Episode 256 - Kesepakatan



Bulir-bulir air hujan deras menerpa. Dedaunan besar-besar bergegar, lalu menyatukan bulir-bulur air menjadi lebih besar, kemudian menjatuhkan air ke sisi-sisi daun atau mengalirkan melalui batang-batang pepohonan nan berdiri megah. Berkat pepohonan yang berdaun besar dan lebat, air hujan tak langsung mendarat di permukaan tanah. Basah tiada hadir secara merata. 

Hujan nan lebat ini telah mengguyur sedari subuh, dan berlanjut hingga pagi ini. Suasana terasa sejuk dan tenteram. 

Lima ahli melangkah di sela-sela lebatnya rimba. Kelimanya mengenakan mantel hujan berwarna gelap. Tak lama, langkah kaki mereka terhenti. Di hadapan, adalah sebuah danau nan luas. Danau ini terletak jauh di pedalaman, yaitu di perbatasan wilayah selatan dengan wilayah tengah Pulau Logam Utara. Tak banyak ahli yang datang berkunjung ke danau ini, karena khabar angin yang beredar dan mengungkapkan bahwasanya danau tersebut didiami oleh binatang siluman yang teramat berbahaya. Mata Air Burra-Burra adalah sebutan bagi danau tersebut. (1)

“Tuan Guru, apakah kakek Rahampu’u berkata jujur? Benarkah Danau Mata Air Burra-Burra ini aman? Beberapa warga kota tambang yang diriku temui, melarang keras siapa pun mengunjungi danau angker ini…”

“Hei!” tetiba Kum Kecho berseru. 

Di depannya, Melati Dara sedang berupaya melepas pakaian kulit nan ketat mengkilap. Setengah telanjang, sebelah payudaranya menyembul ringan. Putih dan lembut. Bulir-bulir air hujan nan dingin, secara tak sengaja dan tak dinyana, jatuh menerpa sebelah payudara tersebut. Sebulir air lalu menghantam telak sebulir sesuatu tepat di sudut depan payudara, yang kemudian terlihat jelas mengacung ibarat dalam gerak lambat. Sebentuk payudara itu pun mengenyal, membuat sekujur tubuh gadis belia tersebut menggelinjang… (2)

“Aaakh…” Melati Dara terlihat kegelian, di saat yang bersamaan, meresapi perasaan itu secara mendalam. Entah apa yang sedang ia bayangkan. 

“Hei!” Kum Kecho kembali berseru. 

Di samping Melati Dara, Hongke Riro bahkan telah bertelanjang bulat. Atasan tanpa lengan dan rok rumbai-rumbai yang terbuat dari daun sagu kering, demikian mudahnya ditanggalkan. Hanya kulit kerang yang dirangkai menjadi kalung di leher, yang masih tersisa.  

Meskipun payudaranya terkesan datar, air hujan yang mengalir di kulit tubuh berwarna cokelat tua terlihat jelas adanya. Air terus meliuk-liuk menyapa pinggul menawan, kemudian terus mengalir, memasuki ke sela-sela di antara paha. Wilayah di antara dua paha, yang mana sepantasnya telah ditumbuhi rambut selayaknya kebanyakan gadis belia, tiada terlihat berambut. Bak sepasang pipi nan tembam, wilayah tersebut seolah terlalu lembut untuk dielus. Diperhatikan saja sudah jauh dari memadai. 

“Dingiiiinnn…,” kesah Hongke Riro. 

“Apa yang kalian lakukan!?” 

“Tuan Guru, bukankah kita hendak menangkap binatang siluman di dalam danau…?” Melati Dara berujar santai, sepasang payudara dengan bulir-bulirnya kini telah menyibak kencang. 

Seruni Bahadur mengangkat rok pendek yang ia kenakan. Angin pun menerpa paha nan besar. 

“Kau jangan mencontoh yang tak benar!” hardik Kum Kecho ke arah gadis bertubuh bongsor itu. “Kalian kenakan pakaian saat ini juga! Tak ada yang akan berenang!” Kum Kecho mengacungkan jari telunjuk ke arah Melati Dara dan Hongke Riro.

Atas permintaan Rahampu’u sang pandai besi termahsyur, Kum Kecho bersama dengan budak-budaknya itu mengunjungi Mata Air Burra-Burra. Di danau tersebut, mereka diminta untuk menangkap seekor binatang siluman, yaitu seekor ikan nan langka yang hanya hidup di danau ini. Nantinya, tulang ikan tersebut akan dimanfaatkan sebagai salah satu bahan yang diimbuhkan ke dalam senjata yang sedang ditempa. 

