Episode 39 - Siasat Sang Pendekar (2)


Ki Tumenggung Wiralaya segera berlari keluar rumah setelah meminta Kyai Sokananta beserta seluruh santrinya juga tabib Wong untuk bersembunyi didalam rumahnya, dengan tergopoh-gopoh ia membuka pintu rumahnya, nampaklah sekitar delapan puluhan prajurit Mega Mendung mengepung rumahnya dipimpin oleh Pangeran Dharmadipa yang didampingi oleh Senopati Lokajaya dan Senopati Kuntala.

Orang tua ini segera menenangkan dirinya, diaturlah nafasnya, dan segera menyunggingkan senyumnya, “Kiranya Gusti Pangeran yang berkunjung kemari, ada apakah Gusti mengunjungi hamba yang sudah akan segera pensiun ini?” tanyanya dengan hormat dan ramah.

Pangeran Dharmadipa mendengus mendengar sapaan yang sopan dari Ki Wiralaya tersebut, “Ki Wiralaya, kita tidak perlu berbasa-basi, saling balas bertegur sapa! Kedatangan kami kemari adalah menghendaki Ki Tumenggung untuk menyerahkan para ulama dari Cirebon yang melakukan syiar tanpa izin di Mega Mendung ini!”

“Saya benar-benar tidak mengerti apa maksud Gusti Pangeran, ini suatu tuduhan tidak berdasar!” jawab Ki Wiralaya.

“Jangan bersilat lidah Ki Tumenggung! Bukankah kau akan segera pensiun dari pemerintahan Mega Mendung? Apakah kau tidak ingin menikmati masa tuamu dengan damai dan tenang? Serahkan para ulama dari Cirebon itu atau kau akan dituduh melakukan makar pada Gusti Prabu Mega Mendung! Kau tentu lebih dari sekedar tahu perintah gusti Prabu tentang syiar Islam dan hubungan kita dengan Cirebon!” tukas Pangeran Dharmadipa.

Ki Tumenggung masih berkelit, “Gusti Pangeran, apa yang saya katakan adalah suatu kebenaran! Saya tidak menyembunyikan para ulama dari Cirebon itu! Apa bukti Pangeran menuduh saya melakukan hal demikian?”

Pangeran Dharmadipa tersenyum sinis “Baik, aku bunyi bukti tak bisa kau elakan lagi, Wira Bluduk katakan yang sejujurnya!” perintahnya.

Dari balik puluhan prajurit, keluarlah seorang pemuda berpakaian mewah sambil tersenyum culas, Ki Tumenggung Wiralaya terkejut melihat pemuda itu sebab pemuda itu adalah anak kandungnya sendiri! “Wira Bluduk! Kau?!”

Wira Bluduk tersenyum kecut menatap ayahnya, “Gusti Pangeran, hamba berani bersumpah demi apapun bahwa saat ini ada beberapa ulama dari Cirebon yang sedang bersembunyi didalam rumah ini! Bukan itu saja, selama ini Ki Tumenggung Wiralaya memang sering melakukan hubungan dengan para santri dari Cirebon ataupun Banten!”

Bukan main marahnya Ki Tumenggung Wiralaya yang dikhianati oleh anaknya sendiri, “Wira Bluduk! Kau... Dasar anak durhaka! Mengapa kau lakukan ini?!”

Wira Bluduk menatap tajam mata ayahnya, “Ayah, saya sudah jemu dikucilkan dari kalangan anak-anak menak keraton Mega Mendung ini! Saya selalu dikucilkan mereka karena enggan untuk bergaul dengan anak seorang pejabat yang dianggap mbalela dan selalu bersebrangan dengan Gusti Prabu, hanya karena ayah terlalu memaksakan diri untuk membela rakyat yang menderita karena pajak dan soal syiar Islam yang dibatasi Gusti Prabu! Saya sudah muak dengan semua yang ayah lakukan!”

Gigi Ki Tumenggung Wiralaya bergemelutuk menahan amarahnya yang memuncak pada anaknya. “Jadi kau hendak mencelakai ayah dan keluargamu hanya karena keinginanmu itu?!”

