Episode 66 - Most Wanted Invention



"Kami akan mengembangkan alat itu, untuk bisa digunakan orang biasa yang tidak bisa sihir sama sekali." kata Vogelweid. "Penemuan ini akan sangat membantu sekali peradaban manusia dan mengurangi ketergantungan manusia terhadap kemampuan sihir. Dan alat yang kami maksud adalah..."

“Tunggu dulu, untuk soal itu,” kata Vladenxius sambil memejamkan mata dan membukanya dengan tatapan tajam. “Sekali lagi kami tetap mengatakan tidak!”

“Ada apa dengan sodara Vlaudexius ini?!” bantah Vogelweid kesal hingga menggebrak meja. “Kami sudah minta ini dari tahun ke tahun. Namun tanpa mau dengar sedikitpun alasan dari kami, sodara...”

“Sederhana saja jawabannya!” potong Vlaudenxius dengan nada tinggi. “Jika kemampuan teknologi sihir ini bisa digunakan semua orang, maka akan besar kemungkinannya disalahgunakan!”

“Apa hal terburuk yang bisa terjadi dari kemampuan manusia untuk bisa berkomunikasi dengan manusia lain dari jarak yang sangat jauh! Kami sangat perlu itu...” kata Vogelweid tegas dan suasana diskusi jadi panas. “Tidak! Tapi dunia perlu itu!”

“Interupsi!” salah seorang pelajar tingkat 2 mengangkat tangan.

“Ahh? Orang itu kan?” pikir Alzen sambil mengingat-ingat. “Kalau tidak salah...”

Alzen pernah bertemu dengan kakak kelasnya ini sewaktu kembali dari rumahnya, seorang pria tinggi berambut putih dengan kacamata yang tidak sengaja di tabraknya waktu itu. Meski ia baru menyadarinya ketika mereka sama-sama duduk dalam diskusi yang sama. Berbeda dengan saat pertama kali Alzen bertemu dengannya, disini. Ia terlihat seperti anak yang sangat serius dalam diskusi.

“Penemuan apa yang sodara maksud disini? Jika mengacu pada kemampuan bicara dalam jarak yang sangat jauh. Asumsiku tertuju pada teknologi sihir, Crystal Communicator yang kami miliki? Apa itu benar? Atau...”

“Ya! Penemuan itu yang kami maksud,” balas Vogelweid. “Aku harap, kalian anak-anak muda bisa mengerti, dunia saat ini perlu suatu alat komunikasi jarak jauh. Semisal negara dalam perang, kita tidak lagi memerlukan burung merparti atau pengantar surat untuk saling bertukar informasi. Dengan alat itu, umat manusia akan...”

“Itu dia masalahnya!” komentar Vlaudenxius dengan anda kesal. “Kalian gunakan alat ini semata untuk kepentingan perang. Sangat jauh dari apa yang kalian ucapkan barusan.”

“Apa sodara tidak mau melihat faktanya. Perang terjadi terus-menerus!” balas Vogelweid. “Aku ikut lega, benua Azuria yang kalian diami saat ini, sudah damai sekarang. Tapi di belahan dunia yang lain. Perang masih terjadi dan akan terus terjadi. Dengan teknologi yang kalian dan kami miliki, orang-orang biasa juga bisa punya andil. Tidak melulu bergantung pada kemampuan Aura.”

“Tidak!” bantah Vladenxius sekali lagi. “Dunia akan jadi lebih kacau lagi jika setiap individu punya kekuatan seperti itu. Lihat saja yang kalian lakukan sekarang. Kalian mensuplai pasokan senjata untuk kedua aliansi yang sedang berperang di North Azuria! Jelas orientasi kalian mengarah pada profit.”

“Jangan asal menuduh!” bantah Eric. “Apa bapak punya bukti?!”

“Memangnya dimana lagi negara yang mampu memproduksi senapan dan segala macam senjata api begitu banyak. Selain kalian, orang-orang Marchestast Empire!”

“Ugh... soal itu...” Vogelweid tidak bisa menjawab.

