Episode 69 - Play Victim


Tengah malam, di rumah Sinus.

"Ka-kalian, kenapa bisa..." Sinus tidak menyangka, Nicholas dan Velizar ada di hadapannya saat ini. Saat dimana dirinya paling membutuhkan mereka.

"Bodoh! Kenapa kau heran begitu." Nicholas menepuk pundak Sinus. "Kita ini bukan baru kenal setahun dua tahun kan."

"Ka-kau juga, Velizar. Aku kira..."

"..." Velizar hanya berdiri terdiam, memeluk pedangnya sambil memalingkan muka.

Melihat sikap Velizar, Nicholas langsung menepuk punggungnya keras-keras. "Hei bodoh! Katakan sesuatu, cepat!"

"Hah... boleh kami masuk, aku mau tidur." kata Velizar dengan muka datar. "Kita lanjut besok pagi saja."

Velizar langsung melangkah melewati Sinus. Ia memandang ke atas, lalu sekeliling dan seketika ia bernostalgia, karena rumah ini adalah rumah yang sering ia kunjungi sewaktu masa kanak-kanak dulu.

Velizar menundukan muka lalu secara tersembunyi ia tersenyum dan membuka pintu rumah Sinus tanpa seizinnya. "Aku masuk ya..."

"Hei! Tung-" Sinus keberatan tapi juga ia mengerti maksud Velizar.

"Kau juga pasti lelahkan," tepuk Nicholas ke pundak Sinus kemudian berjalan melewatinya. "Kita lanjut besok saja. Aku juga mau tidur. Hah... rumahmu tak pernah berubah ya." 

Sinus dilewati Velizar dan Nicholas yang semaunya. Tapi karena mereka sudah akrab sejak kecil, tak seorangpun akan mempermasalahkannya.

Sinus geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka berdua. "Duh kalian ini." sehabis mengucapkan itu, Sinus tersenyum lalu melangkah mengikuti mereka dari belakang. 

***

Pagi hari di kelas Fragor.

"Hari ini kita akan belajar sedikit tentang hal diluar sihir. Bahasan yang cukup rumit. Tapi sebagai warga negara benua Azuria ini, kalian juga harus tahu kondisi negara-negara saat ini." Kazzel menjelaskan di depan kelas.

Sementara Alzen, di atas mejanya, cenderung lebih sering melamun dan menyandarkan pipinya pada topangan tangan kanan, sembari melihat ke bawah terlihat seperti memikirkan sesuatu.

"Aku mengerti, sebagian kecil dari kalian bukanlah orang Azuria, namun seperti yang kalian tahu, kita telah mengalami banyak peperangan 14 tahun silam, tahun 1887. Dan semua itu dimulai pada satu negara besar di tengah-tengah benua ini, yang merasa mereka pantas untuk mempersatukan kelima negara lainnya dengan cara berperang. Perang untuk persatuan, Unifikasi Azuria. Yang dimulai pada masa pemerintahan Raja Roswell dari Dalemantia Empire."

"Hmm... politik." Luiz merasa tidak begitu tertarik. Ia menyandarkan dagunya di tumpuan tangan kanannya. "Perang adalah bisnis, dan bisnis menghasilkan banyak uang, dan selama ada perang. Orang-orang seperti ayah akan terus ada." 

"Nanana..." Fhonia malah bersenandung dengan suara pelan dan benar-benar tidak memperhatikan. 

Sementara teman disampingnya, Iris berusaha fokus mendengarkan tapi cukup terganggu dengan senandung teman sebangkunya. Meski begitu ia tak pernah mengungkapkannya, karena tahu bahwa Fhonia hanya mengiyakan tapi tidak peduli permintaannya untuk diam.

"Dan setahun lalu, tahun 1900." Kazzel melanjutkan. "Dalemantia Empire jatuh dalam sehari. Peristiwa ini diberitakan ke seluruh dunia dan menjadi peristiwa yang dikenang dengan nama Fall of Dalemantia. Negara besar nan jahat itu sudah tiada, orang-orang Dalemantia yang tak bersalah, sebagian besar mengungsi ke Valencia dan sebagian kecil diantaranya tersebar ke negara-negara Azuria lainnya. Valencia Kingdom, negara tetangga sebelah barat mereka, yang sekaligus juga negara tetangga kita juga. Yang dulu dengan kejam menjajah mereka, tapi kini hidup mereka bergantung pada negara kecil. Hingga singkat cerita, perang berakhir dan perdamaian datang. Perang sudah berakhir. Dalemantia Empire sudah tidak ada lagi."

