Episode 3 - Jin Kafir Penghuni Sungai (Onggo-Inggi)



Jam 15.00 WIB. Setelah sampai dirumah, aku masuk kamar, ganti baju lalu makan. Tidak sengaja aku mendengar percakapan antara ibu dengan ayah di dapur.

“Pak, anaknya pak Joko yang laki-laki katanya hilang pak kemaren sore waktu mancing di sungai bagian timur,” ucap ibuku kepada ayahku.

“Masa sih, buk? Lalu dia mancing sendiri atau sama temannya?” tanya ayah yang penasaran.

“Katanya sih sama temannya bertiga. Teman yang lain sudah pulang ke rumah sedangkan dia belum pulang sejak hari itu,” jawab ibuku menimpali.?“Apa jangan-jangan?”

Setelah medengarkan percakapan ibu barusan, seperti rutinitas biasa aku berangkat main sama ketiga sahabatku di rumahnya Ninda. Karena dulu belum ada HP ada sih HP cuma orang kaya saja yang punya. Ya seperti Ninda dan Yeni saja yang baru punya. Kemudian aku berangkat naik sepeda ke rumah Putra, jarak rumah Putra dengan rumahku cuma 150 meter. Bisa di tebak rumahku juga dekat dengan makam desa, setelah aku sampai di rumah Putra aku cari dia.

“Ooeeyy bro, kamu dimana..?” teriakku dari luar rumah. Tiba-tiba ada ayahnya Putra yang keluar dari dapur.

“Oalah nak Edi, ada apa nak..?” tanya ayahnya Putra kepadaku.

“Putranya ada pak,?”

“Putranya lagi keluar ke sungai timur lihat orang nyari anaknya pak Joko yang hilang,” jawab ayahnya Putra.

“Oh, ya sudah saya susul ke sana ya pak,” ucapku menyusul Putra ke arah sungai.

Dalam hatiku, “Sialan ini bocah, mau aku ajak ke rumah Ninda malah kelayapan sendiri.” Lanjut saja aku bergegas ke sungai bagian timur. Di sini akan dijelaskan sungai di desaku ada dua. Yang pertama di bagian selatan desa, sungai yang di bagian selatan desa itu adalah spot mancing karena airnya tidak bergerak, ya semacam danau tapi bukan danau. Lalu sungai yang di bagian timur itu mengelilingi desa dari arah timur sampai kebarat lalu ketemu dengan sungai dari Madiun ke Bengawan Solo. Di sungai timur ada tiga spot angker yang dilarang oleh warga desa untuk ke sana. Sungai bagian timur ini batas antara desa dengan persawahan milik warga. 

Setelah beberapa menit kemudian aku sampai di spot angker yang kedua. Spot angker kedua di pintu air satu lawang. Ddalam bahasa Jawa satu lawang berarti satu pintu, dinamakan satu lawang karena memang hanya ada satu pintu. Setelah sampai di sana ternyata sudah banyak warga desa yang datang sekedar melihat atau membantu mencari, lalu aku tanyakan ke salah satu warga desa.

“Pak sudah ketemu anaknya?” tanyaku pada salah satu warga.

“Belum, Nak. Kamu anaknya siapa?” jawab salah seorang warga kepadaku.

“Saya anaknya bapak Misran yang rumahnya RT 3 dekat makam desa.”

“Oh, kamu anaknya pak Misran to, belum Nak. Sejak tadi pagi belum ketemu, pasti dibawa onggo-inggi ini. Karena alat pancingnya masih di sana,” ucapnya sambil menunjukan spot dia memancing. 

“Oh, ya sudah pak saya pulang dulu,” kataku mengakhiri obrolan.  

“Ya silakan.” ?Lalu aku pergi ke belakang semak-semak dekat pohon pisang, masih di dekat dengan spot dia memancing. Tak butuh waktu lama aku memanggil mbah Kosim.?“Ada apa Dek Edi?” tanya mbah Kosim tiba-tiba muncul.

“Eh mbah Kosim, kapan datang,?“ shock sejenak karena belum terbiasa dengan macan besar ini.

“Barusan aja dek Edi, kelihatannya dek Edi lagi punya pikiran,” ucap mbah Kosim melihat ke arahku.

“Iya mbah ada anak hilang. Mbah bisa lihat di dalam sungai ada gak mbah. Tapi jangan nyebur nanti basah, kedinginan,” kataku polos.

“Saya coba lihat dulu, Dek Edi.”

Kemudian mbah Kosim melihat ke arah sungai.

