Episode 2 - Khodam Pertama Mbah Kosim



Tiga tahun kemudian, karena aku masih menjadi manusia normal, aku menjalani aktifitas harian seperti biasa. Sayangnya, aku tidak bisa menikmati masa kecilku karena suatu hal. 

Apakah kalian pernah merasakan yang namanya suka dengan lawan jenis?. Kakak kelasku bilang, bahwa ada salah seorang wanita yang menaruh perhatian kepadaku. Mereka bilang bahwa wanita ini suka kepadaku. Aku tidak mengerti namanya suka karena perasaanku hanyalah sebatas teman bermain. 

Selama tiga tahun itu aku menjalani kebiasaanku di sekolah dengan pembulian. Ya, pembulian yang dilakukan oleh teman kelas sebelah. Mereka adalah Kris, Setio dan Joko. Mereka bertiga selalu membuliku dengan cara menjauhkan semua teman temanku satu persatu. Jadi selama kelas 3 hingga lulus SD aku jarang berkumpul dengan teman laki-laki. 

Baiklah saya lanjutkan langsung di kelas 6 SD, karena kelas 3 sampai kelas 5 tidak ada hal istimewa yang perlu diceritakan. 

Saat ini aku kelas 6 SD semester 01 dimana kegiatan rutin pertahun disekolahku yaitu Study Tour. Di kelas 6 ini ada tiga sahabatku. Yang pertama cowok namanya Putra. Deskripsi tentang penampilan Putra, yaitu: orangnya pendek sekitar 125cm, gemuk, penakut. Padahal rumahnya depan makam desa yang depan masjid dan hobinya mancing, orang yang disukai putra adalah yeni.

Sahabatku yang kedua adalah cewek namanya Ninda. Deskripsi tentang penampilan ninda : putih, cantik, ideal, rambut panjang, perhatian, dan pintar. Salah satu wanita yang menjadi incaran kakak kelas selain Ningsih dari kelas sebelah. 

Sahabatku yang ketiga cewek namanya Yeni. Deskripsi singkat tentang cewek ini: kulit sawo matang, tinggi, rambut panjang, manja banget, langsing, cantik. 

Yeni ini di taksir sama sahabatku si Putra, jadi inget dulu masa masa sekolah. Aku sebangku sama Putra sejak TK, sedangkan Yeni dengan Ninda sebangku sejak mereka kelas 3 SD. Ya bisa dianggap sahabat dekat lah sampai kuliah sekarang. Waktu itu wali kelasku namanya ibu Sari, beliau sudah tua, kayak nenek lampir yang di film gunung Merapi gitulah. Beliau datang ke kelas sambil membawa undangan study tour untuk kelasku.?“Ayo masuk anak-anak” ucap wali kelasku. “Iya bu guru” sahut anak kelas.

“Kita akan mengadakan study tour ke Wisata Bahari Lamongan. Pada hari selasa jam 03.00 pagi kita berangkat,” ucap wali kelasku.

“Kita berangkat sendiri, apa sama orang tua Bu?” tanyaku tidak tahu.

“Ya berangkat sendiri masa sama orangtua, seperti anak TK aja, hahahaha,” ejek Joko hingga aku ditertawai oleh teman sekelas.

“Ya tahulah, maksudku sendirian atau didampingi,” tanyaku menimpali.

“Terserah kalian, mau sendiri boleh, sama orangtua juga boleh, tapi bayar sendiri ya…” canda ibu Sari.

“Oke, Bu. Nanti aku ngomong sama orangtua dulu.”

Setelah pertanyaanku kepada ibu Sari, giliran Ninda bertanya. “Bu kita naik bus sama kelas sebelah atau sendiri bu?” Tanya Ninda sambil mengangkat tangan.

“Kita naik satu bus sama kelas sebelah. Karena busnya cuma pesan satu,” jawab ibu Sari sambil merapikan bukunya.

“Waduh,” ucap Ninda pelan.

“Kenapa Nin..?” tanyaku kepada Ninda karena penasaran.?“Itu si Kris, jengkel aku di deketin terus,” ucap Ninda sambil membuang muka.

Tempat duduk Ninda sama Yeni di depanku jadi kita sering ngobrol. Kris ini anak dari desa tetangga, songongnya minta ampun, satu geng sama Joko dan setyo, mereka dijuluki preman tiga serangkai.?“Tenang aja Nin. Kan aja Edi tuh yang jagain,” ucap yeni bercanda.

“Enak aja main jagain, emang aku Hansip?”jawabku ketus.

