Episode 255 - Sepucuk Surat


Meski malam semakin larut, suasana di Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang terang-benderang dan semakin panas. Sang mentari seolah hanya beberapa jengkal di atas kepala. 

Para hadirin sulit memutuskan untuk berada di pihak mana. Di satu sisi, adalah Datu Tua Besar Kadatuan Kesatu, Balaputera Tarukma yang terkenal akan keluhuran budi serta kemuliaan pekerti. Perguruan Svarnadwipa berkembang besar sebagaimana saat ini, merupakan upaya dan kerja keras tokoh ini. Sebagai tambahan, para ahli dari Kadatuan Kesatu tiada pernah memihak, senantiasa berlaku netral. Oleh karena itu, anggotanya memiliki citra yang sangat baik. 

Di sisi lain, Datu Besar Kadatuan Kedua, seorang politisi yang terkenal ambisius. Ditambah dengan kenyataan bahwa ia memiliki anak didik yang merupakan buronan di Negeri Dua Samudera, maka reputasi Balaputera Wrendaha tak terlalu baik di mata khalayak. Meskipun demikian, kehadiran Balaputera Sukma serta Datu Besar dan Datu Tengah dari Kadatuan Kesembilan, menyelaraskan neraca pemenangan dukungan publik.

Keadaan cukup berimbang.

“Persoalan ini teramat pelik. Tuduhan yang dilemparkan terlalu berat. Pengadilan yang pantas patut digelar!” Datu Besar Kadatuan Keenam berusaha menengahi. 

“Benar! Mari kita nantikan kepulangan Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa!” sela Datu Besar Kadatuan Keempat.

Tentu para Datu Besar ini tiada berani bertindak gegabah. Tuduhan membunuh seorang bangsawan Wangsa Syailendra saja sudah layak diganjal siksa berat sebelum hukuman mati. Akan tetapi, menikam dari belakang seorang Datu Besar yang sedang melindungi sejumlah rakyat… sulit untuk membayangkan hukuman seperti apa yang pantas dijatuhkan! 

Di lain sisi, reaksi tubuh Balaputera Tarukma tiada dapat berbohong. Keringat mengucur deras, wajah memucat. Menunggu sang penguasa kembali, adalah sama saja dengan menggali kubur sendiri. Segenap ahli dapat ia kelabui, akan tetapi, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa bukan sembarang ahli. Balaputera Tarukma yakin dan percaya bahwa tokoh tersebut memiliki cara untuk membongkar kejahatannya. 

Apalagi… apalagi bilamana Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa, kembali bersama dengan Balaputera Gara. Awalnya Balaputera Tarukma memandang sebelah mata anak remaja tersebut, karena tak cukup layak menjadi saksi. Akan tetapi, dalam keadaan Balaputera Sukma telah kembali, maka seandainya anak remaja tersebut bersaksi serta membongkar percobaan membunuh, maka deretan saksi yang memberatkan semakin bertambah!

Di kala Balaputera Tarukma sedang merenung, tetiba sebuah formasi segel berpendar di atas panggung utama. Lagi-lagi perhatian segenap khalayak teralihkan oleh kehadiran sebuah lorong dimensi ruang. Pertama ketika lima remaja yang kembali dalam keadaan luka berat dan kehabisan tenaga dalam, disusul dengan kembalinya para Datu Besar, yang diam memendam misteri. Kemudian, yang tiada pernah diduga, adalah kedatangan Balaputera Tarukma dan kepulangan Balaputera Sukma. 

Posisi formasi segel ini persis di depan sebuah singasana yang terjalin dari formasi segel dan bertengger megah. Dari aura yang menyibak, tiada yang meragukan bahwa sang penguasa akan segera kembali! 

Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu jatuh jua. Sedalam-dalamnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium jua. Masih ada beberapa patah peribahasa lagi yang layak mewakili nasib Balaputera Tarukma. Yang jelas, tak pernah terbayangkan bahwa ia yang sudah memiliki segala, pada akhirnya kemungkinan besar akan diadili atas kejahatan di masa lampau.  

“Ananda…” Balaputera Tarukma berbisik. “Apa pun yang terjadi, yakinlah bahwa semua ini merupakan muslihat busuk Wrendaha…” 

“Ayahanda janganlah bimbang dan ragu.” Balaputera Akrama terlihat tenang. “Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa, pasti akan mengupas-tuntas permasalahan ini.”

“Tidak, Ananda. Muslihat yang ditanam oleh Wrendaha telah dipupuk sejak lama. Hari ini ia akan menuai apa yang ingin ia capai.”