“Sepertinya ada anak manusia laki-laki di dasar sungai Dek Edi. Dia di ikat dengan tangan oleh jin jahat,” ucap mbah Kosim kepadaku sambil menatap kearah sungai.

“Mbah bisa nolong gak, cukup munculin anaknya saja ke permukaan, kalau bisa bunuh sekalian jin nya mbah,” jawabku juga ikut melihat ke arah sungai.

“Kalau itu gampang Dek Edi, asalkan jin air itu keluar ke permukaan akan langsung mbah bunuh,” ucap mbah Kosim mengambil posisi.

“Oke mbah, saya bantu dari sini mbah.”

Kemudian mbah Kosim memperkuat auranya dan terbang mendekat ke sisi sungai. Saat mbah Kosim di dekat sungai sana, aku membaca surat Al-Kahfi ayat 1-10, di lanjutkan dengan ayat Kursi, lalu surat An-Naas, Al-Falaq, Al-Ikhlas. Sejenak kemudian anak yang di dasar sungai keluar ke permukaan, dan disambut dengan salah satu warga yang ikut mencari. Air sungai yg tenang kelihatan beriak, manusia biasa tidak bisa melihat bahwa ada mahkluk yang menyeramkan berdiri di atas air tersebut. Makhluk itu melihat aku dan mbah Kosim dengan tatapan menyeramkan.

“Kenapa kalian menggangguku, aku tidak pernah mengganggumu,” ucap makhluk itu.

“Kau sudah membunuh manusia, apakah alasanku cukup mengganggumu,” jawabku sambil berdiri.

“Hahahaha… Dasar bocah! Mati kau!”

Dengan sekejap mahluk itu melesat ke arahku. Aku masih mematung di sana karena aku takut, ini pertama kalinya aku melawan jin. Sebelum mahluk itu mendekat, mbah Kosim dengan sigap berdiri di depan ku.?“Minggir kau macan, aku tidak ada urusan denganmu! Aku ingin makan bocah nakal di belakangmu karena sudah menggangguku!” teriak marah dari jin penghuni sungai ini.

“Akulah penjaga anak ini, pergilah sebelum aku membunuhmu,” ucap mbah Kosim berdiri di depanku.

“Kau ingin membunuhku, hahahaha, dalam mimpimu!” teriak jin penghuni sungai sambil meluncurkan serangan kearahku dengan tentakelnya.

“Sudah Mbah bunuh saja dia,” ucapku sambil gemetaran. 

“Baik Dek Edi.”

Sebelum tentakelnya mendekat ke arahku, dalam sekejap mbah Kosim menerkam ke arah mahluk angkuh itu, dan mahluk angkuh itu hilang menjadi asap.

“Fiuh... hampir saja mbah,” ucapku lemas sambil menyeka keringat di dahiku.

“Iya dek Edi, minta tolonglah kepada-Nya. Karena sesungguhnya hanya DIA yang maha Pengasih lagi maha Penyayang,” sergah mbah Kosim memberi nasihat.  

“Iya mbah.” ?Setelah urusan selesai mbah Kosim menghilang kembali ke rumah, aku lalu menuju anak yang baru muncul kepermukaan tersebut.?“Sudah ketemu pak?” tanyaku pada salah satu warga desa.

“Sudah nak, sungguh sayang sekali nasib anak itu? “ balas warga tersebut.

“Lah kenapa pak, dia tenggelam kan?” tanyaku balik padanya.

“Entahlah, tapi di atas kepala anak itu berlubang,” jelas warga desa kepadaku.

“Loh. Kok bisa berlubang pak, apakah kebentur batu pak,” kataku memberikan alasan.

“Kalau kebentur batu harusnya retak atau pecah, mungkin di makan onggo-inggi ini,” balas warga sambil ikut membantu mengevakuasi jasad anak itu.

“Oooohhhh...!” 

Aku cuma melihat jasad anak pak Joko dievakuasi dari sekitar sungai. Sejak saat itu kami anak-anak kecil dilarang main di daerah sungai. Apalagi beberapa tahun ke depan salah satu presiden Indonesia akan membuat proyek jalan Tol yang menghubungkan pulau Jawa. Semoga saja jin yang ada dibawah jembatan Tol itu sudah dipindahkan oleh orang lain. Karena jika dia tidak dipindahkan, dia bisa membawa bencana bagi manusia yang melintas di atasnya. Setelah berbincang-bincang dengan warga sekitar, aku kembali mencari temanku si Putra, akhirnya ketemu orangnya.

“Woy kampret, dicari dirumah gak ada, ternyata disini!” teriakku pada si kampret Putra.

“Hehehehehe, lihat orang-orang seru,” jawabnya sambil tertawa.

