Episode 38 - Masing-masing dari mereka


Tiba-tiba, dari arah langit, empat sosok turun dan kemudian berdiri di tengah arena pertarungan. Mereka adalah Focalor, Idos, Vaberian, dan Sorcas.

“Tanpa membuang waktu lagi, mari kita saksikan pertarungan dari para pemberani.” Teriak Focarol membungkam semua suara di arena pertarungan.

“Hanya tiga orang yang akan terpilih, jadi bertarunglah dengan seluruh kemampuan kalian.” Ucap Idos dengan keras.

“Tidak ada peraturan, yang perlu kalian lakukan hanyalah bertarung.” Sambung Vaberian sembil tersenyum kecil.

“Kalian boleh menjadi seorang pengecut, tapi jangan pernah menjadi seorang pecundang.” Ucap Sorcas sambil melirik Idos dan dibalas Idos dengan tatapan tajam.

“Baiklah, pertarungan dimulai.” Mereka berempat berteriak bersamaan lalu terbang ke langit tinggi.

Yang pertama bergerak adalah Dalpos, dia menendang tanah dan melesat menuju Gop. Meskipun dia membenci Raon, tapi dia lebih membenci Gop yang sering sekali mengejek suaranya yang melengking.

Jubah bulunya berkibar seperti sayap, dan dengan cepat Dalpos menarik sebilah pedang hitam dari balik jubahnya tersebut.

Gop tidak terkejut dengan serangan dari Dalpos, bahkan dia sudah memprediksi serangan ini. Dengan tenang Gop menyilangkan tangan di depan dadanya, lalu tiba-tiba semua kuku jarinya memanjang dan menjadi setajam pisau.

Serangan pedang dari Dalpos datang menuju leher Gop, akan tetapi dengan mudah Gop halau menggunakan lima kuku tangan kirinya, dan pada waktu yang bersamaan Gop juga menyerang Dalpos mengguanakan tangan kanannya.

Serangan Gop menusuk Dalpos, akan tetapi tidak melukainya, karena serangan itu tidak dapat menembus jubah bulunya.

Dalpos mundur selangkah lalu dengan cepat maju kembali untuk serangan lainnya.

Pedang dan kuku tajam dari Dalpos dan Gop saling bersilangan dan sesekali memercikan api.

“Haha, pedangmu bagus juga untuk merapikan kukuku.” Gop berkata dengan riang.

“Sialan! aku juga akan merapikan lehermu itu.” Dalpos berteriak marah.

Serangan pedang dari Dalpos semakin cepat dan brutal, akan tetapi tidak seakurat ketika dia sedang dalam kondisi tenang. Dan itulah alasan kenapa Gop memprovokasi Dalpos.

Semua serangan brutal dari Dalpos dapat dengan mudah Gop baca dan belokan, dia juga sesekali berhasil menyerang Dalpos dan membuatnya terluka ringan.

Gop berhasil melukai Dalpos setelah dia menyerang pada salah satu titik tubuh Dalpos, jubah bulunya akan berkumpul pada titik serangan tersebut. Dan pada saat itu juga Gop menyerang sisi tubuh lain dari Dalpos.

Meskipun bukan luka yang serius, akan tetapi itu tetap sebuah prestasi yang menakjubkan. Karena tidak banyak yang bisa membuat luka pada Dalpos yang biasa dijuluki sebagai perisai tertajam.

Karena sangat jarang ada serangan yang bisa menembus jubah bulunya, dan dia juga memiliki kemampuan pedang yang sangat dikagumi oleh banyak iblis lainnya.

Akan tetapi Dalpos memiliki satu kekurangan serius, ketika dia dalam emosi yang buruk, dia akan menjadi lebih brutal dan cepat. Namun, serangannya menjadi sangat mudah terbaca oleh musuh.

Dan sudah menjadi rahasia umum, salah satu cara paling efektif untuk membuat Dalpos menjadi marah adalah dengan menghina suaranya yang melengking.

Satu-satunya yang tidak mengetahui tentang hal itu hanyalah dirinya sendiri.

Sedangkan itu, di sisi lain arena, beberapa waktu sebelumnya.

Dengan gagah berani Raon berjalan mendekati Biloth. Jika bukan karena sayap gagak di punggungnya, maka sangat sulit untuk membedakan mereka berdua, karena mereka sama-sama memakai jubah hitam di seluruh tubuhnya.

“Ayo, lawan aku.” Raon berkata dengan suara yang berat, mencoba untuk menampilkan kesan kuat pada Biloth.

