Episode 68 - The Answer



Di waktu yang sama, tengah malam menjelang hari berikutnya, Nicholas dan Velizar yang mengenakan jubah hitam sedang duduk di tengah hutan, berkemah pada area hutan yang memiliki sedikit pohon sehingga ada ruang luas, dimana mereka bisa berhenti sejenak dan beristirahat.

Velizar duduk di sebuah kursi kayu dan di depan api unggun, kemudian membuka tudungnya.

"Hoahhmm..." kata Velizar menguap lemas sambil memakan bekal yang sudah dingin dengan tidak bersemangat, makanannya berupa nasi dan lauk-pauk murah seperti tahu dan tempe yang sudah dingin dan lembek. "Kenapa harus malam-malam begini sih."

"Bodoh, memangnya kita sedang libur," kata Nicholas sambil memakan bekal dinginnya dengan tergesa-gesa dengan hoodie terbuka. "Mana boleh keluar masuk kota tanpa izin yang jelas. Tingkat 1 tidak diizinkan mengambil Quest yang dikerjakan di luar pada saat malam hari jadi, terpaksa kita harus menyelinap seperti ini." 

"Hah..." Velizar menghela nafas. "Malah kuda kita kabur entah kemana lagi, dua jam lebih kita jalan kaki menuju Trien. Hah... luar biasa."

"Apa boleh buat, tak satupun dari kita bisa mengendarai kuda." Nicholas meneguk air putih dari kantung kulit di pinggangnya. "Puah! Rasanya menjijikan. Jadi seperti ini perbekalan bandit jalanan. Makanan basi dirumahku masih jauh lebih enak."

"Hah! Hah! Ka-kalian masih anak-anak." tunjuk bandit yang terikat di pohon dengan tali pengikat berwarna hitam yang terbuat dari sihir Nicholas.

"Percuma saja, mereka penyihir, kita bisa apa." kata bandit yang lainnya dengan nasib yang sama, diikat di pohon yang sama bersamaan dengan ketiga bandit lainnya.

"Bos! Tolong lepaskan kami!" sahut bandit yang lainnya lagi.

"Berisik! Kalian tidak liihat, aku juga terika oleh dua bocah ini." kata ketua mereka.

"Berisik! Diam kalian!" bentak Nicholas sambil membanting makanannya. Kemudian ia berdirii dan mengusap-usap mulutnya

BRAGGGH !!

"Selanjutnya bagaimana?" tanya Velizar yang ikut berdiri dengan cara yang kurang bersemangat.

"Meski rasanya seperti sampah, tapi paling tidak aku tidak akan lemas. Kuda curian kita di desa dekat Vheins sudah kabur entah kemana. Kita ambil kuda-kuda bandit ini."

"Kau yakin?" tanya Velizar dengan datar. "Oke, mungkin kita akan jatuh lagi dan kudanya melarikan diri lagi."

"Tidak masalah. Yang penting kakiku tidak harus berjalan lagi." kata Nicholas menghampiri kuda hitam milik kelompok bandit itu. 

"Hei! Hei! Kalian serius ingin mencuri kuda kami?" tanya ketua bandit itu.

"Paling tidak tolong lepaskan talit hitam ini. Sakit sekali rasanya, seperti menggigit dagingku."

"Hah! Apa peduliku." Nicholas segera melompat dan menaiki kuda hitam itu. "Vel, Trien sebelah mana. Sudah lama sekali aku tidak kerumahnya."

"Masih ke timur lagi, kalau sudah sampai di hutan ini, seharusnya sudah dekat." Jawab Vel sambil melihat sekeliling dan secara perlahan-lahan menaiki kuda yang satunya, yang berwarna abu-abu.

"Baiklah!" Nicholas memecut kudanya keras-keras. Dan...

Hyehehehe!

"Woa! Woa! Maju!" sahut Nicholas selagi kudanya berlari cepat.

