Episode 44 - Tersibaknya Tabir (2)



Jaya tertegun terdiam seribu bahasa, di pelupuk matanya tergambar peristiwa dua puluh tahun yang lalu, tayangan yang sama dengan apa yang sedang Dewi Nawangkasih saksikan, ternyata cincin pusaka Kalimasada tidak hanya memperlihatkan identitas Jaya yang sebenarnya pada Dewi Nawangkasih, tapi pada Jaya Laksana juga. Perlahan Jaya mengangkat kepalanya, memberanikan dirinya menatap wajah Dewi Nawangkasih yang juga sedang menatap dirinya dengan air mata yang bercucuran.

Keadaan di Balai Penghadapan istana itu sunyi senyap, seolah tidak ada suatu suarapun yang mampu menembus keheningan di balairiung Mega Mendung yang megah itu, kelima orang yang ada di sana semuanya terdiam, Pangeran Dharmadipa dan putri Mega Sari terdiam dengan rasa penasaran yang teramat sangat dengan apa yang sedang mereka saksikan, sementara Prabu Kertapati terdiam dengan wajah kelam membesi. 

Tiba-tiba kesunyian itu pecah dengan jeritan Dewi Nawangkasih yang membuat semua orang yang ada di sana terkejut bukan main, bagaikan disengat ribuan tawon! “Anakku! Kau Jaya Laksana Anakku!” jerit Dewi Nawangkasih.

“Apa?!” seru Pangeran Dharmadipa.

“Apa? Kang Jaya adalah anak Ibu?” seru putri Mega Sari tak kalah dahsyatnya.

Dewi Nawangkasih mengangguk sambil sesegukan, “Iya! Ini Jaya Laksana anakku yang telah hilang dua puluh tahun yang lalu! Yang kami buang sebab ayahandamu...” 

“Diam! Jangan kau teruskan istriku!” potong Prabu Kertapati.

“Tapi...” rengek Dewi Nawangkasih.

“Diam!” bentak Prabu Kertapati, lalu ia menoleh pada Jaya. “Dan kau pergi dari sini! Tunggu di bilikmu, tunggu perintahku lebih lanjut!”

Tapi Jaya menggelengkan kepalanya, ia langsung menjura hormat, “Mohon ampun Gusti Prabu, bukannya hamba bermaksud menentang perintahmu, tapi izinkan hamba tahu apa yang sebenarnya terjadi, hamba benar-benar tidak paham dengan semua ini!”

“Apalagi yang harus kau pahami?! Kau anakku Jaya! Kau kami buang karena terpaksa! Kau hampir dibunuh oleh ayahmu sendiri sebagai tumbal untuk kejayaan Mega Mendung pada Topeng Setan!” tukas Dewi Nawangkasih.

Pangeran Dharmadipa dan Putri Mega Sari semakin terkejut mendengar hal tersebut, apalagi Jaya, Jaya langsung teringat pada tayangan peristiwa yang ia saksikan di benaknya oleh cincin pusaka Kalimasada, ia memang melihat tayangan Prabu Kertapati hendak membunuh dirinya yang masih bayi, tapi berhasil digagalkan oleh Dewi Nawangkasih, kemudian diambilah kesepakatan untuk membuang Jaya Laksana dan menganggati namanya menjadi Jaka Lelana demi mengelabui Topeng Setan.

“Jadi... Jadi kau ibuku?” Tanya Jaya dengan lemas, air matanya mulai berlelehan.

“Benar anakku, aku ibumu!” jawab Dewi Nawangkasih.

Jaya pun langsung memeluk ibunya dengan penuh rasa haru, namun itu tak berlangsung lama, Prabu Kertapati langsung turun dari kursi singgasananya dan membentak. “Lepaskan dia istriku! Atau akan kuhukum mati anak itu!”