“Ayahanda…” 

Bagi Balaputera Tarukma, yang masih patut dipertahankan adalah reputasi Perguruan Svarnadwipa. Apa yang ia lakukan di masa lalu, merupakan kesalahan sebagai ahli muda yang masih mudah terbawa emosi. Ia merasa telah menebus kesalahan tersebut dengan membimbing generasi muda bangsawan Wangsa Syailendra melalui pendidikan dunia keahlian. Di saat yang sama, lelaki setengah baya itu tak rela menerima hukuman.

“Diriku terpaksa menyingkir untuk sementara. Bilamana waktunya tiba nanti, maka diriku akan kembali untuk membersihkan nama ini…”

Hadirin bersorak gegap-gempita tatkala seorang lelaki setengah baya bertubuh tegap melangkah keluar dari dalam lorong dimensi ruang yang terbuka. Pembawaannya sungguh agung lagi digdaya. Seluruh hadirin sontak bangkit berdiri. Para bangsawan Wangsa Syailendra lalu membungkukkan tubuh. Sedangkan rakyat jelata, segera bersimpuh sujud. 

Bintang Tenggara menyusul di belakang. Sudut matanya sempat menangkap wajah bengis Balaputera Tarukma, sebelum tokoh tersebut melompat dan menghilang di balik sebuah lorong dimensi. Mudah sekali bagi ia melakukan upaya ini, karena segenap ahli termasuk Balaputera Wrendaha dan Balaputera Sukma sedang menundukkan kepala penuh khidmat menyambut kedatangan sang penguasa. 

Di saat itu, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa turut menyaksikan bagaimana Balaputera Tarukma melarikan diri. Akan tetapi, ia tiada bertindak. Ia membiarkan saja tokoh pembunuh tersebut pergi dengan begitu sahaja. 

“Sembah sujud, wahai Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa.” Balaputera Sukma menyapa penuh hormat. Dalam posisi menunduk, sudut matanya baru menangkap bahwa Balaputera Tarukma sudah menghilang dari tempat di mana ia tadinya berdiri. Perempuan setengah baya tersebut hanya mampu menghela napas panjang.  

“Oh…? Sukma. Dikau telah kembali…”

Balaputera Wrendaha, sang Datu Besar dari Kadatuan Kedua, mengambil selangkah maju. Ia tak hendak membuang waktu. Karena, walaupun Balaputera Tarukma telah melarikan diri, pemahaman mendalam akan formasi segel memungkinkan bagi para ahli di Kemaharajaan Cahaya Gemilang dalam melacak ke mana gerbang dimensi tadi mengantarkan tokoh pembunuh tersebut. 

“Mohon ampun beribu-ribu ampun, wahai Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa. Hamba hendak melaporkan sebuah situasi…”

Balaputera Dewa mengangkat lengan, sembari membuka telapak ke arah Balaputera Wrendaha. Raut wajahnya datar. Ia tiada tertarik akan apa pun itu yang hendak dilaporkan. Gerakan tersebut menghentikan suara yang hendak keluar dari mulut Balaputera Wrendaha. Di saat yang sama, gerakan tersebut juga merupakan isyarat agar para Datu Besar dan para ahli yang bersengketa di tengah Gelanggang Utama, untuk segera kembali ke tribun kehormatan masing-masing. 

“Hajatan Akbar Pewaris Takhta Kemaharajaan Cahaya Gemilang… rampung!” Suara membahana memenuhi seantero Gelanggang Utama. Terhadap setiap kata-katanya, Balaputera Dewa mengimbuhkan tenaga dalam. 

Menanggapi pengumuman tersebut, segenap khlayak kembali bersorak-sorai menyambut. Bahkan, perlu waktu cukup lama sebelum keramaian dapat mereda. 

“Atas keuletan dan semangat pantang mundur,” lanjut Balaputera Dewa, “Rajakumara Keempat dan Rajakumara Ketiga… Balaputera Sevita dan Balaputera Citaseraya!” 

Segenap ahli dari Kadatuan Keenam dan Kadatuan Keempat bangkit berdiri! Balaputera Sevita dan Balaputera Citaseraya bukanlah unggulan dari masing-masing kadatuan di dalam Hajatan Akbar Pewaris Takhta. Tiada dapat dipungkiri bahwa keduanya telah membuktikan diri dengan tampil di luar perkiraan. Walau, tak banyak yang mengetahui bahwanya motivasi kedua gadis belia sedikit berbeda, bahkan sedikit menyimpang dari tujuan utama menjadi pewaris takhta. 