Dengan perlahan Biloth memutar kepalanya dan kemudian kedua mata mereka saling bertemu. Tanpa Raon sadari, dia mundur selangkah dan sedikit bergetar.

Biloth adalah iblis yang cukup terkenal, dia selalu sendirian dan tidak pernah ada orang yang mendengar suaranya. Banyak rumor yang beredar bahwa siapapun yang mendengar suaranya, maka dia pasti akan mengalami kematian yang tragis.

Lalu, rumor itu terus berkembang dan akhirnya tidak ada yang berani untuk mendekatinya.

Karena itu pula Raon merasa tertantang untuk melawan sosok yang ditakuti semua iblis tersebut. Tapi, dia tidak pernah berpikir bahwa dia akan terindimidasi hanya dengan menatap matanya.

Namun, bukannya membuat Raon ingin menyerah, tapi malah membuat dia menjadi semakin bersemangat.

Sedangkan itu, tanpa siapapun sadari, di balik jubah hitam yang menutupi wajahnya, Biloth terenyum dengan hangat.

‘Akhirnya ada yang mau mengajakku bicara.’ Pikir Biloth di dalam hatinya.

Biloth berpikir dengan keras untuk menampilkan kesan yang baik pada Raon, tapi dia tidak menemukan kalimat yang tepat untuk dikatakan. 

“....”

“Pada hari ini, aku pasti akan mengalahkanmu.”

“....”

Tidak ada jawaban dari Biloth.

“Apakah kau sudah siap?”

“....”

Masih tidak ada jawaban dari Biloth

“Sialan! siap tidak siap, aku akan menyerangmu.” 

“Ma-“ 

Biloth akhirnya berhasil menemukan apa yang ingin dia katakan, akan tetapi sayang sekali, Raon sudah datang dan melancarkan pukulan dengan tangan kanannya.

Namun, dengan sangat mudah Biloth mampu untuk menghinndari serangan tersebut.

Raon berdiri dan menatap tajam pada Biloth. 

‘Ma? Apa yang ingin dia katakan? Ma? Ma? mati? Ya, pasti itu.’ Pikir Raon di dalam hatinya. 

“Sialan! kaulah yang akan mati.” Raon berteriak dan melancarkan tinju pada Biloth.

Padahal, apa yang ingin Biloth katakan adalah ‘Mari kita berbicara terlebih dahulu.’

Semakin lama, tinju dari Raon semakin cepat hingga akhirnya Biloth tidak mampu menghindar dan terkena beberapa pukulan. 

Meskipun terkena beberapa pukulan, akan tetapi Biloth tidak mengalami luka yang parah. 

“Kenapa kau tidak menyerangku? Apakah kau pikir aku tidak pantas untuk kau serang?” Tanya Raon semnbari manatap tajam Biloth.

“Le-“

Bahkan sebelum Biloth mampu menyelesaikan ucapannya, otak Raon bekerja dengan cepat dan menyempurnakan kalimat yang mungkin akan Biloth katakan sesuai dengan apa yang Raon bayangkan.

‘Le? Lemah? Sialan! akan aku tunjukan kekuatanku yang sesungguhnya.’ Pikir Raon dalam hatinya.

Jika Biloth tahu apa yang Raon pikirkan, dia pasti tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Padahal apa yang sebenarnya ingin dia katakan adalah, ‘Lebih baik kita berbicara dulu.’ 

Sudah lama sekali sejak ada yang mengajak Biloth mengobrol.

Bahkan, beberapa hari yang lalu, Biloth melihat Focalor berbicara langsung dengan kandidat lainnya untuk mengikuti pertarungan ini, sedangkan dia hanya mendapat surat undangan.

Raon akhirnya menghentikan serangan brutalnya pada Biloth untuk mengambil napas sejenak. Sedangkan itu, Biloth akhirnya berhenti untuk mencoba berbicara dengan Raon. Dia sudah berusaha, akan tetapi Raon tidak berhasil. Jadi, dia memutuskan untuk segera mengakhiri pertarungan ini dengan segera.

Biloth membuka jubah yang menutup mulutnya dan memposisikan seruling emas di depan mulutnya. DMia akan segera mengakhiri pertarungan ini.

Sedangkan itu, di sisi lain arena lainnya, seorang iblis berdiri sendirian sembari memperhatikan dua pertarungan yang sedang berlangsung.

Dia adalah Egor.

Saat ini Egor sangat-sangat kebingungan. Di satu sisi, dia ingin bertarung, akan tetapi masing-masing kandidat lainnya sudah memiliki lawan masing-masing, jika dia masuk dan menyerang salah satunya, maka dia pasti akan di benci oleh yang dia serang, tapi, jika dia menyerang keduanya, pasti dia yang akan kalah lebih dulu.