“Ya...! Yang sodara Vlau katakan barusan itu banyak benarnya,” sambung Noire. “Tapi itu baru salah satu sudut pandang saja. Dari sudut pandang kalian, kami seolah menyokong senjata untuk kedua aliansi besar yang sedang berperang. Tapi dari sudut pandang kami. Kami perlu dana yang sangat banyak untuk mendanai peneletian-penelitan kami yang akan membantu peradaban umat manusia ke depannya.”

“Kalian bicara seolah peduli dengan umat manusia,” balas Vlaudenxius. “Orientasi kalian sekali lagi jelas adalah kepentingan bisnis semata. Dampak yang ditimbulkan dari cara kalian memperolehnya, tidak kalian pikirkan matang-matang. Malah mungkin cenderung mengabaikannya.”

“Hei... hei...” potong Nicholas. “Apa kita berdiskusi di tempat yang baik ini untuk saling adu teriak saja? Apa tak ada penemuan lain atau membahas hal lain yang tidak memanaskan suasana di sini. Memang, sebenarnya kalian berempat kemari untuk apa? Untuk ribut dengan kami atau perlu teknologi yang kami punya?”

“Sodara benar, maaf atas kelancangan kami,” balas Vogelweid sambil merunduk sesal. “Tapi tolong pertimbangkan baik-baik penawaran kami ini. Jika kami boleh mengembangkan Crystal Communicator yang kalian miliki, agar bisa digunakan semua orang. Dampaknya akan sangat besar untuk semua negara.”

“Kalau begitu, boleh aku dengar pendapat kalian?” tanya Vlaudenxius sambil menenangkan dirinya. "Para murid-murid."

“Kalau aku sendiri sih setuju,” jawab Nicholas sambil melipat tangan dan bersandar dengan santainya. “Bukannya bagus kalau semua orang bisa memiliki dan menggunakan Crystal Communicator? Sekalipun mereka tidak bisa sihir.” lalu Nicholas membungkukkan badannya ke depan, di topang lengan kanannya sambil menegaskan. “Dan kalau bisa, tolong buat nama yang lebih pendek ya, Crystal Communicator? Huh! Nama yang panjang sekali.”

“Aku setuju dengannya pak!” sambung senior berambut putih itu. “Bu-bukan soal penamaannya. Melainkan seperti kata bapak barusan,” Katanya sambil membujuk Vladenxius. “Bukankah sihir ada, bukan untuk bertarung saja? Melainkan untuk merubah dunia dengan teknologi-teknologi baru, yang memudahkan hidup manusia ke depannya. Jika kita memberikan izin pada negara sebesar Marchestast Empire. Maka...”

“Namun tidak... jawabanku tetap sama,” kata Vlaudenxius dengan tenang. "Aku tahu betul orang seperti apa kalian ini."

“A-aku rasa... aku juga setuju.” sambung Alzen. “Selalu ada dua sisi dari setiap koin kan? Memang benar adanya, alat itu bisa sangat rawan disalahgunakan. Namun sisi lainnya juga, kita...”

“Cukup! Kita sudahi pembahasan itu dan lanjut ke bahasan berikutnya,” kata Vlaudenxius yang saat ini terlihat kolot sekali dan memaksakan pendapatnya. “Aku ingin sedikit melakukan diskusi dengan kalian. Sebuah pertanyaan untuk ketiga belas pelajar disini, apa kalian pernah berpikir? Elemen yang kalian miliki itu dibangkitkan dari diri kalian sendiri atau bisa dipelajari?” Vlaudenxius mengubah topik.

“Haahhh??” seluruh pelajar terpilih bertanya-tanya.

“Apa aku yang bisa tujuh elemen ini, sedari lahir memang memilikinya, hanya saja belum dibangkitkan. Dan bagi mereka yang terlahir hanya dengan satu elemen, tidak akan bisa mempelajari elemen lainnya yang tidak ia miliki sejak lahir, meski sekeras apapun mereka belajar. Para ilmuwan terhormat ini mungkin punya jawabannya.”