Dewi Nawangkasih menoleh pada suaminya, dengan histeris ia menggelengkan kepalanya, “Tidak! Aku tidak mau berpisah lagi dengan anakku! Kalau kau ingin mencelakai anakmu sendiri, bunuh dulu aku!”

Prabu Kertapati melotot, ia mendengus, jari telunjuk tangan kanannya menunjuk lurus-lurus pada Jaya Laksana, “Kau! Kau akan menjadi penyebab malapetaka di Mega Mendung ini! Pergi kau dari bumi Mega Mendung ini! Aku cabut semua gelar dan jabatanmu yang tadi kuberikan padamu! Pergi! Kau anak pembawa sial, pembawa malapetaka!”

Jaya terdiam mendengar pengusiran dari ayah kandungnya sendiri itu, dadanya amat sesak, teringatlah ia bahwa sejak ia lahir ayahnya sudah hendak membunuhnya, meskipun akhirnya niatnya itu diurungkannya, berganti membuangnya. Dan kini ia teringatkan kembali pada tugas utamanya yang diberikan oleh gurunya Kyai Supit Pramana bahwa ia harus menumpas kelaliman Prabu Kertapati ayahnya sendiri!

Jaya kemudian melirik pada Mega Sari, Mega Sari pun sedang menatapnya tajam dengan tatapan tak percaya, ia tak dapat mempercayai kalau pria yang selama ini ia cintai adalah kakak kandungnya sendiri, begitu pun Jaya, ternyata gadis yang selama ini ia cintai adalah adik kandungnya sendiri, bahkan mereka berdua hampir saja melakukan suatu perbuatan dosa besar, melakukan hubungan diluar kawin! 

Jaya menghela nafasnya, ia menatap tajam sebentar pada wajah ayah kandungnya dengan tatapan penuh dendam dan kebencian, kemudian ia membalikan badannya dan melangkah pergi meninggalkan balairiung istana tanpa sepatah katapun.

“Jaya! jangan pergi Nak! Jaya!” panggil Dewi Nawangkasih sambil berlari menyusul Jaya, tapi Prabu kertapati segera mencekal lengan istrinya, “Biarkan dia pergi!”

Tetapi Dewi Nawangkasih terus meronta, “Tidak! Dia anakku! Darah Dagingku! Aku tidak sanggup lagi kalau kau mengusirnya lagi!”

Tersulutlah amarah Sang Prabu, “Kalau kau tidak membiarkannya pergi aku akan membunuhnya saat ini juga!”, ancam Sang Prabu, tapi Dewi Nawangkasih terus meronta sambil berteriak histeris hingga akhirnya ia pingsan.

“Kang Jaya! Tunggu Kang!” seru Mega Sari yang berlari tergopoh-gopoh mengejar Jaya, Jaya menghentikan langkahnya.

Tanpa menoleh Jaya membuka mulutnya, “Mega Sari, kembalilah kedalam, rawatlah Kanjeng Ibu yang jatuh pingsan, aku hendak mohon diri…”

“Tidak!” seru Mega Sari sambil menangis pilu, “Kang Jaya, ada apa sebenarnya ini?! Ini semua terlalu mengejutkanku dan memusingkan aku! Bagimana bisa setelah sekian lama kita tidak bertemu, tiba-tiba aku mendapati kenyataan bahwa kau adalah Kakak kandungku sendiri!”

Jaya menghela nafas panjang, bukan hanya Mega Sari yang terguncang mendapati kenyataan itu, bahkan dirinya sendirilah yang paling kaget dan terguncang mendapati semua kenyataan ini, hingga ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang, yang jelas hanya bara api dendamlah yang membakar menghanguskan sanubarinya pada Prabu Kertapati, ayah kandungnya sendiri yang membuangnya bahkan hampir membunuhnya! 

Teringatlah ia pada semua penderitaan dirinya, pada semua ejekan yang merendahkan bahwa ia adalah orang yang asal-usulnya tidak jelas! Akan tetapi siapa yang menyangka bahwa sebenarnya ia adalah seorang Pangeran dari Mega Mendung, Negara agung yang namanya begitu menggetarkan bagi Negara-negara lainnya di Tanah Pasundan serta Tanah Jawa ini!

