Episode 78 - Ngeselin



“Aku berangkat!”

“Tunggu!”

Di depan rumah, Bagas telah siap untuk berangkat ke sekolah. Dengan seragam yang telah lama tak dia pakai dengan lengkap.

“Ada apa?”

Erina yang berlari dari dapur ke depan rumah untuk menghentikannya – terlihat malu untuk mengatakan sesuatu.

“Kenapa sih?”

“Um, itu, aku tahu ini sangat memalukan untuk kita melakukannya sekarang. Tapi, mengingat sekolah sama halnya seperti pergi bekerja, aku... apa kamu... itu...”

Sangat sulit untuk mengatakannya. Tetapi Bagas tahu maksudnya, dan itu membuat pikirannya sedikit kacau.

“E – enggak mau ya...”

Itu adalah perkataan yang membuat Bagas tak bisa menolak.

Dia akan melakukannya – melihat-lihat dulu ke sekeliling – tetapi ada satu syarat.

“Tutup matamu.”

Erina terkejut, tetapi dia tak menolak. Tak lama setelah dia menutup mata, sebuah kecupan bersarang ke atas keningnya.

Dia terkejut dan menutup mata. Namun tanpa disangka, wajah Bagas masih sangat dekat dengannya. Mereka berdua menjadi salah tingkah karenanya.

“E-eh, y-ya, ya, ehem. Gitulah. Karena sudah. Jadi aku berangkat.”

“Um, have a nice day.”

Itu benar-benar memalukan. Kalau saja ada seseorang yang melihat mereka melakukan itu, dia pasti akan memukul kepalanya sampai seseorang itu melupakan kejadian yang dia lihat.

Tak lama setelah dia cukup jauh meninggalkan rumah. 

“Uh~ huh~ Uh~ huh~ Uh~ huuh!”

Suara seseorang – sebuah nyanyian dengan irama yang menyebalkan datang mendekat padanya. Setelah suara itu cukup dekat – karena suara itu memang bertujuan untuk mengganggunya – Bagas menyikut suara itu tepat di perutnya.

“Ugh! Huwek!”

Suara itu membungkuk, dan Bagas berbalik. Tak hanya itu, dia memegangi kepala suara itu dan berniat untuk memukulnya dengan dengkul.

“W-WOI-WOI! Tunggu dulu!”

Suara itu memberontak.

“Ampun! Ampun!”

Bagas mengurungkan niatnya untuk menghilangkan ingatan, dan menggantinya dengan siksaan. Kepala Beni ditarik dan diapit antara tubuh dan tangan kanan. Bagas berjalan dengan kondisi Beni yang seperti itu.

“Ampun bos! Ampun! Tadi gak sengaja ngeliatnya!”

“Tapi tetep aja kau ngeliat kan!”

“YA! Ya, tapi kan gak sengaja!”

Bagas terus berjalan sambil menarik tubuh – kepala Beni di tangannya. Hal itu terus berlanjut, sampai mereka masuk ke jalan utama desa.

“Huwek! Buset! Sesak oi!”

“Mau lagi?”

“E-enggak bos. Ampun.”

Di jalan ada banyak orang yang lewat, dan tujuannya sama dengan mereka, meskipun begitu Bagas takkan segan-segan kalau dia memang mau.

“Tapi yah –“

“Hm?”

“Ini udah hampir sepuluh tahun, kau bersikap dingin kaya Sasuke, tapi sekarang, kau bersikap seperti Naruto, gak terlalu mikirin masa lalumu yang kelam. Apa kepalamu terbentur sesuatu? Atau sebenarnya itu semua Cuma bagian alter ego yang sekarang sudah kau pendam?”

Perkataannya terdengar keren di pertengahan, tetapi berakhir ketika dia mengatakan sesuatu yang serius di akhir dengan wajah yang menjengkelkan.

“Meh. Memangnya menurutmu yang mana?”

Itu pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Tetapi apa salahnya menebak.

“Alter ego. Soalnya, keren aja gitu kalau kau punya dua kepribadian.”

Jawabannya tak ada salahnya. Tetapi tingkahnya yang memalukan – menyembunyikan hampir seluruh wajahnya dengan satu tangan – membuat semuanya terlihat berantakan.

“Jadi maumu yang mana?”

“Huh?”

“Kau bilang tadi kalau ‘punya’ kan, gimana kalau ‘gak punya’?”

“Yah, berarti kepalamu kejedot sesuatu gitu.”

Bagas tak menjawab. Beni semakin penasaran karenanya.

“Jadi yang mana dong!?”

“Persepsimu gimana emangnya?”

Benar-benar bikin penasaran. Tetapi pertanyaan Bagas membuatnya kembali tenang dan berpikir.