Nicholas melihat ke langit malam, meski tertutupi pepohohan hutan namun ia tetap menerka-nerka waktu saat ini dalam posisi berkuda yang naik turun. "Luar biasa, kita sudah 4 jam sejak meninggalkan kota. Semua demi si brengsek Sinus ini. Velizar! Buruan!" 

"Oke..." kata Velizar dengan tenang dan tidak bersemangat, di atas kuda yang tidak seimbang sekalipun.

***

"Leena..." kata Alzen dengan teguh. "Aku cinta kamu..."

"..." mendengar itu semua, Leena hanya terdiam. Saling menatap mata satu sama lain. Dan untuk beberapa saat lamanya. Mereka hanya berdiri berdua tanpa ada kalimat berikutnya keluar dari mulut Leena.

"Jadi, Leena..." menanti jawaban dari Leena yang tak pasti, meruntuhkan kepercayaan diri Alzen sedikit demi sedikit. "Maukah kamu menjadi... ke-kekasihku." kata Alzen dengan menahan rasa malunya dengan nada bicara yang mulai terbatah-batah.

"Pffft..." Leena keceplosan, ia berusaha menahan tawa sedari tadi dengan wajah serius tapi akhirnya ia tak sanggup lagi. "Hahaha maaf-maaf Alzen. Hahaha..."

"Hah?" Alzen dibuat bingung sekaligus malu, wajahnya betul-betul merah dan mulai menyesali hal yang dilakukannya beberapa menit lalu.

"Jadi kau mengundangku kemari untuk hal seperti itu?"

"I...iya...memangnya." Alzen dibuat malu sekali, ia seketika blank dan tak punya kata-kata untuk diucapkan lagi.

"Maaf Alzen maaf... pfftt..." kata Leena sambil membungkukkan badan dan berbalik untuk menahan tawa. "Tidak sekarang, sudah ya... selamat malam. Bye..." kemudian Leena berpaling sepenuhnya dan berjalan menjauh. Saat ia beranjak pergi. Dari belakang, tangannya terlihat masih terus menutupi mulutnya dan gerakkan gemetar seperti orang tertawa. 

Alzen melambaikan tangan kembali pada Leena yang perlahan menjauh. Dengan wajah senyum namun hatinya terluka. Ia terus menahan beberapa saat lamanya hingga Leena benar-benar tidak terlihat lagi.

Alzen menjatuhkan dengkulkan ke tanah pijakkan yang terbuat dari batu. Lalu duduk berlutut dan kemudian membungkuk hingga dahinya menyentuh lantai batu tempat ia berdiri. Ekpresinya hampa dan air mata langsung mengalir keluar hingga menetes ke lantai.

"Jadi... masih belum ya." kata Alzen yang kemudian menutup kedua sisi wajahnya dengan tangan.

***

Tengah malam di waktu yang sama, Chandra sedang duduk di depan meja belajarnya dan terlihat begitu serius mendalami pelajaran di buku sihir tersebut. Ruangannya gelap, lampu belum ditemukan di jaman ini. Jadi Chandra hanya bisa memanfaatkan terang bulan yang tak seberapa itu di kamarnya dengan tambahan kotak cahaya berisi makluk bercahaya seperti kunang-kunang, yang di taruh di samping kanan tempat ia menaruh buku yang sedang dipelajarinya.

"Ditulisnya begini begitu, aku sudah ikuti tapi tak ada yang berubah. Grahhh!" Chandra teriak hingga mengacak-acak rambutnya. "Aku masih belum bisa juga. Padahal sudah mentah-mentah aku ikuti tahap demi tahap. Apa yang salah sih? Apa intruksinya tidak lengkap? Percuma buku setebal hampir seribu halaman ini tapi tak satupun bisa aku praktekan."

Chandra mempraktekkannya sekali lagi. Ia sudah menyiapkan setoples air khusus untuk sihir penyembuhan, yang sebenarnya hanya air biasa, namun jernih sekali. Tapi berulang kali ia melakukannya tak ada satupun yang berhasil. Air itu tak kunjung menyembuhkan luka sayat di lengan kirinya yang ia sayat sendiri untuk sekedar mempraktekan sihir ini.