Malangnya, kedua gadis belia kini sedang menjalani perawatan gawat darurat di Balai Pengobatan Kemaharajaan. Walau akan memerlukan waktu panjang untuk pemulihan, nyawa kedua gadis belia dipastikan tiada terancam.  

“Atas kedisiplinan serta ketenangan dalam bertindak, Rajakumara Kedua… Balaputera Dirgaha!” 

Balaputera Dirgaha melompat naik ke atas Panggung Utama. Datu Besar Kadatuan Kedua, hanya diam mengamati. Pikirannya masih berkutat pada Balaputera Tarukma yang melarikan diri. Bila diupayakan secara bersama-sama, maka saat ini masih ada peluang membekuk pembunuh gurunya itu. Ia pun mengibaskan lengan, sebagai petanda agar para sesepuh dari Kadatuan Kedua melacak ke mana lorong dimensi ruang yang telah tertutup mengantarkan Balaputera Tarukma. 

“Atas kefasihan serta pemahaman mendalam terkait formasi segel, Rajakumara Kesatu… Balaputera Vikrama!”

Hanya senyuman kecut yang terlihat dari wajah para ahli di Kadatuan Kesatu. Setelah tuduhan berat yang dilontarkan terhadap Datu Tua Besar mereka, kini Balaputera Vikrama yang digadang-gadang sebagai unggulan terbaik, hanya menempati posisi keempat. Meski terkenal sebagai ahli-ahli yang menekankan pada keilmuan, tiada berpihak dan tiada pula haus kekuasaan, baru kini mereka menyadari bahwa jauh di dalam lubuk hati… mereka mengincar posisi terbaik. 

Segenap hadirin kini terdiam. Sebagian bahkan terlihat sangat kebingungan. Dari enam remaja yang mengikuti Tantangan Ketiga, empat telah mengisi posisi yang tersedia. Para hadirin menyadari bahwa masih tersedia tiga tempat lagi, sementara hanya tersisa dua remaja. 

“Atas kekuatan raga dan keteguhan hati, Pratiyuvaraja Kedua… Balaputera Naga!” 

Sorak sorai datang dari Kadatuan Kedelapan. Sesungguhnya mereka tiada terlalu berambisi menjalami kehidupan resmi di dalam istana. Tempat mereka adalah di reruntuhan atau medan pertempuran. Melanglang buana, berpetualang demi mengasah keahlian, jauh lebih nikmat daripada berdiam diri dalam kemewahan. Keikutsertaan Balaputera Naga dan Balaputera Saratungga, sesungguhnya adalah demi menaklukkan tantangan-tantangan yang tersedia. Lagipula, bilamana mengemban tampuk kepemimpinan Kemaharajaan Cahaya Gemilang, para ahli dari Kadatuan Kedelapan, malah akan kebingungan. 

“Atas pengamatan dan penilaian yang mumpuni, serta kesediaan mengorbankan ambisi pribadi demi membuka pilihan yang lebih baik, Pratiyuvaraja Kesatu… Balaputera Ugraha!” 

Segenap khalayak sontak berteriak membahana. Sebagian mempertanyakan,sebagian memaklumi. Balaputera Ugraha sempat dinilai berlaku egois dan memalukan Kadatuan Kedua karena mengundurkan diri dari Hajatan Akbar Pewaris Takhta tanpa alasan nan jelas. Akan tetapi, baru kini disadari bahwa ia mengundurkan diri karena menilai bahwa ada ahli yang jauh lebih layak daripada dirinya sendiri untuk menjadi pewaris takhta. Sungguh ia memiliki kemampuan pengamatan dan penilaian yang mumpuni!

Balaputera Ugraha melompat ringan ke atas panggung utama. Datu Besar dari Kadatuan Kedua, akhirnya terlihat menyibak senyum. Tak banyak yang mengetahui, bahwasanya Balaputera Ugraha, selain merupakan putra dari adik sang Datu Besar, juga merupakan anak didiknya. Dengan kata lain, Balaputera Wrendaha memiliki dua anak didik, yang pertama tentunya bernama Balaputera Lintara. 

“Atas keberanian menghadapi ketidakpastian, kemampuan raga nan ulung, serta kepiawaian merapal Segel Darah Syailendra…,” Balaputera Dewa berhenti sejenak. 

Napas segenap khalayak di Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang tertahan. Balaputera Sukma, Balaputera Rudra dan Balaputera Samara menanti penuh harap. Walaupun segenap ahli sudah dapat memperkirakan nama yang akan disebutkan oleh sang penguasa, namun detak jantung mereka masih saja berdebar menunggu pengumuman resmi. 

