Episode 46 - Hadiah


“Siapa mereka Shin?” tanyaku ditengah perjalanan menuju cahaya hitam pekat. 

“Mereka dari Perguruan Singo Kencana, perguruan tempat ayahku dulu berlatih silat,” jawab Shinta tanpa ragu-ragu padaku.

Oh, pantas saja mereka bisa menjelajah bersama Shinta, ternyata mereka memang memiliki hubungan dekat dengan Shinta. Tapi aku jadi semakin penasaran dengan latar belakang Shinta, mengingat saat berhadapan dengan orang dari Sekte Inti Bulan, kedua orang yang datang bersama Shinta itu tampak siap pasang badan demi Shinta. Tapi kurasa itu adalah pertanyaan untuk waktu yang lain. 

“Kau juga berpisah dengan bang Genta?” Shinta balik bertanya padaku. 

Aku hanya menganggukkan kepala tanpa mengucapkan sepatah katapun. Shinta sendiri tidak lagi bertanya setelah melihatku menganggukkan kepala. Kami berdua kembali fokus menuju arah cahaya hitam pekat, sementara orang-orang dari Perguruan Singo Kencana, Perkumpulan Angin Utara, dan Sekte Inti Bulan berkelebat susul menyusul dengan kami. 

Beberapa menit kemudian, kami sudah sampai di area tengah darimana cahaya pekat hitam itu berasal. Cahaya pekat itu berasal dari puncak bangunan yang cukup tinggi berbentuk silinder dengan banyak jendela kecil disekelilingnya. Sedangkan sekeliling bangunan tinggi itu adalah lapangan besar berbentuk bundar tanpa bangunan sama sekali.

Saat sampai disana, aku melihat sudah ada banyak pendekar dari berbagai kelompok persilatan berkumpul disana. Mereka berkumpul dalam kelompok-kelompok besar dan berdiri saling berjauhan antara kelompok satu dan kelompok lain. Kulihat beberapa dari mereka, baik kelompok maupun individu tampak saling lirik dengan tatapan penuh kebencian. Tapi tampaknya mereka mampu menahan diri untuk tidak saling serang. 

"Oh Riki! Bagus kau masih hidup. Jadi aku bisa mengulitimu perlahan sampai kau memohon kematian.” Belum sempat aku melihat lokasi tepatnya cahaya hitam pekat itu berasal, sebuah suara sudah menggangguku dari belakang.

Siapa lagi orang yang kurang kerjaan memprovokasiku kalau bukan Bowo, dia menatapku seperti seekor hyena menatap impala. Aku hanya melengos dan tak memperdulikannya lagi.

“Kau!” Bowo langsung berseru marah melihat sikapku, namun aku hanya diam saja dan berpura-pura tak mendengar suaranya. 

Awalnya kupikir Bowo akan bertindak lebih jauh setelah melihatku tidak menanggapinya, tapi ternyata dugaanku salah, karena pada saat itu dia hanya diam saja meskipun ekspresi wajahnya menunjukkan kebencian padaku. Mungkin karena pada saat itu orang-orang dari Perkumpulan Angin Utara berdiri dekat denganku.

“Rik, bagaimana kamu bisa terlibat masalah dengan Bowo dari Perguruan Sanca Kembang?” 

Tiba-tiba saja Shinta berbisik padaku, kulihat ekspresi wajahnya tampak sangat gusar. 

“Oh, kau juga kenal dengan Bowo?” 

Aku tak menyangka Shinta akan kenal dengan Bowo, berarti memang Bowo sudah cukup terkenal dikalangan dunia persilatan. 

“Tentu saja aku kenal dengannya, namanya cukup terkenal dikalangan pendekar tahap penyerapan energi. Dia itu terkenal senang cari masalah dan kejam,” jawab Shinta setengah berseru padaku. Tampaknya dia benar-benar khawatir soal perseteruanku dengan Bowo. 

“Oh, dia suka cari masalah? Pantas saja dia cari masalah denganku,” jawabku asal-asalan. 

Shinta tampak sedikit tertegun dengan jawabanku, entah apa yang ada dibenaknya, tapi dia hanya mendengus kesal padaku sambil menghentakkan kakinya ke tanah. Lalu dia menyilangkan tangannya di dada dan memalingkan muka dariku. 

Aku sendiri merasa heran dengan sikap Shinta itu, kenapa dia tampak begitu khawatir padaku. Lalu kenapa dia seperti merasa sangat kesal saat aku tak begitu menanggapi kekhawatirannya? 