“hehehe…,” balas Ninda sambil tersenyum. 

“Ya sudah kalau, ibu undur diri dulu,” akhirnya ibu Sari keluar dari kelas.?Tak terasa bel sekolah berbunyi, menandakan saatnya pulang karena jam menunjukkan pukul 11.00 WIB. Sambil mengayuh sepeda aku membayangkan apakah mereka bertiga akan membuliku lagi waktu darma wisata ini. Di tengah lamunanku tak terasa aku sampai di rumah.

“Bu, ada study tour di sekolah hari Selasa. Seminggu lagi Bu,” teriaku dari luar rumah kepada ibuku.

“Iya nak besok minggu ikut ayahmu ke mbah Yai, ya…”

Aku mengingat mbah Yai ini beliau ustad yang punya khadam kucing abu-abu. 

“Siap Bu, ayah kemana?” tanyaku kepada ibuku sambil melepas tas sekolahku di atas meja.

“Ayahmu masih di sawah nak, sebentar lagi juga pulang,” jawab ibuku sambil menata makanan diatas meja.?Setelah Ayah pulang, Ibu sama Ayah ngobrol masalah study tour, sore nya aku ngaji di masjid, dari jam 15.00 wib sampai jam 17.00 wib. Hari minggu rencana kita pergi ke rumah mbah yai meminta sebuah pegangan.

“Nak ayo berangkat udah jam 09.00 ini,” ajak ayahku yang sudah diatas motor.

“iya yah, bentar nyari kacamata gak ketemu nih,” ucapku yang masih di dalam kamar mencari kacamata hitamku yang lupa aku taruh di mana. 

Beberapa menit kemudian ketemulah kacamata kesayanganku. Setelah kaca mata ketemu kita berangkat. Sesampainya di rumah mbah Yai ada orang kesurupan. Aku cuma lihat aja gak bisa ngapa-ngapain. Setelah beberapa saat kemudian orangnya sembuh. Ayah dan aku masuk lalu duduk di ruang tamu.

“Mbah niat saya kesini mau minta perlindungan buat anak saya study tour sekalian biar Ujian Nasionalnya lancar,” ucap ayahku langsung kepada mbah Yai.

“Iya Nak, bentar ya.” Beliau masuk ke ruang sholat. Setelah lebih dari 30 menit, mbah Yai keluar sambil bawa dua gelas air putih. ?“Ini air putih yang pertama kamu minum ya.” Air putih yang pertama di gelas warna Kuning di dalamnya ada sebuah gulungan kertas. 

“gulp..gulp…gulp…”

“Terus yang kedua diminum sambil memejamkan mata dan jangan bernapas,” ucap mbah Yai.?Aku ambil gelasnya langsung aku minum dengan sekali tarikan nafas. Setelah aku minum kedua air putih tersebut, aku merasakan hangat di seluruh tubuhku, terutama rasa panas di kening antara kedua mataku.?“Bagaimana rasanya nak?” tanya mbah Yai kepadaku.

“Rasanya panas mbah…”

Mbah Yai cuma berdehem. Kemudian beliau mengeluarkan sebuah keris kecil beserta sarungnya. Seukuran jari telunjuk pria dewasa.

“Nak ini mbah kasih keris buat pegangan, terima ya,” ucap mbah yai memberikan keris kepadaku.

“Iya mbah saya terima“ sambil menyerahkan sebuah keris kecil kepadaku. Saat aku terima kerisnya seperti kesetrum cuma gak besar.

“Ayo ikut mbah bentar,” ajak mbah yai sambil berdiri. 

“Iya mbah”. Aku mengikuti mbah Yai masuk ke dalam kamar tempat beliau sering menunaikan sholatnya.?“Kamu tiduran di atas kasur ya, sambil kerisnya kamu pegang di atas dadamu,” ucap mbah Yai mengarahkanku.

“Gini mbah?” tanyaku sambil memposisikan keris di atas dadaku.

“Pejamkan matamu, jangan dilawan, apapun yang kamu lihat, kamu dengar, jangan membuka mata ya nak,” ujar mbah Yai memperingati.

“Siap, mbah”.?Lalu Mbah Yai memegang kepalaku, di saat itu lah kepalaku serasa ngeblank, seperti waktu kelas 3 SD dulu. Beberapa kali aku dengar suara tangisan wanita, jeritan wanita, lalu aku mendengar mbah Yai menyuruh untuk membuka mata.?“Sudah nak, buka matamu,” ucap mbah Yai.?Saat aku membuka mata, yang aku lihat pertama kali adalah ada ular di atap mbah Yai. Ular tersebut tidur di atap rumah, kepalanya keluar dari atap rumah.

