Episode 21 - Duapuluh Satu


Malam itu Darra memandangi ponselnya dengan perasaan hampa. Agung tidak menjawab teleponnya atau membalas pesannya sejak sore tadi. Darra yang kebingungan untuk pulang, terpaksa bertanya pada sekuriti mal. Ia tidak tahu nama tempatnya tinggal, tapi setelah menjelaskan nama sekolah dan rutenya, untunglah sekuriti itu mengetahuinya dan menjelaskan caranya pulang dengan bus. Darra sampai rumah tepat lima menit sebelum Aline pulang, jadi ia tidak tahu bahwa Darra tidak berangkat ke sekolah.

Darra melihat kotak pesannya yang kosong. Dika juga tidak mengabarinya setelah meninggalkannya tadi. Bagaimana dia bisa tiba-tiba pergi saat mereka nonton film begitu? Bahkan filmnya belum setengah jalan. Darra yakin betul tadi Vina yang menelepon Dika. Ada urusan apa ya, sampai-sampai Dika nekat pergi tanpa berpamitan dan tidak memberi kabar sampai sekarang? Darra melengos. Sudah jelas sekali bahwa bagi Dika, Vina lebih penting.

Darra menekan nomor Bu Retno. Sejak kemarin nomornya tidak aktif. Sudah terlalu lama ponsel Darra mati. Ia menutup teleponnya karena lagi-lagi nomor Bu Retno tidak bisa dihubungi. Kemana ya Bu Retno? Tidak biasanya bundanya itu tidak mengaktifkan ponselnya. Pesan yang terakhir masuk juga sudah seminggu yang lalu, dan hanya berisi “Mbak Darra.” Darra cemas karena Bu Retno tidak pernah memanggilnya dengan sebutan Mbak.

Darra menyimpan ponselnya kembali lalu berbaring. Besok ia harus bangun pagi-pagi sekali karena Aline dan putranya akan pergi ke Singapura untuk berlibur, walaupun belum pembagian rapor, apalagi liburan. Darra tetap senang tinggal di rumah saja meskipun Aline tidak memperbolehkannya pergi selama liburan.

Rupanya saat Darra bangun keesokan paginya, Bi Atun sudah ada di dapur, sedang menyiapkan sarapan untuk Aline. Wanita paruh baya itu tersenyum melihat Darra.

“Padahal bangun agak siangan aja juga nggak apa-apa, Mbak,” kata Bi Atun. “Mas udah bangun?”

“Saya belum lihat,” kata Darra. Ia kembali ke atas lalu pergi ke kamar kakaknya. Ia berhenti di depan pintu kamar lalu mengetuknya. “Mas,” panggilnya. “Mas.”

“Hm.” Terdengar kakaknya menyahut dari dalam.

“Aku cuma mau pastiin Mas udah bangun,” kata Darra.

“Hm.”

Darra berpikir sebentar. “Kopernya udah diberesin? Ada yang perlu aku bantu?”

Tidak ada sahutan dari dalam. Darra menganggap itu sebagain jawaban “tidak”, jadi ia kembali turun untuk membantu Bi Atun.

“Bi Atun akan ada di sini sampai saya pulang. Jadi jangan kira mentang-mentang saya nggak ada, kamu bisa seenaknya di rumah, ya,” ujar Aline sambil duduk di meja makan. Darra hanya mengangguk sebagai jawaban.

Setelah itu Pak Dimas datang untuk mengantar mereka ke bandara. Namun, hanya Bi Atun yang ikut mengantar sampai halaman karena Aline melarang Darra berada di dekat kakaknya. Darra merapikan meja makan lalu membawa piring-piring kotor ke tempat cuci piring. Ia baru hendak mencuci piring ketika Bi Atung kembali ke dapur.

“Nggak usah, Mbak. Saya aja yang nyuci,” kata Bi Atun sambil buru-buru menghampiri Darra.

“Nggak apa-apa, Bi,” balas Darra.

“Jangan, Mbak. Saya kan di sini buat bantuin Mbak Darra. Masa Mbak juga yang beres-beres. Mendingan Mbak siap-siap berangkat sekolah aja. Nanti saya siapin sarapannya.”

“Makasih, Bi.”

Darra naik ke lantai dua lalu pergi ke ruangannya. Ia melihat ponselnya menyala. Rupanya pesan dari Rin yang memberitahu bahwa ia tidak berangkat ke sekolah hari ini karena sudah tak ada yang dilakukan lagi di sekolah. Darra jadi bimbang untuk berangkat atau tidak.

