Episode 17 - Kawan Lama


“Ah, ya. Kuil Teratai. Rumah penuh Hawa Suci tempat para wakil bagi Dewa-Dewi yang kita puja tinggal. Beberapa bilang, tempat itu tempat yang damai. Beberapa bilang, tempat itu tempat pertobatan bisa dimohonkan bagi siapa saja yang telah berjalan dalam jalan kegelapan betapapun lamanya. Namun, beberapa berbisik bahwa tempat itu merupakan tempat politik dijalankan secara jahat dan koin-koin sumbangan dimanfaatkan untuk hal yang tidak terpuji ….”

—Salah satu mantan penghuni Kuil Teratai yang tak mau disebut namanya


Butuh waktu cukup lama bagi Sidya untuk mencapai gurunya. Dalam waktu itu pun, para penyamun yang sudah sadarkan diri duduk, mata mencari-cari, kemudian tanpa tunggu waktu langsung bergegas kabur, dengan cepat mereka menghilang dalam rapatnya pepohonan meski ada salah satu yang butuh dipapah. Rupanya, aksi brutal Apit memang terlalu menakutkan bagi mereka. Sidya sangat bersyukur, karena disangkanya mereka akan menyergap begitu tahu bahwa Apit sudah tak ada, tetapi rupanya mereka memilih untuk bermain aman.

Sambil celingukan untuk memeriksa keadaan, untuk mendapat kepastian apakah para penyamun sudah benar-benar pergi, Sidya menggoyang-goyang tubuh gurunya. Dari posisinya yang tertelungkup Hikram terguling akibat dorongan Sidya, mengigau tak jelas, kemudian menelentangkan diri. Pipinya yang masih merah akibat minuman dihiasi oleh semacam air liur yang mengalir tanpa ditahan-tahan.

Saat mengawasi gurunya yang mengorok keras sambil berkacak pinggang, Sidya sudah memastikan bahwa pemandangan ini merupakan salah satu pemandangan paling mengenaskan yang pernah disaksikannya.

“Guru?” Sidya menggoyang-goyang bahu gurunya lebih keras. Ia malah ngorok lagi.

“Guru?” Hikram masih belum bangun, dan celakanya Sidya sudah kehabisan kesabaran. Ia tak mau ditinggal tidur dan menghadapi sendiri ketakutan akan keberadaan tiga penyamun, terutama jika mereka sadar bahwa Apit telah benar-benar berlalu.

Mendadak salah satu rerimbunan bergemerisik seperti diganggu oleh sesuatu, membuat Sidya makin ngeri. Sidya menggoyang tubuh gurunya lebih keras, kemudian menampar-nampar pipinya, bahkan sampai hati untuk menggunakan Ilmu Titah dengan mengatakan, “wahai tukang mabuk, bangun! Turuti kehendak keturunan dari kaisarmu!”

Usahanya membuahkan hasil, karena bulu mata Hikram mengerjap-ngerjap. Matanya baru mau memfokuskan diri saat tamparan Sidya yang paling keras menghajar pipinya. Hikram langsung duduk tegak, mengesot mundur dan melintangkan tangan untuk menangkis kalau-kalau ada serangan lanjutan. Mimiknya yang terkejut berubah menjadi kemarahan saat tahu siapa yang cari mati untuk membangunkannya dari lelap. “Demi Kahyangan, Patron Saint orang Brytisia, dan Satu Tuhan Jaffar! Celaka kau murid durhaka! Haram hukumnya seorang murid memukul gurunya sendiri!”

“Aku menampar, bukan memukul,” Sidya berkata agak lega sambil menunjukkan telapak tangannya yang agak memerah. Mata Sidya melirik rerimbunan itu, dan kelegaan luar biasa melandanya saat dilihatnya seekor kelinci melompat dari sana telinganya bergerak-gerak tanpa rasa bersalah sedkitpun. Sidya mengawasi binatang itu menjauh sebelum mengembalikan perhatian pada Hikram yang sepertinya sedang mengumpulkan nyawanya yang berceceran akibat dibangunkan mendadak dari tidur pulas.

“Sial, aku benar-benar butuh minum. Mana minumanku?! Tunggu dulu … Apit, dimana Apit?! Waskita Renta akan mengulitiku hidup-hidup kalau tahu dia kabur saat berada di bawah pengawasanku. Para penjahat itu juga! Di mana?!”