Lamunan Alzen berakhir setelah ia mendengar nama Dalemantia Empire, yang seketika mengingatkannya pada Aldridge, teman di rumah menaranya dulu, yang datang ke rumahnya tepat setelah kejadian itu. "Dalemantia, tanah airnya Aldridge ya." ucapnya kecil namun mulai menjadi tertarik untuk mendengar lebih lanjut.

"Tapi masalahnya adalah saat ini," lanjut Kazzel. "Dalemantia Empire sudah tidak ada, tapi tanahnya tidak dikuasai kelima negara yang mengelilinginya. Melainkan malah muncul negara baru dengan nama Arcales Empire, yang setelah setahun terakhir diselediki, dipimpin oleh mantan penasehat raja Roswell yang sudah mati terbunuh pada saat perang perebutan itu terjadi. Arcales Empire masih menjadi negara yang misterius, negaranya sangat tertutup dan tidak mengizinkan akses keluar masuk secara bebas terhadap wilayahnya. Dan ini akan menjadi masalah yang lebih besar lagi di masa depan."

Sambung Kazzel. "Mungkin memang kalian masih muda, tapi beberapa tahun kemudian, ada kemungkinan perang akan tercetus kembali di benua Azuria ini. Dan masa-masa perang berikutnya akan ada lagi. Dan itu yang berusaha kami cegah! Arcales Empire atau layak disebut sebagai Dalemantia Empire yang kedua. Bisa kapan saja menyerang kembali. Dan sampai saat itu tiba, kalian harus melindungi negara ini di garis depan!" 

"Huh! Apa peduliku," komentar Luiz dengan suara kecil, wajahnya menggerutu tapi tak satupun keluhannya sampai terdengar ke telinga Kazzel. "Aku belajar disini untuk meniti karir yang cemerlang, memimpin kelompok banyak petualang dan menimbun pundi-pundi emas dari eksplorasi dan quest di berbagai kota dan dungeon. peduli amat dengan negara dan politik."

"Nananana..." Fhonia masih terus bersenandung.

"Ya! Jika hari itu tiba," Iris mengucapkannya dengan tekad dan semangat. "Aku harus sudah menjadi penyihir kuat dan melindungi Greenhill dengan segenap jiwa dan ragaku."

"Bagus Iris!" puji Kazzel. "Semangat itu yang kita butuhkan!" 

"Aldridge, Dalemantia, Arcales dan Anzel. Aku merasa semuanya itu berhubungan, tapi aghh... aku tak paham semua itu." Alzen mengacak-acak rambutnya dan seketika ia teringat kembali kejadian kemarin malamyang secara cepat membuatnya murung kembali. "Aku tak terlalu peduli banyak hal selain sihir, tapi yang dijelaskan pak Kazzel berhubungan teman baikku, Aldridge."

"Dan kemudian..." Kazzel lanjut menjelaskan lebih detail.

***

Di kelas Stellar, para instruktur disana juga mengajarkan materi yang sama. Soal sejarah, politik dan perang.

Sementara di bangku Nicholas dan Velizar kosong, tidak ada yang menempatinya.

"Kemana mereka pergi?" tanya Glaskov di sela-sela mengajar mater ini.

"Entahlah pak, mungkin saja bolos."

"Hmm begitu ya..." Glaskov mengucapkannya dengan senyuman, tapi senyuman dengan mata terpejam yang memiliki maksud tertentu.

***

2. Nicholas and Velizar at Sinus Home at the morning explain why Sinus must back and we will help Sinus back.dan disana ada ayah Sinus juga.


Pagi harinya, di rumah Sinus. Setelah semala mereka berdua menginap disini. Di ruang tamu mereka Nicholas dan Velizar duduk berhadapan dengan Ayah Sinus dan Sinus sendiri yang sedari tadi terus menunduk, sambil ibu Sinus perlahan menyuguhkan teh pada mereka.

"Dia harus kembali ke Vheins." kata Nicholas dengan yakin.

"..." Velizar hanya duduk memeluk pedangnya dengan tatapan seperti biasanya. 

