Episode 47 - Menara Dunia Arwah


“A...Apa tetua sungguh-sungguh akan memberikan hadiah itu pada kami?” Salah seorang pendekar bertanya setengah tak percaya, biar bagaimanapun, hadiah yang ditawarkan oleh lelaki paruh baya itu terlalu berharga untuk jadi kenyataan. 

“Tentu saja aku sungguh-sungguh,” jawab lelaki paruh baya tenang. 

“Bagaimana cara kami mendapatkannya?” tanya pendekar yang lain dengan nafas sedikit memburu. Tampaknya pendekar itu benar-benar antusias untuk mendapatkan hadiah yang ditawarkan itu. 

Lelaki paruh baya itu tersenyum tipis mendengar pertanyaan tersebut, kemudian dia menunjuk bangunan tinggi yang tadi menjadi tempatnya bersemayam dengan telunjuk tangan kanannya. 

“Barangsiapa yang mampu mencapai puncak tertinggi bangunan itu, dia akan mendapatkan hadiah yang kujanjikan.”

Mencapai puncak bangunan tinggi di belakangnya? Tapi bangunan tersebut tingginya hanya sekitar tiga puluh meter atau hanya sekitar enam sampai tujuh lantai. Meskipun tingkat kesaktian kami masih berada pada kisaran tahap penyerapan energi, tapi memanjat gedung setinggi itu sama sekali bukan masalah bagi kami. 

“Hanya mencapai puncak bangunan itu?” 

“Semudah itu?”

Seperti diriku, beberapa pendekar juga bergumam tak percaya dengan yang barusan dikatakan oleh lelaki paruh baya. Namun demikian, tak seorangpun berani menyatakan keraguannya secara terang-terangan. 

“Kenapa kami harus mempercayaimu? Apa buktinya kau akan memberikan Pisau Penghalau Sukma dan jurus rahasia Sekte Pulau Arwah? Siapa kau sebenarnya?”

Saat kupikir tak akan ada yang berani bertanya, tiba-tiba saja, jauh disebelah kananku terdengar seseorang bertanya dengan cukup lantang. Saat kuperhatikan, dia adalah seorang lelaki yang kutaksir usianya sekitar tiga puluhan. Dan dia mengenakan pakaian taktis berwarna hitam, kemungkinan besar dari Pasukan Nagapasa.

Saat kupikir lelaki paruh baya itu akan marah karena pertanyaan-pertanyaan tersebut, dia justru hanya tersenyum tipis dan berkata santai.

“Aku tidak perlu memberitahukan siapa diriku pada kalian dan kalian boleh tidak mempercayaiku... Tapi, setidaknya kalian bisa percaya pada kesaktianku!”

Caranya bicara masih biasa saja, namun ketika dia berkata tentang tingkat kesaktiannya, tiba-tiba saja aku merasakan sensasi aneh seperti tengah berdiri di hadapan sebuah gunung. Diriku terasa begitu kerdil dan tak berharga dibandingkan dengan keagungan dan kedigdayaan gunung tersebut. 

Diam-diam aku melirik ke kiri dan kanan untuk melihat reaksi pendekar lain, ternyata reaksi mereka tidak jauh berbeda denganku, tertegun menatap lelaki paruh baya itu tanpa berkedip dengan kaki goyah. Bahkan sebagian pendekar yang tingkat kesaktiannya terlalu rendah langsung jatuh berlutut.

Kemudian, tanpa menunggu lebih lama, lelaki paruh baya itu menuju bangunan tinggi dan membuka pintu bangunan tersebut kemudian memasukinya. 

“Aku akan menunggu kalian di puncak,” ujarnya sebelum menghilang di dalam bangunan, meninggalkan pintu yang terbuka lebar untuk kami. 

Untuk sesaat, para pendekar yang ada di tempat itu hanya diam tanpa gerak dan tanpa suara. Namun sekejap kemudian beberapa orang pendekar langsung melesat masuk ke dalam bangunan. 

