Episode 41 - Cermin Noda Gelora (2)


 

“Kang Jaka oh....” rintih Mega Sari setelah Jaka melepaskan bibirnya, Jaka pun paham akan maksud Mega Sari tersebut.

“Mega, jangan takut, percayalah padaku, aku akan bertanggung jawab! Aku akan mempertanggung jawabkan apapun yang terjadi pada kita, meskipun aku akan dihukum mati oleh Gusti Prabu karenanya!” Saat itu tanpa mereka sadari, ada 2 sosok mahluk ghaib yang bertampang sangat menyeramkan yang tampak oleh mata Jaka Lelana dan Mega Sari menghampiri mereka berdua, yang satu merasuk kedalam tubuh si pemuda, yang satu lagi merasuk ke tubuh si gadis, nafsu didada kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu pun semakin berkobar, mengalahkan semua akal sehat mereka, mengendalikan akal rasa, serta gerak tubuh mereka!

Mega Sari mengangguk perlahan sambil tersenyum manis sekali, “Aku percaya padamu Kakang, dan aku tidak akan membiarkan kau dihukum oleh ayahku!” sahutnya.

“Aku sangat mencintaimu Mega! Dari dulu saat pertama kali kita bertemu, aku sudah langsung jatuh hati padamu!” ucap Jaka.

“Aku pun demikian Kakang, aku sangat mencintaimu juga!” percakapan mereka ditutup dengan sodoran bibir Jaka pada bibir Mega Sari, Mega Sari pun meladeninya tak kalah panas, untuk beberapa saat bibir mereka saling berpagutan, saling berbalas cium satu sama-lain!

Semakin panaslah bara yang membakar didalam dada pemuda dan pemudi ini, kini tangan mereka berdua mulai bekerja, saling memeluk dan menggrepe-grepe satu sama lain, bibir Jaka pun mulai turun dari bibir Mega ke leher gadis itu yang putih mulus, menciumi dan menggigit-gigit kecil leher, pundak, dan bagian atas dada Mega Sari yang pakaiannya mulai tersingkap, lalu keatas lagi, kembali bibir mereka saling beradu, disambung dengan permainan lidah mereka, runtuhlah segala ajaran tentang norma yang mereka dapatkan di padepokan, mereka bergumul dipenuhi hasrat nafsu syahwat, kini yang mereka lakukan tak ubahnya seperti binatang yang sedang menyalurkan hawa nafsunya!

Perlahan tapi pasti, bisikan setan semakin membuat mereka berdua menggila, semain lupa diri! Peluh mulai membasahi tubuh mereka berdua! Kedua tangan Mega Sari mulai membuka baju kemeja Jaka yang tak berkancing itu sementara bibir dan lidahnya terus memagut bermain dengan lincah meladeni permainan bibir dan lidah Jaka, Jaka pun membantu Mega Sari untuk melepaskan bajunya, setelah bajunya lepas dari dadanya, giliran pemuda berkulit putih ini yang mulai melucuti pakaian Mega Sari, terpampanglah bagian dada atas Mega Sari yang masih tertutupi oleh kemben, namun nampak jelas putih mulus dan dibasahi oleh peluh itu hingga nampak mengkilap bercahaya! Akan tetapi, saat tangannya hendak menurunkan baju Mega Sari, tiba-tiba... BLARRRR!!!! 

Satu petir yang teramat dahsyat menggelegar mengiringi kilatan cahaya yang amat terang benderang hingga menerangi seantero bagian dalam Goa itu, seluruh bukit Panganten terasa bergetar oleh ledakan petir tersebut, dan yang sungguh aneh, sekonyong-konyong seluruh bukit Panganten digoyang oleh gempa yang cukup dahsyat hingga beberapa staklatit di goa tersebut runtuh, dua sejoli yang sedang memadu kasih hubungan terlarang itu kaget bukan main! 

Mereka berdua langsung menghentikan perbuatan dosa mereka, kedua mahluk ghaib menyeramkan yang tampak oleh mata mereka berdua pun keluar dari tubuh mereka sambil menjerit-jerit ketakutan lalu menghilang lenyap entah kemana! Gempa bumi tersebut berlangsung selama beberapa saat, setelah gempa tersebut berhenti, mereka berdua lalu duduk termenung saling terdiam, hingga terdengar suara isak tangis dari Mega Sari.