Kemudian Darra baru menyadari sesuatu. Ada sebuah pesan yang berisi informasi nomor telepon yang menghubungi Darra saat ponselnya mati. Ada nomor yang tidak dikenal yang mencoba menghubunginya berkali-kali. Siapa ya? Darra yakin tidak banyak orang yang tahu nomornya.

Darra mencoba menghubungi nomor itu. Setelah empat kali deringan, barulah ada jawaban.

“Halo?”

Darra terkesiap. Suara laki-laki. “Halo. Ini siapa ya?”

“Ini siapa?” laki-laki di seberang balik tanya.

“Waktu itu nomor ini telepon ke nomor saya berkali-kali.”

“Oh, Mbak Darra, ya?”

Darra mengerenyitkan dahi. “Iya. Ini siapa? Kok tahu nomor saya?”

“Saya Wawan, saudara tetangganya Bu Retno. Waktu itu saya diminta hubungin Mbak Darra untuk ngabarin kalau Bu Retno sakit.”

Darra terperanjat. “Bu Retno sakit? Terus sekarang gimana keadaannya, Mas?”

“Wah, saya kurang tahu, Mbak. Kemarin itu kebetulan aja saya lagi mampir. Sekarang saya udah di Jogja lagi. Waktu itu sih udah dibawa ke rumah sakit, tapi saya nggak tahu lagi kabarnya. Coba aja Mbak tanya sama anak-anak yang tinggal di rumah Bu Retno.”

“Oh, gitu. Ma—makasih ya,” ucap Darra terbata-bata. Ia menutup teleponnya dengan tangan gemetar.

Bu Retno sakit? Selama ini paling-paling beliau hanya kecapekan atau masuk angin. Dan biasanya akan langsung pulih setelah ia meminum jamu dan beristirahat. Tapi kalau sampai masuk rumah sakit seperti ini, pasti sakitnya cukup parah. Bagaimana ini?

Tanpa sadar Darra menangis tersedu-sedu. Sudah enam bulan sejak ia pergi meninggalkan panti asuhan, dan sekarang ia terkurung di rumah ini tanpa bisa melakukan sesuatu untuk menemui bundanya. Darra tidak memiliki nomor telepon tetangganya di sana. Satu-satunya akses hanyalah nomor telepon Bu Retno, dan nomor itu bahkan tidak bisa dihubungi.

“Kenapa, Mbak?” tanya Bi Atun yang tiba-tiba muncul di pintu.

“Ibu saya, Bi...” tangis Darra.

“Ibunya Mbak?” tanya Bi Atun bingung.

“Ibu saya di panti asuhan dibawa ke rumah sakit. Dan saya nggak tahu gimana keadaannya sekarang,” tutur Darra sambil terisak.

Bi Atun memandang Darra, ikut kebingungan. Dia di sini hanya untuk menemani putri majikannya itu, dan Aline sudah jelas-jelas melarangnya keluar dari rumah. Apa yang harus dia lakukan?

“Telepon Bapak aja, Mbak,” kata Bi Atun akhirnya.

Darra membuka ponselnya lalu dengan tangan gemetar berusaha mencari nama papanya di kontak. Ia menekan tombol telepon lalu menunggu. Namun, tidak ada jawaban. Darra mencoba menghubunginya kembali, tapi lagi-lagi tersambung ke kotak suara.

“Mungkin Bapak lagi sibuk, Mbak,” kata Bi Atun berusaha menenangkan Darra sambil mengusap-ngusap punggungnya.

Tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Nama Papa tertera di layar. Darra buru-buru mengangkat teleponnya.

“Maaf ya, Nak. Tadi Papa lagi ada tamu,” kata Papa dari seberang. “Ada apa? Kamu nggak sekolah?”

Darra menutup mulutnya dengan tangan untuk meredakan tangisnya. Namun, ia terisak hingga tidak mampu menjawab papanya.

“Andarra, ada apa?” tanya Papa cemas. Bi Atun langsung mengambil alih ponsel Darra.

“Pak, ini Bi Atun,” kata Bi Atun. “Maaf, Mbak Darra nggak bisa bicara. Mbak lagi sedih karena ibunya yang di panti asuhan dirawat di rumah sakit.”

“Oh ya? Sakit apa?” tanya Papa.

“Mbak Darra belum tahu keadaannya gimana,” jawab Bi Atun.

“Kalau begitu, nanti saya kirim orang untuk lihat ke sana, ya.”

“Pak, saya mohon maaf sebelumnya. Tapi bukankah lebih baik Mbak Darra yang ngeliat sendiri ke sana?”

Papa berdecak. “Tapi kan perjalanan ke Purworejo jauh, Bi.”

“Iya sih, saya tahu. Tapi kan pasti Mbak Darra akan lebih tenang kalau bisa nengokin langsung.”

