Episode 16 - Intermeso - Pertempuran Api dan Gong

“Gelar dapat direbut, Gelar dapat dirampas, Gelar dapat dianugerahkan oleh yang berwenang memberikannya. Tetapi, semua penerima haruslah melewati ujian, karena Kaisar Pertama tak pernah menyukai seseorang yang malas dan selalu berpangku tangan ….”

—Kaisar Ling Chi pada salah satu jendral yang diberinya Gelar Panglima Perkutut


Khan tidak main-main dengan ancamannya.

Sidra menduga bahwa Sang Penguasa Stepa akan menghabiskan waktu untuk berlama-lama mengumpulkan pasukan, berhubung Sidra juga telah menghimpun orang-orangnya sendiri. Hainun dan Tiansheng serta Angshuk hanyalah kota-kota miliknya yang mampu memberikan kontribusi yang cukup besar dalam ukuran jumlah, sementara dua kota kecil lainnya hanya memberi beberapa puluh orang saja, itupun dengan perlengkapan seadanya. Maka dari itu, Sidra rela mengeduk habis peti hartanya demi membayar beberapa tentara liar dari Nagart yang kabur ke pelukan stepa. Tak banyak memang, tapi setidaknya cukup untuk saat ini.

Bisa dilihat bahwa kekeraskepalaan Khan telah melebihi akal sehatnya. Belum rampung ia menghimpun, ia sudah memaksakan diri untuk datang menemui Sidra di sini, di tanah lapang dekat kota Tiansheng ini. Sidra sudah bisa melihat mereka sekarang, karena tak ada apapun yang menghalangi pandangannya dari ketinggian bukit tempatnya berada, begitu jauh dari barisan prajurit-prajuritnya yang bersiap mempertahankan diri dari serbuan. Matanya yang lebih tajam daripada seekor elang pemburu menangkap bendera berlambang tapal milik sang penguasa stepa meliuk diterpa angin. Saat ini Khan sedang berbincang dengan dua orang bawahannya sementara para penunggangnya yang setengah-siap menanti-nanti, sudah bisa melihat pasukan Sidra menunggu di sisi yang lain.

Mereka tak tahu Sidra berada di sana, karena ia telah memfungsikan Gelarnya sekarang. Sebagai seorang Bayangan Digdaya Aliran Hitam, Sidra dapat menyembunyikan sosoknya dari pandangan orang, baik yang awam maupun yang memegang Gelar sekalipun. Kalau ada yang melayangkan pandangannya ke arah bukit, tak ada apapun kecuali titik gelap yang akan segera hilang begitu kelopak mata berkedip. Sebenarnya fungsi utama Gelar yang ia pakai sekarang bukanlah seperti ini, tapi Sidra mengakui bahwa kegunaan sekundernya cukup membantu.

Bawahan Khan yang sedang diberi amanat dan instruksi mengangguk-angguk khidmat, kemudian melambaikan tangannya, yang disambut oleh lambaian dua bendera yang dipegang oleh anak buahnya di sisi yang lain.

Sebuah sinyal, sebuah komando.

Sidra tak perlu menebak-nebak apa arti dari lambaian kain bendera itu, karena segera setelah pesan dapat dimengerti, ratusan anak-buah Khan segera maju, tapal kuda-kuda mereka mendompak tanah dengan penuh semangat.

Sidra menjilat bibir begitu busur-busur ditarik dari sisi kanan pelana oleh masing-masing tangan para penunggang Khan. Segera, mereka memasang kemudian secepat kilat melepaskan anak panah yang tak ayal lagi melesat menuju para prajurit Sidra, yang ditengah kepanikan dan perintah-perintah menyalak dari para kapten segera mengangkat perisai kayu. Sidra berdecak melihat inkompetensi itu.

Kecerobohan para prajurit Sidra dibayar dengan luka tusukan anak panah, beberapa langsung roboh meregang nyawa sementara beberapa yang paling tabah segera menggantikan mereka yang berada di barisan depan, sementara Sidra berdecak untuk kedua kalinya.