“Kakang... Bagaimana ini? Apakah yang terjadi barusan adalah suatu pertanda bahwa hubungan kita memang terlarang? Apakah itu suatu pertanda kalau hubungan kita tidak akan pernah direstui oleh semua pihak? Saya takut kalau akan ada petaka yang menimpa kita kalau kita teruskan perbuatan kita!” Tanya Mega Sari sambil membetulkan pakaiannya yang tersingkap hampir lepas dari tubuhnya, untungnya tubuhnya masih terlindungi oleh kemben dibalik pakaiannya, gadis ini menangis sesegukan.

Jaka hanya duduk menundukan kepala, mulutnya terkunci rapat-rapat, perlahan tangannya meraih pakaiannya yang tadi tergeletak di bawah dan mengenakannya kembali, hanya elahan nafasnya yang berat saja yang terdengar. “Kang Jaka, saya takut, sepi selalu mengundang setan! Bulu kuduk saya juga berdiri, saya merasa seolah ada yang sedang mengawasi kita! Sesaat saya merasa tidak bisa menyadari apa yang sedang saya lakukan! Kita pulang yuk?!”

Jaka mengangkat kepalanya dan menatap keluar “Mega, diluar hujan masih sangat deras, kita bisa basah kuyub dan kamu bisa sakit nanti!”

Mega Sari menatap keluar dengan perasaan gelisah, hujan memang masih sangat deras, tapi tiba-tiba ia menarik tangan Jaka dan berlari keluar, Jaka pun terpaksa mengikuti langkah gadis ini, “Mega maafkan aku! Aku berjanji akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku padamu!” ucap Jaka berteriak ditengah suara derasnya hujan dan tiupan angin kencang.

Mega menghentikan langkahnya, ia lalu menatap lekat-lekat pada Jaka, gadis ini lalu mengangguk sambil tersenyum manis, “Aku percaya padamu Kang Jaka!”

Jaka balas tersenyum, dia lalu mendongkakan kepalanya melihat llangit gelap yang dipenuhi awan mendung, “Sebentar lagi hari akan petang, baiklah, kita harus cepat meninggalkan tempat ini dan pulang ke padepokan.” mereka pun berlari dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya menuju ke Padepokan Sirna Raga.

Nun jauh di sana, didalam sebuah goa di Gunung Padang, Prabu Kertapati terbangun dari tapa bratanya oleh suatu hentakan perasaan yang sangat tidak enak berbarengan dengan menggelegarnya sebuah petir yang maha dahsyat hingga menggetarkan seantero gunung Padang, setelah itu disusul oleh gempa yang cukup dahsyat menggoyang seluruh bumi di Gunung Padang dan sekitarnya, Raja yang amat sakti itu membuka matanya, tiba-tiba bayangan putrinya Mega Sari terus berkelebat di pelupuk matanya, hatinya merasakan suatu perasaan yang sangat tidak enak akan perihal putrinya itu.

“Mega Sari... Apa yang terjadi dengan dirimu?” bathinnya, ia lalu bangun dari duduknya dan melangkah keluar Goa. “Satu petir dahsyat, gempa bumi, dan hujan badai... Ini bukan kejadian alam biasa! Ini suatu pertanda, pertanda apa ini?” pikirnya.

Diluar goa, sudah menunggu sebuah kereta kuda beserta saisnya dan beberapa prajurit pilihan pengawal Raja, mereka semua langsung bersujud ketika melihat rajanya keluar dari dalam goa. “Kita pulang saat ini juga!” ucap Prabu Kertapati, mereka pun langsung meninggalkan Gunung Padang menuju ke Rajamandala, diperjalanan, Sang Prabu menulis sepucuk surat, kemudian ia memerintahkan pada dua orang prajurit pilihannya untuk mengantarkan surat tersebut pada Mega Sari di Padepokan Sirna Raga, isinya meminta agar Mega Sari segera meninggalkan padepokan itu untuk menyempurnakan ilmunya ke Nyai Lakbok di Gunung Patuha, dan kemudian pulang.