Wira Bluduk mengangguk mantap, “Betul! Saya akan melakukan apa saja! Lagipula kalaupun ayah dipecat dari jabatan, sayalah yang akan menggantikan jabatan ayah!”

Habislah kesabaran orang tua ini, “Kurang Ajar! Anak DURHAKA!” melesatlah tubuh orang tua ini ke arah Wira Bluduk, dues! Desh! Dash! Satu tamparan beserta dua tendangan bersarang di wajah pemuda ini, tubuh pemuda ini mencelat jatuh terguling-guling, hidungnya mengucurkan darah, bergitupun mulutnya yang pecah.

Wira Bluduk berusaha bangkit berdiri sambil sempoyongan, Ki Tumenggung pun masih belum puas, ketika ia hendak menerjang lagi, Senopati Kuntala segera menahannya. “Tahan!” seru Pangeran Dharmadipa, “Ki Tumenggung Wiralaya, sekarang sudah cukup bukti bagi kami untuk menggeledah seluruh rumahmu! Senopati Lokajaya, geledah rumah ini!” perintahnya. 

“Tunggu, tanpa surat dari Gusti Prabu, kalian tidak berhak masuk kedalam rumahku!” bentak Ki Wiralaya, tapi Senopati Lokajaya beserta puluhan prajurit tidak mengindahkannya, mereka tetap masuk kedalam rumahnya. 

“Kurang ajar! Kalian benar-benar telah menghinaku!” tegas orang tua ini, dia pun segera menghunus Keris pusakanya.

“Hoo... Jadi kau mau melawan kami?! Kau mau melakukan pemberontakan?! Baik! Tangkap pemberontak ini hidup atau mati!” perintah Pangeran Dharmadipa, para prajurit Mega Mendung dengan dipimpin oleh Senopati Kuntala pun segera mengepung Tumenggung WIralaya.

Pertempuran tak seimbang pun terjadi, dengan segala kesaktiannya, Ki Tumenggung Wiralaya mempertahankan dirinya mati-matian dengan hanya bersenjatakan sebilah Keris pusakanya menghadapi puluhan prajurit yang dipimpin oleh seorang senopati yang mempunyai kekuatan cukup mumpuni tersebut. 

Sementara Pangeran Dharmadipa merasa sudah tidak sabar karena para prajurit yang dipimpin oleh Senopati Lokajaya belum juga berhasil meringkus para ulama yang berada didalam rumah Ki Wiralaya, maka keluarlah perintahnya, “Bakar!” belasan obor pun langsung dilemparkan ke rumah Ki Tumenggung, dalam waktu singkat si Jago merah pun mulai melalap rumah mewah itu.

Didalam rumah Ki Tumenggung juga terjadi pertempuran, para ulama yang dipimpin oleh Kyai Sokananta dari Cirebon tersebut mempertahankan dirinya dari serbuan para prajurit Mega Mendung yang dipimpin oleh Senopati Lokajaya, Tabib Wong yang sebenarnya tidak punya sangkut pautnya dalam masalah ini, terpaksa ikut membela dirinya dari sergapan para prajurit Mega Mendung. Karena api mulai menyebar melahap bangunan rumah itu, akhirnya para ulama juga tabib Wong terdesak hebat, akhirnya mereka pun terpaksa menyerah dan bergegas keluar dari dalam rumah.

Pangeran Dharmadipa tersenyum puas saat melihat para ulama beserta Tabib Wong digelandang keluar dari dalam rumah Ki Tumenggung, menggelegarlah perintahnya, “Kalian para ulama dari Cirebon, aku yakin kalian sudah lebih dari tahu bahwa daerah Kutaraja Rajamandala dan sekitarnya terlarang bagi kalian yang hendak melakukan syiar Islam! Kalian hanya boleh melakukan syiar Islam di pelosok Mega Mendung, itu pun karena mendiang Prabu Wangsareja terlanjut mengizinkan Islam masuk ke Mega Mendung! Maka dari itu, kalian semua aku hukum mati!”