“Bagaimana mungkin menangkap ikan bilamana tiada mengarungi danau…?” keluh Melati Dara sambil mengenakan kembali pakaian nan ketat. Keluhan yang terdengar dari nada bicaranya, memang ditujukan kepada si Tuan Guru. Ia ingin menampilkan diri apa adanya kepada sang pujaan hati tersebut, akan tetapi selalu saja mendapat penolakan demi penolakan. 

“Kita akan menunggu di sini!” 

Akibat hujan deras, pagi itu permukaan danau Mata Air Burra-Burra dilapisi kabut tebal. Pandangan mata dibuat terbatas. Pantauan mata hati pun sungguh sulit menembus, bahkan bagi ahli dengan kemampuan mata hati tingkat tinggi sebagaimana Kum Kecho. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk lebih baik menunggu. 

Hujan deras telah berubah menjadi rintik gerimis. Sebentar lagi, bila hujan tak kembali bercucuran, maka wilayah danau akan dapat ditelusuri dengan lebih baik. Di tempat yang tak dikenal, Kum Kecho tak hendak bertindak gegabah.

Hari beranjak malam. Kum Kecho masih sabar menanti. Melati Dara terlihat sebal sehingga menghabiskan waktu dengan bermain-main di pinggiran danau. Dahlia Tembang dan Seruni Bahadur berlatih bersama, sementara Hongke Riro berada di kejauhan, berbicara seorang diri kepada tonggak patung bis. 

“Apakah gerangan itu!?” seru Melati Dara sambil mengacungkan jari telunjuk. Cahaya rembulan memantulkan sesuatu yang mengapung tenang di tengah danau.

Tanpa seruan Melati Dara pun, Kum Kecho telah terlebih dahulu mendapati akan adanya sebuah perahu katinting yang mengapung ringan di tengah danau. Perahu katinting merupakan perahu khas masyarakat setempat. Ia terbuat dari kayu, berdinding pendek dan berbentuk ramping dengan panjang sekira enam sampai sepuluh meter. Berbeda dengan sampan atau peledang yang biasa memiliki dua sisi lancip di haluan dan buritan, perahu katinting hanya memiliki satu sisi lancip di haluan, sedangkan bagian buritan dibuat rata saja. 

Kecapung Terbang Layang! 

Kum Kecho melompat cepat. Segera ia melesat bersama binatang siluman peliharaannya untuk memeriksa perahu katinting tersebut. Setelah mengitari beberapa kali dan mengamati dari kejauhan, ia pun mendarat. Perahu sedikit terombang, meriakkan air danau yang menjauh secara perlahan.

“Wahai Tuan Ahli,” sapa Kum Kecho ramah. “Apakah dikau hari ini ada menagkap binatang siluman Ikan Buttini Tengkorak…?”. 

Di hadapan remaja tersebut, duduk memegang joran, adalah seorang lelaki berperawakan tua dan bongkok, mirip Rahampu’u. Meskipun demikian, Kum Kecho mendapati bahwa aura yang menyibak dari sosok tersebut demikian unik, sehingga ia menyimpulkan bahwanya bukan sembarang ahli. Paling tidak… adalah siluman sempurna! 

“Keturunan… Wangsa Syailendra… dari trah Sanjaya…,” gumam lelaki tua bongkok itu, terbata-bata. Namun demikian, tiada ia mengindahkan pertanyaan basa-basi dari Kum Kecho. 

Kum Kecho bertahan untuk tetap tenang. Meski di dalam benak, ia dibuat sangat terkejut. Dari manakah tokoh ini dapat menebak sampai demikian akurat!? Apakah sebelumnya telah diberitahu oleh Rahampu’u…?  

“… dikaruniai raga… raga yang paling tangguh di antara keturunan Wangsa Syailendra lain…” Kakek tua bongkok itu masih saja bergumam. Akan tetapi, tiada sekali pun ia menoleh ke arah lawan bicaranya itu. Perhatian hanya terpusat kepada joran, kail dan permukaan air danau. 

“Wahai Tuan Ahli… siapakah gerangan dikau…?” Kum Kecho kembali membuka percakapan. 