Di Padepokan Sirna Raga, Nyai Mantili resah menanti kepulangan Mega Sari, muridnya yang paling istimewa karena merupakan putri Prabu Mega Mendung. Ia semakin gelisah ketika setelah shalat Maghrib muridnya itu masih juga belum pulang, Ia lalu menghampiri Nilawati murid perempuan tertua di Padepokan Sirna Raga yang paling ia percayai, “Aku sudah memberimu tugas untuk mengawasi adik-adikmu termasuk Mega Sari, tapi sampai sekarang Mega Sari belum juga pulang! Kamu juga tidak tahu ke mana perginya!”

“Ampun guru, saya memang salah, saya tidak tahu kalau Mega Sari pergi, soalnya tadi siang saya dan beberapa murid melihat Mega Sari masih di kebun memetik sayur, setelah itu saya melihat ia pergi meninggalkan kebun setelah seseorang mendatanginya...” jawab Nilawati.

“Siapa?” Tanya Nyai Mantili.

“Sama...” Nilawati tak dapat melanjutkan ucapannya, ia merasa takut dan segan untuk berterus terang, khawatir Nyai Mantili akan marah.

Nyai Mantili tersenyum kecil, ia seolah dapat menangkap alasan keengganan murid tertuanya itu menjawab pertanyaannya, permepuan paruh baya ini lalu memegang bahu Nilawati, sambil tersenyum dan bersuara lembut ia bertanya lagi “Nilawati, aku tidak akan marah padamu, tapi aku hanya kau ingat bahwa saat ini Kyai Guru sedang keluar, akulah yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi di padepokan ini, aku juga meminta bantuanmu untuk mengawasi para murid putri di padepokan kita ini, nah apakah kau tahu Mega Sari pergi dengan siapa? Tidak mungkin bukan kalau dia pergi bersama utusan kerajaan tanpa memberi tahu kita terlebih dahulu?”

Gadis muda asal kaki Gunung Wayang ini mengangguk, “Maafkan saya sebelumnya Guru, saya tidak melihat dengan jelas siapa pria yang menjemput Mega Sari, tapi berdasarkan apa yang saya dengar dari para murid putra, hingga saat ini Jaka Lelana pun belum pulang…”

Nyai Mantili mengangguk-ngangguk, “Jadi menurutmu Mega Sari pergi bersama Jaka Lelana?”

Nilawati mengangguk perlahan, “Maaf Guru, saya tidak berani menuduh demikian, takut suudzon, tapi kemungkinan itu tetap ada sebab selama ini Mega Sari dikenal dekat dengan Jaka Lelana dan Dharmadipa.” 

Nyai Mantili menghela nafas, ketika ia sedang terdiam merenung, tiba-tiba pintu ruangan itu diketuk dari luar, “Masuk!” jawab Nyai Matili, terbukalah pintu itu, dan nampaklah Mega Sari yang basah kuyub sambil menundukan kepalanya.

“Guru... Maafkan saya” ucap Mega Sari perlahan.

Nyai Mantili tidak langsung menjawab, Ia hanya menatap dari atas hingga ke bawah Mega Sari yang basah kuyub itu, “Mega Sari... Kau tahu bukan bahwa apa yang kau lakukan itu salah?”

Mega Sari mengangguk perlahan, “Paham guru…” jawabnya perlahan.

“Mega Sari... Aku tidak marah dan tidak ingin marah, tapi aku harus memberi tahu padamu bahwa semua yang kamu lakukan tidak hanya membawa namamu sendiri, tapi juga membawa nama keluargamu, nama negaramu, dan semenjak kau menjadi murid di padepokan ini karena dititipkan oleh ayahmu pada kami, maka kau juga membawa nama padepokan ini, paham?”

Mega Sari mengangguk perlahan, dari wajahnya terlihat jelas penyesalan yang teramat sangat, tapi nasihat dari mulut Nyai Matili terus meluncur, “Mega Sari, tentunya kamu tidak ada niat untuk mempermalukan keluargamu, negaramu, dan padepokan ini bukan? Sebab kau tahu, betapa tidak adilnya kalau seluruh keluarga kerajaan, Negara, dan padepokan ini cemar karena perbuatan salah seorang anggotanya! Kau tahu kan?” 