Hal itu tentu saja membuatku terkejut dan ingin segera ikut masuk ke dalam bangunan tersebut, namun gerakanku segera terhenti karena menyadari Danu masih berada di dekatku. Aku segera melirik ke arahnya dan melihat kira-kira apa yang akan dia lakukan. 

Dan tampaknya dia juga menyadari hal yang sama denganku, karena tiba-tiba saja dia menatap tajam padaku. Ekspresi wajahnya yang begis ditambah dengan bercak darah yang belepotan di pakaiannya membuat dia tampak sangat menyeramkan. Untungnya aku bukan lagi anak sekolahan yang lugu seperti beberapa bulan lalu, tanganku sendiri telah ternoda oleh darah korban-korban yang kubunuh. Karena itu aku bisa tetap bersikap tenang berhadapan dengannya. 

“Mau meneruskan pertarungan kita?” tanyaku padanya begitu kami beradu pandang. 

Namun Danu tak segera menjawab pertanyaanku, melainkan mengalihkan pandangannya pada bangunan tinggi sekali lagi, “Aku akan menemukanmu dan menghabisimu lain waktu.”

“Sebaiknya kau cepat menemukanmu kalau tidak mau keduluan. Ada banyak orang yang berjanji akan membunuhku,” jawabku sambil tersenyum sinis. 

Danu hanya mendengus sambil menatap tajam-tajam ke arahku, lalu dia langsung melesat masuk ke dalam bangunan. 

“Riki...” Tiba-tiba Shinta memanggilku begitu Danu pergi meninggalkan kami. 

Aku langsung mengalihkan pandanganku pada Shinta, namun kulihat dia hanya terdiam tak melanjutkan perkataannya. Membuatku bertanya-tanya apa yang sedang ada didalam benak gadis berbadan sintal ini. 

“Kita ikut masuk ke dalam bangunan itu bang?” Tiba-tiba sebuah pertanyaan dari Arie pada bang Genta membuyarkan lamunanku. Aku segera mengalihkan pandanganku pada bang Genta dan menunggu jawaban yang akan dia berikan. 

Namun bang Genta sendiri tidak langsung memberikan jawaban, air mukanya tampak ragu-ragu. 

“Kita tidak ikut masuk.” Akhirnya bang Genta berkata sambil menggelengkan kepalanya.

“Hah, kenapa bang?” 

Aku yang sejak awal memang sudah ingin langsung masuk ke bangunan merasa terkejut dengan perkataan bang Genta. 

“Kelompok Daun Biru sudah terlalu banyak kehilangan, kita tidak bisa kehilangan anggota lagi sekarang. Lagipula, kemungkinan kita memenangkan pusaka tersebut sangat kecil, kalaupun kita secara ajaib mendapatkannya, kelompok lain akan dengan mudah merebutnya dari kita.”

Ucapan bang Genta terlalu pesimis, tapi disisi lain semua yang dia katakan memang benar. Dengan mengandalkan kesaktian yang dimiliki oleh anggota Kelompok Daun Biru yang tersisa di markas ini, sepertinya sangat kecil kemungkinannya kami akan memenangkan persaingan memperebutkan pusaka tersebut. Arie hanya berada di tahap penyerapan energi tingkat keempat dengan kedua tangan tak bisa digunakan. Shinta berada di tahap penyerapan energi tingkat ketiga, sama sekali tidak signifikan jika dibandingkan dengan para jenius dari kelompok lain. Sedangkan bang Genta, meskipun memiliki kesaktian cukup tinggi pada tahap penyerapan energi tingkat sepuluh, tapi kondisi tubuhnya sudah dipenuhi luka luar dan dalam. 