Papa terdiam sesaat. “Coba, saya mau ngomong sama Darra,” katanya. Bi Atun menyerahkan ponselnya kembali pada Darra.

“Ya, Pa?” tanya Darra dengan suara bergetar.

“Kamu mau ke Bu Retno?” tanya Papa. Darra hanya mengangguk sebagai jawaban, walau dia tahu papanya tak bisa melihatnya. “Ya udah, tapi jangan sendirian, ya.”

“Tapi aku nggak boleh kemana-mana sama Tante Aline,” kata Darra.

“Nggak apa-apa. Nanti Papa yang bilang,” kata Papa. “Sekarang kamu siap-siap aja dulu, kemasi barang-barang kamu. Nanti Papa minta Pak Dimas ke rumah setelah nganterin mama kamu.”

Darra menutup teleponnya. Ia mulai merapikan pakaiannya ke dalam tas, dibantu oleh Bi Atun. Darra tidak tahu ia akan pergi berapa lama, jadi ia mengemas banyak baju ke dalamnya.

Pukul sebelas siang Pak Dimas tiba di rumah. Ia membantu Darra membawa tasnya lalu memasukkannya ke bagasi mobil.

“Hati-hati ya, Mbak,” kata Bi Atun saat Darra berpamitan dengannya.

“Maaf ya, Bi. Saya nggak jadi nemenin Bibi di sini,” kata Darra.

“Nggak apa-apa, Mbak,” balas Bi Atun. “Yang penting Mbak ketemu sama ibunya dulu. Kalau perlu, temenin sampai sehat. Baru nanti pulang ke sini lagi, biar Mbak jadi nggak kepikiran.”

Darra mengangguk. Setelah itu ia masuk ke dalam mobil, disusul oleh Pak Dimas. Mobil mulai melaju meninggalkan rumah. Darra duduk di jok belakang sambil memandang keluar jendela. Pikirannya terus dipenuhi oleh Bu Retno.

Kira-kira separah apa sakitnya sampai beliau tidak menyalakan ponselnya? Siapa yang menjaganya selama di rumah sakit? Lalu siapa yang mengurus adik-adiknya? Darra adalah anak tertua di panti itu. Tadinya ada Wulan yang sudah berumur empat belas tahun dan biasa membantu Darra dalam urusan rumah tangga. Namun, Wulan juga sudah diajak ke Sulawesi oleh sepasang suami istri yang mendatangi panti mereka, tepat sebelum Darra berangkat ke Jakarta. Darra senang Wulan mendapat keluarga baru. Karena omongan teman-teman di sekolahnya tepat, jarang ada yang mengadopsi anak yang sudah beranjak dewasa. Untunglah Wulan mendapat keluarga yang baik dan bisa meneruskan sekolahnya.

“Memangnya di sana nggak ada yang bisa ditanyai keadaannya, Mbak?” tanya Pak Dimas tiba-tiba, mengagetkan Darra. “Maksud saya, tetangga-tetangganya Bu Retno di sana. Pasti kan ada yang tahu kondisinya sekarang gimana.”

“Saya yang nggak punya nomornya, Pak,” jawab Darra. “Saya juga tahu beritanya tadi pagi. Ada yang nelponin ke nomor saya. Tapi kan Bapak tahu sendiri, HP saya sempat lama mati.”

“Mudah-mudahan nggak ada apa-apa ya, Mbak. Kasihan, Bu Retno sendirian,” kata Pak Dimas.

“Iya, Pak.”

Darra kembali memandang keluar jendela. Mereka berkendara selama empat jam. Jalan mulai padat saat mereka memasuki jalur Pantura. Darra mulai merasa tidak tenang. Sebenarnya tadinya dia mau meminta naik kereta saja supaya lebih cepat. Paling-paling hanya delapan hingga sembilan jam. Dibandingkan naik mobil, bisa-bisa mereka baru tiba dua belas jam kemudian. Apalagi kalau macet. Namun, karena papanya sudah mengijinkan pergi, jadi Darra sudah merasa berterima kasih.

Kaca jendela mobil mulai basah terkena titik-titik air hujan. Mobil berhenti di sebuah antrian panjang. Pak Dimas lebih memilih mengendarai mobilnya dengan hati-hati karena jalan mulai sulit terlihat tertutup air hujan. Darra merogoh saku celananya, tapi sakunya kosong. Ia mengambil tas di sampingnya lalu mengaduk-ngaduk isinya.

“Cari apa, Mbak?” tanya Pak Dimas yang mengawasinya dari rear mirror.

Darra menoleh ke arah Pak Dimas. “HP saya ketinggalan di rumah.”