“mereka sudah lari. Dan masalah Apit itu masalah mudah. Kalau guru diinterogasi nanti, iya kalau guru mau cerita pada si Nenek. Kalau tidak?” Sidya langsung menawarkan solusi. Licik memang, tapi hei, kamu tak bisa bertahan hidup dalam intrik istana tanpa tega untuk menciptakan sedikit kebohongan.

Hikram mengangguk-angguk antusias begitu mendengar jawaban Sidya. “ Benar juga! Tak perlu cerita kalau pernah ketemu Apit! Eh, kenapa kau pegang kipas mustikanya?”

“Sepertinya dia sangat ingin kabur sehingga benda ini jatuh, jadi kuambil untuk sekarang. Bagaimana?” 

“Aku sangat setuju! Mustika seperti itu akan sangat berguna untukmu, walau kuakui aku tidak cakap mengajari beladiri kipas. Kita pikir lagi nanti! Lagipula, Apit mungkin akan ingat lalu mau mengambil benda itu, dan pada saat itu juga aku akan menyergapnya! Untuk saat ini, kau pegang saja.”

 “Sebenarnya …” Sidya sebenarnya mau bilang kalau dia memang membantu Apit meloloskan diri, tapi tidak, ia harus menyimpan masalah ini untuk dirinya sendiri. Setidaknya untuk sementara, karena bukan mustahil Hikram nanti marah-marah lagi. Saat Sidya menamparnya saja dia sudah mencak-mencak, apalagi nanti kalau Sidya memberitahu bahwa dia telah menggetok kepala Hikram dengan tongkatnya sendiri.

“Sebenarnya apa, Bocah Cilik Lamban Bicara?”

“Sebenarnya … aku lapar, Guru. Perutku kosong,” dan tepat saat itu, lambung Sidya memang berkeruyuk keras.

“Baiklah, tak ada gunanya juga kita berlama-lama di sini. Para penyamun itu pasti sudah kabur jauh. Karena latihanmu sudah selesai dengan sempurna, aku turuti permintaanmu. Kalau saja hawa murni bisa membuat kita kenyang selamanya, tentu dunia akan jadi tempat yang sangat berbeda.” Hikram menggerutu sambil menegakkan diri, meluruskan punggung sampai mengeluarkan kertak keras, kemudian menarik si putri kecil ke arah pemukiman terdekat yang telah dikunjunginya setelah meninggalkan Sidya seorang diri.

--

“Memangnya tidak apa-apa kalau kita menunjukkan diri di desa?” Sidya bertanya tepat saat mereka sampai di gapura, yang menandai bahwa beberapa saat lagi mereka akan masuk pemukiman.

“Tak ada yang akan peduli dengan bocah berpakaian jelek, jadi tenang saja. Beda cerita kalau pakai gaun sutra lalu menata rambut dengan gaya sok rumit seperti kemarin.”

Sidya menghela napas. Omongan gurunya terlalu percaya diri dan sangat tidak menyenangkan. Ia seorang putri kaisar, bukan mustahil ada orang yang pernah melihat wajahnya waktu sedang hadir di suatu perayaan di ibukota. Tapi kalau guru seoptimis itu … ya sudahlah. Sidya tak ingin disebut sebagai murid yang suka membantah.

Desa yang mereka masuki nampak sangat ramai, sepertinya tak ada satupun warganya yang berdiam diri di rumah. Kebanyakan berkumpul di balai desa yang sederhana. Suasananya tidak menyenangkan, kecemasan seperti menggantung di udara, mengancam semuanya. Beberapa berkumpul dan berbisik-bisik cemas. Sidya mencoba mencuri dengar, mendapati bahwa mereka semua membicarakan topik yang sama: Bandit Emas telah sampai di dekat desa kecil ini.

Hikram dan Sidya bergerak perlahan di jalanan. Pasalnya, tidak hanya satu-dua kendaraan yang lalu-lalang. Kebanyakan pedati, semuanya dipenuhi muatan barang kekayaan macam lemari kayu atau peti besi yang kelihatannya sangat berat. Kios-kios dadakan nampak di mana-mana seperti sedang ada sebuah acara besar saja, walau tak terlihat panggung hiburan atau semacamnya. Semua kios diisi dengan barang bekas, banyak penumpang pedati yang sudah menepi langsung menuju ke kios dengan niat menjual barang bawaan mereka.