“Kok ada ular mbah di dalam rumah” tanyaku penasaran.

“Memang seperti apa wujudnya nak?” ucap mbah Yai bertanya balik.

“Ularnya besar, panjangnya sekitar 20-an meter, warna sisiknya emas berkilau tapi aku gak bisa lihat kepalanya karena kepalanya di luar,” jawabku sambil memandang mbah Yai.“

“Gak apa-apa. Itu cuma ular penunggu rumah,” jawab mbah Yai sambil berbalik.?“Oh gitu mbah,” balasku sambil mengangguk. “Ya sudah yuk keluar.”?Sesaat kemudian kita keluar menuju ke ruang tamu.?“Bagaimana mbah anak ku?”tanya ayahku.

“Kelihatannya anakmu penglihatannya bertambah kuat. Baru aku buka sudah melihat penjaga rumah ini yang paling kuat,” jawab mbah Yai sambil minum.

“Sebenarnya sejak dari rumah ini dulu anakku masih bisa lihat, mbah. Cuma kuntilanak, pocong atau tuyul gitu mbah. Aku kira malah mbah biarkan penglihatan anakku,” papar ayahku menimpali.

“Lho benarkah? Padahal niatku ingin kututup total waktu itu. Sepertinya penglihatannnya bertambah kuat seiring usianya bertambah.”ujar mbah Yai. “Mis, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu.?” Ekspresi mbah Yai berubah serius.

“Apa mbah?” tanya ayahku penasaran.

“Sepertinya ada benda lain di dalam tubuh anakmu entah itu berwujud apa. Tapi itu sangat kuat, bahkan aku berusaha mengintipnya tapi malah aku yang terlempar keluar,” ucap mbah Yai.

“Apakah benda tersebut berbahaya bagi anakku mbah?” Ayahku kembali bertanya.

“Sepertinya tidak, Nak”

“Ya sudah kalau tidak bahaya mbah” Nak, coba kamu panggil sesuatu yang ada di dalam keris itu” ucap mbah Yai kepadaku. “Caranya memanggil bagaimana mbah?” tanyaku kepada beliau. 

“Pejamkan matamu, fokus ke dalam kerisnya nanti kamu akan tahu sendiri” ucap mbah Yai. “Baik, mbah.”

Setelah perintah mbah yai aku memejamkan mataku, kemudian fokus ke dalam keris yang aku pegang. Tak selang lama aku melihat sebuah gambaran. Gambaran yang awalnya buram berubah jelas, hingga berbentuk sebuah Macan. Macan itu warnanya kuning loreng putih namanya adalah Mbah kosim.

“Kalau sudah tahu namanya coba panggil nak,” suara mbah Yai terdengar lirih. 

“Datanglah mbah kosim,” ucapku lirih.?

Seketika itu datanglah macan besar di depanku warnanya kuning loreng putih.

“Macan ini jadi milikmu nak, dia akan menjagamu mulai sekarang. Mbah kosim nama anak ini edi, tolong jaga dia ya, sekarang kamu miliknya” ucap mbah Yai kepada khodam macan ini. “iya dek Yai” balas mbah kosim sambil menganggukan kepala.

“Mbah kosim, mau tanya boleh?” ucapku pertama kali.

“Mau tanya apa dek Edi?” jawab mbah kosim.

“Mbah kosim laki-laki atau perempuan?” tanyaku balik karena penasaran.

“Saya laki-laki dek Edi,” jawabnya dengan raut wajah polos.

“Wah, perlu jodoh ini untuk berkembang biak, supaya macanku banyak“ umpatku dalam hati. “Mbah mulai sekarang tolong bantu saya ya” sambungku membelai kepala mbah kosim.

“Iya dek Edi, “ jawab mbah kosim datar.

“Ya sudah mbah boleh balik lagi,” seketika itu mbah kosim meghilang.

“Sudah kah mbah?” tanya ayahku.

“Sudah nak, anakmu Insya Allah aman,” balas mbah Yai.

“Ya sudah mbah saya pamit dulu,” ucap ayahku berdiri sambil menjabat tangan mbah Yai.