Tapi aku memutuskan tidak terlalu memikirkan hal tersebut dan mulai mengedarkan pandanganku ke sekeliling guna mencari anggota Kelompok Daun Biru yang lain. Saat itu kuperhatikan begitu banyak pendekar dari berbagai kelompok usia berkumpul di tempat itu, tua muda, laki-laki dan perempuan, dengan berbagai ciri khas mereka masing-masing.

Dan salah satu yang menarik perhatianku adalah seorang lelaki muda dengan luka sayatan besar di mukanya. Sayatan itu melintang dari kening tengahnya lalu melewati matanya sebelah kiri hingga ke dagu kiri, karena sayatan itulah mata sebelah kirinya buta. Aku langsung membayangkan seandainya dia berjalan di tengah dunia awam, kira-kira bagaimana reaksi orang-orang awam melihat wajah semengerikan itu. 

Lalu ada lagi seorang pemuda dengan pakaian yang dipenuhi oleh bercak darah. Wajahnya yang tampak seusia denganku meskipun tampak tenang namun memancarkan aura dingin mengerikan. Saat aku tengah memandanginya, tiba-tiba saja dia memutar kepalanya ke arahku seakan merasakan kalau sedang kuperhatikan. Saat pandangan kami saling berbenturan, dia langsung menyeringai buas dan membasahi bibirnya dengan lidah. 

Pada saat itu Shinta tiba-tiba saja memegang tanganku dan menarikku dengan cepat. 

“Apa yang kamu lakukan Rik? Jangan mencari masalah lagi.”

“Hah? Cari masalah darimana?” tanyaku bingung setengah mati. Aku hanya berdiri diam tanpa melakukan tindakan apa-apa, kecuali mengedarkan pandanganku ke sekeliling. 

“Lalu kenapa kau menatap Danu?”

“Remaja yang pakaiannya berlumuran darah itu?”

“Dia peringkat dua Perserikatan Tiga Racun!” seru Shinta setengah berbisik. “Dia itu nggak waras, dan lebih ganas dari Bowo, kemungkinan besar dia juga sedang mengincar Kelompok Daun Biru. Kita harus ekstra hati-hati terhadapnya.”

Jantungku langsung berdesir mendengar kata-kata Shinta barusan. Ternyata laki-laki yang berlumuran darah itu berasal dari Perserikatan Tiga Racun, bukankah itu berarti dia akan segera menghabisi kami begitu dia tahu kami dari Kelompok Daun Biru. Akupun langsung memasukkan lelaki bernama Danu itu kedalam daftar orang-orang yang berbahaya, orang-orang yang perlu kuhabisi jika ada kesempatan...

“Apa kau melihat bang Genta atau Maman atau Arie, Shin?” Aku tak lagi membahas si Danu dan bertanya tentang keberadaan anggota Kelompok Daun Biru. 

“Belum.” Shinta menggelengkan kepalanya perlahan.

Tepat pada saat itu, pandanganku membentur beberapa orang yang baru saja datang ke wilayah tengah dan segera mengenali wajah salah seorang diantara mereka. Bang Genta!

Kulihat bang Genta berjalan dengan sedikit tertatih-tatih, sementara dibelakangnya berjalan seseorang dengan kedua tangannya tertutup perban, yang bukan lain adalah Arie. 

Aku cukup terkejut melihat Arie berhasil selamat dengan kondisi seperti itu. Namun aku segera menepis keterkejutanku dan mulai melangkah mendekati mereka setelah sebelumnya memberi isyarat pada Shinta. 

“Mau kemana Shin?”

Salah seorang yang tadi mendampingi Shinta dari Perguruan Singo Kencana langsung bertanya begitu melihat kami meninggalkan posisi kami. 

“Temanku disana,” jawab Shinta singkat. 

Disisi lain, Unggul dan rombongan Perkumpulan Angin Utara juga melihat kami pergi, namun mereka hanya diam saja. 

“Riki, Shinta!” bang Genta berseru senang ketika melihat kami berdua berjalan mendekatinya. 

“Bang Genta, Arie, syukurlah kalian selamat,” ucap Shinta begitu kami berada di dekat bang Genta. 

Bang Genta menganggukkan kepalanya sambil tersenyum mendengar ucapan Shinta, sedangkan Arie hanya tersenyum lesu.

“Kalian kok bisa barengan?” tanya Shinta lagi.

“Iya, kebetulan aku membopong Arie saat masuk kemari, jadi kami tidak terpisah saat tiba didalam markas rahasia ini,” jawab bang Genta.

“Oh, syukurlah.” Shinta tak berhenti tersenyum semenjak melihat bang Genta dan Arie berdiri dalam kondisi baik-baik saja di depannya. 