Jalanan desa makin dengan pedati-pedati baru yang datang dari utara, Hikram yang diikuti Sidya menepi sebentar, membuat Sidya mendapat kesempatan untuk melihat-lihat lebih jelas. Beberapa bocah kurus dengan pakaian burik mengejar seekor ayam jago yang kabur, tertawa-tawa melintasi Hikram yang tak peduli dan Sidya yang agak kaget. Sidya belum pernah lihat bocah sekurus itu sebelumnya.

Sidya mengedar pandang, makin penasaran, dan tertegun menyadari keadaan.

Desa ini penuh dengan orang-orang yang tak mungkin aslinya berasal dari sini.

Anak-anak yang umurnya dibawah Sidya beserta ibu mereka berlindung dari panasnya matahari dengan sehelai kain tipis, pakaian mereka bahkan lebih buruk daripada anak-anak yang mengejar ayam jago. Jelas mereka tak diizinkan untuk menikmati perlindungan atap balai desa karena penampilan yang terlalu kumuh.

Seorang lelaki yang bersandar di sebuah pohon memejamkan mata, tangannya berbebat kain, warna merah mengering di sana, sementara tak ada satupun orang yang lalu-lalang peduli dengan luka-luka ditangannya. Dada Sidya serasa dihujam pisau, dia tak kuat melihat penderitaan di wajah pria malang itu. 

“Terkejut? Memang beginilah desa yang dijadikan tempat mengungsi. Aku yakin Si Bandit Emaslah penyebab semua ini.” Hikram mengerling Sidya, mengikuti pandangannya ke arah mana dan langsung mengerti. Kelihatan sekali bahwa Sidya tak pernah mendapati semua hal mengenaskan ini. Dia hanya mengenali keadaan ibukota, yang walaupun tak kurang dengan penderitaan, hal-hal yang buruk selalu lolos dari matanya, semata karena dia putri sang kaisar yang selalu dikelilingi pengawal kemanapun dia pergi, tandu yang ditutupi kain menutupi pandangannya dari kenyataan pahit yang berada di luar nyamannya istana.

“Tidak. Aku tidak terkejut,” bantah si putri kecil, meski ia menundukkan kepalanya agar tak bisa melihat lelaki itu lagi. Sidya ragu-ragu sebentar sebelum melanjutkan, “guru punya uang untuk kuberikan—”

Tawa Hikram yang kasar memotong perkataannya, “Tidak. Nanti saja kalau selesai mengemis.”

Lalu Hikram mencari pojok yang lain, tak jauh dari pria yang terluka itu. Hikram mengeluarkan serbet yang ia ambil dari kemah Seto dan Daeng, lantas menggunakan benda itu sebagai alas duduk. Mangkok makan yang entah ia sulap darimana diletakkannya di hadapan.

“Mengemis?” Sidya bertanya sementara gurunya mengatur duduknya agar nyaman.

Hikram mengangguk, lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

“Meminta-minta uang apa namanya kalau bukan mengemis? Ya, meskipun aku tak begitu suka melakukan hal ini kecuali dalam keadaan terjepit, karena sebenarnya tangan dan kakiku masih cukup kuat untuk bekerja. Tapi, desa ini sepertinya sedang kelebihan orang hingga tak membutuhkan bantuan tenaga dari seseorang sepertiku.” Lalu lelaki yang hobi minum itu mengikatkan sesuatu yang ia ambil dari sakunya ke tangan, sementara Sidya berjongkok disebelahnya.

Sidya melirik gurunya, matanya melebar saat mengenali kain merah darah dengan sulaman bergambar naga yang kini terikat di lengan gurunya. Terbersit pikiran bahwa itu kain imitasi, tapi tak mungkin ada orang yang cukup berani cari mati memalsukan benda yang hanya dapat dimiliki oleh seorang Wakil Kahyangan itu.

Dengan hati-hati Sidya bertanya, “Apakah guru salah satu dari Kepala Wakil Kahyangan?”

