Episode 15 - Burung-Burung Kecil



“Para Pemegang Gelar terlalu berbangga diri, semuanya pongah dan tak pernah mau merendah. Bahkan beberapa lebih senang dipanggil dengan Gelar yang mereka miliki dibandingkan dengan nama yang diberikan ayah-bunda yang menghadirkan mereka ke dunia….”

—Bisik-bisik yang terdengar saat Pemegang Gelar Si Kepala Baja lewat di depan sebuah balai desa


Sejenak, Sidya mengira bahwa gurunya akan habis dibabat oleh sabetan kipas yang mengerikan, satu lagi mandi darah yang terpaksa harus disaksikannya hari ini. Pasalnya, ini adalah gerakan Siulan Taifun yang paling gesit.

Namun, rupanya perkiraan Sidya salah besar.

Hantaman kedua kipas Siulan Taifun beradu dengan sesuatu, suaranya memekakkan telinga, hampir mirip dengan denting baja bertemu baja. Padahal, benda itu sekedipan mata lalu belum ada di tangan Hikram. Guru Sidya sekarang sedang memegang sebatang tongkat yang nampak sederhana, sepertinya terbuat dari bambu muda, kehijauannya segar dipandang mata. Beberapa helai daun terlihat di berbagai sisi, menimbulkan suara gemerisik acapkali saat Hikram menggerakkannya.

Padahal, bambu muda sangat mudah dipatahkan, apalagi Siulan Taifun menebas dengan penuh keganasan. Tapi beradu dengan benda itu, kipas merak si remaja bahkan tak bisa menggores untuk meninggalkan bekas.

Punggung Siulan Taifun mendadak dirayapi rasa dingin. Ia mendongak, baru sadar mukanya sedang berada sejengkal dari wajah Hikram yang sedang nyengir kuda, mulutnya menguarkan bau alkohol yang sangat tajam, membuat Siulan Taifun mual dibuatnya.

”Heran bagaimana sepotong bambu mampu menahan senjata besi? Kau harus lebih banyak melihat dunia luas, Bocah.”

Tanpa jeda satu tarikan napas pun Hikram segera memutar tongkatnya sembari berkelit, terutama untuk menghindar karena gerak menjorok Siulan Taifun yang jatuh bebas ke depan akibat tenaga yang tak tersalurkan. Siulan Taifun akan menabraknya andai dia tak berpindah. Kemudian, tanpa ragu Hikram menggetok bagian belakang kepala remaja itu dengan sisi tongkatnya.

“Aduh!” kedua kipas jatuh dari tangan Siulan Taifun, sedangkan tubuhnya langsung bertemu dengan tanah keras.

“Makanya,” Hikram memukul paha Siulan Taifun yang makin keras mengaduh, “jangan,” Hikram memukul lengan, “banyak omong,” kemudian mengincar pundak, “saat bertarung,” lalu menghantam kepala lagi, “anak muda!”

Hikram mengakhiri itu semua dengan dorongan ringan dengan ujung tongkat tepat ke belakang kepala Siulan Taifun. Dorongan tak keras itu pun sudah bisa membuat Siulan Taifun tertahan di tempat dalam posisi tengkurap yang memalukan.

Siulan Taifun geragapan menggerayangi kipasnya yang terlepas, berhasil mendapatkan satu, membalikkan diri, lalu memukul liar tongkat Hikram yang masih menahannya. Berhasil, maka dia segera kabur setengah merangkak untuk menyelamatkan diri dari gebukan Hikram yang mengancam akan menyiksa badannya lagi. Siulan Taifun bangkit untuk menyelamatkan harga dirinya yang pasti sudah tercabik-cabik akibat digebuki seorang pria tua, meringis menahan sakit, lalu bergegas membuka kipas tunggalnya. Kali ini senjatanya menunggu di sisi belakang badan, sementara tangannya yang bebas menunjukkan telapak siaga di depan, seperti orang mau melarang. Kakinya terpentang dalam kuda-kuda rendah.

“Kisanak rupanya kuat juga, tapi aku takkan—!”

“Tunggu dulu,” Hikram menyipitkan mata, terutama memandangi jari-jemari si pemuda yang menggenggam kipas. Rasa-rasanya ia mengenali cara memegangnya, yang dalam posisi siaga jempol dan dan telunjuk mengapit kipas sementara tiga jari lainnya terbebas. Lagipula, ia sudah pernah lihat kuda-kuda ini, terutama dengan telapak tangan membuka yang sama persis. Tadi dia belum sempat memperhatikan, tapi sekarang pengamatannya lebih cermat seiring dengan pengaruh alkohol yang berangsur-angsur pergi dari otaknya.