Tapi bagaimana dengan aku sendiri? Hanya dalam waktu tiga hari aku sudah berhasil mencapai tahap penyerapan energi tingkat ke delapan dan sanggup mengimbangi para jenius yang masuk ke markas ini, jika aku punya waktu dan kesempatan lagi, bukan tidak mungkin aku akan sanggup mengalahkan para jenius itu. Belum lagi, sampai saat ini aku masih belum menggunakan jurus iblis darah secara optimal. 

“Aku akan masuk ke dalam bang,” ujarku pelan.

Bang Genta agak terpana mendengar perkataanku, reaksi tubuhnya seperti hendak mencegahku tapi tidak jadi. 

Aku segera berjalan mendekati bangunan tinggi diiringi oleh tatapan khawatir Arie, Shinta, dan bang Genta. 

“Hati-hati Rik, kembalilah hidup-hidup. Masih ada banyak hal yang perlu kita bicarakan saat kau kembali nanti,” ucap bang Genta mengiringi kepergianku. 

Aku menganggukkan kepala tanpa mengucapkan apa-apa. 

“Riki.”

Namun baru beberapa belas langkah aku menuju ke bangunan tinggi, seseorang memanggilku dari belakang. Aku segera memperlambat langkahku dan memalingkan muka untuk melihat siapa yang telah memanggilku. Ternyata orang yang barusan memanggilku adalah Unggul, dia tampak berjalan cepat berdua dengan Rangga, anggota Perkumpulan Angin Utara yang sebelumnya pernah keberatan aku ikut bergabung dalam rombongan mereka. 

Sedangkan anggota Perkumpulan Angin Utara yang lain tidak beranjak dari posisi mereka dan hanya memandangi kami dari jauh. 

“Kau mau masuk juga?” tanya Unggul begitu berada di dekatku. 

“Iya,” jawabku menganggukkan kepala. “Dari Perkumpulan Angin Utara hanya kalian berdua saja?” 

“Iya, yang lain belum cukup kuat untuk bersaing masuk memperebutkan pusaka tertinggi Sekte Pulau Arwah.”

Aku hanya menganggukkan kepala mendengar penjelasan Unggul. Kuperhatikan memang hanya sebagian kecil pendekar saja yang memasuki bangunan tersebut, sedangkan sebagian besar lainnya tidak beranjak dari posisi mereka masing-masing. 

“Mau masuk bersama?” tanyaku kemudian.

“Ayo,” jawab Unggul sambil berjalan mendekati bangunan tinggi. Aku segera ikut berjalan disebelahnya bersama dengan Rangga.

“Aneh, sudah hampir dua puluh pendekar yang masuk ke dalam bangunan. Tapi tak sedikitpun terdengar suara pertarungan dari dalam.” 

Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Rangga bergumam cukup kencang sehingga aku dan Unggul dapat mendengarnya dengan jelas. 

“Kau benar, sepertinya bangunan di depan kita ini bukan bangunan biasa...”

“Apa kau tidak merasakan, bangunan ini berdiri tidak begitu jauh dari posisi kita semula, tapi bahkan setelah berjalan cukup lama, kita masih belum mencapai gerbang bangunan juga. Bangunan itu terasa dekat, tapi juga jauh.”

“Mungkinkah ada alam lain di dalam bangunan itu?” ucapku ragu-ragu. Aku segera teringat pada kemampuan pusaka pemisah alam yang sanggup menciptakan dunia paralel dengan dunia awam. Saat kuperhatikan lagi, bangunan ini memang memiliki karakteristik yang berbeda dengan bangunan-bangunan lain dalam markas rahasia ini. Selain itu, semakin kudekati bangunan tersebut, entah kenapa rasanya bangunan tersebut semakin meninggi dan terus meninggi, padahal sebelumnya bangunan ini tidak terlihat terlalu tinggi. Bahkan di tembok bangunan terdapat tulisan-tulisan yang tak dapat kukenali hurufnya, melingkar-lingkar seperti ular yang tengah membelit bangunan tersebut. Membuat bangunan tersebut jadi terlihat semakin misterius. 