“Seru gundulmu, lihat orang mati kok seru terus kalau dirimu yang mati seru dong menurut ku,” ucapku kesal padanya karena mempermainkan nyawa orang menjadi candaan.

“Enak aja, seneng kalau temenmu mati?” ucap Putra.

“Ya kalau beneran gak apa-apa, itung-itung si Yeni nanti aku embat sekalian,” balasku sambil tertawa.

“Eh..eh…eh, tidak bisa, Yeni punyaku ya, kamu kan udah punya Ninda,” balas Putra sambil mendirikan sepedanya.

“Ninda punya orangtuanya bukan punyaku,” balasku tak mau kalah.

“Iya tau goblog, kan bisa jadian sama Ninda,” ucapnya sambil naik sepeda.

“Jadian, kamu kira power rangers,” kataku memberinya candaan.

“Terserah lah.”

Kami berdua naik sepeda menuju ke rumahnya Ninda.

“Eh. kamu gak ngaji...?” tanyaku pada Putra.

“Habis magrib nanti ngaji sama orang dewasa. Mau ikut gak..?” ajaknya kepadaku.

“Bolehlah,” balasku.

Setelah basa-basi gak jelas dan ngalor-ngidul obrolannya, akhirnya gagal deh main ke rumah Ninda. Gara-gara si kampret satu itu ngajakin ke rumah Yeni, sekalinya ke rumah Yeni. Eh Yeni nya keluar sama Ninda, emang nasib deh.

Magrib pun tiba, setelah aku sholat magrib di rumah, aku berangkat ngaji sekalian nyamperin Putra, kemudian kita berangkat ke rumah guru ngajiku. Karena Putra ngajak lewat jalan pintas mau gak mau harus lewat makam tetua desa yang dibawah pohon beringin. Kalau kalian pernah melihat pohon beringin yang ada di alun-alun Yogyakarta, pohon ini masih lebih besar lagi, bahkan sulurnya pohon beringin sampai sebesar bolpoin, bayangin gedenya kayak apa. Ada penunggunya juga di pohon ini, yang aku lihat ada genderuwo dua, kuntilanak merah satu, macan hitam dua, kuntilanak biasa banyak, pocong yang matanya hijau dua.

“Kok aku merinding ya lewat sini,” ucap Putra sambil mengusap tengkuknya.

“Kamu sih ngajak ngaji lewat jalan selatan, bener deket dari rumahmu tapi kan lewat makam keramat, kenapa gak lewat jalan timur saja,” ucapku protes.

“Enggak ah, malu aku ketemu Yeni, dikira nanti cari perhatian lagi,” balasnya lebih mentingin gengsi dari pada keselamatannya sendiri.

“Cielah, sama hantu takut, sama cewek takut, badan doang gede,” balasku mengejeknya.

“Biarin.”?Setelah ngobrol beberapa saat kita sampai di rumah guru ngajiku disana banyak banget orang dewasa yang ngaji, kita ngobrol ngobrol sebentar lalu mulailah pengajiannya.

Akhirnya hari yang dinanti datang juga, semester satu sebelum UAN kita kelas 6 mengadakan Study Tour ke Wisata Bahari Lamongan, hari senin pagi ibu mengajak aku ke pasar untuk membeli bekal selama di perjalanan ke lamongan, setelah membeli bekal aku main kerumah Putra hendak mengajak dia main ke rumah Ninda akhirnya Putra setuju. Lanjutlah kita main ke rumah Ninda. Sampai dirumah Ninda kita ngobrol masalah Study Tour besok.?“Nda? kamu bawa apa buat besok Study Tour,” tanyaku kepada Ninda mengenai bekal untuk besok.

“Aku bawa buah-buahan saja sama baju ganti pas nanti main ke pantai, kalau ada pantainya. Hehehehehe,” jawab Ninda terlihat gembira dengan perjalanan wisata besok. Giliran aku bertanya kepada Yeni.

“Hemb, hemb ... Kalau kamu Yen bawa apa saja,” tanyaku kepada Yeni

“Mau tahu saja kamu, Ed,” jawabnya ketus.

“Ya elah, masa sama teman saja gak mau kasih tahu. Hey Put, pacarmu mu itu” gurauku kepada Yeni

“Dih pacar..?? Gak level.” Jawabnya ngena banget dihati.

Aku dan Putra cuma saling pandang saja, wajarlah dia berbicara seperti itu. Karena kami berdua memang mempunyai keadaan ekonomi yang dibawahnya.

“Kalau kamu bawa apa, Ed..??” tanya Putra mengalihkan suasana.