“—menyerah! Putra dari Kra yang bergelar si Janda Merah pantang untuk mundur—”

“Jadi ternyata benar!” Hikram menggeram sembari mengertakkan gigi. Dia mendekat cepat, sementara Siulan Taifun heran sekaligus panik melihat Hikram tak siaga sama sekali.

“Hei, hei, mau apa kamu—”

Prak! Sebuah pukulan tongkat lagi-lagi menghajar sisi lengan si pemuda. Dia mau membalas dengan sabetan kipas, tapi Hikram keburu membentaknya, “Ayo pukul! Ayo! Memukul paman perguruanmu sendiri rupanya, he, Apit?!”

Si remaja tak sadar mengambil dua langkah mundur. Matanya juga memicing, mirip Hikram waktu sedang mengamati pegangannya pada kipas. Tak lama kemudian ia membelalak.

“I-ini tidak mungkin! Anda Paman Hikram?!”

Prak! Lagi-lagi gebukan tongkat mengenai lengan si pemuda, yang kali ini berusaha melindungi diri dari gebukan lain, “Paman! Badanku bisa remuk nanti!”

“Bagus kalau remuk,” Hikram menggerung lebih keras, walau kali ini Sidya bisa melihat bahwa ia sudah menghentikan aksi pukul-memukulnya. Terbukti, pegangannya pada tongkat melonggar. “Kalau kau mati, kakek-nenek Setrasutra akan terhindar dari kewajiban untuk merawatmu. Kau kabur dari mereka, bukan?!”

“Mana ada burung layang-layang yang mau dikurung terus-terusan?” Apit spontan menjawab, walau sebentar kemudian ia membekap mulutnya, sadar keceplosan bicara.

“Dan apa-apaan itu?!” Hikram menunjuk dua penyamun yang tergeletak, yang tak diragukan lagi pasti sedang meregang nyawa atau malah sudah dijemput ajal, jari-jarinya bergetar saking marahnya. “Pandir Barat dan Waskita Renta tidak menyuruhmu belajar beladiri hanya untuk menjadi seorang pembunuh berdarah dingin!”

“Aku …” si remaja menunduk, merasa bersalah sehingga kesusahan memilih kata, untuk kemudian melirik Sidya seakan sedang minta pertolongan. Sadar Sidya tak bisa membantu terutama karena wajahnya begitu pucat dan badannya menggigil, mata Siulan Taifun kembali pada Hikram dengan putus asa. “Aku … hanya menjalankan perintah.”

“Mustahil! Kau bisa melawan Ilmu Titah, Nak, karena darah bangsawan juga mengalir dalam nadi-nadimu. Walau perintah diutarakan oleh seorang bangsawan tingkat tinggi sekalipun, kau masih bisa membantah. Lagipula, ilmu titahnya belum sempurna jadi jangan bohong padaku! Tunggu apa lagi? Sembuhkan mereka sekarang!”

Apit bingung sejenak. Tapi, ia memilih diam ketimbang harus dicecar lagi dan disuruh melakukan hal yang lebih berat. dia bergegas mendatangi kedua penyamun yang tergeletak, kemudian meletakkan kedua tangannya pada luka-luka yang dihasilkannya pada tubuh mereka. Bahkan, ia sukarela memeriksa satu penyamun yang tangannya patah lantas menyembuhkannya juga. Tak lama kemudian ia berdiri, peluhnya bercucuran, napasnya tak teratur. Tak diragukan lagi bahwa mengobati tiga orang dalam jeda waktu yang singkat membuat tubuhnya jadi terasa amat payah.

Hikram mengawasi dengan tak yakin, kemudian memeriksa badan para penyamun yang masih tak sadarkan itu sambil bertanya, “sekarang ceritakan semua sebelum aku jadi makin marah, Apit.”

“Baiklah.” Siulan Taifun yang rupanya merupakan anak kandung dari mendiang guru Hikram sendiri berkata dengan suara kalah. Dia mengambil waktu untuk mengambil kipas lainnya yang tergeletak, kemudian mencengkeram keduanya untuk mendapatkan ketenangan.

“Ini sebenarnya akan jadi cerita yang memalukan, Paman.”

