

***

Materi yang sama dijelaskan oleh masing-masing instruktur di setiap kelas, dan setiap kelas juga punya fokus yang sama dengan pendekatan peran yang berbeda dari setiap elemennya. Kelas Ignis dengan elemen api akan fokus pada bertarung dan pemberian buff serangan, sedang kelas air dipersiapkan sebagai healer dan support. Sekalipun tujuannya sama, akan tetapi setiap kelas fokus pada kelebihan mereka masing-masing.

Kelas berakhir di atas jam 5 sore, namun Alzen baru kembali ke Dorm-nya 2 jam kemudian.

"Hah... badanku serasa mau remuk," kata Alzen sambil berjalan naik ke kamar dormnya. "Tiba-tiba pelajarannya menjadi semakin berat. Seperti tidak ada kendor. Surat ini sampai hampir lupa kubaca. Ini surat apa ya?" kata Alzen sambil membolak-balikan suratnya "Tidak ada tulisan apa-apa diluarnya." 

Alzen membuka kamar 207. "Huh!? Terkunci? Tumben sekali." Alzen mengambil kunci kamarnya dari saku kemudian membukanya. Kamarnya gelap, tak ada Chandra disana yang dari beberapa minggu lalu selalu ada dalam keadaan membaca buku. 

Alzen melepas Almamaternya dan langsung berbaring santai di atas ranjang. "Puah rasanya nyaman sekali! Aku ingin segera tidur," begitu Alzen memejamkan matanya, pengalaman ditolak dan ditertawai Leena itu muncul kembali. Dan seketika Alzen membuka matanya kembali.

"Huh... memori itu lagi." Alzen menghela nafas lalu posisi tidurnya bergeser ke samping. "Tapi surat ini..." Alzen mengopek-opek segel lilin merah di tengah-tengah surat itu, tapi usahanya tak berhasil, kemudian ia memilih merobek bagian atas surat itu dan mengeluarkan isinya.

Alzen membacanya pelan-pelan, tapi semakin lama, gerak matanya semakin cepat. "Hah!? Surat ini kan? Yang benar!?" Alzen terkejut sekali membaca surat itu.

***

Pagi berikutnya, di kelas Stellar Umbra.

"Hari ini kita kedatangan murid baru," kata Glaskov. "Ahh tidak-tidak, dia adalah teman lama kalian. Yang diluar sana, Silahkan masuk."

Sinus masuk melewati pintu masuk kelas dengan langkah yang lamban sekali. Nicholas melihat itu dari bangku kelasnya dibuat deg-degan akan hal buruk apapun yang mungkin terjadi.

"Nah Sinus, masuklah dan perkenalkan dirimu sekali lagi karena banyak wajah-wajah baru di kelas ini sekarang." Kata Glaskov dengan tersenyum.

"A... aku..."

"HUUUUUUUUUUU !!" sahut teman-teman sekelasnya sambil melempari benda apapun yang bisa dilempar.

"Kamu ngapain kembali?!"

"Memangnya kamu masih niat belajar disini?!"

"Pergi saja kamu! Ngapain balik lagi!"

"HUUU!! Pergi sana!"

"Enyah dari hadapan kami!"

Melihat kekacauan yang terjadi, Glaskov terlihat sedang tersenyum, malah cenderung menikmatinya. Ia tidak melakukan apa-apa untuk meredakan kekacauan di kelasnya itu.

Sinus yang tertunduk kepalanya perlahan naik dan meyaksikan itu semua, seluruh pelajar yang ada di kelas Stellar Umbra menolaknya dengan sangat jelas. Hingga...

BUZZZSSSTT !!

Sinus terhempas oleh sihir Dark Force. Sampai-sampai dirinya terpental dan membentur tembok papan tulis di belakangnya, hingga kepalanya mengeluarkan darah.

***