Tabib Wong yang juga ikutan “kena getahnya” tertangkap para prajurit membuka mulutnya, “Tunggu dulu! Gusti Pangeran, saya bukan ulama, saya juga punya surat izin untuk tinggal di Mega Mendung ini sebagai tabib, saya disini hanya sedang melakukan tugas saya untuk mengobati orang yang sakit dan terluka! jadi tolong jangan libatkan saya!”

Pangeran Dharmadipa tersenyum kecut menatap pria Tionghoa ini “Kaupun tidak terkecuali karena berani mengobati para buronan ini, kau juga harus dihukum mati!”

Pangeran Dharmadipa memberi aba-aba pada para pasukan panahnya untuk memanah semua ulama juga Tabib Wong, tapi pada saat genting seperti itu, tiba-tiba melesatlah sesosok tubuh berpakaian serba hitam yang wajahnya ditutupi oleh cadar hitam, menerjang para pasukan pemanah tersebut, berterbanganlah para prajurit pemanah tersebut sambil muntah darah lalu kemudian tidak berkutik lagi untuk selama-lamanya!

“Kurang ajar! Siapa kau?!” bentak Pangeran Dharmadipa.

Si manusia bercadar hitam ini tidak menjawab, dia hanya memberi aba-aba pada para ulama lalu kemudian kembali menerjang para prajurit Mega Mendung, kembali para ulama dan Tabib Wong melakukan perlawanan. “Setan Alas!” maki Pangeran Dharmadipa, dia segera memberi aba-aba, saat itu munculah puluhan pasukan tambahan menyerbu si manusia bercadar hitam dan para ulama itu.

Pangeran Dharmadipa sangat terkejut ketika melihat kehebatan si manusia bercadar itu, setiap gerakannya berarti maut bagi para pasukan yang berani menyerangnya, dengan gerakan yang nampak enteng namun sangat bertenaga, ia menjadi el maut bagi para prajurit Mega Mendung, tubuh-tubuh prajurit yang naas itu berterbangan bagaikan daun kering yang rontok kena dihajar oleh si manusia bercadar. Berbagai senjata seperti tombak, pedang, dan segala jenis senjata yang menyerangnya patah dibuatnya, semua perisai prajurit hancur dibuatnya, dengan hanya menggunakan tangan kosongnya saja!

Para Ulama dari Cirebon di bawah pimpinan Kyai Sokananta pun mempertahankan dirinya dengan hebatnya, namun sehebat apapun mereka, mereka tidak sanggup juga menghadapi puluhan prajurit Mega Mendung yang tangguh itu, satu demi satu tubuh mereka pun berjatuhan dengan bermandikan darah, tak lama kemudian, Kyai Sokananta pun menyusul para muridnya dikala Keris pusaka Senopati Lokajaya merobek perutnya dan menembus lambungnya!

Pangeran Dharmadipa tersenyum melihat Kyai Sokananta rubuh untuk kemudian tidak berkutik lagi untuk selama-lamanya! Dia kemudian melirik ke pihak Tabib Wong yang juga mulai terdesak hebat, tapi ia merasa kecewa ketika melihat si Manusia bercadar yang sangat tangguh ini telah menjatuhkan banyak korban dipihaknya, ia juga merasa kurang puas karena Tumenggung Wiralaya masih tangguh menghadapi keroyokan prajurit yang dipimpin oleh Senopati Kuntala tersebut.

Pangeran Dharmadipa dapat menaksir di antara ketiga orang yang sedang dihadapi, si manusia bercadarlah yang paling berbahaya, tapi otaknya yang cerdas juga berkata bahwa perlawanan mereka akan berakhir kalau Tumenggung Wiralaya terbunuh, sebab si manusia cadar hitam itu hendak menolong pemberontak yang satu ini! 

Maka ia segera melompat turun dari kudanya, ia memusatkan pikirannya dan mengatur nafasnya, ia mengerahkan seluruh tenaga dalam serta hawa panas ke tangan kanannya yang diangkat tinggi-tinggi keatas, cahaya merah membara pun memancar terang dari tangan kanannya, hawa panas menghampar disekitar tempat itu pertanda ia akan mengeluarkan pukulan pamungkasnya yaitu “Pukulan Sirna Raga”, dengan teriakan menggeledak ia mendorongkan tangan kanannya ke muka, satu lidah api yang disertai pusaran gelombang angin panas menerjang ke arah Ki Wiralaya!