"Tapi bagaimana," balas Ayah Sinus dengan menundukkan wajah dan sikutnya bersandar pada dengkulnya. "Dia sudah dikeluarkan, keputusan gubernur Vlaudenxius sudah bulat. Tak ada lagi yang bisa dilakukan." Ayah Sinus mengacak-acak rambutnya.

"Aku tak peduli! Aku akan usahakan itu sampai berhasil!" Nicholas bersikeras.

Sinus yang sedari tadi terus menunduk, mengucapkan sesuatu. "Sudahlah teman-teman, aku tak perlu kembali. Aku sudah berakhir... aku...."

Nicholas berdiri hingga menggeser sofa berukuran satu orang, tempat ia duduk ke belakang dengan mengangetkan.Ia lalu menaiki meja lalu menarik kerah baju Sinus dengan wajah geram. "Hei brengsek! Dengar aku baik-baik ya!" bentaknya di depan wajah Sinus langsung di mana Ayahnya Sinus sendiri melihat itu semua.

"Aku tak peduli apa yang kau pikirkan, aku hanya tahu bahwa kau ingin kembali. Kau ingin balas dendam dengan si Hael brengsek itu yang sekarang menghilang entah kemana. Tapi kau hanyalah Sinus yang terlalu takut menghadapi itu semua. Dan kau masih menyangkal dengan berkata ya sudahlah..."

"Ta-tapi..." Sinus tepat di depan wajah Nicholas tak sanggup melihat mata Nicholas secara langsung, ia terus menerus melihat ke bawah, menghindari kontak mata dan mengalami perasaan ragu yang luar biasa.

Nicholas dibuat makin geram dengan sikap Sinus yang begitu, ia menarik kerah baju Sinus ke atas dengan paksa, lalu melepasnya lalu meninju pipi kiri Sinus sekuat tenaga. 

Velizar melihat itu semua, masih tetap tenang seperti ia biasanya. Sedang Ayahnya memalingkan muka, mengerti sikap yang diambil Nicholas, begitu juga dengan ibunya. Kedua orang tua Sinus juga telah mengenal Nicholas sejak lama.

"Brengsek! Kenapa kau meninjuku!" kata Sinus sambil mengusap-usap pipi kirinya. "Bajingan!"

"Nah! Terus-terus! Jadilah Sinus! Bukan pecundang lemah yang sudah menyerah!" Nicholas menghampiri Sinus dengan geram. Dan dengan hentakan kaki yang kuat, ia datang untuk melakukannya lagi, Ia sekali lagi menarik kerah baju Sinus dan...

"Kau mau apa brengsek!" Sinus segera meninju Nicholas sebelum Nicholas melakukannya lagi.

"Nah! ... Nah! Seperti itu!" Nicholas meninjunya lagi, yang kemudian dibalas kembali oleh Sinus. 

Mereka baku-pukul di ruang tamu rumah Sinus, dan tak satupun orang disana yang menginterupsi perkelahian mereka. 

Velizar memilih tidak melihat perkelahian mereka, melainkan menolehkan wajahnya ke arah jendela, ia mengucapkan kalimat dengan suara kecil. "Hah... yang seperti ini pun, juga tetap membosankan."

***

10 menit berlalu, mereka masih adu jotos dan semakin banyak pukulan yang diterima Sinus, semakin membuatnya mengeluarkan air mata dan mengatakan perasaannya yang sesungguhnya.

"Aku ingin kembali!" sahut Sinus dengan menangis dan melancarkan tinju ke Nicholas.

"Kalau begitu katakan daritadi!" Nicholas membalas dengan tinju yang lebih keras.

"Aku juga benci kau Velizar! Kau mengkhianatiku." sahut Sinus dengan pipinya yang sudah basah oleh air mata.

Velizar tak menoleh, hanya matanya bergeser melihat ke arah Sinus, tanpa ia membalas apa-apa.

"Dia hanyalah Velizar! Jelas dia peduli padamu!" balas Nicholas sambil meninju balik. "Hanya saja dia itu Velizar, tak tahu cara mengungkapkannya!"

"Kau meninggalkanku saat aku butuh Nicholas! Kau tidak ada disana saat aku butuh!"

"Dasar bodoh! Kau bukan anak bayi yang harus ditemani setiap saat kan?! Aku juga punya masalahku sendiri!" ketika mengucapkan itu,Nicholas seketika teringat kejadian saat kakaknya Nathan meledakkan kepala kliennya. "Dan karena kau membutuhkan kami sekarang! Kami harus jauh-jauh datang untuk membantumu bodoh!"