Prajurit-prajurit bodoh. Mereka bahkan tak tahu taktik para penunggang kuda stepa itu seperti apa. Ia bisa maklum dengan para rekrutan dari kota mengingat mereka tak lebih dari petani dan pedagang yang dipaksa untuk berperang, tapi Sidra berharap lebih dari prajurit yang melarikan diri dari Nagart mengingat mereka pernah dididik oleh militer.

Para penunggang kuda stepa memang tak pernah langsung menghantam barisan lawan, berbeda dengan para ksatria dari Brytisia yang akan mengandalkan tombak besar dan pakaian baja mereka untuk merusak barisan musuh hingga kocar-kacir. Para penunggang stepa akan menggunakan taktik pukul-lari, menembakkan anak panah lalu mundur lagi begitu diserbu, selalu begitu sampai musuh dibuat empuk lumat dan kelelahan, kemudian baru barisan khusus yang paling kuat maju untuk menghantam, untuk menghabisi musuh yang telah diempukkan.

Sidra benci untuk mengakui ini, tapi para prajurit yang dikumpulkannya memang payah. Sembari mengeluh, Sidra mengangkat tangannya begitu para penunggang sekali lagi maju untuk kembali menggunakan busur.

Begitu anak panah melesat, tanpa tunggu waktu Sidra segera menggunakan Gelarnya yang lain.

Pertama tak terjadi apa-apa, sementara para prajurit Sidra seolah sudah dibuat pasrah, perisai kayu mereka yang akan menjadi penentu antara hidup dan mati.

Tapi, tepat pada saat terakhir begitu panah turun menukik dan akan mencabut nyawa, gundukan tanah serta kumpulan batu melesat ke atas, menangkisi panah yang segera teralihkan atau menancap elemen pembentuk utama bumi tersebut. 

Teriakan-teriakan tak percaya terdengar dari barisan Khan. Sang pemimpin sendiri segera menyalak keras, bahkan sampai terdengar dari tempat Sidra berdiri, dan pembawa benderanya memberikan sinyal lagi.

Sementara itu, Sidra dengan hampir malas-malasan melambaikan tangan lagi.

Amukan anak panah yang kedua kembali tertangkis, sementara para prajurit Sidra gegap-gempita mengejek sambil mengangkat senjata untuk memukul-mukul perisai layaknya penabuh genderang, seolah-olah menantang para penunggang untuk menyerbu sekali lagi.

Itu membangkitkan amarah Sang Khan, yang kembali menyalak, sementara anak-buah pemegang benderanya bergegas melambaikan bendera, kali ini dalam sinyal yang berbeda.

Para penunggang utama Khan, yang memakai baju besi serta kuda-kuda besar beserta tombak mengerikan langsung bereaksi, busa memenuhi mulut kuda-kuda garang yang dipecut keras-keras demi menumbuhkan kebuasan sehingga mereka tak segan untuk mendompak dan menggigit lawan jika telah sampai pada tujuan. Mereka melaju cepat tak terbendung bagai air bah menuju pasukan Sidra yang segera merapatkan barisan, pemegang tombak berada paling depan. Tak semengerikan Ksatria Brytisia tentu saja, tapi menghadapi tentara Sidra yang setengah-terlatih, itu lebih dari cukup.

Justru, inilah yang sedari tadi Sidra tunggu-tunggu.

Suara hantaman kuda seberat hampir seribu kati serta penunggangnya yang menabrak pasukan bersenjatakan tombak-perisai begitu memekakkan telinga. Bahkan dari tempatnya yang cukup jauh, Sidra bisa dengar. Dilihatnya barisan depannya roboh, kemudian belakangnya lagi, kemudian belakangnya lagi hancur tercecer seperti butir padi dilindas oleh roda perkasa kereta kuda, amis darah segera terbawa angin kemana-mana. Tepat pada barisan kelima momentum para penunggang kelas berat mulai hilang. Mereka melambat, sementara tanpa buang waktu para prajurit terutama yang bersenjatakan tombak mengincar kuda serta penunggangnya.