“Mungkin saja,” jawab Unggul singkat.

“Mau masuk sambil berpegangan tangan?” tanyaku pada Unggul dan Rangga, aku bertanya demikian karena teringat pada bang Genta dan Arie yang tetap bisa bersama ketika memasuki markas rahasia ini karena saling bopong. 

“Tidak, terima kasih,” jawab Unggul dan Rangga berbarengan.

“Oke,” kataku begitu melihat ekspresi aneh mereka ketika menolak usulanku berpegangan tangan. 

Begitu aku menjejakkan kaki ke dalam bangunan tinggi, ada sensasi aneh yang membuatku merasa seperti dibawa melayang dengan cepat. Kepalaku sedikit berkunang-kunang meskipun kakiku masih tetap kokoh menjejak tanah. 

Aku langsung memutar kepalaku melihat ke arah Unggul dan Rangga, ternyata mereka berdua masih berdiri didekatku. Namun ekspresi keduanya juga tidak jauh berbeda denganku, mengerenyitkan kening sambil mencoba menyeimbangkan diri. 

Saat kulihat kembali ke bagian dalam bangunan, ternyata didalamnya adalah sebuah aula besar dengan tiang-tiang yang tebalnya sepelukan tiga orang menjulang tinggi. Dan di bagian tengah aula tersebut terdapat sebuah megalith yang memancarkan pendar cahaya kehijauan, dikelilingi oleh belasan sosok tubuh. Tampaknya mereka adalah para pendekar yang sudah lebih dulu masuk ke dalam bangunan ini. 

Aku, Unggul, dan Rangga segera berjalan mendekati megalith itu untuk melihat lebih dekat apa yang terjadi disana. Saat sampai di dekat megalith, kulihat ada satu orang yang berjalan mendekati megalith tersebut dan mulai mengambil kuda-kuda. 

“Apa yang dia lakukan?” tanyaku penasaran.

“Sepertinya itu Batu Tiga Kekuatan,” gumam Unggul disebelahku. 

“Apa itu?”

“Biasanya batu itu digunakan untuk ujian di perguruan dan sekte silat dengan reputasi tinggi. Batu itu mengukur tiga unsur bakat seorang pendekar, bakat fisik, bakat mental, dan bakat pikiran.”

“Aku belum pernah melihatnya.”

“Wajar saja, tidak banyak kelompok persilatan yang memiliki batu tersebut untuk mengukur bakat-bakat muridnya. Aku sendiri pernah mengukur bakat alamiku pada batu tersebut.”

“Pasti kau mendapat hasil tertinggi.” 

Dengan bakat yang dimiliki oleh Unggul, aku menduga hasil pengukuran yang dia lakukan menunjukkan hasil yang tinggi. Tapi diluar dugaanku, Unggul hanya menggeleng pelan dengan raut muka muram. Tentu saja responnya membuatku terhenyak, bukankah dia termasuk jenius dalam dunia persilatan, kenapa dia tampak kecewa dengan hasil pengukuran Batu Tiga Kekuatan?

“Yang jadi pertanyaan adalah, kenapa Batu Tiga Kekuatan bisa ada di tempat ini? Apa fungsi bangunan ini sebenarnya?” tanya Rangga.

Namun belum sempat aku dan Unggul merespon jawabannya, terdengar suara gemuruh besar dari belakang kami, saat aku memutar kepalaku mencari asal-muasal suara gemuruh tersebut, kulihat pintu masuk bangunan ini sedang tertutup perlahan-lahan.