“Aku sama sekali tak peduli! yang kupedulikan sekarang adalah pembenaran,” Hikram menunjuk lagi kedua penyamun itu untuk memperjelas, “pembenaran mengapa hal seperti ini bisa kau lakukan!”

“Setelah aku berhasil melepaskan diri dari kakek dan nenek, aku berkelana sendirian. Aku tidur di pinggir jalan, sembarang tempat. Pokoknya aku bisa menjelajah semauku saja aku sudah senang. Kemudian aku bertemu dengan para perampok ini. Awalnya baik, mengenalkan diri lalu mengajakku menginap untuk menikmati hangatnya api unggun. Paginya? Mereka merampok dan mengikatku waktu sedang tidur. Tak cuma begitu, mereka merampok juga merenggut pakaianku, Paman! Menelanjangiku, menertawai kebodohanku yang mudah percaya dengan orang asing. Mereka pergi meninggalkanku untuk jadi bahan tontonan orang lewat, sampai berhari hari baru ada yang mau melepaskanku!” Siulan Taifun bercerita panjang-lebar, sepertinya ia telah memendam cerita ini lama sekali dan cukup lega bisa mengutarakannya pada orang yang dikenal. Wajah Apit mengekspresikan banyak hal. Marah, benci, dan yang paling kentara, malu.

Jadi itu sebabnya dia cuma pakai sehelai kain butut untuk menutupi badannya?

“Itu belum cukup sebagai pembenaran, Nak. Usaha pembunuhan hanya bisa dilakukan kalau tak ada pilihan lain.”

“Saya juga bersalah,” Sidya nimbrung, membuat kedua orang itu berpaling padanya. Sadar sedang dalam pengawasan dua orang yang baru selesai baku hantam, Sidya menelan ludah, lalu berkata, “Saya memerintahkannya untuk memukuli para penjahat itu sampai babak belur. Jadi, ini bukan sepenuhnya kesalahannya.”

Hikram membanting tongkatnya ke tanah, lalu menggaruk setengah menjambak puncak kepalanya keras-keras dengan kedua tangan. “Cukup, aku sudah muak! Kalian membuatku pusing tujuh keliling! Perjalananku yang menyenangkan sekarang sudah resmi berantakan! Sidya, tutup mulut. Kesalahanmu sudah terlalu banyak hari ini. Apit, aku harus memulangkanmu ke Setrasutra sekarang juga.”

“Saya belum mau pulang, Paman!”

“Dua bangkotan itu mengkhawatirkanmu hingga rela tubuh renta mereka disiksa perjalanan jauh,” Hikram membalas tak kalah garang, “mereka mengekang karena tak mau kehilanganmu seperti kehilangan guruku!”

Wajah Apit berubah keruh. Meski begitu, ia menggeleng, kemudian mau mundur untuk melarikan diri tepat saat sebuah gebukan keras menghantam.

Bukan serangan dari Hikram, bukan pula serangan dari Apit.

Tapi dari Sidya. Dia menyelinap selagi Hikram tak melihat, lalu mengendap-endap, memukul bagian kepala Hikram tepat di bagian belakang dengan tongkat bambunya sendiri. Apit melihat bahwa mata Hikram membalik seperti mau berputar di rongga mata, tubuhnya oleng sejenak sebelum akhirnya roboh tertelungkup, tak sadarkan diri.

“Ap-apa yang kaulakukan?!” Apit terperangah, tak menyangka bahwa si putri akan melakukan hal nekat seperti itu. Kurang tenaga atau meleset sedikit saja bisa bikin Hikram yang sudah muntab jadi lepas kendali karena dipukul tanpa tahu salahnya apa.

“Aku … aku juga tak tahu! Cepat sembuhkan guruku, tolong cepat!” Sidya yang tak kalah histeris menggenggam-genggam tongkat gurunya yang berat. Luar biasa, rupanya energi dari Letup Hawa Murni masih tersisa di tubuhnya, belum lagi kenyataan bahwa tongkat yang sedang dipegangnya ini keras melebihi besi tempaan. Ia sendiri sempat mau jatuh hilang kendali saat mengambil tongkat itu karena tak mengira akan sebegitu beratnya. Untung, Hikram sedang fokus mencak-mencak pada Apit hingga tak mengawasi tempat lain.

“Cepat sembuhkan!” kata Sidya setengah membentak, begitu melihat Apit hanya diam seperti batu. “tadi kau bisa membetulkan luka-luka bukan? Gelarmu itu buat apa? Cepat gunakan kemampuanmu pada guruku!”