Blarrrr!!! Satu ledakan terjadi ketika pukulan Sirna Raga milik Pangeran Dharmadipa menghantam telak dada Ki WIralaya, tubuh Ki Wiralaya pun terpental hingga masuk kedalam rumahnya yang sedang dilalap api! Tewaslah orang tua yang telah mengabdikan dirinya pada Mega Mendung sejak zaman Prabu Wangsareja tersebut dengan tubuh yang hangus serta bermadikan darah segar, malangnya tubuhnya yang sudah tak bernyawa itu tertimpa reruntuhan rumahnya sendiri yang dilalap api!

Si Manusia bercadar hitam yang tak lain adalah ruh Jaya tersebut terkejut melihat kematian Ki Wiralaya beserta seluruh ulama dari Cirebon tersebut, ia lalu melihat ke jurusan Tabib Wong, pria asal Tiongkok itu sudah kepayahan mempertahankan dirinya, maka dengan menggunakan jurus Kyai Supit Pramana yang paling hebat yakni jurus “Naga Kepala Seribu Mengamuk”, ia mengamuk lalu kemudian menerjang menghalau para pemyerang tabib Wong! Ia segera membopong tabib Wong ke punggungnya, lalu mengeluarkan ajian “Tujuh Langkah Malaikat”, bagaikan diterbangkan angin, tubuh Jaya melesat membawa kabur Tabib Wong ke tempat yang gelap!

Senopati Kuntala pun segera memberi aba-aba untuk mengejar si Manusia bercadar yang membawa Tabib Wong, tapi Pangeran Dharmadipa segera mencegahnya, “Tunggu! Biarkan saja mereka, tugas kita sudah selesai! Sekarang kalian cukup memberikan edaran bahwa si Tabib itu serta manusia bercadar hitam itu adalah buronan!”

Senopati Kuntala mengangguk, “Baik Gusti, tapi kalau untuk si Manusia Bercadar Hitam agak sulit sebab ia menutupi wajahnya dengan cadar, dan juga nampaknya ilmunya sangat tinggi.” 

Pangeran Dharmadipa menjawab, “Betul, tapi aku punya firasat dia akan muncul lagi kalau kita menemukan si tabib itu, saat itu kita kepung dengan para jawara sewaan kita!”

Saat itu Wira Bluduk menghampiri mereka, pemuda ini lalu menjura hormat “Ampun Gusti, bolehkah hamba bertanya?”

Pangeran Dharmadipa mempersilahkan “Silahkan!”

Wira Bluduk menjura hormat lagi, “Ampun, apakah kedudukan ayahanda akan digantikan oleh saya sesuai dengan janji Gusti?” 

Pangeran Dharmadipa tertawa, “Hahaha tentu saja, tapi....” tiba-tiba dengan suatu gerakan secepat kilat yang tak nampak oleh mata, Pangeran Dharmadipa menghunus kerisnya dan bresss!!! Kerisnya menancap tepat di leher Wira Bluduk “Kau boleh menjadi Tumenggung di Neraka! Hahaha.... Aku tidak mau ada dendam yang akan menusukku nanti!” lanjutnya, Wira Bluduk jatuh dengan mata melotit, ia berkelojotan untuk beberapa saat hingga akhirnya tewaslah anak durhaka itu.

Pangeran Dharmadipa pun memerintahkan kepada seluruh pasukannya untuk membunuh semua abdi, pembantu, dan pasukan yang setia dan membela Ki Wiralaya, kemudian seluruh mayatnya dibiarkan tergeletak begitu saja bersama mayat-mayat para ulama dari Cirebon hingga dilalap api yang membakar seluruh rumah mantan Tumenggung tersebut.