Dia benar-benar berpikir. Bahkan terdengar beberapa kali deheman yang keras sewaktu dia berpikir.

“Alter ego.”

“Terserahmu dah.”

Benar-benar tidak bisa diterima. Tetapi Beni tidak menyerah untuk mencari jawaban.

“Kalau memang alter ego, aktingmu benar-benar bagus sih.”

“Kenapa disangkutpautkan ke akting pula...?”

Pembicaraan terus berlanjut. Sampai mereka hampir menuju ke perempatan yang akan membawa mereka ke sekolah.

Di kejauhan sana, mereka yang memakai seragam yang sama seperti Bagas dan Beni, melihat ke arah dua orang itu. Bertanya-tanya, siapa murid yang terlihat sangat akrab dan sedang bertengkar dengan Beni.

Rambut hitam pekat dengan warna biru langit di kedua mata. Mereka belum pernah melihatnya sebelumnya.

“Kau! Ah! Iya-iya! Ampun bos!”

Tak tahu apa yang terjadi antara mereka berdua, tetapi Bagas berakhir memelintir tangan Beni ke belakang tubuhnya, dan mendorong Beni dengan posisi itu.

“Dibilangi bukan apa-apa juga.”

Bagas terus berjalan sambil mendorong Beni yang merasa tak berkutik. Sampai di bawah bukit mereka bertemu dengan Evan dan Riski.

“Oi, Ceng!”

Evan yang mulai menyapa mereka berdua. Mereka berhenti – Bagas berhenti menyiksa Beni dan mereka saling berhadapan.

“Oi!”

Beni membalas. Di belakang Evan, Riski menyapa dengan melambaikan tangan kanan.

“Ceng, sini bentar.”

Dalam jarak lima meter, Evan maju dan menarik Beni.

“Apaan?!”

“Itu siapa dah?”

Evan menyinggung keberadaan Bagas. 

“Oh, itu...”

Beni hampir keceplosan mengatakan kalau itu adalah Bagas. 

Beni memisahkan diri dari dua sahabat itu dan kembali ke posisi sahabatnya. Mendekat dan membisikkan sesuatu.

“Sini.”

Bagas mendekatkan kupingnya, dan Beni mulai mengatakan sesuatu yang Evan dan Riski tak bisa dengar. Setelahnya, Bagas mulai mengangguk-angguk dan menatap dua sahabat itu.

“Yo, wassap gaes.”

“Y-yo, em fain tengkyu.”

“Ngaco banget bahasa inggrismu.”

“Biarlah, keren juga kok didengerin. Lagian ni orang juga sama.”

Riski tak tahu kenapa, tetapi pemuda yang di depannya – dan juga Beni sedang menyembunyikan sesuatu dari mereka.

“Jadi, lu siapa, anak baru?”

“Ya, begitulah.”

“Ooh.”

Evan menerima begitu saja kalau pemuda di depannya adalah anak baru – atau anak pindahan menurutnya. Di sisi lain, Riski merasa kalau dia pernah melihat pemuda itu sebelumnya. Tetapi di mana?

Mereka mengobrol sembari kembali berjalan.

“Pindahan dari mana?”

Dia masuk di pertengahan semester, pastinya dia berasal dari sekolah lain sebelum masuk ke SMK mereka.

“Dari mana?”

“Kau tanya aku, aku tanya siapa kocak!”

Bagas tak memikirkan sampai di situ. Beni juga sama.

“Lah!?”

“Ah hah hah hah, bercanda-bercanda. Um, dari mana ya?”

“Begimana dah. Bekas sekolah sendiri aja gak tahu.”

“Bukannya begitu sih. Kalau kuberi tahu pasti kalian kaget, kenapa aku bisa nyangsang ke sini.”

“Nyangsang? Jadi dari mana dah?! Bikin penasaran aja.”

Evan tak memerdulikan peringatan Bagas dan tetap bertanya.

“SMAN 1 Jakarta.”

“Buset!”

Tak hanya Evan yang memelotot, tetapi Riski juga. Karena tempat yang diberitahu Bagas bukanlah tempat yang biasa di dengar. Apalagi oleh murid biasa seperti mereka.

“Dari SMAN 1 lu nyangsang ke sini, begimana ceritanya?!”

Bagas takkan mau memberitahu. Karena dia juga tak tahu bagaimana ceritanya.

“Terus, gimana kalian bisa saling kenal?”

Riski bertanya mengenai hubungan Beni dan Bagas.

“Ya, kakek nenekku tinggal di sini. Jadi aku sering main-main ke kampung.”

“Ooh.”

Satu hembusan suara itu keluar dari mulut Riski dan Evan di saat bersamaan.

“Jadi, masuk jurusan apa lu? Terus kelas satu atau dua?”