Tanpa menoleh, Jaya berucap pada Mega Sari. “Mega Sari, kadang kenyataan memang lebih aneh daripada mimpi, siapa yang menyangka kalau kita adalah adik-kakak, saudara kandung yang terpisahkan akibat keadaan yang begitu rumit, akibat ulah ayah kita sendiri! Bahkan oleh karenanya kita hampir saja melakukan satu perbuatan dosa besar di bukit Panganten dulu, hampir saja aku nekat mengejar cintamu dengan identitasku yang tidak jelas itu!”

“Aku tidak peduli Kakang! Aku tidak peduli! Meskipun kita saudara kandung aku tetap mencintaimu! Aku mencintaimu!” rintih Mega Sari dengan pilu.

Pada saat itu datanglah Pangeran Dharmadipa menghampiri Mega Sari, Jaya pun membalikan badannya dan menatap Mega Sari serta Pangeran Dharmadipa sambil tersenyum, kemudian membuka mulutnya lagi, “Maaf Mega Sari, tapi tidak bisa begini, kita adalah saudara kandung yang dilarang untuk saling mencintai layaknya sepasang kekasih ataupun suami-istri, apalagi kaupun sudah menikah dan sudah resmi menjadi istri dari Kakang Pangeran Dharmadipa... Mega Sari, sebagai seorang Kakak, aku memintamu untuk setia dan selalu menemani Kakang Pangeran Dharmadipa dalam suka maupun duka, jangan sekali-sekali kau kecewakan hatinya, tolong lupakanlah aku dan semua hal yang pernah kita alami...”

“Kalau begitu jangan pergi! Tetaplah disini menemani aku dan Ibu sebagai Kakak kandungku!” pinta Mega Sari.

Jaya menatap sejenak wajah Dharmadipa, lalu ia menggelengkan kepalanya perlahan sambil tersenyum kecil, “Maaf Adikku, tidak bisa semudah itu, keadaannya begitu rumit hingga aku tidak bisa tinggal disini, semua berkat ulah ayah kita sendiri... Nah selamat tinggal adikku, aku doakan selalu kebahagiaan untukmu dan Kanjeng Ibu…”

Mega Sari menoleh kepada suaminya, kemudian ia menatap lagi pada Jaya, “Kakang aku mohon temani kami, sejujurnya hidupku sungguh berat di Keraton ini, mungkin memang sudah saatnya Kakang menghentikan kegilaan ini! Kakang tahukah engkau bahwa anak sulung kami telah tewas dibunuh oleh Ayahanda Prabu sebagai bentuk korban pada Topeng Setan?!” akunya sambil menangis pedih.

Lagi-lagi Jaya dikejutkan oleh hal yang sangat diluar dugaannya, ia sungguh kaget bahwa Prabu Kertapati telah tega membunuh cucu pertamanya sendiri hanya untuk persembahan pada Topeng Setan! Kini ia mengerti cerita dari Kyai Supit Pramana tentang perjanjian Prabu Kertapati dengan Topeng Setan, Prabu Kertapati harus mempersembahkan semua keturunan putra laki-laki sulungnya pada Topeng Setan, hal tersebut berlaku juga bagi para penerusnya, dan mungkin inilah juga penyebab kalau orang-orangnya Topeng Setan selalu mengincarnya. 

Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi tubuh putra sulung Prabu Kertapati ini melayang dan dengan sekejap mata tubuhnya telah melewati tembok-tembok benteng Keraton yang tinggi itu kemudian menghilang di antara remangnya senja hari itu.