“Wahai keturunan Sanjaya… maukah dikau menjalin sebuah kesepakatan…?” Lelaki tua itu tetiba menanggapi. Nada suaranya sedikit berubah, mencerminkan sesuatu kehendak yang sulit dibendung.   

“Kesepakatan…?” Kum Kecho terlihat penasaran. “Kesepakatan seperti apakah gerangan…?”

“Aku akan menyuguhkan kekuatan… Sebagai imbalan, aku menginginkan darah Wangsa Syailendra… kesemuanya… Sanjaya… Balaputera… Isyana… Airlangga…”

Mendengar permintaan lelaki tua bongkok itu, Kum Kecho sontak mundur selangkah. Tak lagi dapat ia menahan gejolak di dalam diri. Gerakan remaja tersebut yang spontan, membuat perahu sedikit terombang.

Lelaki tua bongkok menoleh kepada Kum Kecho. Wajahnya demikian uzur, bahkan kelopak matanya sudah tiada bertenaga lagi, sehingga hampir menutup bola mata. Walau, dari celah kelopak yang masih tersisa, terlihat kegelapan yang seolah tiada berbatas. 

Kum Kecho terdiam seribu bahasa. 

“Jikalau engkau menolak, maka akan ku… LAHAP!” 

Seketika itu juga suaranya lelaki tua bongkok itu berubah garang! Wajah yang tadinya tua dan renta berubah beringas! Sepasang tanduk mencuat dari sisi atas pelipisnya, telinga meruncing, dan kulit wajahnya menampilkan sisik-sisik kehitaman yang tak merata. Ia kemudian membuka mulut lebar-lebar, yang dipenuhi dengan taring-taring nan bergerigi tajam! 

“Iblis!” sergah Kum Kecho sambil melompat tinggi. Di udara, Kecapung Terbang Layang sigap menyambut. 

Suasana danau yang sedianya tenang, kini berubah mencekam! Kum Kecho segera menyadari bahwa sebuah ancaman besar telah hadir di depan mata. Secepatnya ia memberi perintah kepada tunggangannya untuk melesat terbang, kembali ke tepi danau. 

“LARI!” teriak Kum Kecho ke arah keempat gadis belia yang saat ini sedang berkumpul dan memantau situasi dari pinggir danau. Betapa mereka terlihat sebagai kudapan nan lezat. 

Terlambat! Si iblis telah tiba tepat di belakang keempat gadis belia. Dengan satu kibasan lengan, keempatnya segera terpental jatuh ke semerata penjuru! 

Kum Kecho menggeretakkan gigi. Segera ia melompat dari atas tunggangan. 

Kendatipun demikian, keempat gadis tersebut mendarat dengan baik di permukaan bebatuan yang licin. Jalinan rambut Melati Dara mengembang dan menancap ke tanah sebagai upaya menjaga keseimbangan, lalu mengambil wujud kelopak bunga. Gelombang getaran bunyi berbentuk seperti spiral, yang menahan tubuh Dahlia Tembang, kemudian berubah wujud menjadi sebuah gerbang megah yang membentengi sisi depan. Kedua gadis ini memanglah berbakat dan berpengalaman. Keduanya telah melalui tempaan berat dari si Tuan Guru, sehingga cukup cekatan bahkan di kala menghadapi serangan yang datangnya mendadak. 

Seruni Bahadur mendarat di kejauhan. Dengan sigap, ia kemudian melompat ke depan dan siap sedia melontarkan pukulan-pukulan tangan kosong. Hongke Riro menancapkan tiang bis bertingkat tiga yang ia gunakan untuk menahan diri agar tak terpental lebih jauh, kemudian ia memanggul tiang besar tersebut ke posisi di antara Melati Dara dan Dahlia tembang. 

Demikian, keempat gadis belia menyusun formasi bertahan. Mereka berdiri berbaris secara zig-zag. Seruni Bahadur memasang kuda-kuda, ia mengambil posisi di garis depan. Di sisi kanan belakang adalah Dahlia Tembang, yang memasang unsur kesaktian gelombang getaran bunyi sebagai perisai bagi rekan di depan, serta pertahanan tambahan di sisi kiri dan kanan. Sekilas, gelombang getaran bunyi tersebut mengambil wujud yang mirip sekali dengan gerbang megah di ibukota lama Sastra Wulan, lengkap dengan matahari bersudut delapan di posisi tengah, walau ukuran gerbang tersebut lebih kecil dari aslinya. Hongke Riro bersama tiang bis bertingkat tiga, berdiri di urutan ketiga, di mana ia dapat dengan leluasa memantau keadaan guna melancarkan serangan. Paling belakang adalah Melati Dara, di mana alinan rambutnya terkembang berbentuk kelopak bunga yang bersiap menangkis serangan, dari mana pun arah datangnya nanti. 