30 menit kemudian, 

Chandra terus melakukannya berulang-ulang dengan tahap-tahap yang buku itu ajarkan. Setiap kali ia tak bisa melakukannya, Chandra kembali ke poin awal dan mencoba lebih berkonsentrasi lalu mengulanginya lagi. Ia terus lakukan itu berkali-kali, namun luka sayat di lengannya yang ia gores menggunakan pisau dapur belum juga hilang.

"GWAAAHH !!" teriak Chandra keras-keras di tengah malam. "Apa-apaan buku ini!" kemudian ia menutup buku tebal itu lalu membantingnya ke tong sampah di samping bawahnya.

"Hei Chandra! Berisik, kami juga butuh tidur." kata tetangga kamar asramanya, yang adalah pelajar angkatannya sendiri.

"Duh!" Chandra menyandarkan diri pada meja dan stress hinga sekali lagi mengacak-acak rambutnya. "Sihir penyembuhan kok susah ya?! Tidak ada yang aku mengerti. Aku sudah mencobanya berulang kali tapi luka ini." Chandra memandangi sayatan di lengan kirinya dari dekat. "Tidak kunjung sembuh juga."

"Kalau aku belum bisa-bisa juga. Bagaimana aku bisa menyelamatkan kampung halamanku, negaraku, teman-teman dan keluargaku." kata Chandra dengan kesal bercampur sedih. Ia memiliki beban berat sebagai tanggung jawab yang harus ia pikul.

"Alzen! Bagaimana nih?!" badan Chandra beranjak naik dan ia bersandar di kursi kali ini. "Tolong aku dong." katanya sambil menatap ke atas. "Hahh... iya, Alzen juga tak bisa sihir penyembuhan. Iya kan Al-"

Chandra menoleh ke ranjang dan baru sadar Alzen tidak ada di tempat tidurnya. "Loh? Dia pergi? Sejak kapan?" kemudian Chandra tertawa canggung. "Haha... aku bahkan tak sadar dia keluar. Apa aku terlalu fokus dengan hal ini ya."

Krieeekk...

Pintu terbuka dan Alzen baru kembali dari luar asrama.

"Wah, baru saja diomongin, Alzen, Kamu..." Chandra menoleh ke belakang, dan ia mendapati ekspresi Alzen tidak bertenaga, matanya selalu melihat ke bawah dan pandangannya kosong. Matanya sedikit memerah dan air mata yang mengering di pipinya masih terlihat jelas. Melihat Alzen seperti itu, Chandra tak melanjukan kalimatnya.

Selagi berjalan lemas yang hampir mirip seperti zombie, Alzen langsung menjatuhkan dirinya di kasur, menutup dirinya dengan selimut hingga menutupi kepalanya lalu diam terbungkus di dalamnya tanpa ada sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Chandra mengerti itu, ia tahu Alzen mengalami sesuatu entah apapun itu. Ia ikut berempati dan tak mencoba bertanya atau menghiburnya yang justru akan memperparah. Satu-satunya hal yang ia bisa lakukan adalah diam dan tidak memperkeruh suasana. 

Ia mengambil kembali buku tebal yang baru saja ia buang ke tong sampah beberapa saat lalu, membukanya, mencoba membacanya lagi. Tapi fokusnya kini terpecah. Ia ingin tahu apa yang terjadi pada Alzen tapi ia tak seharusnya menanyakan itu sekarang. Tak lama, Chandra kembali menutup bukunya kemudian berbaring untuk tidur.

***

"Puah... hari yang melelahkan." Sinus meregangkan badannya di atas kasur kamarnya. "Aku sudah dikeluarkan, tak ada yang bisa kulakukan selain menyibukkan diri membantu mama. Bukan karena aku ingin, tapi karena aku tak tahu harus apa lagi disini."