“Satu jurusan seperti kalian. Untuk tahunnya, yah, kita liat aja nanti.”

“Hah?”

Evan sudah sangat penasaran dengannya. Namun kelihatannya Bagas harus berpisah dengan mereka saat sudah sampai di pintu gerbang.

“Aku kudu ke kantor dulu. Nanti kita ngumpul lagi.”

Evan sangat menyayangkan kepergiannya. Dan dia beralih ke Beni dan segera menginterogasinya.

“Apaan dah?!”

“Itu siapa woi?! Wong(Orang) ganteng. Terus warna matanya biru lagi.”

Evan tak melihat ke arah mana Bagas berjalan dan hanya menyibukkan Beni. Sedangkan Riski terus memandanginya – Bagas yang berjalan dan mendekati Penjaga Gerbang.

“Pagi Kek!”

“Pagi Mas Bagas.”

Saat itu dia menyadari. Matanya memelotot. Otaknya berputar cepat.

“Kau kenapa woi?”

***

Pagi itu adalah pagi yang cerah. Tak disangka dia langsung bertemu dengan teman sekelasnya, yang tak mengenali penampilannya yang baru.

Wajar saja mereka tak bisa mengenalinya. Karena sejak awal mereka juga – dia juga jarang menampakkan diri ke publik dan teman-teman sekelasnya.

Jantungnya entah kenapa berdebar kencang. Saat mengetahui kalau teman sekelas yang tak pernah dia ajak bicara langsung berusaha akrab dengannya.

Tetapi, apakah mereka masih mau bersikap yang sama, kalau mereka tahu kalau itu adalah dia. Seorang anak yang tertimpa musibah dan membuat kepribadiannya berubah.

Tak pernah mau dekat dengan orang lain selain dirinya sendiri.

“Berharap aja mereka mau menerimanya.”

~ Beberapa menit setelahnya.

Di kantor para petinggi, Bagas ragu saat ingin memasuki ruangan.

“Masih ragu untuk menerimanya?”

Tanpa sadar seseorang berdiri dan berbicara padanya dari belakang. Itu adalah Euis dengan wajah ceria. Bukan seseorang yang masih terkejut seperti yang kemarin.

“Aku gak pernah mau duduk lama-lama di kursi itu. Dan selalu membawa pergi semua kertas yang harus kukerjakan, ke tempat di mana aku bisa mengerjakannya sendirian.”

Penyesalannya benar-benar tak bisa dihindari. Euis tahu itu.

“Aku selalu membuat dua adik kelasku untuk mengerjakan dan mendatangi semua rapat. Mereka mungkin membenciku sekarang.”

“Apa benar begitu?”

“Memangnya tidak benar?”

“Kenapa gak cari tahu aja sendiri.”

Euis mendekat ke pintu, membukanya, dan mempersilahkan Bagas untuk masuk. Dia memasuki ruangan dengan langkah kaki yang terasa berat. Dan mendapati beberapa kursi kosong, dan sisanya telah terisi oleh mereka yang sudah sibuk bekerja.

Mereka sibuk dengan kertas-kertas yang ada di tangan, sehingga tak terlalu menaruh banyak perhatian kepada Bagas. Kecuali satu orang yang tak bisa tak menaruh perhatian kepada sesuatu yang dianggapnya menarik.

Tuh anak kaya kenal. Tapi siapa yak?

Bagas berjalan ke meja yang masih kosong. Meja yang memiliki tanda “Jurusan TKJ” dan ada namanya di sebelahnya.

Oh, Bagas, iya, dia Bagas, memangnya siapa lagi yang punya mata sebiru kaya gitu.

Meja itu tak terlalu membawa banyak kenangan padanya. Tetapi tetap saja itu adalah hal yang berharga dan harus dia tanggung jawabi dengan serius.

“Mereka mungkin jam segini gak bakal datang.”

“Aku juga gak tahu apa aku bakal datang ke sini nanti siang.”

Dia sudah melakukan sejauh itu. Tetapi keraguan masih tetap menyerang perasaannya.

“Oi!”

Terkejut. Ada seorang pemuda besar yang mendatangi mereka.

“Ben.”

Itu adalah pengurus jurusan Teknik Kendaraan Ringan yang datang dengan ekspresi ceria dan terkejut di wajahnya.

“Oi, Euis...”

Ben dengan kepanjangan Benyamin. Salah satu bocah betawi yang bisa mengendalikan semua berandalan di sekolah. Melihat ke mata Bagas dengan tatapan yang tajam.

“Hei-hei, jangan mulai pertengkaran, oke.”

Bagas tak memiliki pilihan lain selain membalas tatapan itu dengan tatapan yang sama. Sampai beberapa saat, Benyamin mulai tertawa terbahak-bahak.

“Huaha hah hah hah hah!”