Sidra tertawa kasar. Saatnya turun tangan.

Dengan kecepatan yang sangat gila, dia melesat menuju tempat Sang Khan duduk, dan sosoknya pun tersingkap. Inilah tujuan mengapa ia menunggu alih-alih langsung menyerbu sendirian. Walaupun sangat sakti, Sidra merasa enggan untuk menghadapi gempuran para prajurit kelas berat milik Sang Khan seorang diri. Oleh karena itu, ia menunggu mereka maju untuk melawan anak buahnya sebelum memutuskan untuk benar-benar turun gelanggang.

Dua prajurit yang berada di sisi luar, yang sepertinya merupakan pengawal pribadinya mencoba menghentikannya, tapi melawan Si Tanpa Tanding di Kolong Langit tentu saja mereka tak ada apa-apanya. Dalam satu sentakan dua sisi tangannya merobek dada, kemudian menyingkirkan kedua prajurit yang langsung roboh menjemput ajal.

“Kau!” Sang Khan mengumpat berang, sementara sebuah cemeti panjang mendadak muncul begitu saja ditangannya.

“Aku.” Sidra berucap tenang sembari menyingkirkan noda darah dari kukunya.

“Mengapa menyerang sekutu sendiri, wahai Putera Syaidrin Nagart?! Sudah hilangkah akal sehatmu?!”

“Hmm, sebentar,”Sidra memegang dagu seolah sedang berpikir keras, tak acuh pada belasan pengawal pribadi Khan yang mulai mengelilinginya sambil menodongkan senjata. “Kalian mungkin sekutu waktu aku masih putra dari ayahku, tapi sekarang aku lebih dari itu. Sekarang turun dari tahtamu dan bersujud, Khan. Bersujud dan berikan Gelarmu, maka aku akan mengirimmu pada pengadilan Hakim Barzah tanpa derita.”

Khan mengertakkan gigi, sementara sosoknya yang begitu besar berdiri dari tandunya, zirahnya yang dibentuk sehingga mirip sisik-sisik naga berkilat tertimpa cahaya, cemeti terangkat siaga. “Jangan harap aku berlutut semudah itu, Putera Syaidrin. Ayah dari ayahmu mungkin telah mengalahkan pendahuluku, tapi aku tak akan semudah itu ditumbangkan.”

Sidra memejamkan mata. Dia memang mengakui bahwa perkataan Khan ada benarnya. Gelar Khan memberikan banyak kemampuan dalam bertempur, termasuk kepiawaian tingkat dewa dalam menunggang kuda serta memimpin pasukan. Alasan kedua mengapa Sidra enggan menghadapi Sang Khan saat bertarung di medan laga, saat ia tengah menunggang kuda. Lagipula, area yang mampu dicakup oleh api yang dapat dipanggilnya cukup kecil sehingga tak akan mampu langsung meluluh-lantakkan seluruh lawan. Namun, saat ia sedang sendiri dan dikelilingi sedikit kroco ini, peluang Sidra makin besar untuk mengalahkannya dengan cepat sebelum para penunggang utama kembali.

Sidra mengangkat kedua belah tangannya yang telah diselimuti api. Matanya yang semula terpejam membuka, dan Neraka datang ke dunia.

Tanah meretak saat lumatan api membuncah, memakan semua termasuk tandu Sang Khan sendiri dan para pengawalnya. Pengawal Khan menjerit, berguling, bahkan memohon ampun, namun perhatian Sidra bukan pada mereka.

Dilihatnya sang penguasa stepa melompat turun dari tandunya yang terbakar. Tubuhnya memang dijilat api, namun sepertinya ia terbuat dari bahan yang lebih kuat daripada para pengawal pribadinya. Sang Khan berteriak sekuat tenaga untuk mengalihkan rasa sakit akibat tubuhnya yang melepuh, sementara cemetinya menyambar, mengincar leher Sidra.