Hikram mengeluarkan tawa rendah mendengar keterkejutan muridnya. “Kau kira aku melontarkan olok-olok waktu aku berkata kalau Gelarku adalah Dewa Arak Kolong Langit? Aku wakil Naraca sang dewa perayaan. Orang-orang memberiku uang, sebagai gantinya aku mendoakan semoga sapi mereka gemuk, arak mereka keras, dan pesta pernikahan mereka meriah.”

“Tentu saja tidak, tapi … tapi …” Sidya menggaruk kepalanya karena tak habis pikir, dan ia merasa bodoh karena baru menyadari hal ini, “sebagai wakil Sang Naraca di dunia ini, guru berhak dan sangat layak tinggal di Kuil Teratai! Mendapatkan tunjangan, menjadi gemuk, lalu hidup enak sampai tua! Mengapa malah mengembara tak tentu arah?”

Sementara orang-orang yang lewat melempar koin ke mangkuknya, beberapa menangkupkan tangan seraya mengucapkan doa begitu melihat kain yang Hikram pakai di lengan, Hikram memandanginya dengan sesuatu yang nampak seperti belas kasihan. Lelaki itu memainkan jenggotnya yang kusut karena jarang dibasuh kemudian menggumam pada dirinya sendiri, “Ah, anak kecil mana bisa mengerti?”

Sidya menggaruk kepalanya lagi, semakin dibuat bingung oleh kelakuan orang yang ia sebut guru selama beberapa hari ini. Walau dia juga melepaskan kemewahan istana, dia memiliki alasan khusus sementara Hikram nampaknya hanya senang keluyuran, itu saja.

“Daripada membicarakan diriku, mengapa tidak kamu lihat tukang sapu itu?”

Sidya menengok pak tua yang masih menyingkirkan dedaunan dari latar balai desa. “Memangnya kenapa?”

“Kalau benar ingin belajar silat, kamu harus mampu mengenali seorang ahli beladiri yang sedang menyamar.”

Sidya mengawasi kakek itu baik-baik. Selain dari umurnya yang tak jauh berbeda dengan Hikram, Sidya tak mampu menangkap hal yang membuatnya berbeda dari seorang tua biasa. Sidya terus menatap sampai matanya berair, tapi dia tidak menemukan hal yang gurunya bicarakan. Ia coba-coba merasai hawa murni dari lelaki itu, siapa tahu dia bisa melakukan hal itu secara spontan tanpa harus dibimbing Hikram mengingat bahwa dia keturunan Kaisar Pertama. Sidya melebarkan telapak tangannya dan diam-diam disorotkannya ke pak tua.

Nihil, tak terasa apapun.

Hikram berdecak melihat tangan Sidya yang masih melebar. “Ngapain kau membuka tangan segala? Huh, mungkin memang belum saatnya bagimu untuk mengenali gerakannya.”

“Daripada mengolok, mengapa tidak menjelaskan dari mana guru bisa tahu? Apakah kuda-kuda yang kokoh terbersit dalam langkah-langkahnya? Apakah dia menggerakkan sapu dengan sebuah jurus toya? Atau … jangan-jangan guru merasakan bahwa hawa murni mengalir bebas dari dirinya?” Sidya bertanya, nadanya menunjukkan rasa tak suka karena merasa diremehkan.

Hikram meringis lebar. “Sederhana saja. Aku tahu dia seorang ahli beladiri karena aku mengenalnya, Bangsawan Cilik.”

Sidya menggaruk kepalanya sebal. Rupanya guru hanya ingin mengerjainya, bukan benar-benar ingin menguji. Sidya bersungut-sungut sendiri, bahkan sampai tak sadar pak tua yang sejak tadi diawasinya mendekat ke arah mereka, sementara Hikram meraih koin di mangkuk dan dengan cekatan memberikan setengah koinnya pada tangan si pria tua, yang sebenarnya membuka untuk mengajak Hikram bersalaman.

Dahi pria itu berkerut melihat koin-koin ditangannya.

“Buat apa sen-sen ini?”

“Ambal, kalau sampai rela menyapu jalan seperti itu, kelihatannya kau memang sedang tak punya uang. Makanya kubagi jatahku padamu.”