Mega Sari mengangguk perlahan, air matanya turun membasahi pipinya yang tadi telah basah oleh air hujan, “Darimana kamu?” Tanya Nyai Mantili dengan suara lembut namun tegas, Mega Sari tidak menjawab, hanya bahunya saja terlihat berguncang dan isak tangisnya yang mulai terdengar.

Nyai Mantili menghela nafas, ia lalu menghampiri Mega Sari dan memegang bahu Mega Sari dengan lembut, “Mega Sari, aku tidak marah... Aku hanya ingin mengingatkan bahwa ayah dan ibumu, Gusti Prabu dan Gusti Dewi Mega Mendung, menitipkan kamu untuk kami didik agar dapat menjadi seorang calon pemimpin yang tangguh serta bertanggung jawab, kami tidak membeda-bedakan dirimu dengan murid-murid yang lainnya demi kebaikanmu juga, termasuk dalam hal peraturan yang harus ditaati, kamu tahu bukan kalau di padepokan ini murid putri dilarang untuk berbaur dengan murid putra apapun alasannya? Kalian juga dilarang meninggalkan kawasan Bukit Tagok Apu serta sebelum magrib harus sudah kembali ke padepokan! Itu semua demi kebaikanmu!”

Mega Sari mengangguk-ngangguk sambil menangis sesegukan, “Sekarang katakan terus terang, apakah kau pergi dengan seorang laki-laki?” Mega Sari mengangguk, “Apakah laki-laki itu Jaka Lelana?” Mega Sari mengangguk lagi.

Nyai Mantili melepaskan tangannya dari bahu Mega Sari, ia lalu berbalik pada Nilawati, “Nilawati, aku minta kau merahasiakan semua ini dari seluruh murid, besok sesudah sholat subuh aku ingin menemui Jaka dan Mega Sari di kamar ini tanpa ada yang tahu!” Nilawati pun mengangguk.

      ***

Bayangan kejadian tiga tahun silam tersebut begitu jelas membayang di mata Jaya dan Mega Sari yang sama-sama duduk sambil memandangi aliran sungai Citarum yang jernih tersebut, Mega Sari lalu menoleh pada Jaya yang sedang terdiam seribu bahasa itu, “Nyai Guru menanyakan apakah aku mencintaimu, ia juga menanyakan apa yang terjadi didalam goa itu apakah aku dipaksa olehmu atau atas dasar suka sama suka... Mula-mula aku diam tak menjawab, tapi setelah ia mengancam akan memberi tahu Kyai Guru Pamenang dan akan menghukum Kakang dengan berat kalau aku tidak mencintaimu, maka cepat aku mengaku kalau aku mencintaimu!”

Jaya menghela nafas berat, dadanya serasa berat seolah ditimpa satu beban yang teramat sangat berat, dengan tatapan mata sayu ia pun menatap Mega Sari, “Tapi aku memang sangat mencintaimu Kakang! Saat itu baru Kakang dan Kakang Dharmadipa lelaki yang aku kenal, tapi perasaanku padamu begitu kuat, hingga membuatku sakit setiap saat aku tidak melihatmu, dirimu terus menghantuiku di alam mimpi hingga membuatku menderita, dan baru sekali itulah, aku disentuh oleh lelaki!”

Dua butir air yang sangat bening turun dari kedua mata Mega Sari, “Terus terang, aku takut kalau Kakang sampai dihukum berat oleh Kyai Guru, dan aku sangat takut kalau Kyai Guru akan melaporkan perbuatan Kakang pada ayahanda Prabu…”

Jaya berdiri dari duduknya, lalu berjalan mondar-mandir, “Nyai dan Kyai Guru memang guru yang bijak, besoknya setelah Kyai Guru pulang, Nyai Guru melaporkan perbuatan kita padanya, Kyai Guru sangat marah padaku, aku pun memohon maaf padanya dan bersiap akan menerima apapun hukuman yang akan ditimpakan padaku, ia lalu memintaku untuk berjanji tidak akan mengulangi perbuatan semacam itu lagi padamu ataupun pada semua wanita. Ia juga membatalkan niatnya untuk menurunkan ajian Pukulan Sirna Raga padaku dan hanya mengajarkannya pada Kakang Dharmadipa, meskipun akhirnya ia tetap menurunkan ajian itu padaku setelah Kakang Dharmadipa melukaiku dengan pukulan pamungkas itu.”