“So... soal itu...” kata Vogelweid dengan wajah gugup berkeringat. “Kami punya jawabannya.”

***

Sementara itu, kegiatan belajar di kelas masih berlangsung seperti biasa, tanpa melibatkan Alzen, Leena dan Nicholas yang terpilih dari pelajar tingkat 1.

Chandra di kelas, sibuk melamun sambil memutar-mutar pensilnya. “Marchestast Empire?” pikir Chandra. “Kalau tidak salah... Mereka itu kan?” Chandra mengingat-ingat sebuah negara dengan peradaban yang lebih maju dari semua yang pernah ia lihat. Yang pernah sesekali ia kunjungi saat perang besar yang menghancurkan kampung halamannya belum terjadi. Meski samar-samar, satu hal yang Chandra ingat adalah sebuah kota penuh cahaya di malam hari.

***

Di ruang kepala sekolah,

“Yang kami temukan,” kata Vogelweid. “Sangat berlawanan dengan yang kalian yakini.”

“Ya... kami sudah meriset-nya baik-baik beberapa tahun belakangan. Meski belum mendapat jawaban yang mutlak.” kata Noire sambil mengangkat bahu. “Dari 300 tawanan perang yang sebagian besar adalah bandit-bandit kecil hingga ketuanya yang paling tidak bisa menggunakan Aura, kami gunakan sebagai kelinci percobaan. Yang kami dapatkan adalah... Elemen yang belum mereka miliki. Bisa di dibangkitkan atau lebih tepatnya... Dipelajari, dengan cara-cara membuatnya dalam keadaan hampir mati. Selalu dalam kasus itu elemen lain yang belum mereka miliki bisa dibangkitkan.”

“Ha-hampir mati?!”

“Tapi ini tak selalu berhasil... 4 dari 5 orang yang berada dalam kondisi yang sama, berakhir mati tanpa hasil.”

“Tunggu dulu,” potong Alzen. “Kalian gunakan manusia untuk percobaan ini?”

"Pertanyaan bagus Alzen," puji Vlaudenxius. "Sekarang kalian sudah dapat gambaran, seperti orang pola pikir orang-orang ini." 

“Hoo... apa itu masalah buatmu?” balas Noire dengan entengnya.

“Kau !!” bentak Alzen dengan kesal.

“Alzen! Tolong jaga sikapmu!” tegur Alexia.

“Jika reaksimu begitu, aku jamin kamu sekalipun belum pernah bertemu bandit kan? Mereka manusia rendahan. Hanya hidup untuk menjarah orang-orang lemah yang sudah bersusah-susah untuk bekerja keras. Tak ada bedanya dengan hewan liar, yang jika matipun, tak ada yang peduli. Ya... kecuali...”

BUSHHHH !!

“...!!?”

Alzen menembakkan bola api yang menerjal lurus dan mengenai sedikit ujung samping rambut hitam panjangnya. Seketika semuanya terkejut dengan sikap Alzen barusan dan semua yang ada disana fokus menatapnya.

“Biar bagaimanapun, mereka tetap manusia!” tegas Alzen.

“GRRR!” Noire beranjak naik, “Berani-beraninya!” dengan wajah merah marah, Noire merogoh kantungnya dan mengarahkan pistol revolver untuk membalas tindakan Alzen barusan.

DOORRRR !!

Peluru revolver itu melesat, namun terpental oleh sebuah dinding tak terlihat.

“Ahh... ahh... Barrier ya?” tatap Noire dengan perasaan kacau dan bernafas dengan tersengal-sengal. "Cih, memang penyihir sialan." Katanya dengan suara kecil.

“Dasar bodoh!” Sonny meninjunya, lalu menarik kerah bajunya. “Kita kesini untuk bicara, bukan untuk berkelahi!”

“Hah... hah... si kecil Sonny ini sudah berani melawan senior rupanya.” kata Noire dengan memandang rendah Sonny.