"Tapi, tapi, tapi..." Sinus berhenti membalas dan menopang drinya di lantai dengan tangan dan dengkul. "Aku telah jahat pada Hael, aku harus dihukum. Aku pantas menerimanya."

"Keluhan macam apa lagi ini." balas Nicholas yang juga sudah babak beluar ditinju Sinus. "Kau ingin ada yang menolongmu, kami datang menolongmu, dan kaumencari alasan lain supaya kau valid menjadi korban yang harus dikasihani."

"Tapi..." jawab Sinus.

Nicholas menarik kerah Sinus dan bicara keras-keras di depan wajahnya. "Hei dengar ya! Aku mulai muak dengan kata tapi-tapimu itu. Seolah yang kukatakan ini tertepis dengan mudahnya dengan kata tapi-mu itu. Sekarang bangkit berdiri. Aku akan cari cara apapaun agar kamu bisa kembali. Dan berhenti mengeluh, kau bukan korban, melainkan pelaku! Ohh kau pantas dihukum, ya! Kalau kau merasa begitu, kembalilah dan terima resikonya. Jangan melarikan diri seperti pecundang, bodoh!"

Nicholas melepas kerah Sinus dan membiarkannya tergeletak di lantai rumahnya.

"Paman, Tante. Besok aku, tidak... hari ini juga aku akan bicara pada si pak tua itu dan apapun caranya, aku pastikan Sinus kembali."

Tanpa membalas dengan kata-kata, Ayah dan Ibu Sinus menyanggupi, mereka sama sekali tak memarahi Nicholas yang memperlakukan anak semata wayang mereka diperlakukan begitu kasar. 

***

Beberapa jam kemudian, siang hari, di area rumah-rumah desa yang berada tak jauh dari rumah Sinus yang berada di dekat lautan.

Tok! Tok! Tok!

Seseorang mengetuk pintu dan Gera yang berada di rumahnya keluar untuk membukanya. 

"Halo siapa?"

"Permisi, apa ada tuan Gera disini?" kata Velizar dengan datar. Ia menyamar dengan berpakaian baju nelayan saat ini.

"Tuan? Ya saya sendiri." Gera tersenyum, tangannya menekuk dan telapaknya menempel di kedua sisi pinggangnya.

"Ahh saya Razilev, nelayan dari desa sebrang, saya kesini untuk..." kata Velizar dengan datar. "Ahh tapi sebelum itu, boleh anda berbalik badan sebentar?"

"Hah? Balik badan?" Gera tak begitu mengerti, tapi ia menurutinya.

Lalu dengan cepat Velizar memukul leher belakang Gera dengan sisi tangannya.

"Aww! Sakit!" sahut Gera spontan.

"Ahh sial, cara ini tak bekerja." Velizar melihat tangannya yang justru memar. "Badan dia lebih besar daripadaku."

"Hei nelayan brengsek! Kau ini sebenar-"

"Sleep..." Velizar meng-cast sihir, dan Gera langsung tersungkur kantuk dan tertidur di tanah, depan pintu rumahnya.

"Hah... seharusnya dari awal saja." Velizar mengelus dada dan kemudian membungkus kepala Gera dengan karung hitam.

***

Gera tersadar, dan tutup kepalanya dibuka. Disana ia melihat tempat yang tak asing baginya, tempat dekat hutan sepi yang jarang dilalui orang. Tempat dimana Sinus dipukuli dirinya kemarin.

"Ini orangnya?" Kata Nicholas yang disampingnya ada Sinus yang berdiri menyaksikan itu semua. Nicholas berdiri tak berdaya di depan Gera yang terikat dan hanya bisa duduk dalam posisi dengkul sebagia topangan badannya. "Oke..."

"Badannya besar dan berat, jadi puas-puasin lah." kata Velizar dengan nada datar.

Nicholas mengeluarkan gas hitam dari tangan kanannya. Lalu mengarahkannya ke depan muka Gera.

"PARANOIA !!"

Kepala Gera di kerubungi gas hitam dan pikirannya kini dipenuhi ketakutan yang sangat besar terhadap sesuatu yang tidak jelas.

Lalu ia berteriak.

"HWAAAAAAAAAAAA !!"

Teriakan Gera terdengar keras sekali.

***