Mendapati kepergian Jaya, Mega Sari pun menangis sejadi-jadinya dipelukan suaminya, Dharmadipa pun mendekapnya dengan erat, ada perasaan iba melihat begitu terpukulnya istrinya tersebut, ia sendiri pun sungguh tidak menduga akan kejadian ini, namun pria yang picik ini pun mempunyai perasaan yang tidak enak, ia menatap ke arah lenyapnya Jaya, kini ia merasa bahwa Jaya adalah ancaman yang sangat berbahaya untuknya! Diam-diam Pangeran ini berniat untuk melenyapkan saudara seperguruannya itu selamanya!

***

Petang itu di hutan luar Kotaraja Rajamandala, Jaya Laksana melangkah dengan gontai, dengan dipenuhi berjuta perasaan yang menusuk-nusuk hatinya, entah apa yang ada didalam pikirannya sekarang, hanya kepedihan yang menyiram bara api dendam pada ayahnya sendirilah yang begitu menggebu-gebu dari lubuk sanubarinya yang terdalam! Dalam hatinya ia menjerit, ungkap tekadnya, Dia gemetar, Lontar sumpahnya, Untuk menjerat Penggilas hak asasinya!

Tiba-tiba ia mencium bau belerang dan bau asam disertai apek, aroma yang sangat ia kenali, ia pun menatap lurus-lurus kedepan, sekonyong-konyong sesosok tubuh berpakaian serba biru mendarat tepat dihadapannya dengan gerakan yang amat ringan dan nyaris tidak bersuara, ternyata orang yang tiba-tiba muncul dihadapan Jaya adalah seorang gadis berkulit hitam manis, rambutnya yang bagus hitam lurus panjang sepunggung, satu tahi lalat kecil di bawah mata kanannya menambah kecantikan gadis ini.

Ya gadis ini adalah gadis yang sangat Jaya kenali, gadis cantik berkulit hitam manis namun memiliki satu “Keanehan” karena tubuhnya senantiasa mengeluarkan aroma bau belerang bercampur dengan bau kecut dan apek namun tak mengurangi kecantikannya, siapa lagi kalau bukan Galuh Parwati, si Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul yang dekat dengan Jaya akhir-akhir ini, gadis kedua yang telah mencuri hati pemuda putra penguasa Mega Mendung tersebut.

Galuh hanya diam menatap pemuda pujaan hatinya dihadapannya itu, begitupula Jaya Laksana, ia hanya terdiam menatap lurus-lurus pada mata Galuh, untuk sekian lamanya mereka saling beradu pandang, kedua muda-mudi ini sama-sama diserang rasa rindu yang teramat sangat pada satu sama lain meskipun hanya berpisah selama beberapa hari saja. Mulut mereka berdua pun tertutup rapat-rapat tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun atau hanya untuk menyunggingkan senyum sekalipun! Di satu sisi Galuh sangat berharap Jaya yang terlebih dahulu senyum dan menyapanya, di lain pihak, Jaya merasa bingung harus berkata apa pada Galuh karena ternyata ia adalah anak dari Prabu Kertapati, orang yang menjadi sasaran dendam Galuh karena telah membunuh semua anggota keluarganya!

Pada saat itu tiba-tiba telinga mereka berdua yang tajam mendengar suara desiran-desiran halus, bukan suara gemerisik daun yang bergesekan tertiup angin namun suara belasan langkah-langkah kaki yang amat halus nyaris tidak menimbulkan suara, Jaya pun mengalihkan pandangannya dari Galuh lalu menatap kesekitarnya, begitupun Galuh, ia menatap berkeliling di kegelapan malam itu, mereka berdua berwaspada penuh, sebab sudah pasti bahwa orang-orang yang bergerak menghampiri mereka itu memiliki ilmu peringan tubuh yang amat tinggi!