Pria itu menggeleng pada Hikram, wajahnya kelihatan lelah dengan permainan lelaki sebayanya itu. Dia mengembalikan semua pada mangkok Hikram, kemudian lekas berkata, “Tak kusangka akan bertemu di tempat seperti ini.”

“Aku juga sama sekali tak menyangka. Pasti kau berkeliaran di sekitar sini berkat berita tentang Bandit Emas, ya? Aku memang telah melupakan banyak hal sejak pertemuan terakhir kita, Kawan Lama. Tapi, aku tak pernah melupakan obsesi berlebihanmu untuk menegakkan hal merepotkan yang kau anggap sebagai kebajikan.”

Dahi pak tua itu mengerut makin dalam. “Terserahlah kau anggap aku bagaimana. Walau kau masih seenaknya sendiri seperti biasa, aku senang tak lagi sendirian dalam masalah ini. Temui aku nanti di altar-altar desa, masih ada hal yang harus kucari tahu.”

 Si pak tua menegakkan sapu untuk kemudian berdiri tegak dan menghilang dibalik ramainya jalanan.

“Siapakah dia, Guru?” Sidya bertanya setelah kakek itu benar-benar pergi, kekakuan dalam ekspresinya membuat Sidya tak nyaman.

“Dia Kepala Wakil Kahyangan sepertiku. Namanya Ambal, dia mewakili Katili, pelindung pandai besi,” Hikram menjawab sambil lalu. Setelah itu dia menyuruh Sidya diam, mulutnya komat-kamit membacakan doa-doa bagi orang-orang yang telah memberikan derma padanya.

Sidya merasa heran sendiri. Mengapa para Kepala Wakil Kahyangan memilih memunculkan diri pada khalayak ramai sekarang? Seingatnya, para wakil Dewa-Dewi itu jarang sekali melepaskan diri dari lindungan Kuil Teratai yang terkenal indah dan damai. Jika ada keperluan, biasanya para rakyat biasalah yang datang ke sana, bukan sebaliknya.

“Dia seorang Kepala Wakil Kahyangan juga? Apakah dia juga seorang pengembara seperti guru?”

Doa Hikram mendadak terhenti. Dia tertawa terbahak-bahak seperti mendengar lelucon yang teramat lucu. Badannya berguncang keras, sampai Sidya dibuat malu karena beberapa orang melempar pandang bertanya pada mereka berdua.

“Bangsawan Cilik! Kuberitahu ya, hari saat Ambal memilih menjadi pengembara adalah hari dimana aku menjadi seorang saudagar kaya raya! Ambal dan kesederhanaan adalah kombinasi yang sangat buruk! Dia itu hanya pura-pura. Sebenarnya dia suka kemewahan jauh melebihi hal lain.”

“Lalu buat apa menyamar?”

Hikram melempar pandang pada langit yang makin merah, hari sudah mendekati sore.

“Untuk mencari informasi tentang Bandit Emas, tentu saja. Sulit mencuri dengar omongan orang desa dengan jubah bersih dan penampilan rapi, bukan? Mereka hanya akan menyampaikan hal yang baik-baik begitu tahu bahwa dia adalah seorang Wakil Kepala Kahyangan. Orang-orang baru akan mengabaikanmu kalau kamu berpakaian lusuh, menganggapmu hanya seorang sederhana yang tak tahu apa-apa.”

Hikram berpaling pada dua orang pemuda yang lewat, sepertinya keduanya merupakan anak dari pejabat desa ini mengingat mereka tak sekumuh yang lain. Mulut mereka mengumpat Bandit Emas yang telah menyebabkan orang-orang harus menyingkir dari rumah mereka, sembari membicarakan bahwa dia akan datang dari arah tenggara mengingat bahwa dari arah itulah juga para pengungsi berdatangan. Percakapan mereka ditutup dengan kabar bahwa para penyamun yang disuruh untuk mengawasi keadaan beberapa kali terlihat di perbatasan desa, tapi tak cukup lama hingga tak dapat ditangkap untuk ditanyai.

“Tuh, kamu dengar sendiri. Mana mungkin mereka mau cerita sambil menyumpah-nyumpah begitu kalau ada seorang yang dianggap terhormat berada di dekat mereka,” kata Hikram berpuas diri saat kedua pemuda berlalu, sementara Sidya mengangguk mengakui kebenaran ucapan gurunya.

--