Pangeran Dharmadipa beserta seluruh pasukannya meniggalkan rumah Tumenggung Wiralaya yang masih terus dilahap api, langit disekitarnya nampak memerah oleh amukan si Jago Merah tersebut. Semua penduduk disekitar Kutaraja yang menyaksikan kejadian tersebut tidak ada yang berani untuk membantu korban maupun keluarga korban atau hanya sekedar memadamkan api karena takut dituduh membantu pemberontak, penderitaan mereka pun semakin menjadi-jadi sebab mereka semakin tertekan dalam ketakutan kalau berani berbuat hal yang bertentangan dengan perintah Rajanya.

Sepanjang perjalanan pulang, Pangeran Dharmadipa terus merenung mengingat sosok si manusia bercadar yang menolong tabib di rumah Ki Tumenggung Wiralaya tadi, sekilas perawakannya mirip dengan Jaya Laksana, begitupun auranya, meskipun ia tidak mengenali jurus-jurus silat manusia bercadar itu (Jaya memang sengaja tidak menggunakan jurus-jurus yang ia dapat dari padepokan Sirna Raga sebab khawatir Pangeran Dharmadipa akan mengenali jurus-jurusnyanya), maka dengan penuh rasa penasaran ia pun mempercepat lari kudanya kembali menuju ke Pura Kesatriaan.

Setelah sampai ia pun langsung menanyai seorang prajurit di sana, “Apakah Ki Lurah Jaya Laksana ada di tempatnya?”

Si Prajurit menjawab sambil memberi hormat terlebih dahulu, “Ampun Gusti, tadi Ki Lurah mohon izin sebentar untuk melaksanakan ibadah sholat malam.” Dahi Pangeran Dharmadipa berkerut mendengar jawaban si prajurit tersebut, ia pun bergegas melangkahkan kakinya ke bilik Jaya.

Tanpa mengucapkan salam ataupun mengetuk pintu, ia langsung masuk kedalam biliknya Jaya, langkahnya terhenti ketika dilihatnya Jaya sedang berdzikir diatas sajadahnya, pakaiannya pun menggunakan pakaian serba putih bukan serba hitam seperti manusia bercadar hitam tadi yang berpakaian serba hitam. Jaya pun menghentikan dzikirnya, ia langsung bangun dan menghampiri Pangeran Dharmadipa sambil menjura hormat, “Ah Gusti Pangeran, mohon maaf tadi saya mohon izin sebentar untuk melaksanakan ibadah malam, saya akan segera kembali berjaga.” ucapnya.

Pangeran Dharmadipa memperhatikan Jaya, tidak ada sebutir keringat pun yang menetes dari mukanya, nafas juga detak jantungnya pun teratur, tidak seperti orang yang habis berlari apalagi bertarung, kini yakinlah ia bahwa si manusia cadar hitam itu bukan Jaya, “Ah tidak apa-apa Adi Jaya, kalau kau lelah beristirahatlah, biar prajurit yang lain yang berjaga, lagipula kau kan baru mulai bertugas hari ini.”

Jaya mengangguk, “Terimakasih Gusti”

Pangeran Dharmadipa pun meninggalkan Jaya, tanpa sedikit pun curiga pada Jaya, Jaya pun menarik nafas lega “Untunglah tidak ketahuan... Naluri Kakang Dharmadipa masih seperti dulu, sangat tajam!” gumamnya.

Pangeran Dharmadipa melangkah keluar dari bilik Jaya sambil terus berpikir “Aneh sekali, tadi aku benar-benar seperti melihat Jaya yang memakai cadar hitam dan hendak menolong si penghianat Ki Wiralaya itu, aku dapat merasakan aura kehadirannya selain perwakannya sangat mirip dengan Jaya! Tapi... Ah mungkin itu hanya bayanganku saja, lagipula Jaya yang kemarin menumpas para mata-mata pasukan pembunuh dari Banten kemarin, lagipula mana mungkin ia akan tega menghianatiku!” pikirnya sambil terus melangkah menuju ke biliknya.