“Aku bawa makanan ringan saja, sama buah-buahan,” ucapku tanpa melihat kearah Yeni.

“Oh sama dong, nanti kalau habis jajanku minta ya,” jawab Putra mencoba mencairkan suasana.

“Santai,” balasku malas meneruskan obrolan ini.?Setelah obrolan yang tidak mengenakan di rumah Ninda, Adzan ashar pun berkumandang, aku mengajak putra untuk pulang kerumah sembari menunaikan sholat ashar, dan kami juga ada jadwal ngaji. Waktu terasa singkat dipengajian. Guru ngaji kami membahas tentang salah satu tokoh dalam Islam yaitu Salahudin al-Ayyubi. Akhirnya kami berdua pulang setelah sholat isya. Kami berdua pulang tidak melewati makam keramat karena disana tidak ada lampu penerangan satupun, kami lewat jalan utama yang disampingnya ada makam desa. Rasanya sepi banget di jalan, pas kita lewat depan pintu masuk aku melihat cahaya warna putih dan biru di tengah pemakaman.

“Apa itu ya” batinku keheranan melihat kedua cahaya itu. Lalu aku mengajak Putra berhenti sebentar, bayangin berhenti di dekat kuburan, gak ada lampu, gak ada orang, cuma berdua saja.

“Bro, berhenti sebentar dong,” ajaku berhenti melihat lebih jelas tentang cahaya yang berpijar itu.

“Kenapa ..?? takut aku,” jawab putra ketakutan sambil tengok kanan-kiri.

“Kamu lihat gak ada cahaya warna putih sama biru di tengah kuburan itu,?” tanyaku sambil menunjuk kearah kedua cahaya itu.

“Gak ada apa-apa Ed, jangan nakutin napa Ed..? salah lihat kali kamu, ayo pulang ah, ngantuk aku,” ucap Putra merengek mengajakku pulang.

“Oke deh.” Karena aku tidak yakin dengan apa yang aku lihat, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju rumah.

Lalu kita pulang ke rumah masing–masing. Keesokan harinya, selasa jam 02.00 dini hari. Aku dibangunin Ibu buat siap-siap Study Tour sama beres-beres perbekalan. Aku diantar ayah sampai ke sekolah, ternyata sudah ramai sekali. Padahal mata masih ngantuk banget, lanjut deh kita semua kumpul di halaman sekolah untuk pengarahan sebentar oleh wali kelas kami, setelah pengarahan selesai kami masuk ke dalam Bus. Aku masuk terakhir karena aku gak mau masuk desak-desakan, setelah masuk ke dalam Bus. Aku lihat si Kris sama gengnya sudah duduk di depan dan belakang kursi Ninda dan Yeni. Akhirnya aku duduk dibelakangnya Ratih. (Salah satu wanita cantik dikelas sebelah)

“Ratih, numpang duduk di belakang ya,” tanyaku meminta izin.

“Silakan Ed, kosong kok,” ucapnya sembari tersenyum dengan wajah cantiknya.

“Lah, Fitri kemana kok gak bareng kamu padahalkan tetanggaan .?” tanyaku lagi padanya setelah aku menempatkan bokongku di kursi bus.

“Fitri lagi sakit Ed, jadi gak bisa ikut,” jawabnya dengan tersenyum kepadaku.

“Oh, kosong dong sebelah tempat dudukmu,” ucapku mencoba mencari keberuntungan.

“Kosong kok. Kalau mau pindah tempat duduk, sini aja.” Jawabannya membuatku melongo tak percaya. Beberapa saat kemudian setelah tersadar barulah aku bereaksi. Langsung saja aku pindah tempat duduk dan aku panggil mbah Kosim buat hadir.

“Mbah Kosim hadir,” ucapku memanggil mbah Kosim dalam hati.

“Iya Dek Edi,” jawab mbah Kosim hadir di sampingku.

“Mbah, nanti tolong jagain ya waktu saya pergi jalan-jalan,” ucapku meminta mbah Kosim agar melindungiku.

“Siap Dek, saya juga diberi pesan oleh maha guru untuk berhati-hati,” tambah mbah Kosim.

“Maha guru...? siapa mbah...?” tanyaku kepada mbah Kosim, karena aku tidak tahu siapa maha guru itu.

“Maha guru itu, beliau ular yang di rumah Dek Yai itu Dek Edi,” ucap mbah kosim menjelaskan.

“Oh itu maha guru mbah. Baiklah mbah kembali istirahat, nanti kalau saya butuh bantuan saya panggil mbah.”

“Siap Dek Edi.”?