Di sisi lain, jika dia hanya diam sembari menunggu pertarungan selesai dan dua kandidat lainnya kalah, maka dia secara otomatis akan menjadi pemimpin pasukan, karena dari lima kandidat yang saat ini sedang bertarung di dalam arena, hanya tiga yang terakhir berdiri di dalam arena yang akan mendapat posisi tersebut.

Namun, berbeda dengan kandidat lainnya yang mendapat posisi dengan bertarung, dia yang hanya menunggu tidak akan mendapat rasa hormat dari iblis lainnya dan dia juga tidak akan bisa mendapat kebanggaan dari posisi yang dia raih.

Kebanggan kosong.

Dan bagi Egor, itu tidak ada gunanya.

Maka dari itu, dia saat ini sangat-sangat kebingungan.

Setelah Egor pikirkan baik-baik, akhirnya dia memilih untuk bertarung. Dia akan secara paksa masuk ke dalam pertarungan. Bukan antara Gop dan Dalpos, ataupun Biloth dan Raon, melainkan antara mereka berempat, dia akan menyerang semuanya.

Benar, dia akan membuat arena pertarungan semakin meriah.

Di atas langit, Focarol, Vaberian, Forcas, dan Idos terbang sembari memperhatikan jalannya pertarungan di arena.

“Gop, di antara kandidat lainnya, dia adalah yang paling lemah, akan tetapi dia sangat pintar dalam mengaur strategi untuk mengalahkan musuhnya.” Ucap Focalor sembari melihat pertarungan antara Gop dan Dalpos.

“Di lain pihak, kandidat bernama Dalpos itu terlalu mudah dipengaruhi musuh.” Vaberian berkata sambil memegang dagunya.

“Benar, akan tetapi dia adalah yang paling hebat jika itu adalah urusan pedang.” Balas Focalor.

“Benarkah? Menurutku permainan pedangnya sangat mudah terbaca.” Ucap Forcas.

“Yah, jika dia dalam kondisi tenang, maka bisa dipastikan dialah pemenangnya, akan tetapi saat dia sedang dalam suasana hati yang buruk, begitulah cara bertarungnya.” Focalor berkata lalu mengela napas.

“Lalu, bagaimana dengan mereka berdua?” tanya Idos sembari menatap sisi arena lainnya, dimana Raon dan Biloth sedang bertarung.

“Raon, dia memiliki kemampuan untuk berpikir cepat, jadi bisa dipastikan, bahwa di antara semua kandidat lainnya, dia memiliki refleks dan pengambilan keputusan yang paling cepat, tapi sayangnya dia tidak mengusai kemampuan menggunakan senajata.” Jelas Focalor.

“Jadi itulah mengapa dia menggunakan tinjunya. Lalu, bagaimana dengan yang satunya?” Tanya Vaberian.

“Dia ... jujur saja, aku tidak tahu banyak tentangnya, tapi kalian tahu tentang insiden pembantaian para pemberontak tahun lalu, kan?” ucap Focalor sembari mengingat insiden berdarah tersebut.

Pada saat itu, terjadi pemberontakan, dan salah satu pemimpin pasukan dikirim untuk mengatasi masalah tersebut, akan tetapi saat dia datang, semua pemberontak telah menghembuskan napas terakhirnya.

Dan iblis yang berdiri di tengah kumpulan mayat tersebut adalah dia, Biloth.

“Jadi, maksudmu?”

“Benar, dialah yang melakukannya.” Ucap Focalor.

“Hebat sekali.” Vaberian berkata dengan kagum.

“Lalu, bagaimana dengan dia?” ucap Idos sambil menunjuk ke sudut arena, di mana Egor sedang berdiri sendirian.

“Dia ... aku juga tidak terlalu yakin, tapi aku rasa dia menyimpan sesuatu di dalam dirinya yang bahkan dapat membuat aku merasa sedikit takut.” Focalor berkata sambil melihat ke arah Egor.

“Apa? Benarkah?” Forcas merasa terkejut dengan apa yang dia dengar.

“Benar, aku tidak mungkin-”

“Hei, lihat, sepertinya dia akan melakukan sesuatu.” teriak Vaberian memotong perkataan Focalor.

Di arena pertarungan, Egor berdiri sendiri sembari melihat pertarungan empat kandidat lainnya. Ular berwarna pelangi yang melilit tubuhnya mendesis, bersamaan dengan aura mengerikan yang meluap dari tubuh Egor.

Dia sedang melakukan persiapan untuk memulai pertunjukan yang akan mengguncang seluruh arena.