***

Keesokan harinya saat hari masih gelap, sewaktu sang mentari baru menunjukan garis keemasan di ufuk timur, seorang pria paruh baya yang berpakaian ala Tiongkok telah berada di sebuah bagian tepi sungai Citarum dekat kotaraja Rajamandala, yang masih rimbun tertutup hutan kecil yang cukup lebat, ia berdiri sambil bersidekap menatap jernihnya aliran sungai Citarum, hingga tiba-tiba nalurinya yang tajam dapat merasakan kehadiran seseorang yang hendak menghampirinya dengan tanpa suara! 

Meskipun orang yang menrobos hutan hendak menghampirinya itu bergerak tanpa menimbulkan suara, tapi nalurinya yang sangat tajam dapat merasakannya, hingga ia menatap iar kesekelilingnya dengan kewaspadaan penuh! Jantungnya pun berdegup kencang ketika melihat seorang pria gondrong berpakaian serba biru tua dengan ikat kepala bermotif batik menghampirinya, tentu saja pria yang berdiri dihadapannya itu adalah seorang yang berilmu sangat tinggi, terutama dalam ilmu meringankan tubuh sebab gerakannya tak menimbulkan suara ataupun gesekan angin sedikitpun! “Siapa kamu?!” tanyanya dengan tenang namun penuh kewaspadaan.

Si pria yang telah berdiri dihadapannya itu menyeringai, ia lalu mengeluarkan sebuah cadar berwarna hitam dari balik pakaiannya lalu mengenakannya, si pria Tiongkok itu memperhatikannya dengan seksama, si pria bercadar itu lalu membuka suaranya, “Tabib Wong, ini saya, anda tak usah khawatir!” dengan suara yang berat dan serak karena disertai dengan tenaga dalam.

Tabib Wong pun ingat dengan suara tersebut, ya suara tersebut adalah suara pendekar yang menolongnya semalam ketika terjadi pembantaian berdarah di rumah almarhum Tumenggung Wiralaya. “Ah ternyata Tuan Pendekar Jayalaksana, maaf saya tidak mengenali Tuan tanpa cadar itu.” ucapnya sambil ternsenyum.

Jaya pun membuka cadarnya. “Ah tidak apa-apa Tabib, maaf saya malah meminta untuk bertemu terlebih dahulu dengan Tabib disini sehingga menghalangi pelarian Tabib yang seharusnya meninggalkan Mega Mendung untuk menyelamatkan diri."

"Oh tidak apa-apa Tuan pendekar, malah saya suka masih dapat bertemu dengan tuan pendekar untuk membalas hutang budi saya.”

“Maksud saya ingin menemui Tabib adalah bukan untuk menagih hutang budi, melainkan untuk bertanya.”

“Oh benarkah? Apa yang hendak Tuan Pendekar tanyakan pada saya?”

Jaya menghela nafas, ia lalu menatap jernihnya aliran sungai Citarum sejenak sebelum membuka mulutnya, “Tabib, gerakan ilmu Kungfu Tabib saya pernah melihatnya, seseorang yang setiap gerakannya sangat mirip dengan Tabib, kalau tidak salah nama jurusnya Tai Chi, selain itu, beliau juga sama-sama seorang Tabib yang ahli pengobatan.”

Tabib Wong terdiam sejenak seolah sedang berpikir, ia juga menatap Jaya dengan penuh tanda tanya, “Sebelum saya datang ke negeri ini, saya memang sudah mendengar bahwa banyak orang-orang dari negeri saya yang telah bermukim di negeri ini, di antara mereka selain menjadi pedagang, juga banyak yang berprofesi sebagai Tabib, tapi kalau benar seperti yang Tuan katakan, ilmu kungfu Tai Chi hanya dimiliki oleh perguruan tempat saya berasal, perguruan Wudang!”

Jaya mengangguk, “Tabib, saya pernah berjumpa dengan dua orang dari perguruan Wudang yang saling berseteru, yang satu namanya Holiang, yang satu lagi... Kalau tidak salah namanya Teng Lan.”

Tabib Wong sangat terkejut mendengarnya “Mereka berdua adalah saudara seperguruan saya! Tuan pendekar mengenalnya? Sekarang ada dimana mereka?”