“Tapi nanti kalau paman langsung bangun, beliau akan menyeretku ke Setra—”

“Tak peduli! Sembuhkan, sekarang!”

Apit dengan wajah sedikit ragu segera berlutut, kedua tangannya berada dekat sekali dengan kepala Hikram. Apit memejamkan mata, tangannya kembali mengeluarkan nyala hijau. Sejenak kemudian ia menggumam, “astaga, batok kepala paman rupanya cukup keras. Digetok mustika Gelar dan hanya retak sedikit.” Ia menggerak-gerakkan tangan di sekitar kepala Hikram, mungkin untuk meratakan kesembuhan yang ia hasilkan. Sejenak kemudian dia berkata, “sudah.”

“Hanya begitu? Lalu … lalu kenapa dia tak bangun-bangun?”

Apit menekan salah satu nadi Hikram, matanya seolah bisa menembus kulitnya. “Ada kandungan alkohol di darahnya, walaupun hanya sedikit. Ya, paman sepertinya sedang tidur, detak nadinya cukup teratur.”

Sidya mengeluh mengasihani diri sendiri. Dia tidur? Semudah itu setelah bertarung mati-matian? Pertemuannya kemarin hari dengan kakek dan nenek aneh saja rasanya sudah yang paling fantastis. Dia kira pasangan tua itu sudah merupakan orang paling nyentrik sedunia, tapi keanehan Hikram ternyata menyaingi mereka. Dia baru sadar sekarang.

“Jadi,” Apit memulai dialog setelah diam lama yang teramat canggung, “tugas saya selesai.”

 “Kamu cucu dari kakek-nenek sakti yang berasal dari Setrasutra?” Sidya mendadak bertanya sembari memeriksa apakah Apit benar-benar melaksanakan suruhannya, sekaligus memastikan sekali lagi apakah para penjahat masih hidup atau tidak. untunglah, tarikan napas teratur para penyamun langsung dapat didengarnya sehingga ia bisa menghela napas lega.

“Apa? Bagaimana—oh. Benar, hamba cucu mereka berdua.”

“Kami baru bertemu dengan mereka, sehari lalu. Jadinya mereka pasti dekat.”

“Saya hanya punya sedikit waktu sebelum ditemukan lalu dipaksa pulang, kalau begitu.”

“Masih mau mengangkatku menjadi muridmu?”

Apit tergelak, dan tak lama kemudian, Sidya ikut-ikutan tertawa. Apit memiliki kualitas yang membuat tawanya menjadi gampang menular pada orang lain. Apit menyeka matanya setelah tawa agak reda, “Sayang sekali ternyata anda punya pengajar yang lebih baik dari sekedar Siulan Taifun.” Apit mengerling Hikram sejenak, “aku tahu paman sering melakukan hal aneh-aneh, tapi seingatku dia orang yang baik. Dulu beliau sering memberiku gula-gula waktu nenek tak melihat. Entahlah, aku waktu itu masih kecil, tak tahu apakah paman telah banyak berubah atau tidak setelah menjalani kembara. Orang bilang perjalanan bisa merubah seseorang.”

“Kuharap paman yang kau kenali masih orang yang sama, kalau begitu. Kamu ternyata juga ingin bebas lepas dari kungkungan.”

“Ya,” mata Apit menerawang, seolah memandang dunia yang lebih indah, langit yang lebih biru, pantai dengan daun palem yang menari ditiup angin dan semua belum pernah dilihatnya. “Saya ingin berkelana jauh.”

“Kalau begitu kita sama. Itu sebabnya aku memukul kepala guru, untuk membebaskanmu.”

“Jadi begitu, putri rupanya teramat baik.” Apit tertawa kecil untuk kemudian bangkit, baru akan melangkah saat Sidya berkata dengan hati-hati, “dan mereka ingin menjodohkanmu dengan seseorang, tapi guruku tak setuju.” Tentu saja Sidya tak akan mengatakan bahwa dialah yang sebenarnya dijodohkan dengan Apit, yang benar saja.