Di hari-hari awal Sinus kembali ke rumahnya, ia menolak membantu ibunya yang seharian terus mengomelinya ketika ia kembali. Sinus lebih memilih tidur di kamarnya dengan menutupi matanya dengan guling dan seketika wajah Hael yang murung itu muncul di pikirannya dan membuatnya teriak-teriak kesal di kamarnya sendiri. 

Setiap matanya terpejam cukup lama, antara bayangan Hael yang muncul ataupun kejadian saat Vlaudenxius mengeluarkannya dari sekolah dan Velizar yang dengan mudahnya mengkhianati dirinya. Dua ingatan yang menghantuinya selama berada di Trien.

Tak tahan lagi berada di kamarnya dengan pikiran yang terus menganggu, Sinus menyibukkan diri keluar rumah. Tapi lama ia tidak di rumah, jadi tak banyak yang mengenalnya sekalipun ia anak orang paling kaya di kampung ini. 

Karena Sinus pada beberapa tahun terakhir di usia remajanya lebih sering berada di Vheins. Dia tidak cuma setahun dua tahun ada disana melainkan dari kecil ia sudah disekolahkan disana. Disanalah persahabatannya dengan Velizar dan Nicholas sudah lama terjalin.

Saat berjalan-berjalan di desa kecil yang dikerumuni pepohohan ini. Sinus lebih sering mengamati hal-hal kecil yang sebelumnya tak pernah ia pedulikan, seperti serangga-serangga kecil seperti gerombolan semut dan kupu-kupu yang terbang bebas. 

"Hahh..." Sinus menghembuskan nafas dari mulutnya, ia dalam posisi jongkok mengamati hal-hal kecil yang terjadi di rumput. "Tidak berguna juga, Hael dan pak tua Vlau masih berkali-kali muncul di ingatanku." katanya dengan murung.

"Hei! Gak salah lihat nih?"

"Huh!?" mendengar suara yang tak asing, Sinus langsung menoleh ke asal suara itu. "Gera?" kata Sinus yang tiba-tiba menjadi lebih berhati-hati.

"Wahh... ternyata benar kau Sinus." Gera menghampiri dan menyapanya. Ia adalah pria berbadan besar, cukup berisi tapi tidak membuatnya terlihat gendut. Rambutnya hitam spike ke atas dan tinggi badannya cukup signifikan diatas tinggi badan Sinus.

"Hei, hei lama tidak bertemu." Sinus perlahan-lahan menghindarinya dengan mundur ke belakang dengan perasaan was-was. "Kau masih sama seperti dulu." katanya dengan nada takut. "Kau sama sekali tidak berubah ya."

"Ya aku tidak berubah, tapi semakin besar. Iya kan Sinus." katanya dengan biasa, tapi di telinga Sinus, nadanya seperti mengancam.

"Hei kita sudah sama-sama besar, apa harus kau bertingkah seperti dulu lagi?" kata Sinus yang semakin lama semakin ketakutan.

"Seperti dulu ya." kata Gera sambil meremas-remas kepala tangan padatnya. 

"He, Hei! Jangan bilang kalau..."

"Ahh aku merindukan ini." Gera berancang-ancang memundurkan tangannya ke belakang lalu memutar tangannya untuk meninju Sinus sekeras mungkin.

"Aaa...aaa... HWAA!" dengan refleks Sinus menahan dirinya dengan dinding hitam dari sihirnya.

"Aww! Apa ini?" tinju Gera terhenti dan terpantulkan. "Sihir ya? Tapi kok tidak kuat-kuat amat... bagaimana kalau..." Gera mengepal kedua tangannya kuat-kuat lalu menghantamkannya seperti sebuah palu dan...

PRANNKK !!

"Ha-ha-ha-hancur!!?" Sinus gemetar ketakutan, Barrier sihirnya hancur oleh orang besar yang bahkan tidak bisa menggunakan Aura.

"Hahaha... kau tidak bisa sembunyi lagi." Gera menarik baju Sinus dan menariknya kuat-kuat hingga sangat dekat ke depan wajahnya. Lalu...

BAK! BUK! BAK! BUK!