“Yuvaraja, pewaris utama takhta…,” lanjut Balaputera Dewa. “Balaputera Gara!” 

Segenap hadirin sontak bangkit dari tempat duduk mereka. Bintang Tenggara yang masih berdiri di belakang Balaputera Dewa, terlihat gugup. Ia melangkah pelan. Keikutsertaan dirinya di dalam Hajatan Akbar Pewaris Takhta, sejak awal adalah demi memenuhi permintaan Balaputera Rudra dan Balaputera Samara, kemudian Balaputera Sukma. Tak pernah ia menargetkan pencapaian apa pun. 

Sebuah formasi segel berpendar di angkasa. Ketua panitia Hajatan Akbar segera menampilkan tujuh nama sesuai urutan pewaris takhta yang telah disahkan. 

Yuvaraja : Balaputera Gara

Pratiyuvaraja Kesatu : Balaputera Ugraha

Pratiyuvaraja Kedua : Balaputera Naga

Rajakumara Kesatu : Balaputera Vikrama

Rajakumara Kedua : Balaputera Dirgaha

Rajakumara Ketiga : Balaputera Citaseraya

Rajakumara Keempat : Balaputera Sevita

Berdasarkan urutan ini, bilamana terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Yuvaraja, maka yang akan naik takhta adalah Pratiyuvaraja Kesatu. Bilamana terjadi sesuatu di luar dugaan terhadap Pratiyuvaraja Kesatu, maka takhta akan diberikan kepada Pratiyuvaraja Kedua, dan seterusnya. 

Akan tetapi, sepertinya Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa belum selesai menyampaikan pengumuman. Ia menatap ke arah Kadatuan Kesatu. 

“Menggantikan Balaputera Tarukma, Balaputera Sukma akan menjadi Penyelia di Perguruan Svarnadwipa!” 

Segenap ahli di Kadatuan Kesatu terpana. Atas alasan apakah Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa mengganti posisi Datu Tua Besar mereka? Apakah karena tuduhan yang disuarakan oleh Datu Besar Kadatuan Kedua…? Apakah Balaputera Tarukma telah dinyatakan bersalah tanpa melalui pengadilan terlebih dahulu!?” 

Kendatipun demikian, Pimpinan Perguruan Svarnadwipa sekaligus Datu Besar Kadatuan Kesatu, Balaputera Akrama, membungkukkan tubuh ke arah sang penguasa, lalu kepada Kadatuan Kesembilan. “Sungguh merupakan sebuah kehormatan bagi kami, segenap ahli di Perguruan Svarnadwipa, menyambut Datu Tua Bungsu yang telah kembali, sebagai Penyelia.”

Kata-kata Balaputera Akrama meredakan kegundahan segenap ahli di Kadatuan Kesatu. Lelaki dewasa itu menekankan pada gelar ‘Datu Tua Bungsu’ yang disandang oleh Balaputera Sukma di dalam Kadatuan Kesatu. Dengan kata lain, ia mengingatkan kepada segenap anggota keluarga, bahwasanya Balaputera Sukma merupakan anggota keluarga Kadatuan Kesatu, sekaligus Kadatuan Kesembilan, yang tumbuh di Perguruan Svarnadwipa. Oleh karena itu, sama sekali tak ada yang patut dikhawatirkan. 

Balaputera Sukma menyibak senyum nan teduh. Semakin ia meredakan kegelisahan di dalam hati segenap ahli di Kadatuan Kesatu. 

“Sampai hari di mana para pewaris takhta mencapai usia dan tingkat keahlian yang pantas dalam mengemban gelar Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang, maka Balaputera Wrendaha, Datu Besar dari Kadatuan Kedua, akan bertanggung sebagai Maha Patih di Kemaharajaan Cahaya Gemilang!” 

Usai bertitah, sebuah formasi segel berpendar membuka lorong dimensi ruang. Tanpa berbasa-basi lebih lanjut, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa melangkah masuk, dan meninggalkan Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Bagi hampir seluruh ahli yang hadir di tempat tersebut, maka malam ini merupakan malam terakhir bagi mereka menyaksikan sosok sang penguasa. 


===


Mentari pagi baru saja menyingsing. Balaputera Sukma bersama Balaputera Rudra dan Balaputera Samara, sudah duduk di Balai Utama Kadatuan Kesembilan. Mereka terlibat dalam perbincangan serius. Sebagian besar pembicaraan membahas perkembangan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, perihal Kadatuan Kesembilan, tentang ulah keji Balaputera Tarukma, serta keberadaan Balaputera Ragrawira.

“Jadi, tiada yang mengetahui di mana Wira berada saat ini…?” Balaputera Sukma terlihat penasaran. 