Jaya lalu memungut sebuah batu dan melemparkannya ke tengah sungai, “Beberapa hari kemudian, kau mendapatkan surat dari Gusti Prabu untuk segera meninggalkan padepokan dan memperdalam ilmumu ke Gunung Patuha, saat itu pula aku seolah baru tersadar bahwa kau adalah seorang Gusti Putri, seorang tuan putri yang teramat sangat sulit aku raih... Hatiku hancur saat menyadari hal tersebut, aku semakin terpuruk ketika kau benar-benar pergi meninggalkan padepokan, begitu pun Kakang Dharmadipa ia sangat terpukul akan kepergiaanmu hingga nekat untuk menyusulmu, aku pun diberi tugas oleh guru untuk mengejarnya, tapi gagal hingga terjadilah kesalah pahaman di antara kami, kami beradu kesaktian dan ia berhasil mengalahkan aku, aku terjatuh ke Jurang Lembah Akhirat... 

Hingga tiga tahun berlalu, saat aku mulai berusaha untuk menata hatiku kembali, aku mendengar kabar bahwa kau telah menikah dengan Kakang Dharmadipa, kembali kepingan-kepingan hatiku yang telah susah payah aku susun kembali, hancur luluh lantah oleh kabar pernikahan kalian...” tutur Jaya dengan lemas. Saat tiga tahun yang lalu sewaktu Mega Sari pergi meninggalkan padepokan, saat itulah Jaya mulai kembali mendekatkan diri pada Sang Maha Kuasa, memperbaiki imannya yang telah goyah selama ia memendam cinta pada Mega Sari, namun tetap ia tiada sanggup untuk menghapus Mega Sari dari dalam lubuk hatinya.

Kembali kesunyian menyelimuti tepian sungai itu, kesunyian berlangsung beberapa saat hingga tak terasa hari sudah mulai siang, sungguh mereka berdua saling menyesali berjalannya waktu! Ingin benar mereka kembali ke masa tiga tahun yang lalu, andaikan bisa, Mega Sari ingin sekali memaksa Jaya untuk ikut dengannya meninggalkan Padepokan lalu ke Gunung Patuha bersama pria yang ia cintai itu, di sana ia akan meminta nasihat dan bantuan Nyai Lakbok untuk dapat menyatukan mereka dalam suatu ikatan perkawinan, karena ternyata tujuan utama ayahnya menyurhnya pulang sebab sang Prabu telah mendapat ilapat bahwa putrinya telah menjalin hubungan dengan seorang murid dari kalangan rakyat jelata, maka ia segera memilihkan jodoh untuknya yakni Pangeran Mundingsura dari Pasir Wangi! 

Tapi nasi sudah menjadi bubur, kini Mega Sari sudah menjadi istri Dharmadipa dan ia sudah berhasil mendudukan Dharmadipa menjadi pangeran calon penerus tahta ayahanda Prabunya.

Saat itu datanglah Ki Silah menghampiri mereka berdua, “Ampun Gusti, hari sudah siang, apakah kita kembali sekarang?”

Mega Sari menghela nafas, ia lalu menoleh pada Jaya, “Yah sebaiknya kita pulang, Kakang bukankah kau juga sekarang sudah menjadi lurah tantama di kestariaan? Kau juga harus segera kembali bukan?”

Jaya mengangguk, “Iya, aku juga harus segera kembali.”

Mega Sari lalu melangkah mendekati Jaya, “Baiklah, mulai saat ini aku akan memanggilmu Kang Jaya. Kakang sebaiknya aku pulang duluan, baru kemudian Kakang menyusulku, aku tidak enak kalau sampai Kakang Dharmadipa melihat kita tiba berbarengan.” 