Sekonyong-konyong cahaya-cahaya golok yang memantulkan cahaya bulan purnama malam pertama bergemerlapan disusul suara sabetan-sabetan golok tersebut menerjang Galuh dan Jaya! Kedua muda-mudi itu pun berjumpalitan menghindari serangan-serangan maut itu! Jaya dan Galuh pun dibuat terkejut oleh para penyerang yang berpakaian serba hitam dan bertopeng hitam tersebut sebab ternyata gerakan-gerakan mereka mirip siluman, sangat gesit dan nyaris tanpa menimbulkan suara, para penyerang itu tak memberikan pada Jaya dan Galuh barang sedetik pun untuk bernafas apalagi membalas serangan mereka, hingga dalam tempo dua jurus pun kedua muda-mudi ini sudah kelabakan menghadapi para penyerang gelap itu!

Ternyata Keadaan kepepet sedemikian rupa dapat mencairkan suasana canggung di antara Jaya dan Galuh, Jaya memberi satu isyarat pada Galuh, gadis itu pun mengangguk, kemudian mereka berdua bersuit nyaring melompat tinggi menjauhi kalangan pertempuran! Kemudian tanpa ayal lagi Jaya membuka jurus “Menggocang Langit, Menjungkir Awan” dan Galuh membuka jurus “Garuda Emas Menerjang Badai” yang merupakan jurus andalan mereka berdua!

Barulah setelah mengeluarkan kedua jurus dahsyat tersebut, Jaya dan Galuh mampu menghalau para penyerangnya dan membalas serangan-serangan mereka, dua orang pun roboh kena pukul dan tendang Jaya, satu lagi roboh oleh pukulan Galuh yang mengandung tenaga dalam tinggi itu, ketiga korban itu jatuh tersungkur sambil muntah darah!

“Hentikan!” Pada saat pertarungan itu semakin sengit tiba-tiba menggelegarlah satu suara pria membentak yang menggetarkan bumi disekitar tempat tersebut, pertanda yang membentak mempunyai tenaga dalam yang amat luar biasa!

Enam bayangan berwarna hitam berkelebat dari atas udara dan mendarat tepat dihadapan Galuh dan Jaya, Jaya dan Galuh pun kembali bersiap-siap mendapati keenam sosok tubuh berpakaian serba hitam yang menutupi wajahnya dengan topeng berwarna hitam pula, salah satu dari mereka yang berdiri di tengah membuka suaranya, suaranya serak dan berat disertai tenaga dalam sehingga terdengar samar bagi Jaya dan Galuh, “Tuan dan Nona Pendekar, harap ikut kami, ada sesuatu yang hendak kami bicarakan!”

Jaya terdiam sejenak, meskipun orang itu menyamarkan suara aslinya dengan tenaga dalam tapi rasa-rasanya Jaya mengenali suara tersebut, dengan tetap dalam kewaspadaan penuh ia bertanya, “Ikut kalian? Siapa kalian sebenarnya dan apa maksud kalian menyerang kami?”

Si manusia berptopeng itu tertawa sebentar lalu menjawab, “Ah maafkan kalau sambutan kami terlalu meriah untuk pendekar berdua, itu hanya sebagai salam perkenalan bagi kami, nah sekarang mari ikuti kami, disini tidak aman karena mata dan telinga penguasa Mega Mendung berada dimana-mana!”

Jaya menyeringai sinis mendengarnya, “Ah sambutan yang terlalu meriah hingga kami terpaksa menurunkan tangan jahat pada orang-orang tuan.” dia lalu melirik tiga orang yang roboh tadi sudah ditolong oleh kawan-kawannya, dia menatap lagi pada lawan bicaranya, “Maaf kami lebih senang untuk berbicara disini saja karena kami juga sedang terburu-buru untuk meninggalkan Mega Mendung, nah silakan!”

“Hahaha... Rupanya Tuan terlalu mencurigai kami, tapi percayalah yang tadi itu hanya sekedar pesta penyambutan untuk tuan, hanya permainan anak kecil, kami tidak mempunyai maksud buruk untuk Tuan dan Nona Pendekar!”