Balaputera Rudra dan Balaputera Samara serempak menggelengkan kepala. 

“Mengapakah dikau tiada menikah…?” Sebuah pertanyaan tak terduga, menyerang telak titik lemah Balaputera Rudra. 

“Mengapakah engkau tiada menikahi Wrendaha…?” Pertanyaan menohok, dilontarkan kepada Balaputera Samara. 

Kedua kakak beradik tiada dapat membalas. 

“Siapakah jati diri ayahanda dari Khandra dan Prameswara…?” lanjut Balaputera Sukma. 

“Ia sesungguhnya adalah seorang Putra Mahkota dari kerajaan di seberang. Perebutan tampuk kekuasaan yang semakin sengit, menyebabkan dirinya terpaksa diungsikan. Dalam pelarian, ia tiba di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, dan di Kadatuan Kesembilan menyamar sebagai pelayan.” 

“Lalu…?”

“Akan tetapi, tanpa disadari, di dalam tubuhnya telah bersemayam racun nan unik,” beber Balaputera Samara. “Racun tersebut hanya bereaksi setelah jangka waktu tertentu. Terlambat mendapat pertolongan, ia meninggal dunia.” 

Balaputera Samara terlihat pilu, namun apa yang ia sampaikan adalah benar adanya. Hanya dirinya dan Balaputera Rudra yang mengetahui jati diri sang suami. Bahkan, Balaputera Khandra dan Balaputera Prameswara, tiada mengetahui siapa sesungguhnya tokoh ayahanda mereka.

“Siapakah istri Wira, ibunda dari Lintara dan Gara…?”


===


“Ampun beribu-ribu ampun, sembah sujud hamba mohon diampun…” 

Seorang anak remaja mengabaikan. 

“Wahai Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Gara…,” lanjut Balaputera Prameswara, “sampai hatinya dikau mengabaikan sembah warga negeri, sekaligus saudara sepupu…”

Bintang Tenggara masih mengabaikan. Ia tak akan terpancing oleh gelagat mengejek dari saudara sepupunya itu. Secara resmi, dirinya memanglah pewaris takhta utama atau Yuvaraja. Akan tetapi, hal tersebut tiada serta-merta berarti anak remaja tersebut segera memimpin kemaharajaan. Sebagaimana dititahkan Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang, sampai si pewaris takhta belum cukup umur serta belum berada pada kasta dan tingkat keahlian tertentu, maka Maha Patih Balaputera Wrendaha yang akan menggerakkan roda pemerintahan. 

“Oh… hampir lupa, sekira dua-tiga pekan lalu, ada surat yang dialamatkan kepada dikau…” Balaputera Prameswara terlihat mencari-cari. Tak lama kemudian, ia menyodorkan sepucuk surat nan lusuh dan berkedut nasibnya. 

Bintang Tenggara menerima, menyobek amplop dan mengeluarkan selembar kertas. Isinya singkat lagi padat. 

Bagaimana masa liburan panjangmu? Kuharap engkau betah di sana!

Bintang Tenggara sudah dapat menebak siapa pengirim yang demikian ketus. 

Dua purnama lalu, tetiba Kuau Kakimerah menghilang tanpa jejak. Menurut Sesepuh Keempat, ia dipanggil pulang ke Pulau Belantara Pusat untuk menjalani suatu upacara adat. 

Dahi Bintang Tenggara berkedut. 

Aji Pamungkas menyusul ke Pulau Belantara Pusat sejak satu purnama lalu. Namun demikian, sampai dengan detik surat ini ditulis, tiada khabar berita dari dirinya. 

Aku dilarang meninggalkan Perguruan Gunung Agung. Akan tetapi, demi memastikan keselamatan Kuau Kakimerah, aku akan pergi secara sembunyi-sembunyi. 

Apakah gerangan yang terjadi? batin Bintang Tenggara. Lebih kurang tiga purnama dirinya menghabiskan waktu di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, tanpa mengetahui apa pun kejadian di Perguruan Gunung Agung.

Jikalau ada waktu senggang, sudi kiranya menyusul kami ke Pulau Belantara Pusat.

Tetiba, Bintang Tenggara merasakan dadanya sesak. Sungguh dirinya merasa tak nyaman.


( T A M A T )



Cuap-cuap:

Berakhir sudah Babak – Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

Ahli karang nan budiman akan memusatkan perhatian kepada pekerjaan duniawi selama pekan ke depan. Oleh karena itu, babak lanjutan Legenda Lamafa akan bergulir pada Senin, 10 September 2018.