“Ngomong-ngomong, kalian bertemu dengan Maman?” bang Genta balik bertanya. 

“Nggak bang.” Aku dan Shinta sama-sama menggelengkan kepala. 

Tiba-tiba saja sudut mataku menangkap Danu si peringkat dua Perserikatan Tiga Racun juga berjalan cepat menuju ke arah kami. Perasaanku langsung menjadi sangat tidak enak, aku punya firasat akan ada kejadian buruk sesaat lagi. Karena itu diam-diam aku mulai mensirkulasikan tenaga dalamku untuk berjaga-jaga seandainya terjadi bentrok dengan Danu. 

“Ck..ck..ck... Masih ada anggota Kelompok Daun Biru yang hidup rupanya. Hai Genta.” Danu menyeringai buas sambil menatap kami satu persatu. 

“Danu!” bang Genta berseru kaget ketika melihat siapa yang baru saja bicara. Sedangkan Shinta dan Arie langsung tersurut mundur dengan ekspresi wajah sangat tegang. 

Aku sendiri yang sudah melihat kedatangan Danu sebelumnya hanya menatap tajam ke arahnya, sambil menimbang-nimbang tingkat kesaktiannya dan tindakan yang harus kulakukan seandainya Danu memulai pertarungan dengan kami. Mengingat dia peringkat dua di Perserikatan Tiga Racun, kesaktiannya tidak mungkin dibawah Unggul. Antara penyerapan energi tingkat sebelas atau mungkin sudah mencapai penyerapan energi tingkat dua belas. Selain itu serangannya dapat dipastikan mengandung racun, karena itu aku harus sangat hati-hati jangan sampai terserempet serangannya sekalipun.

Tampaknya, aku harus bertindak ekstrim kalau ingin mengalahkannya. Menggunakan jurus iblis darah dan pisau pasak Sadewo, serta memanfaatkan Kelereng Pengering Jasad. Semoga saja dia tidak kebal pada racun Kelereng Pengering Jasad seperti anggota Perserikatan yang kubunuh saat menyelamatkan Reza sebelumnya. 

“Apa yang kau inginkan?!” Suara bang Genta terdengar sangat tegang.

“Bukan apa-apa, hanya...” Tiba-tiba Danu menggerakkan tangannya dan menyerang dengan cengkraman tangan ke leherku yang berdiri paling dekat dengannya. Dari fluktuasi energi yang dia keluarkan saat menyerangku, aku langsung tahu dia sudah mencapai tahap penyerapan energi tingkat kedua belas! Satu tingkat diatas Unggul!

“Awas Rik!” Shinta dan Arie berteriak kencang, sementara bang Genta sudah bergerak menyambut serangan Danu dengan tendangannya. Namun karena serangan Danu sangat cepat, tendangan bang Genta terlambat menahan cengkraman Danu. 

Sayangnya Danu salah memilih sasaran, aku yang sudah sejak tadi mensirkulasikan darah dan tenaga dalamku langsung menyambut cengkraman tangan Danu. Karena kuat dugaanku serangan Danu mengandung racun, aku tetap memilih tidak menggunakan cakarku untuk menahannya meskipun darahku kebal racun, aku tidak ingin mengambil resiko. Karenanya aku memilih menggunakan pisau pasak milik Sadewo. 

Aku menyabetkan pisau pasak itu ke pergelangan tangan Danu. Karena kecepatan jurusku melebihi kecepatan jurus Danu, maka pisauku sampai ke pergelangan tangannya lebih dulu dibandingkan cengraman tangannya ke leherku. Danu sendiri tampaknya tak menyangka aku dapat melayani serangannya dengan mudah, sehingga dia sempat berseru kaget sebelum menarik tangannya menghindari sabetan pisauku. 

Namun aku tidak berniat melepaskannya begitu saja, setelah melihat Danu menarik cengkraman tangannya, aku tak membuang waktu dan langsung menyusulnya dengan dengan menghujamkan cakarku ke jantungnya. Bersamaan dengan itu, tendangan bang Genta tiba dari sebelah kananku dan mengincar iga kirinya. 

Tapi sepertinya Danu memang bukan pendekar tahap penyerapan energi biasa, dengan mudah dia dapat menghindari seranganku dan bang Genta dengan memutar tubuhnya kesamping kiriku. Lalu dia memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan sebuah pukulan yang menimbulkan bau amis, sasarannya kali ini adalah kaki bang Genta yang masih mengapung di udara. 