Jaya mengehla nafas “Ncek Holiang sudah meninggal, ia tewas terbunuh oleh adik seperguruannya yang bernama Teng Lan...”

Tabib Wong menundukan kepalanya dengan lesu, “Begitu? Kokoh Holiang... Selain saudara seperguruan, ia juga saudara angkat saya, ia pergi meninggalkan Ming untuk mengamalkan ilmu pengobatan yang guru wariskan padanya, ia juga mendapat warisan dari guru sebuah kitab pengobatan, tapi rupanya Teng Lan merasa iri sebab ia juga menginginkan kitab pengobatan itu, ia pun mengejar Koh Holiang sampai ke negeri ini.”

Jaya terdiam, ia menatap dengan penuh seksama pada Tabib Wong, sampai Tabib Wong membuka suara lagi, “Tuan Pendekar, lalu apa yang terjadi pada Teng Lan?”

“Ia telah tewas... Terbunuh oleh saya sendiri!”

“Oh begitu...” sahut Tabib Wong sambil menatap Jaya, ia lalu mengangguk-ngangguk, “Syukurlah, ia sudah tewas, ia adalah orang yang sangat jahat, hatinya selalu dipenuhi oleh dengki dan kebencian, hingga guru menganggapnya tak pantas untuk mewarisi kitab ilmu pengobatan yang ditulisnya.”

Tabib Wong lalu menepuk pundak Jaya sambil tersenyum, “Terimakasih atas beritanya Tuan Pendekar, sekarang saya tidak perlu lagi mencari mereka berdua karena mereka sudah berada di alam lain.”

“Sekarang apa tujuan Tabib selanjutnya?”

Tabib Wong menghela nafas sambil tersenyum, ia menatap langit yang mulai membiru, merekah terpendar cahaya mentari pagi yang sudah mulai menerang. “Saya akan meneruskan tujuan hidup saya, untuk mengamalkan ilmu yang telah saya dapatkan dari guru, untuk menolong orang yang membutuhkan obat dari saya…”

“Tabib melakukannya secara Cuma-Cuma atau ada biayanya?”

Tabib Wong tertawa kecil, “Bagi yang mampu silakan bayar, bagi yang tidak mampu tidak usah bayar, saya seorang tabib bukan pedagang, uang bukan yang utama, tapi kesembuhan pasien yang utama!”

Jaya tersenyum sambil mengangguk-ngangguk mendengarnya, ia teringat pada sosok mendiang Tabib Holiang, kini ia seolah melihat kembaran orang tua yang baik hati itu, ia juga pernah mendengar kabar tentang Tabib Wong ini dari Juragan Karta dari desa Cibodas, “Tabib Wong, sebenarnya Ncek Holiang meninggalkan sesuatu sebelum ia meninggal.”

Jaya lalu mengeluarkan satu buku dari balik pakaiannya, Tabib Wong melotot tak percaya ketika melihat buku di tangan Jaya tersebut “itu... Itu...” tunujuknya dengan wajah penuh kekagetan.

“Sebelum meninggal, Ncek Holiang menitipkan ini pada saya, ia meminta saya untuk mempelajari kitab ini, tapi sayang saya tidak bisa membaca huruf mandarin, maka dari itu kitab ini lebih baik saya berikan pada Tabib agar bisa tabib pelajari dan kemudian mengamalkan ilmu yang terkandung didalamnya!”

Tapi Tabib Wong menolaknya, “Maaf Tuan Pendekar, tapi Koh Holiang memberikannya pada Tuan untuk tuan pelajari, saya tidak berhak untuk menerimanya.”


“Tapi saya tidak dapat membaca tulisan-tulisan dalam kitab ini, kitab ini akan mubazir bila terus berada di tangan saya karena tidak bisa saya pelajari, bukankah akan lebih baik kalau Tabib yang mempelajari kitab ini sehingga bisa mengamalkan ilmunya?” sodor Jaya.