Aku dan ayahku berjalan menuju keluar, di saat aku sudah sampai di luar rumah, aku mencoba melihat keatas rumah mbah Yai. Karena aku penasaran dengan ular yang tadi kulihat di dalam rumah mbah Yai, dan “Waooo....” kepala ular tersebut besar sekali ada tanduk di atas kepalanya, dan ada sebuah mahkota emas. Saat mata ular tersebut terbuka dia melihatku dia cuma tersenyum (bayangin ular tersenyum) lalu aku senyum balik dan bergegas pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah aku mencoba memanggil mbah kosim, dan ternyata mbah kosim beneran muncul di depanku. Setelah muncul aku menugaskan mbah kosim untuk mengusir jin liar yang ada disekitar rumahku, terutama kuntilanak penunggu pohon mahoni punya tetangga. Sering kali itu mahluk menampakkan diri saat aku hendak tidur. Terutama tertawanya yang khas melengking membuat bulu kuduk merinding.

Mungkin karena sering aku isengi, jadi mahluk itu balas dendam kepadaku. Sungguh jin kafir yang hina. Hanya sebentar aku bisa mengusirnya tapi besoknya balik lagi. Paling efektif adalah membaca Surat Al-baqarah. Jin-jin di sekitar rumah akan mengungsi selama 3 hari, tetapi setelah 3 hari mereka akan balik kembali ke tempat awal sebelum mereka diusir. Pernah kejadian anak tetangga yang masih kelas 3 SD, namanya adalah Ari. Waktu Ari sedang main bola sepak dengan teman-temannya yang lain, entah karena saking kebeletnya, Ari nekat buang air kecil dibawah pohon mahoni di samping rumahnya. 

Setelah buang air itu, malamnya harinya badan Ari panas, ia mulai mengigau dengan ekspresi takut akan sesuatu. Aku yang melihat dari luar rumah menemukan bahwa itu mahluk kuntilanak menempel di tubuh Ari. Tak selang lama datanglah mbah Modin. Mbah Modin ini orang yang mengumandangkan ada orang meninggal dan orang yang mengurus pemakaman mereka. Mbah Modin datang kemudian disembuhkannya dengan membawa daun bidara. Entah bagaimana caranya mbah Modin berhasil mengembalikan kuntilanak ke tempat semula tanpa negosiasi.

Keesokan harinya Ari kembali sehat, sejak saat itulah aku yang mulai di ganggu oleh kuntilanak penunggu pohon mahoni, karena mbah kosim sudah ada dirumah. Ia mulai mengusir jin-jin yang ada disekitar rumah, mbah kosim tak pandang bulu dalam mengusir mereka. Jin yang berwujud, kuntilanak, genderuwo, pocong, tuyul, banaspati dan wilanggeni diusirnya. Jika mereka membandel tidak mau pergi, oleh mbah kosim akan dibunuh dengan cakar dan taringnya. Dalam sehari mbah kosim sudah berhasil mengusir jin yang menghuni di sekitar rumah. Setelah mengusir mereka mbah kosim tiduran diatas meja tamu, jika ada tamu datang kerumah mbah kosim pindah tiduran dilantai. 

Keesokan harinya sekolah seperti biasa, jika dibolehkan aku ingin cepat-cepat lulus dari SD ini dan melanjutkan ke SMP yang tidak ada mereka bertiga, karena mereka bertiga lah yang membuat aku tidak memiliki banyak teman. Kalian bisa merasakan seperti apa disekolah tanpa teman. Sepi, tak ada yang mengajak bercanda gurau. Apakah aku dendam dengan mereka. Ya, aku dendam dengan mereka. Apakah aku ingin membalas dendam terhadap mereka. Ya, aku ingin membalas dendam terhadap mereka. Tetapi aku tidak ingin melakukannya, kenapa...? karena, orangtua ku mengajari bahwa. Berperilaku lah yang baik kepada orang lain, suatu saat akan ada yang membalas perbuatan kita. Karena itulah aku memendam sendiri perasaan ini. 

Setelah kedatangan mbah kosim aku memberi mereka bertiga sedikit pelajaran. Mulai dari mengunci mereka di toilet, menarik kursi mereka jika mereka ingin duduk. Menyembunyikan sepeda mereka diparkiran sekolah. Dan yang tak pernah ku lupa, membuat mereka jatuh bersama saat mencoba mencari tempat berteduh di kala hujan tengah turun dengan derasnya. Yang mengakibatkan tubuh mereka kotor terkena lumpur. Dan akhirnya mereka pulang tidak mengikuti pelajaran selanjutnya. Sejak pelajaran dariku mereka masih menggangguku tapi tidak sesering yang lalu.