Cemeti itu menjerat lehernya. Menjerat, dan mulai mengetat seolah tak ingin buang waktu untuk memberikan sedikitpun jeda pada Sidra.

Mungkin Sidra akan tamat saat itu juga, lehernya putus dan kepalanya berguling kemudian dimakan oleh Neraka yang dipanggilnya sendiri, tapi Sidra tak ingin mati di sini. Tidak saat keinginannya untuk menggapai Kahyangan semakin dekat.

Sidra memanggil mustikanya, dan jerat Sang Khan terputus sabetan sebuah sabit besar yang berkilat-kilat.

Sang Khan menarik sisa dari cemetinya yang terpotong, kakinya sudah tak mampu untuk menyangga badan sehingga ia jatuh hanya disangga oleh salah satu lututnya. Matanya mencerminkan api, yang masih garang membakar badannya yang makin hancur. Ia hanya melihat sebuah kilatan dari sabit hitam mengancam tubuhnya sebelum kegelapan menelan penglihatannya.

--

Terdengar suara gong yang dipukul keras-keras, dan beberapa penunggang kuda Khan yang berada di tengah kecamuk dengan para prajurit Sidra menoleh. Pertama sosok itu nampak jauh, namun kian lama kian dekat, sementara ketakutan mencekam semuanya yang berada dalam pertarungan. Entah mengapa, terasa ada sesuatu yang lebih dalam suara gong yang dipukul terus menerus itu. Semuanya membeku dalam gerak masing-masing, sementara sosok-sosok itu kian dekat.

Pertama, yang dapat ditengarai adalah seorang lelaki yang sedikit kulit lengannya terbakar, sebelah pakaian yang seharusnya sepanjang lengan telah hilang entah kemana, menunjukkan luka segar hasil lumatan api. Para penunggang Khan mengenalinya sebagai pengawal pribadi Khan yang paling terampil, kini nampak terkalahkan di atas pedati yang ditungganginya. Tangannya masih memukul-mukul gong, yang suaranya terbawa angin seperti lagu kematian.

Sementara itu, bayangan gelap yang berada di samping pedati menepi, memperlihatkan satu sosok dengan kulit luar biasa pucat, rambutnya yang putih panjang melambai dimainkan angin yang senantiasa berhembus dalam alam bebas stepa.

Sosok itu tidak bertangan kosong. Tidak. ia memegang sebuah bola yang diselimuti jaring, dan mengangkat benda itu ke udara.

Para penunggang kuda segera turun dari tunggangan mereka begitu tahu apa yang dibawa olehnya. Bukan bola yang diselimuti jaring, bukan. Melainkan sebuah kepala, yang walaupun wajahnya telah rusak akibat luka masih dapat dikenali sebagai kepala pemimpin mereka.

Pedati berhenti, dan Sidra mengikuti geraknya. Sejenak kesunyian hanya dipecah oleh suara gong yang bertalu-talu.

Kemudian, serentak, para prajurit Sidra berlutut, menyembah. Tanpa jeda, para penunggang kuda paling elit seantero Birma segera mengikuti gerak menghamba mereka, sementara suara gong masih bertalu-talu menyayat hati, seolah mengabarkan bahwa stepa telah jatuh, stepa telah jatuh ke tangan seorang yang kejam, yang masih menggenggam kepala pria yang beberapa saat lalu masih berdiri untuk menentangnya. Seolah mengabarkan, bahwa siapapun yang menentang pria berkulit pucat itu akan mengalami nasib yang sama. mati, mati, mati, dan gong masih bersuara, bercerita bahwa dalam pertempuran yang kelak akan dinamai sebagai Pertempuran Api dan Gong ini, kemenangan berhasil diraih oleh Radasidra dari Wangsa Nagart.

--