“Sonny! Bawa Noire keluar dari sini!” perintah Vogelweid tegas.

“Hei... bocah rambut biru, jika beberapa tahun lagi kita bertemu lagi, akan selalu kuingat wajahmu. Lihat saja!” ancam Noire dengan nada yang sedikit terdengar gila.

“Seharusnya memang tak usah aku mengajak Noire kemari.” Vogelweid menepuk dahinya, dan sungguh, ia menyesalinya.

“Haduhh... aku tak tahu harus bagaimana? Kenapa diskusinya jadi begini sih?” pikir Eric dengan perasaan gelisah.

Meski suara tembakan tadi terdengar begitu keras di ruangan, namun tak sedikitpun suara terdengar keluar, karena selama diskusi, untuk menjaga diskusi tetap tertutup, ruangan Vlaudenxius sengaja dipasangi alat sihir untuk meredam suara, sekeras apapun suaranya.

“Mohon maaf, biar kami lanjut...”

“Diskusi selesai!” ucap Vlaudenxius sambil beranjak naik.

“Ehh!?” Vogelweid terkejut. “Tapi...”

"Kalian kemari hanya untuk Crystal Communicator itu saja kan? Sisanya tak lebih dari basa-basi, Diskusi selesai. Sampai jumpa tahun depan, terima kasih atas kehadiran kalian.” Vlaudenxius berdiri.

Seketika diskusi diselesaikan lebih awal, tanpa ada hasil yang telah diputuskan. Satu persatu mereka mulai meninggalkan ruangan dan kembali ke dorm atau tempat tinggal mereka masing-masing.

Sementara Alzen masih duduk sejenak, merenungkan apa yang ia lakukan tadi. Sebelum beranjak keluar, Vlaudenxius menepuk pundak Alzen sambil berkata, “Good job! Alzen.” tanpa tahu kata-kata itu ditujukan untuk memuji atau menyindir.

“Permisi pak,” Leena menghampiri Vogelweid, “Aku ingin tahu apa hasil dari riset itu?”

“Si anak miskin itu, bikin repot saja.” kata Nicholas dengan kesal.

“Hee? Kamu yang waktu itu kan?” sahut si senior rambut putih itu. “Wow! Kamu tadi berani banget loh!”

“Maaf, telah merusak diskusi ini.” Alzen menyesalinya hingga berat untuk meninggalkan ruangan itu.

“Hee? Tenang saja, tiap tahun juga sering begini kok? Apalagi kalau ada dia tuh,” Tunjuknya ke Noire yang berdiri di luar sambil menghisap rokok. “Si ilmuwan gila.”

“Haa? Tiap tahun juga begini?”

“Hehe... katanya sih... soalnya aku juga baru tahun ini ikut dalam diskusi. Aku hanya diceritakan guru-guru dan angkatan lama.” Senior itu mengulurkan tangan, “Ohh iya... kau Alzen ya? Aku Neil Winter.”

Alzen bersalaman dengannya, “Aku, Alzen Franquille. Biar kutebak, kamu pasti, pengguna elemen es ya?”

“Haha... memang banyak yang bilang begitu, tapi sebenarnya,” Neil menunjukkan tangan kanannya dialiri arus listrik.

“Hoo... elemen petir rupanya. Tapi namamu...”

“Haha... iya, aku dari Quistra Empire,” kata Neil sambil garuk-garuk kepala. “Tapi aku bukan pengguna elemen es.”

“Quistra Empire? Dimana itu? aku tidak tahu.” tanya Alzen yang belum tahu.

“Hah!? Yang benar, masa orang Azuria tidak tahu Quistra. Ituloh negara di ujung utara benua Azuria, yang saljunya tak henti-hentinya turun. Susah sekali hidup di sana, tapi kami bisa bertahan hingga 30 tahun lamanya. Lumayan juga kan?”

“Salju yang tak henti-hentinya turun? Kok bisa?”