“Salah satu cara menyampaikan maksud baik adalah dengan memperkenalkan diri sendiri dahulu bukan? Kami kira anda-anda semua sudah tahu siapa kami, nah bukankah akan lebih mudah untuk menyampaikan maksud tuan kalau tuan memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada kami berdua?”.

Si manusia bertopeng hitam itu menoleh kepada kelima kawannya di kiri kanannya, kemudian mereka tertawa bersamaan, “Hahaha.... Tuan benar, tapi maaf kami tidak bisa memperkenalkan diri kami disini, kami akan segera memperkenalkan diri kami di tempat yang akan kita tuju, namun yang jelas kami bukan dari pihak Banten maupun orang-orangnya Topeng Setan, malahan kami adalah pendukung tuan, selaku putera Prabu Kertapati dan Dewi Nawang Kasih!”

Terkejutlah Jaya mendengar ucapan orang itu, karena sampai saat ini tidak ada yang tahu siapa dirinya sebenarnya selain Prabu Kertapati, Dewi Nawangkasih, Mega Sari, dan Dharmadipa. Sementara Galuh yang sedari tadi terdiam juga terkejut mendengarnya, ia jadi penasaran “Jaya apa maksudnya itu?”

Jaya terdiam, ia hanya melirik sebentar pada Galuh Karena merasa bingung harus menjawab apa, terlebih ia juga jadi merasa penasaran dengan siapa dan maksud dari orang-orang yang berada dihadapannya, “Baiklah, kalian mendapatkan perhatianku, aku akan ikut kalian!”

“Bagus, harap kerahkan tenaga dalam dan ilmu peringan tubuh kalian, tempat yang kita tuju cukup jauh dan sulit!” tanpa basa-basi lagi orang-orang bertopeng hitam itu menggenjotkan kakinya, melesat kedalam hutan yang gelap, Jaya dan Galuh pun segera mengikutinya. 

“Jaya sebenarnya apa yang dia katakan? Apa maksudnya?” Tanya Galuh sambil melompat-lompat diatas dahan-dahan pohon menuju ke pedalaman hutan.

Jaya hanya mendesah berat, “Galuh... Maaf aku akan menceritakan semuanya nanti, sekarang sebaiknya kita ikuti dulu orang-orang ini, dan berhati-hatilah!”

Galuh terpaksa diam dengan wajah cemberut karena merasa sangat penasaran, tapi ia sependapat dengan Jaya, sebaiknya ia mengikuti dulu dan menyimak apa maksud dari kawanan orang-orang bertopeng ini.

Mereka terus melompat kesana kemari diatas batang-batang pohon besar terus menuju kedalam hutan, ternyata cara tersebut memang adalah satu-satunya cara untuk menuju ke tempat rahasia yang dimaksud kawanan bertopeng hitam tersebut karena di bawah mereka adalah rawa-rawa yang dipenuhi buaya serta ular-ular phyton maupun ular berbiasa, serta beberapa titik daerah lumpur hisap karena tanah-tanah rawa tersebut dalah tanah gambut. 

“Hmm pantas mereka memiliki ilmu meringankan tubuh yang sedemikian sempurna hingga tubuh-tubuh mereka seringan kapas, untuk mencapai sarang mereka saja harus melalui jalan sulit seperti ini!” pikir Jaya sambil melirik sebentar kebelakang ke arah pasukan bertopeng hitam yang tadi menyerang mereka.

Jaya dan Galuh bertanya-tanya dalam hatinya, mendapati daerah yang mereka lewati sangat sulit untuk dicapai, tiba-tiba mereka melihat tiga orang pimpinan kawanan itu melompat turun kebawah diikuti 3 orang lainnya, dengan penuh kehati-hatian, mereka pun mendarat turun, ternyata ditengah-tengah hutan tersebut ada sebuah goa yang mulutnya tertutupi oleh tumbuhan-tumbuhan merambat yang sangat lebat, dengan berhati-hati si pemimpin bertopeng itu menyibakan tumbuhan itu dan mempersilahkan Jaya dan Galuh untuk masuk.