Si iblis, di lain sisi hanya diam di tempat. Dada naik turun dan napasnya terengah. Agaknya, teleportasi jarak menengah yang ia kerahkan memakan sangat banyak tenaga dalam, atau memang tenaga dalamnya memanglah sangat terbatas. Serangan yang ia kerahkan pun tiada terlalu mematikan. Yang mengerikan dari dirinya, adalah wajah dan auranya saja. 

Kum Kecho mendarat tepat di hadapan keempat gadis belia. Tentu kondisi memperihatinkan dari si iblis tersebut tiada lepas dari pengamatannya. 

“Dikau lemah… wahai Tuan Iblis…,” tegur Kum Kecho. “Sepertinya dikau telah menghabiskan terlalu banyak waktu di dunia ini…”

Si iblis hanya menatap dalam diam. 

Meskipun menyadari bahwa iblis yang berdiri di hadapannya dalam keadaan lemah, Kum Kecho tak hendak mengambil risiko. Sebaiknya cepat meninggalkan tempat ini. Pengetahuan yang sangat terbatas akan bangsa iblis, membuat Kum Kecho merasa sangat tak nyaman. Lebih baik jangan bermain-main dengan api, bahkan bilamana api tersebut kecil dan lemah adanya. Api tetaplah api, apabila memperoleh kesempatan, maka akan melahap segala. 

Selain itu, Kum Kecho hendak memastikan atas alasan apakah Rahampu’u mengirimkan dirinya kepada sang iblis itu? Apakah disengaja dengan niatan mencelakai? Mungkinkah siluman sempurna itu tiada menyadari keberadaan sang iblis…? Apakah kejadian yang sedang berlangsung saat ini merupakan kebetulan belaka? Tak mungkin, siluman sempurna sekelas Rahampu’u pastilah memiliki alasan tersendiri. Kum Kecho hendak segera menuntut jawaban yang pantas dari pandai besi ternama itu. 

Hanya dengan lambaian tangan, Kum Kecho memberi aba-aba kepada keempat gadis belia. Sepenuhnya mereka menyadari bahwa kali ini sebaiknya mundur dari pertarungan. Sesuatu yang sangat tak nyaman mengusik di lubuk hati. 

Akan tetapi, di kala Kum Kecho bersama para pengikutnya hendak menarik diri, tanah di sekeliling mereka berubah menjadi debu, lalu melayang mengelilingi! Pandangan mata kabur, pantauan mata hati tiada dapat menembus! 

“Lupakan tawaranku tadi… Alangkah beruntungnya aku bersua dengan keturunan Wangsa Syailendra, dari trah Sanjaya pula,” si iblis berujar senang. 

Debu hampir tiada memiliki arti. Akan tetapi, debu sebagai unsur kesaktian yang dikendalikan oleh ahli nan piawai, dapat menjadi kekuatan nan digdaya. Gumpalan debu yang melayang menggiring keempat gadis belia menjauh, lalu beranjak membungkus tubuh Kum Kecho. Gumpalan debu yang semakin padat, membuat remaja lelaki tersebut kesulitan bergerak.

“Aku, Belial, menginginkan raga Sanjaya… Dengan melahap raga itu, maka aku akan memperoleh kembali setidaknya seperempat dari kekuatan sejatiku!” 

Belial si iblis melangkah mendekat. Tindakannya ini terlihat sangatlah pelan, bahkan terkesan seperti gerak lambat. Kemungkinan besar, saat ini ia sedang mengerahkan segenap tenaga dalam yang tersisa demi mengunci tubuh sasarannya itu.

Tapak Cahaya Suci! 

Kum Kecho mengerahkan bauran jurus. Gabungan antara jurus Tapak Suci milik Sang Maha Patih Gadjah Mada dan unsur kesaktian yang diturunkan oleh Permaisuri Tritungga Bhuwanadewi merompak habis kegelapan malam. Berkas cahaya menerobos gumpalan debu, dan di saat itu terjadi, Kum Kecho melepaskan diri! Segera ia melesat ke arah keempat gadis belia, serta sekali lagi merapal jurus yang sama demi melepaskan mereka dari belenggu debu. 