Sinus dihajar berkali-kali hingga biru mukanya. Ia berbaring di atas rumput dan menatap langit dengan kondisi memar. Setelah Gera puas memukulinya, ia pergi dengan rasa puas. Hingga Gera tak lagi kelihatan, Sinus mencoba tertawa keras-keras di tengah sunyinya tempat ia berada saat ini. Tapi tak lama kemudian, air mata mengalir tiba-tiba, seketika tawa terhenti dan berubah jadi tangisan keras Sinus.

"Kenapa, mereka masih terus mengangguku juga... Hael! Pak Vlau! Pergi kalian!" sahutnya keras-keras hingga burung-burung yang ada di pohon langsung terbang menjauh. Ingatan akan dua wajah orang itu terus-menerus muncul setiap mata Sinus terpejam cukup lama.

Sore harinya, Sinus kembali, wajahnya babak belur dan jalannya lambat karena kesakitan.

"Ma! Aku pulang..." katanya dengan nada lemas sambil terus-menerus mengusap-usap wajahnya.

Ia secara inisiatif membantu ibunya yang sedang sibuk dengan urusan pekerjaan rumah tangga. Tapi bukan karena ia ingin, melainkan untuk menyibukkan pikirannya.

"Sini ma, biar aku bantu."

"Loh tidak usah... Haa? Sinus, kamu kenapa? Kok sampai-"

"Tidak bukan apa-apa jangan khawatir, cuma hal sepele." Kata Sinus sambil terus mencuci piring.

"Coba ceritakan apa yang terjadi biar ma-"

Lalu potong Sinus lagi. "Sudah tidakusah..."

"Jangan bohong, pasti terjadi sesuatu kan. Ayo cepat, ceri-"

"SUDAH KUBILANG TIDAK USAH !!" bentak Sinus ke ibunya. 

"..." Ibu Sinus hanya terdiam setelahnya, tidak berbalik marah ataupun kesal, ekpresinya berubah menjadi begitu datar setelahnya.

"Aaa... maaf ma..." Sinus menyesalinya dengan segera

"..." Ibunya melanjutkan pekerjaannya dan tidak membalas.

***

Selagi mencoba tidur di kasurnya, ia menutup matanya dengan guling dan Sinus berulangkali teringat pada dua kejadian itu lagi. Seketika giginya dikertakan dan ia kesal sekali pada malam itu.

Tok! Tok! Tok!

"Sinus, boleh papa masuk sebentar?" kata Ayah Sinus di depan pintu kamarnya.

 "Masuk saja pa... tidak dikunci kok."

Ayah Sinus masuk dan menghampirinya dengan tersenyum.

"Sejak aku pulang, papa belum pernah keluar rumah... apa papa tidak pergi bekerja?"

"Ssst... tidak usah memikirkan itu, papa baik-baik saja. Tapi kamu, kamu sedang dalam kesulitan. Semua itu menjadi kurang penting ketika kamu yang paling penting buat papa saat ini." kata Ayah Sinus di sampingnya.

"Aish... kau menjadi menjijikan pa..."

"Hahaha... tidak-tidak," Ayah Sinus termenung. "Aku jarang melihatmu di rumah, kamu lebih banyak menghabiskan waktu di kota itu. Jadi, meskipun momennya kurang begitu bagus. Tapi karena anak papa satu-satunya sedang ada di rumah, jadi papa lebih ingin menghabiskan waktu disini bersama kamu, melebihi hal lainnya."

"..." Sinus menutup dirinya dengan guling, ia tak membalas kata-kata ayahnya. Tapi jujur dalam hati ia senang begitu dipedulikan Ayahnya.

"Hei! Sinus! Keluar kau! Kau pasti di rumahkan sekarang ini?" sahut suara seseorang dari luar. Suara yang tak asing bagi Sinus.

"Hah... Sinus... cepat keluar..." kata seseorang dari luar dengan nada datar dan lemas, yang juga tak asing di telinga Sinus.

Sinus langsung melempar gulingnya dan terbangun. "Hah!? Kalian..."

***