***


Gunung Lawu di Jawa Tengah diselimuti oleh selalu kabut tebal pada musim penghujan, membuat gunung yang terkenal dengan nuansa mistisnya ini terasa semakin mistis. Meskipun banyak orang awam yang mengunjungi gunung itu, tapi yang mereka kunjungi hanyalah sebagian kecil wilayahnya saja, sedangkan sebagian besar sisanya tetap terselimuti oleh kemisteriusan dan dikenal sebagai tempat-tempat angker yang nyaris tak pernah terjamah oleh tangan manusia awam. Pada salah satu lembah yang berselimut kabut tebal itulah bersemayam salah satu kelompok terkuat dalam dunia persilatan, Lembah Racun Akhirat. 

Pada dasar lembah yang gelap gulita, sesosok tubuh tampak melesat ringan melewati tanah dan bebatuan menuju sebuah gua yang terletak di dasar jurang. Begitu dia sampai di pintu gua, orang itu langsung menarik nafas panjang dengan wajah tegang, kemudian dia berlutut di depan gua dengan kedua tangan diletakkan diatas kening. 

“Masuklah...” 

Tiba-tiba saja sebuah suara tua menggema dari dalam gua. Orang yang tadi berlutut langsung berdiri dan melangkah masuk ke dalam gua tanpa sepatah katapun. Meskipun kondisi gua gelap gulita, namun dia berjalan seperti biasa tanpa kesulitan sama sekali menuju bagian terdalam gua.

Di ujung gua, dia melihat dua ekor ular berwarna hitam pekat dengan tanda kuning berbentuk berlian di kepalanya merayapi sesosok tubuh yang tengah duduk bersemedi. Pakaian yang dikenakan oleh sosok itu sudah lusuh dan compang-camping, sedangkan tubuhnya kurus kering dan kulitnya dipenuhi keriput seperti mummi, mukanya seperti tengkorak yang terbalut kulit. Rambut di kepalanya hanya beberapa helai saja, putih kumal seperti ijuk. 

Tiba-tiba saja kedua mata sosok kering yang semenjak tadi terpejam perlahan-lahan terbuka seperti rekahan tanah yang terbelah oleh gempa, kedua bola matanya tampak buram dan tatapan matanya kosong seperti tak bernyawa. 

“Hormat beribu hormat pada leluhur...” Orang yang tadi masuk ke dalam gua langsung menjura dalam. “Ada perihal apa kiranya, hingga leluhur memanggil hamba kemari...?”

“Sekte Pulau Arwah mulai bergerak.” Suara yang keluar dari sosok kering yang duduk bersila itu terdengar begitu tua dan menggema ke seantero gua.

“Sekte Pulau Arwah? Bukankah mereka sudah musnah beberapa bulan lalu?” Orang yang tengah menjura mengerenyitkan keningnya.

“Aku merasakan Menara Dunia Arwah, menara yang digunakan oleh Sekte Pulau Arwah untuk menguji pewaris sekte diaktifkan kembali.”

“Apa? Tapi yang bisa mengaktifkan menara itu hanyalah tiga tetua utama Sekte Pulau Arwah, dan setahuku ketiganya sudah tewas. Termasuk Sadewo.”

“Ada satu orang lagi yang sanggup mengaktifkannya...”

“Maksud leluhur...” Ekspresi wajah orang yang menjura langsung pucat pasi. 

“Benar! Kau pergilah dan segera periksa dimana menara itu diaktifkan.”

Orang yang tengah menjura terdiam selama beberapa saat, wajahnya tampak sedikit ragu.

“Hamba akan melaksanakannya.”

Namun pada akhirnya dia menjura semakin dalam dan menuruti perintah sosok yang dia panggil leluhur. 

Setelah itu, orang itu langsung berjalan mundur sambil terus merunduk. Baru setelah berada cukup jauh dari sosok yang duduk bersila, dia berani berdiri tegak dan membalikkan badannya untuk berjalan normal menuju keluar gua. 

“Bramaseta...” Sosok kering yang tengah duduk bersila bergumam pelan menyebut sebuah nama, kemudian dia kembali memejamkan kedua matanya. Gua gelap di dasar jurang Gunung Lawu itu kembali sunyi tanpa secuil suarapun.