Jaya mengangguk setuju, “Dan satu lagi, aku minta Kakang menganggap aku sebagai istri dari Pangeran Dharmadipa, karena saat ini aku sudah menjadi milik orang lain!” pinta Mega Sari, Jaya mengangguk dengan berat hati, mereka pun meninggalkan tempat itu, Mega Sari berangkat duluan dengan menggunakan kereta kudanya.


“Jujur, meskipun aku tahu kau sudah menikah dengan Kakang Dharmadipa, dan kedua guruku telah menentang perasaanku padamu, aku masih tetap mencintaimu Mega Sari, tak kuasa aku memadamkan api asmara yang terlanjur membara di sanubariku sejak lama! Kini api itu kembali membara dan semakin menggelora membakar padang rumput dihatiku yang telah lama tandus!” bathin Jaya sambil berjalan menuju ke keraton Mega Mendung.

Di sebrang sungai tempat Jaya dan Mega Sari bercengkrama tadi, nampaklah sepasang bola mata tajam bulat yang menatap mereka dengan perasaan penuh kemarahan dan dendam kesumat! Sepasang mata gadis berkulit hitam manis itu terus melotot bagaikan hendak meloncat keluar dari tempatnya! Entah Jaya mengetahui keberadaannya atau tidak, tapi semenjak pagi hari Jaya mandi di sungai tersebut, gadis itu sudah ada di sana dan mengamati gerak-gerik Jaya. Gadis itu lalu keluar dari semak belukar tempat persembunyiannya, matanya yang tadi telah memerah menahan gelora didadanya kini membasah menitikan air matanya, “Jaya...” rintihnya.

Saat itu seorang pria tua bermata buta yang membawa sebuah kecapi di punggungnya mendekati dirinya, “Ternyata desas-desus di padepokan Sirna Raga bahwa Putri Mega Sari telah dekat dengan salah seorang murid putra Kyai Pamenang dari golongan rakyat biasa itu benar adanya, bukan dengan Dharmadipa yang sekarang menjadi suaminya, melainkan dengan Jaya Laksana yang dahulu bernama Jaka Lelana…” ucapnya perlahan.

“Jadi Guru menyuruh murid untuk menikahi seorang pemuda kurang ajar tak tahu adat yang berani mendekati putri raja dan sekarang berani menganggu istri Kakak Seperguruannya sendiri?” Tanya Galuh dengan bersungut-sungut yang sedari tadi mencuri dengar perbincangan Jaya dengan Mega Sari menggunakan ilmu mencuri dengarnya.

Si Dewa Pengemis menyeringai pahit, “Galuh, memang apa yang mereka lakukan tadi saling bertemu tanpa diketahui atau seizin suami Putri Mega Sari adalah perbuatan salah dimata agama dan adat kita, tapi seperti yang kamu dengar tadi, di antara mereka sudah tidak ada apa-apa lagi, Mega Sari meminta Jaya untuk tidak menganggunya karena ia sudah menjadi istri orang lain.”

“Tapi tetap saja, Jaya pasti masih mencintai putri itu! Dan dibandingkan dengan putri raja lalim pembunuh itu, jelas aku tidak ada apa-apanya!” rintih Galuh sambl menangis.

Si Dewa pengemis lalu duduk sambil memainkan kecapinya membawakan lagu yang teramat sendu apabila didengar, “Baiklah... Kalau begitu aku ingin bertanya padamu, apakah kau hendak meneruskan tugasmu untuk menikahi Jaya atau kembali ke Bukit Tunggul dan menerima hukuman menjadi pertapa perawan seumur hidup?”

Galuh terdiam termanggu, ia menatap kosong ke arah kepergian Jaya dengan air mata yang masih terus mengalir, hatinya teramat sakit dibakar api cemburu sebab ternyata pria yang ia sukai pertama kali dalam hidupnya itu, telah hampir melakukan suatu perbuatan dosa besar dengan wanita lain yang sangat dicintai oleh pria tersebut, bahkan barangkali saat ini pun pria itu masih mencintainya meskipun wanita itu sudah menikah dengan orang lain!