Bang Genta sendiri hanya bisa berseru tegang melihat pukulan Danu menderu ke kakinya tanpa bisa ia hindari. Tampaknya saat itu bang Genta sedang mengalami luka yang tidak ringan, sehingga gerakannya kaku dan lamban. Akhirnya aku juga yang harus mengambil tindakan dan menghalau pukulan Danu dengan cakar tangan kiriku. 

Dess!

Danu tersurut mundur hingga dua langkah sedangkan aku jatuh terjengkang ke tanah akibat adu pukulan sakti itu. Tangan kiriku juga terasa nyeri dan dingin, persis seperti efek pukulan yang dikeluarkan oleh Lodan walaupun efeknya tidak seganas pukulan Lodan. Meskipun demikian, aku merasakan darah di dalam tubuhku bereaksi dan langsung menawarkan rasa dingin di tangan kiriku. Bersamaan dengan itu, cairan biru tua berbau amis merembes keluar dari pori tangan kiriku. Ternyata darahku mampu mendesak racun pukulan Danu keluar dari tubuhku dengan mudah. 

Aku langsung melompat bangkit dan mengibas-ngibaskan tangan kiriku untuk membuang cairan racun yang baru saja merembes keluar. Pada saat itu, entah kenapa hatiku senang sekali melihat Danu terbengong-bengong melihat pukulan saktinya tidak mempan pada diriku. 

“Penyerapan energi tingkat delapan!” Shinta berseru kaget setelah melihatku beradu hantam dengan Danu dan menyadari kalau kini aku berada pada tahap penyerapan energi tingkat kedelapan. Namun aku tak menghiraukannya dan kembali fokus pada Danu. 

Dzing!!

Akan tetapi tepat pada saat itu, cahaya hitam di atas bangunan tinggi menghilang dan suara menggelegar dahsyat memenuhi seantero tempat itu. 

Semua orang yang ada ditempat itu langsung mengalihkan pandangan mereka pada asal suara tersebut, termasuk aku dan Danu. Kulihat disana telah berdiri seorang lelaki paruh baya berpakaian serba hitam, wajahnya tenang tak menunjukkan ekspresi apapun. Dia hanya memandangi kami para pendekar tahap penyerapan energi di sekeliling bangunan tinggi dengan kedua tangan diletakkan dibelakang. 

“Selamat datang!”

Lelaki paruh baya itu melayang turun dari bangunan tinggi seperti kapas yang terjatuh dari ketinggian, lembut dan tanpa suara. Jelas sudah tingkat kesaktian orang itu jauh-jauh lebih tinggi daripada kami semua yang ada disini. Seketika itu juga suasana di tempat itu menjadi sangat hening, seandainya ada sebatang jarum yang jatuh di tempat itu, suara dentingannya pasti akan terdengar jelas.

“Sebagian besar dari kalian mungkin bertanya-tanya, kenapa aku mengundang kalian kemari...” Lelaki paruh baya itu berjalan bolak-balik tetap dengan kedua tangan diletakkan dibelakang. “Itu karena aku ingin memberikan hadiah pada kalian, yang telah berhasil masuk ke dalam tempat ini.”

Mendengar ucapan lelaki paruh baya tersebut, sebagian pendekar tampak antusias sedangkan sebagian lagi langsung tampak tegang. Aku sendiri termasuk yang tegang, karena makna ‘hadiah’ masih ambigu buatku. 

“Namun karena hadiah yang akan kuberikan jumlahnya tidak banyak, tentu tidak semua dapat menerimanya... Karena itu...” Lelaki paruh baya itu tersenyum tipis. “Kalian harus bersaing untuk mendapatkannya. Bagi mereka yang berhasil menang, akan menerima pusaka Sekte Pulau Arwah, Pisau Penghalau Sukma. Dan mewarisi jurus rahasia Sekte Pulau Arwah.”

Pada kejap itu juga, seluruh tempat itu langsung bergemuruh oleh antusiasme para pendekar yang ada disana. Hadiah yang ditawarkan oleh lelaki paruh baya itu bukan main-main. Pisau Penghalau Sukma adalah pusaka utama milik Sekte Pulau Arwah dengan kemampuan yang mampu mengguncangkan dunia persilatan. Sedangkan jurus rahasia Sekte Pulau Arwah adalah jurus tingkat penyucian jiwa, mereka yang mempelajarinya memiliki kesempatan menjadi pendekar tahap penyucian jiwa!

Jangankan para cecunguk tahap penyerapan energi seperti kami, seandainya para ketua perguruan dan kelompok persilatan sendiri yang datang kemari. Mereka juga akan sangat antusias dan berusaha mati-matian mendapatkan hadiah tersebut!