“Duak!” 

Di kala Kum Kecho membelakangi lawan, serta dalam upaya merapal jurus, sebuah serangan telak menghantam pundaknya! Remaja lelaki tersebut lengah, sementara si iblis tak mudah menyerah. Dengan segenap kekuatan yang masih tersisa Belial melesat dan menghantamkan tubuh!

Keempat gadis belia belum sempat dilepaskan dari gumpalan debu yang mengurung diri mereka. Kum Kecho jatuh menggelangsar! Sekujur tubuhnya bergetar. Ia terbatuk-batuk, menyipratkan darah segar. (3)

Belial menghentakkan telapak kakinya ke dada remaja yang berusaha hendak bangkit. Masih cukup perkasa ia untuk menghenyakkan tubuh nan lemah. Kum Kecho kembali terbatuk memuntahkan darah. 

“Manusia… engkau belum mampu mengerahkan kemampuan raga selayaknya seorang Sanjaya. Tiada usah khawatir, aku akan memanfaatkan tubuhmu dengan baik.” Di saat yang sama, Belial membuka telapak tangan hendak mencengkeram kepala remaja nan tiada berdaya!

“Grab!”

Kum Kecho mencengkeram pergelangan tangan yang mana jemarinya sedikit lagi membekam wajah…

“Aaarrgghh…”

Tetiba Belial merasa sangat kesakitan, ibarat ditusuk besi nan panas. Sontak ia menyentak lengan dan melompat mundur. Kedua matanya melotot. Baru kini ia sadari bahwa… 

“Cincin itu…” Suara si iblis terdengar gemetar. “Itu… itu… Cincin Penakluk Iblis!” 

Dengan segenap daya upaya, Kum Kecho bangkit untuk bertumpu pada satu lutut. Ia memandangi sebentuk cincin berwarna hitam di jari manis tangan kiri. Sesosok lelaki dewasa berambut acak dan berjanggut tebal, berpakaian compang-camping, dan ditemani oleh seekor binatang siluman yang senang berceritera, mencuat di dalam benaknya. Beberapa waktu lalu, lelaki dewasa mirip gelandangan itu pernah menyelamatkan dirinya itu, kemudian memberikan cincin tersebut sebagai cendera mata perpisahan. 

Belial melangkah mundur beberapa langkah. Raut wajahnya, walau dipenuhi sisik, jelas terlihat gelisah. 

Kum Kecho, hanya karena naluri saja, mengalirkan sedikit tenaga dalam ke arah cincin yang tersemat di jarinya itu. Tetiba, sebuah formasi segel berpendar, yang mana susunannya terlihat sangatlah rumit. Pemahaman remaja ini terkait formasi segel sangat terbatas adanya. Ia hanya mampu merapal formasi segel terkait penyimpanan dan pemanggilan binatang siluman melalui Kartu Satwa. Di saat yang sama, benaknya berpikir. Ia kini yakin bahwa Paman Balaputera memanglah seorang ahli dari trah Balaputera. Wangsa Syailendra mana lagi yang piawai dalam merapal formasi segel. Akan tetapi, ‘Balaputera’ siapa? Yang jelas bukan Balaputera Dewa, karena sewaktu kecil ELang Wuruk pernah bersua dengan sang penguasa Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Kemungkinan PAman Balaputera adalah salah satu ahli dari sembilan keluarga bangsawan di sana, simpul Kum Kecho. 

Si iblis Belial kini berdiri tegar. Ia sepenuhnya menyadari akan bahaya yang mengintai. Kendatipun demikian, harga diri sebagai bangsa iblis tak membuat ia gamang kepada makhluk rendahan seperti manusia. Demikian, ia membiarkan saja formasi segel yang berpendar melingkupi tubuh, yang kemudian perlahan menarik dirinya ke dalam sebuah lorong dimensi… 

“Mari kita menjalin kesepakatan…,” ujar Kum Kecho pelan. 



Catatan: 

(1) Mengacu kepada Danau Matano di Sulawesi Selatan

(2) menggelinjang/meng·ge·lin·jang/ v 2 bergerak-gerak karena geli

(3) tergelangsar/ter·ge·lang·sarv tergelincir rebah; terjatuh ke muka

(4) ‘Balaputera’ memberikan sebentuk cincin kepada Kum Kecho di dalam Episode 65