Tabib Wong terdiam berpikir sejenak, akhirnya ia pun menerima kitab itu, “Baiklah kalau tuan pendekar memaksa, apa yang dapat saya lakukan untuk membayar hutang budi yang besar ini? Atau apakah sebaiknya saya mengabdikan diri saja pada tuan pendekar?”

“Jangan Tabib! Ah begini saja, saya minta tabib mengamalkan ilmu pengobatan Tabib pada mereka yang membutuhkan, saya pikir akan semakin banyak yang mebutuhkan pertolongan Tabib sebab, selain bencana kelaparan dan wabah penyakit, peperangan pun akan terancam meletus antara Banten dengan Mega Mendung atau dengan Padjajdaran!”

“Tuan pendekar, itu kan sudah menjadi kewajiban saya... Tapi baiklah kalau itu yang Tuan Pendekar kehendaki, namun izinkalah saya untuk menyembangi Tuan Pendekar suatu saat nanti, saya akan selalu siap membantu apa saja yang dibutuhkan oleh Tuan Pendekar!”

“Baiklah Tabib, saya senang sekali mendengarnya” jawab Jaya.

Tabib Wong pun melesat pergi meninggalkan tempat itu sebelum hari benar-benar terang. Sepeninggal Tabib Wong, Jaya terdiam menatap aliran sungai Citarum di hdapannya, sesaat ia teringat pada Galuh saat terjadi pertarungan dengan Juana Suta di dekat desa Saguling, ia menghela nafas berat saat hatinya merindukan sosok gadis hitam manis yang ayu tersebut, setelah beberapa saat dirinya merasa mengawang, ia pun memutuskan untuk mandi di sungai yang jernih itu untuk menenangkan hati dan pikirannya sebab ia masih harus melaksanakan tugasnya yang maha berat.


***


Angket iseng :

Hallo para sahabat pembaca semua yang masih setia stay tuned mengikuti kisah Wasiat Iblis. Kali ini saya lagi kepingin iseng ngadain angket kepada pembaca semua tentang 2 tokoh cewek heroine dalam kisah ini. Pertanyaannya, apakah para sahabat lebih suka kepada Galuh Parwati atau Putri Mega Sari?

Galuh Parwati si pendekar cewek yang cantik dengan kulit hitam manisnya yang eksotis ini berasal dari Kadipaten Tegal, hatinya bersih, jujur, setia, tipe cewek yang tahan banting dan tentunya sangat sakti mandraguna, dia selalu siap melindungi orang yang ia cintai dan kasihi dengan seluruh jiwa raganya. Namun sayangnya ngomongnya seringkali nyablak tanpa saringan, seringkali bertindak dan bicara serampangan tanpa memperhitungkan akibatnya, dan ssttt… bau badannya kecut menyengat. (Gedebukkk Braakkk! Dueshhh!!! Suara pukulan, penulisnya langsung digebukin Neng Galuh :D)

Putri Mega Sari si Putri asal Mega Mendung ini dia sangat cantik dengan kulitnya yg putih mulus bersih bak porselen dari Tiongkok, pandai berbicara juga tutur katanya halus mampu memukau siapa saja lawan bicaranya, mampu membuat nyaman siapa saja yang berada didekatnya, mempunyai intelegensia yang sangat tinggi (sangat pintar), serta murah tersenyum, bau badannya sangat wangi semerbak sehingga mampu membuat semua lelaki mabuk kepayang dan parasnya yang cantik mampu membuat setiap lelaki bertekuk lutut kepadanya, dia juga tipe politikus ulung. Namun sayangnya dia itu pendendam, sangat pandai memanipulasi orang lain terutama lawan bicaranya, sangat ambisius, sangat cerdas bahkan terlalu cerdas sehingga ia menjadi orang yang culas, dan yang paling mengerikan adalah ia memiliki ilmu hitam dan ilmu teluh yang sangat ampuh

Angket ini just 4 fun aja, tetapi mungkin akan berpengaruh buat masukan kepada saya untuk menulis episode-episode selanjutnya, so silakan tulis komen jawaban para sahabat pembaca semua di kolom komentar … Setiap komentar dari para sahabat semua sangat berarti sebagai pelecut semangat untuk penulis, salam :D