“Kalau kamu tanya sebabnya, aku juga tidak tahu. Tapi... sudah ya, aku ingin membujuk pak Vlau dulu, Bye!” Neil lari dengan tergesa-gesa dan tak berapa lama, ia menabrak orang di di dekatnya yaitu, Eric.

“Dududuh! Maaf, maaf, maafkan aku.”

“Ti-tidak apa-apa, benar tidak apa-apa kok.” Eric memakluminya.

“Dia ini bodoh atau pintar sih?” Alzen melihatnya sambil menyipitkan mata.

“Alzen! Mau sampai kapan duduk disitu terus!” tegur Alexia.

“I-iya... aku pergi dulu.” Alzen beranjak keluar dengan tergesa-gesa.

Sementara Leena masih mendengarkan penjelasan Vogelweid dengan serius.

Nicholas berjalan menjauh sambil secara sembunyi-sembunyi menengok ke belakang. Melihat Noire dari jauh, “Si brengsek Noire itu, sifatnya mengingatkan aku dengan Kak Nathan, tersinggung sedikit langsung ingin bunuh orang. Tapi untungnya, dia mungkin saja tidak memiliki kemampuan Aura.”

"Pak Vlau, Pak Vlau." sahut Neil. "Boleh aku minta waktunya sebentar."

"Ada apa Winter? Apa yang ingin kau bahas."

"Beri aku waktu sebentar untuk menjelaskan pendapatku soal Crystal Communicator itu."

"Tidak, aku tidak akan berubah pikiran."

"Tunggu pak, tunggu pak. Tolong dengar sebentar aja, beginilah pendapatku."

Dan Neil, menemani Vlaudenxius di jalan, sambil terus menerus membujuknya untuk menyetujui pengembangan Crystal Communicator.

***

Malam hari, di Dorm Alzen dan Chandra.

Chandra membuka pintu dan masuk ke kamarnya, disana Alzen sudah berada di kamar duluan dan sedang sibuk membaca buku seorang diri.

“Hee? Kau sudah sampai duluan?” Kata Chandra sambil masuk dan menaruh barang-barangnya.

“Iya, diskusinya selesai lebih awal.”

“Bagaimana? Diskusi disana?” Chandra segera berbaring di kasurnya. “Apa saja yang diomongin sih?”

“Sebelum itu Chan,” Alzen berbalik badan dan bertanya. “Tadi aku dengar, Marchestast Empire itu menyokong senjata untuk utara dan selatan. Sangat mirip dengan yang kau katakan beberapa hari lalu. Apa kau tahu sesuatu tentang itu?”

“Ya... Marchestast Empire itu ada di North Azuria, Aku cuma pernah sekali kesana,” kata Chandra. “Meski tak banyak yang aku ingat. Tapi julukan sebagai negara teknologi itu bukanlah omong kosong, senjata api sebagian besar berasal dari sana. Dan kedua aliansi yang merusak kampung halamanku juga di suplai senjatanya darisana. Ironis kan?”

“...” Alzen hanya terdiam dengan rasa iba.

“Mungkin satu-satunya negara yang mendapat untung besar di perang besar North Azuria adalah Marchestast Empire itu sendiri. Mereka tidak memihak salah satu kubu, mereka hanya menjual pada mereka yang ingin membeli.”

“Be-begitu ya... maaf Chandra, aku jadi...”

“Tidak usah dipikirkan, aku baik-baik saja kok.”

***

10 hari setelah turnamen selesai, genap seminggu lamanya mereka belajar secara rutin di kelas. Dan di hari berikut, di hari pertama minggu kedua.

"Selamat pagi kakak-kakak semua," sapa Zio di depan kelas. Di bekalang dia, didampingi Kazzel.

"Pagi..." jawab anak-anak Fragor dengan tak bersemangat. Karena mayoritas anak-anak Fragor tidak begitu senang dengan kehadiran Zio.

"Terima kasih sudah menemaniku belajar di kelas kakak-kakak selama seminggu ini. Sekarang waktuku sudah habis dan akan kembali ke kelasku, aku izin pamit dan sampai jumpa."

***