“Pendapatku sama dengan paman. Aku tidak ingin menikah.” Apit tertawa lagi, mirip sebuah lagu sampai Sidya merasa bisa mendengar tawanya seharian dan tidak bosan karena nadanya yang berubah-ubah. “Aku masih ingin bebas! Bebas, seperti—”

“Burung layang-layang,” Sidya dan Apit berkata bersamaan. Apit menoleh pada Sidya, agak heran bagaimana Sidya bisa mengetahui hal tersebut, tapi tatapan berapi-api itu, tatapan yang sama-sama mendambakan kebebasan itu sudah cukup untuk membuatnya bungkam sejenak, sekaligus membakar semangatnya sekali lagi. Mendadak, rasa lelah yang dirasakannya menguap begitu saja. Apit memandangi Sidya, sepertinya sedang menimbang-nimbang keputusan, kemudian menjentikkan jari. Dalam satu kedip salah satu kipasnya sudah berada di tangan sekali lagi.

“Saya ingin beradu keahlian dengan putri. Kalau Paman belum dapat kukalahkan, aku masih bisa menyelamatkan harga diri dengan mengalahkan muridnya.”

“Sayangnya tidak bisa. Aku belum belajar beladiri sama sekali.”

Mata Apit melebar tak percaya. “Lalu apa yang paman ajarkan? Memangnya pamanku mengajarkan teknik menyulam?”

Sidya melirik pakaiannya sendiri yang tempelan gambarnya begitu semrawut, kemudian menarik salah satu benangnya yang lepas seolah menunjukkan bukti. “Aku juga cukup yakin bahwa pamanmu tak begitu pintar menyulam. ”

“Lalu bagaimana … ah, sudahlah. Baiklah, saya harus mengambil keputusan ini. Hamba ingin putri—”

“Sidya. Panggil aku Sidya.”

“Baiklah. Sidya kalau begitu. Aku ingin putri Sidya menyimpan benda ini,” ia menyerahkan salah satu kipasnya.

Kedua alis Sidya terangkat. Ia ragu, tapi akhirnya menerima senjata yang terasa sangat berat itu dengan kedua tangannya. Ia mendongak, untuk bicara pada Apit yang memang lebih tinggi darinya, “Ini mustika, dan kudengar dari pendongeng istana bahwa kehilangan mustika bagi seorang Pemegang Gelar sama saja dengan kehilangan salah satu tangan. Untuk apa meminjamkan mustika ini untukku?”

“Saya tak akan kehilangan. Saya meminjamkan agar saya benar-benar ingat. Suatu hari, mungkin beberapa tahun lagi, saya akan ambil kembali. Pada saat itu, saya ingin melihat apakah putri sudah bisa melindungi diri sendiri atau belum.”

Sidya menggenggam kipas yang kini menjadi miliknya lebih erat, kemudian membukanya perlahan. ”gambarnya burung merak.”

“Makanya namanya Kipas Merak, bukan Kipas Burung Layang-Layang,” Apit tersenyum, kemudian menutup tangan Sidya yang masih ragu-ragu untuk menerima. “Kipas yang sangat pantas berada di tangan seorang putri kaisar.” Begitu saja tanpa berpamitan, Apit langsung melangkah pergi. Mulanya perlahan, kemudian dia berlari. Larinya sangat cepat seperti angin. Sidya bisa mendengar lantunan Balada Layang-Layang dari mulut remaja itu meskipun jaraknya telah cukup jauh. Suaranya bagus, bahkan bisa disandingkan dengan pendongeng istana, padahal beliau telah berkeliling negeri hanya untuk belajar bersyair.

Setelah Apit benar-benar pergi, Sidya baru sadar bahwa tangannya berkeringat, gemetar hebat. Badannya lemas dan sakit sampai ke tulang sumsum, kombinasi antara nyeri lalu meningkat jadi seperti ditusuki selaksa jarum. Ia menahan rasa asam yang merangkak naik ke lehernya dengan susah-payah, menelan ludah berkali-kali. Ini pasti efek karena berada terlalu dekat dengan dua orang yang menyingkap lalu membenturkan Gelar mereka. Orang biasa yang tak memiliki Gelar harus memiliki ketabahan hati serta ketahanan tubuh yang luar biasa untuk dapat bertahan menyaksikan. Efek yang dialami Sidya ini bisa dibilang enteng, biasanya malah lebih berat lagi.

Sidya berjuang menatap susunan pepohonan tempat Apit menghilang sambil sesekali terbatuk, sebelum tersentak, ingat akan keberadaan gurunya saat mendengar suara mengoroknya yang keras sekali. Sidya berpaling, dan dipertemukan dengan tiga sosok penyamun yang mulai bangun dari ketidak-sadaran mereka.

--